Kembalikan Kedaulatan Rakyat & Pancasila Dan UUD 1945

Kembalikan Kedaulatan Rakyat & Pancasila Dan UUD 1945 
Sejak mulai reformasi yang tidak terarah, demokrasi yang tidak terpimpin, yang bergulir pada tahun 1997 yang lalu sudah membawa bangsa Indonesia terjebak kedalam ketidakpastian dalam segala hal, pemerintah sudah gagal dalam pendidikan, pendidikan agama, hukum, rasa keadilan di masyarakat, ekonomi dan rasa nasionalisme sudah memudar sehingga tidak lagi bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak lagi mengerti mana yang salah dan mana benar, mana yang hak dan mana yang batil, mana yang halal dan mana yang haram, karena sudah menjadikan uang adalah segala-galanya.

Pendidikan 
Sejak Pendidikan Moral Pancasila dan Pendidikan Budi Pekerti dihapus sudah menghilangkan rasa nasionalisme, kebersamaan, kerukunan dan kedamaian sesama mahluk Tuhan Yang Maha Esa, sudah banyak di negeri ini menghasilkan pemimpin yang tidak bermoral karena tidak mengamalkan Pancasila dan tidak bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan sudah terjadi tawuran antara pelajar, antar mahasiswa, antar kampung, sesama anggota DPR, perseteruan sesama aparat penegak hukum karena konflik kepentingan pribadi. 

Rasa Nasionalisme
Rasa Nasionalisme hanya bisa dibangun dengan Pancasila dan Sumpah Pemuda, satu rasa, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, satu ideologi yaitu Ideologi Pancasila, satu Tuhan yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Dengan siapapun Tuhan disebut dia adalah Yang Maha Esa. Mau disebut Allah Bapa Kami di Surga, mau disebut Allah Bapa, mau disebut Gusti Allah, mau disebut Allah SWT Dia adalah Yang Maha Esa hanya sebutan atau panggilan yang banyak siapapun orangnya, apapun agamanya, Tuhannya adalah Tuhan Yang Maha Esa, inilah yang dapat membangkitkan rasa Nasionalisme, Satu Rasa, Satu Tuhan yaitu TUHAN YANG MAHA ESA.apapun yang kita lihat adalah sedang melihat diri kita sendiri, penderitaan orang lain adalah penderitaan kita sendiri, kepentingan Negara adalah kepentingan Pribadinya (Pribadinya adalah Indonesia) sudah mengenal diri sendiri (jati diri) pemimpin setingkat wali. 

Diri Sendiri Tidak Sama Dengan Diri Pribadi 
Diri sendiri dalam bahasa arabnya adalah Tauhid (Esa) diri pribadi adalah yang berbentuk orang kepentingannya juga untuk yang sebesar orang, kalau pribadinya Indonesia kepentingannya juga Indonesia, kalau pribadinya alam semesta kepentingannya juga semesta. Mengerti point yang disebut diatas baru bisa jujur dengan diri sendiri artinya jujur dengan Tuhan Yang Maha Esa. Kepentingan diri sendiri adalah arti yang sebenarnya kepentingan Tuhan Yang Maha Esa (Tauhid). 

Diri Pribadi 
Diri pribadi adalah yang berbentuk orang yang sebesar orang, kepentingannya juga untuk yang sebesar orang yang penuh dengan kesombongan, suka menyalahkan orang lain, mengaku bisa, mengaku mampu, egois, belum bisa jujur dengan diri sendiri (Cuma bisa pura-pura jujur) kalau badan yang dipakai diakui milik pribadi dia adalah mengkorupsi harta Tuhan, Seisi alam semesta ini adalah Milik Tuhan termasuk Badan yang berbentuk orang yang kita pakai. Kalau harta Tuhan saja dikorupsi apalagi harta rakyat dan harta negara. La Haula Wala Kuwata Illa Bilahilahil Aliyul Adzim artinya Tidak Punya Daya dan Upaya kecuali Tuhan.

Keadilan 
Rasa keadilan hanya lahir dari timbangan rasa yang lahir dari hati nurani, yang memberi keadilan dengan pencari keadilan satu rasa apapun yang dia lihat dia sedang melihat dirinya sendiri, kalau dia jadi aparat penegak hukum/ Hakim di Pengadilan Penggugat dengan Tergugat adalah aku sendiri ibarat kedua tangan baru bisa adil. Hanya bisa melalui pengamalan Pancasila dengan sila Pertama dan Kedua yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusian Yang Adil dan Beradab. Hablum Minannas, Hablum Minallah artinya hubungan sesama manusia dan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa BUTTOM TO UP kalau kita gambarkan garis horizontal dan vertical jadilah lambang SALIB atau pengabdian kepada alam semesta, mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa bisa juga disebut BUDI DHARMA (BUDHA) 

Kepemimpinan Nasional (Kepemimpinan Yang Terpimpin)
Siapapun yang menjadi pemimpin yang memimpinnya adalah TUHAN YME
Bung Karno sebagai motor penggerak (Pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia) PEMIMPIN SETINGKAT WALI maka dia mengatakan Jangan Sebut saya Presiden sebutlah saya sebagai penyambung lidah rakyat dia bekerja berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa, Alam Semesta disebut Ketuhanan Yang Maha Esa, Tuhannya adalah Tuhan Yang Maha Esa kalau Presiden RI pribadinya adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) semua ada didalam dirinya sendiri. Rakyat sampai menteri dipimpin oleh Presiden, Presidennya dipimpin oleh Tuhan Yang Maha Esa (Marifat). Dia Sadar Cuma Alat Tuhan. (Tidak punya daya dan upaya kecuali Tuhan). 

Pemimpin Bisa Gagal Karena Tidak Jujur 
Pemimpin yang gagal terjadi satu diantara dua kalau dia tidak bisa memimpin atau rakyat tidak mau dipimpin, atau karena tidak Jujur.

Contoh : Lagi Sholat dia baca Iyyakanak’budu waiyya kanastain artinya kepada Tuhan saja kami menyembah dan kepada Tuhan Saja kami minta tolong, lalu habis sholat dia minta tolong kepada Dukun. Kalau minta tolong kepada Dukun artinya karena tidak percaya Tuhan, kalau Tuhan saja dibohongi apalagi rakyatnya (belum mengenal jati diri) alias belum sadar lahir bathin. Belum sehat jasmani dan rohani, bawahan bisa membangkang kepada atasan karena dia sederajat dimata Tuhan. Kelihatannya sadar tapi belum sadar lahir bathin ini yang sangat membahayakan negara, orang yang belum mengenal jati diri dipastikan tidak bisa jujur dengan diri sendiri karena belum kenal dengan dirinya sendiri, tidak tahu apa yang disebut diri (dia baru bisa jujur kepada yang tidak tahu) lain di bibir lain di hati. Kalau tidak dibohongi bawahannya dia akan membohongi rakyatnya, rakyat sampai menteri dipimpin oleh Presiden, Presidennya dipimpin oleh orangnya pribadi (orang pribadi tidak bisa memimpin lahir bathin). La Haula Wala Kuwata Illa Billahil Aliyul Adzim artinya tidak punya daya dan upaya kecuali TUHAN 

Kepemimpinan Yang Tidak Berdaya 
Pemimpin yang tidak berdaya karena belum mengenal jati diri (Belum Mengenal Tuhan Yang Maha Esa) belum punya power, paling bisa mengeluh, diperintahkan anak buah, anak buah membangkang, dia tidak bisa menjadikan anak buahnya sebagai alatnya karena dia belum sadar dia Cuma alat Tuhan. Bagus pidato tapi semua rencana tidak bisa diwujudkan dan alam pun tidak menerimanya (jadilah pemimpin sumber bencana) contoh : Bank Century, Wapres periode yang lalu menyatakan bahwa kasus Bank Century adalah RAMPOK, kenapa Cuma bicara, kenapa tidak berani menyelesaikannya ada apa gerangan?. 

Pemimpin Yang Percaya Diri 
Pemimpin yang percaya diri tidak akan berkampanye untuk partainya dia sudah berkampanye selama menjabat 5 tahun karena perbuatan adalah wujud dari do’a, kalau pemimpin yang kampanye untuk partai adalah pemimpin yang tidak percaya diri karena selama 5 tahun sudah diberikan untuk berkampanye sepuas-puasnya disia-siakan. 

PRESIDEN SOEKARNO SEBAGAI PANGLIMA TERTINGGI 
Kata-kata Panglima berasal dari Pangaman yang lima. Pang adalah pengaman yang lima adalah Pancasila (Pengaman Pancasila) bisa menjadikan hukum sebagai Panglima karena dia Panglima Tertinggi, yang disebut panglima tertinggi harus mengamalkan Pancasila bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ta’at kepada Pancasila dan UUD 1945). Karena Pancasila bagian dari Sapta Marga TNI, kalau tidak taat kepada Pancasila dan UUD 1945 tidak bisa disebut sebagai panglima tertinggi, tidak akan bisa menjadikan hukum sebagai Panglima, Non Sent (Omong Kosong) 

Di indonesia terlalu banyak presiden, 
Belum Ada Yang Menandingi Presiden Soekarno dengan Pancasila dan Nasionalismenya, ada presiden partai, atau presiden komisaris, yang belum resmi presiden rekayasa dan presiden mafia, sebetulnya di Indonesia Presiden satu saja cukup tetapi ta’at kepada Pancasila dan UUD 1945 dan bertakwa kepada Tuhan YME, mengerti Pancasila lahir bathin, mengenal Tuhan Yang Maha Esa, Dia sadar Cuma Alat Tuhan, (Presiden setingkat wali). 

Reformasi Gagal Total 
Sejak reformasi bergulir, reformasi tidak terarah, demokrasi yang tidak terpimpin, karena presidennya tidak lagi berfungsi sebagai Panglima Tertinggi karena tidak taat kepada Pancasila dan UUD 1945, (Pancasila bagian dari SAPTA MARGA TNI) pemimpin yang tidak Pancasilais sudah membiarkan uang jadi syarat utama untuk menjadi pegawai negeri, karena tidak mengerti, atau pura-pura tidak tahu, Undang2 yang salah sudah menyebabkan dan memaksa semua orang berbuat untuk jadi korupsi, untuk jadi korptor, karena terpaksa bayar jadi pegawai negeri sangat mahal, penempatan, jabatan, naik pangkat, setoran dari bawahan kepada atasan semua ini memaksa orang menghalalkan segala macam cara untuk mengembalikan modal, karena tidak ada di Indonesia yang menjadi pegawai negeri gratis, tidak ada yang tidak korupsi, kalau terima gaji normal saja sampai kiamat tidak kembali modal, sejak mulai pegawai rendah sampai dengan pegawai tertinggi (korban pemerasan) 

Otonomi Daerah Gagal Total (Bupati Sudah Jadi Raja)
Dimana ada proyek pemda rakyat jadi korban kekejaman aparat Pemda, banyak rakyat yang bertanya apakah Indonesia masih utuh? Karena apa yang dilakukan pemerintah daerah tidak sesuai dengan apa yang di pidatokan presiden, seolah-olah pemerintahan terutama hukum hanya berjalan dan berlaku hanya di kota-kota besar dan Pemda mengeluarkan Perda seenak perut dan banyak aset-aset daerah sudah pindah tangan jadi milik orang lain termasuk hak-hak rakyat. Kemana rakyat mau mengadu? Contohnya kabupaten Padang Pariaman Tanah, Sawah rakyat dibebaskan paksa Rp. 1.500 /m. Kalau tidak mau terima Rp. 1500/M akan dikucilkan dari adat dan dikeluarkan dari Nagari kalau meninggal tidak boleh tahlilan. Sejak dimulai Preman sampai Pemuka Adat dan Pemuka Agama sudah dijadikan alat kekuasaan, bisa dibuka di website kami akses di komentar : www.pancasilakppp.org

Neo Liberal 
Neo liberal adalah ekonomi bebas yang tidak beraturan sudah membunuh rakyat secara pelan-pelan, dengan menyerahkan kendali ekonomi pada swasta/pasar, perdagangan, mini market, swalayan-swalayan, sampai pupuk kebutuhan petani, Undang-Undang BHP, Undang2 Mineral Batu Bara (Minerba), Outsourching, Bumi, Air, Hutan yang terkandung didalamnya dikuasai pengusaha untuk kemakmuran penguasa menjual bahan mentah sehingga menghilangkan lapangan kerja. Sehingga hilangnya ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi nasional, rakyat dan pemimpin tidak lagi bisa jadi Tuan Rumah di Negerinya sendiri. Neo Liberal bertentangan dengan UUD 1945 Pasal 33 yang berbunyi : Bumi, Air, Hutan yang terkandung didalamnya (dikuasai Negara untuk kemakmuran Rakyat). 

Aparat Penegak Hukum Tanpa Seleksi 
Untuk menjadi aparat hukum di Indonesia syaratnya uang bukan kebenaran, Ia diterima karena bayar bukan karena benar, setiap calon aparat penegak hukum sebelum menjadi aparat penegak hukum sudah melanggar hukum yaitu kolusi (suap menyuap) / korban pemerasan seperti Hakim, Jaksa, dan Aparat Penegak Hukum lainnya, setelah dia menjadi aparat penegak hukum dia akan jor-joran menghalalkan segala macam cara memperkaya diri dengan alasan gaji kecil tidak mencukupi, kalau jadi aparat penegak hukum atau jadi pemimpin tujuannya cari uang atau memperkaya diri sebaiknya jadi pedagang saja atau jadi pengusaha supaya hukum tidak rusak di negeri ini. 

Semua Institusi Bisa Rusak Tanpa Pengawasan Yang Memadai 
Belum ada pengawasan yang memadai atau yang bisa dipercaya seperti Polisi, Jaksa, Hakim, dan Aparat Penegak Hukum Lainnya, kecuali TNI diawasi oleh Polisi Militer, yang lain cuma diawasi oleh intern institusi tersebut (pengawasan internal tidak efektif) karena hutang buruk setoran dari bawahan kepada atasan, penempatan jabatan naik pangkat, dan sebagainya semua ini membuat bawahan bisa membangkang/tidak patuh pada atasan dan atasan tidak bisa tegas kepada bawahan karena berhutang buruk/suap. 

Jadi Penegak Hukum Yang Jujur Banyak Tantangan 
Menegakkan hukum dimuka bumi ini sebaik apapun tetap saja ada yang merasa dirugikan seperti maling, rampok, koruptor, seperti Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif yang baru dilantik, merasa dirugikan karena belum kembali modal. 

Kembalikan Kedaulatan Rakyat 
Batalkan Amandemen Tahun 1999/2002 karena sudah merusak tatanan hidup berbangsa dan bernegara dan sudah menzolimi rakyat dan TNI kembalikan jati diri bangsa Pancasila dan UUD 1945 yang dirampas oleh segelintir orang yang duduk di DPR/MPR 1999/2002 (Penghianat Negara). Hidupkan lagi Pendidikan Moral Pancasila (PMP), P4 dan Pendidikan Budi Pekerti, letakkan sesuatu pada tempatnya, aparatur negara bekerja untuk bangsa dan negara, bukan untuk Presiden, letakkan posisi Polri di bawah Menteri Dalam Negeri supaya sejajar dengan TNI supaya adil, Presiden jadi abdi rakyat, abdi negara, sekaligus Abdi Tuhan Yang Maha Esa. (Pemimpin setingkat Wali). 

Negara Demokrasi Pancasila 
Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang terpimpin siapapun yang memimpin NKRI pemimpin dari pemimpin tersebut adalah Tuhan Yang Maha Esa. Siapapun yang menjabat Presiden Presidennya dijabat oleh Tuhan Yang Maha Esa. Yang bisa disebut kepemimpinan nasional yang bisa memimpin nasionalisme (Alat Tuhan) untuk memimpin Indonesia, Tuhan berkarya melalui Roh Kudus terlihat tentang yang berbentuk orang, yang menjabat sebagai Presiden (Sarana Tuhan) kalau sudah jadi sarana Tuhan pasti mampu (Dengan Tuhan Pasti Bisa) 

Demokrasi Pancasila 
Demokrasi Pancasila adalah sangat menguntungkan semua Pihak, Pers Bebas, dan bebas mengemukakan pendapat di depan umum (demokrasi, kebenaran berpihak pada yang benar), Demokrasi Pancasila akan menyingkirkan koruptor, korupsi, penjajah, termasuk penjahat negara, cukupi pegawai negeri hidup layak, tapi kalau korupsi berlakukan hukuman mati, karena korupsi, koruptor, penjahat negara adalah pelanggar HAM pantas kalau dihukum mati. Selamatkan rakyat, selamatkan TNI untuk menyelamatkan negara, jadikan Indonesia menjadi Kiblat Dunia dengan Pancasila Mercusuar Dunia. 
Blog, Updated at: 21.53

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts