Tipe-tipe Asesmen Dalam Pembelajaran Sains

Tipe-tipe Asesmen Dalam Pembelajaran Sains
Pada saat ini Kurikulum IPA (sains) berkembang demikian pesat mencakup luasan materi, tujuan pengajaran terintegrasi proses, misalnya pada saat ini guru mengajarkan sains kepada siswa bahwa sains adalah pemecahan masalah. Tujuan-tujuan yang muncul juga meliputi kemampuan berbicara, menulis, membaca, berpikir kritis, dan menalar, dan sejauh mungkin berhubungan dengan dunia nyata. Metode asesmen alternatif diperlukan untuk kinerja siswa tentang tujuan-tujuan pembelajaran sains. Bertolak dari definisi bahwa asesmen adalah proses mengumpulkan informasi dan membuat keputusan berdasarkan informasi (Blaustein, D. et al dalam Ibrahim, 2002). Maka mengumpulkan data tentang ketercapaian suatu tujuan pembelajaran, adalah mustahil dilakukan hanya dengan menggunakan satu model asesmen saja. Diperlukan asesmen alternatif yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang ingin diukur. Asesmen alternatif antara lain: Asesmen kinerja; portofolio dan jurnal; proyek dan investigasi. Namun sebelum membahas tentang asesmen alternatif terlebih dahulu membahas tentang asesmen tradisional sebagai bahan perbandingan dengan asemen alternatif.

Asesmen Tradisional 
Kelas IPA dalam jangka waktu yang lama telah didominasi oleh satu metode tes yang disebut paper and pencil test (tes tertulis), yang mengukur kemampuan kognitif siswa terhadap informasi faktual atau keterampilan proses dasar. Tes semacam ini biasa disebut dengan asesmen tradisional. Asesmen tradisional (Traditional assessment) menurut Nur (2002) adalah suatu asesmen yang menggunakan pertanyaan-pertanyaan jawaban terbuka maupun pertanyaan-pertanyaan tertutup, seperti pilihan ganda, benar salah, isian, dan memasangkan, pada tes yang dibakukan.

Pertanyaan-pertanyaan jawaban terbuka berwujud butir-butir asesmen yang meminta siswa memberikan penjelasan-penjelasan tertulis, gambar, atau diagram. Pertanyaan-pertanyaan tertutup berwujud butir-butir asesmen obyektif, yaitu butir-butir dengan suatu jawaban benar yang tidak terbuka untuk melakukan interpretasi. Tes tradisional tersebut mengukur pencapaian dan daya serap siswa tentang pengetahuan ilmiah dan mengukur kemampuan mereka untuk menerapkan apa yang telah mereka pelajari dengan pertanyaan-pertanyaan jawaban terbuka dan obyektif. Bahan-bahan tradisional yang dikembangkan oleh McGraw-Hill dalam Nur (2002) dirancang untuk mengases siswa:

  • Pengertian atau pemahaman kata-kata sains. 
  • Pemahaman konsep-konsep sains dan Tujuan Pembelajaran Khusus. 
  • Keterampilan-keterampilan Proses Sains dan berpikir. 
  • Kemampuan untuk menganalisis informasi dan memecahkan masalah. 
  • Kemampuan untuk menerapkan pengetahuan ilmiah pada situasi-situasi baru. 

Pembelajaran dan Penilaian Mata Pelajaran Sains SMA/MA 
Menurut Kurikulum 2006 Pemberian pengalaman belajar secara langsung sangat ditekankan melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah dengan tujuan untuk memahami konsiep-konsep dan mampu memecahkan masalah. Macam-macam keterampilan proses dapat Anda baca pada Bab 2 Keterampilan-keterampilan Proses Sains.

Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran sains berorientasi pada siswa. Peran guru bergeser dari menentukan “apa yang akan dipelajari” ke “bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa”

Pengalaman belajar melalui interaksi aktif dengan teman, lingkungan, dan nara sumber lainnya.

  • Kegiatan pembelajaran lebih difokuskan pada “learning” daripada “teaching” 
  • Guru sebagai fasilitator sehingga proses belajar dapat berlangsung. 
  • Guru harus menghindari perilaku yang mengganggu siswa belajar, misalnya guru tidak mengintrupsi siswa yang lagi asyik membaca jika tidak perlu. 
  • Guru membiasakan memberi respon positif dan edukatif terhadap segala perilaku siswa yang menyimpang. 
  • Semua siswa perlu terlibat aktif pada kegiatan pembelajaran. 
  • Penilaian kemajuan belajar siswa dilakukan selama proses pembelajaran. 

Jadi penilaian tidak hanya dilakukan pada akhir periode tetapi terintegrasi dari kegiatan pembelajaran dalam arti kemajuan belajar dinilai proses, bukan hanya hasil (produk). Penilaian dilakukan melalui pendekatan penilaian berbasis kelas (PBK).

  1. Penilaian sains dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti tes kinerja, tes tertulis, portofolio, hasil proyek. 
  2. Hasil penilaian dapat diwujudkan dalam bentuk nilai dengan ukuran kuantitatif ataupun dalam bentuk komentar deskriptif kualitatif. 

Tipe-tipe Asesmen dalam Pembelajaran Sains 
Bertolak dari pembelajaran dan penilaian Mata Pelajaran Sains SD/MI, SMP/MI, dan SMA/MA, maka salah satu tuntutan KBK adalah kemajuan siswa bukan hanya dinilai dari kemampuan kognitif siswa terhadap informasi faktual atau keterampilan proses dasar melalui tes tertulis, atau dengan kata lain sekedar menyatakan ulang informasi faktual atau keterampilan proses sains tersebut. Namun didalam KBK dituntut suatu tes yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendemonstrasikan keterampilanketerampilan proses sains mereka, berpikir secara logis, menerapkan pengetahuan awal ke suatu situasi baru, dan mengidentifikasi pemecahan-pemacahan baru terhadap suatu masalah. Oleh karena itu, diperlukan suatu tes alternatif seperti yang dituntut dalam KBK.

1. Asesmen Kinerja (Performance assessment) 
Asesmen Kinerja (Performance assessment) menurut Nur (2002) adalah suatu asesmen alternatif berdasarkan tugas jawaban terbuka (open-ended task) atau kegiatan hands-on yang dirancang untuk mengukur kinerja siswa terhadap seperangkat kriteria tertentu. Tugas-tugas asemen kinerja menuntut siswa menggunakan berbagai macam keterampilan, konsep, dan pengetahuan. Asesmen kinerja tidak dimaksudkan untuk menguji ingatan faktual, melainkan untuk mengases penerapan pengetahuan faktual dan konsep-konsep ilmiah pada suatu masalah atau tugas yang realistik. Asesmen tersebut meminta siswa untuk menjelaskan “mengapa atau bagaimana” dari suatu konsep atau proses.

Asesmen kinerja merupakan suatu komponen penting dari suatu asesmen autentik. O’Malley & Pierce (Nur, 2003) menyatakan asesmen kinerja adalah:

Bentuk asesmen dimana siswa menunjukkan atau mendemonstrasikan suatu respon secara lisan, tertulis, atau menciptakan suatu karya. Respon siswa tersebut dapat diperoleh guru dalam konteks asesmen formal atau informal atau dapat diamati selama pengajaran di kelas atau seting di luar pembelajaran.

Meminta siswa untuk “menyelesaikan tugas-tugas kompleks dan nyata dengan mengerahkan pengetahuan awal, pembelajaran yang baru diperoleh, dan keterampilan-keterampilan yang relevan untuk memecahkan masalah realistik atau autentik”

Memungkian siswa menggunakan bahan-bahan atau melakukan kegiatan hands-on dalam mencapai pemecahan masalah. Contohnya adalah laporan-laporan lisan, contoh-contoh tulisan, proyek individual atau kelompok, pameran, atau demonstrasi. Hibbard (1995) menyatakan asesmen kinerja merupakan:
Suatu realistik yang terkait dengan tujuan pendidikan sains 
Komponen utama program pendidikan bertujuan:

  1. Menanamkan konsep dan informasi; 
  2. Mengembangkan proses ilmiah, seperti eksperimen, membuat keputusan, membangun model, dan penemuan mesin; 
  3. Mengembangkan keterampilan memecahkan masalah yang melibatkan ilmu pasti dan informasi untuk mendukung metode ilmiah; 
  4. Mengembangkan keterampilan komunikasi untuk membantu siswa menanamkan hal-hal lain secara efektif apa yang mereka telah pelajari atau apa yang menjadi saran mereka sebagai solusi masalah; 
  5. Menanamkan kebiasaan bekerja dengan baik, seperti bertanggungjawab secara individu, keterampilan bekerja sama, tekun, memperhatikan keakuratan dan kualitas, jujur, memperhatikan keamanan, dan rapi. 

Suatu sistem untuk menilai proses dan produk 
Asesmen kinerja merupakan suatu sistem untuk menilai kualitas penyelesaian tugastugas yang diberikan siswa.

Tugas-tugas kinerja seperti:

  1. Pentingnya aplikasi konsep sains dan mendukung informasi; 
  2. Pentingnya kebiasaan bekerja mengkaji atau mencari secara ilmiah; 
  3. Demonstrasi melek sains. 


Adapun komponen sistem asesmen kinerja termasuk:

  1. Tugas-tugas yang menanyakan siswa untuk menggunakan dan proses mereka yang telah dipelajari; 
  2. Cheklist untuk mengidentifikasi elemen kinerja atau hasil pakerjaan; 
  3. Rubrik (perangkat yang mendeskripsikan proses dan atau kesatuan penilaian kualitas) berdasarkan skor total; 
  4. Contoh-contoh terbaik sebagai model kerja yang akan dikerjakan. 

Sebagai parner tes tradisional 
Kadang-kadang tes tradisional digunakan untuk menjamin bahwa siswa telah cukup memiliki informasi akurat untuk menggunakan asesmen kinerja. Dilain pihak, asesmen kinerja digunakan sebagai strategi untuk mengaktifkan siswa dalam pembelajaran. Asesmen kinerja merupakan salah satu penilaian dimana guru mengamati dan membuat pertimbangan tentang demonstrasi siswa dalam hal kecakapan dan kompetensi dalam hal menghasilkan suatu produk. Untuk mengukur kinerja siswa, dapat digunakan daftar cek (ceklist ), skala penilaian (Rating – scale ), dan rubrik. 1. Daftar cek, yang dapat digunakan untuk mengamati dan menilai kinerja siswa diluar situasi ujian. Misalnya: digunakan pada saat siswa melakukan praktikum sebagai bagian dari KBM. Berikut ini diberikan contoh daftar cek yang digunakan untuk mengukur keterampilan siswa menggunakan termometer dalam pengukuran suhu badan. Berikan tanda cek untuk setiap penampilan yang dilakukan siswa secara benar, sesuai dengan aktifitasyang diuraikan dibawah ini. 

Daftar cek keterangan penggunaan termometer.

2. Daftar Penilaian
Seperti halnya daftar cek, daftar penilaian yang dapat digunakan untuk mengamati dan menilai kinerja siswadiluar situasi ujian. 

Daftar penilaian dapat dibuat dengan menggunakan angka atau dalam bentuk skala penilaian. 

a. Contoh daftar penilaian dengan angka 

Daftar penilaian keterangan penggunaan thermometer 

b. Daftar penilaian dengan skala 
Berikan tanda cek untuk setiap penilaian yang dilakukan siswa dengan benar sesuai dengan aktifitas yang diuaraikan dibawah ini. 

Lingakarilah angka yang menurut anda sangat tepat untuk setiap penampilan siswa yang diamati. 
1 = sangat kurang 
2 = kurang 
3 = cukup 
4 = baik 
5 = sangat baik

Daftar Penilaian keterangan penggunaan termometer 

Nama siswa : .... 

c. Rubrik 
Rubrik biasanya digunakan untuk menskor respon/jawaban siswa terhadap pertanyaan open ended. Rubrik juga dapat digunakan untuk menilai kinerja siswa. Menurut Hidden dan Spears, rubrik merupakan skala tingkatan yang digunakan untuk menilai tulisan siswa terhadap butir open ended. Rubrik menurut klasifikasi nilai yang dapat diberikan pada siswa sesuai dengan hasil kerja atau kinerja yang ditunjukkan siswa. Berikut diberikan contoh rubrik untuk jawaban pertanyaan open ended untuk penilaian kinerja. 

Contoh rubrik penilaian kinerja (memiliki perencanaan penyelidikan)

Interpretasi Tes Kinerja 
Misalkan dengan menggunakan daftar penilaian guru menilai kinerja Dedi dan Diana dalam menggunakan termometer. Guru menganggap keenam aktifitas sama sehingga memberikan bobot yang sama, misalnya 10 untuk keenam aktifitas tersebut. Hasil penilaian kinerja kedua siswa sebagai berikut : 

Tabel. Hasil penilaian kinerja Siswa

Bobot kelulusan 75, maka Dedi lulus dan Diana tidak lulus, jika batas kelulusan 65, maka Dedi dan Diana dinyatakan lulus. Artinya, jika batas kelulusan 65, maka Dedi dan Diana telah dinyatakan memiliki kemampuan menggunakan termometer. Penilaian yang bersifat dikotomis seperti di atas kurang dapat memberikan gambaran tentang tingkatan pencapaian siswa. Untuk mengatasi hal semacam ini kita dapat mambagi pencapaian siswa dalam beberapa level. 

Misalnya dengan membagi 0-60 manjadi 5 kategori, yaitu : 
0 – 20 Menyatakan kinerja sangat rendah 
21 – 30 Menyatakan kinerja rendah 
31 – 40 Menyatakan kinerja sedang 
41 – 50 Menyatakan kinerja baik 
51 – 60 Menyatakan kinerja sangat baik. 

Dengan demikian, Dedi kinerja sangat baik dan Diana kinerja sedang. Bagaimana jika dalam penilaian kinerja menggunakan skala Likert? Perhatikan contoh penilaian kinerja dengan skala penilaian tentang keterampilan menggunakan termometer. 

Contoh : Penilaian Kinerja Keterampilan Menggunakan Termometer

  • Jika Ahmad mendapat skor 4, berarti Ahmad telah dapat mengeluarkan thermometer dengan baik. 
  • Untuk butir kedua, Ahmad mendapat skor 5 artinya Ahmad telah dapat menurunkan posisi air raksa secara sempurna. 
  • Untuk butir ketiga skor 4, artinya Ahmad telah menempatkan termometer secara baik pada tubuh pasien tetapi belum sempurna. 
  • Untuk butir keempat mendapat skor 5, artinya Ahmad telah memperhatikan lama waktu secara sempurna. 
  • Untuk butir kelima mendapat skor 2, artinya Ahmad kurang terampil mengambil termometer dari tubuh pasien. 
  • Untuk butir keenam mendapat skor 2, artinya Ahmad kurang terampil membaca termometer






b. Portofolio 
Portofolio adalah kumpulan pekerjaan siswa yang refresentatif menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dari waktu kewaktu. Portofolio dapat bercerita tentang aktifitas siswa dalam sains. Fokus portofolio adalaah pemecahan masalah, berpikir, dan pemahaman, komunikasi tertulis, hubungan sains, dan pandangan siswa sendiri terhadap dirinya sebagai orang yang belajar sains. Portofolio tidak sekedar file yang mengarsip pekerjaan siswa. Lembaran-lembaran tentang pekerjaan siswa yang dimasukkan ke dalam portofolio harus memiliki tingkat kebermaknaan yang tinggi dibandingkan dengan pekerjaan lain yang pernah dilakukan siswa.

Portofolio dapat berupa produk nyata karya siswa, artikel jurnal dan refleksi yang mewakili apa yang telah dilakukan oleh siswa dalam mata pelajarannya. Portofolio dapat digunakan untuk mengases kinerja siswa selama sekolah. Asesmen portofolio dapat dibuat oleh guru dan siswa bekerjasama. Pertama siswa menggumpulkan semua hasil pekerjaan selama 2 sampai 3 minggu. Selanjutnya direview untuk menentukan dasar seleksi contoh-contoh pekerjaan siswa yang selanjutnya akan dijadikan asesmen. Portofolio digunakan oleh guru selain sebagai asesmen juga dapat dipakai untuk membantu siswa merefleksikan apa yang mereka telah pelajari. Jurnal adalah rekaman tertulis tentang apa yang telah dipelajari oleh siswa.

Jurnal dapat digunakan untuk merekam atau meringkas topik-topik kunci yang dipelajari, misalnya perasaan siswa terhadap sains, kesulitan yang dialami, atau keberhasilan dalam memecahkan masalah atau topik tertentu atau berbagai macam catatan lain, komentar yang dibuat oleh siswa. Membuat jurnal adalah cara yang paling baik untuk siswa berpraktek dan meningkatkan kemampuan menulis mereka. Membuat jurnal membantu siswa memiliki sikap selalu menuliskan apa yang dikerjakan. Sikap ini akan membantu mereka untuk belajar lebih banyak tentang sains dan keterampilan menulis.

Berikut contoh-contoh topik portofolio:

  1. Laporan tertulis proyek atau penyelidikan individual 
  2. Contoh masalah atau penyelidikan yang dirumuskan oleh siswa 
  3. Jawaban terhadap pertanyaan ujung terbuka 
  4. Kontribusi siswa kepada laporan kelompok 
  5. Daftar cek yang telah dibuat guru yang menunjukkan pertumbuhan ilmiah siswa. 
  6. Autobiografi ilmiahh 
  7. Penerapan sains pada disiplin lain 
  8. Penjelasan siswa terhadap setiap item pada portofolio.

c. Proyek dan Investigasi 
Dalam kurikulum yang berorientasi kepada keterampilan, penggunaan proyek jangka panjang untuk pengajaran dan evaluasi sangat dibatasi. Sebagian besar sekolah siswa diminta untuk menyelesaikan proyek untuk pameran sains. Mereka seringkali menggunakan metode ilmiah yang sangat formal dan dengan prosedur tunggal. Semua siswa harus mengikuti langkah-langkah yang sama. Tahapan proses tertutup sehingga menghasilkan hasil yang sama. Tipe proyek semacam ini seharusnya diganti dengan proyek berjangka panjang, dengan kelompok kooperatif yang melibatkan variasi konsep, keterampilan proses dasar dan terpadu, Identifikasi masalah, dan teknik pemecahannya. Nilai keterampilan proses terpadu dan konsep tingkat tinggi, memainkan peranan yang berarti dan integral untuk semua siswa. Proyek dan penyelidikan dapat melibatkan siswa secara individual atau kelompok kecil 2 sampai 4 siswa bekerjasama. Tugas-tugas seharusnya membutuhkan waktu 2-3 minggu. Proyek yang bersifat lebih substansial dapat memakan waktu 1-2 bulan. Waktu ideal untuk suatu proyek adalah 4-5 minggu.

1. Ide untuk proyek dan penyelidikan 
Proyek adalah cara yang amat baik untuk melibatkan siswa dalam pemecahan masalah jangka panjang. Situasi ini mungkin bersifat sangat ilmiah, tetapi juga dapat berhubungan dengan dunia nyata atau disiplin lain. Proyek dapat melibatkan siswa pada situasi ujung terbuka yang mungkin dapat memberikan beragam hasil yang dapat diterima. Atau bisa saja kelompok kerja ini menemukan situasi masalah yang menuntun mereka merumuskan pertanyaan atau hipotesis yang membutuhkan penyelidikan lebih lanjut. Proyek juga menyediakan peluang bagi siswa untuk mengeksplorasi ide-ide ilmiah menggunakan materi fisik atau teknologi baru seperti computer, kalkulator dan sebagainya. Proyek yang diberikan dalam konten pemecahan masalah, dapat digunakan oleh siswa untuk melakukan eksplorasi, belajar, dan berpikir tentang ide yang mengembangkan pemahaman mereka dalam berbagai area isi kurikulum sains.

2. Proyek dan Investigasi Dunia Nyata 
Proyek dan investigasi dapat mengajarkan siswa berbagai hubungan sains dengan dunia nyata sebagai contoh untuk sekolah menengah dapat menggunakan proyek yang melibatkan siswa untuk menggunakan sains di dalam bidang-bidang berikut.

Berikut ini merupakan daftar kasar yang masih dapat dikembangkan oleh siswa secara bersama-sama melalui curah pendapat.

  • Makanan dan kesegaran 
  • Populasi 
  • Masalah-masalah lingkunagan 
  • Lahan pertanian 
  • Mobil, perahu, pesawat terbang, roket 
  • Olahraga 
  • Daur ulang 
  • Ruang angkasa
  • Dan sebagainya 

3. Kapan diimplementasikan 
Siswa dapat dilibatkan dalam proyek dan penyelidikan sepanjang tahun pelajaran. Anda mungkin hanya perlu menunggu sampai 3-4 minggu pertama sebelum anda menggunakan dan mendiskusikan proyek di dalam pelajaran Anda. Didalam memberikan suatu proyek mulailah dari tugas-tugas yang sederhana, berangsur ketugas-tugas yang rumit

4. Bagaimana mengevaluasi proyek? 
Proyek dapat dievaluasi secara holistik maupun analisis. Penilaian holistik diberikan berdasarkan kepada proyek secara keseluruhan. Sebagai contoh guru dapat membaca dan mengevaluasi sampel proyek untuk menentukan rentang kinerja. Mungkin 3-5 kategori dapat dibuat.

Sebagai tambahan terhadap model-model utama asesmen alternatif seperti yang telah diuarikan di atas, teknik-teknik asesmen berikut juga dapat digunakan untuk memantau kinerja siswa, yaitu:
a. Wawancara dan Konperensi 
Wawancara dan konperensi memberi peluang bagi guru dan siswa untuk bertemu bersama dan mendiskusikan IPA. Pertemuan pribadi dengan guru ini dapat merupakan pengalaman yang memiliki daya motivasi yang kuat untuk kebanyakan siswa. Hal ini juga dapat menyediakan bagi guru untuk memperoleh informasi yang bermanfaat tentang bagaimana siswa berpikir dan bagaimana perasaannya terhadap IPA.

Wawancara dapat terstruktur dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan satu topik IPA tertentu. Sebagai contoh, suatu wawancara pemecahan masalah, akan menghadapkan siswa pada masalah dan memintanya untuk memecahkannya. Bekerja dari sebuah set pertanyaan yang direncanakan, guru tertarik terhadap bagaimana siswa melakukan pemecahan masalahnya. Siswa menjelaskan model dan strategi yang dipilihnya untuk memecahkan masalah. Wawancara biasanya ditandai dengan pertanyaan yang diajukan oleh guru dan respon oral oleh siswa. Konperensi adalah diskusi tidak formal yang melibatkan guru dengan seorang siswa.

Beberapa saran yang bermanfaat untuk melaksanakan wawancara dan konperensi:

  • Siaplah dengan pertanyaan 
  • Tempatkan siswa dalam keadaan santai 
  • Jelaskan bahwa anda akan mencari hasil berpikir kreatif 
  • Ajukan masalah 
  • Buatlah catatan 
  • Jadilah pendengar yang baik 

b. Evaluasi Diri Siswa 
Satu lagi yang memiliki keuntungan nyata adalah menggunakan tugas-tugas asesmen kinerja adalah memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat di dalam proses asesmen. Bila asesmen dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran, fokus berpindah dari memberi tes ke membantu siswa memahami tujuan pengalaman belajar dan kriteria keberhasilan. Implisit didalam semua metode asesmen alternatif adalah ide bahwa metode dapat bekerja dengan efektif bilamana siswa tahu tujuan pelajaran dan kriteria untuk mengukur keberhasilan tujuan tersebut. Mengetahui tujuan dan kriteria keberhasilan akan membantu siswa untuk memonitor tujuannya.

c. Tes Buatan Siswa 
Dalam melakukan asesmen terhadap siswa, Anda juga dapat menggunakan tes-tes yang dikembangkan oleh siswa Anda sendiri. Asesmen didasarkan pada asumsi bahwa sesorang yang menguasai dengan suatu konsep tertentu akan mampu mengembangkan pertanyaan yang bermutu tentang konsep itu. Atas asumsi itu, Anda dapat mengases pemahaman siswa Anda soal-soal tes yang dibuatnya.

d. Pekerjaan Rumah 
Seringkali tugas-tugas yang dilakukan siswa didalam suatu asesmen membutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu Anda dapat menggunakan waktu siswa di rumah untuk mengerjakannya. Hasil kerja mereka merupakan sumber yang baik untuk asesmen.
Blog, Updated at: 05.39

1 komentar :

Popular Posts