Konsep Pendidikan Karakter Dalam Islam

Konsep Pendidikan Karakter Dalam Islam 
1. Dasar-dasar Karakter dalam Islam
a. Al-Qur’an
Pada dasarnya, secara garis besar manusia memiliki dua karakter yang berlawanan. Hal ini diisyaratkan dalam Al-Qur’an surat As-Syams ayat: 8-10:
فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَيهَا (٨) قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكَّيهَا (٩) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّيهَا (١٠)
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah jiwa yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.

Manusia adalah makhluk yang memiliki tabiat, potensi, dan kecenderungan ganda, yakni positif ke arah baik atau negatif ke arah buruk. Jika ingin bahagia ia harus mengembangkan diri ke arah yang baik. Karena itu, kedurhakaan terjadi akibat ulah manusia sendiri yang enggan menggunakan potensi positifnya. Dua sisi inilah yang disinggung dalam Al-Qur’an, bahwa manusia memiliki potensi baik (positif) dan potensi buruk (negatif) dalam dirinya. “Sesungguhnya Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan ...”

Dalam surat tersebut kata mengilhamkan dapat dipahami sebagai pengetahuan yang diperoleh seseorang dalam dirinya, tanpa diketahui secara pasti dari mana sumbernya. Ia serupa dengan rasa lapar. Ilham berbeda dengan wahyu, karena wahyu walaupun termasuk pengetahuan yang diperoleh, namun ia diyakini bersumber dari Allah SWT.

Thabathab’i menjelaskan bahwa yang dimaksud “mengilhami jiwa” adalah penyampaian Allah kepada manusia tentang sifat perbuatan, apakah dia termasuk ketakwaan atau kedurhakaan. Memakan harta misalnya, adalah suatu perbuatan yang dapat dimaknai dengan memakan harta sendiri atau memakan harta anak yatim. Yang pertama dijelaskan bahwa itu adalah ketakwaan, dan yang kedua, yakni memakan harta anak yatim, maka itu adalah kedurhakaan.

Isyarat serupa disampaikan Allah dalam ayat lain:
وَهَدَيْنَهُ النَّجْدَيْنِ (البلد: ١٠)
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan keburukan).
اِنَّا هَدَيْنَهُ السَّبِيْلَ اِمَّا شَاكِرًا وَاِمَّا كَفُوْرًا (الانسان: ٣)
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”.

Kesemua ayat-ayat ini merupakan landasan pandangan Islam tentang jiwa (karakter) manusia. Ayat-ayat ini sekaligus menyempurnakan ayat-ayat yang mengisyaratkan kebergandaan tabiat manusia.

Sayyid Quthb lebih jauh menulis, bahwa dari ayat-ayat di atas dan semacamnya tampak jelas bahwa pandangan Islam terhadap manusia dalam segala aspeknya. Manusia adalah makhluk dwi dimensi dalam tabiatnya (karakternya), potensinya, dan dalam kecenderungan arahnya. Ini karena ciri penciptaannya sebagai makhluk yang tercipta dari tanah dan hembusan ruh Illahi, menjadikannya memiliki potensi yang sama dalam kebajikan dan keburukan, petunjuk dan keserasian. Manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dia mampu mengarahkan dirinya menuju kebaikan atau keburukan dalam kadar yang sama. Kemampuan ini terdapat dalam dirinya dan dilukiskan oleh Al-Qur’an. Dengan demikian potensi-potensi tersebut terdapat dalam diri manusia. Kehadiran Rasul dan petunjuk-petunjuk serta faktor-faktor ekstern lainnya, hanya berfungsi membangkitkan potensi itu, mendorong, dan mengarahkannya di sini atau di sana, tetapi itu semua tidak menciptakannya, karena ia telah tercipta sebelumnya, ia telah melekat sebagai tabiat (karakter) dan masuk ke dalam melalui pengilhaman Illahi.

Aam Amiruddin dalam tafsirnya menyimpulkan, ayat ini menegaskan bahwa manusia memiliki potensi ganda. Manusia diberi penghargaan untuk memilih jalan mana yang akan ditepuh. Allah akan memberi penghargaan kepada orang-orang yang bekerja keras menempuh jalan ketakwaan, berikhtiar membersihkan jiwanya dari noda, dosa dan maksiat, serta Allah pun akan memberi sanksi pada orang yang menempuh jalan kesesatan, yang mengotori jiwanya dengan kedurhakaan dan kezhaliman.

Sifat-sifat dasar inilah yang kemudian akan dapat berubah, baik bertambah dan berkembang atau bahkan hilang seiring dengan pertumbuhan usianya. Pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh berbagai hal, baik internal maupun eksternal. Secara internal, potensi baik atau buruk akan berubah jika ia mengalami pertimbangan batin atau kecenderungan melakukan sesuatu. Hal ini dialami jika kekuatan pikiran (intelektual), jiwa (spiritual), dan rasa (emosional) yang dimilikinya telah seimbang atau memasuki usia dewasa. Adapun pengaruh eksternal yang dapat merubah karakter manusia diantaranya karena faktor lingkungan. Pembiasaan yang ditanamkan oleh lingkungan tempat di mana dia lahir dan berkembang sedikit banyak akan mempengaruhi pembentukan karakternya.

b. Hadits
عَنِ اْلاَسْوَادِ بْنِ سَرِيْعِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى اْلفِطْرَةِ حَتَّى يُعْرِبُ لَهُ لِسَانُهُ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِسَانِهِ (حديث حسن رواه الطبرانى والبيهقى)
“Dari Aswad bin Sari’ berkata, Rasulullah SAW bersabda: setiap yang terlahir dilahirkan dalam keadaan suci (memiliki kecenderungan beragama tauhid), maka kedua orang tualah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Hadits ini mengandung makna bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fithrah, atau dalam bahasa pendidikan sering disebut potensi atau kemampuan dasar, atau dalam istilah psikologi disebut pembawaan (hereditas). Fitrah itu akan berkembang tergantung bagaimana lingkungan mempengaruhi. Lingkungan itu dapat mempengaruhi perkembangan manusia baik jasmani maupun rohani. Lingkungan yang paling awal dan utama dalam membentuk dan mempengaruhi perkembangan manusia sejak lahir adalah lingkungan keluarga. Anak manusia akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang memiliki sifat dan karakter seperti kaum Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sangat tergantung dari didikan dalam keluarga, terutama yang diberikan oleh kedua orang tua.

Konsep fithrah dalam Al-Qur’an juga bertentangan dengan teori yang menganggap bahwa manusia itu sesungguhnya bersih dan suci. Pendukung aliran behaviorisme dalam psikologi memandang bahwa manusia itu ketika dilahirkan tidak mempunyai kecenderungan baik maupun jahat. Teori seperti ini yang kemudian disebut dengan “teori tabula rasa”, lingkunganlah yang memainkan peran dalam bentuk kepribadiannya.menurut Skinner, “lingkungan menentukan kehidupan manusia ketika manusia itu melibatkan dirinya dengan lingkungan sekitar”, maka manusia bukan warisan yang lebih dari refleksi-refleksi. Agama sebagaimana aspek-aspek lain dari tingkah laku manusia dapat diwujudkan ke dalam terma-terma mengenai faktor-faktor lingkungan sekitar. Kenyataan menyebutkan, bahwa anak seorang muslim biasanya menjadi muslim, sedangkan dari keturunan Kristen biasanya beragama Kristen. Bukti ini dicatat oleh Skinner sebagai contoh untuk menjelaskan teorinya.

Juwariyah dalam bukunya Hadits Tarbawi menjelaskan, bahwa pada dasarnya semenjak lahir manusia sudah dianugerahi fitrah atau potensi untuk menjadi baik dan jahat, akan tetapi anak yang baru lahir berada dalam keadaan suci tanpa noda dan dosa. Oleh karena itu, apabila dikemudian hari dalam perkembanganya anak menjadi besar dan dewasa dengan sifat-sifat yang buruk, maka hal itu merupakan akibat dari pendidikan keluarga, lingkungan, dan kawan-kawan sepermainannya yang nota bene mendukung untuk tumbuh dan berkembangnya sifat-sifat buruk tersebut.

Karena itu, menjadi tanggung jawab orang tua dan semua orang dewasa untuk memberikan pendidikan dan bimbingan yang baik kepada anak-anaknya, agar kecenderungan takwa dalam diri anak menjadi tumbuh dan berkembang, dan bukan sebaliknya. Karena pada dasarnya manusia dibekali fitrah yang sama atau setara. Seorang yang di dalam hatinya ada iman akan dapat merasakan kondisi kejiwaan yang selalu selaras dengan fitrahnya, sebab kecenderungan bawaan yang berupa kecenderungan untuk beragama tauhid dan mengabdi kepada yang diyakininya sebagai Maha Esa telah dimilikinya.

Agar potensi positif itu dapat berkembang optimal, maka Nabi mewajibkan umatnya untuk mencari ilmu semenjak dalam buaian, itu artinya bahwa anak harus sudah mulai dididik dan diberikan kepadanya pengetahuan tentang segala sesuatu yang menunjang perkembangan potensi takwanya semenjak usia dini, bahkan semenjak dalam kandungan. Sebagaimana diperintahkan Nabi melalui sabdanya: “Carilah ilmu semenjak dalam kandungan sampai ke liang lahat”.

Perintah Nabi tersebut mengandung pengertian bahwa pendidikan menjadi kewajiban orang dewasa untuk mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang mengembangkan kecendrungan potensi taqwa dan mengendalikan potensi fujur, yang keduanya telah diberikan Allah kepada manusia semenjak kelahirannya, karena pendidikanlah yang akan menentukan masa depan anak menjadi baik atau jahat.

2. Masa Tepat Pembentukan Karakter
Membentuk atau membangun karakter berarti mendidik. Untuk berpikir tentang pendidikan dapat kita mudahkan dengan membuat analogi sebagaimana seorang petani yang hendak bertanam di ladang. Anak yang dididik dapat diibaratkan sebagai tanah, isi pendidikanlah sebagai benih atau bibit yang hendak ditaburkan, sedang pendidik diibaratkan petani. Untuk mendapatkan tanaman yang bagus seorang petani harus jeli menentukan kondisi dan jenis lahan, kemudian menentukan jenis bibit yang tepat, serta cara yang tepat, setelah mempertimbangkan saat yang tepat pula untuk menabur bibit. Setelah selesai menabur, petani tidak boleh diam, tetapi harus memelihara dan merawat jangan sampai kena hama yang mengganggunya.

Membangun karakter anak, yang tidak lain adalah mendidik kejiwaan anak, tidak semudah dan sesederhana menanam bibit. Anak adalah aset keluarga yang sekaligus aset bangsa. Membesarkan fisik anak, masih dapat dikatakan jauh lebih mudah dengan mendidik jiwa, karena pertumbuhannya dapat langsung diamati, sedangkan perkembangan jiwa hanya diamati melalui pantulannya.

Manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan memiliki tabiat yang dibawa sejak lahir. Karakter yang tercipta ketika dewas adalah bentukan sejak kecil. Sebagaimana yang terkandung dalam firman Allah bahwa manusia belum mengetahui sesuatu apapun semenjak dalam kandungan ibunya.
وَاللهُ اَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ اُمَّهَاتِكُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَاْلاَبْصَارَ وَاْلاَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. (النحل: ٧٨)
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.

Demikianlah Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa karakter dapat dibentuk sejak dalam kandungan. Dalam ayat tersebut didahulukannnya lafad as-sam’u (pendengaran) yang mendahului lafad al-abshoru (penglihatan) dan lafad al-afidatu (hati nurani), bukan merupakan ketidak sengajaan Allah dan tanpa makna apapun. Dalam penelitian modern ditemukan bahwa bayi yang masih dalam kandungan sudah dapat mendengar suara apapun yang berada disekitarnya. Dalam hal ini indra pendengaran berfungsi mendahului indra penglihatan. Ia mulai tumbuh pada diri seorang bayi pada pekan-pekan pertama, sedangkan indra penglihatan baru bermula pada bulan ketiga dan menjadi sempurna menginjak bulan keenam. Adapun kemampuan akal dan mata hati yang berfungsi membedakan yang baik dan buruk, maka hal ini berfungsi jauh sesudah kedua indra tersebut di atas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perurutan penyebutan indra-indra pada ayat di atas mencerminkan tahap perkembangan fungsi indra.

Rangsangan yang diberikan sang ibu atau orang-orang di sekitar bayi dapat memicu saraf-saraf janin yang sedang tumbuh dalam perut ibu. Tidak sedikit kisah kesuksesan orang tua yang membiasakan memperdengarkan bacaan Al-Qur’an pada bayinya dapat menuai hasil yang menakjubkan ketika sang bayi berusia balita sudah dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan bahkan hafal 30 juz.

Disamping hal di atas orang tua juga harus memperhatikan anaknya lebih lanjut lagi, karena pada dasarnya bayi itu dilahirkan dalam keadaan yang suci bersih (fithrah). Fitrah berarti juga Islam, berarti tiap-tiap anak yang baru dilahirkan oleh ibunya berarti dia dalam keadaan Islam, tergantung bagaimana kedua orang tua mendidiknya, apakah tetap menjadikanya Muslim, atau Yahudi, Nasrani maupun Majusi. Di sinilah letak kewajiban orang tua untuk mendidik putra putrinya, akan dijadikan apa anak itu.

Orang tua sebagai figur pendidik pertama dan utama bagi anak-anak tentu memiliki peran yang teramat besar dalam memberikan dasar bagi pendidikan putra putrinya, dan sekolah sebagai penerus pendidikan keluarga juga punya tanggung jawab moral untuk membentuk kepribadian peserta didik menjadi manusia yang lebih baik, sementara masyarakat dimana anak tinggal, punya andil cukup besar di dalam turut memberikan warna dan membentuk karakter kepribadian mereka.

Oleh karena itu, pembentukan karakter sejak dini sangat diperlukan oleh orang tua. Karena pada dasarnya potensi manusia yang sejak lahirnya merupakan fitrah (suci) dapat terus dijaga kesuciannya di lingkungan yang baik pula. Karena anak belajar tidak hanya dari apa yang dia dengar, tetapi juga kemudian dia belajar dengan menggunakan matanya untuk melihat dan memperhatikan lingkungannya. Kemudian barulah dia menggunakan hatinya sebagai alat ukur untuk menimbang mana energi yang lebih baik dia serap, energi positifkah atau energi burukkah disesuaikan dengan sejauh mana kemampuan persepsi intelektual anak pada masa dia tumbuh dan berkembang.

3. Tahap-tahap Pembentukan Karakter
Secara teoritik nilai moral atau karakter berkembang secara psikologis dalam diri individu mengikuti perkembangan usia dan konteks sosial. Dalam kaitannya dengan usia, Piaget merumuskan perkembangan kesadaran dan pelaksanaan aturan dengan membagi menjadi beberapa tahapan dalam dua domain, yakni kesadaran mengenai aturan dan pelaksanaan aturan. Bertolak dari teorinya tersebut, Piaget menyimpulkan bahwa pendidikan di sekolah seyogyanya menitikberatkan pada pengembangan kemampuan mengambil keputusan (decision making; skils) dan memecahkan masalah (problem solving) dan membina perkembangan moral dengan cara menuntut peserta didik untuk mengembangkan aturan berdasarkan keadilan atau kepatutan.

Dalam pandangan Islam tahapan-tahapan pengembangan karakter dimulai sedini mungkin. Pendidikan karakter anak harus disesuaikan dengan tahap-tahap pertumbukan dan perkembangan anak.

1. Tauhid (usia 0-2 tahun)
“Jadikanlah kata-kata pertama yang diucapkan seorang anak, kalimat La Ilaha Illallah. Dan bacakan kepadanya menjelang maut, kalimat La Ilaha Illallah”. (HR. Ibnu Abbas)

Kesanggupan mengenal Allah adalah kesanggupan paling awal dari manusia. Ketika Rasulullah bersama Siti Khadijah sholat, Sayyidina Ali yang masih kecil datang dan menunggu sampai selesai, untuk kemudian menanyakan, “apakah yang sedang kalian lakukan?” dan Rasul menjawab, “Kami sedang menyembah Allah, Tuhan p[encipta alam semesta ini”. Lalu Ali spontan menyatakan ingin bergabung. Hal ini menunjukkan bahwa keteladanan dan kecintaan yang kita pancarkan kepada anak, serta modal kedekatan yang kita bina dengannya, akan membawa mereka mempercayai pada kebenaran perilaku, sikap, dan tindakan kita.

2. Adab (5-6 tahun)
“Muliakanlah anak-anakmu dan didiklah mereka dengan adab (budi pekerti) yang baik.” (HR. Ibnu Majah)

Pada fase ini, hingga berusia 5-6 tahun anak didik budi pekerti, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter sebagai berikut:
a. Jujur, tidak bohong,
b. Mengenal mana yang benar dan mana yang salah,
c. Mengenal mana yang baik dan mana yang buruk,
d. Mengenal mana yang diperintah (yang diperbolehkan) dan mana yang dilarang (yang tidak boleh dilakukan).

Pendidikan kejujuran merupakan nilai karakter yang harus ditanamkan pada anak sedini mungkin, karena nilai kejujuran merupakan nilai kunci dalam kehidupan. Selain kejujuran anak juga harus dididik mengenai karakter benar dan salah, karakter baik dan buruk. Lebih meningkat lagi anak dididik atau dikenalkan apa-apa yang boleh dilakukan dan apa-apa yang tidak boleh dilakukan. Targetnya adalah anak memiliki kemampuan mengenal mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.

3. Tanggung jawab diri (7-8 tahun)
“Suruhlah anak-anakmu menjalankan sholat jika mereka sudah berusia tujuh tahun....” (HR. Al-Hakim dan Abu Daud, diriwayatkan dari Ibnu Amr bin Al-Ash r.a.)

Perintah agar anak usia 7 tahun mulai menjalankan sholat menunjukkan bahwa anak mulai dididik untuk bertanggung jawab, terutama dididik bertanggung jawab pada diri sendiri. Anak mulai diminta untuk membina dirinya sendiri, anak mulai dididik untuk memenuhi kebutuhan dan kewajiban dirinya sendiri. Pada usia ini anak juga mulai dididik untuk tertib dan disiplin, karena pelaksanaan shalat menuntut anak untuk tertib, taat, ajek, dan disiplin.

4. Caring-Peduli (9-10 tahun)
Setelah anak dididik tentang tanggung jawab diri, maka selanjutnya anak dididik untuk mulai peduli pada orang lain, terutama teman-teman sebayanya yang sering hari ia bergaul. Menghargai orang lain (hormat kepada yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda), menghormati hak-hak orang lain, bekerja sama di antara teman-temannya, membantu dan menolong orang lain, dan lain-lain merupakan aktifitas yang sangat penting pada masa ini. Oleh karena itu, pada usia ini tampaknya tepat jika anak dilibatkan dengan nilai-nilai kepedulian dan tanggung jawab pada orang lain, yaitu mengenai aspek kepemimpinan.

5. Kemandirian (11-12 tahun)
Berbagai pengalaman yang telah dilalui pada usia-usia sebelumnya makin mematangkan karakter anak sehingga akan membawa anak kepada kemandirian. Kemandirian itu ditandai dengan kesiapan dalam menerima resiko sebagai konsekuensi tidak mentaati aturan. Kemandirian ini juga berarti anak telah mampu bukan hanya mengenal mana yang benar dan mana yang salah, tetapi anak telah mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Pada fase kemandirian ini berarti anak telah mampu menerapkan terhadap hal-hal yang menjadi perintah atau yang diperintahkan dan hal-hal yang menjadi larangan atau yang dilarang, serta sekaligus memahami konsekuensi resiko jika melanggar aturan.

6. Bermasyarakat (13 tahun >)
Pada tahap ini, anak dipandang telah siap memasuki kondisi kehidupan di masyarakat. Anak diharapkan telah siap bergaul di masyarakat dengan berbekal pengalaman-pengalaman yang dilalui sebelumnya. Setidak-tidaknya ada dua nilai penting yang harus dimiliki anak walaupun masih bersifat awal atau belum sempurna, yaitu: (1) integritas; dan (2) kemampuan beradaptasi.

Jika tahap-tahap pendidikan karakter ini dapat dilakukan dengan baik, maka pada tingkat usia berikutnya tinggal menyempurnakan dan mengembangkannya.

Selanjutnya tahap pendidikan karakter dijelaskan dalam QS. Lukman: 13-19 yang memberikan pesan-pesan kepada anaknya.
وَاِذْقَالَ لُقْمَنُ لاِبْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَبُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ قلى اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ (١٣) وَوَصَّيْنَا اْلاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ ج حَمَلَتْهُ اُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَّفِصَالُهُ فِى عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ قلى اِلَيَّ الْمَصِيْرُ (١٤) وَاِنْ جَاهَدَكَ عَلَى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا صلى وَاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّ ج ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ (١٥) يَبُنَيَّ اِنَّهَا اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِى صَحْرَةٍ اَوْ فِى السَّمَوَاتِ اَوْ فِى اْلاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللهُ قلى اِنَّ اللهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ (١٦) يَبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلَوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا اَصَابَكَ قلى اِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلاُمُوْرِ (١٧) وَلاَتُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَتَمْشِ فِى اْلاَرْضِ مَرَحًا قلى اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ (١٨) وَاقْصِدْ فِى مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ قلى اِنَّ اَنْكَرَ اْلاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ (١٩)
“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalm batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya), sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai”.

Dari ayat tersebut dapat dijelaskan bahwa Lukman memulai nasihatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik/menyekutukan Allah. Larangan ini sekaligus mengandung pengajaran tentang wujud keesaan Tuhan. Bahwa redaksi pesannya berbentuk larangan, jangan mempersekutukan Allah untuk menekan perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik.

Selanjutnya pada ayat 14 tidak menyebutkan jasa bapak, menekankan pada jasa ibu. Ini disebabkan karena ibu berpotensi untuk tidak dihiraukan oleh anak karena kelemahan ibu berbeda dengan bapak. Betapapun peranan bapak tidak sebesar peranan ibu, namun jasanya tidak diabaikan, karena itu anak berkewajiban berdoa untuk ayahnya sebagaimana berdoa untuk ibunya. Seperti yang dicontohkan oleh Al-Qur’an, “Tuhanku, kasihilah keduanya disebabkan karena mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil”.

Nasihat Lukman selanjutnya pada ayat 17 menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan amal-amal saleh yang puncaknya adalah sholat, serta amal-amal kebajikan yang tercermin dalam amar ma’ruf nahi munkar, juga nasihat berupa perisai yang membentengi seseorang dari kegagalan, yatitu sabar dan tabah.

Selanjutnya pada ayat 18 dan 19, Lukman menasihati anaknya berkaitan dengan akhlak dan sopan santun berinteraksi dengan sesama manusia. Materi pelajaran akidah, beliau selingi dengan materi pelajaran akhlak, bukan saja agar peserta didik tidak jenuh dengan satu materi, tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa ajaran akidah dan akhlak merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Tahap pendidikan karakter yang dicontohkan oleh Lukman dalam proses mendidik anaknya yang berawal dari penanaman konsep tauhid, cara agar anak mau berbuat baik (akhlak al-karimah), mengembangkan sikap mencintai perbuatan baik (ibadah dan muamalah), dan melaksanakan perbuatan baik (amal saleh) sangatlah memiliki andil dalam mendidik anak.

Sebagaimana Islam mengajarkan tauhid dengan mengucapkan kalimah-kalimah toyyibah bukan tanpa maksud, namun dengan mengucapkan apa yang diyakininya, maka anak akan terbiasa mengucapkan apa yang ada bahkan terpendam dalam dirinya. Hal ini akan memicu menumbuh kembangkan apa yang dimilikinya. Selanjutnya adalah pembiasaan melakukan sesuatu karena dia mencintainya. Anak yang melakukan sesuatu bukan karena keterpaksaan akan membuatnya percaya diri dan tahan banting, hingga pada akhirnya dia menjadi orang yang berkarakter kuat dan cerdas menghadapi tantangan hidupnya. Karena pada dasarnya dia melakukan kebaikan, hasil, balasan atau jaza’ nya kembali untuk dirinya sendiri, sebaliknya jika dia malah memupuk potensi taghut justru kerugiannya akan dia rasakan sendiri, bukan untuk orang lain.

4. Karakter Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW adalah insan kamil, manusia paripurna. Beliau sempurna dalam semua aspek insaniah-nya. Bukan hanya secara fisik saja beliau sempurna, tapi juga emosional dan spiritual. Inilah yang membuat akhlak beliau menjadi sangat mulia, dan tidak ada lagi manusia yang lebih mulia akhlaknya dihadapan Allah kecuali beliau. Tapi kenyataan ini bukan untuk menutup kesempatan manusia untuk mencapai kualitas seperti beliau, tapi manusia lagi didorong untuk meneladani beliau, karena beliau telah dijadikan Allah sebagai uswatun hasanah, teladan yang paling baik bagi manusia. Dan tugas utama beliau sebagai Rasul, disamping menyeru manusia agar mengesakan Allah dan hanya menyembah kepada-Nya, juga untuk menyempurnakan akhlak. “Sesungguhnya aku diutus (kepada seluruh manusia dalam rangka) untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Baihaqi dari Abu Hurairah r.a.)

Manusia yang Allah tugaskan untuk menyempurnakan akhlak manusia lainnya, mustahil berakhlak tidak mulia. Dia pastilah orang yang akhlaknya paling baik dan sempurna, dibanding manusia lainnya. Nabi Muhammad SAW dijamin kebaikan oleh Allah dalam setiap tutur kata dan tingkah laku beliau. Hidup keseharian beliau senantiasa dibimbing oleh wahyu. Jadi tidak mungkin beliau akan menjebloskan manusia kejurang kesesatan yang dapat mengundang murkan Allah. Dan Allah sendiri yang memberi garansi, bahwa beliau adalah teladan sempurna bagi manusia. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Untuk mendukung dan mengukuhkan akhlak mulia seorang Nabi, maka Allah menetapkan sifat yang harus dimiliki oleh seorang Nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW. Sifat mulia inilah yang menjadi karakter khas Nabi Muhammad SAW, yaitu:

1. Shiddiq (Integritas)
Secara sederhana, shiddiq artinya benar atau jujur. Shidiq adalah kenyataan yang benar yang tercermin dalam perkataan, perbuatan atau tindakan, dan keadaan batinnya. Menurut Furqon Hidayatullah pengertian shiddiq ini dapat dijabarkan ke dalam butir-butir sebagai berikut:
a. Memiliki sistem keyakinan untuk merealisasikan visi, misi, dan tujuan,
b. Memliki kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, jujur, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

Seorang Nabi atau Rasul pasti adalah orang yang benar dalam semua aspek hidupnya, tutur kata dan tingkah lakunya. Tutur katanya benar karena dia mngemban misi untuk menyampaikan firman-firman Allah. Makanya bisa dipahami kalau semua kata yang keluar dari mulut seorang Nabi atau Rasul pasti benar. Kemudian seorang Nabi atau Rasul pasti benar tingkah lakunya, karena dia merupakan contoh bagi manusia lainnya (umatnya) dalam hal sikap dan perilaku. Dia juga seorang yang jujur, dan tidak pernah berdusta.

Orang yang shiddiq adalah orang yang mempunyai integritas. Dia adalah pelopor dalam menegakkan kebenaran. Dan dalam segala hal, dia senantiasa mengedepankan kejujuran. Kebenaran laksana pakaiannya, dan kejujuran bagaikan selendangnya. Dia tidak pernah kompromi dengan segala bentuk ketidak benaran, ketidak jujuran, kemaksiatan, dan semua hal yang menabrak nilai-nilai agama, norma, dan susila yang berlaku dimasyarakat. Kalau dia pendidik dia akan mengedepankan keteladanan dan kasih sayang dari pada kekuasaan dan kekerasa. Kalau dia peserta didik atau siswa, dia lebih bangga kalah dalam kejujuran dari pada menang karena kecurangan.

2. Amanah (Akuntabilitas)
Amanah artinya dapat dipercaya atau bertanggung jawab. Lawan dari sifat ini adalah khianat. Amanah adalah sebuah kepercayaan yang harus diemban dalam mewujudkan sesuatu yang dilakukan dengan penuh komitmen, kompeten, kerja keras, dan konsisten. Pengetian amanah dapat dijabarkan ke dalam butir-butir sebagai berikut:
a. Rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi,
b. Memiliki kemampuan mengembangkan potensi secara optimal,
c. Memiliki kemampuan mengamankan dan menjaga kelangsungan hidup,
d. Memiliki kemampuan membangun kemitraan dan jaringan.

Orang yang amanah menyadari apa pun yang ia dapatkan sebagai sesuatu yang pasti akan dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Baik itu jabatan, kepandaian, kesehatan, harta, kekayaan, bahkan diri mereka sendiri, merupakan sesuatu yang mesti dipertanggung jawabkan. Dia yakin Tuhan tidak pernah lupa, tidak pernah tidur, dan senantiasa mengawasi gerak-gerik hamba-Nya. Bahkan gerak-gerik hati yang paling tersembunyi sekalipun.

Bagi orang yang amanah, fungsi pengawasan berada di dalam hatinya, bukan pada guru, atasan, atau apa saja yang berperan sebagai pengawas. Hati adalah pengawas bagi orang-orang amanah, karena hati tidak bisa berdusta. Orang yang amanah merasa hidupnya senantiasa dalam pengawasan Allah , Tuhan alam semesta. Oleh karena itu, mereka selalu bekerja optimal dan berkarya maksimal. Seluruh energi dan potensi insaniah-nya, dia kerahkan untuk memelihara amanah yang Allah berikan kepadanya dan menunaikan amanah yang dibebankan manusia kepadanya dengan sebaik-baiknya. Pantang baginya menghianati Allah dan Rasul-Nya.

Wahai orang orang yang beriman, janganlah kalian menghianati Allah dan jangan pula menghianati Rasulullah serta jangan pula menghianati amanah kalian padahal kalian mengetahui.”

Dalam lingkup pendidikan, guru atau pendidik yang amanah merasa bahwa tugas untuk mencetak generasi unggul negaranya diserahkan kepadanya. Oleh karena itu, dia sangat senang dan ikhlas melaksanakan tugasnya, meskipun negara belum memberi apresiasi yang layak kepadanya. Kerja mengajar dianggapnya sebagai ibadah yang berpahala besar di sisi Allah, sehingga dia merasa cukup puas dengan ridha Allah saja.

Sedangkan peserta didik yang amanah adalah dia yang menjadikan belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan, bukan semata-mata proses yang harus dilalui. Dia senang belajar karena dia memiliki impian dan harapan. Impian yang harus dia wujudkan dan harapan yang harus dipupuk terus menerus sebagai pemompa semangat hidupnya. Dia menyadari, Allah mengamanahkan talenta kepaanya yang harus dia gunakan untuk berbuat sesuatu yang berarti dalam hidupnya.

3. Fathonah (Kapabilitas, Profesionalitas)
Fathonah diartikan sebagai kepandaian, kecerdasan, kapabilitas, atau pun profesionalitas. Fathonah adalah sebuah kecerdasan, kemahiran, atau penguasaan bidang tertentu yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Hidayatullah mengutip dari Toto Tasmara mengemukakan karakteristik jiwa fathonah, yaitu:
a. Arif dan bijak (the man of wisdom),
b. Integritas tinggi (high in integrity),
c. Kesadaran untuk belajar (willingness to learn),
d. Sikap proaktif (proactive stance),
e. Orientasi kepada Tuhan (faith in God),
f. Terpercaya dan ternama/terkenal (credible and reputable),
g. Menjadi yang terbaik (being the best),
h. Empati dan perasaan terharu (empathy and compassion)
i. Kematangan emosi (emotion maturity),
j. Keseimbangan (balance),
k. Jiwa penyampai misi (sense of mission), dan
l. Jiwa kompetisi (sense of competition).

Orang bisa disebut fathonah karena dia memiliki kecerdasan dan kecakapan di posisi manapun dia ditempatkan atau ditugaskan. Dalam lingkup yang lebih spesial, orang yang fathonah sangat profesional dibidangnya. Tapi satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa sifat fathonah ini bukan semata-mata kecerdasan, kemahiran maupun profesionalitas, tapi sifat ini didasari oleh moralitas yang tinggi dan akhlak yang mulia.

Sifat fathonah tidak harus selalu merupakan hasil dari lembaga pendidikan. Dia muncul karena integritas diri yang kuat. Orang yang fathonah mempunyai antusiasme tinggi untuk senantiasa berada dalam keadaan belajar dan berproses. Satiap saat dalam hidupnya adalah momen paling baik untuk menambah ilmu, pengetahuan dan wawasan. Landasannya dalam beraktifitas, yakni akhlak mulia, membuat dia menjadi cerdas yang mencerdaskan. Artinya seluruh kecerdasan, kepandaian, kemahiran atau proesionalitasnya membawa manfaat juga bagi orang lain.

Dengan demikian, fathonah adalah kecerdasan yang menyeluruh (komprehensif), kecerdasan yang meliputi intelektual, emosional, spiritual dan kreatif. Oleh karena itu, apa pun pekerjaan aau profesi seorang fathonah, akan selalu menghasilkan yang terbaik.

Dalam pendidikan, guru atau pendidik yang fathonah senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Dia bukan jenis manusia yang puas dan merasa cukup dengan ilmu yang telah dia miliki, sehingga tidak perlu lagi meng-upgrade diri. Karena dia sadar, dia akan tergilas oleh kemajuan kalau dia tetap diam di tempat. Metode dan sistem mengajar sudah mengalami perubahan yang demikian dahsyat. Seorang pendidik bukan lagi sosok mengerikan yang berdiri di depan kelas, yang kepandaian peserta didik seolah sangat tergantung kepadanya. Tapi sekarang, pendidik adalah teman peserta didik belajar. Dia adalah motivator, yang memberikan semangat dan menularkan kegairahan ilmu kepada peserta didiknya. Itu adalah guru atau pendidik yang fathonah.

Sedangkan murid atau peserta didik yang fathonah adalah yang menyadari bahwa waktu yang diberikan Allah kepadanya sangat sebentar. Sehingga dia akan mati-matian belajar untuk sebuah perubahan besar dalam dirinya. Dia tidak ingin menyianyiakan kesempatan barang sedetik untuk belajar. Dia tidak akan melakukan hal-hal yang tidak berguna, apalagi merusak fisik atau masa depan, seperti mengkonsumsi narkoba atau bergaul bebas melampaui batas.

Akhirnya, orang-orang yang fathonah adalah mereka yang bekerja atau berkarya menurut profesi, keahlian dan bidangnya masing-masing. Titik berangkat mereka adalah niat yang benar, melalui proses yang benar juga, sehingga hasilnya sangat memuaskan.

4. Tabligh
Tabligh adalah sebuah upaya merealisasikan pesan atau misi tertentu yang dilakukan dengan pendekatan atau metode tertentu. Pengertian ini dapat dijabarkan ke dalam butir-butir sebagai berikut:
a. Mempunyai kemampuan merealisasikan pesan atau misi,
b. Memiliki kemampuan berinteraksi secara efektif,
c. Memliki kemampuan menerepkan pendekatan atau metodik dengan tepat.

Sifat tabligh wajib ada pada diri Rasul. Selam ini tabligh diartikan sebagai menyampaikan. Artinya setiap Rasul harus selalu menyampaikan apa pun yang telah Allah wahyukan kepadanya untuk manusia. Bahkan Nabi Muhammad SAW ketika ditegur oleh Allah, tetap menyampaikan teguran itu kepada umatnya secara terbuka. Beliau tidak merasa malu karena ditegur Allah.

Tabligh berasal dari akar kata yang sama dengan kata “baligh”, yang artinya matang. Itu sebabnya, dalam Islam, seseorang baru dikenai kewajiban menjalankan syariat agama ketika dia sudah baligh. Karena saat itulah jiwa dan akalnya sudah siap menerima alasan hukum, mengapa harus begini dan mengapa tidak boleh begitu. Ini artinya dia sudah matang secara intelektual, emosional dan spiritual. Rasulullah SAW adalah pribadi yang matang dalam segala hal. Beliau juga pribadi yang terbuka, transparan. Kematangan jiwa yang terpadu dengan keterbukaan hati dan pikiran, membuat beliau tidak merasa perlu menyembunyikan teguran Allah di hadapan umatnya atas sikap beliau kepada Ibnu Ummi Maktum r.a.

Orang yang memiliki sifat tabligh patilah pribadi-pribadi yang menyenangkan, karena mereka adalah pribadi yang hangat, akrab, dan terbuka. Kehadiran mereka di tengah-tengah masyarakat menjadi panutan dan selalu dapat dibanggakan.

Begitulah empat sifat yang wajib dimiliki seorang Nabi atau Rasul, yang pada masa sekarang ini, diadopsi sebagai ciri organisasi modern. Mereka yang mempunyai empat sifat itu adalah orang-orang yang berkarakter kuat, berkepribadian unggul dan berakhlak mulia. Empat kualitas (sifat) utama ini yang sekarang menjadi prioritas dalam pendidikan nasional Indonesia. Karena keempat kualitas ini adalah pembentuk karakter dan kepribadian yang utama.

Lembaga pendidikan di Indonesia seyogyanya tidak sekedar latah, ikut arus bincangan publik soal perlunya pendidikan karakter bagi peserta didik. Karena banyak pakar pendidikan yang sejak lama merasa prihatin dengan kenyataan praktik pendidikan di Indonesia, yang seolah menyingkirkan jauh-jauh pendidikan karakter atau budi pekerti. Tapi memang harus diakui, kita tidak mempunyai konsep yang jelas tentang pendidikan karakter atau pendidikan akhlak mulia ini. Tidak jelas apa yang akan menjadi rujukan (referensinya). Oleh karena itu, kami tawarkan rujukan yang benar, yaitu meneladani sifat Nabi Muhammad SAW sebagai “The Walking Qur’an”, Al-Qur’an yang berjalan.
Blog, Updated at: 00.07

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts