Teori Kecerdasan Ganda Dan Penerapannya Dalam Kegiatan Pembelajaran

Teori Kecerdasan Ganda Dan Penerapannya Dalam Kegiatan Pembelajaran 
Pada bagian ini dikaji tentang teori kecerdasan ganda (multiple intelligences) dan bagaimana mengembangkannya dalam kegiatan pembelajaran. Pembahasan diarahkan pada hal-hal seperti, pentingnya mengembangkan ketrampilan hidup, kajian tentang teori kecerdasan ganda, kriteria keabsahan munculnya teori kecerdasan, strategi dasar pembelajaran kecerdasan ganda, serta pembelajaran untuk mengembangkan kecerdasan ganda. 

Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini diharapkan anda memiliki kemampuan untuk mengkaji teori kecerdasan ganda dan mengembangkan kecerdasan ganda tersebut dalam kegiatan pembelajaran.. 

Sedangkan indikator keberhasilan belajar yang diharapkan dapat anda kuasai adalah menjelaskan:
  1. Pentingnya mengembangkan ketrampilan hidup
  2. Teori kecerdasan ganda
  3. Kriteria keabsahan munculnya teori kecerdasan.
  4. Strategi dasar pembelajaran kecerdasan ganda
  5. Mengembangkan kecerdasan ganda dalam kegiatan pembelajaran. 
1. Pentingnya Mengembangkan Ketrampilan Hidup
Kehidupan masyarakat dunia semakin berubah, dari masyarakat ekonomi pertanian menjadi masyarakat industri dan sekarang sudah berada dalam masyarakat informasi. Jika dilihat dari ciri-ciri utamanya, masyarakat Indonesia sebagian terbesar masih berada dalam masyarakat pertanian, walaupun sudah ada tanda-tanda hadirnya ekonomi industri. Namun untuk menuju ekonomi informasi nampaknya Indonesia masih jauh tertinggal dari negara lain. 

Proses pendidikan dan pembelajaran pada masyarakat pertanian masih terpusat pada guru. Sedangkan pada masyarakat industri pembelajaran bergeser berpusat pada kurikulum. Pada masyarakat informasi, proses pembelajaran berpusat pada siswa atau peserta didik dan hasil belajarnyapun banyak ditentukan oleh komunikasi interaktif. Hadirnya masyarakat informasi sudah dicermati sejak semula yaitu akan adanya perubahan tanda-tanda besar dalam pola pendidikan dan pembelajaran. Pola pendidikan masal bagi banyak orang –yang selama ini dilakukan-- berubah menjadi individualized instruction for the masses. 

Pertanyaannya adalah, tenaga-tenaga kependidikan seperti apa atau dengan kualifikasi pengetahuan dan ketrampilan, pengalaman, sikap dan nilai macam apakah yang perlu dimilikinya? Bagaimana mereka mampu menghayati perubahan-perubahan masyarakat dunia yang sedang terjadi dan akan terus terjadi? Bagaimana komitmennya, dan kemampuan teknis apa yang diperlukan agar para pendidik mampu membawa peserta didiknya untuk siap berperan dalam percaturan dunia?

Kita membutuhkan perancang-perancang pembelajaran (instructional designers) yang profesional dan benar-benar terampil dalam merancang pola-pola pembelajaran individual atau pembelajaran “terpribadi” (individualized instructions). Guru atau pendidik dituntut untuk menguasai ketrampilan-ketrampilan membelajarkan siswanya agar anak-anak menguasai ketrampilan-ketrampilan dasar yang kemudian berkembang menjadi ketrampilan-ketrampilan yang lebih tinggi sebagai alat kehidupannya. Guru mampu memfasilitasi agar siswa dapat mencari kaitan dan hubungan senyawa antara ketrampilan satu dengan lainnya. Siswa dapat memperluas dan memperdalam kualitas pengetahuannya, memiliki kreativitas, memiliki kemampuan inovasi, berekspresi, dan memiliki aneka ragam ketrampilan. 

Sebenarnya sudah lama orang memikirkan masalah pendidikan ketrampilan ini. Ketrampilan tidak diartikan dan dibatasi secara sempit, dan ketrampilan bukan hanya sekedar ketrampilan kerja apalagi kertampilan hanya untuk ketrampilan itu sendiri. Ketrampilan dalam maknanya yang luas diartikan sebagai ketrampilan demi kehidupan dan penghidupan yang bermartabat dan sejahtera lahir dan batin (Santosa S. Hamijoyo, 2002; 3). Ketrampilan hidup inilah yang dalam praktek kependidikan perlu dimaknai dan diterjemahkan secara lebih rinci dan operasional agar dapat dilaksanakan dalam praktek pembelajaran di kelas. 

Upaya untuk melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi pendidikan ketrampilan ini memang sangat mendesak. Hal ini disebabkan banyaknya lulusan sekolah umum khususnya SMU tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Daya serap ekonomi yang terbatas memerlukan tenaga-tenaga terampil dan bermutu. Ketrampilan-ketrampilan yang bermutu dan relevan yang bersifat kejuruan, intelektual, sosial, dan managerial, serta ketrampilan-ketrampilan yang berhubungan dengan tuntutan pasar (skill market) yang bervariasi sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, perlu dilatihkan. 

Praktek-praktek pembelajaran yang masih mengandalkan pada cara-cara lama yang menganggap anak hanya perlu melaksanakan kewajiban yang telah digariskan oleh guru dan orang tua harus diubah. Pembelajaran satu arah, berorientasi pada keinginan guru dan kurikulum, dan cenderung sangat skolastik dengan mengutamakan prestasi akademik saja perlu dikaji ulang, karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat. 

Kecenderungan pembelajaran yang selalu menekankan pada aspek skolastik ini akan menghasilkan generasi muda yang kurang berinisiatif seperti menunggu instruksi, takut salah, malu mendahului yang lain, hanya ikut-ikutan, salah tetapi masih berani bicara (tidak bertanggungjawab), mudah bingung kurang memiliki percaya diri, serta tidak peka terhadap lingkungannya. Di samping itu generasi demikian akan memiliki sifat-sifat yang tidak sabar, ingin cepat berhasil walaupun melalui jalan pintas, kurang menghargai proses, mudah marah sehingga banyak menimbulkan kerusuhan dan tawuran. 

Pendekatan skolastik dalam pembelajaran sangat mementingkan aspek-aspek akademik yang cenderung memberikan tekanan pada perkembangan inteligensi hanya terbatas pada aspek kognitif, sehingga manusia telah direduksi menjadi sekedar komponen kognitif. Kondisi ini memicu terjadinya masalah-masalah sosial yang disebabkan karena lemahnya social capital, sehingga generasi muda kurang memperoleh bekal ketrampilan untuk hidup.

Howard Gardner melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti, pernahkah terpikir jika seorang jenius musik seperti Mozart dites IQ nya? Dapatkah seorang Einstein menciptakan lagu seperti Mozart atau melukis seperti Rembrandt? Pertanyaan-pertanyaan ini mendorong Gardner untuk mengemukakan teorinya tentang kecerdasan ganda (multiple intelligences). 

2. Teori Kecerdasan Ganda
Howard Gardner memperkenalkan sekaligus mempromosikan hasil penelitian Project Zero di Amerika yang berkaitan dengan kecerdasan ganda (multiple intelligences). Teorinya menghilangkan anggapan yang ada selama ini tentang kecerdasan manusia. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada satuan kegiatan manusia yang hanya menggunakan satu macam kecerdasan, melainkan seluruh kecerdasan yang selama ini dianggap ada 7 macam kecerdasan, dan pada bukunya yang mutakhir ditambahkan lagi 3 macam kecerdasan. Semua kecerdasan ini bekerja sama sebagai satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Komposisi keterpaduannya tentu saja berbeda-beda pada masing-masing orang dan pada masing-masing budaya. Namun secara keseluruhan semua kecerdasan tersebut dapat diubah dan ditingkatkan. Kecerdasan yang paling menonjol akan mengontrol kecerdasan-kecerdasan lainnya dalam memecahkan masalah. 

Berdasarkan pada teori Gardner, David G.Lazear memberikan petunjuk untuk mengubah dan meningkatkan kecerdasan-kecerdasan tersebut lengkap dengan instrumentasinya dalam pembelajaran. Ia mengembangkan proses pembelajaran di kelas yang memanfaatkan dan mengembangkan kecerdasan ganda anak, dengan harapan dapat digunakan anak di luar kelas dalam mengenali dan memahami realitas kehidupan. 

Pokok-pokok pikiran yang dikemukakan Gardner adalah; 1) Manusia mempunyai kemampuan meningkatkan dan memperkuat kecerdasannya, 2) Kecerdasan selain dapat berubah dapat pula diajarkan kepada orang lain, 3) Kecerdasan merupakan realitas majemuk yang muncul di bagian-bagian yang berbeda pada sistem otak atau pikiran manusia, 4) Pada tingkat tertentu, kecerdasan ini merupakan suatu kesatuan yang utuh. Artinya, dalam memecahkan masalah atau tugas tertentu, seluruh macam kecerdasan manusia bekerja bersama-sama, kompak dan terpadu. Kecerdasan yang terkuat cenderung “memimpin” /”melatih” kecerdasan lainnya yang lebih lemah. Dikatakan juga bahwa manusia mempunyai berbagai cara untuk mendekati suatu masalah dan hampir semuanya dipelajari secara alami. 

Kecerdasan adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah atau menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan di dalam latar budaya tertentu. Rentang masalah atau sesuatu yang dihasilkan mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks. Dikatakan mulai dari upaya mengakhiri cerita, menentukan langkah-langkah permainan catur, menambal selimut yang sobek, sampai menghasilkan teori-teori, komposisi musik dan politik. Seseorang dikatakan cerdas bila ia dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam hidupnya dan mampu menghasilkan sesuatu yang berharga/berguna bagi umat manusia. 

Penelitian Gardner mengidentifikasi ada 8 macam kecerdasan manusia dalam memahami dunia nyata, kemudian diikuti oleh tokoh-tokoh lain dengan menambahkan dua kecerdasan lagi, sehingga menjadi 10 macam kecerdasan. Berikut akan dijelaskan secara singkat kesepuluh kecerdasan tersebut, yaitu:

a. Kecerdasan verbal/bahasa (verbal/linguistic intelligence). 
Kecerdasan ini bertanggungjawab terhadap semua hal tentang bahasa. Puisi, humor, cerita, tata bahasa, berpikir simbolik, adalah ekspresi dari kecerdasan ini. Kecerdasan ini dapat diperkuat dengan kegiatan-kegiatan berbahasa baik lisan maupun tertulis. 

b. Kecerdasan logika/matematik (logical/mathematical intelligence). 
Kecerdasan logika/matematik sering disebut berpikir ilmiah, termasuk berpikir deduktif dan induktif. Kecerdasan ini diaktifkan bila seseorang menghadapi masalah atau tantangan baru dan berusaha menyelesaikannya. 

c.Kecerdasan visual/ruang (visual/ spatial intelligence). 
Kecerdasan visual berkaitan dengan misalnya senirupa, navigasi, kemampuan pandang ruang, arsitektur, permainan catur. Kuncinya adalah kemampuan indera pandang dan berimajinasi. Cerita khayal pada masa kecil seperti menghayal, mimpi terbang, mempunyai kekuatan ajaib, sebagai pahlawan, sangat erat dengan perkembangan kecerdasan ini. 

a. Kecerdasan tubuh/gerak tubuh (body/kinesthetic intelligence). 
Kecerdasan tubuh mengendalikan kegiatan tubuh untuk menyatakan perasaan. Menari, permainan olah-raga, badut, pantomim, mengetik, dan lain-lain, merupakan bentuk-bentuk ekspresi dari kecerdasan ini. Tubuh manusia mengetahui benar hal-hal yang tidak diketahui oleh pikiran. Gerakan tubuh dapat untuk memahami dan berkomunikasi, dan tidak jarang dapat menyentuh sisi jiwa manusia yang paling dalam. 

b. Kecerdasan musikal/ritmik (musical/rhytmic intelligence). 
Kecerdasan ritmik melibatkan kemampuan manusia untuk mengenali dan menggunakan ritme dan nada, serta kepekaan terhadap bunyi-bunyian di lingkungan sekitar suara manusia. Dari semua kecerdasan di atas, perubahan kesadaran manusia banyak disebabkan oleh musik dan ritme. Musik dapat menenangkan pikiran, memacu kembali aktivitas, memperkuat semangat nasional, dan dapat meningkatkan keimanan serta rasa syukur. 

c. Kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence).
Kecerdasan interpersonal berhubungan dengan kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal dengan orang lain. Mampu mengenali perbedaan perasaan, temperamen, maupun motivasi orang lain. Pada tingkat yang lebih tinggi, kecerdasan ini dapat membaca konteks kehidupan orang lain, kecenderungannya, dan kemungkinan keputusan yang akan diambil. Kecerdasan ini tampak pada para profesional seperti konselor, guru, teraphis, politisi, pemuka agama.

d. Kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence). 
Kecerdasan intrapersonal mengendalikan pemahaman terhadap aspek internal diri seperti, perasaan, proses berpikir, refleksi diri, intuisi, dan spiritual. Identitas diri dan kemampuan mentransendenkan diri merupakan bagian/bidang kecerdasan ini. Menurut Gardner, kecerdasan ini merupakan jenis yang paling individual sifatnya, dan untuk menggunakannya diperlukan semua kecerdasan yang lain. 

Tiga kecerdasan lagi yang dikemukakan oleh Gardner adalah; 
e. Kecerdasan naturalis (naturalistic intelligence).
Kecerdasan naturalis banyak dimiliki oleh para pakar lingkungan. Seorang penduduk di daerah pedalaman dapat mengenali tanda-tanda akan terjadi perubahan lingkungan, misalnya dengan melihat gejala-gejala alam. Dengan melihat rumput/daun yang patah, ia dapat memastikan siapa yang baru saja melintas. 

f. Kecerdasan spiritual (spirituallist intelligence).
Kecerdasan spiritual banyak dimiliki oleh para rohaniwan. Kecerdasan ini berkaitan dengan bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhannya. Kecerdasan ini dapat dikembangkan pada setiap orang melalui pendidikan agama. 

g. Kecerdasan eksistensial (exsistensialist intelligence).
Kecerdasan eksistensial banyak dijumpai pada para filusuf. Mereka mampu menyadari dan menghayati dengan benar keberadaan dirinya di dunia ini dan apa tujuan hidupnya. Melalui kontemplasi dan refleksi diri kecerdasan ini dapat berkembang. 

Pada dasarnya semua orang memiliki semua macam kecerdasan di atas, namun tentu saja tidak semuanya berkembang atau dikembangkan pada tingkatan yang sama, sehingga tidak dapat digunakan secara efektif. Pada umumnya satu kecerdasan lebih menonjol/ kuat dari pada yang lain. Tetapi tidak berarti bahwa hal itu bersifat permanen/tetap. Di dalam diri manusia tersedia kemampuan untuk mengaktifkan semua kecerdasan tersebut. Teori Gardner ini memang masih memerlukan penelitian lebih lanjut khususnya tentang strategi pengukuran untuk masing-masing jenis kecerdasan, serta apakah macam-macam kecerdasan yang ada adalah sejumlah yang telah diuraikan di atas atau masih bisa bertambah lagi. 

3. Kriteria Keabsahan Munculnya Teori Kecerdasan 
a. Memiliki dasar biologis.
Kecenderungan untuk mengetahui dan memecahkan masalah merupakan sifat dasar biologis/fisiologis manusia. Misalnya, gerak tubuh, berkomunikasi dengan orang lain, berimajinasi sendiri, menggunakan ritme dan suara, dan lain-lain. Kecenderungan-kecenderungan ini semua berakar pada sistem biologis manusia itu sendiri. 

b. Bersifat universal bagi spesies manusia. 
Setiap cara untuk memahami sesuatu selalu ada pada setiap budaya, tidak perduli kondisi sosio-ekonomi dan pendidikannya. Walaupun telah berkembang jenis ketrampilan pada budaya yang berbeda, namun hadirnya kecerdasan adalah bersifat universal. Dengan kata lain, kecerdasan berakar pada keberadaan spesies manusia itu sendiri. 

c. Nilai budaya suatu ketrampilan.
Cara untuk memahami sesuatu didukung oleh budaya manusia dan merupakan hal yang harus diteruskan kepada generasi penerus. Contoh, pengembangan bahasa bisa berupa tulisan pada suatu budaya, hiroglif pada budaya lain, pesan-pesan lisan, bahasa-bahasa tanda, pada budaya lain pula. Namun bahasa formal dinilai tinggi dan merupakan kriteria pendidikan dan sosial seseorang. 

d. Memiliki basis neurologi.
Setiap kecerdasan memiliki bagian tertentu pada otak sebagai pusat kerjanya, dan yang dapat diaktifkan atau dipicu oleh informasi eksternal maupun internal. 

e. Dapat dinyatakan dalam bentuk simbol.
Setiap kecerdasan dapat dinyatakan dalam bentuk simbol atau tanda-tanda tertentu. Misalnya simbol kata, gambar, musik, angka, dan lain-lain. Adanya simbol-simbol tersebut merupakan kunci bahwa kecerdasan dapat dialihkan atau diajarkan. 

4. Strategi dasar pembelajaran kecerdasan ganda
Ada beberapa strategi dasar dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kecerdasan ganda, yaitu:
  • Awakening intelligence (Activating the senses and turning on the brain). Membangunkan/memicu kecerdasan, yaitu upaya untuk mengaktifkan indera dan menghidupkan kerja otak. 
  • Amplifying intelligence (Exercise & strengthening awakened capacities). Memperkuat kecerdasan, yaitu dengan cara memberi latihan dan memperkuat kemampuan membangunkan kecerdasan.
  • Teaching for/with intelligence (Structuring lessons for multiple intelligences) Mengajarkan dengan/untuk kecerdasan, yaitu upaya-upaya mengembangkan struktur pelajaran yang mengacu pada penggunaan kecerdasan ganda. 
  • Transferring intelligences (Multiple ways of knowing beyond the classroom). Mentransfer kecerdasan, yaitu usaha untuk memanfaatkan berbagai cara yang telah dilatihkan di kelas untuk memahami realitas di luar kelas atau pada lingkungan nyata. 
Di dal;am bukunya yang berjudul “Seven ways of knowing: Teaching for multiple intelligences” Lazear secara lengkap menjelaskan cara pengolahan masing-masing kecerdasan dengan urutan seperti pada strategi dasar di atas, lengkap dengan tujuan dan proses, teori dan penjelasan bagian otak yang berkaitan dengan kerja kecerdasan masing-masing. 

Mengembangkan Kecerdasan Ganda dalam Kegiatan Pembelajaran
Kecerdasan ganda sebenarnya merupakan teori yang bersifat filosofis. Hal ini tampak pada sikapnya terhadap belajar dan pandangannya terhadap pendidikan atau pembelajaran. Pendidikan/pembelajaran ditinjau dari sudut pandang kecerdasan ganda lebih mengarah kepada hakekat dari pendidikan itu sendiri, yaitu yang secara langsung berhubungan dengan eksistensi, kebenaran, dan pengetahuan. Gambarannya tentang pendidikan diwarnai oleh semangat Dewey yang mendasarkan diri pada pendidikan yang bersifat progresif. 

Kategori-kategori yang banyak digunakan orang selama ini adalah kategori musik, pengamatan ruang, dan body-kinestetik (Amstrong, 1994). Adalah hal yang baru ketika Gardner memasukkan kategori-kategori itu semua ke dalam pengertian kecerdasan dan bukannya talenta atau bakat. Gardner menyadari bahwa banyak orang telah terbiasa mengatakan atau mendengarkan ungkapan seperti “ Ia tidak begitu cerdas, tetapi ia memiliki bakat musik yang sangat hebat”. Sebagaimana orang-orang mengatakan bahwa sesuatu adalah bakat, oleh Gardner bakat-bakat atau kategori-kategori tersebut dikatakan sebagai kecerdasan. 

Untuk memberi dasar terhadap teori yang dikemukakannya, Gardner merancang dasar-dasar “tes” tertentu, di mana setiap kecerdasan harus dipertimbangkan sebagai inteligensi yang terlatih dan memiliki banyak pengalaman, yang tidak disebut sebagai talenta atau bakat. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam teori kecerdasan ganda, yaitu: 1) Setiap orang memiliki semua kecerdasan-kecerdasan itu; 2) Banyak orang dapat mengembangkan masing-masing kecerdasannya sampai ke tingkat yang optimal; 3) Kecerdasan biasanya bekerja bersama-sama dengan cara yang unik; dan 4) Ada banyak cara untuk menjadi cerdas. 

Para pakar terdahulu mengatakan bahwa pikiran dipertimbangkan sebagai sesuatu yang ada pada jantung, hati dan batu ginjal. Pakar berikutnya beranggapan bahwa kecerdasan atau inteligensi terdiri dari beberapa faktor. Teori kecerdasan ganda merupakan model kognitif yang menjelaskan bagaimana individu-individu menggunakan kecerdasannya untuk memecahkan masalah dan bagaimana hasilnya. Tidak seperti model-model lain yang berorientasi proses, pendekatan Gardner lebih berorientasi pada bagaimana pikiran manusia mengoperasi atau mengolah, menggunakan, menguasai lingkungan. 

Pengalaman-pengalaman menyenangkan ketika belajar akan menjadi aktivator bagi perkembangan kecerdasan pada tahap perkembangan berikutnya. Sedangkan pengalaman-pengalaman yang menakutkan, memalukan, menyebabkan marah, dan pengalaman emosi negatif lainnya akan menghambat perkembangan kecerdasan pada tahap perkembangan berikutnya. 

Apabila ingin mengetahui arah kecerdasan siswa di kalas, dapat diketahui melalui indikator-indikator tertentu. Misalnya, apa yang dikerjakan siswa ketika mereka mempunyai waktu luang. Setiap guru dapat menggunakan catatan-catatan kecil praktis yang dapat digunakan untuk memantau kecenderungan perkembangan kecerdasan siswa di kelas. Guru juga dapat menyusun cheklist yang berisi tentang kecerdasan-kecerdasan tersebut. Cheklist dapat digunakan untuk memantau kecerdasan siswa. Selain cheklist ada cara lain yang dapat digunakan yaitu mengumpulkan dokumen berupa photo, rekaman-rekaman lain yang berhubungan dengan aktivitas siswa, dan catatan-catatan di sekolah yang berhubungan dengan peringkat nilai semua mata pelajaran. 

Kegiatan-kegiatan yang dapat digunakan untuk mengembangkan kecerdasan ganda antara lain, dengan menyediakan hari-hari karir, studi tour, biografi, pembelajaran terprogram, kegiatan-kegiatan eksperimen, majalah dinding, papan display, membaca buku-buku yang bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan ganda, membuat tabel perkembangan kecerdasan ganda, atau human intelligence hunt. 

Setiap siswa memiliki perbedaan kecenderungan dalam perkembangan kecerdasan gandanya, maka guru perlu menggunakan strategi umum maupun khusus dalam pembelajaran untuk mengembangkan seluruh kecerdasan siswa secara optimal. Teori kecerdasan ganda juga mengatakan bahwa tidak ada satupun pendekatan atau strategi yang cocok digunakan bagi semua siswa. Dalam hal pengukuran kecerdasan ganda lebih mengutamakan pada studi dokumentasi dan proses pemecahan masalah. Apabila kegiatan di atas dapat dilakukan maka ketrampilan kognitif siswapun dapat berkembang dengan sendirinya. 

Ada satu alternatif lain yang juga dapat digunakan dalam rangka memantau perkembangan kecerdasan siswa di kelas, yaitu dengan memberdayakan siswa sendiri. Artinya, cheklist yang mencakup kecerdasan-kecerdasan tadi yang mengisi bukannya guru, tetapi pengisian dilakukan oleh para siswa. Kegiatan di kelas pada saat-saat tertentu adalah pengisian cheklist tentang kecerdasan-kecerdasan masing-masing anak. Mereka saling memberikan penilaian antar teman. Misalnya Ali melakukan pengamatan terhadap Budi, dan berdasarkan pengamatannya Ali mengisi cheklist tentang kecerdasan-kecerdasan apa yang dilakukan oleh Budi. Demikian juga Budi melakukan hal yang sama seperti Ali terhadap anak lainnya, demikian seterusnya. Selain anak diberi kesempatan untuk menilai kecerdasan temannya, ia juga diberi kesempatan untuk self-monitoring, dengan cara mengisi cheklist tentang kecerdasan-kecerdasan yang dimilikinya sendiri. 

Perkembangan kecerdasan juga dapat dilakukan dengan teknik “konseling sebaya”/“tutor sebaya”. Caranya, guru menyeleksi siapakah yang memiliki keunggulan dalam bidang tertentu. Anak yang memiliki keunggulan di bidang matematika misalnya, diminta membimbing teman-temannya yang kurang dalam matematika. Demikian juga untuk bidang-bidang kecerdasan yang lain. Pembimbing di dalam kelompok dapat bergantian tergantung pada kecerdasan apa yang akan dikembangkan. Misalnya, Susi akan menjadi pembimbing untuk kecerdasan musik, tetapi ia akan dibimbing oleh teman lainnya dalam kecerdasan matematika, dan. Seterusnya.

Pendekatan ini sangat tepat digunakan untuk anak-anak SLTP dan SMU, mengingat pada dasarnya mereka lebih suka berbicara dan bergaul dengan teman sebayanya dari pada dengan gurunya. Di samping itu, model konseling sebaya atau tutor sebaya dalam pembelajaran kecerdasan ganda memungkinkan berbagai aspek dalam diri anak dapat berkembang selaras dan optimal. Kelompok belajar semacam ini sangat potensial untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Guru dituntut untuk mampu mendeteksi anak-anak yang memiliki kecerdasan-kecerdasan unggul, dan membentuk kelompok-kelompok sesuai dengan kebutuhan. 

Pendidikan/pembelajaran kecerdasan ganda berorientasi pada pengembangan potensi anak bukan berorientasi pada idealisme guru atau orang tua apalagi ideologi politik. Anak berkembang agar mampu membuat penilaian dan keputusan sendiri secara tepat, bertanggungjawab, percaya diri dan mandiri tidak bergantung pada orang lain, kreatif, mampu berkolaborasi, serta dapat membedakan mana yang baik dan tidak baik. Ketrampilan-ketrampilan ini sangat dibutuhkan oleh manusia-manusia yang hidup di era ekonomi informasi abad global.
Blog, Updated at: 08.15

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts