Fisika Sebagai Perintis Sains Dasar Dan Paradigmanya

Fisika Sebagai Perintis Sains Dasar Dan Paradigmanya 
Sebagai salah satu ilmu dasar yang universal, fisika mempunyai visi dan tujuan membongkar dan mendokumentasikan rahasia alam yang terkait dengan energi dalam segala perwujudannya (sebagai energi terpendam yang diwujudkan oleh materi, sebagai energi kinetic/gerak dan sebagai energi intekasi antara penyusun-penyusn materi yang mejnaga keutuhan struktur paduannya) dalam bentuk aturan-aturan, hokum-hukum dan asas-asas fisika (Enstein, et.al. 1947) sebagai pemaknaan dan penegasan sunnatullah dengan sifat kauniyyah yang tertuang dalam alam semesta (Al-Kaun). Bersama-sama dengan teknologi yang didukung oleh fisika, kedua profesi manusia ini memanfaatkan penemuan-penemuannya untuk memenuhi hasrat dan meningkatkan kualitas kesejahteraan lahiriah dan batiniah umat manusia serta penghuni lain dunia yang menjadi tanggung jawab mereka sebagai khalifatullah fi al-ardh untuk melestarikannya.

Sebagai produk ilmu mendasar, suatu teori fisika yang telah berhasil menjelaskan suatu gejala alam tertentu (misalnya teori induksi elektromagnet Faraday dan teori gelombang materi de Broglie) secara memuaskan selanjutnya dikenai generalisasi dalam hal cakupan keabsahan dan terapannya (menjadi teori Elektromagnetisme dan teori Kuantum) sehingga membuahkan ramalan-ramalan baru mengenai gejala yang belum pernah teramati maupun penemuan terapan/teknis dengan prospek yang menjanjikan (PLTA, komunikasi gelombang elektromegnet, peranti elektronik, PLTN). Rantai verifikas-falsifikasii dan elaborasi yang lebih luas dan canggih akan menghasilkan teori-teori fisika yang lebih handal serta unggul dan secara serentak memperluas garis-garis depan (frontier) fisika yang rahasianya telah terungkap.

Dalam mengimplementasikan ketiga tahapan terpadu metode sains secara sistematik, fisika menganut tiga paradigma utama berikut yang berkonteks global (bebas terhadap bingkai waktu dan bidang telah keabsahannya), yaitu SOU sebagai akronim Simetri, Optimalisasi, Unifikasi, amupun paradigma-paradigma lokal masing-masing dengan cakupan keabsahan yang terbatas dalam wilayah dan status penelitian serta bingkai waktu sejauh paradigma itu dapat diterapkan (Muslim, 1999). Paradigma, suatu istilah kontemporer yang diangkat dari dunia fisika oleh Thomas Kuhn (Kuhn, 1972) adalah suatu gugus/konstelasi landasan flatform pengetahuan (berupa informasi meliputi keyakinan, nilai, teknik, dan alat-alat penelitian yang dianut/dimiliki bersama) yang oleh suatu komunitas ilmuwan disepakati untuk digunaan dalam penelitian mengenai suatu topik tertentu dalam pemaparan permasalahan serta mencari solusinya diikuti komunikasi dan penyebarlusan hasil-hasilnya ke sesama ilmuwan atau masyarakat pengguna (Thorne, 1994, hal. 401). Berkaitan dengan substansinya, setiap paradigma fisika memiliki tiga unsur:
  1. Suatu perangkat informasi teruji dan terbakukan berisi konsep, kaidah, hokum, asas, dan teori fisika yang terumuskan secara matematik sebagai substansi induk pedoman dan rambu-rambu keilmuan.
  2. Suatu perangkat wahana/media komunikasi berupa citra pikiran, citra verbal atau lambing/gambar di atas media tulis, yang memberikita pengertian/wawasan/penghayatan mengenai butir-butir (1) dan sebagai media yang membantu calon dan para ilmuwan dalam proses penyelesaian masalah serta membantu komunikasi antar sesama para ilmuwan dan antara mereka dengan masyarakat pengguna. Perangkat ini telah dibakukan sehingga tak mungkin menimbulkan kesalahan persepsi dan penafsiran. Menurut kesepakatan, bahsa pengantar yang digunakan adalah bahasa Inggris.
  3. Seperangkat contoh teruji berupa elaborasi dan perhitungan-perhitungan atau pemecahan masalah yang telah terselesaikan maupun eksperimen atau aspek terapan yang terdokumentasi seta mudah diakses, baik dalam bentuk skripsi, tesis, disertasi, buku-buku ajar/acuan ataupun makalah ilmiah terbitan yang telah disepakati keabsahannya oleh komunitas pakar/peers (local, nasional, internasional) (Thorne, ibid. hal. 402-411).
Mengingat fisika adalah suatu ilmu yang senantiasa berkembang, maka substansi ketiga unsur paradigmanya bertambah secara terus menerus. Bahkan, untuk yang bukan paradigma utama, substansinya dapat saja berubah, misalnya dalam mekanika klasik dikenal paradigma Newton (era sebelum abad ke-20), paradigma analitis Lagrange-Hamilton serta Hamilton-Jacobi, dalam era pasca abad ke-20 dikenal paradigma Mekanika Relativistik Enstein; dalam Fisika Kuantum dikenal paradigma mekanika gelombang Schrodinger, paradigma Mekanika Matriks Heisenberg, dan beberapa paradigma lain.tulisan ini hanya akan mengupas ketiga paradigma utama saja yang tak bergantung pada bingkai waktu maupun topik garapannya sehingga pengintegralannya dengan agama tak akan mengalami permaslahan mengingat hal-hal mendasar yang menyangkut akidah syari’ah agama pun harus bebas dari bingkai waktu dan wilayah lingkupnya. Selain dapat diterapkan untuk eksplorasi berbagai cabang fisika yang sudah mapan, ketiganya juga berlaku untuk berbagai taraf pengembangan eksplorasi mencari hukum-hukum dan asas baru.

Menurut unsur-unsur yang terkandung dalam paradigma yang dalam fisika berfungsi sebagai pedoman dan rambu-rambu keilmuan yang bersifat operasional, terdapat perpadanan dengan pedoman dan rambu-rambu pengamalan agama islam dengan unsur pertamanya berupa Al-Qur’an Al-Karim, unsure keduanya berupa kaidah-kaidah, adab/tata cara dan etika untuk membaca mushaf Al-Qur’an dan menafsirkannya dalam rangka mensosialisasikan isinya ke berbagai umat islam seantero dunia dengan bahasa Arab sebagai acuannya dan masjid sebagai pusat institusi/media komunikasi, baik yang bersifat vertikal (sholat dan dzikir) maupun horizontal (dakwah). Dalam unsur ketiga terdapat teladan yang tertuang dalam hadis Nabi Muhammad Saw. Yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat Nabi yang sahih. Tentu saja dapat dimasukkan teladan lain yang didasarkan pada fatwa dan teladan para ulama di berbagai Negara yang terakreditasi oleh instu\itusinya masing-masing. Adanya perpadanan erat dan dekat seperti dipaparkan di atas menunjukkan adanya keterpaduan yang erat antara Agama Islam dan sains (fisika) dalam hal yang mendasar maupun dalam spektrum kegiatannya.

SOU sebagai Tiga Paradigma Utama dan Peranan Pokoknya
Paradigma utama Fisika yang pertama, yaitu simetri, mengelaborasi sifat tak berubah suatu objek, sistem fisis, observabel, hukum ataupun suatu asas fisika, dapat juga konstruksi matematis terhadap suatu perubahan perlakuan yang dikenakan pada peninjauan objek oleh pengamat, misalnya simetri terhadap translasi ruang dan waktu, terhadap rotasi atau pencerminan, terhdap boosting global kerangka acuan (transformasi Lorentz) objek, dan terhadap pergeseran fase secara lokal, serta terhadap fungsi gelombang objek dalam paradigma kuantum. Simetri diterapkan semenjak kita melakukan pengamatan terhadap gejala-gejala fisika: kapan dan di mana suatu gejala alam diamati, dinalar, atau diuji (kesesuaian ramalan hasil-hasil telaah perilakunya), dengan kata lain diperlakukan secara ilmiah asalkan kondisi objek dan pengamat serta alat pengamatannya sama, hubungan antara observabel-observabel sistem yang dikenal sebagai hokum fisika akan berbentuk sama atau bersifat simetrik (setara dengan reproducible). Paradigma utama pertama ini menjamin demokrasi/kesetaraan antarsesama pengamat (Muslim, 2000). Produk utama paradigma simetri adalah teori Relativitas Enstein (khusus dan umum) yang mengamati konsep ruang-waktu dan energi-momentum serta mekanika versi Newton dengan versi barunya yang tertuang dalam Paradigma Mekanika Relativistik.

Paradigma utama fisika yang kedua adalah Optimasi, ialah suatu upaya kolektif alam dalam mengekspresikan hokum-hukumnya agar terealisasi pilihan terbaik atau keoptimalan bagi suatu entitas sistem yang relevan. Entitas yang pas untuk dioptimumkan adalah suatu fungsi tindakan berupa akumulasi terhadap waktu produk entitas energetika dan waktu. Tindakan akan eveketif apabila sistem mempunyai potensi untuk berubah (selisih energi kinetic dan energi potensial) serta rentang waktu bagian yang signifikan keduanya dengan jumlah yang optimal meliputi seluruh rentang waktu. Dalam bahasa matematik, pada saat keadaan optimum tercapai, berlaku syarat stationer bagi tindakan total. 

Dalam agama, optimasi ini menampilkan kesempurnaan Allah sebagai Sang Khalik yang tentu saja akan menciptakann sebaik-baik sunnatullah bagi ciptaan-Nya. Oleh karena itu, dalam mendeduksikan hukum-hukum fisika, agar tercermin sifat Al-karim Sang Pencipta, pendekatan yang pas adalah melalui optimalisasi tindakan.

Paradigma utama ketiga adalah Unifikasi, yang sudah dimulai sejak Maxwell berhasil memadukan teori kemagnetan, kelistrikan, elektronika, optika, fisika plasma menjadi teori Maxwell sebagai substansi pokok paradigma Elektrodinamika Klasik. Unifikasi mengalami perkembangan pesat pada pertengahan abad ke-20 dalam upayanya menyusun teori bernuansa global yang mampu secara terpadu menangani deskripsi perilaku kelompok gejala-gejala alam yang memiliki latar belakang sama (Davies, 1989, hal. 1-6). Aktualisasi pengembangan ketiga unsurnya berlandaskan doktrin Bhineka Tunggal Ika (Pluribus Unum atau Unity in Diversity) berkembang pesat sejak pertengahan abad ke-20 dengan dimulainya era Fisika Baru dan diluncurkannya Paradigma Medan Terkuantumkan dengan pemanfaatan utama pada kajian Sistem Banyak Zarah (Georgi, 1989, hal. 425&446; Weinberg, 1996).

Dengan menerapkan paradigma Simetri ditunjang paradigma utama lainnya, fisikawan mampu mengungkap hukum-hukum yang mengatur keempat interaksi yang terdapat di jagat raya kita ini, yaitu interaksi elektromegnet, interaksi lemah, interkasi kuat dan intekasi terlemah gravitasi, baik secara terpisah maupun sebagai bagian dari suatu interaksi terpadu (hanya interaksi terakhir belum dapat dipadukan secara bersama), pemaduan yang dilakukan dalam wilayah kuantum relativistik sehingga cukup luas wilayah keabsahannya (Yang, 1991).

Pemaduan tiga jenis interaksi (Elektromegnet, Lemah, Kuat) terjadi pada energi sangat tinggi sewaktu jagat raya masih berusia sangat muda menurut teori Big-Bang, penciptaan Kosmos rintisan Gamov, dan mulai pecah (mengalami symmetri breaking) pada tingkatan rapat energi yang lebih rendah akibat berkembangnya jagat raya telah mencapai umurnya yang sekarang yaitu 100 biliun tahun.

Bersama-sama ketiga paradigma utama fisika itu tampil secara egaliter dalam Sistem Internasional Satuan, Kodifikasi, dan Format Penyajian Karya Saintifik yang diterima dan diakui secara internasional dan dikenal sebagai International System of Units (SI). Sistem ini membakukan dan mengatur penggunaan berbagai besaran fisika secara tertib meliputi penampilan lambangnya, dimensi, stuan-satuan yang baku dan prosedur kalibrrasinya, Skema Klasifikasi Pohon, Cabang dan Ranting ilmu yang tertuang dalam PACS: Physics and Astronomy Classification Scheme. Skema ini mengatur pembagian dan kodifikasi berbagai cabng fisika secara simetrik, optimal, dan terpadu. 

Unifikasi dalam agama tertuang dalam sifat universitas agama islam dan kesamaan dalam akidah serta syariat menjalankan amalan agama yang dilaksanakan secara individual maupun kolektif. Misalnya, melaksanaan sholat fardu 5 kali sehari pada interval-interval waktu dan tat cara yang universal, ibadah puasa pada bulan Ramadhan setiap tahun dengan tata cara yang sama, menunaikan ibadah haji selama selang waktu dan tata cara yang sama di tempat yang sama di Makkah (minimal sekali seumur hidup), shalat jum’at setiap pekan di masjid, shalat idul fitri dan idul adha pada pagi hari yang sama secara masal setiap tahun, serta kegiatan-kegiatan syariat kolektif dan individual lainnya.

Dalam agama islam, simetri tertuang dalam firman Allah yang menyamakan derajat semua manusia di hadapan-Nya (terjadi sewaktu manusia dalam keadaan fitrah/masih balita). Kemudian, dengan bertambahnya umur diikuti bertambahnya amal dan dosa, derajatnya di hadapan Allah akan ditentukan oleh kualitas ketakwaan dan amalannya. Jadi, terjadi pemecahan simetri derajat kemuliaan manusia di hadapan Allah dengan berjalannya waktu. 

Keterpaduan lain antara fisika dan agama tampil dalam kasus bagaimana paradigma simetri, unifikasi, dan optimasi muncul dalam hadis Rasul mengenai penentuan criteria perilaku utama minimal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu shiddiq (jujur), amanah (menepati janji/commitment), tabligh dan fathanah (bijak). Shiddiq terkait dengan simetri luar-dalam: apa yang diucapkan sama dengan apa yang terkandung dalam pikiran; amanah menampilkan kesaman (simetri) antara apa yang diucapkan/disanggupi dengan apa yang dilakukan; tabligh menampilkan perilaku unifikasi dalam kepemilikan informasi seseorang ke individu lain di lingkungannya; sedangkan fathanah menampilkan kemampuan seseorang yang istimewa dalam memilih tidakan terbaik (optimum) apabila menghadapi suatu permasalahan.

Di masa kini, pandangan yang baku di kalangan para kosmolog tentang jagat raya adalah adanya pengakuan tentang ekspansi semesta yang diawali pada tahapan yang sangat panas dan padat. Pandangan kosmologis seperti ini disebut sebagai teori Ledakan Besar atau Big Bang.

Selama pengembangan alam semesta ini, terjadi pendinginan dan terbentuklah berbagai jenis partikel elementer, seperti mislanya elektron dan nukleon, yaitu proton dan neutron. Nukleon merupakan batu-bata bagi tebentuknya inti atom-atom. Sementara itu, elektron merupakan kulit pembungkus inti dalam struktur atom yang terbentuk kemudian.

Teori Big Bang itu kini telah diverifikasi dengan baik oleh observasi yang berlimpah. Namun, dalam sejumlah persoalan yang masih merupakan misteri. Misteri-misteri yang tak terpecahkan ini sebenarnya berkaitan dengan struktur metafisis dari realitas. Misteri pertama menyangkut ketertalaan kondisi awal dan konstanta-konstanta universal hukum-hukum alam. 
Ilmu Fisika 

Fisika adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang materi, energi dan interaksinya. Ruanglingkupnya amat luas, mencakup hal-hal seperti: struktur materi, sifat berbagai wujud materi misalnya benda padat, cair, gas dan plasma (gas terionisasi); hakikat dan sifat berbagai bentuk energi yaitu kalor (panas), berbagai macam gelombanga, energi listrik, magnet, energi nuklir dan sebagainya. Interaksi antara materi sehubungan dengan berbagai sifatnya, misalnya interaksi gravitasi karena massa, interaksi listrik dan magnet karena muatan listrik, dan interaksi nuklir. Fisika menjadi dasar berbagai ilmu lain dan teknologi, membentuk disiplin-disiplin baru seperti biofisika, kimia fisika, astrofisika, fisika kedokteran, fisika reactor, fisika terknik, geofisika dan fisika bangunan dan sebagainya. (Ensiklopedia Indonesia, 2: 1001).

Hal-hal yang berkaitan dengan ilmu fisika di dalam Al-Quran, seperti halnya disiplin ilmu pada umumnya, tidak spesifik dan detail dijelaskan tentang teori-teori ilmu, tapi lebih pada penjelasan tentang fenomena alam yang memungkinkan manusia menjalani kehidupan dan melakukan penghambaan diri kepada Tuhan pencipta dan pengatur alam. Fenomena alam, interaksi manusia dengan alam lingkungannya membawa pada pengetahuan dan penyelidikan terhadap segala sesuatu yang menarik perhatian di sekitarnya. Interaksi manusia dengan benda-benda fisik di sekelilingnya pertama kali direkam Al-Quran ketika Adam mengenalkan nama-nama benda yang merujuk pada karakter benda itu. Karakter atau sifat benda-benda berbeda-beda satu salam lain. Perbedaan-perbedaan itu kemudian dipelajari dan diteliti secara sistematis berdasarkan kaedah-kaedah ilmu pengetahuan yang kemudian kita kenal dengan ilmu fisika. 

Islam dan Ilmu Fisika 
1. Penciptaan Alam Semesta 
Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam bukanlah sebuah kitab ilmiah tetapi di dalamnya banyak mengandung petunjuk mengenai berbagai fakta ilmiah. Petunjuk-petunjuk di dalam Al-Quran diterangkan secara terpisah dan jika dikumpulkan akan menggambarkan secara jelas mengenai bagaimana waktu mulai dan ke mana akan berjalan. 

Di dalam Al-Quran, Allah menjelaskan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan singgasana-Nya di atas air. 

Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan singgasana-Nya (‘arsy) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Jika kamu berkata kepada mereka, “sesungguhnya kamu akan dibangkitakan sesudah mati,” niscaya orang-orang kafir itu akan berkata, “ini tak lain hanyalah sihir yang nyata” (Q.S Al-A’rof,11: 7)

Penciptaan alam semesta dimulai sejak terjadinya ledakan dahsyat yang banyak dikenalkan oleh teori big bang. Bing bang adalah peristiwa ledakan besar yang terjadi dalam ketiadaan waktu dan percikan-percikan ledakannya menjadi hamparan alam semesta. 

Di dalam Al-Quran digambarkan bahwa bumi dan langit adalah satu pada awalnya. Kemudian terjadilah pemisahan dan terbentuklah segala sesuatu yang hidup. Allah berfirman di dalam surat Al-Anbiya, 21: 30

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Sekarang diketahui bahwa ruang angkasa tidak kosong seperti pernah diyakini. Dari observasi para astronom menunjukkan bahwa di angkasa antar-bintang dan di nebula-nebula ada bahan jernih yang terdiri dari sekitar 99 persen gas (kebanyakan Hidrogen dan Helium) dan 1 persen debu, yakni asap. 

Seperti yang diceritakan di dalam surat Al-A’rof ayat 54 di atas, penciptaan alam semesta terjadi selama enam hari. Enam hari yang dimaksud adalah enam periode. Periode pertama, bumi berupa uap yang memisahkan diri dari gugusannya. Periode kedua, cairan itu membeku dan timbullah gunung-gunung. Periode keempat, timbul zat-zat organik dari air, baik tanaman maupun hewan. Periode kelima dan keenam terjadinya langit (awan) dan zat uap.

2. Astronomi 
Astronomi adalah ilmu pengetahuan alam yang mempelajari alam semesta. Ia meliptui segala sesuatu di ruang angkasa, seperti: matahari, bulan, planet, bintang dan galaksi (rasi bintang). Astronomi adalah ilmu pengetahuan alam yang tertua. Ia mulai dipelajari beberapa ribu tahun yang lalu, sejak orang-orang mengagumi kelap-kelipnya bintang di angkasa. Kebanyakan orang-orang yang banyak mempergunakannya adalah para penggembala dan pemburu yang tidak tahu baca tulis. Mereka menggunakan bintang-bintang sebagai petunjuk dalam pengembaraannya dan meramal iklim.Asal Astronomi pertama kali diketahui karena ada catatan para astrolog dan ulama berupa peta bintang di atas meja-mejaan kecil dan dibuat dari tanah lempung yang berumur kira-kira 3.000 tahun yang lalu di Babilonia.

Ilmu Astronomi dalam khazanah Islam dikenal dengan ilmu falak, ialah ilmu yang mempelajari benda-benda langit. Pengetahuan tentang posisi benda-benda itu merupakan hasil pengelaman serta pengamatan yang dikerjakan berulang-ulang dengan bantuan berbagai peralatan. 

Salah seorang ulama Islam yang muncul sebagai ahli ilmu falak terkemuka adalah Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi (780-850) yang mengarang buku berjudul Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah sekitar tahun 825 di Baghdad. 

Pengaruh Islam dalam ilmu falak masih tercatat dan terlihat dengan jelas pada nama-nama bintang dalam bahasa Arab, seperti al-duburun, mirfak, rijl, zubeneljanubi, markab, ath-thair, alnoth, kaukab, al-fard, bait al-jauza’, famu al-hut, difda’ dan lain-lain. (Ensiklopedia Islam, I:330)

Di dalam Al-Quran Allah banyak bercerita tentang ilmu Astronomi. Di dalam surat Yunus, 10: 5 Allah menjelaskan: 

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Pengamatan perbintangan masa kini membuktikan bahwa benda-benda langit bergerak pada bidang edarnya masing-masing (orbit). Bintang, planet, satelit dan bahkan galaksi berputar sesuai dengan bidang edarnya masing-masing. Di dalam surat Yunus tersebut, orbit diterangkan sebagai manzilah (tempat). Hasil pengamatan modern dewasa ini tentulah membenarkan firman Allah yang telah turun sebelum diketahui bahwa benda-benda langit berputar pada orbitnya masing-masing. 

Pada waktu penciptaan langit, terbentuklah berbagai benda langit yang jumlahnya tidak terhitung. Dari sekian banyak benda-benda yang ada di langit masing-masing berjelan sesuai dengan tempatnya masing-masing. Hal ini terjadi karena adanya gaya tarik menarik antar benda (gaya gravitasi). Gaya gravitasi ini menjadi benda-benda angkasa agar selalu harmonis dan tidak saling bertabrakan. 

Adanya gaya tarik menarik antara benda-benda angkasa mengakibatkan terbentuknya gugusan-gugusan bintang yang dikenal sebagi galaksi atau di dalam bahasa Al-Quran disebut buruj (Q.S Al-Furqan, 25: 61). Gugusan bintang yang jumlahnya tidak terhitung inilah yang menjadi patokan orang-orang pengembara pada zaman dahulu, menjadi tanda perubahan musim bahkan menjadi penentuan dalam pelaksanaan ibadah-ibadah tertentu. Seperti firman Allah di dalam surat An-Nahl, 16: 16. 

Dan Dia menciptakan tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. 

Dan di dalam surat Luqman, 31: 29 Allah menjelaskan: 
Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. 

Bumi tempat manusia berada merupakan bagian dari tata surya. Bumi mempunyai satu satelit yang disebut bulan (luna). Pergerakan bumi meyebabkan pergantian siang dan malam. Siang dan malam adalah akibat yang tidak dapat dipisahkan dari perputaran bumi pada porosnya (rotasi). Semua itu sudah ditentukan oleh Allah waktunya.
Blog, Updated at: 19.53

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts