Konsep Pembelajaran IPS Dan Pelajaran IPS (Sejarah) Di SMP

Konsep Pembelajaran IPS Dan Pelajaran IPS (Sejarah) Di SMP
a. Konsep Pembelajaran IPS
1) Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial
Mata pelajaran IPS di tingkat SMP dalam Kurikulum 2004, sebagaimana tertuang dalam buku Panduan Pengembangan Pembelajaran IPS Terpadu mencakup bahan kajian ”geografi, ekonomi, sejarah dan sosiologi”, yang dibelajarkan, seperti disebutkan oleh Sapriya (2009:7), secara ”terpadu (integrated)”.

Ilmu Pengetahuan Sosial dapat diartikan dengan “penelaahan atau kajian tentang masyarakat”. Dalam mengkaji masyarakat, guru dapat melakukan kajian dari berbagai perspektif sosial, seperti kajian melalui pengajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik pemerintahan, dan aspek psikologi sosial yang disederhanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Ilmu pengetahuan sosial juga membahas hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana anak didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat, dihadapkan pada bernagai masalah yang ada dan terjadi di lingkungan sekitarnya.

2) Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Menurut Nursid Sumaatmaja (dalam Trianto, 2011: 193) mengatakan bahwa Tujuan utama ilmu pengetahuan sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. 

b. Pelajaran IPS (Sejarah) di SMP
Pembelajaran merupakan jantung dari proses pendidikan dalam suatu institusi pendidikan. Kualitas pembelajaran bersifat kompleks dan dinamis, dapat dipandang dari berbagai persepsi dan sudut pandang melintasi garis waktu. Pada tingkat mikro, pencapaian kualitas pembelajaran merupakan tanggungjawab profesional seorang guru, misalnya melalui penciptaan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa dan fasilitas yang didapat siswa untuk mencapai hasil belajar yang maksimal.

Dalam sistem pembelajaran IPS seperti saat ini, di lapangan (sekolah) ditemukan beberapa masalah mendasar yang bersangkutan dengan kualitas pembelajaran IPS di sekolah, baik yang berkaitan dengan kualitas guru yang membelajarkannya, maupun yang bertalian dengan cara pembelajarannya.

Sejalan dengan itu, Sapriya dalam Veni Febriani (2014:18), mengatakan ”Dalam bidang pendidikan IPS (PIPS), baik yang bersifat school based maupun community based tantangan yang dihadapi tidaklah sederhana. Tantangan mendesak yang perlu dijawab adalah terkait dengan upaya peningkatan kualitas (mutu) pendidikan. Salah satu variabel yang punya kontribusi cukup besar terhadap baik buruknya kualitas pendidikan adalah unsur guru atau pendidik”.

Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), khususnya sejarah, sering dianggap sebagai pelajaran hafalan dan membosankan. Pembelajaran ini dianggap tidak lebih dari rangkaian angka tahun dan urutan peristiwa yang harus diingat kemudian diungkap kembali saat menjawab soal-soal ujian.

Pembelajaran Sejarah seharusnya dapat menjadi suatu pembelajaran yang imajinatif yang akan mempunyai banyak manfaat dalam kehidupan berbangsa. Pembelajaran sejarah seharusnya mampu menjadi pengikat konstruksi nasionalisme bangsa Indonesia. 

Permasalahan dalam materi pendidikan sejarah menyangkut isu tentang ruang lingkup materi dan si materi. Permasalahan materi ini sering dibahas dan muncul di permukaan dibandingkan permasalahan dalam tujuan (Hasan, 2012:25).

Kenyataannya materi dan isi materi dalam pembelajaran lebih mendapat perhatian dan seringkali melupakan apa tujuan sebenarnya dari pembelajaran sejarah yang dilakukan. Akibatnya, yang terjadi dalam pembelajaran sejarah adalah, materi tersampaikan akan tetapi tujuan pembelajaran sejarah tidak tercapai.

Mempelajari sejarah berarti berusaha memahami bahwa dalam perjalanan kehidupan manusia selalu terdapat kekuatan adi kodrati yang secara langsung maupun tidak langsung sangat mempengaruhi gerak kehidupaan manusia. Banyak tokoh dalam sejarah mempunyai kecenderungan merupakan pribadi yang selain memiliki kemampuan juga memiliki sikap taqwa. Apabila nilai ini dapat tersampaikan dalam pembelajaran sejarah tentu pembelajaran yang disampaikan akan sangat berguna bagi peserta didik dalam memahami kehidupan.

Pembelajaran sejarah juga merupakan cara untuk membentuk sikap social. Mempelajari sejarah terbentuknya NKRI berarti berusaha memahami bahwa Negara ini terbentuk karena adanya sikap social yang baik dari para pendiri bangsa. Kesatuan yang terbentuk di atas perbedaan dalam proses kebangkitan nasional pada hakekatnya merupakan sikap social yang sangat patut diketahui.

Masalah profesionalisme guru sejarah juga masih dipertanyakan, sampai saat ini masih berkembang kesan dari para guru, pemegang kebijakan di sekolah bahwa pelajaran sejarah dalam mengajarkannya tidak begitu penting memperhatikan masalah keprofesian, sehingga tidak jarang tugas mengajar sejarah diberikan kepada guru yang bukan profesinya. Akibatnya, guru mengajarkan sejarah dengan ceramah mengulangi apa isi yang ada dalam buku.

Selain itu, sebagian besar guru juga tidak mengikuti perkembangan hasil penelitian dan penerbitan mutakhir sejarah Indonesia. Hal yang terakhir itu juga berkaitan dengan adanya kenyataan bahwa institusi resmi yang menjadi tempat pendidikan tambahan bagi guru sejarah itu hanya berkutat pada substansi historis dan metode pengajaran sejarah yang tertinggal jauh (Purwanto, 2006:268).

4. Penelitian Tindakan Kelas
a. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sudah dikenal lama dlam dunia pendidikan. Isttilah dalam bahasa Inggris adalah Classroom Action Research (CAR). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan bagian dari penelitian tindakan (Action Research) yang dilakukanoleh guru dan dosen di kelas (sekolah dan perguruan tinggi) tempat ia mengajar yang bertujuan memperbaiki dan meningkatkan kualitas dan kuantitas proses pembelajaran di kelas (Iskandar, 2012:20).

Penelitian Tindakan Kelas suatu kegiatan ilmiah yang terdiri dari Penelitian + Tindakan + Kelas.
  1. Penelitian merupakan kegiatan mencermati suatu objek, menggunakan aturan metodologi untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
  2. Tindakan merupakan suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan.
  3. Kelas merupakan sekelompok peserta didik yang sama dan menerima pelajaran yang sama dari seorang guru.
Menurut Wina Sanjaya (2009:26) PTK dapat diartikan sebagai proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta mnganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut.

Sementara menurut Kemmis dan Mc Taggart (dalam Trianto,2011:14) penelitian tindakan kelas sebagai penelitian yang berorientasi pada penerapan tindakan dengan tujuan peningkatan mutu atau pemecahan masalah pada sekelompok subyek yang diteliti dan mengamati tingkat keberhasilan atau akibat tindakannya, kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi atau situasi sehingga diperoleh hasil yang lebih baik.

b. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
Tujuan utama guru atau dosen, dan peneliti lainnya mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah untuk memecahkan permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran di kelas. (Iskandar, 2012:32).

Secara lebih rinci, tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai berikut:
  1. Memperbaiki dan meningkatkan mutu isi, masukan, proses, serta hasil pendidikan dan pembelajaran dikelas.
  2. Membantu guru atau dosen, serta tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pembelajaran di dalam dan luar kelas.
  3. Mencari jawaban secara ilmiah (rasional, sistematis, empiris) mengapa masalah tersebut dapat dipecahkan melalui tindakan.
  4. Meningkatkan sikap profesionalisme sebagai pendidik.
  5. Menumbuh kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah, sehingga tecipta perbaikan dan peningkatan mutu serta kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.
Adapun tujuan utama Penelitian Tindakan Kelas adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran, di kelas, mencari jawaban atau solusi ilmiah mengapa masalah tersebut dapat dipecahkan melalui tindakan, meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik (guru atau dosen), dan menumbuhkan budaya akademik.

c. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Menurut Iskandar (2012: 33) dengan terlaksanannya tujuan Penelitian Tindakan Kelas tersebut, maka diharapkan dapat menghasilan perbaikan dan peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran, sebagai berikut:
  1. Perbaikan dan peningkatan mutu isi, masukan, proses, hasil pembelajaran.
  2. Perbaikan dan peningkatan terhadap prestasi belajar peserta didik di kelas atau ruang kuliah.
  3. Perbaikan dan peningkatan terhadap materi, metode, dan penggunaan media pembelajaran di kelas.
d. Karakteristik Peneitian Tindakan Kelas
Sebagai paradigm seuah penelitian tersendiri, jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki karakteristik yang relative agak berbeda jika dibandingkan dengan jenis penelitian yang lain, misalnya penelitian naturalistic, eksperimen, survey, analisis isi, dan sebagainya. Jika dikaitkan dengan jenis penelitian yang lain PTK dapat dikategorikan sebagai jenis penelitian kualitatif dan eksperimen. Penelitian tindakan kelas dikategorikan sebagai peneitian kualitatif karena pada saat data dianalisis digunakan pendekatan kualitatif, tanpa ada perhitungan statistic. Dikatakan sebagai penelitian eksperimen, karena penelitian ini diawali dengan perencanaan, adanya perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi terhadap hasil yang dicapai sesudah adanya perlakuan.

Ditinjau dari karakeristiknya, PTK setidaknya memiliki karakteristik antara lain: 
  1. Didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam instruksional;
  2. Adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya;
  3. Penelitian sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi;
  4. Bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek instruksional;
  5. Dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus. (Iskandar, 2012: 24).
Kajian Penelitian yang Relevan
Penelitian yang Relevan atau Penelitian terdahulu disini dimaksudkan untuk mengungkap sejumlah karya ilmiah sebelumnya yang memiliki relevansi dan dinilai penting terkait dengan penelitian yang akan dilakukan sekarang. Survey literatur ini bertujuan untuk mengecek sejauhmana penelitian yang akan dilakukan ini pernah diteliti atau belum diteliti oleh orang lain. Bukan saja untuk menghindari adanya plagiat dan pengulangan penelitian dengan masalah yang sama, bentuk kesiapan peneliti dengan teori-teori yang akan digunakan dan penguasaan sumber yang relevan, melainkan juga penegasan peneliti tentang originalitas dan ide-ide kreatif dalam penelitian ini. Adapun penelitian terdahulu terkait dengan penelitian sekarang yaitu:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Merianti yang berjudul “Internalisasi Nilai-Nilai Nasionalisme Dalam Pembelajaran IPS Sejarah Di SMA Negeri 1 Plumbon Kabupaten Cirebon”.
Mengingat pendidikan sangat penting dalam kehidupan untuk mencerdaskan anak bangsa maka dari itu perlunya Internalisasi Nilai-Nilai Nasionalisme Dalam Pembelajaran IPS Sejarah, apalagi dalam era globalisasi ini karakter anak semakin menurun saat ini maka perlu peningkatan pendidikan dalam hal menciptakan karakter anak agar lebih cinta terhadap tanah air, melalui mata pelajaran IPS Sejarah penanaman Nilai-nilai Nasionalisme dikembangkan di SMA Negeri 1 Plumbon agar siswa dapat mengaplikasikan nilai nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang upaya internalisasi nilainilai nasionalisme dalam pembelajaran IPS Sejarah, untuk mengetahui respon siswa dengan adanya upaya internalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran IPS Sejarah dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi internalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran IPS sejarah.

Pendidikan sejarah tidak lepas dari kurikulum yang mengarahkan remaja untuk memahami posisinya sebagai warga negara yang memiliki hak dan kewajiban tertentu. Hilangnya nasionalisme membutuhkan sentuhan tangan dingin dari semua pihak yang menginginkan perubahan dan kemajuan bangsa ini. Generasi muda yang menjadi tulang punggung perubahan bangsa ini harus diselamatkan dengan langkah nyata dan sistematis, efektif, dan gradual, melalui pendidikan berkarakter penanaman sikap nasionalisme perlu dikembangkan kepada peserta didik khususnya pada mata pelajaran sejarah agar siswa mampu mengaplikasikan pada kehidupan sehari-hari.

Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan fokus penelitian Internalisasi Nilai-Nilai Nasionalisme Dalam Pembelajaran IPS Sejarah. Metode pengumpulan data menggunakkan observasi, wawancara dan studi dokumentasi.

Hasil dari penelitian ini adalah upaya internalisasi nilai-nilai nasionalisme melalui penyampaian materi yang dilakukan dengan 3 (tiga) tahapan yaitu pemberian penjelasan, pemahaman, dan sikap. Menginternalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran dilakukan dengan bantuan metode-metode pendidikan. Melalui metode memudahkan dan membantu pendidik dalam penyampaian materi. Secara riil sebenarnya di SMA Negeri 1 Plumbon sudah terlihat seperti setiap hari Senin semua siswa diwajibkan mengikuti upacara secara khidmat, di dalam kelas sebagian adanya gambar pahlawan.

Perbedaan antara penelitian terdahulu di atas dengan penelitian yang akan dilaksanakan, yakni terletak pada proses atau upaya yang dilakukan untuk mewujudkan Nasionalisme pada diri siswa. Penelitian di atas merupakan jenis penelitian kualitatif, sehingga tidak ada penggunaan model pembelajaran. Sedangkan penelitian yang akan dilaksanakan ini jenisnya penelitian tindakan kelas. Sehingga perbedaannya yakni dalam hal penerapan model pembelajarannya.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Veni Febriani dengan judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Living History Pada Mata Pelajaran IPS Sejarah Kelas VII Di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon”.

Dalam kegiatan belajar mengajar dikelas, guru harus pandai dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Guru juga harus mampu meningkatkan minat belajar siswa agar hasil belajar siswapun ikut meningkat. Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru adalah penggunaan model pembelajaran dalam melakukan kegiatan belajar mengajar dikelas. Kreatifitas guru dalam menggunakan model pembelajaran bisa menentukan keberhasilan suatu pembelajaran.

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: Untuk mengetahui penerapan Model pembelajaran Living History dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah.Untuk menemukan gambaran peningkatan keaktifan siswa dan untuk mengetahui adakah peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah setelah menggunakan model pembelajaran Living History.

Penelitian ini bertolak dari kerangka pemikiran bahwa penggunaan model pembelajaran mempunyai peranan yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Salah satunya model pembelajaran Living History, penggunaan model pembelajaran di dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dapat membantu guru dalam menyampaikan materi yang disampaikan oleh gurunya. Dengan demikian dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam menyerap materi dan imbasnya akan meningkat pula hasil belajar siswa yang menjadi tujuan dalam penelitian ini.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas, pada pelaksanaan PTK ini dilakukan secara kolaboratif sebagai alternatif pembelajaran sejarah di kelas VII-F yang berjumlah 40 siswa terdiri dari 22 siswi perempua, 18 siswa laki-laki. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, tes dan angket serta dokumentasi.

Adapun hasil dari penelitian ini adalah hasil belajar siswa di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon terhadap model pembelajaran Living History dapat dilihat dari hasil observasi kinerja guru pada siklus I sebesar 80% , siklus II sebesar 78%, dan siklus III sebesar 90%. Dari hasil angket siswa terlihat bahwa pada umumnya siswa sangat senang belajar sejarah dengan menggunakan model pembelajaran Living History karena dapat memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dalam pembelajaran. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS sejarah di kelas VII-F SMP Negeri 2 Sumber memperoleh peningkatan walaupun dalam siklus II mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat dari persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 82,5%. Persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus II sebesar 63,15%. Persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus III meningkat menjadi 84,21%. Aktivitas siswa di kelas VII-F SMP Negeri 2 Sumber dalam pembelajaran Sejarah dengan menggunakan model pembelajaran Living History, dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung yaitu pada siklus I sebesar 78%, pada siklus II sebesar 64%, dan aktivitas siswa pada siklus III sebesar 86%.

Terlihat jelas antara penelitian terdahulu di atas dengan penelitian yang akan dilakukan, yakni memiliki persamaan dari jenis penelitiannya yaitu Penelitian Tindakan Kelas dan penggunaan model pembelajaran yang sama. Namun, terdapat perbedaan yang jelas pula yakni dari ranah yang ingin dicapai atau dituju. Pada penelitian terdahulu, tujuan penelitiannya yakni untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Sejarah. Sedagkan pada penelitian yang akan dilakukan ini, tujuan penelitiannya yakni untuk meningkatkan jiwa Nasionalisme siswa.
Blog, Updated at: 22.55

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts