Tujuan dan Dasar Pendidikan Islam

Tujuan dan Dasar Pendidikan Islam 
Dasar nilai-nilai ideal yang menjadi landasan dasar pendidikan Islam haruslah merupakan sumber kebenaran dan kekuatan yang dapat mengantarkan pada aktivitas yang dicita-citakan. Nilai yang terkandung di dalamnya haruslah bersifat universal dan dapat dikonsumsi untuk seluruh aspek kehidupan manusia serta merupakan standar nilai yang dapat mengevaluasi kegiatan yang berjalan. Berkaitan dengan pendidikan Islam maka pandangan hidup yang mendasari seluruh proses pendidikan Islam adalah pandangan hidup yang Islami, yang merupakan nilai-nilai luhur bersifat transendental, eternal, dan universal.

Zulkarnain menyatakan, bahwa apa yang terkandung dalam pendidikan Islam itu dilandasi oleh Al-Qur’an dan Hadits. Sebagaimana diterangkan dalam Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Hakim dari Abu Hurairoh:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتاَبَ اللهِ وَسُنَّتِيْ وَلَنْ يَتَفَرَّقاَ حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ
“Aku telah meninggalkan kepadamu dua perkara, jika kamu berpegang teguh padanya, niscaya kamu tidak akan tersesat setelahku, yaitu Kitab (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya)”

Menurut Hasan Langgulung, sebagaimana dikutip oleh Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, sumber nilai pendidikan yang diakui dalam Islam itu ada enam, yaitu Al-Qur’an, As-Sunah, kata-kata sahabat (madzhab shahabi), kemaslahatan umat atau sosial (maslahah mursalah), tradisi atau adat kebiasaan masyarakat (‘urf), dan hasil pemikiran para ahli dalam Islam (ijtihad). Keenam sumber pendidikan Islam tersebut didudukkan secara hierarkis. Artinya, rujukan pendidikan Islam diawali dari sumber pertama (Al-Qur’an) untuk kemudian dilanjutkan pada sumber-sumber berikutnya secara berurutan.

Al-Qur’an dan Sunnah Nabi merupakan sumber nilai Islam yang utama. Sebagai sumber asal, Al-Qur’an memiliki prinsip-prinsip yang masih bersifat global (ijmali), sehingga dalam proses pelaksanaan pendidikan terbuka adanya ijtihad dengan tetap berpegang pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sumber nilai yang menjadi dasar pendidikan Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang dapat dikembangkan dengan ijtihad, maslahah mursalah, istihsan, dan Qiyas.

Muhaimin membagi dasar pendidikan Islam menjadi dua bagian, yaitu: dasar ideal dan dasar operasional. Dasar ideal, yang dikutip dari Said Ismail Ali, ada enam macam yaitu: al-Qur'an, Sunnah Nabi, Qaul al-Shahabah, kemaslahatan umat, nilai-nilai dan adat kebiasaan masyarakat serta hasil pemikiran para pemikir Islam. Sedangkan dasar operasional pendidikan Islam merupakan landasan yang dijadikan untuk merealisasikan dasar ideal atau sumber pendidikan Islam. Menurut Hasan Langgulung, dasar operasional pendidikan Islam ada enam macam, yaitu historis, sosiologis, ekonomi, politik dan administrasi, psikologis, dan filosofis. Dari keenam dasar tersebut Abdul mujib dan Jusuf Mudzakkir menambahkan satu dasar lagi, yaitu dasar religius atau agama.

a. Dasar historis
Merupakan dasar yang berorientasi pada pengalaman pendidikan masa lalu, baik dalam bentuk undang-undang maupun peraturan, agar kebijakan yang ditempuh masa kini akan lebih baik. Dasar ini juga dapat dijadikan acuan untuk memprediksi masa depan, karena dasar ini memberi data input tentang kelebihan dan kekurangan kebijakan serta maju mundurnya prestasi pendidikan yang ditempuh. Sebagaimana firman Allah: “Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok”

b. Dasar sosiologis
Dasar sosioligis adalah dasar yang memberikan kerangka sosial budaya, yang mana dengan sosial budaya itu pendidikan dilaksanakan. Dasar ini juga berfungsi sebagai tolok ukur dalam prestasi belajar. Artinya, tinggi rendahnya suatu pendidikan dapat diukur melalui tingkat relevansi output pendidikan dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat.

c. Dasar ekonomi
Dasar ekonomi adalah yang memberikan perspektif tentang potensi-potensi finansial, menggali dan mengatur sumber-sumber, serta bertanggung jawab terhadap rencana dan anggaran pembelajarannya. Oleh karena pendidikan dianggap sebagai suatu yang luhur, maka sumber-sumber finansial dalam menghidupkan pendidikan harus bersih, suci, dan tidak bercampur dengan harta benda yang syubhat.

d. Dasar politik dan administrasi
Dasar politik berguna untuk menentukan kebijakan umum dalam rangka mencapai kemaslahatan bersama, bukan kemaslahatan hanya untuk golongan atau kelompok tertentu. Sementara dasar administrasi berguna untuk memudahkan pelayanan pendidikan, agar pendidikan dapat berjalan lancar tanpa ada gangguan teknis dalam pelaksanaannya.

e. Dasar psikologis
Dasar psikologis adalah dasar yang memberikan informasi tentang bakat, minat, watak, karakter, motivasi, dan inovasi peserta didik, pendidik, tenaga administrasi, serta sumber daya manusia yang lain.

f. Dasar filosofis
Dasar filosofis adalah dasar yang memberikan kemampuan memilih yang terbaik, memberi arah suatu sistem, mengontrol, dan memberi arah kepada semua dasar-dasar operasional lainnya.

g. Dasar religius
Dasar religius adalah dasar yang diturunkan dari ajaran agama. Dasar ini menjadi penting dalam pendidikan Islam, sebab dengan dasar ini maka semua kegiatan pendidikan jadi bermakna.

Dari uraian di atas, dapat ditarik sebuah kongklusi bahwa sumber nilai yang menjadi dasar pendidikan Islam adalah al-Qur'an dan Sunnah Nabi serta hasil ijtihad. Di dalam sumber tersebut banyak nilai yang fundamental yang dapat dijadikan dasar pelaksanaan pendidikan Islam, nilai-nilai tersebut adalah tauhid, kemanusiaan, kesatuan umat dan rahmatan lil’alamin.

Tujuan Pendidikan Islam
Bila pendidikan dipandang sebagai proses, maka proses tersebut pastilah akan berakhir pada tercapainya suatu tujuan yang telah direncanakan. Demikian pula dengan pendidikan. Tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu perwujudan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang diinginkan. Nilai-nilai- ideal yang hendak dicapai tersebut perlu dirumuskan dalam bentuk tujuan pendidikan dalam perencanaan kurikulum pendidikan sebagai dasar operasional pelaksanaan itu sendiri.

Pendidikan Islam, sering dikatakan memiliki sasaran dan dimensi hidup, yaitu: penanaman rasa taqwa kepada Allah dan pengembangan rasa kemanusiaan kepada sesamanya. Dalam bahasa Al-Qur’an, dimensi hidup ketuhanan ini juga disebut jiwa rabbaniah atau biasa disebut tauhid rububiyah, yang menegaskan Allah SWT dalam segala perbuatan-Nya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk, memberi rizki, menguasai dan mengatur alam semesta, dan memelihara alam dan isinya, tanpa campur tangan sekutu lain. Adapun wujud nyata substansi jiwa ketuhanan itu adalah nilai-nilai keagamaan yang harus ditanamkan dalam pendidikan. Nilai-nilai keagamaan dimaksud adalah islam, iman, ihsan, taqwa, ikhlas, tawakal, syukur, sabar dan sebagainya. Sedangkan dimensi kemanusiaan yang harus ditanamkan adalah silaturrahmi, persaudaraan, persamaan, adil, baik sangka, rendah hati, tepat janji, dermawan dan lain sebagainya. Dua dimensi yang memiliki nilai-nilai tersebut akan membentuk ketaqwaan dan akhlak yang mulia.

Dari penjelasan itulah dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini. Tujuan yang ingin dicapai oleh Islam dalam aspek pendidikan adalah membina manusia guna mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya dalam hal inilah Quraish Shihab menyatakan:

….manusia yang dibina, yang digambarkan Al-Qur’an adalah makhluk yang memiliki unsur-unsur material (jasmani) dan immaterial (akal dan jiwa). Unsur-unsur itulah yang harus dibina dan dikembangkan. Pembinaan akalnya akan menghasilkan ilmu. Pembinaan jiwanya akan menghasilkan kesucian dan etika. Sedangkan pembinaan jasmaninya akan menghasilkan keterampilan. Dengan menggabungkan unsur-unsur tersebut terciptalah mahkluk dwi dimensi dalam satu keseimbangan dunia dan akhirat, ilmu dan iman. Itu sebabnya dalam pendidikan Islam dikenal istilah adab al-din dan adab al-dunya.

Pada dasarnya tujuan pendidikan Islam mempunyai dua sasaran yang ingin dicapai, yaitu pembinaan individu dan pembinaan sosial sebagai instrumen kehidupan di dunia dan akhirat. Tujuan individu yang ingin diwujudkan adalah pembentukan pribadi-pribadi muslim yang berakhlak, beriman dan bertakwa dalam rangka mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan tujuan sosial adalah membangun peradaban manusia yang Islami serta memajukan kehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam hal ini M. Ridlwan menambahi dengan satu tujuan lagi, yaitu tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagi ilmu, seni, profesi, dan sebagai suatu aktifitas di antara aktifitas-aktifitas masyarakat.

Ahmad Tafsir membagi tujuan pendidikan Islam menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum ialah beribadah kepada Allah, maksudnya membentuk manusia yang beribadah kepada Allah. Selanjutnya ia mengatakan bahwa tujuan umum ini sifatnya tetap, berlaku di segala tempat, waktu, dan keadaan. Tujuan khusus pendidikan Islam ditetapkan berdasarkan keadaan tempat dengan mempertimbangkan keadaan geografi, ekonomi,dan lain-lain yang ada di tempat itu. Tujuan khusus ini dapat dirumuskan berdasarkan ijtihad para ahli di tempat itu.

Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang integral dan berkeseimbangan serta mencakup semua aspek kepribadian manusia. Aspek-aspek yang diperhatikan oleh pendidikan Islam adalah: jasad, akal, akidah, emosi, estetika dan sosial. Karena itu, pendidikan Islam harus diarahkan untuk pengembangan aspek-aspek tersebut kepada hal-hal yang bermanfaat dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, pendidikan Islam ingin membentuk manusia yang menyadari dan melaksanakan tugas-tugas kekhalifahannya serta memperkaya diri dengan khazanah ilmu penegetahuan tanpa mengenal batas. Namun juga menyadari bahwa hakikat keseluruhan hidup dan pemilikan ilmu pengetahuan yang dimaksud tetap bersumber dan bermuara kepada Allah.

Dari beberapa rumusan tujuan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya insan kamil yang di dalamnya memilki wawasan kaffah agar mampu menjalankan tugas-tugas kehambaan, kekhalifahan, dan pewaris Nabi. Tujuan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Terbentuknya insan kamil (manusia universal) yang mempuyai wajah-wajah qur’ani. Rumusan tentang wajah-wajah qur’ani banyak sekali, antara lain:
  1. Wajah kekeluargaan dan persaudaraan yang menumbuhkan sikap egalitarianisme;
  2. Wajah yang penuh kemuliaan sebagai makhluk yang berakal dan dimuliakan;
  3. Wajah yang kreatif yang menumbuhkan gagasan-gagasan baru dan bermanfaat bagi kemanusiaan;
  4. Wajah yang penuh keterbukaan yang menumbuhkan integralisme sistem ilahiyah (ketuhanan) ke dalam sistem insaniyah (kemanusiaan) dan sistem kauniyah (kealaman).
Selain wajah-wajah di atas juga masih banyak wajah-wajah yang lain.

b. Terciptanya insan kaffah, yang memiliki tiga dimensi kehidupan, yaitu dimensi religius, budaya, dan ilmiah.
  1. Dimensi religius, yaitu manusia merupakan makhluk yang mengandung berbagai misteri dan tidak dapat direduksikan kepada faktor materi semata-mata.
  2. Dimensi budaya, manusia merupakan makhluk etis yang mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap kelesatarian dunia seisinya.
  3. Dimensi ilmiah, dimensi yang mendorong manusia untuk selalu bersikap obyektif dan realistis dalam mengahadapi tantangan zaman, serta berbagai kehidupan manusia terbina untuk bertingkah laku secara kritis dan rasional, serta berusaha mengembangkan ketrampilan dan kreatifitas berpikir.
c. Penyadaran fungsi manusia sebagai hamba, khalifah Allah, serta sebagai pewaris para Nabi (warasat al-anbiya’), dan memberikan bekal yang memadahi dalam rangka pelaksanaan fungsi tersebut.

Kaitannya dengan hal ini, maka dalam menciptakan dan mengembangkan sistem pendidikan Islam masa kini dan masa depan harus mengacu pada: pertama, realisasi dan pengembangan komponen manusia yang merupakan resultan dari dua komponen (materi dan immateri). Jadi pendidikan Islam harus dibangun di atas kesatuan (integrasi) antara pendidikan qalbiyah dan aqliyah, sehingga dapat menghasilkan manusia muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral. Namun jika hal ini dipisah-pisahkan, maka manusia akan kehilangan keseimbangan dan tidak akan pernah menjadi pribadi yang sempurna (insan kamil).

Kedua, pengembangan potensi karena (sesuai yang dijelaskan dalam Al-Qur’an) fungsi manusia di alam ini adalah sebagai khalifah dan ‘abd. Maka pendidikan Islam harus berupaya mengarah pada pengembangan potensi yang dimiliki manusia yang dapat diwujudkan dalam bentuk kongkrit, dalam arti berkemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri, masyarakat dan lingkungannya sebagai realisasi fungsi dan tujuan penciptaannya, baik sebagai khalifah maupun ‘abd.

Dapat kita pahami bahwa tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi tujuan itu merupakan keseluruhan dari kepribadian seseorang berkenaan dengan seluruh aspeknya. Berbicara tentang tujuan pendidikan memang tidak akan pernah lepas dari pembahasan mengenai tujuan hidup manusia sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Sebab pendidikan adalah salah satu alat yang digunakan oleh manusia untuk memelihara kelangsungan hidupnya baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Dapat dipahami bahwa suatu tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya adalah suatu perwujudan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia. Karena manusia mempunyai fitrah ingin mengetahui (curiosity) sesuatu yang belum pernah diketahui dan dialami sebelumnya.

Menentukan tujuan memang sangat penting bahkan suatu keharusan. Praktek pendidikan harus mampu mempersiapkan generasi penerus yang mampu menentukan arah hidupnya. Dalam proses pendidikan tujuan akhir merupakan tujuan tertinggi yang akan dicapai. Tujuan akhir pendidikan Islam merupakan kristalisasi dari nilai-nilai ideal Islam yang diwujudkan pada pribadi anak didik. Oleh karenanya, tujuan akhir itu haruslah meliputi semua aspek yang terintegrasi pada pola kepribadian yang ideal.

Selain itu pendidikan Islam juga mempunyai target, yaitu konvergensi antara ilmu pendidikan duniawi dan ukhrawi secara seimbang. Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan balance atau keseimbangan antara interaksi horizontal (antara sesama makhluk) dan interaksi vertikal (antara makhluk dan Tuhannya). Hal ini telah terekam dalam firman Allah QS. Al-Qashas:77:
وَابْتَغِ فِيْمَا ءَاتَيكَ اللهُ الدَّارَ اْلأَخِرَةَ صلى وَلاَ تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا صلى وَاَحْسِنْ كَمَا اَحْسَنَ اللهُ اِلَيْكَ صلى
“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan, berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu . . .”

Dalam konsepsi Islam, pendidikan berlangsung sepanjang hayat (longlife education). Oleh karena itu, tujuan akhir pendidikan harus terefleksi sepanjang kehidupan manusia. Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam pada dasarnya sejajar dengan tujuan hidup manusia dan peranannya sebagai makhluk ciptaan Allah.

Pola Pembelajaran pada Masa Rasulullah SAW
Islam memberikan isyarat pembelajaran pada manusia berupa dasar tatanan kehidupan yang universal, pengajaran, pembentukan moral, cerita umat dahulu, dasar agama serta syariat bagi kehidupan, serta memberi isyarat tentang sistem pendidikan yang akan membimbing manusia untuk berpikir logis yang diwujudkan dalam tindakan etis. Ini merupakan tujuan (hadf) utama dan universal pendidikan dan pengajaran yang dipegangi sepanjang masa sejak awal mula Muhammad diangkat jadi Nabi dan Rasul. Fungsi Rasul dimata umatnya sebagai pemimpin sekaligus guru besar tempat mengadu dan mencari pemecahan segala permasalahan.

Rasulullah SAW adalah seorang guru besar yang harus diikuti dan dicontoh. Oleh karena itu, jika kita berposisi sebagai seorang pengajar, di dalam hati kecil pasti terbersit sebuah keinginan agung nan mulia untuk mencerdaskan anak bangsa. Hal ini terilustrasikan dengan keinginan sukses dalam mengajar, dan materi yang diajarkan bisa dipahami dengan baik oleh semua peserta didik. Selain itu, ilmu yang disampaikan oleh seorang guru diharapkan bisa bermanfaat bagi masa depan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari mereka, baik ilmu umum, terlebih ilmu agama.

Rasulullah SAW diutus untuk membenahi, menyempurnakan, dan menyebarkan norma dan nilai-nilai kehidupan yang mulia kepada umat manusia di muka bumi. Beliau menjadi utusan Allah hanya dalam tempo yang relatif singkat, 23 tahun. Namun, dalam tempo sesingkat itu, beliau mampu mencetak dan melahirkan puluhan ribu orang yang menjadi pemimpin tangguh yang disegani dan ditakuti. Beliau juga mampu menghadirkan sesuatu yang teramat besar untuk kesejahteraan manusia. Hal seperti itu tidak pernah tercatat dalam sejarah, seorang pendidik yang sanggup melahirkan banyak tokoh besar.

Berangkat dari asumsi bahwa fungsi agama juga mencakup fungsi pendidikan, maka cara dan sikap Rasul menyampaikan pesan agama seperti itulah sikap guru atau pendidik dalam menyampaikan pesan pendidikan kepada peserta didik. Terdapat beberapa isyarat al-Qur’an – sebagai pedoman umat Islam – terkait tata cara menyampaikan pesan terhadap peserta didik. pertama, guru bersikap konsisten antara ucapan dan perbuatan, serta menjadi panutan peserta didiknya. Kedua, guru tidak menyembunyikan pengetahuan (ilmu) kepada peserta didik dan tidak menolak bagi yang mau belajar kepadanya. Ketiga, guru harus bersikap ramah dan familier terhadap peserta didik, seperti sikap bapak terhadap anak. Keempat, guru tidak menggunakan paksaan dalam mengajar, tetapi melalui proses kesadaran yang sesuai dengan jiwa dan akal peserta didik. Kesadaran untuk menerima ilmu sama halnya dengan menerima keyakinan yang tidak boleh dipaksakan. Kelima, guru harus menunjukkan sikap tamak terhadap ilmu, yang dibuktikan dengan kegemaran membaca, menelaah, meneliti, dan mengkaji. Keenam, guru harus bersikap rendah hati (tawadhu’) terhadap peserta didik, karena Allah akan mengangkat derajat orang yang alim dan rendah hati. Ketujuh, guru harus bersikap sabar dalam mengajar, karena jika belajar saja dikategorikan ibadah, apalagi mengajar orang yang belajar akan jauh lebih terhormat kedudukannya. Kesabaran guru dalam mengajar akan dicontoh oleh peserta didik dalam belajar. Dan kedelapan, guru harus memperhatikan kemampuan dasar peserta didik, sehingga ilmu yang disampaikan sesuai dengan kemampuannya. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Allah menyuruh Nabi-Nya untuk memberikan maaf atas perilaku manusia yang belum mengerti”. (HR. Bukhari)

Rasulullah melakukan pendidikan pada masyarakat saat itu, dengan cara melakukan Pendidikan Islam (Tarbiyah Islamiyah), berikut adalah pendidikan pola Rasulullah tersebut:

a. Menanamkan Aqidah (menanamkan ketauhidan)
Langkah pertama dalam mendidik, Beliau menanamkan makna Laa Ilaha Ilallah (tiada Tuhan selain Allah). Kurang lebih 13 tahun Rasulullah menanamkan aqidah atau ketauhidan ini. Untuk membangun pondasi yang kuat tentang tertanamnya kalimat Laa Ilaha Ilallah, menanamkan keyakinan (keimanan) bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah. Ibarat sebuah bangunan, keimanan ini adalah sebagai pondasinya. Jika pondasinya kuat, maka bangunan di atasnya pun kuat, sehingga atap pun tidak mudah roboh. Keimanan tentang bahwa apa yang terjadi di muka bumi ini, adalah kehendak Allah. Dengan kekuatan keimanan, sehingga tidak memiliki kelemahan jiwa, yang mengakibatkan mudahnya terpuruk atas musibah atau ujian yang menimpanya, karena berkeyakinan semua itu datangnya dari Allah, maka bersolusi mengatasi masalahnya pun bermohon pada Allah, untuk mengangkat ujian atau musibah yang Allah berikan ini, dengan mengembalikan, berserah diri dan beristigfar kepada-Nya.

b. Akhlakul Karimah (akhlak mulia)
Alkisah, ketika Syaidina Abu Bakar bertandang ke rumah putrinya Aisyah, setelah meniggalnya Rasulullah SAW, Syaidina Abu Bakar bertanya kepada Aisyah Radiallahuanha, ”Tunjukkan sesuatu kepadaku Aisyah, yang belum pernah Aku lakukan sementara Rasulullah melakukannya.” Aisyah Ibunda amirul mukminin menjawab, ”Rasulullah selalu melakukan memberi makan seorang buta yang berdiri di pinggir jalan.” Selanjutnya, Abu Bakar pun melakukan memberi makan seorang buta di pinggir jalan itu. Saat itu seorang buta bertanya, ”Sepertinya Anda bukan orang yang biasa memberi makan kepadaku?”. Syaidina Abu Bakar menjawab, ”Iya benar, saya bukan orang itu, Beliau itu adalah Rasulullah yang selalu engkau hardik, kini Beliau sudah tiada.” Seorang buta pun hendak masuk Islam, ”Bimbing aku mengucap dua kalimah syahadat.” Dampak dari akhlakul karimah Rasulullah, sangat begitu mudah mempengaruhi, sehingga meluluhkan hati si penghardik. Dengan memberi contoh atau mengaplikasikan langsung dari ahklak yang mulia, terbukti lebih efektif untuk mengajarkan kepada masyarakat tentang akhlak mulia tersebut.

c. Memperluas wawasan
Rasulullah SAW pun mengajarkan kita untuk berkreasi. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam rangka berkreasi ini, untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan kenyamanan kehidupan ini, sehingga memperluas wawasan di bidangnya. Salah satu contohnya tentang semakin majunya perkembangan dunia teknologi informasi, sehingga pengguna (user) begitu mudah dan efektifnya mendapatkan informasi. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk berkreasi di dunia teknologi informasi ini, seperti berdakwah online, berarti sangat harus untuk dikuasai. Alkisah, Rasulullah pernah salah (kurang tepat) dalam mencangkok kurma, alhasil cangkok kurma Rasulullah menghasilkan panen yang lebih sedikit dibanding hasil cangkok kurma dari sahabatnya, Rasulullah pun bersabda, ”Engkau lebih mengetahui tentang urusan duniamu.” Rasulullah juga mengajarkan umatnya untuk terus menuntut ilmu, sudah termasyur sabdanya, ”Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.” Kenapa negeri Cina? Saat itu negeri Cina sudah termasyur dengan ilmu dagangnya. Berarti, tidak hanya ilmu akhirat saja, ilmu dunia pun harus dipelajari, untuk kesejahteraan dan menambah kenikmatan berkehidupan di dunia.

Menurut Aminah, dalam menyampaikan wahyu, Rasulullah di samping seorang Nabi, Beliau juga sebagai pengajar (mu’allim) yang menggunakan pola atau prinsip sebagai berikut:

Pertama, pengajarannya bersifat umum. Islam adalah agama bagi seluruh manusia, maka proses pendidikan dan pengajaran yang terikat dengan waktu dan tempat, harus bersifat umum yang dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dan bersifat universal. Maka hal ini mengisyaratkan tiga hal yaitu: kesempatan kepada seluruh manusia untuk merasakan rahmat dan petunjuk yang diberikan oleh Tuhan, memberikan kesempatan kepada individu untuk mengecap ilmu sesuai dengan kemampuannya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan sebagai media pengikat hati manusia sehingga terhindar dari rasa dengki dan benci terhadap sesamanya, sehingga ajaran monoteis tersebut diharapkan sebagai patri atas keberagaman pengajaran dan budaya berdasarkan atas rasa persamaan dan keadilan universal sesama manusia.

Kedua, pengajaran dan dakwah bersifat alamiah. Dalam dunia pendidikan, alam merupakan salah satu faktor dalam proses belajar mengajar. Ajaran Islam adalah ajaran ’samawi’ yang diturunkan dengan menggunakan bahasa dan budaya Arab untuk memudahkan penyampaian risalah tersebut. Oleh karena itu, dakwah atau pengajaran Islam bukan saja bersifat umum, tetapi tujuannya pun untuk alam secara utuh. Keberhasilan dakwah atau pengajaran tidak lepas dari dua faktor, yatiu umumiyah dan alamiyah, sehingga risalah Muhammad dapat diterima oleh seluruh lapisan manusia pada setiap waktu dan generasi yang tidak dibatasi oleh tempat dan strata sosial.

Disamping itu, ada beberapa ciri menonjol pembelajaran atau dakwah yang dilakukan Rasulullah saw, diantaranya: pertama, berdasarkan pada kemudahan (al yasr), kesederhanaan (al basathah), dan kontinuitas (al tadarruj). Secara psikologis, pemberian maklumat yang dilakukan secara gradual, rutin dan kontinu lebih baik daripada secara spontan di luar batas kemampuan psikologi peserta didik, sebagaimana dalam firman Allah:

Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar)

Prinsip pewahyuan tersebut, dalam teori pendidikan ditetapkan sebagai proses penyampaian ilmu kepada peserta didik dengan memperhatikan didaktik-metodiknya, seperti pengajaran dimulai dari yang mudah menuju kepada yang lebih susah, perpindahan dari jenjang paling rendah, ringan dan sederhana menuju jenjang yang di atasnya, dari gradual ejaan dan bacaan menuju pembuatan bab dan kitab secara utuh, dan memperhatikan perbedaan kemampuan di antara individu peserta didik.

Ciri yang kedua, adalah menekankan pada nilai moral (sulukiyah). Kehidupan masyarakat jahiliyah yang mengalami dekadensi moral luar biasa merupakan tugas utama bagi Rasul yang harus termuat dalam pengajaran dan pembelajaran. Upaya yang dilakukan oleh Rasulullah dalam mengubah perilaku masyarakat jahily, badawi (nomaden), tidak lepas dari upaya pendidikan yang didasarkan pada nilai fitrah ilahi yang berasaskan hikmah, kesungguhan dan sistematis. Upaya perubahan perilaku yang telah turun-temurun, tidaklah mudah dilakukan. Usaha tersebut harus menyentuh tiga aspek, yaitu aspek kognitif atau intelektual (ma’rify), aspek afektif atau psikologi (wijdany/thabi’iy), dan aspek psikomotorik atau perilaku (infi’aly). Keberhasilan dakwah Rasulullah dalam menyebarkan Islam juga tidak lepas dari ketiga aspek tersebut.

Ketiga, bersifat seimbang (tawazun) dan komprehensif (syumuliyah) yang berlaku untuk semua tatanan kehidupan. Yang dimaksud keseimbangan di sini adalah pendidikan dan pengajaran yang kemudian diwujudkan dalam tindakan etis yang mencakup kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan akhirat adalah bentuk pertanggungjwaban dari kehidupan dunia ini. Namun demikian, pencari kebahagiaan akhirat bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi seimbang sesuai dengan proporsi kebahagiaan yang ingin dicapai. Sedangkan yang dimaksud dengan komprehensif adalah menyentuh semua aspek perkembangan manusia baik secara biologis maupun sosiologis, yaitu melalui proses penciptaan, proses perkembangan dan masa depannya yang ditimbulkan dengan istilah al-hayah, al-maut, dan al-ba’ts. Dengan menggunakan tiga pendekatan ini, Tuhan mengajari manusia melalui Rasul-Nya bagaimana manusia diciptakan dan bagaimana berkembang.

Dari uraian di atas, jika dikembalikan kepada konsep pendidikan karakter, dapat diketahui bahwa pola pembelajaran pada masa Rasulullah dapat disederhanakan. Dari sisi pengajar, bahwa pendidik atau guru harus bersikap, pertama, konsisten antara ucapan dan perbuatan dan juga terhadap teks yang diajarkan, jujur, selalu memperhatikan kemampuan peserta didik, karena mereka diasumsikan masih dasar dan pemula. Kedua, familier, mengedepankan kesadaran dengan memberikan dorongan semangat untuk mencapai sesuatu. Hal ini diasumsikan bahwa peserta didik adalah mereka yang telah dewasa. Ketiga, rendah hati, mengedepankan sikap toleran, tulus dan sabar. Hal ini diasumsikan bahwa peserta didik adalah mereka yang telah mapan dan matang jiwanya.

Dari segi strategi, pembelajaran harus berangkat dari kondisi yang nyata (empirik), mudah diterima, menuju kepada logika dan berakhir pada nilai atau moral yang dikehendaki untuk memenuhi kebutuhan kehidupan manusia, baik dari segi jasad, akal maupun hati atau ruh. Dari sistem dan strategi tersebut, pendidikan masa ini tidak hanya disampaikan secara formal dan klasikal, tetapi juga bersifat informal.
Blog, Updated at: 23.57

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts