Mengakhiri Dikotomi Agama Dan Ilmu Dalam Praktek Kependidikan

Mengakhiri Dikotomi Agama Dan Ilmu Dalam Praktek Kependidikan 
Jauh sebelumnya, dalam sejarah kependidikan Islam telah pula berpola pengembangan keilmuan yang bercorak integralistik-ensiklopedik di satu sisi, yang dipelopori oleh para ilmuwan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, berhadapan dengan pola pengembangan keilmuan agama yang spesifik-parsialitik di sisi lain, yang dikembangkan oleh para ahli hadis dan fiqh. Keterpisahan secara diametral antara keduanya dan sebab-sebab lain yang bersifat politis-ekonomis, berakibat pada rendahnya mutu pendidikan dan kemunduran dunia Islam pada umumnya. Dalam ketiga revolusi peradaban manusia, yaitu revolusi hijau, revolusi industri, dan revolusi informasi, tidak ada satu pun ilmuwan muslim tercatat namanya dalam lembaran tinta emas pengembang ilmu pengetahuan.

Perkembangan dan pertumbuhan ilmu-ilmu sekuler sebagai simbol keberhasilan Perguruan Tinggi Umum yang tercerabut dari nilai-nilai akar moral dan etik kehidupan manusia di satu pihak, sementara di lain pihak perkembangan dan pertumbuhan Perguruan Tinggi Agama yang hanya menekankan ilmu-ilmu keagamaan dan teks-teks keislaman normatif era klasik yang berdampak pada persoalan penciptaaan tenaga kerja terampil dalam dunia ketenagakerjaan, menjadikan kedua-duanya mengalami proses pertumbuhan yang tidak sehat serta membawa dampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan kehidupan sosial-budaya, sosial-ekonomi, sosial-politik, dan sosial-keagamaan di tanah air.

Dari sini tergambar bahwa ilmu-ilmu sekuler yang dikambangkan di Perguruan Tinggi Umum dan ilmu-ilmu agama yang dikembangkan di Perguruan Tinggi Agama secara terpisah, yang sekaranmg ini berjalan, sedang terjangkit krisis relevansi (tidak dapat menyelesaikan banyak persoalan), mengalami kemndekan dan kebuntuan (tertutup untuk pencarian alternative-alternatif yang lebih mensejahterakan manusia) damn penuh bias-bias kepentingan (keagamaan, ras, etnis, filosofis, ekonomis, politik, gender, peradaban). Dari latar belakang seperti itulah gerakan rapprochment (kesediaan untuk saling menerima keberadaan yang lain dengan lapang dada) antara dua kubu keilmuan merupakan suatu keniscayaan.gerakan raprochment dapat juga disebut sebagai gerakan penyatuan atau reintegrasi epistemology keilmuan adalah suatu keniscayaan dan mutlak dipoerlukan untuk mengantisipasi perkembangan-perkembangan yang serba kompleks dan tak terduga pada millennium ketiga serta tanggung jawab kemanusiaan bersama secara global dalam mengelola sumber daya alam yang serba terbatas dan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas sebagai khalifah Allah fil al-ardh.

Tantangan di era globalisasi menuntut respon yang tepat dan cepat dari system pendidikan Islam secara keseluruhan. Jika kaum muslim tidak hanya ingin sekedar survive di tengah persaingan global yang semakin tajam dan ketat, tetapi juga berharap mampu tampil di depan, maka re-orientasi pemikiran mengenai pendidikan Islam dan rekonstruksi sistem dan kelembagaan merupakan keniscayaan.

Agama memang mengklaim sebagai sumber kebenaran, etika, hokum, kebijaksanaan, serta sedikit pengetahuan. Agama tidak pernah menjadikan wahyu Tuhan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Menurut pandangan ini, sumber pengetahuan ada dua macam, yaitu pengetahuan yang berasal dari Tuhan dan pengetahuan yang berasal dari manusia. Perpaduan antara keduanya disebut teoantroposentris.

Modernisme dan sekulerisme sebagai hasil turunannya yang menghendaki diferensiasi yang ketat dalam berbagai bidang kehidupan sudah tidak sesuai lagi dengan semangat zaman, spesialisasi dan penjurusan yang sempit dan dangkal mempersempit jarak pandang atau horizon berpikir. Pada peradaban yang disebut pasca modern perlu ada perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah gerakan resakralisasi, deprivatisasi agama dan ujungnya adalah dediferensiasi (penyatuan dan rujuk kembali). Kalau diferensiasi menghendaki pemisahan antara agama dan sector kehidupan lain, maka dideferensiasi menghendaki penyatuan kembali agama dengan sektor-sektor kehidupan lain, termasuk agama dan ilmu. 

Agama menyediakan tolak ukur kebenaran ilmu, bagaimana ilmu diproduksi, tujuan-tujuan iilmu. Dimensi aksiologi dalam teologi ilmu ini penting untuk digaris bawahi, sebelum manusia keluar mengembangkan ilmu. Selain ontologi (whatness) keilmuan, epistemologi keilmuan (howness), agama sangat menekankan aksiologi keilmuan (whyness).

Ilmu yang lahir dari induk agama menjadi ilmu yang objektif (mengalami proses objektifikasi). Dalam arti ilmu tersebut tidak dirasakan oleh pemeluk agama lain, non-agama, dan anti agama sebagai norma (sisi normativitas), tetapi sebagai gejala keilmuan yang objektif (sisi historisitas-empirisitas) semata. Ilmu yang berlatar belakang agama adalah ilmu yang objektif, bukan agama yang normatif. Maka objektifitas ilmu dari orang beriman untuk seluruh manusia, tidak hanya untuk orang beriman saja, lebih-lebih bukan untuk pengikut agama tertentu saja. Contoh objektivitas ilmu, antara lain dapat disebutkan: Optik dan aljabar (tanpa harus terlalu dikaitkan dengan budaya Ilsam era Al-Haitami, Al-Khawarizmi), Mekanika dan astrofisika (tanpa dikait-kaitkan dengan budaya Yudeo-Kristiani), akupuntur (tanpa harus percaya konsep Yin-Yang Taoisme), pijet urut (tanpa harus percaya konsep animisme dan dinamisme dalam budaya leluhur), yoga (tanpa harus percaya Hinduisme), khasiat madu lebah (tanpa harus percaya kepada Al-Qur’an yang memuji lebah), perbankan syari’ah (tanpa harus meyakini etika islam tentang ekonomi).

Paradigma keilmuan baru yang menyatukan, bukan sekedar menggabungkan wahyu Tuhan dan temuan pikiran manusia (ilmu-ilmu holistic-integralistik), itu tidak akan berakibat mengecilkan peran Tuhan (sekulerisme) atau mengucilkan manusia sehingga teraleniasi dari dirinya sendiri, dari masyrakat sekitar, dan lingkungan hidup sekitarnya. Diharapkan konsep integralisme dan reintegrasi epistemologi keilmuan sekaligus akan dapat menyelesaikan konflik antar sekularisme ekstrim dan fundamentalisme negtaif agama-agama yang rigid dan radikal. 

Beberapa contoh di bawah ini akan memberikan gambaran mengenai ilmu yang bercorak integralistik bersama prototip sosok ilmuan integratif yang dihasilkan. Contoh dapat diambil dari ilmu ekonomi syari’ah, yang sudah nyata ada praktik penyatuan antara wahyu tuhan dan temuan pikiran manusia. Agama menyediakan etika dalam perilaku ekonomi diantaranya adalah bagi hasil (mudharabah), dan kerjasama (al-musyarakah). Di situ terjadi proses objektifikasi dari etika agama menjadi ilmu agama yang dapat bermanfaat bagi orang dari semua penganut agama, non-agama, atau bahkan anti agama. Dari orang beriman untuk seluruh manusia. Ke depan pola kerja keilmuan yang integralistik dengan basis moralitas keagamaan yang humanistik ini dituntut dapat memasuki wilayah-wilayah yang lebih luas, seperti psikologi, sosiologi, antropologi, social work, lingkungan, kesehatan, teknologi, politik, hubungan internasional, hukum dan peradilan, dan seterusnya.

Dalam ilustrasi hubungan jaring laba-laba yang bercorak teoantroposentris-integralistik terlihat adanya jarak pandang atau horizon keilmuan integralistik begitu luas (tidak myopic) sekaligus terampil dalam perikehidupan sector tradisional maupun modern karena dikuasainya salah satu ilmu dasar dan keterampilan yang dapat menopang kehidupan di era informasi-globalisasi. Di samping itu, telihat pula sosok manusia beragama (islam) yang terampil dalam menangani dan menganalisis isu-isu yang menyentuh problem kemanusiaan dan keagamaan di era modern dan pasca modern dengan dikuasainya berbagai pendekatan baru yang diberikan oleh ilmu-ilmu alam (natural science), ilmu-ilmu sosial (social science), dan humaniora (humanities) kontemporer. Di atas segalanya, dalam setiap langkah yang ditempuh selalu dibarengi etika moral keagamaan objektif dan kokoh, karena keberadaan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dimaknai secara baru (heurmenetis) selalu menjadi landasan pijak pandangan hdup (weltanschauung) keagamaan manusia yang menyatu dalam satu tarikan nafas keilmuan dan keagamaan. Semua itu diabadikan untuk kesejahteraan manusia secara bersama-sama tanpa pandang latar belakang etnisitas, agama, ras maupun golongan.

Dengan demikian, integrasi sains dan agama dapat dilakukan dengan mengambil inti filosofis ilmu-ilmu keagamaan fundamental islam sebagai paradigma sains masa depan. Inti filososfis itu adalaha adanya hierarki epistemologis, aksiologis, kosmologis, dan teologis yang bersesuaian dengan hierarki integralisme: materi, energi, informasi, nila-nilai, dan sumber. Proses integrasi ini dapat dianggap sebagai islamisasi sains sebagi bagian dari proses islamisasi peradaban masa depan.
Blog, Updated at: 19.50

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts