Strategi Pembelajaran Berbicara (Kalam) Dengan Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Strategi Pembelajaran Berbicara (Kalam) Dengan Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) 
Pendidikan di Indonesia secara perlahan namun pasti mengalami perubahan dan pembaharuan menuju kepada pendidikan yang sejati, yakni pendidikan yang memanusiakan manusia. Membebaskan dari kebodohan dan keterbelengguan, membangun citra diri serta membentuk karakter dan jati diri bangsa dan membangun tinggi kebangsaan Indonesia. Sistem Pendidikan Nasional yang baru memberi arah agar kita bersama-sama khususnya pelaku pendidikan memiliki gerak yang sama menyambut perubahan dan pembaharuan di bidang pendidikan. 

Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil meningkatkan kompetisi mengingat dalam jangka pendek namun mengalami kegagalan dalam membekali anak ketrampilan memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.

Sehubungan dengan keadaan tersebut, maka mulailah diciptakan suasana pembelajaran dimana alur proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju kepada siswa, karena siswa bukanlah sebuah botol kosong yang bisa diisi dengan muatan-muatan informasi apa saja yang dipandang penting oleh guru. Sebuah kenyataan menunjukkan bahwa ternyata siswa bisa juga saling belajar dan mengajar dengan sesama siswa yang lain. Bahkan berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengajaran rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif daripada pengajaran langsung dari guru (Lie, 2002). Hal ini disebabkan oleh latar belakang pengalaman dan pengetahuan (atau yang dikenal dengan istilah skemata dalam bidang pendidikan) para siswa lebih mirip satu dengan yang lain bila dibandingkan dengan skemata yang dimiliki seorang guru. 

Pernyataan di atas membawa pesan agar para guru mulai mempergunakan strategi dan model pembelajaran yang mampu mengaktifkan peserta didik, sehingga mereka dapat melakukan dan menemukan sendiri pengetahuan dengan bimbingan guru. Menciptakan suasana kelas yang hidup, menyenangkan, harmonis dan tidak tertekan. Di samping itu peserta didik dapat mengkritisi, memahami, mengemukakan pendapat dan pandangannya, baik secara perorangan maupun kelompok terhadap topik bahasan yang dibicarakan. 

1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah sebuah model pembelajaran yang memprioritaskan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif ini bermaksud memaksimalkan kondisi belajar siswa dengan cara memberi penekanan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau saling membantu dalam struktur kerja sama yang teratur untuk memecahkan suatu masalah. 

Eggen dan Kauchak (dalam Didang 2006) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai sekumpulan strategi mengajar yang digunakan guru agar siswa saling membantu dalam mempelajari sesuatu, sehingga pembelajaran kooperatif ini juga dinamakan “pembelajaran teman sebaya.” Sedangkan menurut Slavin pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran dimana siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki kemampuan heterogen. Oleh karena itu, keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Lebih dari itu, struktur tujuan kooperatif juga menciptakan sebuah situasi bahwa tujuan pribadi dapat tercapai hanya apabila kelompok itu berhasil, sehingga dapat dikatakan bahwa model pembelajaran ini sejalan dengan salah satu prinsip CTL, yaitu learning community.

Sedangkan falsafah yang mendasari model pembelajaran kooperatif adalah falsafah homo homini socius, bahwa manusia adalah makhluk sosial (Lie : 2002). Kerja sama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerja sama, tidak akan ada individu, keluarga, organisasi, ataupun sekolah. Tanpa kerja sama bisa jadi kehidupan ini telah punah.

2. Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif 
Dikatakan oleh Roger dan David Johnson (dalam Lie : 2002) bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning. Model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan secara asal-asalan. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif secara benar akan dapat membantu guru mengelola kelas menjadi lebih efektif.

Untuk memperoleh hasil yang maksimal, maka menurut Roger dan David Johnson (dalam Lie ; 2002) setidaknya ada lima hal yang harus diterapkan dalam pembelajaran kooperatif. Lima hal tersebut adalah : 
a. Saling ketergantungan positif
b. Tanggung jawab perseorangan
c. Tatap muka
d. Komunikasi antar anggota
e. Evaluasi proses kelompok 

Sedangkan menurut Johnson (dalam Didang : 2006), sebuah pembelajaran kooperatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Saling ketergantungan positif
b. Dapat dipertanggungjawabkan secara individu
c. Heterogen
d. Berbagi kepemimpinan
e. Berbagi tanggung jawab
f. Ditekankan pada tugas dan kebersamaan
g. Mempunyai ketrampilan dalam berhubungan sosial
h. Guru mengamati
i. Efektifitas tergantung pada kelompok

Menurut Arends (dalam Didang 2006), pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajar 
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah 
c. Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda
d. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
a. Siswa belajar secara produktif dalam kelompok, baik dengan mendengar, mengemukakan pendapat, maupun membuat keputusan bersama
b. Pembagian kelompok siswa mempertimbangkan keragaman potensi dan kondisi siswa 
c. Siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya
d. Penghargaan lebih diutamakan pada hasil kerja kelompok daripada kerja individu

3. Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif
Sebagaimana telah dijelaskan dalam uraian terdahulu, dalam pembelajaran kooperatif aktivitas belajar lebih berpusat pada siswa (student centered), sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan dinamisator. Dengan model pembelajaran kooperatif diharapkan siswa dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal dengan cara berpikir aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran.

Dalam pembelajaran kooperatif, siswa tidak hanya mempelajari materi saja. Mereka juga harus mempelajari ketrampilan-ketrampilan khusus yang disebut ketrampilan kooperatif. Ketrampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok. Sedangkan peranan tugas dilakukan pada saat pembagian tugas antar anggota kelompok selama kegiatan. Dengan demikian pelaksanaan pembelajaran kooperatif di kelas bertujuan untuk :
  • Mengoptimalkan pencapaian hasil belajar akademik dan sekaligus efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Beberapa ahli berpendapt bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.
  • Memberi keuntungan bagi siswa, baik yang ada pada kelompok bawah maupun kelompok atas dalam bekerja bersama menyelesikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, sehingga akan tercipta sebuah forum komunikasi untuk memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama.
  • Mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama, kolaborasi. Keterampilan ini sangat penting dimiliki oleh seseorang di dalam kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat. 
4. Strategi dan Model Pembelajaran Kooperatif dalam Aspek Berbicara (Kalam)
Model pembelajaran koopratif adalah sebuah model pembelajaran yang memprioritaskan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran, dalam hal ini adalah mengajarkan ketrampilan berbicara (kalam) pada siswa. Model pembelajaran kooperatif ini bermaksud memaksimalkan kondisi belajar siswa dalam belajar menyimak bunyi-bunyi dalam bahasa Arab dengan cara memberi penekanan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau saling membantu dalam struktur kerja sama yang teratur untuk memecahkan suatu masalah.

Sejalan dengan uraian tersebut, maka dalam model pembelajaran koopratif terdapat beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan. Langkah-langkah penting yang harus dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif sebagaimana diungkapkan oleh Ibrahim (dalam Lie; 2002) antara lain adalah:
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan perlengkapan pembelajaran
b. Menyampaikan informasi
c. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
d. Membantu siswa belajar dan bekerja dalam kelompok
e. Evaluasi atau memberikan umpan balik
f. Memberikan penghargaan

Keenam langkah pembelajaran kooperatif tersebut bila diwujudkan dalam kegiatan pembelajaran akan terlihat seperti kegiatan berikut ini : 
a. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dan menyiapkan siswa untuk memasuki materi baru melalui apersepsi sebagai langkah pemberian motivasi agar siswa terlibat penuh dalam proses pembelajaran
b. Guru menyajikan informasi, baik menggunakan bahan bacaan maupun secara verbal, kemudian siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil
c. Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar dan membagi materi pelajaran pada masing-masing kelompok tersebut untuk dipecahkan bersama
d. Siswa mempelajari materi yang disampaikan dan berdiskusi dengan kelompoknya bila mengalami kesulitan 
e. Guru dan siswa mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah berlangsung
f. Guru memberikan penghargaan terhadap hasil belajar siswa baik secara individu maupun kelompok

Secara umum prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah. Namun terdapat beberapa tipe yang dapat dijadikan pilihan dalam pembelajaran kooperatif ini. Beberapa tipe yang dipandang dapat diterapkan dalam pembelajaran ketrampilan berbicara (kalam) bagi siswa MI antara lain adalah Bertukar Pasangan, Demonstration, Role Play, dan Al-`Ailah As-Sab`ah (Tujuh Keluarga). 

Pada makalah ini, ke empat macam tipe pembelajaran kooperatif tersebut, akan diuraikan secara singkat teknis pelaksanaannya di dalam kelas terkait dengan keberadaannya sebagai sebuah strategi alternatif dalam pembelajaran berbicara (kalam) pada model pembelajaran kooperatif.

a. Pembelajaran Kooperatif tipe Bertukar Pasangan
Salah satu bentuk strategi pembelajaran yang dapat dipergunakan oleh guru dalam melatihkan ketrampilan berbicara (kalam) pada siswa adalah strategi Bertukar Pasangan. Dalam strategi ini siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, bisa dibentuk oleh guru atau siswa mencari sendiri teman kelompoknya. Selanjutnya guru memberikan tugas untuk dikerjakan siswa bersama kelompoknya. Setelah siswa melaksanakan tugas dalam kelompok masing-masing, mereka diminta bertukar pasangan dengan cara pindah ke dalam kelompok yang lain untuk menambah pengalaman belajar.

Adapun langkah-langkah pembelajaran dalam strategi Bertukar Pasangan ini adalah sebagai berikut :
1) Menjelaskan tujuan pembelajaran
2) Membagi siswa secara berpasangan atau siswa mencari sendiri pasangannya
3) Memberikan tugas pada siswa
4) Siswa mengerjakan tugas bersama pasangannya
5) Setelah menyelesaikan tugas dari guru, siswa bergabung dengan sepasang kelompok lain
6) Kedua pasangan tersebut saling bertukar pasangan dan masing-masing pasangan baru tersebut saling menanyakan dan mengukuhkan tugas yang diberikan oleh guru
7) Guru melakukan revleksi dn evaluasi

b. Pembelajaran Kooperatif tipe Demonstration
Bentuk lain dari latihan berbicara yang lazim digunakan di kelas bahasa adalah siswa diminta untuk mendemonstrasikan sebuah dialog dengan tema tertentu. Untuk membantu siswa, biasanya dialog sudah diberikan beberapa waktu sebelumnya sehingga siswa dapat menghafal dialog tersebut di rumah. Untuk lebih menghidupkan suasana sekaligus melatih kemahiran siswa, maka handaknya diupayakan materi diambil dari tema-tema kehidupan sehari-hari siswa.

Adapun langkah-langkah pembelajaran dalam strategi Demonstration ini adalah sebagai berikut :
1) Menyampaikan tujuan pembelajaran
2) Menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan
3) Guru menyiapkan materi yang akan dilatihkan
4) Menunjuk siswa untuk mendemonstrasikan skenario yang telah disiapkan
5) Seluruh siswa memperhatikan demonstrasi dan menganalisa
6) Siswa mengemukakan hasil analisa dan pengamatan
7) Guru membuat kesimpulan

c. Pembelajaran Kooperatif tipe Role Play
Sebagaimana diketahui bahwa tujuan akhir pembelajaran bahasa adalah untuk membantu siswa mampu menggunakan bahasa yang dipelajarinya sebagai alat komunikasi baik secara lisan maupun tertulis. Dalam kaitannya dengan pembelajaran ketrampilan berbicara (kalam), maka tujuan akhir dari pembelajaran ketrampilan ini adalah untuk melatih siswa agar mampu menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi secara lisan.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan tipe Role Play (bermain peran). Dalam tipe ini siswa diminta untuk memerankan satu fungsi tertentu secara berkelompok. Selanjutnya untuk memaknai pembelajaran, maka guru perlu memberi penjelasan terhadap kalimat-kalimat yang dilatihkan dalam permainan peran ini sehingga siswa memperoleh pengetahuan baru dari proses yang mereka jalani. 

Adapun langkah-langkah pembelajaran dalam strategi Role Play ini adalah :
1) Menjelaskan tujuan pembelajaran
2) Menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
3) Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum pembelajaran berlangsung
4) Membentuk kelompok siswa yang beranggotakan + 5 orang
5) Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang hendak dicapai 
6) Memanggil siswa yang telah ditunjuk untuk memerankan skenario yang telah disiapkan
7) Siswa duduk dengan kelompok masing-masing sambil memperhatikan dan mengamati skenario yang sedang diperagakan
8) Setelah peragaan selesai, guru membagikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas hasil pemgamatan
9) Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
10) Guru memberikan kesimpulan secara umum
11) Evaluasi

d. Pembelajaran Kooperatif tipe Al-`Ailah As-Sab`ah (Tujuh Keluarga) 
Kegiatan pembelajaran bahasa yang satu ini lebih bersifat permainan. Kegiatan belajar sambil bermain dipandang sangat berguna selain untuk menghilangkan kejenuhan siswa dan guru, juga menjadi media pemahiran penggunaan bahasa, lisan dan tulisan karena dalam permainan ini pembelajar akan memperoleh kesempatan berkomunikasi antar mereka dalam suasana berkelompok yang alami dan menyenangkan (Kamalie, 2008).

Pembelajaran bahasa Arab dengan media permainan dapat dilakukan baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Karena permainan ini bukan semata-mata untuk bermain, tetapi hanya sebagai media pembelajaran, maka komunikasi dalam permainan tersebut harus menggunakan bahasa Arab. Untuk itu, tentunya ada sejumlah ungkapan yang akan digunakan baik oleh guru maupun oleh siswa.

Di antara permainan yang cukup menarik sebagaimana diungkapkan oleh Nasif Mustafa Abdul Aziz (1983) dalam Kamalie (2008) adalah Al-`Ailah As-Sab`ah (Tujuh Keluarga). Permainan ini tentang tujuh keluarga yang nama anggota keluarganya hampir sama antara yang satu dengan yang lainnya. Yang membedakan adalah usia atau tempat tinggalnya. Alkisah, mereka dahulunya tinggal di satu wilayah, kemudian karena suatu bencana mereka terpisah dan tidak mengenal satu sama lainnya. Tugas para pemain adalah mengumpulkan kembali anggota keluarganya yang terpisah tersebut dengan menggunakan pertanyaan sebagai berikut : 

ما اسمك؟، كم عمرك؟، من والدك؟، من زوجتك؟، أين تسكن؟


Pemain yang berhasil mengumpulkan anggota keluarganya secara lengkap paling dulu, merekalah yang menang dan layak diberi penghargaan.

Adapun langkah-langkah pembelajaran dalam strategi Al-`Ailah As-Sab`ah (Tujuh Keluarga) ini adalah sebagai berikut :
1) Menjelaskan tujuan pembelajaran
2) Menjelaskan tugas yang harus dilakukan siswa
3) Membagikan kartu permainan pada siswa
4) Menugaskan siswa untuk mencari anggota keluarga sesuai yang tertera dalam kartu
5) Kelompok yang telah berhasil menemukan keluarganya berkumpul menjadi satu
6) Kepala keluarga dari masing-masing kelompok memperkenalkan anggota keluarganya
7) Guru melalukan revleksi dan evaluasi

Uraian selanjutnya akan menjelaskan strategi pembelajaran ketrampilan berbicara (kalam) pada model pembelajaran kooperatif dengan penekanan pada pelatihan satu tahap latihan yang ada dalam latihan berbicara (kalam) yaitu latihan percakapan. Adapun implementasi dari latihan-latihan tersebut harus mengacu pada KI dan KD Kurikulum Madrasah 2013 yang ada dalam mata pelajaran bahasa Arab MI. Oleh karena itu, langkah-langkah yang ada pada masing-masing strategi tersebut sangat dimungkinkan mengalami beberapa modifikasi untuk menyesuaikan dengan konteks yang ada, seperti penyesuaian dengan KI dan KD Kurikulum Madrasah 2013, penyesuaian dengan kemampuan siswa, dan yang tidak kalah pentingnya yaitu penyesuaiaan dengan kemampuan guru sendiri selaku fasilitator dalam pembelajaran. 

5. Penerapan dan Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif dalam Pembelajaran Berbicara (Kalam) Melalui Latihan Percakapan
Sebagaimana telah dijelaskan dalam uraian terdahulu, dalam pembelajaran kooperatif aktivitas belajar lebih berpusat pada siswa (student centered), sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan dinamisator. Dengan model pembelajaran kooperatif, diharapkan siswa dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal dengan cara berpikir aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif ini sangat diperlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati oleh guru. Lingkungan belajar perlu diatur sedemikian rupa agar efektifitas kerja kelompok dapat terlaksana dengan baik sehingga tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan dapat tercapai.

Pada sub bab ini, akan diuraikan secara singkat teknis pelaksanaan strategi pembelajaran berbicara (kalam) pada model pembelajaran kooperatif dengan penekanan pada tahapan-tahapan latihan berbicara khususnya pada tahap latihan percakapan. Sedangkan tahapan-tahapan yang lain dibahas pada bab-bab tersendiri.

Dalam praktiknya, latihan percakapan ini terdiri dari beberapa model sebagaimana diungkapkan oleh Effendi (2005), yaitu :
a. Tanya jawab
b. Menghafalkan model dialog
c. Percakapan terpimpin 
d. Percakapan bebas
Blog, Updated at: 04.25

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts