Faktor-Faktor Yang Mem-Pengaruhi Hasil Belajar

Faktor-Faktor Yang Mem-Pengaruhi Hasil Belajar 
Manusia dalam usahanya selalu menginginkan sesuatu hal yang lebih baik dari sebelumnya. Demikian pula dalam proses pembelajaran, setiap manusia menginginkan hasil belajar yang lebih baik. Konsekuensi dari keinginan tersebut terdiri dari dua hal yaitu berhasil atau tidak berhasil. Hasil belajar dipengaruhi beberapa faktor, baik dalam diri seseorang (internal factor) maupun dari luar diri seseorang (eksternal factor) sehingga hasil yang dicapai oleh siswa merupakan hasil interaksi dari kedua faktor tersebut.

Sementara itu Usman (Haling, 2004) mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar yaitu:
(1) Faktor yang berasal dari diri sendiri yaitu: Faktor jasmani, baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Faktor psikologis, yakni terdiri atas kecerdasan dan bakat, sikap, kebiasaan, minat, motivasi, emosi dan penyesuaian diri. Faktor kematangan fisik dan psikis. (2) Faktor yang berasal dari luar diri yaitu: Faktor sosial yang terdiri dari; ling-kungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Faktor adat istiadat yaitu; adat istiadat, ilmu penge-tahuan, teknologi, dan pengetahuan. Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar.

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah fisio-logis dan psikologis sedangkan faktor eksternal adalah lingkungan dan instrumental.

Cerita Anak Sebagai Bahan Ajar Di Sekolah Dasar 
Istilah prosa fiksi, biasa juga di-istilahkan dengan prosa cerita, prosa narasi atau cerita berplot. Pengertian prosa fiksi oleh Aminuddin (2004:66) menyatakan bahwa “prosa fiksi ialah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan peme-ranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga men-jalin suatu cerita”.

Sastra anak sebagai sumber pembelajaran bahasa di sekolah dasar terdiri atas berbagai jenis, yaitu buku bergambar, fiksi realistik, fiksi sejarah, fantasi/fiksi ilmiah, sastra tradisional. “Biografi yang difiksikan semua jenis tersebut dapat dijadikan bahan pembel-ajaran apresiasi asal disesuaikan dengan kondisi dan tingkat perkembangan anak-anak” (Djuanda, 2002:64).

Pada KTSP 2006 mata pelajaran Bahasa Indonesia, bahan pembelajaran prosa fiksi khususnya cerita anak pada dasarnya tidak berdiri sendiri sebagai-mana yang dinyatakan dalam kuri-kulum sebelumnya. Tetapi jika kita per-hatikan dengan baik, justru kurikulum 2006 ada peluang yang sangat besar bagi guru untuk mengajarkan cerita fiksi. 

Hal ini dapat terjadi karena sesuai dengan rambu-rambu kurikulum KTSP 2006, karya sastra (cerita fiksi) bukan hanya dijadikan bahan ajar untuk mengajarkan sastra tetapi dapat juga dijadikan sebagai bahan ajar untuk kemampuan berbahasa siswa (menyi-mak, berbicara, membaca, dan menulis). Hal ini tampak pada rambu-rambu kurikulum KTSP yang menjelaskan bahwa perbandingan bobot pembelajar-an bahasa dan sastra sebaiknya se-imbang dan dapat disajikan secara ter-padu. Misalnya, wacana sastra dapat sekaligus dipakai sebagai bahan pem-belajaran” 

Kurikulum KTSP 2006 mata pel-ajaran Bahasa Indonesia, cerita anak se-bagai bahan pembelajaran dapat dilakukan dalam berbagai kesempatan khususnya di kelas V. Berikut ini disaji-kan butir-butir pembelajaran yang ter-dapat dalam kurikulum 2006 mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
  1. Melengkapi bagian awal atau akhir sebuah cerita
  2. Membaca cerita kemudian men-ceritakan ciri sifat pelakunya atau kebiasaan pelakunya
  3. Membaca buku cerita yang baik dan melaporkan di depan kelas
  4. Membaca cerita, mencatat hal yang penting/menarik, kemudian menyu-sun pertanyaan.
Unsur-Unsur Pembentuk Cerita Anak
Menurut Cullinan (Mustakim, 2007:93) “pada hakekatnya unsur yang membangun cerita fiksi sama dengan unsur yang membangun cerita fiksi lain seperti cerpen, novel, dan dongeng lainnya”. Unsur-unsur intrinsik cerita fiksi tersebut adalah: (1) setting, (2) karakter, (4) plot, (5) tema. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut:

a. Setting
Setting adalah waktu dan tempat terjadinya cerita. Penggambaran waktu dan tempat membantu imajinasi anak untuk berpikir tentang kejadian cerita itu benar-benar dialami oleh anak itu sendiri. Pemilihan setting cerita ini harus spesifik sehingga kekuatan cerita dapat membantu anak mengembangkan daya nalarnya. Berdasarkan gambaran tentang setting yang ditulis oleh penulis cerita, maka cerita yang ditulis dapat dipahami. Pembaca akan menilai bahwa cerita yang ditulis memiliki setting yang tepat dan hidup dalam pembentukan cerita. Hubungan antara setting cerita dengan permasalahan yang terjadi dalam cerita saling padu sehingga pem-baca lebih cepat memahami isi cerita.

b. Karakter
Masalah perwatakan/penokohan adalah suatu hal yang kehadirannya dalam sebuah cerita anak amat penting dan menentukan, karena tidak mungkin ada suatu karya cerita anak tanpa adanya tokoh yang diceritakan yang membentuk alur. Sumarjo (Ridayani, 2004:10) berpendapat bahwa “karakter adalah sifat-sifat khas pelaku/tokoh yang diceritakan, bagaimana kualitas nalar, sikap, tingkah laku pribadi, jiwa, yang membedakan dengan tokoh lain dalam sebuah cerita”.

Mengetahui tokoh utama atau tokoh tambahan dalam sebuah cerita, maka kita harus melihat keseringan pemunculannya dalam sebuah cerita. Selain itu dapat juga diketahui lewat petunjuk yang diberikan oleh pengarang dan juga lewat judulnya. Tokoh dalam sebuah cerita digambar-kan oleh pengarang seperti halnya manusia mempunyai watak-watak yang berbeda, ada yang baik ada pula yang jahat, sehingga dalam cerita dikenal istilah pelaku protagonis, yaitu pelaku disenangi dan pelaku antagonis yaitu pelaku yang tidak disenangi pembaca.

Pada cerita anak, penggambaran penokohan pengarang langsung menye-butkan karakter pelakunya misalnya, langsung disebutkan bahwa tokoh itu licik, penyabar, dungu, dan sebagainya. Demikian pula posisi tokoh sangat jelas yang memihak kepada kebaikan dan yang memihak kepada kejahatan.

c. Plot
Mengenai plot atau alur cerita anak-anak sangat sederhana. Plot yang biasa digunakan pengarang cerita menggunakan plot maju, artinya tahap-tahap cerita itu dimulai dari perkenalan tokoh-tokoh cerita, masa menghadapi insiden, klimaks, antiklimaks, kemudian penyelesaian cerita. Menurut Nuraeni (Mustakim,2007:106) “biasanya plot cerita anak-anak adalah alur linear”. Artinya, alur cerita yang menceritakan secara berurutan dari awal hingga akhir. Disamping itu, plot cerita yang seder-hana dapat memberikan kesan yang mendalam pada diri anak, apalagi faktor bahasa yang digunakan oleh pengarang sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa anak. Plot cerita seperti ini ber-fungsi bagi pengarang dalam me-mudahkan anak memahami isi cerita.

d. Tema
Tema tidak lain adalah suatu gagasan senteral yang menjadi dasar tujuan yang hendak dicapai oleh pengarang. Brooks dan Werren (Tarigan dalam Ridayani,2004:8) mengemukakan bahwa “tema adalah dasar atau makna suatu cerita atau novel”. Jadi, dalam pengertian tema tercakup persoalan dan tujuan atau amanat pengarang kepada pembaca. Adapun tema-tema yang biasa digunakan oleh pengarang cerita umumnya tema pelaku terhadap kedua orang tua. Juga tema kepahlawanan, kisah petualangan serta kasih sayang sesama keluarga atau sesama teman merupakan tema yang disukai oleh anak-anak. Tema-tema cerita anak mem-berikan nilai kejujuran, keadilan, ke-takwaan kepada Tuhan dan kasih sayang.
Blog, Updated at: 04.18

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts