Landasan Teori Pengajaran Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Asing

Landasan Teori Pengajaran Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Asing 
1. Pendahuluan
Sebelum memaparkan beberapa teori belajar bahasa asing/bahasa kedua perlu lebih dahulu dikemukakan pengertian istilah yang digunakan oleh BIPA menamai pengajaran bahasa Indonesia yang dipelajari oleh orang asing. Istilah yang dimaksud adalah “Pengajaran Bahasa lndonesia untuk Orang Asing”. Nama ini sudah dalam beberapa pertemuan ilmiah, seperti di Bali (2001) dan sekarang ini di Makassar.

Nama itu tidak lazim digunakan dalam teori belajar bahasa asing/bahasa kedua. Nama yang lazim adalah "Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing” sebagai bentuk analogi dari nama yang digunakan dalam bahasa Inggris, "Teaching English as Foreign Language". Kalau nama yang digunakn oleh BIPA diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, akan menjadi "Teaching Indonesian for the Foreigner Tolk” atau "Teaching Indonesian for the Foreigner Speaker". Nama ini tidak menunjukkan status yang jelas bahasa Indonesia, apakah sebagai bahasa asing atau bukan?

Tujuan koreksi ini ialah agar (1) status bahasa Indonesia bagi orang asing jelas sebagai bahasa asing, dan (2) teori belajar bahasa asing/bahasa kedua yang telah dikenal secara umum, termasuk yang dibahas di dalam makalah ini, berlaku pula dalam pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing.

Teori belajar babasa yang dibahas secara singkat dalam makalah ini terdiri atas dua bagian: (1) teori belajar bahasa yang diadaptasi dari teori belajar pada umumnya, yaitu: Teori Behaviorisme dan Teori Nativisme ( Teori Interaksionisme Kognitif dan Teori lnteraksionisme Sosial tidak dibahas di sini karena kurang berkontribusi terhadap pengajaran bahasa asing/bahasa kedua), dan (2) teori belajar bahasa kedua/ bahasa asing: Teori Monitor, Teori Pajanan Bahasa, Teori Wacana, Teori Akulturasi, Teori Akomodasi, Teori Variabel Kompetensi, dan Teori Neurofungsional.

2. Teori Belajar bahasa
2.1 Teori Behaviorisme
Penulis berpandangan bahwa teori behaviorisme berkontribusi terhadap teori belajar bahasa karena dia merupakan bagian dari teori belajar. Teori ini dikembangkan oleh Skinner, seorang ahli psikologi, alumnus Universitas Havard pada tahun 1931. Dalam dua bukunya masing-masing: The Behavior of Organism (1938) dan Verbal Behevior (1957), Skinner memaparkan dua macam proses belajar yang masing-masing melibatkan tingkah laku yang berbeda yaitu (1) tingkah laku responden (respondent behavior), dan tingkah laku operan (operant behavior). Tingkah laku responden dihasilkan oleh stimulus tertentu. Stimulus ini akan menyebabkan respons terjadi secara otomatis. Proses stimulus-responden dalam membentuk tiagkah laku belajar mengikuti urutan secara sistematis, yaitu stimulus baru digandengkan dengan stimulus yang sudah menghasilkan respons yang selanjutnya akan muncul lagi stimulus baru yang memancing respons, demikian seterusnya.

Tingkah laku operan oleh Skinner, dikategorikan sebagai tingkah laku belajar pada umumnya. Tingklah laku operan tidak selamanya terjadi karena adarryra stimulus, tetapi dia lahir dari organisme, misalnya, berbicara, bekerja, bermain, dan berjalan tergolong tingkah laku operan.

Proses belajar tingkah laku operan terjadi di bawah kondisi tertentu. Bila respons operan terjadi dan diikuti oleh penguatan, besar kemungkinan akan ada respons susulan sebagai hasil penguatan yang berbentuk ganjaran. Perihal kontribusi teori verbal behavior ini terhadap pemerolehan dan belajar bahasa, Skinner mengemukakan bahwa kita semua yang hidup dalam komunitas verbal adalah sekelompok orang sama-sama mempunyai bahasa dan membentuk bahasa kita sendiri dengan memperkuat/mendorong penggunaan bahasa yang benar dan mematahkan penggunaan yang salah (dalam Yasin" 1991:134). Proses pembentukan bahasa itu" demikian Yasin, pada umumnya dapat dilihat pada anak-anak yang sudah tentu memperoleh/memperlajari bahasa dari bentuk yang sederhana tetapi terus berlangsung sampai dewasa. Butir-butir leksikal yang tetah mereka peroleh/pelajari digunakan secara bertahap, dari paling sederhana hingga dalam sruktur yang kompleks.

Kontribusi teori ini dalam pengajaran bahasa asing/bahasa kedua iatah memberian pelueng seluas-luasnya kepada pembelajar untuk membiasakan diri mengunakan atau menyimak bahasa target. Jadi, materi pembelajaran bahasa asing yang disajikan dalam bahasa pertama pembelajar, menurut teori ini, tidak akan membantu pembelajar untuk mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa target.

2. 2 Teori Nativisme
Teori belajar bahasa yang digagas oleh Chomsky (1975) ini berpijak di atas asumsi adanya bawaan bahasa pada manusia. Berdasarkan pengamatannya yang dilahirkan dengan saksama Chomsky meyakini bahwa bawaan bahasa (language faculty) yang bersifat genetis, suatu komponen di dalam otak manusia merupakan bentuk tertentu dari gramatika yang dapat ditelusuri secara manusiawi. Oleh karena itu, ungkapan "bahasa adalah cermin pikiran" menyiratkan makna yang lebih dalam dan signifikan. Potensi bahasa ini merupakan hasil olahan intelegensi manusia yang tercipta pada setiap individu dengan suatu proses yang terletak jauh di luar jangkauan keinginan atau kesadaran (Chomsky, 1975 dalam yasin, l99l:148).

Bawaan bahasa (language faculty) bukanlah materi bahasa yang siap diujarkan, melainkan suatu potensi yang memerlukan pengorganisasian dengan sebuah alat yang disebutnya language acquisition devise (LAD). Alat ini diyakini dimiliki oleh setiap anak normal dan berfungsi hampir sama pada tahap pemerolehan bahasa tingkat permulaan. Alat ini sangat efektif dalam proses pemerolehan tetapi kurang efektif dalam pembelajaran formal.

Melalui hipotesis bawaan, Chomsky menjelaskan bahwa pikiran manusia dapat menyerap struktur dunia secara berurutan dari yang khusus ke jenis-jenis tertentu, termasuk unsur-unsur bahasa.

Implikasi teori ini dalam pengajaran bahasa asing/bahasa kedua ialah adanya keyakinan bahwa manusia (yang normal) dapat memperoleh atau mempelajari bahasa mana pun (hipotesis universal). Adapun hasilnya sangat bergantung kepada banyak faktor, termasuk motivasi, kesempatan, dan kualitas bawaan bahasa secara genetis (intelegensi bahasa).

3. Teori Pemerolehan Bahasa Asing/Bahasa Kedua
3.1 Teori Monitor
Teori belajar bahasa asing/bahasa kedua dengan model monitor merupakan jasa besar Krashen yang berkembang dengan cepat hingga saat ini. Ada lima hipotesis dasar dalam teori monitor, yaitu (1) hipotesis pemerolehan--belajar, (2) hipotesis urutan alamiah, (3) hipotesis monitor. (4) hiptesis masukan, dan (5) hipotesis saringan afektif.

3.1.1 Hiipotesis Pemerolehan Belajar
Krashen (1983) berpendapat bahwa pembelajar bahasa kedua mempunyai dua strategi dalam mengembangkan pengetahuan bahasa kedua, yaitu melalui pemerolehan (acquisition) dan belajar (learning).

Pemerolehan, menurut Krahen (1982:10), adalah proses yang mirip, kalau tidak identik, dengan cara anak mengembangkan kemampuannya dalam bahasa pertama. Pemerolehan bahasa adalah proses yang tidak disadari. Pembelajar bahasa tidak selamanya menyadari unsur-unsur bahasa yang diperoleh tetapi dia menyadari unsur-unsur bahasa yang digunakan dalam komunikasi. Hasil dari pemerolehan bahasa yang berbentuk kompetensi itu pun tidak disadari. Demikian pula halnya, aturan bahasa atau kaidah bahasa yang diperoleh juga tidak disadari. Dengan pengetahuan itu, pembelajar mampu membedakan kalimat yang gramatikal dan yang tidak gramatikal, ucapan yang benar dan ucapan yang salah, kata yang benar dan kata yang salah, dan seterusnya. Namun, pembelajar tidak dapat menjelaskan kaidah yang mana yang dilanggar dan bagaimana menjelaskannya. Proses pemerolehan bahasa dengan cara demikian dapat juga disebut belajar secara implisit belajar secara informal, atau belajar secara alamiah.

Cara kedua untuk mengembangkan kompetensi bahasa asing/bahasa kedua ialah dengan belajar (learning). Penggunaan istilah belajar mengacu kepada pengetahuan bahasa kedua yang disadari dalam arti, mengetahui kaidah dengan sadar dan mampu. menjelaskannya. Jadi, istilah belajar berarti mengetahui tentang bahasa" mengetahui kaidah bahasa yang digunakan oleh orang lain.

Kedua jenis pengetahuan bahasa kedua yang dimiliki dari jalur yang berbeda itu, tidak hanya berbeda pemerolehannya, tetapi juga internalisasi dan fungsinya berbeda. Demikian pula sistem bahasa kedua yang diperoleh melalui jalur alamiah digunakan untuk memproduksi bahasa yang diujarkan dan berfokus pada makna bukan pada struktur bahasa. Sebaliknya, sistem bahasa yang dipelajari secara formal bertugas secara alamiah.

3.1.2 Hipotesis Urutan Alamiah
Hipotesis ini menyatakan bahwa unsur-unsur bahasa dan kaidah bahasa diperoleh dalam urutan yang dapat diprediksi (Krashen, 1983:28). Selanjutnya, Krashen mengaskan bahwa tidak setiap pemerolehan sekaligus akan memperoelh struktur alat bahasa dalam urutan yang persis sama. Krashen dalam hipotesis ini menyadari adanya struktur yang lebih cepat diperoleh dan lainnya lebih lambat. Dalam bahasa Inggris misalnya, bentuk penanda jamak (s) seperti pada books, pencils, dan yang semacamnya cenderung lebih awal diperoleh daripada bentuk-bentuk tenses. Untuk anak-anak penutur bahasa Indonesia lebih awal menguasai kata-kata vokalis, seperti: mama, papa, ibu, nenek, apa, ada dan semacamnya cenderung lebih awal diperoleh daripada kata-kata: ambil, untuk, tidak, simpan, dan semacamnya.

3.1.3 Hiipotesis Manitor
Menurut Krashen (1983), hasil belajar secara sadar hanya dapat digunakan untuk memonitor data bahasa yang diperoleh secara alamiah. Bahkaq menurutBaraja (1990:53), kefasihan berbicara dalam bahasa kedua (Inggris) tidak datang dari (1) pengetahuan formal tentang bahasa kedua (Inggris), (2) aturan-aturan yang kita pelajari di kelas, dan (3) aturan-aturan yang kita pelajari dari buku teks.

Monitor tidak selamanya digunakan ketika berbicara atau menulis. Penggunaan monitor dapat berfungsi secara efektif apabila (1) pembelajar mempunyai waktu untuk memikirkan dan menggunakan kaidah bahasa yang telah dipelajari, (2) pembelajar memfokuskan perhatian kepada bentuk. Untuk itra pembelajar harus benar-benar memberi perhatian kepada bagaimana sesuatu dikatakan bukan sekadar memahami apa yang dikatakan, dan (3) pembelajar mengetahui kaidah bahasa target dan mampu menerapkannya dengan tepat ketika menggunakan bahasa target itu (Gass dan Selinker, 1994:145).

Dilihat dari sudut ketepatan fungsinya penggunaan monitor dapat dibedakan atas tiga cara.
  1. Pembelajar menggunalon monitor secara berlebihan dengan hanya memusatkan perhatian kepada aspek kebahasaan, sedangkan aspek makna atau pesan diabaikan (over user).
  2. Pembelajar memfokuskan perhatian kepada makna atau pesan sehingga faktor penggunaan kaidah bahasa dengan tepat tidak dihiraukan (under user).
  3. Pembelajar memberi perhatian yang seimbang kepada, baik penggunaan caĆ­da bahasa maupun makna atau pesan yang disampaikan (optimal user).
3.1.4 Hipotesis Masukan
Krashen (1985:2) memberi perhatian khusus terhadap hipotesis masukan dalam teori pemerolehan bahasa kedua dengan alasan bahwa bahasa kedua diperoleh dengan memahami pesan (understanding messages) atau dengan menerima masukan yang dapat dipahami (comprehensible input). Krashen memaknai comprehensible input sebagai proses memahami bahasa yang didengar atau dibaca sedikit di atas kemampuan pempebelajar sebelumnya yang dirumuskan denga i + 1. Kalau masukan mempunyai tingkat kesulitan i + l0 misalnya pembelajar tidak akan mampu memahaminya.

Implikasi rumus comprehensible input ialah bahwa kemampuan berbicara atau menulis dengan lancar dalam bahasa kedua sedikit demi sedikit datang sendiri. Kefasihan berbicara menurut Krashen, bukanlah hasil pembelajaran secara langsung, melainkan kemampuan itu dibangun di atas kompetensi melalui pemahaman terhadap masukan. Apabila masukan dipahami, dan masukan itu memadai, secara otomatis kaidah bahasa terintegrasi di dalamnya.

3.1.5 Hipotesis Saringan Afektif
Hal yang perlu diketahui ialah bahwa tidak setiap orang yang mempelajari bahasa kedua pasti berhasil. Penyebabnya ialah comprehensible input tidak dapat diterima dengan baik. Dalam konteks ini, menurut Krashen, faktor motiivasi, sikap, kepercayaan diri, dan keinginan sangat penting. Keempat faktor yang disebut terakhir inilah yang diasumsikan sebagai saringan afektif. Apabila saringan ini berbuka lebar, maka input akan masuk dengan leluasa. Sebaliknya, apabila saringan itu sempit atau tertutup, maka input sangat sulit masuk atau mungkin samasekali tidak masuk (?).

Dalam teori monitor yang diuraikan di atas, menurut Krashen (1983), terdapat lima faktor yang turut memberi kontribusi terhadap pemerolehan bahasa.

1) Faktor kecerdasan (aptitude)
Krashen beralasan bahwa faktor kecerdasan hanya berhubungan dengan jalur belajar. Kecerdasan pembelajar ini dapat menjadi indikator prediksi bagaimana dia menguasai tata bahasa dan menggunakannya sebagai alat monitor. Sebaliknya, faktor sikap (attitude) berhubungan dengan jalur pemerolehan.

2) Faktor peran bahasa pertama
Krashen menolak anggapan bahwa bahasa pertama (L1)mengganggu pemerolehan bahasa kedua. Bahkan, dia mengatakan bahwa penggunaan L1 merupakan strategi performansi (pembelajar mencari padanan-padanan yang mungkin). Umumnya pembelajar bahasa kedua kembali ke L1-nya apabila dia kurang menguasai kaidah L2.

Sebagai gantinya, dia berinisiatif berujar dengan menggunakan pola L1-nya tetapi unsur leksikalnya diambil dari L2. Inilah yang disebut bahasa antara (interlanguage).

3) Faktor kebiasaan (routines) dan pola (patterns)
Krashen dan Scarcella (1981) membedakan antara kebiasaan (routines) dan pola (patterns) sebagai keseluruhan ujaran yang telah dipelajari yang muncul kembali (dingat) dan diujarkan, jadi dapat disetarakan dengan kalimat-kalimat ekspresi. Misalnya: kalimat pujian, ucapan selamat, yang dinyatakan dengan struktur dan pilihan kata yang sederhana. Ujaran seperti ini, menurut Ellis (1986) disebut formulaic speech. Krashen menolak pandangan yang memasukkan unsur kebiasaan dan pola sebagai unsur formulaic speech dan berkontribusi terhadap pemerolehan bahasa. Menurut pandangan Krashen, formulaic speech hanyalah membantu pembelajar untuk memperkaya kompetensi bahasanya; pada tahap tertentu, pola itu berkurang dan akhirnya hilang.

4) Perbedaan individu
Krashen mengklaim bahwa pemerolehan mengikuti urutan alamiah. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan atau variasi setiap individu dalam proses pemerolehan. Variasi itu terjadi hanya dalam kecepatan dan jumlah masukan yang diperoleh sebagai akibat dari saringan afektif. Selain dalam kecepatan dan jumtah masukan yang dapat bervariasi, juga dalam hal performansi & kefasihan.

5) Faktor usia
Usia pembelajar termasuk variabel yang menentulan keberhasilan dalarn proses pemerolehan bahasa kedua. Berbagai hasil pengarnatan menunjukkan bahwa orang berusia muda cenderung lebih cepat menyesuaikan diri dengan penutur asli, walaupun tidak dapat menyamai penutur asli. Sebaliknya orang dewasa tidak dapat melakukannya. Kelebihan orang berusia muda dalam belajar bahasa kedua terletak pada kefasihan,sedangkan orang dewasa lebih cepat menguasai sistem bahasa dalam arti kaidah bahasa. Sebagai catatan, masa pubertas merupakan masa-masa suram bagi pembelajar bahasa kedua. Setelah masa pubertas berlalu, saringan afektif berfungsi secara optimal.

3.2 Teori Pajanan Bahasa
Hal mendasar yang ditegaskan Bialystok (1990) dalam teorinya itu ialah adanya lima macam kompetensi yang saling mengisi dalam belajar bahasa bahasa kedua, yaitu : (1) input (language eksplouser), (2) other knowledge, (3) explisit linguistic knowledge, (4) linguistic knowledge, dan (5) output. Kelima rnacam pengetahuan ini, menurut Bialystok (1980), merupakan tahapan yang hars dilalui pembelajar. Artinya, jika pembelajar ingin berhasil dengan baih maka dia harus:
  1. Memiliki pengalaman bahasa melalui pajanan (language explouser) yang selanjutnya disebut input.
  2. Memiliki pengalaman tentang dunia disebut other knowledge.
  3. Memperoleh pajanan bahasa secara tidak dasar mengsilkan implicit linguistic knowledge.
  4. Memperoleh pembelajaran bahasa secara formal menghasilkan explicit linguistic knowledge.
  5. Memiliki kemampuan memberi respon dalam bahasa target dengan dua cara, yaitu: (l) respon spontan, dan (2) respon tidak spontan.
Variasi materi pembelajaran bahasa sangat diperlukan jika menginginkan hasil yang optimal dalam pengajaran bahasa asing/bahasa kedua. Ini merupakan realisasi teori belajar language expouser, Bialystok. Tujuannya ialah agar pengetahuan pembelajar tidak terkungkung di dalam bingkai babasa, tetapi harus mengenal dunia secara komprehensif.

3) Teori Akulturasi
Brown (1980:129) memaknai teori akulturasi sebagai proses adaptasi terhadap budaya baru. Proses adaptasi ini sangat penting dalam pemerolehan bahasa kedua karena dia merupakan salah satu alat ekspresi budaya. Selain alat ekspresi budaya juga sebagai alat komunikasi sosial. Berkenaan dengan itu, Schumann (1978c :34 ) mengajukan premis utama teori akulturasi bahwa pemerolehan bahasa kedua hanyalah salah satu aspek akulturasi dan tingkat akulfirasi seorang pembelajaar dalam target akan menjadi alat kontrol terhadap bahasa target yang telah diperoleh.

Akulturasi pemerolehan bahasa kedua juga ditentukan oleh faklor jarak ssioal dan kejiwaan antara pembelajar dan budaya bahasa target. Jauh dekatnya jarak itu, mempengaruhi timbulnya :
  • Language shock, yang diakibatkan adanya pengalaman buruk pembelajar dalam menggunakan bahasa target;
  • Culture shock, pembelajar merasa salah arah, stres, dan ketaktsan, sebagai akibat dari perbedaan budaya pembelajar dengar, masyarakat bahasa target; dan
  • Motivasi, dorongan kuat/lemah yang dimitih pembetajar untuk mempelajari bahasa target.
Jadi, dapat disimputkan bahwa makin kuat kemampuan pembelajar mengadaptasi bahasa target, makin besar kemungkinan berhasil mernpelajari bahasa itu. Sebaliknya, language shock dan culture shock menjadi penghambat dalam mempelajari bahasa target. Solusi yang tepat adalah pengajaran bahasa diimbangi dengan studi lintas budaya agar pembelajar dapat menempatkan secara proporsional antara budaya asli dan impor yang terimplisit di dalam bahasa masing-masing.

4) Teori Akomodasi
Teori akomodasi ini diturunkan dari basil penelitian Giles ((1982) tentang bahasa dalam masyarakat multibahasawan. Fokus pengamatan Giles ialah bagaimana antarkelompok itu menggunakan bahasa sebagai refleksi sosial dan tingkahpsikologis. Hasil penelitian inilah yang melahirkan teori akomodasi dalam studi Sosioliinguistik. Karena teori ini memiliki kesesuaian yang signifikan dengan teori Eilis (1986) memodifikasi dan merekomendasikan menjadi salah satu bahasa asing/bahasa kedua.

Teori ini berasumsi bahwa dalam komunikasi dua arah atau interaksi bersemuka, di satu sisi , pembicara berusaha menyesuaikan diri dengan mitra tuturnya. Penyesuaian adalah modifikasi ujaran agar mudah diterima dan dipahami oleh mitra tutur. Kebiasaan asli menyederhanakan batasanya ketika berbicara dengan penutur asing adalah salah satu bentuk modifikasi. Tujuannya ada dua yaitu: (l) mitra tutur pesan atau tujuann komunikasi yang disampikan, dan dengan demikian terjadi komunikasi dua arah. dan (2) bahasa yang termodifikasi akan menjadi masukan yang dapat dipahami (comprehensible input) bagi mitra tutur. Demikian pula, kalau berbicara dengan anak-anak, orang tua pada umunnya berusaha menyesuaikan sehingga terjadi komunikasi dua arah. Penyesuaian ini disebut konvergensi atau berkonvergensi.

Di sisi lain, penutur tidak menyesuaikan bahasanya dengan bahasa mitra tutur. Walaupun, kadang-kadang menyulitkan mitra tutur, namun strategi ini memaksa mitra untuk terus berusaha memahami bahasa penutur. Dampak yang diharapkan adalah motivasi mitra tutur untuk terus meningkatkan penguasaan bahasa target bagi penutur asing, dan bahasa orang dewasa bagi anak-anak. Strategi demikian disebut divergensi atau berdivergensi.

lstilah simplifikasi(simplification) dikenal dalam semua aliran atau pendekatan pengajaran bahasa. Strategi penerapannya pun sama atau hampir sama pada semua itu. Yang berbeda mungkin, hanya cara penyajiannya. Dalam pengajaran asing/bahasa kedua simplifikasi atau penyederhanaan materi pembelajaran dan ujaran guru atau tutor sangat diperlukan pada tahap awal. Secara bertahap, simplikasi dapat ditinggalkan apabila pembelajar telah mampu mengikuti pengguaan bahasa target secara normal. Dengan demikian, teori akomodasi cocok diterapkan dalam pengajaran asing/bahasa kedua.

3.5 Teori Wacana
Teori ini diturunkan dari teori penggunaan yang berlatarbelakang kompetensi komunikatif yang dikembangkan oleh Hymes (1983). Hymes berpandanganbahwa perkembangan bangsa pembelajar bergantung kepada bagaimana dia menemukan makna bangsa yang potensial ketika berpartisipasi dalam komunikasi. Proses demikian menurut Halliday (1975), sama dengan proses pemerolehan bahasa pertama. Dalam kajiannya tentang bagaimana seorang anak memperoleh bahasa ibunya, Halliday melihat bahwa perkembangan kaidah bahasa anak tumbuh melalui fungsi interpersonal bahasa yang realisasinya senantiasa berwujud wacana. Melalui komunikasi dengan orang lain,anak berinteraksi dengan dunia luar dan secara tidak sadar dia telah mengembangkan kaidah sruktur bahasa dan penggunaannya.

Proses pemerolehan bahasa kedua mirip dengan proses pemerolehan bahasa pertama. Dalam proses pemerolehan bahasa, pembelajar juga mengembangkan kaidah bahasa dan penggunaan bahasa melalui komunikasi interpersonal. Kondisi ini sesuai asumsi hipotesis urutan alamiah yang mengklaim adanya kemiripan bahasa kedua dengan bahasa pertama.

Verifikasi kemiripan pemerolehan bahasa kedua dengan bahasa pertama telah dilakukan oleh Flarch (1978c) dengan kesimpulan sebagai berikut :
  • Pemerolehan bahasa kedua mengikuti urutan alamiah dalam pengembangan perangkat sintaksis.
  • Penutur asli sangat bijaksana ketika berinteraksi dengan penutur asing sebagai upaya merundingkan makna atau pesan.
  • Strategi percakapan digunakan untuk merundingkan makna, di samping berfungsi sebagai input yang berpengaruh tertadap kecepatan pemerolehan bahasa kedua dengan berbagai cara:
  1. pembejar memperoleh tata bahasa L2 dalam urutan yang sama tetapi hasilnya bergantung kepada frekuensi input yang diterima;
  2. pembelajar memperoleh tata bahasa secara umum, kemudian ,mengalisisnya menjadi bagian-bagran berdasarkan substansinya;
  3. pembelajar terbantu (oleh tata bahasa) dalam membangun struktur kalimat dan dari kalimat-kalimat menjadi wacana.
Hymes dan Flalliday adalah dua tokoh linguistik yang memberi perhatian besar kepada pengajaran bahasa. Hymes mengembangkan kompetensi komunikatif yang selanjutnya diterapkan di dalam pengajaran bahasa, termasuk bahasa asing/bahasa kedua, lewat pendekatan komunikatif. Pendekatan komunikatif mensyaratkan materi pengajaran bahasa disajikan dengan tema-tema yang terpapar di atas wacana agar komponen kebahasaan tidak terpotong-potong.

Halliday tertarik mengembangkan program pengajaran bahasa termasuk bahasa asing/bahasa kedua dengan menekankan penerapan fungsi dalam komunikasi. Ada tujuh fungsi bahasa yang diajukan oleh Halliday, yaitu: instrumental, regulatori,representatif interpersonal, personal, heuristik, dan imajinatf. Tidak satu pun fungsi-fungsi bahasa ini yang dinyatakan secara diskrit, tetapi dengan wacana-wacana yang fungsional.

3.6 Teori Variabel Kompetensi
Ellis adalah salah seorang penggagas teori variabel kompetensi (aslinya,Variabel Competensi Model). Model atau teori ini didasarkan pada dua hal (1) proses penggunaan bahasa process),dan (2) produksi bahasa (product). Oleh pencetusnya, teori ini dipandang efektif menjadi kerangka acuan pemerolehan bahasa kedua.

Istilah proses (process) penggunaan bahasa dipahami dalam dua cara, yaitu: (1) pengetahuan linguistik (kaidah bahasa), dan (2) ke mana pun menerapkan kaidah itu di dalam penggunaan bahasa (procedures). Widdowson (1984) mengidentifftasi pengetahuan kaidah bahasa sebagai competence dan pengetahuan prosedur sebagai kemampuan menggunakan kaidah bahasa dalarn membangun wacana (capacity). Pengetahuan kaidah bahasa berfungsi mengawasi penggunaan kaidah di dalam wacana (communicative competence), dan capacity adalah kemampuan mengembangkan makna di dalam wacana dengan melacak potensi makna di dalam bahasa melalui komunikasi secara terus-menerus. Produksi wacana melalui proses ini umumnya berwujud: (1) wacana yang direncanakan (planned discourse),dan (2) wacana yang tidak direncanakan (unplanned discourse).

Sebagai kesimpulan teori ini, Ellis merekomendasikan bahwa:
  • Pengembangan wacana adalah hasil:
  1. pemerolehan kaidah L2 yang baru melalui partisipasi dalam komunikasi dengan berbagai macam wacana;
  2. penggiatan kaidah L2 yang sifatnya inisiatif internal (implisit), umumnya menghasilkan wacana yang tidak direncanakan (unplanned discourse).
  • proses adalah suatu kapasitas penggunaan bahasa yang menghasilkan wacana;
  • performansi L2 adalah hasil dari variabel (1) kaidah L2 yang tidak dapat dianalisis yang mengasilkan wacana yang tidak direncanakan dan (2) kaidah L2 yang dapat dianalisis yang menhasilkan wacana yang direncanakan
  • pengetahuan sederhana merupakan variabel kaidah bahasa antara (interlanguage rules).
Implikasi teori variabel kompetensi dalam pembelajaran bahasa asing/bahasa kedua adalah penyeimbangan pembelajaran kaidah bahasa dan penerapannya di dalam penggunaan bahasa. Dengan topik apapun, materi pembelajaran harus disajikan dalarn wacana, baik wacana yang tidak direncanakan unplaned disourse) maupun wacana yang direncanakan planed discourse).

3.7 Teori Neurofungsional
Teori ini lebih dikenal dengan nama Lamandella's Neurofuctional Theory. Lamandella (1981) membedakan dua tipe dasar pemerolehan bahasa: (l) primary Language acquisition dan (2) secondary language acquisition. Yang pertama berlaku pada anak usia 2-5 dalam pemerolehan satu atau lebih bahasa sebagai pertamanya Yang kedua terbagi dua bagian, yaitu: (a) belajar secara formal bahasa asing/bahasa kedua, dan (b) pemerolehan bahasa kedua yang terjadi secara alamiah setelah anak berusia di atas lima tahun.

Kedua macam pemerolehan bahasa itu mempunyai sistem neurofungsional yang berbeda dan masing-masing mempunyai fungsi hirarkis. Lamandella menunjukkan fungsi-fungsi hierarkhis itu sebagai berikut.
  1. Hirarkis komunikasi: bertanggungjawab menyimpan bahasa dan simbol-simbol lain melalui komunikasi interpersonal.
  2. Hirarkis kognitif: berfungsi mengontrol penggunaan bahasa dan kegiatan pemrosesan informasi kognitif. Pola latihan-latihan praktis dalam pembelajaran bahasa asing/bahasa kedua adalah bagian dari hierarki kognitif.
Implikasi fungsi hierarkis komunikasi dalam pembelajaran bahasa asing/bahasa akan berjalan secara efektif apabila pembelajar memperoleh banyak waktu untuk berinteraksi dengan orang lain lebih baik dengan penutur asli, dengan menggunakan bahasa target. Untuk merealisasikan kesempatan itu, ruang kelas atau tempat belajar dikondisikan sebagai tempat pemerolehan bahasa.

Adapun hierarkis kognitif berkonsekuensi pada pembelajaran kaidah bahasa secara teratur agar dengan kaidah itu pembelajar dapat mengontrol penggunaan bahasa. Dalam hal ini, teori neurofungsional sejalan dengan teori monitor.

4. Penutup
Uraian singkat teori belajar bahasa yang direkomendasikan untuk dijadikan landasan teori pengajaran bahasa lndonesia sebagai bahasa asing ini betullah dapat mewakili semua variabel yang mungkin dijumpai di lapangan. Pakar pengajaran bahasa yang berpengalaman akan sangat bermakna sumbangannya apabila sernpat membaca tulisan ini dan berkesempatan menunjukkan kelemahan-kelemahan yang menjadi tanggung jawab penulis.

Ke depan, tantangan pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing mungkin suatu waktu menjadi bahasa kedua di negera lain, tidak mudah. Suatu saat pengajaran konvensional tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya jalan karena perangkat teknologi modern akan jauh lebih efektif dengan biaya murah dan mudah diperoleh. Pada waktu itulah akan terjadi modifikasi teori pengajaran, yang apabila tidak diantisipasi sejak dini, kita akan semakin ketinggalanjauh. Mudah-mudahan yangdilakukan ini, walaupun sangat sederhana, paling tidak memberi motivasi untuk berbuat yang lebih baik.

BACAAN
  • Baradja M.F. 1990. Kapita Selekta Pengajaran Bahasa Malang: Penerbit IKIP Malang.
  • Brown, H. 1980. Principle of Language Learning and Teaching. Englewood Cliff Prentice Hall.
  • Chomsky, Noam. 1975. Reflections and Language. New York: Pantheon Books.
  • Ellis, Rod 1984. Classroom Second Language Development. Oxford: Pergamon.
  • Ellis, Rod. 1986. Understanding Second Language Acquisition Oxford: Oxford University Press.
  • Gass, Susan M dan Selinker. 1994. Second Language Acquisition: An Introduction Course. Hillsdale: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.
  • Giles, Fl dan J: Birne. 1982. An lntergroup Approach Second Language Acquisition. Jurnal of Multilingual and Multicultural Development, 3,17-40.
  • Hatctt, E. 1978a. Second Language Acquisition. Rowly, Mass: Newbury House.
  • Hymes, Dell. 1983. On Communicative Competence. Philadelpia: University of Pennsylvania Press.
  • Krashen, S.J. 1982. Principles and Practice in Second Language Aquisition. Oxford: Pergamon.
  • Krashern Si. dan T. Tenell. 1983. The Natural Approach: Language Acquisition in Classroom. Oxford: Pergamon.
  • Scarce R., dan C. Higa. 1981. Input, Negotiation and Age Diftences in Second Language Acquisition .Language Learning,3 1, 409--438.
  • Yasin, Anas. 1991. Gramatika Komunikatif: Sebuah Model. Disertasi tidak diterbitkan. Program Pascasarjana IKIP Malang.
Blog, Updated at: 06.35

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts