Sejarah Perkembangan Gereja Dan Misi Dunia

Sejarah Perkembangan Gereja Dan Misi Dunia 
A. Perkembangan Gereja
Gereja, pertumbuhan dan perkembangannya sungguh menakjubkan. Pasca kenaikan Tuhan Yesus ke sorga dan pasca pencurahan Roh Kudus, gereja bertumbuh dan berkembang secara luar biasa. Para murid memberitakan Injil dengan penuh kuasa. Roh Kudus Sang Sumber Kuasa secara ajaib menyatakan tanda-tanda heran sepanjang pelayanan para rasul. Dari sinilah cikal-bakal pertumbuhan dan perkembangan gereja. Berikut sejarah perkembangan gereja dan misi dunia.

1. Gereja Di Palestina
Tidak dapat dipungkiri bahwa Yerusalem adalah kota mulia. Pernyataan tersebut tentu memiliki alasan kuat. “Yerusalem berfungsi sebagai penarik dan penyalur berkat Allah kepada bangsa-bangsa. Yerusalem adalah kota berkat yang dari dalamnya Tuhan memberkati bangsa-bangsa, dari dalamnya mengalir damai Allah. Yerusalem adalah pusat berkat bagi bangsa-bangsa, dari dalamnya Allah menarik bangsa-bangsa kepada-Nya. Dalam hal ini Perjanjian Baru dengan jelas menekankan bahwa Injil beranjak dari Yerusalem kepada bangsa-bangsa. Gereja pertama lahir di Yerusalem – Kisah Para Rasul 1:8. Lalu tersebar ke Yude melalui para rasul yang gencar memberitan Injil – Kisah Para Rasul 1-7. Selanjutnya meluas ke Samari dan sekitarnya, di mana Filipus dan murid-murid memberitakan kabar baik di daerah tersebut dan banyak jiwa diselamatkan – Kisah Para Rasul 8.

2. Gereja di luar Palestina
Perkembangan gereja sungguh menakjubkan. Roh Kudus mengurapi dan menyertai pelayanan pemberitaan Injil para rasul. Semangat misi penginjilan begitu berkobar-kobar. Para murid tersebar ke berbagai wilayah, termasuk ke luar Palestina. Penyebarannya dapat dilihat sebagai berikut: 1) Petrus membawa Injil ke Roma. 2) Paulus ke Asia Kecil dan Eropa – Kisah Para Rasul 10-28. 3) Apolos ke Mesir – Kisah Para Rasul 18. 4) Filipus ke Etiopia – Kisah Para Rasul 8. 5) Sebelum tahun 100 M, Injil sudah tersebar ke Siria, Persia, Afrika – Kisah Para Rasul 9. 6) Lalu ke ujung-ujung bumi (Siria, Persia, Gaul, Afrika Utara, Asia & Eropa).

B. Berkembang Melalui Tantangan Gereja
Gereja/jemaat yang baru berdiri mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Kuasa Roh Kudus sangat nyata hadir di tengah jemaat. Namun demikian tantangan dan kesulitan juga mewarnai pertumbuhan jemaat mula-mula itu. Tapi luar biasa, justru karena keadaan yang sulit itu gereja semakin berkembang.

1. Agama Negara
Kaisar Agustus mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Salah satu peraturan yang muncul pada masa pemerintahannya adalah menyembah kepada Kaisar sebagai dewa mereka, walaupun mereka masih diijinkan melakukan penyembahan kepada dewa-dewa/kepercayaan asal mereka sendiri. Namun demikian, ada kekecualian untuk orang-orang Yahudi yang mempunyai agama Yudaisme yang menjunjung tinggi monotheisme, mereka tidak diharuskan untuk menyembah kepada Kaisar. Hal initerjadi karena mereka takut kalau orang Yahudi memberontak. 

Kehadiran agama Kristen saat itu, pada mulanya dianggap sebagai salah satu sekte agama Yudaisme, itu sebabnya orang-orang Kristen pertama tidak diharuskan untuk menyembah kepada Kaisar. Tetapi setelah orang-orang Yahudi secara terbuka memusuhi orang Kristen (puncak peristiwa penyalipan Kristus) barulah pemerintah Romawi melihat kekristenan tidak lagi sebagai sekte Yudaisme tetapi agama baru. Sejak saat itu keharusan menyembah kepada Kaisar pun akhirnya diberlakukan untuk orang-orang Kristen. Kepada mereka yang tidak patuh pada peraturan ini mendapat hukuman dan penganiayaan yang sangat berat.

2. Penganiayaan terhadap orang Kristen.
Salah satu bukti kesetiaan orang Kristen kepada Kristus ditunjukkan dengan secara setia menjalankan pengajaran Alkitab dan menolak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Alkitab. Karena sebab itulah orang-orang Kristen sering harus membayar harga yang mahal demi kepercayaan mereka kepada Kristus, antara lain adalah dengan penganiayaan. Beberapa penyebab penganiayaan: pertama, karena orang Kristen menolak untuk menyembah Kaisar; kedua, karena orang Kristen dituduh melakukan hal-hal yang menentang kemanusiaan, misalnya menolak menjadi tentara, mengajarkan tentang kehancuran dunia, membiarkan perpecahan keluarga, dll; ketiga, karena orang Kristen dituduh mempraktekkan immoralitas dan kanibalisme, misalnya melakukan cium kudus, bermabuk-mabukan, dosa inses, makan darah dan daging manusia.

3. Hasil dari penganiayaan.
Memang ada banyak orang Kristen yang mati dalam penganiayaan dan pembunuhan, namun demikian jumlah orang Kristen tidak semakin berkurang malah semakin bertambah banyak. Pertama, orang Kristen semakin berani. Sekalipun dianiaya mereka tetap mempertahankan iman mereka. Kedua, kekristenan semakin menyebar keluar dari Yerusalem, yaitu ke daerah-daerah sekitarnya, dan keseluruh dunia. Ketiga, orang-orang Kristen semakin memberi pengaruh dalam kehidupan masyarakat, sehingga mereka betul-betul menjadi saksi yang hidup.

C. Peristiwa dan Perkembangan Gereja Dari Masa ke Masa
1. Zaman Purba
Masa Pembentukan: Tiga Abad yang pertama: dari Yesus Kristus s/d Konstantinus Agung. Gereja mulai muncul di atas dunia ini sejak Yesus Kristus diturunkan Allah dari sorga, sebagai Firman Allah yang menjelma menjadi manusia (Yohanes 1:14, Galtia 4:4). Selama lebih kurang tiga setengah tahun Tuhan mengajar dan berkarya, dan berpuncak pada peristiwa sengsara, penyaliban, kematian, penguburan, kebangkitan-Nya secara jasmani dari antara orang mati, serta kenaikanNya kesorga. 

Peristiwa sengsara sampai dengan kebangkitan ini akhirnya menjadi isi pokok berita (kerygma) dari para murid setia-Nya yang disebut Para Rasul, yang menyebarkannya sesudah peristiwa turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Tuhan atas mereka, pada hari Pentakosta (Kisah 2). Dari kesengsaraan sampai dengan kebangkitan Sang Kristus itulah inti Injil, yang semula diberitakan secara lisan. Karena Kristus tak pernah menulis Kitab ataupun menerima Kitab dari sorga, maka Dia tak meninggalkan Kitab apapun pada para rasul-Nya ini, karena Dia sendiri adalah Firman Allah yang menjadi manusia. Kerygma Rasuliah secara lisan itu mula-mula disebarkan hanya di sekitar daerah Palestina saja, dan akhirnya menjadi ajaran lisan komunitas yang baru, yang disebut sebagai Ekklesia, yang dari sinilah timbul kata Gereja (berasal daribahasa Portugis Igreja, sepadan dengankata Spanyol: Iglesia, yang jelas berasal dari kata Ekklesia itu). 

Para Rasul itu akhirnya menyebar kemana-mana, mulai dari Yerusalem dan seluruh Palestina, kemudian ke seluruh Siria, dan Asia Kecil (kini negara Turki) serta Yunani dan Afrika Utara terutama di Alexandria (Mesir) dan Karthago (Libia). Sedangkan ke Timur lagi Injil tersebar ke Edesa, Mesopotamia (Irak, Babilon), dan Persia, yaitu daerah Siria Timur, karena yang menerima Injil di daerah timur ini adalah suku-suku yang berbahasa Siria, sampai ke India Selatan. Sedangkan ke Barat lagi Injil diterima di benua Eropa Barat dari Roma di Itali, Spanyol, dan yang nantinya akan berkembang ke seluruh Eropa. Perkembangan yang paling penting pada abad kedua ini adalah munculnya para pembela iman (“apologist” ), yang membela Iman Kristen dari serangan agama Yahudi, agama kafir berhala, serta bidat-bidat yang muncul di sekitar Gereja. 

Juga berkembangnya doktrin gereja serta permulaan Theologia sesudah zaman Rasuliah, ditegakkannya pemerintahan Gereja bagi masing-masing jemaat lokal yang dipimpin oleh Episkop (“Penilik Jemaat” ), Presbyter (“Penatua”) dan Diakon. Zaman ini pula fondasi pertama dari ibadah dan liturgi Kristen serta kehidupan Sakramental Gereja yang berlandaskan dari Ibadah Israel namun yang sudah terpisah dari Synagoga (Rumah Ibadah Yahudi) dan mulainya pembentukan Kitab Suci dari Gereja Perjanjian Baru itu terjadi. 

Pada akhir abad pertama dan permulaan abad kedua banyak tulisan palsu mengenai Kristus bermunculan. Tulisan-tulisan ini disebut tulisan-tulisan “apokrifa”. Dalam melawan ajaran bidat gnostik inilah gereja yang rasuliah itu menyebut ajaran asli yang rasuliah itu sebagai ajaran (doxa) yang lurus (orthos), Ortho+doxa = Orthodox. Sedangkan ajaran "gnostik" itu sebagai ajaran (doxa) yang berbeda atau menyimpang (heteros), hetero+doxa = Heterodox. Akibat dari melawan ajaran gnostik ini muncullah theologia dari para “apologis” (pembela iman). Jauh di sebelah timur di daerah Syria, Bardaisan adalah penulis yang terkenal mengenai masalah theologi. Namun dia mencampur-adukkan Injil dengan astrologi dan mythologi, dan ajarannya tentang Allah kedengaran sangat aneh. Allah adalah satu yaitu Bapa, Roh Kudus adalah wanita sebagai "Bunda Kehidupan", dan Anak Allah adalah keturunan dari Bapa dan Roh Kudus, Sang Bunda Kehidupan. Sehingga akhirnya Bardaisan dari Syria ini pun dikucilkan dari Gereja. Akibat dari ajaran Gnostik ini, gereja mulai kokoh dalam keputusannya.Tulisan-tulisan mana yang menjadi bagian kanon Kitab Suci didasarkan pada: 1).Tulisan-tulisan itu harus berasal dari zaman rasul. 2). Harus ditulis oleh rasul sendiri atau teman/murid dekat mereka. 3). Harus sesuai dengan ajaran rasuliah tanpa putus yang disampaikan sebagai paradosis dalam Gereja. 4). Harus digunakan secara merata di seluruh gereja sejak awal. 5). Harus mengajarkan kesucian dan bukan dongeng-dongeng gnostik. Dari kriteria inilah akhirnya tersaring dari tulisan-tulisan rasul itu 27 kitab yang akhirnya kita kenal sebagai “Kitab Suci Perjanjian Baru”. 

Dan Kitab Suci Perjanjian Baru inilah yang berisi berita gembira (Injil) tentang Yesus Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia itu. Karena memang Injil itu padamulanya bukanlah suatu Kitab macam apapun namun peristiwa dan karya Tuhan yang diberitakan secara lisan oleh para murid-Nya yang diberi gelar sebagai apostolos (orang yang diutus atau rasul) itu. 

Menginjak pertengahan abad ketiga, yaitu tahun 249 Kaisar Desius naik tahta, dia mengadakan penganiayaan secara universal, dan penganiayaan itu dilanjutkan sampai zaman Kaisar Valerianus (253-260). Orang Kristen dipaksa mempersembahkan korban kepada patung kaisar sebagai “tuhan” dan “ilah”, para rohaniwan Kristen harus dikejar dan dibunuh, harta milik Gereja harus disita. 

Baru di zaman Gallenius, anak dari Valerianus, penganiayaan dihentikan. Pada saat itu perkembangan yang luar biasa terjadi dalam Gereja. Namun penganiayaan yang berat itu mengakibatkan suatu krisis besar dalam Gereja. Timbul pertanyaan dalam Gereja mengenai bagaimana memperlakukan orang-orang yang selama masa aniaya itu karena diancam rela mempersembahkan korban pada patung kaisar, mereka ini disebut kaum “lapsi”. 

Ada yang melarang mereka masuk Gereja lagi, ada yang bersikap agak lunak. Akibatnya terdapat beberapa kelompok garis-keras yang menganggap Gereja terlalu lunak akan masalah para “lapsi” itu yang memisahkan diri dari Gereja Rasuliah Perjanjian Baru yang “Orthodox” dan “Katholik” itu. Abad ketiga ini menyaksikan juga perkembangan theologi secara formal dengan didirikannya sekolah theologia di Alexandria, Mesir oleh Pantaenus dan Klemen dari Alexandria (meninggal kira-kira tahun 215). Yang akhirnya dikepalai oleh seorang penulis, sarjana, dan theoloog termasyhur, Origenes (meninggal tahun 253). 

Theologi Alexandria ini menekankan bahwa filsafat Yunani yang non-Kristen itu dapat digunakan sebagai alat untuk menjelaskan Injil. Dan ciri khas dari pendekatan Alexandria ini adalah tafsiran secara alegoris terhadap Kitab Suci, sedangkan dalam tradisi Syria-Antiokhia yang tak lama kemudian akan berkembang adalah tafsiran harafiah berdasarkan tata-bahasa dan sejarah penulisan Kitab Suci. Namun demikian secara ajaran banyak pendapat Origenes yang ditolak oleh Gereja, karena tak Alkitabiah dan tak rasuliah, sehingga pada Konsili Ekumenis V (tahun 553), beberapa ajaran Origenes dinyatakan sesat oleh Gereja. Abad keempat dimulai dengan penganiayaan yang paling besar yang diarahkan kepada Gereja olehKaisar Diokletianus.

2. Zaman Konsili
Konsili Agung Ekumenis Gereja Rasuliah Yang Satu dan Orthodox: abad ke IV (tahun 325) s/d abad ke VIII (tahun 787). Pada saat pemerintahan Konstantinus, Gereja mendapatkan kembali harta miliknya, serta terbebas atas aniaya dari luar. Namun ketenteraman Gereja ini segera diganggu oleh munculnya bidat-bidat yang berasal dari dalam. Pertama adalah munculnya aliran perpecahan donatisme di Afrika Utara, yang dipimpin oleh donatis, yang menolak Episkop terpilih di Karthago yang dianggap termasuk golongan “lapsi” pada saat penganiayaan zaman Diokletianus. Bukannya Konstantinus membiarkan Gereja untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dia menggunakan kekuatan militer untuk memihak, pada pertama kalinya pihak donatis dalam memaksakan keputusannya. Perpecahan Donatisme ini menyebabkan lenyap-punahnya Gereja Afrika Utara (Libia, Moroko,Aljazair) yang dulu pernah jaya. 

Konsili Agung Ekumenis Pertama (325 Masehi) di Nikea dan Kedua (381) di Konstantinopel. Kemudian muncul masalah dari Alexandria, Mesir. Arius seorang presbiter mengajarkan bahwa Allah yang Esa itu hanya Bapa saja, Anak Allah yang akhirnya menjelma menjadi manusia Yesus Kristus, adalah makhluk pertama dan yang terluhur yang diciptakan Allah dalam wujud roh. Dibantu oleh ciptaan pertama ini, Allah menciptakan ciptaan yang lain. Dia bukan Firman Allah yang kekal yang berada satu di dalam Allah sejak kekal. Ajaran ini jelas bertentangan dengan ke-Esa-an Allah, sebab Allah Yang Esa, tak pernah dan tak mungkin dibantu oleh makhluk siapapun dalam mencipta, karena Dia mencipta langsung melalui Firman-Nya sendiri yang berada satu di dalam Diri-Nya. Ajaran ini jelas mempersekutukan Allah dengan makhluk, inilah ajaran musyrik. Ajaran Arius yang disebut Arianisme ini (yang di zaman modernini dimunculkan kembali oleh Saksi-Saksi Yehovah) menimbulkan keresahan dalam Gereja. 

Akhirnya sebagaimana di zaman Para Rasul, Gereja Rasuliah Purba yang Orthodox pada abad keempat inipun menyelesaikan masalah ini dalam Konsili, yang diadakan di kota Nikea pada tahun 325, dipanggil oleh Raja Konstantinus. Namun, pihak Arianisme mendapat dukungan kuat dari kekuasaan pemerintah, sedangkan para pembela Iman Orthodox sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Konsili Nikea itu sangat dianiaya dan dibunuh oleh pemerintah dan pendukung-pendukung bidat Arianisme ini. Masalah ini berlanjut sampai tahun 381, ketika diadakan Konsili Ekumenis yang kedua di Konstantinopel, untuk menyelesaikan masalah bidat baru yang dimunculkan oleh Makedonius, yang disebut bidat Makedonianisme. Makedonius mengajarkan bahwa Roh Kudus yang adalah Roh Allah sendiri itu bukan ilahi dan tidak kekal. Dia hanya daya-aktif Allah saja (seperti yang juga diajarkan saksi-saksi Yehovah).

Konsili Agung Ekumenis Ketiga (431) di Efesus dan Keempat (451) di Kalsedonia. Sejak keputusan Konsili kedua tentang kedudukan Konstantinopel, Alexandria selalu berusahauntuk menyaingi Konstantinopel. Secara kebetulan pada abad kelima ini yang menjadi Patriarkh di Konstantinopel adalah seorang Syria dari Antiokhia bernama Nestorius. Sebagai seorang Syria maka tradisi theologia Antiokhialah yang digunakan untuk memahami Kristologis, yaitu tradisi yang menekankan kemanusiaan Kristus. Maka Nestorius lebih menekankan kemanusiaan Kristus, sehing gamenolak gelar Theotokos (“Sang Pemberi Lahir Secara Daging kepada Allah” yaitu Firman yang menjelma) yang telah beratus tahun digunakan di Gereja untuk menyebut Maria. 

Menurut Nestorius yang dilahirkan Maria hanyalah seorang "manusia" yang di dalamnya “Firman Allah” itu bersemayam, jadi bukan Firman Allah itu sendiri yang menjadi manusia, bertentangan dengan apa yang telah diakui dalam kedua konsili sebelumnya. Kesempatan ini digunakan oleh Gereja Alexandria sekaligus untuk menghantam tradisi theologia Antiokhia dan kedudukan Konstantinopel yang dianggap menggeser kedudukan Alexandria itu, melalui Aghios Kyrillos dari Alexandria. Dia ingin menjatuhkan Nestorius sebagai Patriarkh Konstantinopel, dengan demikian mempermalukan Konstantinopel, serta melawan pemahaman theologianya dengan demikian menentang pemahaman Syria, Antiokhia, yang kebetulan kali ini Kristologi Nestorius itu memang tidak Alkitabiah, dan tidak rasuliah. Jadi sebenarnya konflik ini adalah konflik antara Mesir dan Syria (bukan dengan unsur Yunani dalam Gereja Timur itu). Aghios Kyrillos menegaskan, bahwa memang layak menyebut Maria sebagai “Theotokos”, karena Dia yang dilahirkan olehnya adalah “Firman” yang adalah “Allah”, yang “telahmenjadi manusia” (Yohanes 1:1,14). 

Jadi Firman Allah itu sendirilah yang dilahirkan dalam penjelmaan-Nya sebagai manusia, maka Maria memang melahirkan Firman Allah dalam penjelmaanNyasebagai manusia. Jadi Maria memang “Theotokos”. Para pengikut Nestorius menolak tunduk dan bertobat pada peringatan Aghios Kyrillos ini. Sehingga dipimpin oleh Aghios Kyrillos sendiri pada tahun 431, di Efesus, sejumlah kecil Episkop mengadakan Konsili untuk meneguhkan ajaran Gereja Alexandriaserta menolak ajaran theologia Syria, dari Nestorius ini, dimana ditegaskan bahwa Maria adalah Theotokos, karena yang dilahirkan Maria tak lain adalah “Firman Allah” yang sama dan yang satu yang menjelma menjadi manusia. 

Baru pada tahun 433 sajalah keputusan Konsili ini diterima oleh segenap Episkop Timur, dan akhirnya diakui sebagai Konsili Ekumenis Ketiga. Keputusan dari Konsili Ketiga ini memang tidak langsung diterima oleh semua pihak, karena masih timbul kontroversi mengenai ajaran Aghios Kyrilos ini. Kebanyakan Episkop di Timur mengkhawatirkan ajaran Aghios Kyrillos ini tidak secara memadai menyatakan kemanusiaan Kristus yang sejati. Namun setelah saling berdialog tercapailah pengertian dan persetujuan bersama mengenai apa yang dimaksud oleh Aghios Kyrillos. Namun sesudah wafatnya, seorang rahib bernama Eutyches, mengajarkan bahwa yang dimaksud oleh Kyrillos adalah bahwa Kristus hanya memiliki “satu-kodrat” (mono-physis) saja, yaitu kodrat Ilahi, sebab kodrat manusia-Nya ditelan oleh kodrat ilahiNya. Ajaran ini menimbulkan kegelisahan kembali di dalam Gereja. Para pembela ajaran ini mengadakan Konsilinya sendiri bersama Patriarkh Dioskoros dari Alexandria dan Eutykhes pada tahun 449 di Efesus, dan mereka menganggap bahwa mereka pengikut ajaran Kyrillos yang setia. Konsili ini diikuti oleh sejumlah besar Episkop, namun tidak diterima sebagai Konsili yang sah, malah disebut sebagai “Latrocinium” atau “Konsili Para Perampok”. Ajaran tentang Kristus hanya memiliki “satu-kodrat” ini akhirnya terkenal sebagai ajaran Monofisitisme, yang ditolak oleh Gereja dan dinyatakan bidat.

Untuk memecahkan masalah ini maka suatu Konsili yang lain diadakan pada tahun 451, di kota Kalsedonia, dekat Konstantinopel. Konsili ini dikenal dalam Gereja sebagai Konsili Ekumenis Keempat, dan berhasil membela ajaran Aghios Kyrillos dari Alexandria serta ajaran Konsili Ekumenis Ketiga diEfesus tahun 431. Ini juga memuaskan tuntutan para Episkop Timur mengenai kemanusiaan Kristus yang sejati yang secara jelas harus diakui. Definisi dogmatis dari Konsili Kalsedonia ini mengikuti secara dekat ajaran yang dirumuskan oleh Paus Santo Leo dari Roma, yang tidak turut hadir dalam Konsili itu, namun hanya mengirim wakil-wakilnya. Para pengikut Kyrillos yang ekstrim menolak definisi Kalsedonia ini karena dianggap berbau Nestorianisme, demikianlah mereka ini akhirnya memisahkan diri dari Gereja Orthodox alur utama.

Konsili Agung Ekumenis Kelima (553) di Konstantinopel dan Konsili Agung Ekumenis Keenam (680-681) di Konstantinopel. Pada abad keenam ini Kaisar Yustinianus menginginkan kesatuan Gereja dan kesatuan Negara sekaligus. Oleh karena itu dia berusaha agar pihak monofisit dapat disatukan kembali kepada Gereja Orthodox. Usahanya ini dengan mengadakan suatu Konsili di Konstantinopel (553), yang akhirnya diakui sebagai Konsili Kelima, di mana di dalam Konsili ini suatu tulisan yang disebut sebagai “Tiga Pasal” yang disenangi pendukung Kalsedonia, namun yang direndahkan oleh mereka yang menolak Kalsedonia, dikutuk Yustinianus secara resmi. Tulisan ini adalah tulisan dari Theodoret dari Cyrus, Ibas dari Edessa, serta Theodorus Mopsuestia yang semuanya adalah orang-orang Syria. Tetapi kutukan itu tak bisa diterima para pendukung Konsili Kalsedonia, sebab meskipun mereka tidak setuju dengan ajaran-ajaran yang salah dan kabur dari tiga penulis ini, namun tidak ada alasan untuk mengutuk mereka. UsahaYustinianus untuk menyatukan pihak Monofisit ini akhirnya tak berbuah, dan pihak Monofisit sendiritidak yakin untuk bisa menyatu kembali dengan Gereja Orthodox. Menginjak abad ketujuh, muncullah tulisan yang mengatas-namakan diri sebagai ditulis olehDionysius dari Areopagus, murid Rasul Paulus. Tulisan ini diterima dengan tangan terbuka baik oleh mereka yang menolak Konsili Kalsedonia (Monofisit), maupun pembela Konsili Kalsedonia (Orthodox).

Namun dalam tulisan Dionysian ini ada mengandung ajaran yang bermasalah yaitu bahwa Yesus Kristus, Firman Allah/Anak Allah yang menjelma itu, hanya memiliki satu kehendak dan tindakan insani-ilahiah atau ilahi-insaniah saja, yang sama sekali membaurkan dua kegiatan dan tindakan yang berbeda dari kodrat ilahi-Nya dan kodrat manusiawi-Nya. Ajaran ini disebut sebagai monothelitisme (artinya: Kristus hanya memiliki satu kehendak insani-ilahiah/ilahi-insaniah) atau mononergisme (artinya: Kristus hanyamemiliki satu tindakan, kegiatan atau energi insani-ilahiah/ilahi-insaniah saja). 

Banyak yang berharap bahwa rumusan ini akan mempersatukan kembali perpecahan kaum Monofisit kepada Gereja Orthodox. Namun harapan itu tak pernah terjadi, karena ajaran ini ditentang mati-matian oleh Aghios Maximos Sang Pengaku Iman (wafat:662) dari Konstantinopel, serta Paus Santo Martin dari Roma (wafat: 665).Aghios Maximos dan Santo Martin sangat menderita sekali dalam penganiayaan pemerintah karena menentang bidat monothelitisme ini. Mereka dipenjara, disiksa, dan lidah Maximos dipotong agar tidak bisa berkhotbah oleh kekuasaan pemerintah yang sangat ingin menggunakan monothelitisme sebagai jalan menyatukan kembali kaum Monofisit. Namun akhirnya ajaran kedua orang suci inilah yang menang. Konsili Ekumenis Keenam yang diadakan di Konstantinopel tahun 680-681 meneguhkan secara resmi ajaran mereka dan secara resmi pula menghukum Patriarkh Sergius dari Konstantinopel, serta Paus Honorius dari Roma yang mengajarkan monothelitisme, bersama semua pendukung mereka. Di kalangan umat Syria ada yang memegang teguh ajaran ini, terutama yang dipimpin oleh Rahib Maron, dan memisahkan diri dari Gereja, sehingga mereka disebut umat Maronit yang sampai sekarang masih banyak kita jumpai di Libanon, namun yang sudah menggabung dengan Gereja Roma Katolik sejak zamanPerang Salib.

Konsili Ekumenis Ketujuh dan Terakhir (787) di Konstantinopel. Pada saat abad kedelapan ini kekalifahan Islam sudah tersebar diseluruh Timur Tengah, dan Byzantium telah sering mengalami serangan tentara kaum Muslimin Arab dari arah selatan. Syria yang berbatasan dengan Byzantium pun sudah berada dibawah kedaulatan Islam. Kaum Muslimin tak henti-hentinya menyerang ajaran Tritunggal Kudus, Keilahian Kristus, Penyaliban, Kebangkitan, dan penggunaan Ikon (gambar-gambar agamawi) dalam Gereja. Gambar-gambar itu dianggap sebagai berhala, karena Islam memang anti-gambar. Perlawanan terhadap Ikon ini dikenal sebagai Gerakan Bidat Ikonoklasme. Pada tahun 780 Maharatu Theodora naik tahta (780-802). Penganiayaan dihentikan dan Konsili diadakan di kota Nikea pada tahun 787 untuk membahas mengenai masalah Ikon ini. Inilah Konsili Ekumenis yang Ketujuh dan Terakhir dari Gereja Rasuliah Perjanjian Baru yang satu, yang secara tanpa putus berjalan dalam sejarah sampai abad kedelapan itu.

3. Zaman Penyebaran ke Utara
Masa Pasca-Konsili Ekumenis: Dari Penginjilan Bangsa Slavia (863) sampai jatuhnya Konstantinopel (1453) ke Tangan Turki. Penginjilan Negara-Negara Eropa Timur (863) Meskipun usaha Karel Agung untuk memasukkan Kerajaan Byzantium dan Gereja Timur dalam Kerajaan Romawi Suci yang didirikannya itu tak berhasil, Paus di Roma makin memaksakan kuasanya kepada seluruh Gereja di Barat. Sementara itu yang menjadi Patriarkh di Gereja Timur adalah Photius. Dia mengutus dua orang kakak-beradik (Konstantinus dan Methodius) berbangsa Yunani untuk menyebarkan Injil ke Moravia diantara bangsa Slavia.

Mereka tiba disana pada tahun 863, dan mereka telah menciptakan alfabet Slavia yang berdasarkan alfabet Yunani (sekarang disebut alfabet Slavonik Lama atau Bulgaria Lama) untuk menterjemahkan kitab-kitab Gerejawi ke dalam bahasa Slavia ini. Karena Gereja Orthodox selalu percaya pasa inkarnasi Injil pada budaya setempat. 

Misi dari kedua kakak-beradik itu konflik dengan misi Gereja Barat yang juga ada di Moravia ini. Gereja Barat memaksakan bahwa hanya bahasa Ibrani, Yunani dan Latin saja yang boleh digunakan sebagai bahasa keagamaan Gereja. Karena para misionaris ini dari Gereja Barat, kedua kakak-beradik ini melaporkan situasi tadi ke Paus Hadrianus II (tahun 869), serta mereka mendapatkan restu atas usaha mereka dari Paus Roma juga. Konstantinus meninggal pada tahun 869, serta menjadi rahib sebelum meninggal dengan nama Kyrilos, serta diakui sebagai orang suci Gereja. Karena itulah alfabet yang mereka ciptakan itu terkenal dengan nama huruf “Kyrilik” (Cyrillic) yang digunakan di banyak negara-negara Eropa Timur dan Rusia sampai sekarang. Methodius diangkat menjadi Episkop, dan ketika diakembali kepada karya misinya, dia ditangkap dan dipenjarakan oleh para misionaris Gereja Barat tadi dengan pertolongan Raja Louis Orang Jerman. Ketika Paus Yohanes mengetahui hal itu pada tahun 873, dia menuntut agar Methodius dibebaskan. Namun ketika Methodius meninggal, semua karyanya musnah, karena para muridnya banyak yang ditangkap, dibuang atau dijual sebagai budak oleh kekuasaan negara Romawi Suci Jermanik, yang benci Byzantium, melalui para rohaniwan Gereja Barat itu. Sebagian lagi ada yang melarikan diri ke Bulgaria dan terjadi banyak pertobatan disana. Dan umat Bulgaria ini akhirnya terkait dengan Gereja Konstantinopel. Dari Serbia ini usaha misi Gereja Orthodox di Timur berkembang ke daerah-derah Serbia, serta pada akhirnya ke Kiev serta Rusia Utara. Inilah sungguh-sungguh masa gerakan misi yang sangat luar biasa bagi Gereja Timur.

Konflik Terbuka Gereja Timur dan Gereja Barat (861-886). Ketegangan-ketegangan yang sudah kita lihat antara Gereja Timur dan Gereja Barat ini menjadi konflik terbuka untuk pertama kalinya antara tahun 861-886. Pada saat itu ada dua partai yang saling berebut pengaruh di Konstantinopel baik secara politis maupun gerejawi, yang satu Partai Konservatif dan lainnya Partai Moderat. Untuk mencapai perdamaian dalam Gereja maka Patriarkh Phtoius yang tadinya orang awam itulah yang dijadikan pemimpin Gereja. Partai Konservatif yang ekstrim tidak puasakan hal ini, lalu meminta bantuan Paus di Roma, menggunakan nama baik Ignatius, Patriarkh yang sekarang sudah pensiun untuk melawan Photius dan pemerintah yang memilih dia. Kesempatan ini takdisia-siakan oleh Paus Nikholas untuk ikut campur-tangan pada masalah Gereja Timur ini, karena perkembangan sentralisasi kepausan di Barat itu. Paus Nikholas lalu mengadakan Konsili di kota Konstantinopel pada tahun 861 untuk menyelesaikan pertikaian kedua partai itu. Namun ketika parautusan Paus tiba di Konstantinopel Photius memang Patriarkh yang sah, dan semuanya diselesaikan dengan damai. Namun ketika para utusan itu kembali ke Roma, Paus Nikholas tidak mau menerima hasil keputusan tadi, lalu mengadakan Konsilinya sendiri di kota Roma pada tahun 863, dia memecat Photiusserta menyatakan bahwa Ignatius yang sudah pensiun itu harus jadi Patriarkh yang sah. Namun pernyataannya ini tak diperdulikan oleh siapapun di Gereja Timur. Abad kesembilan ini secara umum dapat dikatakan sebagai abad yang sangat penting bagi Gereja Timur. Ini adalah abad kebangkitan diGereja Timur, sedang di Gereja Barat ini adalah abad sentralisasi yang makin bertambah di sekitar diri Paus. Satu-satunya theolog yang dapat disebut dari Gereja Barat pada saat ini adalah John Scotus Erigena (wafat 877).

Penginjilan Rusia (988)Pada tahun 988 para bawahan dari penguasa wilayah Kiev dibaptis disungai Dnieper dibawah pimpinan Pangeran Vladimir yang Agung, dengan demikian memulai sejarah Gereja Orthodox di Ukrainadan Rusia. Valdimir menerima Iman Kristen Orthodox dari Konstantinopel, setelah mengadakan penyelidikan dari semua agama yang ada, dia menemukan tidak ada agama yang keindahannya melebihi Kekristenan Orthodox. 

Dia dibaptis di Konstantinopel dengan Kaisar Basilius sebagai Bapak Baptisnya. Akhirnya dia menikah dengan Puteri Anna dari Konstantinopel, untuk mengokohkan pertalian keluarga Kerajaan. Sesudah baptisannya itu Vladimir mengalami suatu pengalaman pertobatan yang sungguh-sungguh, sehingga banyak menanamkan prinsip-prisip Kristen dalam kerajaan yang dipimpinnya, serta dia mengabarkan Iman Kristen Orthodox kepada seluruh bawahannya. Karena apa yang dilakukan dan kekudusan hidupnya ini ia telah diakui sebagai orang kudus Gereja bersama dengan neneknya Putri Olga yang telah menjadi Kristen sebelumnya, dan banyak mempengaruhi dia dalam keputusannya untuk menjadi Kristen. Pada akhir abad kesembilan sampai masuk abad kesepuluh Gereja Barat mengalami salah satu periode yang paling gelap dalam sejarah. Gelombang-gelombang baru penyerbuan menghancurkan keamanan kekaisaran yang diciptakan Karel Agung. Gereja Barat menderita dominasi para penguasa-penguasa dari antara kaum awam. Komunikasi dengan Gereja Timur sama sekali terputus. Namun demikian terjadilah permulaan gerakan pembaruan di Gereja Barat yang dimulai dari Biara Cluny di Perancis.

4. Zaman Perpecahan
Perpecahan Besar (1054): Gereja Barat (Roma Katolik) Pecah dengan Gereja Timur (Orthodox). Masuk ke dalam abad kesebelas kita temui peristiwa menyedihkan, yaitu perpecahan besar-besaran antara Gereja Barat (Roma) dan Gereja Timur (Konstantinopel). Peristiwa ini dimulai dengan larangan penggunaan Liturgi Gereja Timur Yunani di Italia Selatan oleh Paus Roma, serta sebagai balasannya dilaranglah penggunaan Liturgi Gereja Barat Latin di Konstantinopel oleh Patriarkh.

Masa Perang Salib. Dengan hampir kebanyakan daerah Kristen Orthodox di sebelah timur dikuasai Islam terutama Palestina, maka sulit bagi orang-orang Kristen di Barat untuk mengadakan ziarah ke Tanah Suci. Maka di Gereja Barat timbul suatu gerakan untuk merebut Tanah Suci dari tangan musuh. Maka oleh khotbah-khotbah beberapa pemimpin Gereja di Barat Perang Salib merebut Tanah Suci itu dimulai pada tahun 1096. Mereka bergerak maju menuju ke Timur dari Eropa Barat dengan dipimpin Uskup dan para pastor serta tentara-tentara Katolik Barat. Gerakan ini tak terpisah dari apa yang terjadi di Gereja Barat. 

Pada pertengahan abad kesebelas ini terjadi pembaharuan di Gereja Barat yang berpusat pada diri Paus. Gerakan ini sering disebut sebagai “Pembaharuan Gregorian” menggunakan nama dari penggerak utamanya yaitu Paus Gregorius VII atau Hildebrand. Pada saat Perang Salib yang pertama tahun 1096, kedudukan Paus di Roma sebagai penguasa sudah mapan sekali. Pada akhirnya para tentara perang salib inilah yang memeteraikan skisma (perpecahan) di antara dua Gereja ini. Para pasukan Salib itu merebut Yerusalem pada tahun 1099, serta mengusir umat Islam dari situ, namun juga mendirikan suatu Hierarkhi Kegerajaan Latin, dan mengusir Patriarkh Timur yang sah baik di Yerusalem maupun di Antiokhia. Sejak saat itu baik di Palestina maupun di Syria terbentuk suatu Kepatriarkhan Latin Ritus Timur, sebagai tandingan dari Kepatriarkhan Timur Orthodox yang sah. Di daerah-daerah yang diduduki Islam terutama di Syria dan Irak, orang-orang Kristen setempat (Monofisit, Nestorian, Orthodox) yang menjadi kelompok minoritas yang dilindungi diminta untuk menterjemahkan karya sastra, dan ilmu-ilmu pengetahuan Kristen Timur, maupun Yunani klasik dari bahasa Yunani atau terjemahan Syriake dalam bahasa Arab, oleh para kalifah Islam. Hal ini terjadi pada saat pemerintahan Kalifah Al-Ma'mun yang mendirikan Balai Terjemahan yang disebut sebagai Baitul Hikmat. 

Terjemahan keilmuan dari GerejaTimur ke dalam bahasa Arab itu sangat membantu perkembangan keilmuan dalam Islam. Terjemahan bahasa Arab ini akhirnya juga tersebar sampai kekalifahan Islam di Eropa, Cordova, Spanyol. Di sana karya terjemahan bahasa Arab itu diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Latin. Dari situlah orang-orang Kristen Barat yang selama ini terkurung dalam zaman kegelapan menemukan kembali keilmuan Kristen dari Gereja Timur melalui Islam, dan dengan demikian membantu bangkitnya filsafat Skolastikisme di Barat yang berpuncak pada tulisan-tulisan ThomasAquinas.

5. Zaman Penjajahan
Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Turki (1453) dan Masa Turkokratia (abad 15 s/d abad 19). Orthodoxia di bawah Islam Dibawah pimpinan Sultan Muhammad II, pada tanggal 29 Mei 1453, pasukan Turki Muslim berhasil menyerbu Konstantinopel dan menjebolnya. Konstantinopel pun jatuh ke tanganTurki, dan ini menandai runtuhnya Kekaisaran Byzantium. Dan Muhammad II merebut kota itu serta menamakannya"Istanbul" sampai saat ini. Gereja Aghia Sophia dijadikan Mesjid. Berturut-turut Serbia pada tahun 1459, Yunani pada tahun 1459-1460, Bosnia pada tahun 1463 (dimana banyak kaum “Bogomil” yang keluar dari Gereja itu akhirnya menjadi Muslim), dan akhirnya Mesir pada tahun 1517, jatuh ke tangan Turki. Selama 400 tahun sesudah itu bangsa Turki Muslim menjajah umat Kristen Orthodox di seluruh bekas wilayah Kerajaan Byzantium. Inilah masa yang terkenal dalam sejarah Gereja Orthodox sebagai masa “Turkokratia” atau masa “Kekuasan Penjajahan Turki”. Sesudah kejatuhan Konstantinopel itu hal yang pertama dilakukan oleh Patriarkh Gennadios Skholarios adalah menolak akta penyatuan Florence. 

Dia dibawah tekanan yang kuat dari Agios Markos dari Efesus dalam tindakannya ini. Aghios Markos adalah pembela yang amat kokoh dari Iman Orthodox., dan menyebut usaha persatuan di Florence itu sebagai “penyatuan fasik”. Demikianlah kejatuhan Byzantium tidak berarti kejatuhan Orthodoxia. Biarpun secara manifestasi kesejarahan Gereja Orthodox mengalami kegoncangan-kegoncangan, namun iman dan kehidupan Gerejawinya sama sekali tak tersentuh oleh perubahan-perubahan luar ini. Imannya tetap utuh terlindungi asli dan murni tanpa ada pengurangan ataupun penambahan, sejak zaman rasul sampai masa abad keruntuhan Byzantium ini, dan bahkan sampai abad modern inipun.

Kerajaan Rusia Orthodox. Di Rusia pada abad kelima belas ini terjadi permasalahan mengenai peranan Gereja dalam kehidupan politik dan sosial dari bangsa itu. Kelompok “bukan pemilik” yang dipimpin oleh Aghios Nilusdari Sora (Nil Sorsky) mengajarkan bahwa Gereja terutama biara tak boleh memiliki dan menguasai tanah yang luas, serta harus bebas dari pengaruh dan kendali langsung dari pemerintah, demi semangat kemiskinan dan kerendahan hati. Sedangkan kelompok “pemilik” yang dipimpin oleh Aghios Yosef dariVolotsk, sehingga kelompok ini sering disebut “Yosefit”, mengajarkan bahwa Gereja dan negara harusmemiliki hubungan yang erat, dan bahwa Gereja harus melayani kebutuhan sosial dan politik dari bangsa Rusia yang sedang muncul ini. Kedua pemimpin ini adalah sama-sama murid dari Aghios Sergius dari Radonesh. Akhirnya meskipun semangat kaum “bukan pemilik” itu yang selalu tinggal dalam Orthodoxiadi Rusia, namun cara kaum “pemilik” itulah yang mendominasi kehidupan kegerejaan serta perkembangan kebangsaan pada abad-abad berikutnya di Rusia. Sementara itu di Gereja Barat pada abad kelima belas, penolakan pada kekuasaan Paus makin keras, dalam wujud: 1). Gerakan Konsiliar dimana ada 3 Paus sekaligus pada saat yang sama. 2). Munculnya kesadaran nasional bangsa-bangsa Eropa Barat. 3). Munculnya gerakan-gerakan agamawi yang menjadi awal Gerakan Reformasi Protestan. 4). Munculnya Gerakan Renaissance. Gerakan Renaissance yaitu bangkitnya ketertarikan pada budaya klasik Romawi-Yunani. Tokoh-tokoh gerakan ini adalah: Erasmus, Lenardo da Vinci, Raphael. Juga harus disebut Yohanes Huss yang dibakar hidup-hidup karena perlawanannya terhadap Paus dan praktek-praktek Gereja Roma pada tahun 1415. Demikian juga Savonarola-pun dibakar hidup-hidup oleh perintah paus pada tahun 1498 karena mengecam dan mengutuk kejahatan dan dosa-dosa dalam Gereja.

Gerakan Reformasi Protestan dan Kontra Reformasi Roma Katolik di Gereja Barat Martin Luther, Yohanes Calvin dan Ulrich Zwingli menyerang penyimpangan-penyimpangan praktek Gerreja Roma serta pengajaran-pengajaran resminya. Pengaruh reformasi di daratan Eropa ini dibawa ke Inggris sehingga Raja Henry VIII mendirikan Gereja Anglikan pada tahun 1534, dan John Knox membawa ajaran Calvinisme ke Skotlandia. Gerakan Kontra-Reformasi Roma Katolik terutama dipimpin oleh Ignatius dari Loyola yang mendirikan Ordo Yesuit, untuk membela Sri Paus dan doktrin-doktrin yang telah dirumuskan dalam Konsili Trente, dengan membantah ajaran Protestantisme sekaligus menarik Umat Orthodox untuk menyatu dengan Roma. Demikian juga Fransiscus Xaverius menyebarkan ajaran Katolik Roma itu sampaike Asia (Timur Jauh). Pada saat ini juga terjadi reformasi spiritual di dalam Gereja Roma Katolik yang dipimpim oleh Teresa dari Avilla. Sementara itu Luther ingin mengadakan hubungan dengan Patriarkh Konstantinopel: Yeremia II. Karena permusuhan yang ada antara pemerintah Turki dan pemerintahJerman, surat Luther dan terjemahan Pengakuan Augsburg ke dalam bahasa Yunani, baru sampai kepada Patriarkh Yeremia di Konstantinopel dua tahun kemudian, ketika Luther sudah meninggal. Namun korespondensi dilanjutkan antara Patriarkh Yeremia II dengan pakar theologia Lutheran: Melanchton, Osiander dan beberapa orang yang lain Korespondensi itu cukup lama dan panjang, namun akhirnya Patriarkh Yeremia meminta agar para pakar theologia Lutheran itu menghentikan saja korespondensi itu, karena ketika diingatkan oleh Patriarkh Yeremia bahwa beberapa ide dari Lutheranisme itu bersifat bidaah dan tak sesuai dengan Iman Rasuliah Orthodox Katolik yang tetap dipertahankan oleh Gereja Orthodox itu, mereka tetap mempertahankan diri. Maka korespondensipun berhenti sampai di situ.

Masa Pemerintahan “Ivan Yang Mengerikan” di Rusia Ivan Yang Mengerikan memerintah Rusia dengan tangan besi. Dia dengan kejam menyiksa siapa saja yang berani mengecam atau mengkritik tindakannya, termasuk di antaranya banyak rohaniwan Gereja yang menjadi korban kekejamannya. Dia ingin membuktikan bahwa Rusia adalah sungguh Roma Ketiga dan berada diatas negera-negara Orthodox yang lain. Di samping kesulitan yang dihadapi oleh Gereja Orthodox dari pihak Roma Katolik, umat Orthodox juga menghadapi kesulitan dari Islam, di mana banyak umat Orthodox yang menjadi martyr bagi mereka yang hidup di wilayah Islam.

Masa-Masa Sulit di Rusia Memasuki abad ketujuh belas Tsar Polandia yang baru saja dinobatkan menyerbu Rusia ketika Rusia baru saja kehilangan pemimpinnya karena meninggal. Banyak pemimpin Rusia ditawan dan dibunuh oleh pemerintah Polandia, termasuk Patriarkh Germogen. Kesulitan ini diikuti dengan Skisma Kaum Percaya Lama di Rusia sebelah Utara. Patriarkh Nikon dari Moskow ingin mengadakan keseragaman dalam praktek-praktek Liturgis Gereja Rusia agar seirama dengan seluruh Gereja Orthodoxyang lain, Dia ingin mengkoreksi ulang terjemahan-terjemahan buku-buku liturgis yang ada. Dia juga ingin mengkoreksi cara orang Orthodox Rusia selama ini membuat tanda salib dengan dua jari: ibu jari dan telunjuk saja, harus dengan tiga jari: ibu jari, telunjuk, dan jari tengah, serta hal-hal serupa itu yanglain.

Masa pemerintahan Petrus Yang Agung di Rusiaa. Di wilayah Turki muncullah Aghios Kosmas Aitolos seorang misionari yang sangat berani ditengah situasi yang hampir mustahil itu. Dia meninggalkan biaranya di Gunung Athos untuk mengajar Injil kepada umat yang sedang teraniaya itu. 

Dia adalah pengkhotbah dan guru serta pelaku mukjizat. Akhirnya apa yang dilakukan itu harus ditebus dengan nyawanya sendiri dengan dibunuh sebagai martyr di tangan orang-orang Turki. Aghios Makarios dari Korintus adalah pengkotbah dan missionari sekaligus, yang diangkat menjadi Episkop di Korintus. Dia mentobatkan banyak orang yang sedang dalam tekanan pemerintah yang memusuhi agama mereka itu. Aghios Nikodemas dari Gunung Athos, adalah orang yang bertanggung-jawab bagi kebangunan rohani diantara umat Orthodox ditengah-tengah jajahanTurki itu.

Gereja BaratAbad kedelapan belas adalah abad kebangunan rohani dan perluasan misi bagi Gereja Barat.Yohanes Wesley memulai Gerakan Methodisme di Inggris, dan dibawanya ke Amerika sampaimempengaruhi “Kebangunan Besar” di Amerika, yang merobohkan tembok-tembok pemisah di antara kaum Protestan, dan menjadi sumber theologia Evangelikal (Injili) nantinya. Jonathan Edwards (wafat: 1758) dan George Whitefield (wafat: 1770) pemimpin dari Gerakan Kebangunan Rohani Protestan ini. Namun pada saat ini juga semangat pencerahan dan romantisisme juga telah masuk ke dalam masyarakat Barat yang akan menjadi sumber bagi theologia liberal dalam kalangan umat Protestan dan juga Katolik Roma. David Hume, Immanuel Kant, dan Frederich Schleimacher munculpada saat ini pula Gereja Roma Katolik pada abad kedelapan belas mengalami gerakan misioner yang amat besar namun juga konflik dengan semangat pencerahan.

Kebangunan Rohani dan Gerakan Misi Gereja Orthodox Rusiaa. Kebangunan Rohani masuk ke dalam abad kesembilan belas, kita masih menjumpai Gereja Rusia tetap dibawah tekanan pemerintah dengan Synode Suci yang dipaksakan ke dalam Gereja Orthodox itu. Inilah penyebab kelumpuhan Gereja sehingga tak mampu menghadapi Komunisme ketika itu muncul di Rusia, serta salah satu penyebab kejatuhan Rusia ke tangan Komunis nantinya.

Gereja sangat dikendalikan dan disensor dengan ketat oleh pemerintah, di mana Patriarkh tak dimilikinya, konsili-konsili Gereja tak pernah dilakukannya. Namun benih kebangunan rohani yang sudah mulai ditanamkan pada abad ke delapan belas itu mulai menghasilkan buah pada abad kesembilan belas ini. Pada saat ini muncullah seorang tokoh luar biasa Aghios Serafim dari Sarov (wafat: 1833). Dia adalah seorang rahib yang selama 20 tahun tinggal tersembunyi dalam hutan tenggelam dalam doa yang mendalam (terutama Doa Yesus), puasa, dan disiplin-disiplin rohani. Pada tahun 1825 dia keluar dari pertapaannya, dan disitulah kebangunan rohani di mulai. Ribuan orang datang untuk dijamah olehnya, dan ribuan orang disembuhkan. Dia mengetahui masalah orang sebelum diberi tahu. Sejak saat itu sampai kini Gereja Orthodox telah menemukan kembali jati dirinya dan berpijak kembali kepada Ajaran Rasuliah yang Orthodox dan Katolik dari Gereja Purba, dan lepas dari “Tawanan Pemikiran Barat” dan dari penampakan palsu “Pseudomorphosis” itu.

Gerakan Misi Banyak orang Kristen Non-Orthodox menuduh Gereja Orthodox tidak pernah mengadakan misi keluar, dan hanya terkungkung dalam faham “mistik” dalam lingkup dirinya sendiri saja. Sebagaimana di Gereja Barat, abad kesembilan belas di Rusia adalah juga abad kegiatan misioner. Presbyter Makarii Glukharev (wafat: 1847) mendedikasikan dirinya bagi penginjilan suku-suku di Siberia. Dosen awam, Nikolai Ilminskii (wafat: 1891) menterjemahkan Alkitab dan buku-buku Gereja ke dalam bahasa suku-suku ini. 

Akademi Theologia yang didirikan di Kazan menjadi pusat kegiatan misioner dari Gereja Rusia. Pada saat ini, Episkop Nikolas Kasatkin dari Tokyo (wafat 1912) mentobatkan beribu-ribu orang Jepang kepada Iman Orthodox, dan pada saat meninggalnya, dia telah meninggalkan suatu gereja lokal yang mandiri (sekarang Katedralnya “Nikolai-Do” ada di Tokyo), dengan Kitab Suci dan buku-buku Gereja dalam bahasa setempat dengan presbyter-presbyter orang-orang setempat. Aghios Herman yang telah kita sebutkan bersama Romo Yohanes Veniaminoff juga mengabarkan Injil kepada suku Eskimo, Aleut, dan meinggalkan orang-orang Eskimo yang mayoritasnya adalah pemeluk Iman Orthodox sampai kini.

Masa Turkokratia Berakhir. Secara theologia selama dua ratus tahun Gereja Orthodox dalam “Tawanan Pikiran Barat” dan akhirnya dapat melepaskan diri pada abad kesembilan belas. Demikian pula masa Turkokratia selama empat ratus tahun itu berakhir pula pada abad kesembilan belas ini. Pada abad ini sejumlah besar umat Orthodox dapat merebut kemerdekaan mereka dari jajahan Turki Muslim. Perjuangan kemerdekaan Yunani pada tahun 1821 menyebabkan Patriarkh Gregorius dari Konstantinopel mati digantung pemerintah Turki. Sesudah Yunani merdeka menjadi negara mandiri, maka status mandiri dari Gereja Yunani diproklamasikan pada tahun 1833, dan diteguhkan oleh Konstantinopel pada tahun 1850. Sekolah theologia Halki di Konstantinopel didirikan, yang darinya, Theologia Otentik Orthodox disebarkan dan diajarkan kembali, serta banyak para pemimpin Orthodox dihasilkan oleh sekolah ini. Namun pada tahun 1970an ditutup lagi oleh pemerintah Turki sampai sekarang belum boleh dibuka.

Gereja Barat pada abad kesembilan belas kita menemukan Protestantisme sedang mengalami konflik antara aliran theologia liberal dan Neo-Orthodoxy dengan kaum Konservatif, Evangelikal dan Fundamentalis. Sedangkan dalam Gereja Roma Katolik, pada awal abad ini dicanangkan Dogma Roma Katolik “Maria Terkandung Tanpa Dosa Asal” oleh Paus Pius IX, tahun 1854. Sedangkan pada tahun 1870, Konsili Vatikan I, menegaskan doktrin “Paus Tak dapat Salah”, suatu doktrin yang makin menjauhkan Gereja Roma Katolik dari Gereja Orthodox. Pada tahun 1848 menanggapi sindiran-sindiran Paus Pius IX yang ditujukan kepada Gereja Orthodox termasuk kedua doktrin baru yang dicanangkan oleh Gereja Roma Katolik, namun yang tak dapat diterima oleh Gereja Orthodox itu, maka para Patriarkh dari Timur mengeluarkan Surat Edaran yang menegaskan Sifat Konsiliar dari Gereja Orthodox.

6. Zaman Modern ( Abad 20-21)
Gereja Orthodox Masakinia. Situasi Gereja Orthodox dalam Diaspora. Ada banyak hal terjadi selama abad kedua puluh dalam Gereja Orthodox. Terutama perpindahan umat Orthodox dari negera asli masing-masing ke daerah-daerah yang telah kita sebutkan di atas. Sehingga terbentuk kelompok-kelompok umat Orthodox yang berkumpul atas dasar kebangsaan. Dan mereka ini loyal kepada patriarkhat asal mereka masing-masing, sehingga terbentuklah yurisdiksi-yurisdiksi yang bermacam-macam sesuai dengan asal negara mereka. Situasi ini sangat tidak sesuai dengan hukum Kanon. Namun di Amerika untuk mengatasi kekacauan yuridiksi ini diadakan persekutuan para Episkop Orthodox yang disebut “SCOBA” untuk pada akhirnya nanti membentuk satu Gereja Orthodox Amerika. Keepiskopan Orthodox Yunani, membentuk suatu “Pusat Misi Orthodox” yang sekarang telah menjadi milik bersama dari semua Gereja Orthodox yang ada di Amerika. Gereja di Yunani juga telah memiliki beberapa badan misi, dan yang terutama adalah “Apotosliki Diakonia” (Pelayanan Apostolik) yang juga merupakan badan misi Gereja Orthodox. 

Padatahun 1917 Rusia jatuh ke tangan Komunis, dan beribu-ribu pemimpin Orthodox yang dibunuh, dipenjarakan atau dibuang. Berjuta-juta umat Orthodox mati dianiaya oleh propaganda atheisme di Rusia dan Eropa Timur. Namun pada tahun 1988 ketika Presiden Mikhael Gorbachev mencanangkan glasnots dan peretroiska, komunisme runtuh dan Gereja mengalami kebangkitan dan vitalitas kembali di Rusia. Pada tahun 1920 Patriarkh Ekumenis mengeluarkan Surat Edaran untuk segenap umat Kristen mengadakan kerjasama. Dari situlah Gereja Orthodox akhirnya bersama Gereja-Gereja Protestan membentuk Dewan Gereja-Gereja sedunia.

Misi Gereja Orthodox. Di Benua Afrika pada tahun 1960 ada sekelompok orang Kristen kulit hitam Afrika yang membentuk suatu denominasi baru yang disebut “Gereja Orthodox Afrika”. Dengan berlalunya waktu mereka mengetahui bahwa Gereja Orthodox yang sebenarnya itu masih ada di Alexandria. Lalu mereka menemui Patriarkh Alexandria Kalsedon dan menginginkan untuk menggabung dengan Gereja Orthodox. Dari permulaan awal inilah, sampai sekarang misi Gereja Orthodox mengalami kemajuan pesat di Uganda, Kenya, Tanzania, Kameroon, dan banyak daerah Afrika lainnya termasuk Afrika Selatan. Dua orang Episkop Orthodox Kulit Hitam telah ditahbiskan sejak saat itu, dan presbyter-presbyter adalah orang lokal dengan liturgi dalam bahasa lokal. Amerika, Eropa, dan Inggris. Perkembangan Gereja Orthodox di wilayah barat ini, tak lepas dari kehadiran umat Orthodox Diaspora yang ada di negara-negara itu. Namun baru mulai mengalami kemajuan pesat ketika 2000 orang mantan pendeta Injili beserta umatnya menemukan kembali Iman Orthodox itu, sehingga banyak orang-orang Barat non-etnik Orthodox dari segala macam latar belakang yang sekarang mencari Gereja Orthodox dan dengan giat menyebarkan Iman Orthodox di situ. Tokoh-tokoh terkenal Gerakan ini adalah: Peter Gilquist, Gordon Walker dan lain-lain di Amerika, sedangkan di Eropa dan Inggris tokoh terkenal terutama adalah: Michael Harper, seorang mantan Imam Gereja Anglikan dan tokoh Kharismatik Internasional.

Asia Gereja Orthodox Korea, pada mulanya adalah misi Gereja Rusia juga, namun ketika Rusia berperang dengan Jepang dan Jepang dikuasai Korea, semua milik Gereja Orthodox disita pemerintah Jepang. Ketika Korea merdeka, milik Jepang jadi milik pemerintah Korea. Banyak umat Orthodox yang meninggalkan Gereja, namun masih ada sedikit yang bertahan. Ketika Perang Korea Utara dan Selatan tahun 1950an, tentara perdamaian PBB dikirim ke Korea. Di antara mereka adalah tentara Yunani. Umat Orthodox Korea yang masih sisa itu mendekati pasukan Yunani ini menceritakan keadaan mereka. Hal itu dilaporkan ke Yunani, dan sejak saat itu Gereja Orthodox Korea berada dalam wilayah Patriarkh Konstantinopel sampai sekarang. India disamping memiliki Gereja Syria Monofisit (Oriental Orthodox) di sebelah Barat pantai India,juga memiliki Misi yang dilakukan oleh Gereja Orthodox Kalsedonia di daerah Kalkuta. Ini juga berada di bawah Konstantinopel, demikian juga Gereja Orthodox Filipina. Untuk tujuan perkembangan misi di Asia, Patriarkh Konstantinopel membagi Keepiskopan Agung Australia menjadi dua: Keepiskopan Agung New Zealand untuk Asia Pasifik dan Keepiskopan Agung Australia sendiri untuk benua Australia. Indonesia sudah kita sebutkan bahwa Gereja Timur dari Persia (Nestorian-Assyrian) telah hadir di Indonesia pada abad ketujuh di Pancur dan Barus. Sejak zaman Belanda dan terutama pada tahun 1950an terdapat pula Gereja Timur, meskipun itu adalah Gereja Orthodox Oriental Armenia di Jakarta, namun dari anggota-anggotanya di dalamnya terdapat juga orang-orang Yunani. Mereka memiliki Gereja di Jalan Thamrin sekarang dan telah dibongkar menjadi Bank Indonesia pada tahun 1960an ketika zaman pemerintahan Orde Lama, dan di Surabaya di Jalan Pacar 6, yang telah dibeli oleh komunitas Kristen Protestan, etnis Tionghoa. Namun ketika terjadi pemberontakan G-30-S (RRC-CINA) banyak mereka yang meninggalkan Indonesia pindah ke negara lain, dan sejak saat itu komunitas Armenia ini tak ada lagidi Indonesia. 

D. Sumbangsih Gereja
Pada abad keempat terjadi perkembangan liturgis, yaitu dari Liturgi Yakobus yang awal yang berasal dari Yerusalem dan Siria maka doa-doa telah ditambahkan ke dalamnya jadilah doa-doa Liturgi Aghios Basilius Agung dan Liturgi Yohanes Krisostomos (wafat: 407), yang sampai sekarang menjadi liturgi-liturgi utama Gereja Orthodox. Dalam khotbah katekisasi oleh Aghios Yohanes Krisostomos dan Aghios Kyrillosdari Yerusalem (wafat: 386) terlihat bahwa Sakramen Baptisan dan Krisma (Pengurapan) yang dirayakan pada abad keempat itu hampir tak berubah sedikitpun, melainkan tetap dilaksanakan oleh Gereja Orthodox masa kini.

Pada saat abad kedelapan ini Gereja Barat mengalami banyak pertobatan dari suku-suku Barbarian. Pemberita Injil terbesar Gereja Barat pada abad ini adalah Santo Bonafasius (wafat tahun 754). Ada dua alasan kunci kenapa gereja-gereja harus mendorong gereja-gereja lain untuk terlibat dalam misi. Yang pertama adalah bahwa hal itu adalah sumbangsih paling baik yang bisa gereja lakukan untuk membantu mewujudkan Amanat Agung. Dalam 2 Timotius 2:2, Paulus memberi kita prinsip pokok dalam pemuridan. Dengan kata lain, orang Kristen yang efektif tidak boleh hanya bisa menjala manusia, tapi juga harus bisa membuat orang-orang menjadi penjala manusia. Hasilnya adalah pelipatan jiwa-jiwa, tidak hanya penambahan jiwa. Sumbangsih gereja dalam bentuk penyedian tenaga pengajar. Dalam hal ini gereja adalah salah satu organisasi yang ada dalam masyarakat yang harus ikut campur tangan dalam dunia pendidikan. Alasannya adalah pertama, merealisasikan amanat Agung Tuhan Yesusdalam Matius 28:29 yaitu menjadikan semua bangsa murid Yesus. Kedua, pendidikan secara khusus pendidikan agama Kristen harus diberikan kepada anak-anak Kristen secara terus menerus, hal ini adalah salah satu tanggungjawab gereja. Ketiga, kurangnya guru pendidikan agama Kristen, oleh sebab itu maka partisipasi gereja dalam pendidikan adalah gereja harus mampu menyediakan tenaga pendidik yang berkualitas yang siap pakai dalam melaksaaan pendidikan agama Kristen di sekolah-sekolah.

Penggunaan musik dalam beribadah. Kita melihat bahwa musik digunakan secara ekstensif sejak zaman awal para rasul dan masa gereja pasca para rasul (Efesus 6:19, Kolose 3:16, Kisah Para Rasul 16:25, den Yakobus 5:13).
Blog, Updated at: 04.19

1 komentar :

  1. di jaman modern ini gereja ditantang untuk menjawab tantangan jaman

    BalasHapus

Popular Posts