LUNTURNYA RASA NASIONALISME DI KALANGAN PEMUDA

LUNTURNYA RASA NASIONALISME DI KALANGAN PEMUDA
Dahulu sebelum Indonesia meraih kemerdekaan, para rakyat Indonesia berjuang mati-matian agar bangsa ini dapat merdeka dari belengggu penjajahan. Semangat rakyat Indonesia terutama para pemudanya sangat luar biasa. Dengan semangat persatuan dan sikap rela berkorban akhirnya bangsa ini dapat meraih kemerdekaan. Saat itu semua kekuatan, harta benda bahkan nyawa mereka korbankan. Dimana-mana para pemuda mengobarkan semangat kemerdekaan.

Namun sekarang zaman sudah berbeda, ketika Bangsa Indonesia sudah merdeka, ketika Bangsa Indonesia sudah terbebas dari belenggu penjajahan justru ada musuh lebih berat yang sedang dialami oleh bangsa ini. Musuh besar itu adalah lunturnya rasa nasionalisme di kalangan para pemudanya. Pemuda yang seharusnya dapat menjadikan masa depan suatu bangsa lebih baik, justru sekarang menjadi musuh yang dapat menghancurkan kehidupan bangsa di masa depan.

Pemuda Indonesia yang dulunya berjuang mati-matian untuk menyatukan bangsa dan mengusir para penjajah sekarang justru mulai melupakan rasa cintanya terhadap bangsanya sendiri. Mereka justru lebih bangga dengan menjadi bagian dari bangsa lain. Sikap inilah yang akan menjadi musuh terbesar bangsa di masa yang akan datang. Pemuda yang akan mengharumkan nama bangsa justru akan melupakan dan meninggalkan bangsa yang sudah membesarkannya.

Kondisi yang dialami bangsa ini sangat memprihatikan. Karena itu, penulis termotivasi untuk menyusun makalah ini, sebagai upaya menumbuhkan kembali rasa nasionalisme dan patriotisme di kalangan pemuda.

Pengertian nasionalisme menurut beberapa ahli, yaitu
  1. Menurut Ernest Renan : Nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu dan bernegara.
  2. Menurut Otto Bauar : Nasionalisme adalah suatu persatuan perangai atau karakter yang timbul karena perasaan senasib.
  3. Menurut Hans Kohn :Nasionalisme secara fundamental timbul dari adanya National Counciousness. Dengan perkataan lain nasionalisme adalah formalisasi (bentuk) dan rasionalisasi dari kesadaran nasional berbangsa dan bernegara sendiri.
  4. Menurut L. Stoddard : Nasionalisme adalah suatu kepercayaan yang dimiliki oleh sebagian terbesar individu di mana mereka menyatakan rasa kebangsaan sebagai perasaan memiliki secara bersama di dalam suatu bangsa.
  5. Selanjutnya menurut Louis Sneyder. Nasionalisme adalah hasil dari perpaduan faktor-faktor politik, ekonomi, sosial, dan intelektual. 
Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sikap seperti ini jelas mencerai-beraikan bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Keadaan seperti ini sering disebut chauvinisme. Sedang dalam arti luas, nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain. (http://fadluvvita.blogspot.com/p/pudarnya-rasa-nasionalisme-dan.html diakses Hari Minggu 19 Februari 2012)

Di era globalisasi ini, Bangsa Indonesia dilanda oleh banyak krisis, termasuk krisis rasa cinta terhadap tanah air oleh para pemudanya sendiri. Krisis tersebut dipengaruhi oleh fakor internal dan faktor eksternal. 

Factor-faktor tersebut antara lain adalah :
Faktor Penyebab Internal
  • Pemerintahan pada zaman reformasi yang jauh dari harapan para pemuda, sehingga membuat mereka kecewa pada kinerja pemerintah saat ini. Hal ini terlihat dengan semakin terkuaknya kasus-kasus korupsi, penggelapan uang negara, dan penyalahgunaan kekuasaan oleh para pejabat negara membuat para pemuda enggan untuk memerhatikan lagi pemerintahan. Pemerintahan yang terjadi sekarang dianggap sangat kacau dan merugikan rakyat, oleh karena itu para pemuda semakin muak hingga akhirnya mereka merasa tidak bangga hidup di tanah airnya sendiri.
  • Sikap keluarga dan lingkungan sekitar yang tidak mencerminkan rasa nasionalisme sehingga para pemuda meniru sikap tersebut. Para pemuda merupakan peniru yang baik terhadap lingkungan sekitarnya. Jika suatu lingkungan bersikap baik, maka para pemuda juga akan tumbuh menjadi pemuda yang baik namun jika mereka tumbuh dalam lingkungan yang kurang baik mereka juga akan tumbuh menjadi pemuda yang kurang baik.
  • Demokratisasi yang melewati batas etika dan sopan santun dan maraknya unjuk rasa, telah menimbulkan frustasi di kalangan pemuda dan hilangnya optimisme, sehingga yang ada hanya sifat malas, egois dan, emosional.
  • Tertinggalnya Indonesia dengan negara-negara lain dalam segala aspek kehidupan, membuat para pemuda tidak bangga lagi menjadi bangsa Indonesia. Mereka justru bangga menjadi bagian dari negara lain misalnya merasa bangga ketika menggunakan produk luar negeri.
  • Timbulnya etnosentrisme yang menganggap sukunya lebih baik dari suku-suku lainnya, membuat para pemuda lebih mengagungkan daerah atau sukunya daripada persatuan bangsa. Mereka kehilangan semangat persatuan dan berjuang sendiri-sendiri di bawah sukunya. Mereka hanya merasa bangga terhadap daerahnya namun tidak bangga terhadap negaranya.
Faktor Penyebab Eksternal
  • Cepatnya arus globalisasi yang berimbas pada moral pemuda. Mereka lebih memilih kebudayaan negara lain dibandingkan dengan kebudayaanya sendiri, sebagai contohnya para pemuda lebih memilih memakai pakaian-pakaian minim yang mencerminkan budaya barat dibandingkan memakai batik atau baju yang sopan yang mencerminkan budaya Bangsa Indonesia. Para pemuda kini dikuasai oleh narkoba dan minum-minuman keras, sehingga sangat merusak martabat bangsa Indonesia. Jika hal ini berlangsung terus-menerus, tentu saja membuat rasa nasionalisme di kalangan para pemuda semakin luntur. Jika para pemuda sudah tidak memiliki rasa nasionalisme maka Bangsa Indonesia akan kehilangan sosok penerus bangsa yang baik. Hal ini menjadi tantangan serius bagi bangsa Indonesia.
  • Paham liberalisme yang dianut oleh negara-negara barat yang memberikan dampak pada kehidupan bangsa. Para pemuda meniru paham libelarisme, seperti sikap individualisme yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan keadaan sekitar dan sikap acuh tak acuh pada pemerintahan. Paham seperti ini akan membuat rasa persatuan semakin berkurang sehingga membuat bangggsa ini mudah dihancurkan dan diadu domba oleh bangsa lain.
Banyaknya faktor yang telah disebutkan membuat Bangsa Indonesia akan semakin rapuh. Oleh karena itu perlu adanya beberapa solusi untuk mengatasi berbagai faktor diatas, solusi tersebut antara lain adalah :

Peran Keluaga
  • Memberikan contoh atau tauladan tentang rasa kecintaan dan penghormatan pada bangsa misalnya dengan menunjukkan para pahlawan pendahulu yang telah merebut kemerdekaan.
  • Memberikan pengawasan yang menyeluruh kepada anak terhadap lingkungan sekitar dan memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang baik.
  • Selalu menggunakan produk dalam negeri dan merasa bangga dalam menggunakannya.
Peran Pendidikan
  • Memberikan pelajaran tentang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan juga bela Negara.
  • Menanamkan sikap cinta tanah air dan menghormati jasa pahlawan dengan mengadakan upacara setiap Hari Senin dengan penuh khitmad.
  • Memberikan pendidikan moral, sehingga para pemuda tidak mudah menyerap hal-hal negatif yang dapat mengancam ketahanan nasional. Dengan cara ini diharapkan para pemuda tidak mudah terpengaruh dengan berbagai hal yang dapat menghancurkan bangsa.
Peran Pemerintah 
  • Menggalakan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme seperti seminar dan pameran kebudayaan.
  • Mewajibkan pemakaian batik kepada pegawai negeri sipil setiap Hari Jum’at. Hal ini dilakukan karena batik merupakan sebuah kebudayaan asli Indonesia, yang diharapkan dengan kebijakan tersebut dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan patrotisme bangsa.
  • Lebih mendengarkan dan menghargai aspirasi pemuda untuk membangun Indonesia agar lebih baik lagi. (http://www.pinem.info/2011/08/menumbuhkan-rasa-patriotisme-pada-anak/diakses Hari Minggu, 19 Februari 2012)
Daftar Pustaka
  • (http://fadluvvita.blogspot.com/p/pudarnya-rasa-nasionalisme-dan.html diakses Hari Minggu 19 Februari 2012 Pukul 14.00 WIB)
  • (http://www.pinem.info/2011/08/menumbuhkan-rasa-patriotisme-pada-anak/ diakses Hari Minggu, 19 Februari 2012 Pukul 14.00 WIB)
Blog, Updated at: 22.01

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts