Sebuah Alternatif Bagi Penyuluh Agama Islam

Sebuah Alternatif Bagi Penyuluh Agama Islam
Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) memegang peranan penting dan memiliki kontribusi yang cukup besar untuk mempersiapkan aparatur yang profesional di bidangnya. Selain itu juga melalui Diklat mengantarkan pengemban tugas yang memiliki etos kerja tinggi dan selalu menjunjung tinggi etika dan moral yang tidak hanya dipahami dalam tataran teoritis. 

Kementerian Agama telah meletakkan secara proporsional fungsi kediklatan melalui pemberian kewenangan seluas-luasnya kepada unit diklat untuk menyelenggarakan dan mengembangkan program Diklat bagi pegawai secara jelas diatur dalam PMA Nomor 3 Tahun 2006 yang kemudian diterjemahkan ke dalam kebijakan teknis Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Adanya regulasi baru tentang kediklatan dari Peraturan Menteri Agama yang baru Nomor 4 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Diklat Teknis di Lingkungan Kementerian Agama, sebelumnya juga Terbitnya Peraturan Kepala LAN No. 13 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Pembinaan Penyelenggaraan Diklat Teknis, Peraturan Kepala LAN No. 14 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Pola Penjenjangan Diklat Teknis, Peraturan Kepala LAN No. 15 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Pembinaan Penyelenggaraan Diklat Fungsional. Pasca keluarnya PMA No. 4 Tahun 2012 tanggal 23 April 2012, diikuti dengan Keputusan Kepala Badan Litbang dan Diklat No. 60 Tahun 2012 tentang Standar Kediklatan Teknis dan Keputusan Kepala Badan Litbang dan Diklat No.
61 Tahun 2012 tentang Sistem Penjaminan Mutu Diklat Teknis.

Paradigma Baru Kediklatan di lingkungan Kementerian Agama di antaranya meningkatkan intensitas pelaksanaan diklat reguler kuantitas maupun kualitas, mengembangkan Diklat di Tempat Kerja (DDTK), mengembangkan Diklat Jarak Jauh (DJJ), Kelompok Kerja Penyuluh (POKJALUH), serta meningkatkan kerjasama dengan unit kediklatan lainnya seperti Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidikan Teknologi Komunikasi (P4 TK) dan lainnya.

Selain itu juga melalui Kementerian Agama dalam hal ini, Bidang Penamas Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalsel mempunyai tugas yang cukup strategis dalam mengembangkan potensi Penyuluh Agama Islam, melalui kegiatan orientasi dan lembaga terkait atau kemitraan lainnya. Misalnya keterlibatan tenaga penyuluh dalam program Keluarga Berencana (KB) dan program partisipasi yang dilaksanakan di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Besarnya potensi diklat maupun kegiatan lainnya, maka banyak peluang bagi penyuluh agama untuk meningkatkan kualitas diri, dalam upaya menjawab tantangan dan problema yang dihadapi umat, khususnya di Kalimantan Selatan. Selain itu dalam pelaksanaan tugas Penyuluh Agama Islam (PAI) masih punya keterbatasan, baik kemampuan sarana maupun kualitas penyuluh itu sendiri. Misalnya kemampuan di bidang metodologi ketika melakukan penyuluhan, karena selama ini cenderung menggunakan pendekatan konvensional, yaitu ceramah yang menggunakan satu arah. Belum lagi ketika berhadapan dengan pelaporan – pelaporan secara administrasi yang selalu menjadi bagian dari tugas seorang penyuluh. Selain itu juga yang mendasar adalah, faktor kompotensi PAI masih belum merata, karena di antaranya proses pengangkatan seorang penyuluh, misalnya faktor kesempatan atau
formasi bahkan alamiah, karena pada saat formasi tersedia dilaksanakan seleksi berhasil jadilah penyuluh.
Blog, Updated at: 18.52

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts