Pemikiran Imam Suprayogo Dalam Pendidikan Islam

Pemikiran Imam Suprayogo Dalam Pendidikan Islam
Di dunia pendidikan islam khususnya di Jawa timur, Imam Suprayogo adalah sosok yang lain dari yang lain. Mirip dengan mantan Kepala sekolah MIN, MTSN dan MAN 3 Malang, yakni Abdul Djalil M.Ag, Imam melakukan pembaharuan di bidang pendidikan dengan cara-cara yang tak lazim. Cara-cara tak lazim maksudnya, mengandalkan sokongan dana luar tanpa harus mengemis ke Pemerintah. Kita harus maklum kalau pemerintah anggarannya terbatas. Dan ketika lembaga pendidikannya sudah maju pesat, lantas pemerintah melalui pejabat Departemen agama tinggal menikmati hasilnya.

Ketika saya kuliah di UIN malang pada 2005, selama 2-3 tahun di sana, saya menyaksikan sendiri betapa pesatnya perkembangan UIN. Dari fasilitasnya, perbaikan mutu dosen hingga publikasi buku. “perkembangan kampusku mengalahkan UM dan sudah setara dengan UMM Malang maupun Universitas Brawijaya” gumam saya di hati. Di era Imam inilah, UIN malang yang sebelumnya dipandang sebelah mata, kini menjadi kampus yang disegani.

Satu hal lagi, meski UIN Malang telah berevolusi, kampus ini tidak meninggalkan ciri khasnya sebagai Perguruan tinggi berbasis Mahad. UIN Malang tidak kering kegiatan spiritual. Sebagai saksi sejarah, saya berani menyimpulkan, dibandingkan UIN Jakarta, UIN Jogjakarta dan UIN Surabaya, UIN Malang ini cukup bersih dari virus paham liberalisme. Di kampus ini nuansa Kemoderenan dan Nuansa tradisi pesantren bisa dinikmati para mahasiswa. Ini sejalan dengan cita-cita Imam suprayogo yang ingin mahasiswanya menjadi “Kiai modern”.

Biografi singkat
Beliau lahir di Trenggalek, pada 2 Januari 1951. Sebelum hijrah ke UIN Malang, Imam Suproyogo bekerja di Universitas Muhammadiyah selama 20 tahun, mulai dari menjadi tata usaha, wakil dekan, dekan, dan sebagai pembantu rektor I selama 13 tahun. Di samping itu, beliau pernah ditunjuk menjadi pengurus Majelis PKU Kabupaten Malang, kemudian sebagai Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan menengah Muhammadiyah Kabupaten Malang hingga 10 tahun, dan bersamaan dengan itu juga pernah ditunjuk menjadi anggota Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sewaktu memimpin UIN, Imam Suprayogo dinobatkan sebagai pemimpin pendidikan yang sangat cemerlang oleh MURI Indonesia (2006) dalam memimpin dunia pendidikan islam.

Kegemarannya menulis artikel setiap ba‟da solat shubuh, membuat beliau memegang Rekor MURI untuk konsistensi menulis setiap hari di blog ”tahun tanpa jeda”. Hebatnya lagi, sebagai orang yang lama berkarir di Perguruan tinggi milik Muhammadiyah, beliau dipercaya menjadi Musytasar PCNU kota Malang untuk periode 2011-2016.

Karya tulis Imam Suprayogo
Masalah karya tulis, Imam termasuk orang yang patut diteladani. Ditengah padatnya jadwal memimpin UIN dan melakukan lawatan ke luar negeri, ternyata tidak membuat produktifitasnya menurun. Sebagian besar karya tulis beliau membicarakan segala hal tentang pendidikan Islam. Bila dibandingkan dengan Prof Muhaimin, MA terkait merumuskan gagasan pengembangan pendidikan Islam khususnya melalui kurikulum, karya tulis Imam terkait hal itu belum nampak. Karya tulis Imam dalam bentuk artikel, kebanyakan diangkat dari pengalaman dan pengembaraan beliau ke berbagai tempat. Imam lebih fokus ke gagasan integrasi Sains dan agama seperti yang tergambar dalam konsep “Pohon ilmu”.

Inilah beberapa karya tulis Imam Suprayogo: Metode penelitian Sosial-Agama (Rosdakarya, 2001), Merajut benang Kusut Agama-agama (Mediacita, 2002), Memelihara Sangkar ilmu (UIN malang Press, 2006), Kyai dan Politik: Membaca Citra Kyai dan Politik (UIN malang Press, 2007), Universitas Islam Unggul (UIN malang Press, 2009), Menghidupkan Jiwa ilmu (Elex media, 2014) dan buku Masyarakat Tanpa Ranking (Elex media, 2014).

Percikan Pemikiran
Dari berbagai karya tulisnya, saya tidak akan mengulas semuanya. Tapi akan diambil yang penting saja. Yang penting disini itu pemikiran-pemikiran beliau yang selalu dipaparkan di berbagai forum, baik seminar, kultum di masjid Tarbiyah hingga memberi tausyiah di pesantren-pesantren.
  1. Penghilangan dikotomi antara ilmu agama (Islam) dan ilmu umum melalui konsep Pohon ilmu. Relief pohon ilmu bisa kita saksikan langsung di dinding Rektorat UIN malang.
  2. Pendidikan karakter berbasis 3 hal: kitab suci, tempat ibadah dan ulama/cendekiawan. Cara ini tidak sulit dilakukan dan bahkan juga pengukurannya.
  3. Seorang ulama intelektual profesional, harusnya memiliki ciri utama, yaitu: memiliki kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kematangan professional.
  4. Pintar tidaknya seseorang bisa diketahui dari 2 hal: gaya bicaranya dan karya tulisnya.
  5. Sebuah pesantren disebut hebat biasanya dilihat dari kualitas pengasuhnya. Sedangkan kualitas pengasuh itu sendiri dilihat dari para alumninya.
  6. Orang Islam yang kemudian menjadi liberal akibat setengah-setengah memahami ajaran Islam. Mereka ini digolongkan pada posisi yang „tidak jelas‟, bukan Muslim, bukan kafir.
  7. Jadilah lulusan UIN yang ilmunya bermanfaat di berbagai Ormas Islam, Parpol bahkan LSM.
Blog, Updated at: 04.03

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts