Dasar Penentuan Klasifikasi Strategi Pembelajaran

Dasar Penentuan Klasifikasi Strategi Pembelajaran
Menurut Hasibuan & Moedjiono (2006 : 4) ada beberapa dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan strategi belajar-mengajar yaitu :

1. Pengaturan Guru dan Siswa
Dari segi pengaturan guru dapat dibedakan pengajaran oleh seorang guru atau oleh suatu tim, selanjutnya dapat pula dibedakan apakah hubungan guru-murid terjadi secara tatap muka ataukah dengan perantara media, baik media cetak atau visual. Sedangkan dari segi dapat dibedakan pengajaran klasikal (kelompok besar), kelompok kecil (5-7 siswa), atau pengajaran perorangan.

2. Stuktur peristiwa belajar-mengajar
Stuktur peristiwa belajar-mengajar dapat bersifat tertutup, dalam arti segala sesuatu telah ditentukan secara relatif ketat; dapat juga bersifat terbuka, dalam arti tujuan khusus, materi, serta prosedur yang akan ditempuh untuk mencapainya ditentukan sementara kegiatan belajar-mengajar berlangsung.

3. Peranan guru-murid didalam mengolah pesan
Pengajaran yang menyampaikan pesan dalam keadaan “telah siap” (telah diolah secara tuntas oleh guru sebelum disampaikan) dinamakan bersifat ekspositorik, sedangkan yang mengaharuskan pengolahan oleh siswa dinamakan heuristik. Ada dua sub strategi didalam strategi heuristik yang akhir-akhir ini sering dikemukakan orang, yaitu penemuan (discovery) dan inkuiri (inquiry).

4. Proses pengolahan pesan
Peristiwa belajar mengajar yang bertolak dari yang umum untuk dilihat keberlakuannya atau akibatnya pada yang khusus dinamakan strategi belajar-mengajar yang bersifat deduktif, sedangkan strategi belajar-mengajar yang ditandai oleh proses berfikir yng bergerak dari khusus ke umum dinamakan strategi belajar-mengajar yang bersifat induktif.

5. Tujuan belajar
Robert M. Gagne mengelompokkan kondisi-kondisi belajar (sistem lingkungan belajar) sesuai dengan tujuan-tujuan belajar yang ingin dicapai. Gagne mengemukakan delapan macam, yang kemudian disederhanakan menjadi lima macam kemampuan manusia yang merupakan hasil belajar sehingga, pada gilirannya, membutuhkan sekian macam kondisi belajar (atau sistem lingkungan belajar) untuk pencpaiannya. 

Kelima macam kemampuan hasil belajar tersebut adalah :
  1. Keterampilan intelektual (yang merupakan hasil belajar terpenting dari sistem lingkungan skolastik)
  2. Strategi kognitif, mengatur “cara belajar” dan berfikir seseorang didalam arti seluas-luasnya, termasuk kemampuan memecahkan masalah.
  3. Informasi verbal, pengetahuan dalam arti informasi dan fakta. Kemampuan ini umumnya dikenal dan tidak jarang.
  4. Kemampuan motorik yang dperoleh disekolah, antara lain keterampilan menulis, mengetik, menggunakan jangka, dan sebagainya.
  5. Sikap dan nilai, berhubungan dengan arah serta intensitas emosional yang dimiliki seseorang, sebagaimana dapat disimpulkan dari kecenderungannya bertingkah laku terhadap orang, barang, atau kejadian.
Kelima macam hasil belajar tersebut diatas menyarankan, bahkan mempersyaratkan kondisi-kondisi belajar tertentu sehingg daripadanya dapat dijabarkan strategi-strategi belajar mengajar yang sesuai.

Klasifikasi Strategi Pembelajaran 
Seperti yang dilansir dilaman (mediakita.com) Strategi pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi 4, yaitu : strategi pembelajaran langsung (direct instruction), tak langsung (indirect instruction), interaktif, mandiri, melalui pengalaman (experimental).

1. Strategi Pembelajaran Langsung
Strategi pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang banyak diarahkan oleh guru. Strategi ini efektif untuk menentukan informasi atau membangun keterampilan tahap demi tahap. Pembelajaran langsung biasanya bersifat deduktif.

Kelebihan strategi ini adalah mudah untuk direncanakan dan digunakan, sedangkan kelemahan utamanya dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan, proses-proses, dan sikap yang diperlukan untuk pemikiran kritis dan hubungan interpersonal serta belajar kelompok. Agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan pemikiran kritis, strategi pembelajaran langsung perlu dikombinasikan dengan strategi pembelajaran yang lain.

2. Strategi Pembelajaran tak Langsung
Strategi pembelajaran tak langsung sering disebut inkuiri, induktif, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan penemuan. Berlawanan dengan strategi pembelajaran langsung, pembelajaran tak langsung umumnya berpusat pada peserta didik, meskipun dua strategi tersebut dapat saling melengkapi. Peranan guru bergeser dari seorang penceramah menjadi fasilitator. Guru mengelola lingkungan belajar dan memberikan kesempatan peserta didik untuk terlibat.

Kelebihan dari strategi ini antara lain: 
  1. Mendorong ketertarikan dan keingintahuan peserta didik, 
  2. Menciptakan alternatif dan menyelesaikan masalah, 
  3. Mendorong kreativitas dan pengembangan keterampilan interpersonal dan kemampuan yang lain, 
  4. Pemahaman yang lebih baik, 
  5. Mengekspresikan pemahaman. 
Sedangkan kekurangan dari pembelajaran ini adalah memerlukan waktu panjang, outcome sulit diprediksi. Strategi pembelajaran ini juga tidak cocok apabila peserta didik perlu mengingat materi dengan cepat.

3. Strategi Pembelajaran Interaktif
Pembelajaran interaktif menekankan pada diskusi dan sharing di antara peserta didik. Diskusi dan sharing memberi kesempatan peserta didik untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan dan pengetahuan guru atau temannya dan untuk membangun cara alternatif untuk berfikir dan merasakan.

Kelebihan strategi ini antara lain: 
  1. Peserta didik dapat belajar dari temannya dan guru untuk membangun keterampilan sosial dan kemampuan-kemampuan, 
  2. Mengorganisasikan pemikiran dan membangun argumen yang rasional. 
Strategi pembelajaran interaktif memungkinkan untuk menjangkau kelompok dan metode-metode interaktif. Kekurangan dari strategi ini sangat bergantung pada kecakapan guru dalam menyusun dan mengembangkan dinamika kelompok.

4. Strategi pembelajaran empirik (experiential)
Pembelajaran empirik berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik, dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik yang efektif. Kelebihan dari startegi ini antara lain: 
  1. Meningkatkan partisipasi peserta didik, 
  2. Meningkatkan sifat kritis peserta didik, 
  3. Meningkatkan analisis peserta didik, dapat menerapkan pembelajaran pada situasi yang lain. 
Sedangkan kekurangan dari strategi ini adalah penekanan hanya pada proses bukan pada hasil, keamanan siswa, biaya yang mahal, dan memerlukan waktu yang Panjang.
Blog, Updated at: 05.19

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts