Pengembangan dan Validasi Instrumen “Persepsi Siswa tehadap Karakter Moral Guru” di Indonesia dengan Model Rasch

Pengembangan dan Validasi Instrumen “Persepsi Siswa tehadap Karakter Moral Guru” di Indonesia dengan Model Rasch
Model pendidikan di Indonesia memiliki sistem keyakinan bahwa secara tradisi guru memiliki status istimewa sebagai role model yang dipercaya memegang peranan penting sebagai panutan siswa (Thomas, 1962). Namun demikian, sejak sistem ujian nasional (UN) diberlakukan dari tahun 2003 sampai 2014, sekolah tidak lagi menjadi tempat pertumbuhan pendidikan dalam membina karakter moral siswa moral (D. Joesoef , Juni 2011). Sekolah telah berubah fungsi dari pusat pendidikan nilai-nilai karakter menjadi pabrik bimbingan belajar dalam bentuk latihan (drill) pemadatan materi, menghafalkan segala jenis soal UN yang sama dengan tahun sebelumnya. Dari tahun 2003 sampai 2012, eskalasi jumlah kecurangan yang dilakukan oknum guru telah meningkat lebih dari 750 kasus sejak pertama UN dilaksanakan (Jibi, 2012 ). Data tersebut hanya diduga sebagian kecil dari permukaan gunung es masalah kecurangan yang sebetulnya lebih banyak lagi yang tidak terdeteksi. Peningkatan kecurangan yang dilakukan oleh banyak oknum guru untuk meluluskan siswa membuat keresahan di kalangan pemerhati pendidikan bahwa banyak siswa di Indonesia menghadapi krisis role model untuk bisa membedakan mana yang baik dan buruk, khususnya di lingkungan sekolah.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) melaporkan bahwa guru berada dalam posisi yang sangat rentan untuk disalahkan oleh kepala sekolah atau kepala dinas ketika siswa gagal UN (Pratiwi & Djumena, 2011). Banyak ahli pendidikan di Indonesia berpendapat bahwa pelaksanaan UN telah mengacaukan paradigma moral dalam sistem pendidikan di Indonesia, yang telah memberikan tekanan psikologis dalam bentuk dilema moral yang hebat pada guru untuk melakukan perilaku demoralisasi, dalam bentuk memanipulasi nilai siswa, mendistribusikan jawaban, dan bahkan lebih buruk, mengintimidasi siswa untuk berbagi jawaban mereka dengan seluruh kelas. Keberhasilan guru dalam melakukan pendidikan hanya diukur dari angka, lulus atau tidak lulus, sementara nilai-nilai luhur kemanusiaan yang mendasar tentang kejujuran telah diabaikan.

Kasus UN 2011 di SDN Gadel Surabaya merupakan luka moral dimana sistem pendidikan moral di Indonesia sering mengabaikan sudut pandang siswa dengan selalu menempatkan siswa dalam posisi yang inferior yang diliputi ketakutan. Seorang siswa dan orang tua yang melaporkan oknum guru yang memaksa anaknya memberikan jawaban ke seluruh kelas, harus dipaksa meminta maaf secara terbuka karena warga satu desa yang takut semua anaknya tidak lulus karena terbongkarnya kasus contek massal ke media. Ironisnya, orang tua dan anak tersebut harus mengungsi dari rumahnya sendiri demi menghindari tekanan agresif yang intensif dari para warga sekitar. Berdasarkan perspektif social learning, anak lain yang melihat kejadian ini akan belajar melihat konsekuensi bahwa kejujuran diasosiakan dengan hukuman keras. Anak akan berpikir dalam moral reasoning-nya bahwa lebih baik saya menjadi seorang pembohong tetapi selamat daripada saya jujur tetapi saya dihukum keras oleh masyarakat yang tidak suka jika saya jujur. Inilah keruntuhan moral yang akan dipanen saat anak dewasa berganti memimpin negeri ini sebagai ancaman munculnya the lost generation.

Dalam konteks budaya feodal seperti di Indonesia, sebagian besar guru-guru tidak sepenuhnya menyadari bahwa peran mereka sebagai role model dalam posisi superior, memiliki dampak langsung untuk ditiru siswa dalam posisi yang lebih inferior. Perilaku demoraliasi pada guru sebagai role model akan memiliki implikasi langsung pada persepsi siswa tentang karakter moral gurunya. Salah satu dampaknya adalah siswa dapat mengalami kesulitan di dalam memahami relevansi nilai-nilai moral yang dipelajari di ruang kelas bertentangan dengan perilaku pelanggaran moral yang mereka amati di luar kelas. Lumpkin (2008) menunjukkan bahwa siswa yang secara langsung mengalami kecurangan, ketidakjujuran, atau korupsi yang ditunjukkan oleh guru, akan memaknakan bahwa semua bentuk perilaku curang dianggap wajar karena siswa diperbolehkan untuk meniru hal serupa.

Sayangnya, di Indonesia, tidak tersedia cukup kajian penelitian yang luas untuk mengevaluasi sejauhmana dampak karakter moral guru pada karakter moral siswa di Indonesia (Misbach, 2013). Meskipun tantangan yang signifikan karena tidak ada literatur yang komprehensif mengenai desain pendidikan moral maupun instrumen moral untuk menilai karakter moral role model dalam sistem pendidikan di Indonesia, peneliti merasa perlu mengembangkan instrument karakter moral untuk mengukur konstruk moral dengan cara yang lebih dapat dipertanggungjawabkan. Bagian berikutnya akan membahas kajian pustaka yang berhubungan, pendekatan metodologi penelitian ini menggunakan model Rasch dimana analisis dan pembahasan temuan riset ditampilkan serta ditutup dengan kesimpulan.

Peran Model dalam Teori Belajar Sosial
Menurut teori belajar sosial, peran seorang model adalah salah satu alat yang paling kuat untuk menularkan nilai-nilai, sikap, dan pola pikir dan perilaku pada orang lain (Bandura, 1986). Asumsi teoritis dari penelitian ini adalah guru dapat berperan sebagai model yang mengajarkan nilai-nilai moral dan karakter moral (Kohlberg, 1981; Lickona, 1991; Noddings, 1992) di sekolah-sekolah Indonesia. Meninjau guru sebagai panutan, mereka sering diakui sebagai komponen penting dari pendidikan moral yang mempengaruhi perilaku moral siswa (Bandura, 2002). Teori pembelajaran sosial berfokus pada bagaimana siswa belajar dengan mengamati dan melakukan proses imitasi dari model yang menjadi panutannya (Bandura, 1963, 2004).

Bandura (1971) mengusulkan beberapa karakteristik yang perlu dimiliki agar seseorang dapat menjadi model yang efektif. Pertama, model harus dinilai kompeten dalam perilaku yang diamati. Jika guru dipandang kompeten, perilaku mereka lebih mungkin untuk ditiru siswa. Kedua, model memiliki prestise dan kekuasaan. Karena budaya dan masyarakat Indonesia mengakui guru sebagai representasi dari orang tua siswa saat mereka berada di sekolah, guru menduduki posisi penting sebagai panutan yang luar biasa dan dihargai. Guru memegang posisi istimewa sebagai figur otoritas yang memiliki status sosial, rasa hormat, dan kekuasaan. Ketiga, model berperilaku dalam cara yang tidak bias sesuai stereotip gendernya. Ada harapan budaya bahwa guru perempuan harus melakukan perilaku dalam sosok keibuan. Sebaliknya, guru laki-laki harus mengekspresikan perilaku sosok kebapakan. Baik guru perempuan dan laki-laki dihargai sebagai pengganti orang tua di sekolah. Keempat, perilaku model relevan dengan situasi pengamat. Agar menjadi model yang efektif, perilaku guru harus sesuai dengan apa yang mereka ucapkan. Sebagai pengamat, siswa akan mengamati apakah yang guru lakukan bertentangan dengan apa yang guru katakan. Proses imitasi muncul ketika siswa sebagai individu merasakan perilaku yang sama atau relevan antara diri mereka sendiri dengan guru yang telah dianggap sebagai model (Bandura, 2003; Holyoak & Thagard, 1989).

Teori belajar sosial mengakui bahwa individu belajar melalui konsekuensi, baik oleh penguatan atau hukuman. Hal ini dapat terjadi dalam beberapa cara yang mungkin. Pertama, tindakan pengamat diperkuat melalui tindakan yang meniru model. Kedua, pengamat diperkuat oleh orang ketiga, peserta lain dalam lingkungan, seperti siswa lain atau guru lain. Ketiga, perilaku yang ditiru dapat memperkuat konsekuensi positif. Keempat, konsekuensi perilaku yang dialami sendiri oleh model akan mempengaruhi perilaku pengamat. Hal ini dikenal sebagai vicarious reinforcement (Bandura, Ross & Ross, 1963). Artinya, respon yang dihasilkan model akan membuat peningkatan respon serupa yang dilakukan pengamat. Misalnya, ketika siswa mengamati bahwa guru menunjukkan perilaku tidak bermoral, mereka memiliki kecenderungan meningkat untuk meniru perilaku dengan cara yang sama. Sebaliknya , ketika siswa mengamati bahwa korban yang berjuang untuk kejujuran dihukum oleh masyarakat , mereka belajar bahwa perilaku yang baik belum tentu didukung di masyarakat. Akibatnya, siswa akan belajar untuk menjadi sadar dari kedua perilaku dan mengkalkulasi konsekuensi yang juga akan mereka dapatkan. Misalnya siswa akan berpikir bahwa mungkin lebih baik untuk berbohong daripada mengatakan yang sebenarnya, untuk menghindari hukuman dari masyarakat setempat.

Karakter Moral
Moralitas berada di persimpangan kedua isu, yaitu etika normatif dan psikologi empiris (Timpe, 2007). Perpektif dan asumsi yang berbeda dalam mengkaji literatur moral, akan memiliki teori pendekatan moral yang berbeda. Dalam konteks penelitian ini, moralitas pada akhirnya merupakan bentuk karakteristik tindakan (Blasi , 1980) .

Berkowitz (2002) mendefinisikan karakter sebagai satu set karakteristik psikologis individu yang mempengaruhi kemampuan dan kecenderungan seseorang untuk berfungsi secara moral. Menurut Berkowitz, menjadi orang yang bermoral dalam hal apa yang disebutnya anatomi moral, terbentuk dari "perilaku moral, nilai-nilai moral, kepribadian moral, emosi moral, penalaran moral, identitas moral, dan karakteristik dasar" (Berkowitz, 2002, hal.48).

Sejalan dengan posisi Berkowitz, Lickona (1991) mendefinisikan karakter yaitu bagaimana individu melakukan hal yang benar tanpa tekanan untuk menghadapi sesuatu yang ditentang. Dia mengusulkan sebuah model untuk menilai karakter yang terdiri dari tiga komponen psikologis, yaitu: pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Karakter adalah sebuah fenomena universal yang deskriptif pada orang yang memiliki keberanian dan keyakinan untuk hidup dengan kebajikan moral (Lumpkin, 2008). Ukuran keutamaan karakter terletak pada tindakan (Lickona dan Davidson (2005).

Dimensi-dimensi Karakter
Konstruk karakter moral secara konseptual lebih luas daripada konstruk penalaran moral. Vessel (1998) meneliti konstruk karakter moral yang menggabungkan domain kognisi ataupenalaran moral, yang juga berkaitan dengan domain afektif dan perilaku. Vessel (1998) memberikan tinjauan ekstensif dari 12 dimensi karakter yang paling sering dikutip dalam banyak literatur. Sejumlah dimensi karakter yang digunakan dalam penelitian ini adalah: integritas, kejujuran, kepercayaan, keadilan, rasa hormat, kesetiaan, tidak mementingkan diri sendiri, kasih sayang, penghargaan spiritual, kerjasama, peduli, dan tanggung jawab (Barlow, 2002; Lickona, 1997; Nodding, 1984 , 2005).

Model Pendidikan dalam Budaya Indonesia
Di Indonesia, setiap warga negara wajib mengikuti wajib belajar sembilan tahun, yang dibagi menjadi enam tahun SD dan tiga tahun SMP. Sistem pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan dan membentuk karakter moral dan martabat dalam rangka untuk mendidik masyarakat Indonesia, yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik siswa potensi untuk menjadi setia dan adil, mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, sehingga menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (UU Sistem Pendidikan Indonesia No 20/2003).

Sebuah studi longitudinal oleh Hofstede (1983) menggambarkan model budaya masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh hubungan jarak kekuasaan yang tinggi dalam nilai-nilai kolektivisme. Biasanya, hubungan jarak kekuasaan yang tinggi terjadi dalam budaya yang memiliki nilai-nilai feodal. Adanya hubungan hirarkis antara individu yang berstatus tinggi dan rendah dianggap sebagai hubungan alami. Oleh karena itu, tingkat hirarki dalam derajat agama, akademik, kekuasaan, dan status sosial sangat menentukan apakah individu tersebut memiliki status yang tinggi atau rendah dalam masyarakat Indonesia (Lubis, 2001). Secara alami, di bawah kekuatan individu dengan status yang tinggi, orang lain dengan status yang lebih rendah akan mematuhi dan mendedikasikan hidup mereka untuk mereka yang statusnya lebih tinggi. Umumnya, dilakukan dengan rasa hormat, menghargai juga takut.

Idealnya, adanya saling ketergantungan dari hubungan antara superior dan inferior mencerminkan harapan budaya untuk menjaga dan melindungi satu sama lain (Koentjaraningrat, 1985). Mereka yang memiliki kekuatan superior memiliki tanggung jawab besar untuk berperan sebagai model yang baik untuk memberikan bimbingan moral dan kebijaksanaan, sehingga mereka yang memiliki kekuatan lebih rendah dapat mengikuti apa yang baik dan meninggalkan apa yang buruk (Koentjaraningrat & Schwartz, 2002).

Dalam konteks penelitian ini , contoh hubungan jarak kekuasaan antara posisi superior dan inferior berasal dari orang tua dan anak di rumah, guru dan siswa di sekolah, atau atasan dan bawahan di tempat kerja. Di Indonesia, di mana lingkungan sekolah dipengaruhi oleh hubungan jarak kekuasaaan yang tinggi, para siswa yang berada di posisi lebih inferior akan memiliki kecenderungan untuk mengikuti tuntutan guru dan perilaku mereka karena guru berada dalam posisi superior. Budaya Indonesia mengakui bahwa guru memiliki peran tradisional untuk mencerminkan peran orang tua dalam lingkungan sekolah. Untuk memahami budaya kolektif di Indonesia, seorang anak akan belajar untuk berpikir identitas sebagai "kita" bukan identitas sebagai "aku". Orang-orang pada umumnya tidak terbiasa untuk memiliki pendapat yang berbeda dari komunitas mereka sendiri demi menjaga harmonisasi. Kompromi dan penyesuaian aspirasi lebih penting daripada berdebat dengan orang lain atas pendapat pribadi (Koentjaraningrat, 2004).

Mengungkap kesalahan yang dibuat oleh seseorang meskipun tujuannya dianggap baik, tetapi juga dianggap sebagai serangan pribadi bila dilakukan di depan umum. Oleh karena itu, kebanyakan orang Indonesia telah belajar bahwa menjaga perasaan orang lain lebih penting daripada mengatakan hal yang sebenarnya jika itu menyakiti orang lain. Ada nilai yang sangat kuat tidak menyakiti orang lain , karena biasanya menyebabkan reaksi negatif, khususnya dalam budaya Jawa, yang dianggap sebagai kelompok etnis yang paling kuat di Indonesia. Mereka tidak suka berbicara lugas; bahkan ada kecenderungan bahwa mereka suka berbohong untuk melindungi perasaan orang lain. Pastor Van Lith , seorang misionaris Katolik yang juga dikenal sebagai pakar bahasa Jawa dan filsafat , membuat interpretasi persepsi ini dan menyatakan, "Orang-orang Barat tidak bisa memahami sikap Jawa dalam hubungan sosial. Dalam masyarakat Barat, anak-anak dididik 'jangan berbohong’. Sebaliknya, anak-anak Jawa dikondisikan untuk menumbuhkan sikap ' jangan menyakiti perasaan orang lain', " (Sumantri & Suharnomo, 2001, hal. 21).
Blog, Updated at: 04.55

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts