Gagasan Nasionalisme Dan Wawasan Kebangsaan Dalam Novel Indonesia Modern

Gagasan Nasionalisme Dan Wawasan Kebangsaan Dalam Novel Indonesia Modern 
Persoalan bangsa yang akhir-akhir ini mengemuka, bahkan menjadi semacam hantu adalah fenomena yang mengarah pada disintegrasi bangsa. Lepasnya Timor-Timur dari Negara Kesatuan republik Indonesai (NKRI) dan peristiwa separatis di Irian Jaya dan Aceh yang menginginkan Papu Merdeka dan Aceh Merdeka, merupakan contoh nyata adanya kecenderungan di atas. Di sinilah perlunya rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan dimiliki oleh generasi muda, yang pada akhirnya diharapkan dapat mengatasi kemaje­mukan yang ada.

Mencermati fenomena yang terjadi tersebut, perlu kiranya ada suatu upaya untuk menggali kembali rasa rasionalisme dan wawasan kebangsaan. Salah satu upaya untuk menggali rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan dapat dilakukan dengan memahami gagasan, konsep, dan pandangan yang disampaikan oleh para pemikir pada masa lalu. Di samping melalui dokumen kesejarahan, gagasan, konsep, dan pandangan tersebut juga dapat ditelusuri melalui karya-karya budaya yang monumental. 

Salah satu wujud hasil kebudayaan tersebut adalah karya sastra. Hal ini karena .karya sastra dapat menjadi sarana bagi pengarang untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan tanggapan mengenai suatu peristiwa sejarah, juga merupakan penciptaan kembali peristiwa sejarah dengan pengetahuan dan daya imajinasi pengarang. Pikiran, gagasan, dan pandangan pengarang tersebut dapat berkaitan dengan rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan yang dituangkan dalam karya sastra.

Sebagai hasil kreativitas pengarang, karya sastra tidak akan terlepas dari masyarakat, sebagaimana pengarang yang menjadi bagian dari masyarakat. Dalam kegiatan penelaahan sastra dan masyarakat, pendekatan yang umum digunakan adalah mempelajari sastra sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan. Sebagai dokumen sosial, sastra digunakan untuk menguraikan ikhtisar sejarah sosial. 

Karya sastra bukan hanya sekedar permainan imajinasi, tetapi merupakan rekaman tata cara masyarakat sezamannya sebagai perwujudan dari niat tertentu. Novel adalah cermin yang bisa dibawa ke manapun dan paling cocok untuk memantulkan segala aspek kehidupan dan alam. Sebagai gambaran struktur sosial, yang terdapat dalam novel adalah gambaran masalah masyarakat secara umum ditilik dari sudut lingkungan tertentu, yang akhirnya mengarah pada sifat yang universal. 

Dari hasil rekaan pengarang, dunia kenyataan dapat direkam dengan kreasi dan imajinasi. Kedudukan karya sastra sebagai dokumen sosial dikaitkan dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada saat karya sastra tersebut diciptakan. Situasi dam kondisi masyarakat akan ikut mempengaruhi konsep pemikiran pengarang. Agar karya sastra tidak terjebak pada kondisi sebagai catatan sejarah semata-mata, pada saat penciptaanya pengarang tidak begitu saja menjiplak realita kehidupan.

Latar belakang sejarah dan zaman serta latar belakang kemasyarakatan punya pengaruh yang besar dalam proses penciptaan, juga dalam penulisan novel. Pengaruh tersebut tidak hanya terbatas pada tema-tema yang diungkapkan akan tetapi juga terhadap struktur karya sastra.

Persoalan-persoalan zaman dan kemasyarakatan dari suatu kurun waktu tertentu berpengaruh dan amat menentukan pemilihan tema-tema yang diungkapkan para sastrawan dalam karya sastra yang dihasilkannya. Pergeseran dan perubahan persoalan kema­syarakatan akan menyebabkan pula pergeseran-pergeseran pemilihian tema. Awal abad kedua puluh adalah masa bangsa Indonesia mulai mengenal kebudayaan Barat, suatu bentuk kebudayaan baru. Pengenalan ini menyebabkan tumbuhnya kesadaran akan diri sendiri, kesadaran akan keterbelakangan sebagai bangsa. Hal itulah yang melatarbelakangi lahirnya pergerakan-pergerakan kebangsaan yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Persoalan-persoalan tersebut tidak luput pula menjadi tema-tema utama dalam karya sastra, khususnya novel yang dihasilkan pada masa itu.

Apabila kita merunut perkembangan hasil karya sastra Indonesia, dapat dikemukakan bahwa pada awal-awal perkembangan novel-novel Indonesia banyak menampilkan tema kemasyarakatan yang lebih bersifat kolektif. Hal itu tampak pada karya-karya masa Balai Pustaka. Selanjutnya pada masa Pujangga Baru tema berkembang ke arah yang lebih luas dan sifat kolektif semakin renggang. Secara ringkas dapat digambarkan perkembangan tema dalam novel Indonesia yaitu bergerak dari tema-tema yang bersifat kolektif dengan ikatan sosial yang kuat menuju kepada persoalan-persoalan yang lebih bersifat individual dengan ikatan sosial yang longgar dan bahkan tanpa adanya ikatan sosial.

Konsep Nasionalisme dan Wawasan Kebangsaan 
Konsep nasionalisme dan wawasan kebangsaan mengacu pada kesadaran suatu warga negara akan pentingnya ketunggalan bangsa, nation state.[i] Konsep tersebut bersifat idiologis dan disosialisasikan kepada setiap anggota (warga) negara. 

Nasionalisme dan wawasan kebangsaan mengikat warga negara dalam beberapa hal, yakni
  • memiliki kesadaran sebagai satu bangsa, yang dapat memperkuat rasa kebangsaan, persatuan dan kesatuan, 
  • jiwa, semangat, dan nilai-nilai patriotik, yaang berkaitan dengan perasaan cinta tanah air, cinta kepada tanah tumpah darah, cinta kepada negara dan bangsa, cinta kepada milik budaya bangsa sendiri, kerelaan untuk membela tanah airnya,
  • jiwa, semangat dan nilai-nilai kreatif dan inovatif, dan 
  • jiwa, semangat, dan nilai-nilai yang mampu membentuk kepribadian, watak dan budi luhur bangsa.
Dalam suasana jiwa pasca-Indonesia pengertian nasionalisme, patriotisme, dan sebagainya akan lebih jernih dan menjelma sampai ke esensi. Hal itu disebabkan nasionalisme kini berarti berjuang dalam membela kaum manusia yang terjajah, miskin dalam segala hal termasuk miskin kemerdekaan dan hak penentuan pendapat diri sendiri; manusia yang tak berdaya menghadapi para penguasa yang sewenang-wenang yang telah merebut bumi dan hak pribadinya dan memaksakan kebudayaan serta seleranya kepada si kalah. 

Nasionalisme kini lebih pada hikmah jati diri perjuangan melawan sang kuasa lalim yang secara peroangan maupun struktural dan demi hari depan yang lebih baik dan adil. Perjuangan tersebut bersifat universal bersama-sama dengan kawan sesama sege­nerasi muda dan dari segala penjuru dunia.

Konsep kebangsaan tidak semata-mata mengacu pada adanya keragaman kultural. Kebangsaan adalah suatu konsep politik, yang perwujudannya hanya bisa diraih lewat upaya-upaya politik pula. Dan upaya politik paling penting adalah menciptakan keadilan sosial, tegasnya keberpihakan pada mereka yang lemah. Hanya dengan kebangsaan yang menjamin hak politik warga negara untuk menentukan dirinya sesuai dengan kulturalnya, maka masing-masing kelompok etnis dan budaya yang tergabung di dalamnya akan terjamin menghayati identitasnya.

Kebangsaan itu sendiri terjadi dan terbentuk sesuai dengan penjadian dan pembentukan sejarah. Oleh karena sejarah bersifat terbuka maka pembentukan dan penjadian itu tidak mengenal bentuk akhir atau finalitas. Jadi kebangsaan bukanlah suatu kenyataan, melainkan suatu cita-cita, aspirasi dan tuntutan khas Indonesia. Kebangsaan itu adalah suatu persatuan Indonesia merdeka yang mengusahakan keadilan sosial, terutama bagi mereka yang tertindas.

Nasionalisme Indonesia tidak dapat dipisahkan dari imperialisme dan kolonialisme Belanda, karena sebenarnya nasionalisme merupakan rekasi terhadap bentuk kolonialisme. Hubungan antara keduanya dapat dilihat dalam dua tataran, yaitu tataran universal dan tataran kontekstual.[ii] Dalam tataran universal nasionalisme Indonesia pertama-tama adalah sebuah gerakan emasipasi, keinginan mendapatkan atau membangun kembali sebuah dunia yang luas, bebas, yang di dalamnya dan dengannya manusia dapat menghidupkan dan mengembangkan serta merealisasikan dirinya sebagai subjek yang mndiri dan bebas. Nasionalisme yang demikian ini dipertentangkan dan imperialisme, yakni upaya melawan segala gerakan yang menghendaki dominasi, superioritas. Dalam tataran universal ini nasionalisme seiring dengan gagasan pembebasan manusia pada umumnya.

Sementara itu dalam tataran kontekstual, nasionalisme Indonesia merupakan kehendak untuk membangun sebuah dunia yang di dalamnya manusia Indonesia, sebagai bagian dri budaya ke-Timur-an, dapat merealisasikan dirinya secara bebas. Di samping itu, manusia Indonesai bisa terlepas dari tekanan dan dominasi penjajahan Belanda, sebagai representasi budaya Barat. Tataran kontekstual ini membatasi gagasan pembebasan hanya pada hubungan antar-bangsa yang dapat membuatnya bertentangan dengan gagasan pembebasan pada tataran yang lebih rendah.

Dalam usaha untuk mewujudkan kehendak di atas orang-orang Indonesia tertarik ke dua arah yang berlawanan, yaitu (1) ada yang bergerak ke masa lalu, dan (2) ada yang bergerak ke masa depan. Mereka yang bergerak ke masa lalu menganggap dunia itu sudah ada sebelumnya dan dapat ditemukan kembali. Sementara yang bergerak ke masa depan mengganggap dunia itu sebagai sebuah bangunan yang akan atau sedang dalam proses pembentukan.

Apabila kita merunut sejarah dapat dideskripsikan cita-cita kebangsaan tersebut. Di awal abad ini berupa cita-cita Indonesia untuk merdeka. Kemudian, di era 45-60 berupa tekad untuk menjaga keutuhan negara. Selanjutnya generasi 66 ingin memurnikan pelaksanaan UUD 1945 dan menyejahterakan rakyat melalui pembangunan ekonomi. Begitu seterusnya cita-cita kebangsaan tersebut harus selalu dirumuskan dan dipahami oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. Setiap individu ynag berada dalam lingkaran suatu generasi mempunyai kewajiban sejarah utntuk menggali dan merumuskan cita-cita kebangsaan sebagai upaya menambah ukiran sejarah perjalanan bangsa.

Nasionalisme dalam Sastra Indonesia
Pembahasan tentang nasionalisme dalam sastra pernah dilakukan oleh Keith Foulcher (1991) dan Faruk (1995). Foulcher dalam telaahnya yang berjudul Pujangga Baru: Kesusastraan dan Nasionalisme di Indonesia, mengungkapkan adanya kecenderungan tematis yang berupa gagasan akan pentingnya kesadaran baru dari para sastrawan. Foucher melihat puisi-puisi yang dimuat dalam Pujangga Baru memperlihatkan adanya upaya sastrawan masa itu untuk membangun kebudayaan baru yang berbeda dari kebudayaan tradisional. Foucher sampai pada suatu kesimpulan bahwa upaya tersebut pada dasarnya baru berupa gagasan awal. Para sastrawan Pujangga Baru, menurut Foucher masih belum sampai pada suatu posisi yang dapat membuat mereka bergerak bebas dan penuh percaya diri dalam suasana kesusastraan dan kebudayaan yang baru sama sekali. Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap karya sastra pada masa Pujangga Baru, Foucher menangkap kesan bahwa kebaruan yang diperjuangkan oleh para sastrawan pada masa itu merupakan suatu konsep yang bulat, utuh, jelas, dan seragam.

Kajian tentang nasionalisme juga dilakukan oleh Faruk (1995) dalam tulisannya yang berjudul Universalisme yang Menyangkal: Nasionalisme dalam Sastra. Dalam kajian tersebut Faruk menekankan pembicaraan mengenai hubungan antara nasionalisme dengan sejarah sastra Indonesia. Sejalan dengan kajian Keith Foulcher kajian yang dilakukan oleh Faruk juga mengkaji perkembangan sastra Indonesia pada periode Pujangga Baru.

Pada awal pembahasannya Faruk memulai dengan memberi kritikan terhadap pembahasan yang dilakukan Keith Foulcher. Faruk menganggap terdapat kekurang­tepatan anggapan yang dikemukakan oleh Foucher bahwa kebaruan itu merupakan suatu konsep yang bulat, utuh, jelas, dan seragam. Oleh karena itu menurut Faruk proyek Pujangga Baru bukanlah membangun sebuah dunia baru yang sudah tertentu dan jelas. Akan tetapi membangun sebuah harapan akan adanya sebuah dunia baru, bagaimanapun samar-samarnya, yang di dalamnya orang-orang Indonesia yang terjajah akan dapat hidup dan merealisasikan diri secara lebih bebas dan mandiri. Dunia baru itu dapat mengambil model yang berupa masyarakat dan kebudayaan Barat, dapat pula berupa sintesis antara Timur dengan Barat serta bahkan dapat pula disisipi dan dikacaukan oleh keinginan kembali ke masa lalu, ke Timur. Hal itu dapat terjadi dikarenakan sebagai suatu idealisme, yang baru dan yang lama itu pada dasarnya masih bersifat samar-samar.

Puisi-puisi sastrawan Pujangga Baru dengan setia mengekspresikan kebutuhan metafisik atau universal dalam bentuk-bentuk harapan-harapan dan kenangan-kenangan yang samar-samar akan sebuah dunia baru. Dunia baru tempat masyarakat Indonesia dapat merealisasikan dirinya secara bebas dan mandiri. Agar dunia baru yang dibayangkan dapat diterima, dunia ideal yang dibangun itu dibayangkan sebagai sebuah dunia yang universal. Dalam dunia tersebut hanya ada kepentingan umum, kepentingan bersama. Kata “persatuan” menjadi sangat penting dalam dunia semacam itu. Kata persatuan dan kebersamaan, menjadi sangat produktif dalam karya sastra sebagai bangunan dunia imajiner.

Pada akhir bahasannya, Faruk memberi catatan kritis terhadap kecenderungan nasionalisme Pujangga Baru. Menurutnya, nasionalisme sastra tradisi Pujangga Baru menjadi agak mengingkari historis mereka sendiri, yakni nasionalisme lokal mereka. Bagaimanapun universalnya sifat nasionalisme yang diperjuangkan, ternyata tetap dalam kerangka keterbatasan, khususnya adanya nuansa kepentingan melawan dan menolak masyarakat, ras, dan kebudayaan tertentu, yakni imperialisme dan kolonialisme Belanda.

Gagasan Nasionalisme dan Wawasan Kebangsaan dalam Novel Indonesia Modern
Tulisan ini berusaha mengungkap gagasan nasionalisme dan wawasan kebangsaan yang terdapat dalam novel Indonesia modern dan perkembangan nasionalismenya. Untuk itu, ditentukan secara purposif novel yang dijadikan sebagai sumber data, yakni novel yang mengandung gagasan nasionalisme dan wawasan kebangsaan. Kegiatan yang dilakukan dalam menentukan sampel secara purposif yakni dengan melakukan pembacaan dan penelaahan. Kegiatan pembacaan dan penelaahan tersebut di samping dilakukan terhadap novel-novel Indonesia modern juga dilakukan pada hasil-hasil analisis baik berupa kritik, esai maupun penelitian yang membahas novel tersebut.

Dari hasil kegiatan pembacaan dan penelaahan tersebut ditemukan enam novel yang secara esensial menampilkan gagasan nasionalisme dan wawasan kebangsaan sebagai hal pokok yang dikaji dalam tulisan ini. 

Keenam novel tersebut yaitu: 
  1. Tak Ada Esok karya Mochtar Lubis, 
  2. Maut dan Cinta karya Mochtar Lubis, 
  3. Bukan Pasar Malam karya Pramudya Ananta Toer, 
  4. Burung-burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya, 
  5. Burung-burung Rantau karya Y.B. Mangunwijaya, 
  6. Para Priyayi karya Umar Kayam
1. Wujud Gagasan Nasionalisme dan Wawasan Kebangsaan
Sebagaimana dipahami bahwa dalam karya sastra (novel) pada prinsipnya pengarang ingin menyampaikan “sesuatu”. Salah satu bentuk “sesuatu” yang disampaikan itu adalah pemikiran tentang nasionalisme dan wawasan kebangsaan. Dengan kata lain fenomena nasionalisme dan kebangsaan dijadikan sebagai salah satu bahan dalam penciptaan karya sastra. Pada akhirnya hal itu menjadi bagian dari bentuk pencerdasan baru bagi ma­sya­rakat pembaca, khususnya berkaitan dengan pemahaman nasionalisme dan kebangasaan. Gagasan nasionalisme dan wawasan kebangsaan dalam novel tampak melalui interaksi antar tokoh, deskripsi pengarang, tingkah laku tokoh, dan gambaran peristiwa yanmg terdapat dalam novel.

Sebagai upaya mempermudah pemahaman, dalam tulisan ini gagasan nasiona­lisme dan wawasan kebangsaan dikelompokkan dalam tiga kategori. Ketiga kategori tersebut selanjutnya dijadikan dasar dalam mendeskripsikan hasil telaah. Penetapan kategori dilakukan berdasarkan hasil pemahaman terhadap nasionalisme yang dikemu­kakan oleh Soedjatmoko, Sutan Takdir Alisyhabana, Rahmat Witoelar, dan Moerdiono. 

Kategori yang dimaksud yaitu 
  1. Nasionalisme gelombang pertama: nasionalisme pra kemerdekaan, 
  2. Nasionalisme gelombang kedua: nasionalisme pasca kemerdekaan, dan 
  3. Nasionalisme gelombang ketiga: nasionalisme Indonesia baru. 
Penetapan kategorisasi tersebut di atas dengan pemikiran bahwa pada dasarnya nasionalisme merupakan suatu konsep ideologis yang dinamis. Oleh karena itu ia memiliki dinamika internal yang memungkinkan untuk berkembang sesuai dengan realitas sosial kemasyarakatan yang ada. Pembagian ini semata-mata didasarkan pada mata rantai sejarah kebangsaan di Indonesia. Nasionalisme dan wawasan kebangsaan secara garis besar dapat dipihak dalam tiga bagian, yaitu zaman sebelum merdeka, zaman setalah kemer­dekaan, dan zaman modern saat ini (Indonesia baru). 

Tabel Wujud Gagasan Nasionalisme dan Wawasan Kebangsaan
No.
Kategori
Deskripsi
1.
Nasionalisme Gelombang Pertama : Nasionalisme Pra-Kemerdekaan
a. Nilai Patriotisme
b. Rela berkorban
c. Strategi perjuangan
d. Kebersamaan dalam perjuangan
e. Motivasi dan makna perjuangan
f. Keyakinan dalam perjuangan
g. Nilai kemanusian dalam perjuangan
2.
Nasionalisme Gelombang Kedua : Nasionalisme Pasca-Kemerdekaan
a. Makna hakiki kemerdekaan
b. Merdeka bagi rakyat kecil
c. Kebebasan
d. Identitas kebangsaan
e. Perilaku kepemimpinan
f. Penegakan kebenaran
g. Menghilangkan penindasan
3.
Nasionalisme Gelombang Ketiga: Nasionalisme Indonesia-Baru
a. Nasionalisme terbuka
b. Tujuan akhir perjuangan
c. Kecintaan pada kedamaian
d. Sejajar dengan bangsa lain
e. Sikap patriotisme baru
f. Penguasaan IPTEKS
g. Sikap dan semangat kemandirian
Blog, Updated at: 19.55

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts