Penyuluh Agama Sebagai Agen Pengembangan Masyarakat Islam

Penyuluh Agama Sebagai Agen Pengembangan Masyarakat Islam
Secara etimologis pengembangan berarti membina dan meningkatkan kualitas. Masyarakat Islam berarti kumpulan manusia yang beragama Islam. Secara terminologis, pengembangan masyarakat Islam berarti mentransformasikan dan melembagakan semua segi ajaran Islam dalam kehidupan keluarga (usrah), kelompok sosial (jamaah) dan masyarakat (ummah).

Dakwah dalam arti seluas-luasnya termasuk mengembangkan masyarakat dalam berbagai aspeknya, termasuk pengembangan dalam kehidupan sosial dan ekonomi, yang sejalan dengan ajaran Islam. Tugas ini tidak saja dibebankan kepada pemerintah dan masyarakat, tetapi juga menuntut peran para penyuluh agama Islam yang ada pada masyarakat tersebut. Penyuluh merupakan agen pembangunan yang dapat mengembangkan masyarakat dengan bahasa atau pendekatan agama.

Pengembangan masyarakat yang dimaksudkan di sini lebih dititikberatkan pada masyarakat Islam. Badan Dunia PBB merumuskan:

“Pengembangan masyarakat ialah proses perubahan yang disebabkan atas usaha masyarakat sendiri untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Perubahan terjadi baik secara sosial maupun psikologis, dari cara hidup yang tradisional ke cara hidup progresif”.

Masyarakat Kota dan Desa
Pengembangan masyarakat, dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan community development (CD), atau bisa juga disebut pembangunan masyarakat. Para ahli sosiologi membagi masyarakat dalam dua kategori, yaitu masyarakat perkotaan (rural community) dan masyarakat pedesaan (urban community). Antara kedua kategori ini terdapat beberapa perbedaan di segi kehidupan keagamaan, sosial dan budayanya, yaitu:
  • Kehidupan keagamaan perkotaan berkurang dibandingkan dengan kehidupan agama di desa. Memang di kota-kota orang juga beragama, tetapi pada umumnya pusat kegiatan agama hanya tampak di masjid, gereja dan sebagainya. Di luar kehidupan masyarakat lebih disibukkan oleh kehidupan ekonomi, perdagangan, hiburan dan sebagainya. Cara kehidupan demikian mempunyai kecenderungan ke arah keduniawian (secular trend), sedangkan warga desa cenderung ke arah agama (religious trend).
  • Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa banyak bergantung pada orang lain. Di desa orang lebih mementingkan kelompok atau keluarga. Di kota kehidupan keluarga sulit dipersatukan karena perbedaan kepentingan, paham politik, bahkan agama dsb. Kehidupan di kota lebih bebas, sedangkan di pedesaan sebaliknya, lebih terikat dengan norma.
  • Perubahan-perubahan sosial lebih cepat terjadi dan nyata di kota-kota karena pengaruh dari luar. Hal ini sering menimbulkan pertentangan dengan generasi muda dengan tua. Di pedesaan kehidupan lebih rukun dan damai, perubahan berjalan lambat karena pengaruh luar juga berjalan lambat.
Di tengah lajunya komunikasi dan informasi sekarang serta lancarnya transportasi, perbedaan kehidupan di perkotaan dan pedesaan tidaklah begitu jauh. Gaya hidup masyarakat kota seringkali juga ada pada masyarakat desa, begitu juga sebaliknya. Namun pada kedua kehidupan itu tetap memiliki problema tersendiri di segi agama, sosial ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Usaha-usaha dakwah baik secara organisasi atau kelembagaan dakwah maupun perorangan diharapkan mampu mengembangkan masyarakat kota dan desa agar senantiasa sejalan dengan ajaran agama dan dapat terhindar dari hal-hal negatif.

Beberapa Pendekatan
Ada beberapa aspek pengembangan masyarakat yang sangat dekat dengan upaya lembaga dakwah, di antaranya :
a. Pengembangan dakwah
Dakwah di sini dalam arti luas, mencakup ceramah, pengajian, tabligh dan sebagainya. Abdurrahman Arroisi menyebutkan beberapa istilah dan kegiatan yang identik dengan dakwah, yaitu: 
  • Tabligh, artinya menyampaikan, maksudnya menyampaikan ajaran Allah (syariat) Islam kepada manusia. Orang yang menyampaikan disebut mubaligh; 
  • Amar ma’ruf dan nahi munkar, artinya menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemunkaran; 
  • Tabsyir dan indzar, artinya memberi kabar gembira tentang rahmat dan karunia Allah yang akan diperoleh orang-orang yang beriman dan memberi kabar peringatan (ancaman) bagi orang-orang yang tidak mau mengikuti petunjuk; 
  • Tadzkirah, artinya peringatan, memberi ingat agar mereka memelihara diri dan keluarga dari azab Allah, memberi ingat agar waspada dan hati-hati dalam hidup duniawi yang bersifat sementara ini; 
  • Mau’izhah dan massyah, artinya memberi pelajaran dan wasiat-wasiat atau pesan-pesan yang baik.
Para penyuluh dapat berdakwah dengan cara-cara di atas sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada. Usaha dakwah harus diciptakan, bukan menunggu undangan saja. Dakwah tidak harus dalam bentuk ceramah khusus di mimbar-mimbar dan pengajian, tetapi juga melalui penyuluhan dan bimbingan secara tidak formal kepada masyarakat.

b. Pengembangan pendidikan Islam
Pendidikan Islam (keagamaan) dapat dibagi tiga, yaitu jalur keluarga (informal), jalur sekolah (formal) dan jalur masyarakat (nonformal). Menurut Pasal 30 ayat (3) dan (4) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), “Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, non formal dan informal. Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, madrasah dan bentuk lain yang sejenis”.

Penyuluh dapat mengambil peran melalui pendidikan Islam nonformal. Pendidikan Islam nonformal dapat diselenggarakan melalui pengajian atau mejelis taklim. Lembaga dakwah dapat melaksanakannya dalam rangka lebih memantapkan keberagaman masyarakat baik anggotanya sendiri maupun umum. 

Beberapa ciri majelis taklim sebagai berikut:
  • Majelis taklim adalah lembaga pendidikan Islam nonformal; 
  • Waktu belajarnya berkala tetapi teratur, tidak setiap hari seperti sekolah atau madrasah; 
  • Pengikutnya relatif banyak, sehingga disebut jamaah, bukan siswa atau pelajar;
  • Kehadiran di majelis taklim tidak merupakan kewajiban; 
  • Tujuannya lebih khusus dalam rangka memasyarakatkan ajaran Islam.
Majelis taklim sebagai lembaga pendidikan nonformal biasanya melakukan aktivitas pengajian kitab tertentu yang memuat aspek-aspek ajaran agama seperti Tauhid, fikih, Tasawuf, tafsir, Hadist dan sebagainya. 

Bagi kalangan NU biasanya merujuk kepada kitab-kitab klasik, sedangkan bagi kalangan Muhammadiyah lebih merujuk kepada Alquran, kitab-kitab hadist shahih serta ceramah umum. Adakalanya dalam kegiatan pengajian atau majelis teklim itu disertai tanya jawab.

Dewasa ini pengajian sudah menjamur di tengah masyarakat, baik pedesaan maupun perkotaan, ada yang khusus diikuti oleh ibu-ibu, oleh bapa-bapa, remaja ataupun campuran. Ada yang dipusatkan di tempat-tempat ibadah, masjid dan langgar serta perkantoran, ada pula di rumah-rumah jamaah atau rumah ulama yang mengasuhnya. Jamaahnya ada yang sangat banyak dan ada yang relatif sedikit.

Majelis taklim atau pengajian demikian memiliki keunggulan, karena mampu bertahan lama. Keikhlasan guru pengasuh dan jamaahnya, serta tidak terikat kepada aturan tertentu termasuk salah satu faktor yang mampu memperkuat daya tahan majelis taklim tersebut. Begitu juga adanya kitab-kitab tertentu yang dijadikan sebagai rujukan, yang dibagi dalam juz-juz dan jilid-jilid yang selalu meningkat, sehingga pembelajaran berjalan secara sistematis dan berkesinambungan juga faktor yang turut mendorong survivalitas pengajian di majelis taklim.

Kemampuan guru pengasuh memodifikasi pengajian dengan pembadayaan Alquran, surat yasin, shalawat, zikir, pembacaan syiir-syiir maulid al-habsyi, serta peringatan hari-hari besar Islam dll, menjadi daya tarik pula. Bahkan ada majelis taklim yang mampu memadukannya dengan peberdayaan ekonomi seperti kursus memasak, keterampilan membuat kerajinan rumah tangga, penyuluhan keluarga berencana dan kesehatan, penyuluhan hukum dan sebagainya.

Penyuluh tidak hanya mengisi atau mengasuh pengajian, tetapi juga mengelola dan mengembangkannya. Penyuluh yang kreatif akan berusaha mengisi majelis taklim tersebut serta memberi warna agar jamaah tidak mudah jenuh. Tidak harus penyuluh itu sendiri yang tampil setiap saat, tetapi ia dapat mengundang atau mendatangkan narasumber lain sesuai dengan kompetensinya.

c. Pengembangan ekonomi
Umat Islam yang menjadi mayoritas di suatu daerah, sering kali mengalami keterbatasan dalam kehidupan ekonomi, baik yang bertempat tinggal di perkotaan maupun di perdesaan. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2000 diketahui 125 juta jiwa penduduk Indonesia (60,2%) bertempat tinggal di perdesaan, dan selebihnya tinggal di perkotaan. Pada tahun 2003 jumlah penduduk miskin di Indonesia cukup tinggi, mencapai 37,3 juta jiwa (17,4%) dari total penduduk, di mana 20,2 % dari padanya berada di perdesaan, dan persentasi penduduk miskin di pedesaan mencapai 20,2 % dan di perkotaan 13,6 %.

Kemiskinan ini bila makin parah tidak dibarengi dengan keimanan yang kuat, dapat merusak keberagamaan seseorang. di dalam sebuah hadits diperingatkan Artinya: Dari anas dari Nabi Saw beliau bersabda: Hampir saja kefakiran itu mendekati kekafiran (HR. Abi Naim).

Mengatasi kemiskinan tentu tidak semata tanggung jawab pemerintah, tapi juga ada tanggung jawab para ulama, juru dakwah dan organisasi Islam serta lembaga-lembaga keuangan yang dapat membantu perekonomian masyarakat, seperti perbankan syariah, penggadaian syariah, koperasi syariah. Harus dikembangkan BAZ/BAZIS yang dananya dapat memberdayakan ekonomi masyarakat. Para orang kaya dan mampu hendaknya didorong agar aktif berzakat, berinfaq, bersedekah dan membuka lapangan kerja, sehingga tidak ada pengangguran dan
sebagainya. 
Penyuluh dituntut mampu membuka wawasan masyarakat, sehingga terdorong untuk menggali dan mengembangkan potesni yang ada pada mereka untuk usaha-usaha produktif. Masyarakat hendaknya dituntun agar tidak terjebak dalam pola hidup konsumerisme, yang hanya memberikan kenikmatan sesaat tetapi menimbulkan kerugian dan penyesalan di kemudian hari.

Di tengah kecenderungan konsumerisme dan materialisme akhir-akhir ini masyarakat senang membeli sesuatu yang tidak penting, sehingga lupa menyiapkan bekal, misalnya untuk pendidikan anak. Kecenderungan begini perlu diingatkan oleh para penyuluh. Masyarakat Alabio, terutama para pedagang yang rata-rata sukses memiliki suatu prinsip: “Kalau kita membeli sesuatu yang tidak penting, akhirnya kita akan menjual sesuatu yang penting”. Kenyataan begini memang banyak terjadi, misalnya karena mengejar mode, suka berganti-ganti kendaraan baru, bisa saja orang terpaksa menjual sesuatu yang sangat berharga, misalnya menjual sawah dan kebunnya, atau putus sekolah karena ketiadaan biaya.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak masyarakat di hulu sungai yang gampang menjual kebun dan tahanahnya yang mengandung deposit batubara. Mereka memang beroleh uang banyak, bahkan kaya mendadak, yang kemudian dibelikan sesuatu yang bersifat konsumtif. Tetapi mereka telah kehilangan lahan sebagai sumber penghasilan dan jaminan masa depan. Belum lagi alam menjadi rusak akibat banyaknya lahan yang terus dieksploitasi. Penyuluh yang bertugas di perdesaan demikian perlu sekali
mengingatkan masyarakat agar mereka mampu berpikir jangka panjang ke depan, bukan berpikir pendek dan mau enak sekarang saja.

d. Kegiatan sosial
Banyak sekali masalah sosial yang terjadi di tengah masyarakat kota dan desa. Selain banyak fakir miskin, banyak pula orang jompo, lansia, orang yatim piatu, orang yang miskin yang tidak mampu sekolah dan berobat, wanita tuna susila, pencandu narkoba, gelandangan, pengemis dan sebagainya. Sering terjadi musibah kebakaran, kematian, bencana alam, banjir, kekeringan dan sebagainya. Para penyuluh hendaknya turut serta mencari jalan keluarnya.

Adanya penyandang masalah sosial menuntut partisipasi berbagai pihak untuk dibantu dan diberdayakan. Di dalam GBHN digariskan perlunya memberdayakan mereka, sebagaimana dijelaskan dalam arah pembangunan kesejahteraan sosial:
  • Membangun ketahanan sosial yang mampu memberi bantuan penyelamatan dan pemberdayaan terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial dan korban bencana, serta mencegah timbulnya gizi buruk dan turunnya kualitas generasi muda.
  • Membangun apresiasi terhadap penduduk lanjut usia dan veteran untuk menjaga harkat dan martabatnya serta memanfaatkan pengalamannya.
  • Meningkatkan kepedulian terhadap penyandang cacat, fakir miskin dan anak-anak terlantar serta kelompok rentan sosial dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Tugas untuk mengatasi masalah-maslah sosial tersebut sekali lagi tentu bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga tanggung jawab masyarakat, termasuk lembaga-lembaga dakwah yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat serta para penyuluh agama. Para penyandang masalah itu perlu diberdayakan melalui pengembangan potensi mereka, membangun kepedulian keluarganya serta melakukan pemberdayaan dengan memberi kail dan/atau ikan sesuai kondisi dan kebutuhan.

Ajaran agama mengajarkan tolong menolong antarsesama, dan para penyandang masalah sosial itu pun berasal dari umat beragama juga khususnya umat Islam. Sudah pada tempatnya lembaga-lembaga dakwah dan para juru dakwah menunjukkan kepedulian dan aktif mencarikan solusinya.
Blog, Updated at: 19.02

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts