Pendidikan Karakter: Menggali Potensi Pembentuk Karakter Bangsa

Pendidikan Karakter: Menggali Potensi Pembentuk Karakter Bangsa
Pendidikan karakter mencuat dalam dasawarsa terakhir ini. Pendidikan karakter bahkan menjadi brand image (meminjam istilah dagang) penyelenggaaan pendidikan formal maupun nonformal yang
dilselengarakan oleh pendidikan umum maupun pendidikan bernafas agama. Modelnya pun bermacam-macam, demikian metode dan strategi pembelajarannya. Ada salah satu perguruan tinggi
negeri di Yogya bahkan mewajibkan semua mahasiswanya mengikuti kegiatan Spriritual Intelligence
Quotion bekerjasama dengan seorang motivator terkenal.

Apakah pendidikan karakter yang mencuat sepuluh tahun terakhir ini, termasuk hal baru, hal lama yang diberi kosmetik agar tampak cantik, atau sekedar trend atau kecenderungan, mode, atau jangan-jangan menjadi dagangan dalam dunia pendidikan?

Sesungguhnya secara eksplisit Pendidikan kakarter sudah tercantum dalam UU No 2 tahun 1989 Pendidikan Nasional bertujan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Pasal 4) yang diperbaruhi dengan UU No 20 tahun 2000 tentang Sistem pendidikan nasional dalam pasal 3 tentang fungsi pendidikan nasional “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakhwa kepada tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jika diamati secara seksama perubahan UU Sisdiknas tahun 1989 dan tahun 2000, ada hal yang hilangnya kata kata kemasyarakatan dan kebangsaan.

Akibatnya, turunan peraturan praksis pendidikan lebih bermatra pengembangan kepribadian dan belumm bermuara pada praktik kemasyarakatan dan kebangsaan.

Produk Pendidikan karakter?
Untuk sementara waktu kita belum berbangga dengan produk pendidikann karakter di Indonesia. Korupsi terjadi di mana-mana. Perkelaian antarwarga, eksploitasi manusia atas manusia seperti traficking, pemerasan tenaga kerja, kekerasan atas nama agama, dan sebagainya masih terus berlangsung. Survai terakhir dari Human develompent Index (HDI) merosot dari rangking sebelumnya. Kasus penyiksaan Jemaat Ahmadiah dan keos di Temanggung beberapa saat yang lalu menunjukkan penerimaan diri liyan (the others) dalam praktik bermasyarakat dan berbangsa belum dilaksanakan sepenuhnya.

Konsep Pendidikan Karakter
Koesoema (2000) mendefinisikan pendidikan karakter adalah sebuah kondisi dinamis struktur antropologis individu, yang tidak mau sekedar berhenti atas determinasi kodratinya, melainkan juga sebuah usaha hidup untuk menjadi semakin integral mengatasi determinasi alam dalam dirinya demi proses penyempurnaan dirinya terus menerus. (Koesoema, 200) Pendidikan sebagai proses pembentukan karakter merupakan proses informal. Tidak ada pendidikan formal tentang pendidikan karakter, apalagi yang terintegrasi dalam kurikulum bidang studi (subjek matter). Seluruh proses pendidikan karakter bermula pada pembentukan moral manusia yang hanya mungkin dapat dilalui melalui interaksi informal antara individu dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian lembaga pertama dan utama pembentukan dan pendidikan karakter adalah keluarga. Seorang anak memiliki perilaku baik atau buruk sebagian besar dipengaruhi oleh pola asuh keluarganya. Anak yang diasuh dengan cara diterima (acceptance) akan menjadi anak yang tumbuh dan berkembang lebih baik dibandingkan dengan anak yang diasuh dengan cara ditolak (rejection). Anak-anak yang diasuh dengan kekerasan akan belajar menjadi anak yang anti sosial dan sering kali diikuti perilaku destruktif atau merusak.

Fagan (1995) mengatakan bahwa anak-anak yang melakukan kenakalan dan pelanggaran hukum dan norma adalah anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis, orang tua tunggal, atau orang tua yang menikah kembali (step parent family). Anak yang dibesarkan dari keluarga seperti itu juga cenderung memiliki pengalaman pahit dan buruk dalam masa kecilnya, mereka sering kali disiksa (physically or sexually abused) dan mengalami perceraian beberapa kali dalam masa anak-anaknya sehingga anak-anak tersebut belajar kekerasan dan kekejaman dari orang tuanya dan tumbuh menjadi manusia yang keras dan kejam pula.

Mencermati beberapa fenomena yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini dimana banyak sekali terjadi tindak kekerasan terhadap anak maka keluarga yang seharusnya menjadi tempat pembelajaran yang baik bagi anak malah berubah fungsi menjadi tempat yang menakutkan bagi anak dan anak belajar hal-hal yang buruk dari keluarga seperti tindak kekerasan Oleh karenanya sekolah sebagai tempat kedua dimana anak mengisi waktunya merupakan institusi yang memiliki tugas penting yaitu bukan hanya untuk meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari anak didiknya tetapi ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas individu yang bertanggungjawab serta memiliki karakter moral yang baik. Akan tetapi sering kali sekolah pun gagal dalam menjalankan fungsi keduanya yaitu menghasilkan peserta didik yang memiliki kualitas karakter yang baik.

Prinsip Dasar dalam Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang yang baik sehingga siswa dididik menjadi paham (domain kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (domain afektif) nilai yang baik serta mampu melakukannya (domain psikomotorik), sehingga komponen pendidikan karakter harus melibatkan bukan saja aspek ”Knowing the good” (moral knowing), tetapi juga ”desiring the good” atau ”loving the good” ( moral feeling ) dan ”acting the good” (moral action). 

Tanpa itu semua manusia akan menjadi seperti robot yang terindoktrinasi oleh suatu paham.
Pendekatan yang sebaiknya dilakukan dalam menerapkan pendidikan karakter adalah sebagai berikut :
  • Sekolah harus dipandang sebagai suatu lingkungan yang diibaratkan seperti pulau dengan bahasa dan budayanya sendiri. Namun sekolah juga harus memperluas pendidikan karakter bukan saja kepada guru (fasitator) dan peserta didik tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat sekitarnya.
  1.  Dalam menjalankan kurikulum karakter sebaiknya:
  2. Pengajaran tentang nilai-nilai berhubungan dengan sistem sekolah secara keseluruhan;
  • Semua guru/pamong/fasilitator menyadari dan mengahayati serta mendukung tema nilai yang diajarkan.
  • Penekanannya untuk merangsang bagaimana peserta didik mengimplementasikan nilai-nilai ke dalam perilaku pro-sosial.

Pendidikan Karakter Univesal
Berbagai referensi mendeskripsikan berbagai indikator keberhasilan pendidikann karakter. Namun demikian, ada karakter universal yang berlaku di semua bangsa. Paling tidak ada 13 karakter utama yaitu jujur, bertanggung jawab, dapat dipercaya, peduli, berintegritas, rajin, hati-hati, taat, pengampun, teratur, menghargai orang lain, bekerjasama, dan bersahabat karakter yang satu dengan yang lain. Orang yang jujur biasanya bertanggung jawab, dan berintegritas. Orang yang rajin pasti teratur, dan dapat dipercaya. Orang bisa menghargai orang lain pasti bisa bekerjasama.

Bahkan karakter dapat dikembangkan dari keyakinan iman para pendukungnya seperti kasih, sukacaita perdamaian, kesabaran, kerendahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Deskriptor karakter seperti tersebut di atas dapat menjadikan orang pengasih, pendamai, sabar, murah hati, baik, setia, lemah lembut, dan penguasaan diri. Munculnya perkelaian karena tidak ada kasih. Munculnya korupsi karena tidak ada sukacita, munculnya kekerasan karena tidak ada perdamaian, munculnya kemarahan karena tidak ada kesabaran, munculny sifat egois karena tidak ada murah hati, munculnya kejahatan karena tidak ada kebaikan, terjadinya selingkuh dan kebohongan karena tidak ada kesetiaan, terjadinya kekasarfan karena tidak adanya kelemahlembutan, terjadinya emosi karena tidak adanyanya penguasaan diri.Beberapa hal karakter negatif yang harus dihindari adalah marah tanpa alasan, pendendam, irihati, egois, dan sombong. Kelima karakter negatif tersebut harus dieliminir sejak dini dalam pendidikan yang dapat dilakukan di keluarga, di sekolah, dan di masyarakat. Untuk menghindari karakter negatif tersebut, anak dapat belajar dari kehidupannyaseperti yang dikatakan oleh Dorothy Law Notice (via Rahmad, 1997:102).
  • Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
  • Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
  • Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
  • Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
  • Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
  • Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
  • Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
  • Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakukan, ia belajar keadilan.
  • Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
  • Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
  • Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Cara membangun Karakter
Ada berbagai cara membangun karakter baik yang dilakukan di sekolah maupun di luar sekolah.
  • Pertama, dengan mengenalkan karakter tokoh yang ada dalam Kitab Suci. Melalui tokoh-tokoh dalam Kitab Suci, anak dapat belajar karakter keimanan, ketaqwaan, kesetiaan, kejujuran, kedisiplinan, keluhuran budi, dan kesucian dsb.
  • Kedua, dengan pembelajaran dari cerita rakyat. Tokoh Malin Kundang, Mitos Tangkuban Perahu, Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang, Roromendut dan Pronocitro, Putri Salju, Juwita dan Sirik, Ande-Ande Lumut, Inu Kertapati dan Galuh Candra Kirana dsb. Melalui cerita rakyat, anak dapat mencontoh tokoh-tokoh baik dan menghindarkan diri dari tokoh jahat.
  • Ketiga, dengan mengenalkan tokoh lokal, regional, nasional, dan internasional melalui biografi dan autobiografinya. Mengenalkan Bung Hatta dengan kesahajaannya, Mengenalkan Jendral Sudirman dengan perjuangannya besama rakyat. Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Bunda Teresa. Mengenalkan Tjut Nyak Dien, R.A.Kartini. Christina Martha T, Imam Bonjol, Pangeran Dipanegara,dsb. Dengan mengenalkan tokoh-tokoh siswa dapat belajar keteguhan hati, pemaafan, pengorbanan, dst.
  • Keempat, belajar dari kehidupan sehari-hari. Kisah tukang sampah, tukang pasir, PRT, PSK, sopir, nakoda, pilot, tukang bangunan, buruh tani, buruh pabrik dsb.
  • Kelima, belajar dari media massa. Tayangan televisi Reality show seperti Andaikan Aku Menjadi, Tolong, jejak Petualang, dll, dapat mengasah kepekaan karakter. Membaca rubrik konsultasi psikologi, membaca features tokoh dalam Surat kabar dan majalah dapat menambah indikator karakter.
  • Keenam, laksanakan pendidikan karakter sesuai dengan konteks budayanya. Misalnya, tradisi lahir, perkawinan, kematian dalam tradisi suku, ritual dan budaya dalam konteks budaya.
  • Ketujuh, pantau terus pendidikan karakter oleh orang tua. Pemantauan dilakukan baik di sekolah dengan berinteraksi dengan pamong sekolah, di luar sekolah dengan mengetahui Peer group atau kelompok bermain dan kegiatannya.
Blog, Updated at: 03.24

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts