Revitalisasi Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Esensial dalam Perspektif Nomotesis

Revitalisasi Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Esensial dalam Perspektif Nomotesis
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Dari definisi tersebut dapat kita simpulkan bahwa pendidikan adalah pendidikan itu tidak hanya terbatas pada pendidikan kognitif, tetapi juga pendidikan dalam softskills dan juga karakter. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter memiliki arti: Sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.

Max Weber, seorang tokoh sosiologi, menggolongkan tindakan sosial (social action) menjadi empat tipe, yaitu: rational action, value based-rational action, traditional action, dan emotional action. Dalam kesempatan ini, saya ingin menekankan pada pembahasan rational action dan value based-rational action lebih jauh. Rational action adalah tindakan yang dimaknai sebagai sesuatu yang menguntungkan, misalnya tindakan bersekolah dilihat sebagai cara memperoleh ijazah sehingga mudah mencari perkerjaan. Sedangkan value based rational action adalah tindakan yang dipilih secara sadar dan rasional, tetapi ditujukan untuk memenuhi nilai-nilai ideal. Misalnya, bersekolah dimaknai sebagai tindakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang dinilai tinggi, atau harga diri, bukan sekedar untuk memperoleh keuntungan ekonomi.

Hal inilah yang menjadi permasalahan. Masyarakat Indonesia masih melihat tindakan bersekolah sebagai rational action dan bukan value-based rational action. Tujuan dari siswa-siswi dan mahasiswa-mahasiswi menempuh pendidikan di sekolah dan universitas semata-mata hanya untuk mendapatkan ijazah agar mudah mencari pekerjaan. Dalam hal ini, kita dapat melihat bahwa ada penyimpangan dari definisi pendidikan itu sendiri. Bersekolah hanya dimaknai sebagai tindakan untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Akibatnya, demi mendapatkan nilai yang baik di ijazah, banyak siswa-siswi dan mahasiswamahasiswi yang menghalkan segala cara saat mengerjakan ujian.

Menurut Mahatma Gandhi, salah satu hal yang paling berbahaya di dalam pendidikan adalah “Knowledge without character”. Karena memang sudah terbukti, bahwa pendidikan secara kognitif saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan pendidikan karakter. Sebagai contoh, para koruptor di Indonesia. Secara kognitif, para koruptor-koruptor di Indonesia itu, hanya saja mereka tidak mempunyai karakter yang baik. Seseorang yang mempunyai karakter yang baik, tentunya tidak akan melakukan korupsi, karena ia tahu bahwa hal tersebut tidaklah benar dan dapat menimbulkan kerugian bagi orang banyak.

Edy Suandi, Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia, melihat bahwa karakter yang tidak baik adalah akar dari permasalahan di negeri ini. Ia mengatakan: “Pendidikan karakter merupakan solusi untuk mengikis permasalahan bangsa sehingga perlu upaya membangun pendidikan tersebut secara serius”.  Beliau mengatakan bahwa memang pendidikan karakter di Indonesia sudah diberikan sejak dini, tetapi permasalahanya pendidikan karakter yang sudah ada belum menyentuh aspek perilaku.

Karakter yang tidak baik juga merupakan salah satu alasan mengapa Ujian Nasional (UN) tidak berjalan secara efektif. UN yang seharusnya dapat dijadikan sebagai alat ukur skala nasional dari kemampuan para peserta didik, dalam pelaksanaanya menjadi tidak efektif. Mengapa? Karena di dalam pelaksanaan UN itu sendiri banyak terjadi kecurangan. Banyak dari para peserta didik yang mengahalalkan segala cara dalam mengerjakan UN agar mereka mendapatkan nilai yang tinggi di ijazah. Bahkan karena tingkat kecurangan yang dilakukan oleh para peserta didik sangat tinggi, pihak kepolisian akhirnya diturunkan ke sekolah-sekolah untuk menjaga dan mencegah terjadinya kecurangan-kecurangan dalam UN.

Tidak heran jika tingkat pendidikan di Indonesia jika di bandingkan dengan negara-negara lain masih sangat rendah. Menurut survei Political dan Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. 4 Menurut laporan yang dieluarkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di dalam Education for All Global Monitoring Report pada tahun 2011, dari 127 negara, Education Development Index (EDI) Indonesia hanya berada pada posisi ke-69. Sungguh ironis jika melihat kenyataan ini, karena ternyata sekolah-sekolah dan universitas-universitas terbaik di Indonesia masih sangat dibawah kualitasnya jika dibandingkan dengan negara-negara lain, terutama dengan negara-negara maju, yang menjunjung tinggi pendidikan karakter.

Amerika serikat sebagai salah satu dari sekian negara maju yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia, sangat menjunjung tinggi pendidikan karakter. Murriel Summers, Kepala Sekolah AB Combs Leadership Magnet Elementary School di Amerika Serikat, pada seminar "The Leader in Me" di Jakarta pada hari Sabtu tanggal 5 April 2014 lalu mengatakan: "Semua anak-anak punya potensi untuk jadi pemimpin, paling tidak jadi pemimpin dirinya sendiri. Di sinilah pendidikan karakter sangat penting untuk mengenali diri mereka sendiri”. Ia mengatakan bahwa pelatihan karakter kepemimpinan pada si anak juga akan berpengaruh pada peningkatan kemampuan akademik anak. 

Pada tanggal 2 Mei 2012, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaanmencanangkan rencana besar yang disebut sebagai “Generasi Emas Indonesia 2045”. Hal ini dilakukan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyiapkan generasi emas sebagai hadiah ulang tahun Republik Indonesia yang ke-100 pada tahun 2045. Hal ini dilakukan mengingat bahwa pada tahun 2012-2035, Indonesia mendapatkan bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif menempati posisi tertinggi dibandingkan usia lain.

Siswa-siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan juga para mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa pada tahun 2045 mendatang. Merekalah yang akan menjadi hadiah ulang tahun Republik Indonesia yang ke-100. Pertanyaanya, apakah mereka akan menjadi hadiah yang baik untuk kemajuan bangsa Indonesia? Atau sebaliknya mereka hadiah yang tidak baik untuk kemajuan bangsa Indonesia? Tentunya hal ini sangat bergantung pada dunia pendidikan di Indonesia pada saat ini. Keptusan-keputusan yang diambil oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk dunia pendidikan memegang peranan yang penting dan besar dalam hal ini.

Menurut saya, hal yang perlu dilakukan sedini mungkin agar dapat menyiapkan generasi emas pada tahun 2045 adalah revitalisasi pendidikan karakter. Seperti yang sudah dipaparkan diatas, permasalahan terbesar di dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah karakter. Dimana tanpa karakter yang baik, Indonesia tidak akan dapat menjadi bangsa yang maju dan besar. Bung Karno (Soedarsono, 2009:46) juga berkata: “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter.” Beliau tahu bahwa tanpa karakter yang baik, bangsa ini tidak akan menjadi bangsa yang maju dan besar.

Seperti yang sudah dipaparkan di atas, pendidikan karakter yang sudah ada masih belum efektif. Pendidikan karakter di Indonesia masih dapat dikategorikan sebagai pendekatan praktis dan bukan pendekatan esensial. Pendekatan praktis melatihkan sifat-sifat yang diharapkan, sedangkan pendekatan esensial menyiapkan kepribadian sebagai rumah dari karakter. Kita bisa lihat bahwa pendidikan dengan pendekatan praktis terbukti kurang efektif. Pendidikan dengan pendekatan praktis
tidak mengintegrasikan karakter-karakter baik menjadi kepribadian. Sebagai contoh, seorang anak dapat bersikap baik di depan orangtuanya, tetapi anak tersebut bisa bersikap tidak baik saat ia tidak bersama orangtuanya. Jika karakter-karakter yang baik terintegrasi menjadi sebuah kepribadian, tenunya orang tersebut akan bersikap baik dimanapun ia berada. Dia bersikap baik bukan karena dia diawasi atau karena hal-hal lain, tetapi karena semata-mata itulah kepribadian dia.

Tetapi pendidikan dengan pendekatan esensial saja juga belum cukup. Pendidikan yang ideal dalam menyiapkan generasi emas untuk Indonesia pada tahun 2045 adalah pendidikan karakter dengan pendekatan esensial dalam perspektif nomotesis. Pendidikan dalam perspektif nomotesis adalah pendidikan yang bersumber pada Pancasila. Dimana di dalam perspektif ini, sila-sila dari Pancasila tidak sekedar dihafalkan tetapi juga diinternalisasikan. Seperti yang kita ketahui, Pancasila adalah nilai dan grundnorm dari Indonesia. Nilai Pancasila sering dikaitkan dengan identitas nasional dan sejarah dari bangsa Indonesia tidak akan pernah dapat dipisahkan dengan Pancasila. Itulah yang menjadi alasan pentingnya pendidikan dalam perspektif nomotesis.

Hal yang paling utama yang harus diubah adalah pola pikir. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, pola pikir bangsa Indonesia masih salah. melihat tindakan bersekolah sebagai rational action dan bukan value based-rational action.

Tindakan bersekolah dilihat hanya sebagai cara untuk memperoleh ijazah sehingga mudah mencari perkerjaan dan dapat mendapatkan uang yang banyak. Alhasil, setelah para siswa-siswi dan mahasiswa-mahasiswi lulus, mereka terjebak pada pola pikir kuantitatif materialistik, yakni pola pikir yang menjadikan harta kekayaan sebagai kriteria keberhasilan. Hal inilah yang juga menjadi salah satu alasan dari maraknya korupsi di negeri ini. Mereka rela melakukan segalanya untuk memenangkan PEMILU karena mereka melihat kursi di pemerintahan adalah posisi yang tepat untuk memperkaya diri sendiri. Pola pikir yang seharusnya tertanam adalah pola pikir kualitatif spiritual, yakni pola pikir yang menjadikan harta kekayaan sebagai instrumen untuk tercapainya tujuan yang lebih mulia.

Pendidikan karakter dengan pendekatan esensial dalam perspektif nomotesis segera dilakukan. Penanaman kembali nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila dengan pendekatan esensial perlu segera dilakukan, terutama kepada para generasi muda yang akan menjadi generasi emas pada tahun 2045 mendatang. Generasi muda perlu diajarkan untuk tidak sekedar menghafal sila-sila yang ada di dalam Pancasila tetapi juga mengimplementasikan setiap nilai yang terkandung di dalam tiap sila pada kehidupan sehari-hari mereka. Diharapkan melalui pendidikan karakter dengan pendekatan esensial dalam perspektif nomotesis, perubahan-perubahan dapat terjadi, permasalahan-permasalahan yang ada dapat terselesaikan, konflik-konflik dapat dihindari, dan Indonesia benar-benar mendapatkan generasi emas pada tahun 2045 mendatang.
Blog, Updated at: 03.52

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts