Empat Pandangan Hubungan Sains Dengan Agama

Empat Pandangan Hubungan Sains Dengan Agama 
Pada tahun 1990, dalam bab pertama buku Religion in an Age of Science, Barbour mengusulkan empat tipologi hubungan untuk memetakan berbagai pendekatan yang dipakai dalam hubungan sains dengan agama. Dengan mempertahankan klasifikasi yang sama, tipologi ini dimodifikasi dalam edisi revisi buku yang sama pada tahun 1997. Empat tipologi hubungan antara sains dan agama tersebut adalah :
  1. Konflik
  2. Independen
  3. Dialog
  4. Integrasi
Tiap-tiap pandangan di atas memiliki beberapa varian yang membedakan satu dengan yang lain, tetapi semua varian itu memilki ciri-ciri umum yang menjadikan mereka dihimpun dalam kelompok yang sama. 

1. Konflik
Pandangan konflik mengemuka pada abad ke-19 melalui dua buku berpengaruh, yakni History of Conflict between Religion and Science karya J.W. Draper dan A History of the Warfare of Science with Theology in Christendom karya A.D. White. Beberapa ahli sejarahwan mutakhir menunjukkan bahwa bukti-bukti yang mereka sosdorkan sangan selektif dan pandangan-pandangan alternative tentang hubungan sains dan agama telah dianut secara luas selama berabad-abad. Kini, potret popular “perang sains melawan agama” dipertajam oleh media karena kontroversi antara materialisme ilmiah dan literalisme biblikal jauh lebih dinikmati khalayak daripada posisi moderat. Kedua kontroversi ini ditempatkan dalam hubungan konflik, dua pandangan yang saling asing. Alasannya, metrialisme ilmiah dan literalisme biblikal sama-sama mengklaim bahwa sains dan agama memberikan pernyataan yang berlawanan dalam domain yang sama (sejarah alam) sehingga orang harus memilih satu di antara dua. Mereka percaya bahwa orang tidak akan mempercayai evolusi dan Tuhan sekaligus. Masing-masing hal tersebut menghimpun penganut dengan mengambil posisi-posisi yang bersebrangan. 

a. Materialisme Ilmiah
Materilaisme memandang materi sebagai realita dasar alam semesta. Materialisme merupakan sebentuk metafisika (sehimpunan klaim tentang karakteristik dan penyusun dasar realitas). Materialisme ilmiah (scientific materialism) juga meyakini metode ilmiah sabagai satu-satunya metode pengetahuan yang sahih. Ini merupakan sebentuk epistemologi (sehimpunan klaim tentang hakikat dan pemerolehan pengetahuan). Dua paham ini saling berkaitan: jika maujud sejati adalah apa yang ditangani sains, sains adalah satu-satunya jalan pengetahuan yang abash.

Di samping itu, ada jenis metrialisme yang disebut reduksionisme. Reduksionisme epistemologis mengklaim bahwa semua hukum dan teori dalam sains pada dasarnya dapat direduksi ke hukum-hukum fisika dan kimia. Reduksionisme metafisis mengklaim bahwa perilaku system ditentukan oleh komponen-komponennya. Kaum materialis meyakini bahwa semua fenomena pada kahirnya dapat dijelaskan dalam kerangka aksi komponen-komponen material yang merupakan satu-satunya sebab efektif di alam semesta. Analisis tentang bagian-bagian system sangatlah bermanfaat di dunia sains. 

b. Literalisme Biblikal 
Jenis konflik yang sangat berbeda muncul dari tafsiran harfiah atas Alkitab. Pada abad ke-20, Gereja Katolik Roma dan aliran utama Protestan berkeyakinan bahwa kitab suci merupakan kesaksian manusia atas wahyu yang terjadi dalam kehidupan nabi-nabi khususnya kehidupan dan pengikut Yesus. Sejumlah kalangan tradisionalis dan penginjil menekankan sentralitas Yesus tanpa menekankan kemaksuman (infallibility) Alkitab. Namun, gereja fundamentalis dan sebagian besar denominasi histories di Amerika Serikat (terutama kaum Baptis Selatan) tetap berpendapat bahwa kitab suci sama sekali bebas dari kesalahan (maksum). 

2. Independensi
Suatu cara untuk menghindari konflik antara sains dan agama adalah dengan memisahkan dua bidang itu dalam dua kawasan yang berbeda. Keduanya dapat dibedakan berdasarkan masalah yang ditelaah, domain yang dirujuk, dan metode yang digunakan. Ini merupakan jenis-jenis pembedaan yang tegas, tetapi secara keseluruhan mereka membangun independensi dan otonomi dalam kedua bidang. Jika ada dua wilayah hukum, sains dan agama pastilah cenderung mementingkan dirinya sendiri dan tidak mencampuri yang lain. Setiap mode penelitian bersifat seleksi dan mempunyai keterbatasannya sendiri. Pemisahan wilayah ini tidak hanya dimotivasi oleh kehendak untuk menghindari konflik yang tidak perlu, tetapi juga keinginan untuk mengakui perbedaan karakter setiap area kehidupan dan pemikiran ini. 

a. Dua Domain yang Terpisah
Banyak kaum Kristen Protestan dan konservatif dewasa ini memberikan peran religius terpenting kepada kitab suci tanpa menekankan literalisme biblikal atau membela sains penciptaan. Mereka menekankan kematian Kristus Sang Penebus dan konversi orang-orang beriman dalam menerima Kristus sebagai Penyelamat pribadi. Mereka menyadari daya ubah kitab suci yang tidak mengancam atau mendukung sains modern. Bagi mereka, sains dan agama merupakan dua aspek kehidupan manusia yang betul-betul terpisah. 

Kaum protestan yang neo-ortodoksi menyokong pemisahan yang lebih eksplisit antara agama dan sains. Mereka berupaya memulihkan titik tekan Reformasi Protestan pada kesentralan Kristus dan keutamaan wahyu sembari menerima sepenuhnya hasil-hasil kesarjanaan biblikal dan sains modern.

Menurut Karl Barth dan para pengikutnya, Tuhan hanya dapat dikenal sebagaimana yang diwahyukan di dalam Krustus dan diakui di dalama iman. Tuhan adalah transenden, sepenuhnya berbeda (dengan semua yang lain), tidak dapat diketahui kecuali melalui pemyimgkapan diri. Keyakinan keagamaan bergantung sepenuhnya pada kehendak Tuhan, bukan pada penemuan manusia sebagaimana sains. Lingkum utama tindakan Tuhan adalah sejarah dan bukan alam. Saintis bebas menjalankan kerja mereka tanpa campur tangan teologi, dan begitu pula sebaliknya, kerna metode dan pokok persoalan keduanya berbeda sama sekali. Sains dibangun berdasarkan pengamatan dan penalaran manusia, sedangkan teologi berdasarkan wahyu.

Dalam pandangan ini, Alkitab harus dipandang dengan secara menyuluruh dan serius, tetapi tidak secara harfiah. Kitab suci bukanlah wahyu itu sendiri, ia merupakan catatan tentang kesaksian manusia atas peristiwa pewahyuan. Lokus aktivitas Ilahi bukanlah pendiktean teks, melainkan kehdupan orang-orang dan komunitas (dalam konteks masyarakat kuno Israel: nabi-nabi, pengikut Kristus, dan orang-orang generasi awal yang merespons Kristus). Tulisan biblikal mencerminkan beragam tafsiran peristiwa-peristiwa tersebut. 

Langdon Gilkey, dalam tulisan awalnya dan kesaksiannya dalam kasus kreasionisme di Arkansas, menyatakan beberapa hal tentang tema ini. 

Dia membuat pemetaan berikut ini:
  1. Sains mencoba menjelaskan data yang bersifat objek, public, dan dapat diulang. Agama berurusan dengan eksistensi tatanan dan keindahan dunia serta pengalaman kehidupan dakhil (seperti rasa bersalah, kecemasan, ketidakberartian pada satu sisi, pemaafan, kepercayaan, dan keseluruhan pada sisi lain). 
  2. Sains mengajukan pertanyaan “bagaimana” yang objektif. Agama mengajukan pertanyaan “mengapa” tentang makna dan tujuan serta asal mula dan takdir terakhir. 
  3. Basis otoritas dalam sains adalah koherensi logis dan kesesuaian eksperimental. Otoritas tertinggi dalam agama adalah Tuhan dan wahyu yang diterima oleh orang-orang yang terpilih yang beroleh pencerahan dan wawasan ruhani dan diyakini melalui pengalaman personal. 
  4. Sains melakukan prediksi kuantitatif yang dapat diuji secara eksperimental. Agama harus menggunakan bahasa simbolis dan analogis karena Tuhan bersifat Transenden. 
Jalan lain untuk memisahkan pernyataan teologis dan pernyataan ilmiah adalah membedakan kausalitas primer dengan kausalitas sekunder yang lazim ditemukan dalam pemikiran Katolik dan neo-ortodoks. Tuhan sebagai Sebab Utama (causa prima) dikatakan bekerja melalui sebab sekunder di dunia alami, dunia yang dikaji sains. Tuhan bersifat Mahakuasa dan menggunakan hokum alam untuk mencapai tujuan tertentu. Kausalitas primer sama sekali berbeda dengan interaksi di antara maujud-maujud di dunia. 

b. Dua Bahasa dan Dua Fungsi yang Berbeda
Jalan lain untuk memisahkan sains dan agama adalah dengan menafsirkan sains dan agama sebagai dua bahsa yang tidak saling berkaitan karena fungsi masing-masing benar-benar berbeda. Di kalangan filosof era 1950-an, kaum positivis logis menetapkan pernyataan keilmuan (scientific statement) sebagai norm bagi setiap pernyataan kognitif (cognitive assertion) dan menolak pernyataan apa pun yang tidak berlandaskan verifikasi empiris.

Analisa bahasa sebagai respon atasnya, menekankan bahwa bahasa-bahasa yang berbeda ini melayani fungsi-fungsi yang berbeda pula dan tidak perlu mereduksi satu sama lain. Setiap “permainan bahasa” dibedakan berdasarkan fungsinya dalam konteks social. Sains dan agama bekerja sangat berbeda dan oleh karena itu, satu samalain tidak bisa saling menilai dengan standar masing-masing. Bahasa ilmiah (scientific language) terutama berfungsi untuk melakukan prediksi dan kontrol. Teori digunakan untuk menghimpun data, menemukan keteraturan dalam dunia fenomena yang teramati, dan memproduksi aplikasi teknologis. Sains mengeksplorasi masalah terbatas tentang fenomena alam. 

Fungsi utama bahasa keagamaan, menurut analis bahasa adalah menawarkan jalan hidup dan seperangkat pedoman serta mendorong kesetiaan pada prinsip moral tertentu. Bahasa agama lahir dari ritual dan praktik umat beriman. Ia juga mengekspresikan dan mengarahkan pengalaman religius personal. Salah satu kekuatan madzhab bahasa adalah bahwa ia tidak berkonsentrasi pada keyakinan agama sebagai sistem pemikiran yang abstrak, tetapi melihat fungsi bahasa agama dalam kehidupan individu dan komunitas. 

Pendekatan “dua bahasa” juga mendapatkan dukungan filososfis dari instrumentalisme. Menurut instrumentalisme, teori ilmiah bukanlah interpretasi realitas, melainkan perangkat intelektual dan praktis yang mempunyai nilai guna. Teori merupakan konstruksi manusia, perangkat pengamatan dan peramalan. Model ilmiah bukanlah gambaran tentang dunia, melainkan fiksi yang berguna yang dapat dicampakkan setelah digunakan untuk mengonstruksi teori yang akan memprediksi pengamatan. Kaum ini umumnya menganut pragmetisme, yakni keabsahan suatu pernyataan diukur dari nilai gunanya dalam kehidupan manusia bukan berdasarkan kesesuaiannya dengan realitas.

Akhirnya, beberapa penulis merujuk sains dan agama sebagai dua perspektif yang saling melengkapi (komplementer). Pendekatan “dua bahasa” memang mengakui keragaman fungsi bahasa agama. Agama adalah jalan hidup dan tidak bias disederhanakan sebagai perangkat keyakinan dan gagasan. Akan tetapi, praktik keagamaan komunitas termasuk peribadatan dan etika, mengandaikan adanya keyakinan yang unik. Berlawanan dengan instrumentalisme yang memandang teori ilmiah dan kepercayaan agama sebagai konstruksi manusia untuk tujuan tertentu manusia. Kita tidak boleh merasa puas dengan pendapat bahwa sains dan agama merupakan dua bahasa yang tidak saling berkaitan, seolah-olah mereka merupakan dua bahasa yang berbeda tentang dunia yang sama. Jika berupaya mencari penafsiran koheren atas semua pengalaman, kita tidak bias menghindar dari mencari pandangan dunia yang lebih terpadu.

Jika sains dan agama benar-benar independent, kemungkinan terjadinya konflik bias dihindari, tetapi memupus kemungkinan terjadinya dialog konstruktif dan pengayaan di antara keduanya. Kita menghayati kehidupan bukan sebagai bagian-bagian yang saling lepas. Kita merasakan hidup sebagai keutuhan dan saling terkait meskipun kita membangun sebagai disiplin untuk mempelajari aspek-aspek yang berbeda.

3. Dialog
Dialog memotret hubungan yang lebih konstruktif antara sains dan agama daripada pandangan Konflik dan Independensi. Namun, Dialog tidak menawarkan kesatuan konseptual sebagaimana diajukan pandangan Integrasi. Dialog mungkin muncul dengan mempertimbangkan pra-anggapan dalam upaya ilmiah, atau mengeksplorasi kesejajaran metode antara sains dan agama, atau menganalisis konsep dalam satu bidang dengan konsep lain. Dalam membandingkan sains dan agama, Dialog menekankan kemiripan dalam pra-anggapan, metode, dan konsep. Sebaliknya Independensi menekankan perbedaan yang ada.

a. Pra-anggapan dan Pertanyaan-Pertanyaan Batas
Para sejarahwan meneliti mengapa sains modern lahir di Barat Judeo-Kristiani di antara seluruh kebudayaan dunia. Maslah ini bias dijawab dengan menyatakan bahwa doktrin penciptaan telah merangsang kegiatan ilmiah. Pemikiran Yunani ataupun biblikal menegaskan bahwa dunia ini teratur dan dapat dipahami. Akan tetapi, orang Yunani berpendapat bahwa keteraturan merupakan keniscayaan dan dengan demikian, orang dapat menurunkan struktur alam semesta dari prinsip pertama. Pemikiran biblikal berkeyakinan bahwa Tuhan menciptakan bentuk dan materi yang berarti bahwa dunia tidak hadir sebagaimana sekarang dan bahwa detail-detail keteraturannya ini riil dan baik dalam pandangan Alkitab, ia tidak dengan sendirinya berwatak ilahiah sebagaimana dianut oleh banyak kebudayaan kuno, dan oleh karena itu, manusia diperbolehkan untuk bereksperimen dengan alam. 

Namun kita tidak boleh gegabah membesar-besarkan peran pemikiran Kristen bagi kebangkitan sains. Sains Arab melakukan kemajuan luar biasa pada Abad Pertengahan, era ketika Barat lebih berorientasi kea lam akhirat (meskipun teknologi praktis dan penting dibangun, terutama di lingkaran gereja). Ketika berkembang di Erpa, sains modern didukung oleh kepentingan humanities dalam Renaisens, pertumbuhan pertukangan, perdagangan, komersial, pola-pola baru dalam bidang hiburan dan pendidikan. Akan tetapi, gagasan tentang penciptaan tampaknya memberikan legitimasi religius bagi eksplorasi ilmiah. Beberapa saintis generasi awal percaya bahwa dalam bekerja, mereka berpikir tentang pikiran Tuhan. 

Dewasa ini, pertanyaan-pertanyaan batas (limit question) telah diangkat oleh sains, tetapi tidak dapat dijawab oleh sains itu sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kadang-kadang disebut “pertanyaan-pertanyaan batas” (boundary question), merujuk ke batas-batas metodologis dan konseptual serta spasial temporal. Thomas Torrance, teolog asal Skotlandia, berpendapat bahwa sains telah mengajukan masalah-masalah fundamental yang tidak dapat ia jawab sendiri. Sains menunjukkan kepada kita tatanan yang rasional dan kontingen (adalah hal yang tidak niscaya tetapi tidak mustahil adanya dan intelijibilitas mendorong kita untuk meneliti bentuk-bentuk baru dan tak terduga dari tatanan rasional. Kaum teolog mengatakan bahwa Tuhan adalah landasan kontingen bagi tatanan yang kontingen dan rasional dari alam semesta. “Korelasi dan rasionalitas itu dalam konteks Tuhan lebih jauh telah mempertimbangkan sifat misterius dan mengagumkan dari intelijibilitas yang melekat pada alam semesta, dan menjelaskan perasaan kuat tentang agama yang memanggil kita, dan yang seperti dikatakan Einstein, menjadi dorongan utama sains”. Teori-teori yang berkaitan dengan Dentuman Besar dan asal usul alam semesta, khusunya, telah mengangkat berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan batas-batas temporal, spasial, dan konseptual. Mengapa ada alam semesta?

b. Kesejajaran Metodologis dan Konseptual
Pendukung materialisme ilmiah umumnya menganggap sains bersifat objek. Teori sains diuji dengan criteria yang tegas dan kesesuaiannya dengan data yang bebas teori. Data sains tidak dipengaruhi oleh kecenderungan individu atau budaya. Sebaliknya, agama sangat subjektif dan dipengaruhi oleh asumsi individu dan budaya. Sains menuntut pengamatan yang berjarak dan penalaran yang logis, sedangkan agama menuntut keterlibatan personal dalam tradisi tertentu dan seperangkat praktik.

Akan tetapi, beberpa ahli sejarah, filosof sains, dan teolog mempertanyakan pembedaan yang tajam ini. Mereka berargumen bahwa sains tidaklah seobjektif dan agama tidaklah sesubjektif sebagaimana yang diduga. Ada perbedaan titik tekan antara kedua bidang ini, tetapi pembedaan ini tidaklah mutlak. Data ilmiah bersifat sarat-teori dan tidak bebas-teori. Asumsi-asumsi teoritis mengalami pemilahan, pelaporan, dan penafsiran terhadap apa yang dianggap sebagai data. Lebih dari itu, teori tidak lahir dari analisis data secara logis, tetapi dari tindakan imajinsi kreatif yang di dalamnya analogi dan model sering berperan. Model-model konseptual membantu kita membayangkan hal-hal yang tidak bisa diamati secara langsung, terutama di alam yang sangat besar (atronomi) dan sangat kecil (fisika kuantum). 

Karakteristik semacam itu juga ditemukan dalam agama. Data agama meliputi pengalaman keagamaan, ritual, teks kitab suci. Dat semacam itu lebih banyak diwarnai penafsiran konseptual. Metafora dan model juga berperan penting dalam bahasa agama, sebagaimana yang dibahas dalam tlisan Sallie McFague dan Janet Soskice. Jelasnya, keyakinan keagamaan tidak mengalami pengujian empiris secara ketat, tetapi didekati dengan semangat pencarian yang sama sebagaimana dalam sains. Kriteria sains seperti koherensi, kekomprehensifan, dan kemanfaatan mempunyai kesejajaran sama dengan pemikiran keagamaan.

Beberapa penulis mengangkat kesejajaran metodologis antara sains dan agama. Semua penulis ini mengakui bahwa ada perbedaan metode antara sains dan agama. Sains jauh lebih ebjektif daripada agama dalam setiap hal yang telah disebutkan tadi. Jenis data yang dipakai agama berbeda jauh dengan data sains, dan kemungkinan untuk menguji keyakinan agama jauh lebih terbatas. Agama lebih dari sekedar system intelektual karena tujuannya adalah melakukan transformasi personal dan menawarkan jalan hidup. Akan tetapi, semua penulis ini menekankan bahwa ada kesejajaran metode yang signifikan dalam kedua bidang ini, termasuk penggunaan criteria konsistensi dan kongruensi dengan pengalaman. Mereka berpendapat bahwa teologi merupakan upaya kritik dari reflektif yang dapat membuka wawasan baru, termasuk yang berasal dari sains.

Di samping kesejajaran metodologis, kesejajaran konseptual antara sains dan agama juga dieksplorasi oleh beberpa penulis. Komunikasi informasi dalam sains, misalnya menawarkan beberapa kesejajaran yang menarik dengan pandangan biblikal tentang Firman Tuhan dalam penciptaan. Pendeknya, kesejajaran konseptual dan metodologis seperti halnya pra-anggapan dan pertanyaan-pertanyaan batas, menawarkan kemungkinan tentang dialog bermakna antara sains dan agama sembari mempertahankan integritas masing-masing.

4. Integrasi
Beberapa penulis menyerukan perumusan ulang gagasan-gagasan teologi tradisional yang lebih ekstensif dan sistematis daripada yang dilakukan oleh pendukung dialog. Ada tiga versi berbeda dalam inegrasi. Dalam natural theology, terdapat kalaim bahwa eksistensi Tuhan dapat disimpulkan dari (atau didukung oleh) bukti tentang desain alam, yang tentangnya alam membuat kita semakin menyadarinya. Dalam theology of nature, sumber utama teologi terletak di luar sains, tetapi teori-teori ilmiah bisa berdampak kuat atas perumusan ulang doktrin-doktrin tertentu, terutama doktrin tentang penciptaan dan sifat dasar manusia. Dalam sintesis sistematis, sains ataupun agama memberikan kontribusi pada pengembangan metafisika inklusif, seperti filsafat proses.

a. Natural Theology 
Terdapat beberapa contoh natural theology dari abad-abad lalu. Thomas Aquinas berpendapat bahwa beberapa sifat Tuhan dapat diketahui hanya dari wahyu dalam kitab suci, tetapi eksistensi Tuhan itu sendiri dapat diketahui hanya dari nalar. Salah satu bentuk argumen kosmologis menegaskan bahwa setiap peristiwa harus mempunyai sebab sehingga kita harus mengakui Sebab Pertama jika hendak menghindari siklus yang tak berujung pangkal. Bentuk argument yang lain mengatakan bahwa seluruh rantai sebab-sebab natural (terbatas atau tidak terbatas) besifat kontingen dan bisa jadi sebelumnya tidak demikian. Ia bergantung pada suatu wujud yang mengada secara niscaya. Argument teleologis (dari telos, bahsa Yunani, berarti tujuan) Aquinas berangkat dari keteraturan dan intelijibilitas sebagai ciri umum alam semesta, tetapi menunjukkan bukti tentang desain alam. 

Pembangun sains modern sering menyatakan ketakjubannya atas koordinasi alam yang harmonis, yang mereka pandang sebagai karya tangan Tuhan. Newton mengatakan bahwa mata tidak dapat dirancang tanpa kecakapan yang tinggi dalam bidang optik, dan Robert Boyle mengagumi bukti-bukti yang melimpah tentang desain di seluruh alam semesta. Pada abad ke-18. dunia dipandang sebagai mekanisme jam dengan Tuhan sebagai Perancangnya. Akan tetapi, filosof David Hume melakukan kritik tajam terhadap argumen desain semacam itu. Dia mengamati bahwa ada prinsip-prinsip pengatur yang bertanggung jawab atas pola-pola di alam. Prinsip-prinsip pengatur tersebut bisa jadi terkandung di dalam organisme, bukan di luarnya. Dia mengatakan bahwa argumen ini setidak-tidaknya akan mengarah ke eksistensi Tuhan yang terbatas atau eksistensi tuhan-tuhan yang tidak mengarah ke eksistensi Pencipta Yang Mahakuasa sebagaimana yang diyakini agama monoteis. Dia juga mengklaim bahwa adanya kejahatan dan penderitaan di dunia telah melemahkan argumen-desain tradisional.

Meskipun ada kritik Hume, argumen desain-ilahi tetap sangat populer. Di antara filosof kontemporer, Richard Swinburne adalah pembela gigih natural theology. Dia berangkat dari mendiskusikan teori konfirmasi (confirmation theory) dalam filsafat sains. Dalam perkembangan sains, bukti-bukti baru ternyata tidak selalu mengukuhkan teori yang sudah ada. Alih-alih suatu teori mempunyai penerimaan awal karena kesederhanaannya dan potensi kebenarannya akan mengurangi atau menambahi bukti-bukti tambahan yang diperlukan (teorema Bayes). Swinburne mengatakan eksistensi Tuhan mempunyai kemasukakalan awal (initial plausibility) karena kesederhanaannya dan memberikan penjelasan secara terpadu tentang dunia dalam kerangka tujuan pelaku. Dia kemudian berargumen bahwa bukti-bukti tentang keteraturan dunia memperbesar kemungkinan bagi hipotesis teistik. Dia juga berpendapat bahwa sains tidak bisa dianggap yang bertanggung jawab atas kehadiran makhluk berkesadaran di dunia. “Sesuatu di luar jaringan hokum fisika” dibutuhkan untuk menjelaskan terbitnya kesadaran. Akhirnya, pengalaman keagamaan menyediakan “bukti penting tambahan”. Swinburne menyimpulkan, “Berdasarkan bukti-bukti yang ada, seisme lebih memungkinkan untuk diterima daripada tidak.” 

Versi mutakhir argumen-desain adalah Prinsip Antropik dalam kosmologi. Para astrofisikawan menunjukkan bahwa kehidupan di alam semesta akan menjadi mustahil andaikata beberapa tetapan fisika dan beberapa kondisi-kondisi lain pada alam semesta dini sedikit berbeda dengan nilai yang kini diketahui. Alam semesta tampaknya “tertala” (fine-tuned) dengan amat cermat sehingga memungkinkan munculnya kehidupan. Stephen Hawking menghitung bahwa andaikata laju pengembangan alam semesta pada satu detik setelah Dentumsn Besar lebih kecil daripada 1 per 100.000.000.000.000.000 (atau 1017), alam semesta akan runtuh kembali sebelum kehidupan dapat terbentuk. 

Natural theology mempunyai daya tarik kuat di dunia multi-agama karena berangkat dari bukti ilmiah yang berpotensi untuk mencapai kesepakatan di antara berbagai budaya dan agama. Lebih lanjut, ia konsisten dengan kekaguman dan keterpesonaan personal yang dirasakan para saintis dalam kerja mereka. Pendukung argumen-desain kini tidak mengklaim bahwa argumen-desain menawarkan bukti yang konklusif bagi teisme; mereka menegaskan bahwa semakin sederhana klaim yang mempercayai Sang Perancang tentulah lebih berterima daripada (atau paling tidak setara dengan) usulan penafsiran alternative. Ini dapat membantu mengatasi kendala untuk percaya dan dapat mengarah ke keterbukaan labih besar bagi bentuk-bentuk pengalaman keagamaan dan bagi partisipasi dalam komunitas keagamaan. Pada sisi lain, keterbatasan dari argument desain-ilahi tetap diakui. Dipandang secara terpisah, argument-desain paling-paling mengarah ke Tuhan menurut paham deisme: Sang Perancang yang jauh dari dunia. Bagaimanapun, argumen-desain dapat digabungkan dengan keyakinan teistik berdasarkan pengalaman keagamaan personal dan tradisi historis. Pendukung theology of nature dapat menggunakan argumen-desain, tetapi cenderung tidak memberinya posisi sentral dalam kehidupan dan pemikiran mereka. 

b. Theology of nature
Theology of nature tidak berangkat dari sains sebagaimana natural theology. Alih-alih, ia berangkat dari tradisi keagamaan berdasakan pengalaman keagamaan dari wahyu historis. Akan tetapi, ia berpendapat bahwa bebrapa doktrin tradisional harus dirumuskan ulang dalam sinaran sains terkini. Di sini, sains dan agama dipandang sebagai sumber ide-ide yang relative independen, tetapi bertumpang tindih dalam bidang minatnya. Secara khusus, doktrin tentang penciptaan dan sifat dasar manusia dipengaruhi oleh temuan-temuan sains. Jika kepercayaan agama hendak diselaraskan dengan pengetahuan ilmiah, kita mesti melakukan penyesuaian dan modifikasi yang lebih besar daripada yang dilakukan oleh pendukung tesis Dialog. Dikatakan bahwa teolog harus mengambil bentangan–luas sains yang telah diterima secara luas, alih-alih beresiko mengadaptasikannya ke teori terbatas atau spekulatif yang cenderung diringgalkan pada masa mendatang. Doktrin teologi harus konsisten dengan bukti ilmiah bahkan jika ia tidak dipengaruhi langsung oleh teori sains terkini.

Pandangan kita tentang sifat umum alam mempengaruhi model hubungan Tuhan dengan alam. Alam kini dipahami sebagai proses evolusioner dinamis dengan sejarah panjang kebaruan yang muncul yang ditandai oleh kebetulan (chance) dan hukum (law). Karakteristik ini mengubah representasi dalam hubungan antara Tuhan dan manusia dengan alam bukan manusia. Ini pada gilirannya mempengaruhi sikap kita terhadap alam dan berimplikasi praktis bagi etika lingkungan. Problem kejahatan huga dipandang secara berbeda dalam dunia evolusioner daripada dalam dunia statis.

Bagi Arthur Poacocke, biokimiawan dan teolog, titik berangkat refleksi teologi adalah pengalaman keagamaan masa lalu dan masa kini dalam komunitas keagamaan yang berkembang. Keyakinan keagamaan diuji dengan konsensus komunitas dan dengan koherensi, kekomprehensifan, dan kemanfaatan. Akan tetapi, Poacocke hendak merumuskan ulang kepercayaan tradisional demi merespons sains terkini. Dia mendiskusikan secara panjang lebar bagaimana kebetulan dan hukum bekerja bersama-sama dalam kosmologi, fisika kuantum, termodinamika non kesetimbangan, dan evolusi biologis. Dia menggambarkan munculnya bentuk-bentuk aktivitas yang khas pada tingkat kompleksitas yang lebih tinggi, dalam hierarki bertingkat dalam kehidupan organis dan pikiran. Dia memberikan peran positif pada kebetulan dalam eksplorasi dan ekspresi potensialitas pada semua tingkat. Tuhan mencipta melalui seluruh proses hukum dan kebetulan, tidak dengan mengintervensi celah-celah proses. Tuhan mencipta di dalam dan melalui proses dunia alami yang disingkap sains. 

Versi mutakhir theology of nature dapat ditemukan di kalangan penulis feminis. Mereka menunjukkan adanya korelasi di antara dualisme yang begitu melekat dalam pemikiran Barat. Pikiran/tubuh, nalar/emosi, objektivitas/subjektivitas, dominasi/kepasrahan, kekuatan/cinta. Dalam setiap kasus, istilah pertama dari setiap pasangan (pikiran, nalar, objektivitas, dominasi, dan kekuatan) tersebut diidentifikasi dalam budaya kita sebagai bersifat maskulin, sedangkan istilah kedua (tubuh, emosi, subjektivitas, kepasrahan, dan cinta) sebagai bersifat feminin. Budaya patriarkat secara histories, lelaki memegang posisi tertinggi dalam kekuasaan, telah melestarikan citra maskulin Tuhan. Lebih jauh lagi, istilah pertama dadri setiap pasangan tersebut dipandang sebagai karakter sains, utamanya dalam upayanya untuk mendominasi dan mengendalikan alam. Beberapa feminis berpendapat bahwa eksploitasi atas perempuan dan alam mempunyai akar ideologis yang sama di Barat. Ekofeminis yang radikal menengok ke budaya pribumi bagi symbol-feminin ilahiah dan pemulihan kesucian alam. Pada sisi lain, feminis berhaluan reformis percaya bahwa watak patriarkat dari Kristen historis dapat disisihkan tanpa perlu menolak tradisi secara keseluruhan. 

“Saya percaya bahwa theology of nature harus ditarik dari sains dan agama dalam upaya untuk merumuskan etika lingkungan yang relevan dengan dunai kontemporer. Hanya sainslah yang dapat memasok data yang diperlukan untuk mengevaluasi ancaman tehadap lingkungan yang muncul dari teknologi dan gaya hidup kita. Akan tetapi, kepercayaan agama secara signifikan mempengaruhi sikap terhadap alam dan motivasi tindakan kita. Pembela lingkungan mengkritik tajam atas Kristen kalsik atas sikapnya yang menarik garis batas yang tajam antara manusia dan alam bukan manusia, dan atas penekanannya pada transendensi Tuhan yang melampaui imenensi-Nya.

c. Sintesis Sistematis 
Integrasi yang lebih sistematis dapat dilakukan jika sains dan agama memberikan kontribusi ke arah pandangan dunia yang lebih koheren yang dielaborasi dalam kerangka metafisika yang komprehensif. Metafisika adalah pencarian seperangkat konsep umum yang dapat menafsirkan berbagai aspek realitas (secara terpadu). Skema konseptual yang inklusif diupayakan sedemikian sehingga dapat mewakili karakteristik fundamental bagi semua fenomena. Metafisik semacam itu merupakan bidang garapan filosof daripada saintis atau teolog, tetapi dapat berfungsi sebagai arena refleksi bersama.

Filsafat proses (process philosophy) merupakan kandidat yang menjanjikan untuk menjadi penengah dewasa ini karena ia sendiri dirumuskan di bawah pengaruh gagasan sains dan agama. Filsafat proses mengatakan bahwa penyusun dasar realitas bukanlah dua jenis maujud alami (dualisme pikiran/materi) atau satu jenis maujud abadi (materialisme), melainkan satu jenis peristiwa yang mempunyai dua aspek atau dua fase. Filsafat ini bersifat monistik dalam memotret karakter umum dari semua peristiwa, tetapi mengakui bahwa semua peristiwa dapat diorganisasi dengan beragam cara, mengrah ke keragaman pengaturan untuk berbagai tingkat. Semua maujud terorganisasi semacam organisme (bukan agregat tak terintegrasi seperti batu) yang mempunyai realitas luar dan realitas dalam, tetapi tiap-tiap maujud tersebut mengambil bentuk yang sangat berbeda pada berbagai tingkat. Interioritas sangat bervariasi, dari memori, perasaam, daya tanggap, dan antisipasi yang sederhana pada organisme tingkat rendah hingga kesadaran pada organisme tingkat tinggi yang mempunyai system saraf pusat. Dipandang dari dalam, interioritas dapat ditafisrkan sebagai suatu momen pengalaman kendatipun mengalami pengalaman sadar (conscious) hanya terjadi di organisme tingkat tinggi, dan kesadaran tinggi reflektif menjadi ciri khas manusia. Secara genuine, fenomena baru muncul dalam sejarah evolusi, tetapi kategori dasar metafisika berlaku untuk semua peristiwa. 

Bagi filosof proses, Tuhan adalah sumber kebaruan dan tatanan. Penciptaan adalah proses yang panjang dan belum sempurna. Tuhan mendapatkan penciptaan diri dari entitas individual, dan karena itu memungkinkan munculnya kebebasan dan kebaruan serta tatanan dan struktur. Tuhan bukanlah kedaulatan transenden sebagaimana yang diyakini Kristen klasik. Tuhan berinteraksi secara timbal balik dengan dunia, berpengaruh atas semua peristiwa, tetapi tidak pernah menjadi sebab tunggal untuk semua peristiwa. Metafisika memahami setiap peristiwa baru sebagai produk maujud masa lau, tindakan diri, dan aksi Tuhan. Di sini, Tuhan mentransendensi dunia, tetapi Dia juga imanen di dunia dengan cara tertentu dalam struktur setiap peristiwa. Kita tidak mempunyai rentetan peristiwa alami murni yang diselingi oleh peristiwa yang dikendalikan Tuhan sepenuhnya. 

Filsafat proses menolak gagasan terhadap kemahakuasaan Tuhan; mereka percaya pada ajakan, bukan paksaan, Tuhan dan mempunyai analisis khas tentang kebetulan, kebebasan manusia, kejahatan dan penderitaan dunia. Filsafat proses juga memberikan sumbangan khas bagi etika lingungan. Kehidupan manusia dan bukan manusia tidak dapat dipisahkan secara tegas. Jika makhluk lain sebagai pengalaman, mereka juga mempunyai nilai yang intrinsik dan bukan sekedar instrumental bagi manusia. Tema proses yang berkaitan dengan dampak lingkungan adalah penekanannya pada transendensi (meski tak mengabaikan imanensi). Filsafat proses yang cenderung menekankan imanensi Tuhan di alam raya (tanpa mengabaikan transendensi) akan mendorong penghormatan yang lebih besar terhadap terhadap alam. 

Dalam upaya merumuskan theology of nature, metafisika yang sistematis semacam filsafat proses ini dapat membantu kita dalam mencari visi yang koheren. Akan tetapi, ini tidak berarti agama atau sains hendak disamakan dengan sistem metafisika. Ada bahaya jika gagasan-gagasan sains atau agama diselewengkan demi menyesuaikan diri dengan sintesis yang mengklaim mencakup semua realita. Kita harus selalu mempertimbangkan keluasan pengalaman manusiawi. Kita mendistorsikannya jika kita memotong-motongnya menjadi ranah-ranah yang terpisah atau penggarisbatasan yang tegas, tetapi kita juga mendistorsikannya jika kita memaksakannya sesuai dengan sistem intelektual yang ketat. Visi koheren tentang realitas harus memungkinkan keunikan berbagai pengalaman yang ada. 

Ian G. Barbour berbicara tentang adanya spektrum empat hubungan yang mungkin antara sains dan agama, yaitu konflik, independensi, dialog, dan integrasi sebagaimana telah dijelaskan di atas. Spektrum relasi sains dan agama versi Barbour ini tampaknya juga mencerminkan perkembangannya secara kronologis begitu warisan sains dari peradaban Islam mengalami sekulerisasi.

Dalam hubungan konflik agama dan sains saling menegasikan kebenaran yang lain alias kontradiktif. Hal ini dapat dicontohkan dengan hukuman Galileo Galilei yang diberikan oleh Gereja Katolik pada abad ke-17. Juga penolakan Gereja Katolik pada abad e-19 terhadap teori evolusi Darwin merupakan contoh lainnya. Contoh terbaru adalah gerakan Kreasionisme para inteletual Kristen pada abad ke-20.

Penolakan fundamentalisme religius secara dogmatis ini mengalami perlawanan yang smaa dogmatisnya di beberapa kalangan ilmuwan yang menganut kebenaran mutlak objektivisme sains. Namun, tidak semua ilmuwan berpandangan dengan sikap bermusuhan seperti itu. Sebagian besar justru menganut pandangan independensi di mana agama dan sains dianggap mempunyai kebenarannya sendiri-sendiri yang terpisah satu sama lain, sehingga dapat hidup berdampingan secara damai. Mereka yang berpandangan seperti ini menganggap agama mencakup nilai-nilai, sedangkan sains hanya berhubungan dengan fakta. Pandangan yang seperti inilah yang diyakini oleh biolog Stephen Jay Gould dalam konsepnya tentang non-overlapping magisteria (NOMA), yaitu dua urusan yang tak berpotongan. Sebaliknya, kaum agamawan juga menganut ajaran independensi itu sendiri. Hanya saja, mereka menganggap sumber nilai-nilai itu adalah Tuhan Maha Pencipta semua alam yang nyata maupun yang gaib.

Mengenai yang pertama dan alam gaib hanya agama yang dapat mengetahuinya melalui keimanan, sedangkan sains hanya berkaitan dengan alam nyata. Dengan demikian, pandangan independensi ini walaupun dengan interpretasi yang sedikit berbeda menjamin kedamaian antara agama dan sains.

Selanjutnya, dalam hubungan dialogis, agama dan sains mempunyai persinggungan yang bisa didialogkan satu sama lainnya. Barangkali pandangan ini dapat diwakili oleh pendapat fisikawan besar, Albert Einstein, yang terkenal itu. Einstein mengatakan bahwa “Religion without science is blind; science without religion is lame.” Tanpa sains, agama menjadi buta, dan tanpa agama sains menjadi lumpuh. Mungkin Einstein mengingat religiusitas para pelopor sains modern, seperti Copernicus, Keppler, dan Newton.

Belakangan, pendekatan dialog ini telah melahirkan pendekatan yang lebih bersahabat, yaitu pendekatan integrative. Dalam hubungan integratif, sains dan agama menyadari akan adanya suatu wawasan yang lebih besar mencakup keduanya sehingga bisa bekerja sama secara aktif. Bahkan, sains bisa meningkatkan keyakinan umat beragama dengan memberi bukti ilmiah atas wahyu atau pengalaman mistis.

Pandangan integratif lain yang bekerja pada tataran lebih fundamental. Pandangan ini adalah pandangan pluralisme epistemologis postmodern. Dalam pandangan ini, baik agama maupun sains dapat bekerja sama karena keduanya merupakan interpretasi intersubjektif yang berbeda-beda pada pengalaman manusia, seperti halnya seni, sastra, dan filsafat yang setara satu sama lain. Pandangan yang banyak dianut para budayawan humaniora ini tentu saja ditolak oleh kebanyakan ilmuwan kealaman yang menganggap objektivitas sebagai hal yang mutlak. Begitu juga para agamawan menolaknya karena telah merelatifkan dogma keimanan yang mereka anggap mutlak.

Oleh karena itu, perlu dicari sebuah pandangan fundamental lain bagi dialog interaktif antara sains dan agama. Menggantikan konsep pluralitas dengan paham konsep integralitas adalah salah satu upaya untuk mencari landasan bersama bagi dialog itu.
Blog, Updated at: 19.46

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts