Berlakunya Bahasa Jawa Kuna Dan Munculnya Sastra Jawa Kuna

Berlakunya Bahasa Jawa Kuna Dan Munculnya Sastra Jawa Kuna 
Yang dimaksudkan sastra Jawa Kuna adalah karya sastra Jawa yang menggunakan bahasa yang dikategorikan sebagai bahasa Jawa Kuna dan bahasa Jawa Pertengahan. Secara administratif, peninggalan dari jaman Jawa Kuna yang menggunakan bahasa Jawa Kuna, yang ditemukan paling tua adalah prasasti Sukabumi yang menurut penanggalannya bertepatan dengan tanggal 25 maret tahun 804. Meskipun berupa bukti ex silentio, yakni bukti bisu tanpa penjelasan lain, namun tanggal inilah yang oleh Zoetmulder (1983: 3) dianggap sebagai tonggak yang mengawali sejarah bahasa Jawa Kuna. 

Dalam hal karya sastranya, di antara bahasa-bahasa Nusantara, bahasa Jawa memiliki kedudukan yang istimewa, karena memiliki peninggalan yang tertua di antaranya. Bila bahasa Melayu, Aceh, Batak, Minangkabau, Sunda, Bugis dan Bali, memiliki peninggalan karya sastra tertua dengan angka tahun sekitar tahun 1600-an, sastra dalam bahasa Jawa Kuna sebagian berasal dari abad ke-9 dan ke-10. Ciri yang menonjol dalam bahasa Jawa Kuna adalah banyaknya kosa kata yang berasal dari bahasa Sansekerta. Menurut perkiraan Gonda, puisi Jawa Kuna yang disusun dalam metrum-metrum India (kakawin) mengandung kurang lebih 25 persen sampai 30 persen kesatuan kata yang berasal dari bahasa Sansekerta. Namun demikian, secara umum bahasa Jawa Kuna tetap mempertahankan struktur yang berciri bahasa Nusantara (Zoetmulder, 1983: 8-9). Seperti diketahui bahwa struktur bahasa Sansekerta itu bersifat fleksi, yakni dalam hubungannya dengan waktu kejadiannya dan pelakunya mengalami perubahan-perubahan kata kerja dan kata benda, seperti halnya dalam bahasa-bahasa Indo-Eropa (Jerman, Inggris, dsb). Sedang bahasa-bahasa Nusantara bersifat aglutinasi, yakni sekedar merangkai kata dengan mengurutkan saja. 

Akhir masa berlakunya bahasa Jawa Kuna (dan Jawa Pertengahan), dalam bentuk percakapan, ditandai oleh runtuhnya Majapahit dan mulai masuknya pengaruh Islam. Pada tahun 1512, kerajaan Daha mengirimkan perutusan ke pihak portugis. Kerajaan ini masih merupakan kerajaan Hindu-Jawa, namun beberapa saat kemudian kerajan ini lenyap. Tinggallah kerajaan kecil diujung pulau Jawa yakni di Blambangan yang masih merupakan kerajaan Hindu Jawa. Pada akhir abad ke-17 kerajaan itu pun musnah dan digantikan oleh penguasa-penguasa Islam. Ini menandakan tamatnya sastra Jawa Kuna yang selama enam abad mewujudkan kebudayaan Hindu Jawa. 

Sejak runtuhnya Majapahit dan peralihan agama Hindu ke agama Islam terdapat ceritera-ceritera legendaris betapa berbagai buku-buku peninggalan Hindu Jawa dimusnahkan dan dibakar. Namun demikian masih ada beberapa buku yang tertinggal hingga saat ini, seperti cerita wayang Mahabharata dan Ramayana yang masih juga bertahan hingga kini. Dari sisi sastra tertulis memang hanya sedikit hasil karya sastra Hindu Jawa yang tersisa, antara lain syair Jawa Kuna Ramayana dan Arjunawiwaha. Bersyukurlah di Bali, kraton-kraton dan kasta Brahmin menjadi pelindung setia bagi warisan sastra Jawa Kuna (Zoetmulder, 1983: 25). 

Hasil-hasil Karya Sastra Jawa Kuna dan Jawa Pertengahan
Poerbatjaraka dalam bukunya Kapustakan Djawi (1952 atau 1964) membagi khasanah sastra Jawa Kuna setidak-tidaknya menjadi lima bagian, yakni (1) kitab-kitab yang tergolong tua dan berbentuk prosa, (2) kitab-kitab yang menggunakan puisi kakawin, (3) kitab-kitab yang termasuk muda, (4) kitab-kitab yang menggunakan bahasa Jawa Tengahan berbentuk prosa, dan (5) kitab-kitab yang berbentuk kidung (Puisi Jawa Pertengahan). 

Dalam buku Kapustakan Djawi tersebut karya-karya sastra Jawa Kuna yang berbentuk prosa golongan tua yakni: Serat Candakarana, Serat Ramayana, Sang Hyang Kamahayanikan, Brahmandapurana, Agastyaparwa, Uttarakanda, Adiparwa, Sabhaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Asramawasanaparwa (dalam buku Kalangwan karya Zoetmulder dituliskan berjudul Asramawasaparwa), Mosalaparwa, Prasthanikaparwa, Swargarohanaparwa, dan Kunjarakarna. Sedang karya-karya yang berbentuk kakawin yakni: Arjunawiwaha, Kresnayana, Sumanasantaka, Smaradahana, Bhomakawya (Bhomantaka), Bharatayudha, Hariwangsa, Gatotkacasraya, Wrettasancaya (Cakrawaka-duta), dan Lubdhaka (Siwaratrikalpa). 

Kitab-kitab parwa adalah kitab-kitab berbentuk prosa Jawa Kuna yang merupakan bagian-bagian dari epos panjang Mahabharata. Kitab-kitab parwa, dalam Kapustakan Djawi di atas dimasukkan golongan tua. Dalam Kalangwan, pada bagian sastra parwa juga dibahas kitab Uttarakanda yang oleh Zoetmulder (1983: 97) dipandang mirip dengan kitab-kitab parwa, baik dalam caranya bahan dibahas, dalam bahasa maupun gayanya. Zoetmulder menyebut bahwa dari bagian mukadimahnya Uttarakanda mungkin ditulis pada abad ke-10. Dengan demikian mungkin yang terakhir ini dapat juga diklasifikasikan sebagai kitab Jawa Kuna golongan tua.

Adapun karya-karya yang digolongkan karya Jawa Kuna muda adalah bentuk-bentuk kakawin yang mencakup: Brahmandapurana, Kunjarakarna, Nagarakretagama, Arjunawijaya, Sutasoma atau Purusadasanta, Parthayadnya, Nitisastra, Nirathaprakerta, Dharmasunya, dan Harisraya. 

Zoetmulder ( 1983: 480-507) juga membicarakan kakawin-kakawin yang disebutnya sebagai kakawin minor, yakni kakawin-kakawin yang muncul belakangan, waktu penulisannya sekitar akhir kerajaan Majapahit hingga abad ke-19, yang mutunya relatif kurang atau rendah. Kakawin yang dimaksud antara lain Subhadrawiwaha, Abhimanyuwiwaha, Hariwijaya, kisah-kisah tentang Krsna, dan Narakawijaya.

Hasil-hasil karya sastra jenis prosa yang menggunakan bahasa Jawa Tengahan adalah : Tantu Panggelaran, Calon Arang, Tantri Kamandaka, Korawasrama, dan Serat Pararaton. Sedang yang berbentuk kidung (puisi Jawa Pertengahan), adalah: Dewa Ruci, Serat Sudamala, Serat kidung Subrata, Serat Panji Angreni, dan Serat Sri Tanjung. Di samping itu, dalam Kalangwan masih tercatat Kidung Harsawijaya, Ranggalawe, Sorandaka, Kidung Sunda, dan Waseng (Sari). 

Dari segi substansinya, karya-karya berbahasa Jawa Kuna pada umumnya banyak berisi cerita-cerita kepahlawanan yang berasal dari India, terutama yang bersumber dari Mahabharata dan Ramayana. Sedangkan karya-karya berbahasa Jawa Pertengahan, sebagiannya telah berlatar situasi dan kondisi di Jawa, atau bahkan sebagiannya berhubungan dengan realita sejarah di Jawa ketika itu.

Cara Penentuan Umur Karya Sastra Jawa Kuna 
Dalam karya sastra Jawa Kuna, tidak pada setiap karya, di dalamnya dituliskan siapa pengarangnya dan kapan dituliskannya. Oleh karena itu untuk menentukan umur karya sastra harus dengan cara-cara tertentu.

Poerbatjaraka (1964: 38) dalam membicarakan karya-karya yang termasuk karya Jawa Kuna golongan muda, umurnya ditentukan dengan ciri-ciri yang ditetapkan dari : 
  1. Nama raja pelindung dan dalam hubungannya dengan tulisan-tulisan lainnya, seperti tulisan pada batu tertentu, 
  2. Masa tertentu atau angka tahun tertentu, 
  3. Ciri kebahasaan tertentu, 
  4. Karya Jawa Kuna yang menjadi babon atau sumbernya, bila ada, 
  5. Menceritakan keadaan di Tanah Jawa. 
  6. Untuk kriteria nomor 4 dan 5 di atas, tidak ada pada karya sastra yang digolongkan sebagai karya Jawa Kuna tua. 
Khusus dalam Wirataparwa, Zoetmulder (1983: 110) mengutip bagian akhir dari Wirataparwa, yang berisi hal yang tidak ditemukan dalam kitab parwa yang lain, yakni kejelasan cara menuliskan penanggalan. Penanggalan itu terdapat dalam dialog antara tokoh Waisampayana dengan raja Janamejaya, yang terjemahannya sebagai berikut. “….Kita mulai membaca cerita ini pada hari ke-15 bulan gelap, dalam bulan Asuji, harinya Tungle, Kaliwon, Rabu pada wuku Pahang, dalam tahun 918 penanggalan Saka. Dan sekarang ialah Mawulu, Wage, Kamis dalam wuku Madangkungan, pada hari ke-14 paro petang dalam bulan Karttika. Jadi waktunya genap satu bulan kurang satu hari. Pada hari kelima Baginda tidak menitahkan diadakannya suatu pertemuan, karena Baginda terhalang oleh urusan lain. Menterjemahkan cerita ini ke dalam bahasa Jawa Kuna minta waktu cukup banyak. Duli mengharapkan, agar pembawaan tidak melampaui kesabaran Baginda dan tidak dianggap terlalu panjang.”. Menurut catatan Zoetmulder, tanggal tersebut di atas bertepatan dengan tanggal 14 Oktober sampai 12 Nopember tahun 996. 

Adapun dalam Adiparwa, Bhismaparwa, dan Uttarakanda, pada mukadimahnya dilengkapi dengan menyebut raja pelindung, yakni Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa. Dengan demikian kitab-kitab parwa tersebut mungkin ditulis pada akhir abad ke-10 (Zoetmulder, 1983: 111), yakni pada masa hidupnya raja Sri Dharmawangsa Teguh. 

Metrum Sastra Kakawin dan Kidung
Istilah kakawin berasal dari metrum-metrum di India, sedang istilah kidung bersifat Jawa asli. Kata kawi berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ‘seorang yang mempunyai pengertian yang luar biasa, seorang yang bisa melihat hari depan, seorang bijak’. Dalam tradisi Jawa Kuna istilah kawi lalu berarti ‘seorang penyair’. Sufiks ka- -n pada kakawin berasal dari bahasa Jawa asli, sehingga kakawin merupakan istilah belasteran, yang berarti ‘karya seorang penyair, syairnya’. Dengan demikian istilah kakawin dalam bahasa Jawa Kuna padanannya dalam bahasa Sansekerta adalah istilah kawya (Zoetmulder, 1983: 119-120).

Pada umumnya, atau perkecualiannya hanya sedikit, kaidah-kaidah metris yang berlaku pada kakawin sama dengan kaidah-kaidah yang berlaku bagi persajakan kawya dalam bahasa Sansekerta. Kaidah itu dapat dirumuskan sebagai berikut.

Metrum kakawin disebut wrtta, yakni variasi penempatan guru dan laghu. Adapun yang disebut guru adalah:
  1. Suku kata terbuka bervokal panjang
  2. Vokal rangkap, atau vokal e atau o
  3. Suku kata terbuka bervokal pendek yang diikuti konsonan rangkap
  4. Suku kata terteutup.
Selain keempat poin tersebut disebut laghu. 

Adapun aturan atau metrum kakawin pada umumnya ditentukan sebagai berikut.
  1. Sebuah bait terdiri atas empat baris, kecuali jenis kakawin yang disebut Wisama, yang hanya terdiri atas 3 baris saja.
  2. Masing-masing baris meliputi jumlah suku kata yang sama, disusun menurut pola metris yang sama. Jumlah suku kata setiap baris kakawin disebut chanda.
  3. Kuantitas setiap suku kata, panjang atau pendeknya, atau guru dan laghunya ditentukan oleh tempatnya dalam baris serta syarat-syaratnya.
  4. Suku kata dianggap pendek (laghu) bila merupakan suku kata terbuka dengan diakhiri oleh bunyi vokal a, i, u, dan ê. 
  5. Suku kata dianggap panjang (guru) bila mengandung sebuah vokal panjang (ä, ï, ü, ö, e, o, dan ai)
  6. Suku kata juga dianggap panjang (guru) bila sebuah vokal pendek disusul oleh lebih dari satu konsonan.
  7. Suku kata terakhir dalam setiap baris dapat bersifat panjang atau pendek (anceps). 
  8. Aneka macam pola metrum kakawin Jawa Kuna memiliki namanya masing-masing. 
  9. Metrum-metrum kakawin tidak mengenal persajakan apapun.
Sebagai contoh metrum Prthw[U1] ïtala (dari Bhäratayuddha (10.12) sebagai berikut.

Mulat mara sang Arjunäsêmu kamänusan kasrêpan ri tingkah i musuh nira n pada kadang taya wwang waneh hana pwa ng anak ing yayah mwang ibu len uwanggêh paman makädi nrpa Salya Bhïsma sira sang dwijanggêh guru Pola metrisnya dapat digambarkan sebagai berikut.

È-È ½ ÈÈ- ½ È-È ½ ÈÈ- ½ È-- ½ ÈÈ/-   .

Tanda È menandakan suku kata pendek (laghu), sedang tanda - menandakan suku kata panjang (guru). Pada akhir baris, tanda È- berarti boleh pendek atau panjang. Tanda ½ pada setiap tiga suku kata hanya dipakai agar jelas, dan pada metris India setiap tiga suku kata ditandai oleh satu huruf Devanagari tertentu.

(Terjemahannya: ‘Ketika Arjuna melihat sekelilingnya ia nampak terharu sekali, iba dan sedih, karena semua musuh itu termasuk kaum kerabatnya, tak ada satu orang asing di antara mereka. Ada saudara sepupu, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu, lagi pula paman-pamannya, terutama Salya, kemudian Bhisma (dan Drona), sang brahmin, yang pernah menjadi gurunya’)

Biarpun satu bait saja dapat disebut kakawin, misalnya sajak cinta yang hanya satu bait saja, namun kebanyakan kakawin terdiri atas beberapa bait yang berturut-turut memakai metrum yang sama sehingga membentuk sebuah pupuh tertentu. Setiap pupuh dibedakan menurut variasi dalam metrumnya. Tidak ada ketentuan berapa jumlah bait dalam satu pupuh. Juga tidak ada ketentuan yang menghubungkan antara tema tertentu dengan sifat metrum tertentu (Zoetmulder, 1983: 121-122).

Kaidah kakawin di atas, kadang terdapat kekecualian. Kadang-kadang baris-baris ganjil (1 dan 3) berbeda dengan baris genapnya (2 dan 4). Dalam hal ini sering terjadi penambahan satu suku kata pada baris genapnya. Seperti pada metrum Waitälïiya, sebagai berikut.

ÈÈ- ½ ÈÈ- ½ È-È ½È/-
ÈÈ- ½ -ÈÈ ½ -È- ½ ÈÈ/-
ÈÈ- ½ ÈÈ- ½ È-È ½È/-
ÈÈ- ½ -ÈÈ ½ -È- ½ ÈÈ/-

Dalam metrum ini setelah suku kata ke tiga pada baris ke-2 dan ke-4, disisipkan tambahan satu suku panjang. 

Disamping itu kadang terdapat metrum Indrabajra dan Upendrabajra, dengan jumlah suku kata yang sama tetapi pola metrumnya berbeda, terpadu dalam kuartren yang sama. Misalnya dalam Sumanasantaka, Canto (pupuh) 170. Metrumnya sebagai berikut.

-È- ½ --È ½ È-È ½ -È/-
È-È ½ --È ½ È-È ½ -È/-

Ada lagi metrum Wisama yang memiliki kategori tersendiri, yakni terdiri atas tiga baris per bait, masing-masing dengan panjang yang berbeda. Misalnya dalam Udgatawisama, dengan pola sebagai berikut.

ÈÈ- ½ È-È ½ÈÈ- ½ ÈÈÈ ½ ÈÈÈ ½ -È- ½ÈÈ/-
-ÈÈ ½ ÈÈȽÈ-È ½ÈÈ/-
ÈÈ- ½ È-È ½ÈÈ- ½ È-È ½È/-

Akhirnya yang juga spesifik adalah metrum Dandaka. Di sini hampir tidak lagi dapat dikatakan sebagai bait. Sesudah 6 suku kata pendek yang mengawali setiap baris, disusul serangkaian anapaes (ÈÈ-) atau amphimacer (-È-) dan pola ini diulang sampai empat kali: 

ÈÈÈ ½ ÈÈÈ ½n (-È-)     } 4 X

Besarnya angka n berbeda-beda menurut tipe Dandaka yang bersangkutan, dan dapat mencapai angka 40 lebih.

Di India, buku-buku pegangan mengenai prosodi atau ilmu persajakan seperti dalam kakawin, disebut chandahsastra. Mpu Tanakung dalam karyanya Wrttasancaya (Cakrawaka-duta) menyatakan bermaksud menulis berdasarkan chandahsastra India. Yang dimaksud chanda ternyata bukan pola metris, tetapi hanya jumlah suku kata tiap baris, sebagai berikut.
ukta adalah              1 suku kata dalam satu baris
atyukta                   2 suku kata dalam satu baris
madhyama              3 suku kata dalam satu baris
pratistha                 4 suku kata dalam satu baris
supratistha              5 suku kata dalam satu baris
gayatri                    6 suku kata dalam satu baris
usnih                     7 suku kata dalam satu baris
anustubh                8 suku kata dalam satu baris
brhati                     9 suku kata dalam satu baris

pangkti 10 suku kata dalam satu baris, dan seterusnya, secara urut sebagai berikut. 11 suku kata adalah tristapa, lalu jagati, lalu atijagati, sakwari, atisakwari, asti, atyasti, dhrti, atidhrti, krti, prakrti, akrti, wikrti, sangskrti, abhikrti, dan 26 suku kata adalah wyukrti.

Lalu Tanakung juga membahas wrtta, yakni mengenai tempat dan penyusunan suku kata panjang dan yang pendek (guru-laghu). Istilah wrtta menunjukkan metrum yang ditentukan oleh pembagian kuantitas dalam setiap baris. Chanda yang sama dapat meliputi bermacam-macam wrtta yang berbeda-beda. Misalnya sama-sama gayatri (6 suku kata tiap baris) namun pola aturan panjang pendeknya bisa berbeda-beda.

Untuk menjelaskan hal di atas, Tanakung menyusun cerita dalam bentuk kakawin berjudul Wrttasancaya, yang terdiri atas sejumlah bait dan tiap baitnya menggunakan metrum yang berbeda. Nama metrumnya dituliskan pada baris terakhir. Contohnya metrum Bhramarawilambita, sebagai berikut. 
yasa malango hineduk
racana nikang talaga
kusuma katangga sunar
bhramarawilambita ya

Metrum tersebut 8 suku kata disebut Anustubh, polanya È È È ½ È - È ½ È È/-. Dari baris terakhir dapat diketahui bahwa nama metrumnya adalah Brahmarawilambita (lebah bergantung).

Zoetmulder (1983: 131), mencatat bahwa terdapat perbedaan besar antara praktik dalam puisi Jawa Kuna dengan praktik dalam puisi di India, terutama dalam penggunaan nama-nama metrum favorit. Ada beberapa nama metrum Jawa Kuna yang tidak terdapat di India. Perbedaan yang paling menyolok, ialah jumlah metrum yang paling populer dalam tradisi Jawa Kuna, tidak terdapat dalam tradisi kepenyairan India. Dalam tradisi kepenyairan Jawa Kuna terdapat metrum utama, yakni metrum Jagaddhita (23 suku kata) yang terdapat dalam setiap kakawin. Metrum yang menduduki popularitas kedua ialah Sardulawikridita (19 suku kata).

Berbeda dengan puisi Jawa Kuna yang disebut kakawin, puisi Jawa Pertengahan yang disebut kidung tidak menggunakan metrum dari India, tetapi bermetrum asli Jawa, yakni menggunakan metrum yang biasa disebut sebagai metrum tengahan, dengan patokan sebagai berikut (Zoetmulder, 1983: 142). 
  1. Jumlah baris pada setiap bait tetap sama selama metrumnya tidak berganti. Semua metrum tengahan mempunyai lebih dari empat baris (berbeda dengan kakawin).
  2. Jumlah suku kata pada baris tertentu tetap, tetapi panjang tiap baris berbeda-beda menurut kedudukan baris itu pada tiap bait.
  3. Sifat sebuah vokal setiap suku kata terakhir pada tiap baris juga tertentu menurut baris tertentu dalam suatu bait. 
Metrum tembang tengahan tersebut mempunyai prinsip seperti dalam tembang macapat, seperti yang dinyatakan Padmosoekatjo (tt, jilid I: 23-24), sebagai berikut. Tembang tengahan dan tembang macapat penyusunannya berdasarkan guru gatra, guru wilangan dan guru lagu. Artinya, dalam tembang tengahan dan macapat, setiap bait sudah tertentu jumlah barisnya (guru gatra atau cacahing gatra), jumlah suku katanya (guru wilangan atau cacahing wanda), dan jatuhnya vokal pada akhir baris (dhong-dhing atau guru lagu). Guru gatra ialah jumlah baris setiap bait. Guru wilangan ialah jumlah suku kata setiap baris. Sedang guru lagu ialah bunyi vokal pada suku kata di akhir baris. 

Menurut Zoetmulder, perbedaan kidung (tembang tengahan) dengan tembang macapat, terutama adalah dalam perangkaian bait menjadi pupuh. Dalam kidung kadang-kadang satu pupuh dipadu dengan pupuh yang lain hanya dalam sedikit bait. Zoetmulder (1983: 143) mencontohkan sebagai berikut. Sebuah pupuh dapat disusun dengan sebuah kata pengantar terdiri atas dua bait dengan metrum A dan dua bait dengan metrum B, kemudian batang tubuhnya silih berganti dua bait metrum C dan dua bait metrum D. Kadang juga disusul dua bait metrum E. dan seterusnya. 

Padmosoekatjo (tt, jilid I: 22) secara lebih jelas membagi antara metrum-metrum tembang tengahan dengan metrum-metrum tembang macapat. Yang termasuk tembang tengahan ada 5 (lima) macam, yakni: Megatruh (dudukwuluh), Gambuh, Balabak, Wirangrong, dan Jurudemung. Sedang yang termasuk tembang macapat ada 9 (sembilan) macam, yakni Kinanthi, Pucung, Asmaradana, Mijil, Maskumambang, Pangkur, Sinom, Dhandhanggula dan Durma.

Sedang Poerbatjaraka dalam bukunya Kapustakan Djawi (1952: 69 dan 71), dalam rangka menjelaskan tentang tembang tengahan, memberikan dua buah catatan kaki yang menyatakan bahwa tembang tengahan itu sebenarnya tidak ada, yang ada adalah tembang macapat. Yang disebut tembang tengahan itu sebenarnya tembang macapat yang tergolong tua yang hampir dilupakan orang. 

Dalam pada itu terdapat sejumlah metrum yang sedikit berbeda antara tembang tengahan dengan tembang macapat pada nama tembang yang sama. Poerbatjaraka memberikan catatan untuk membedakan teks Jawa Tengahan dengan Jawa Baru dengan menyebut bahwa tembang Sinom berbahasa Jawa Tengahan, baris ketiganya berakhir dengan guru lagu bervokal o bukan a, seperti pada tembang Sinom bahasa Jawa Baru (1952: 105). Tembang Pamijil Jawa Pertengahan pada baris kedua berakhir dengan guru lagu bervokal e sedang dalam tembang Mijil bahasa Jawa Baru bervokal o (1952: 78). 

Sarana Penulisan Sastra Jawa Kuna
Ada beberapa sarana yang biasa dipergunakan sebagai alat untuk menuliskan karya sastra Jawa Kuna, antara lain: 
  1. Daun lontar (rontal) dan pengutik. Daun lontar banyak dipergunakan sebagai alat tulis sastra Jawa Kuna. Hingga saat ini, terutama di Bali, daun lontar masih dipergunakan sebagai alat yang ditulisi. Pengutik atau pengrupak, adalah sebuah pisau besi kecil yang hingga sekarang di bali mesih dipergunakan sebagai alat untuk menulis.
  2. Tanah dan karas. Tanah adalah alat yang dipakai untuk menulis. Tanah adalah semacam pensil yang dapat dipertajam dengan kuku, dan dibuang setelah patah atau mengecil menjadi puntung. Sedang karas ialah bahan atau papan yang ditulisi dengan tanah. 
  3. Pudak atau ketaka atau ketaki dan cindaga. Pudak adalah bunga pohon pandan. Yang ditulisi adalah daun bunga pudak yang berwarna putih dan bila tergores lalu membekas hitam. Setiap benda yang tajam dapat dipakai sebagai penulisnya. 
  4. Yasa, bale, mahanten, rangkang, mananten atau patani adalah sebuah bangunan atau pondok tempat ditemukannya kakawin-kakawin. Jadi di bangunan itu ditemukan tulisan-tulisan.
  5. Teto atau wilah adalah bagian dari bangunan yasa dsb. yang merupakan bagian yang ditulisi atau dihiasi dengan lukisan-lukisan tertentu.
Blog, Updated at: 04.46

1 komentar :

Popular Posts