Dasar-Dasar Metode Pendidikan Islam

Dasar-Dasar Metode Pendidikan Islam
Metode Pendidikan Islam dalam penerapannya banyak menyangkut persoalan individual atau sifat sosial dari peserta didik dan pendidik itu sendiri, sehingga dalam menggunakan metode, seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan. Sebab metode pendidikan hanyalah sarana menuju tujuan pendidikan, sehingga segala cara yang ditempuh oleh seorang pendidik harus mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Dalam hal ini tidak lepas dari dasar agama, biologis, psikologis dan sosiologis.

1. Dasar Agama
Agama merupakan salah satu dasar-dasar metode Pendidikan Islam, karena dari agama para pendidik dapat memberikan pendidikan moral yang baik bagi peserta didik. Dan ketika peserta didik mempraktekkan dalam kehidupan bermasyarakat akan memberikan dampak yang positf, sehingga terbentuklah kepribadian yang baik di masyarakat bagi peserta didik.

Al-Qur’an dan Hadist tidak bisa dilepaskan dari pelaksanaan metode Pendidikan Islam. Dalam kedudukannya sebagai dasar agama Islam, maka dengan sendirinya metode Pendidikan Islam harus merujuk pada kedua sumber ajaran tersebut. Sehingga segala penggunaan dan pelaksanaan metode Pendidikan Islam tidak menyimpang dari tujuan pendidikan itu sendiri.

Nilai-nilai Al-Qur’an yang diserap oleh Rasulullah terpancar dalam gerak-geriknya yang direkam oleh para sahabat sehingga hampir tidak ada ayat yang tidak dihafal dan diamalkan oleh sahabat. Di samping itu kehadiran Al-Qur’an di tengah masyarakat Arab, memberikan pengaruh yang besar terhadap jiwa mereka. Akhirnya, mereka berpaling secara total, dan semua keputusan selalu melihat isyarat Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan.

Sementara pendidikan salah satu wahana untuk merumuskan dan mencapai tujuan hidup. Dengan demikian petunjuk hidup seluruhnya harus ditujukan kepada isyarat Al-Qur’an, karena Al-Qur’an mulai ayat pertama hingga terakhir tidak terlepas dari isyarat pendidikan.

Sedangkan Sunnah dalam konteks pendidikan mempunyai dua fungsi, yaitu: (a) menjelaskan metode Pendidikan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an secara konkret dan penjelasan lain yang belum dijelaskan Al-Qur’an; (b) menjelaskan metode pendidikan yang telah dilakukan oleh Rasul dalam kehidupan kesehariannya serta cara beliau menanamkan keimanan. 

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa metode Pendidikan Islam berdasarkan pada agama, dan karena Al-Qur’an dan Al-Hadist merupakan sumber pokok ajaran agama Islam, maka dalam pelaksanaan metode tersebut disesuaikan dengan kebutuhan yang muncul secara efektif dan efisien yang dilandasi nilai-nilai keduanya (Al-Qur’an dan Al-Hadist).

2. Dasar Biologis
Perkembangan biologis manusia, mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya, sehingga semakin lama perkembangan biologis seseorang, maka dengan sendirinya makin meningkat pula daya intelektualnya. Dalam memberikan pendidikan terutama dalam Pendidikan Islam, seorang pendidik harus memperhatikan perkembangan biologis peserta didik.

Perkembangan kondisi jasmani (biologis) seseorang juga mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap dirinya. Seseorang yang menderita cacat jasmani akan mempunyai kelemahan dan kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang yang normal, misalnya seseorang yang mempunyai kelainan pada matanya (rabun jauh), maka cenderung untuk duduk di bangku barisan depan, karena berada di depan, maka tidak dapat bermain-main pada waktu guru memberikan pelajarannya, sehingga memperhatikan seluruh uraian guru. Karena hal ini berlangsung terus-menerus, maka dia akan mempunyai pengetahuan lebih dibanding dengan lainnya, apalagi termotivasi dengan kelainan mata tersebut.

Berdasarkan hal ini, maka dapat dikatakan bahwa perkembangan jasmani itu sendiri memegang peranan yang sangat penting dalam proses pendidikan. Sehingga dalam menggunakan metode pendidikan seorang pendidik harus memperhatikan kondisi biologis peserta didik. Seorang peserta didik yang cacat akan berpengaruh terhadap prestasi peserta didik, baik pengaruh positif maupun negatif. Hal ini memberikan hikmah dari penciptaan Tuhan, maka dengan harapan besar pendidik dapat memberikan pengertian secukupnya pada siswanya untuk menerima penciptaan Allah yang sedemikian rupa.

3. Dasar Psikologis
Metode Pendidikan Islam baru dapat diterapkan secara efektif, bila didasarkan pada perkembangan dan kondisi psikologis siswa. Sebab perkembangan dan kondisi psikologis siswa memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap internalisasi nilai dan transformasi ilmu. Dalam kondisi jiwa yang labil (jiwa yang tidak normal), menyebabkan transformasi ilmu pengetahuan dan internalisasi nilai akan berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. 

Perkembangan psikologis seseorang berjalan sesuai dengan perkembangan biologisnya, sehingga seorang pendidik dalam menggunakan metode pendidikan bukan saja memperhatikan psikologisnya tetapi juga biologisnya. Karena seseorang yang secara biologisnya cacat, maka secara psikologisnya dia akan merasa tersiksa karena ternyata dia merasakan bahwa teman-temannya tidak mengalami seperti apa yang dideritanya. Dengan memperhatikan yang demikian itu, seorang pendidik harus jeli dan dapat membedakan kondisi jiwa peserta didik, karena pada dasarnya manusia tidak ada yang sama.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam menggunakan metode pendidikan, seorang pendidik di samping memperhatikan kondisi jasmani peserta didik juga perlu memperhatikan kondisi jiwa atau rohaninya. Sebab manusia pada hakekatnya terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani dan rohani, yang kedua-duanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahpisahkan.

Kondisi psikologis yang menjadi dasar dalam metode Pendidikan Islam berupa sejumlah kekuatan psikologis peserta didik termasuk motivasi, emosi, minat, sikap, keinginan, kesediaan, bakat-bakat dan kecakapan akal (intelektualnya), sehingga seorang pendidik dituntut untuk mengembangkan potensi psikologis yang ada pada peserta didik.

Dalam situasi sekolah, setiap anak memiliki sejumlah motif atau dorongan yang berhubungan dengan kebutuhan biologis dan psikologis. Di samping itu anak memiliki pula sikap-sikap, minat, penghargaan dan cita-cita tertentu.

4. Dasar Sosiologis
Interaksi yang terjadi antara sesama siswa dan interaksi antara guru dan siswa, merupakan interaksi timbale balik yang kedua belah pihak akan saling memberikan dampak positif pada keduanya. Dalam kenyataan secara sosiologi seorang individu dapat memberikan pengaruh pada lingkungan sosial masyarakatnya dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu guru sebagai pendidik dalam berinteraksi dengan siswanya hendaklah memberikan teladan dalam proses sosialisasi dengan pihak lainnya, seperti dikala berinteraksi dengan siswa, sesama guru, kepala sekolah dan karyawan.

Interaksi pendidikan yang terjadi dalam masyarakat justru memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan peserta didik dikala berada di lingkungan masyarakatnya. Kadang-kadang interaksi dari masyarakat tersebut, berpengaruh pula terhadap lingkungan kelas dan sekolah.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa dasar sosiologis adalah salah satu dasar dalam metode Pendidikan Islam. Dari dasar sosiologis inilah pendidik diharapkan dapat menggunakan metode Pendidikan Islam yang sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa pelaksanaan metode Pendidikan Islam harus dijalankan atas dasar agama, biologis, psikologis dan sosiologis, sehingga dari keempat dasar tersebut metode Pendidikan Islam akan berjalan dengan baik dan tercapailah tujuan pendidikan tersebut.
Blog, Updated at: 23.33

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts