Manusia-Manusia Teralienasi : Citra Manusia Modern Dalam Novel-Novel Karya Putu Wijaya

Manusia-Manusia Teralienasi : Citra Manu­sia Modern Dalam Novel-Novel Karya Putu Wijaya 
Ada berbagai cara untuk menjabarkan kondisi manusia dan dunia­nya. Salah satunya melalui karya sastra. Karya sastra dan kehidupan merupakan dua fenomena sosial yang saling melengkapi dalam kedirian mereka sebagai sesuatu yang eksistensial (Suyitno, 1990:3). Ini berarti bahwa karya sastra dan kehidupan nyata selain memiliki otonomi tersendiri, juga keduanya memiliki hubungan timbal balik.

Keberadaan karya sastra tidak terlepas dari pengarangnya. Penga­rang menciptakan karya sastra berarti pula menciptakan model kehidupan. Hal ini sejalan dengan pemikiran Umar Kayam (dalam Danarto, 1987:vii) yang menya­takan bahwa seorang pengarang mencoba memaha­mi kehidupan dengan menciptakan sebuah model berupa sebuah dunia alternatif. Model alternatif itu diciptakan pengarang agar ia dengan leluasa dapat mengembangkan kemung­kinan-kemungkinan pola pemahaman tentang kehidupan.

Di samping karena adanya fenomena kehidupan, kelahiran karya sastra juga karena adanya kesadaran penulisnya bahwa karya sastra sebagai sesuatu yang imajinatif, fiktif, dan inventif harus mengemban misi-misi yang dapat dipertang­gungjawabkan serta bertendens (Suyitno, 1990:3). Pengarang mencipta karya tidak hanya didorong oleh hasrat untuk menciptakan keindahan, tetapi juga berkehendak untuk menyam­paikan pikiran, perasaan, pendapat, dan kesan-kesannya terhadap sesuatu. Karya sastra yang baik tentu mengandung nilai-nilai kehidupan seperti nilai religi, falsafi, dan nilai kehidupan lainnya. Dengan demi­kian karya sastra dapat dilihat sebagai bentuk filsafat atau pemikiran yang terbungkus dalam bentuk khusus (Wellek, 1990:134). Oleh karena itu, karya sastra dapat dikaji untuk mengungkapkan pikiran-pikiran yang terkandung di dalamnya, baik yang tersurat maupun tersirat.

Membicarakan keterkaitan antara sastra dengan kehidupan Rudolf Unger (dalam Wellek, 1990:141) menyatakan, sastra bukanlah filsafat yang diterje­mahkan dalam ben­tuk pencitraan, melainkan ekspresi atau sikap umum terhadap kehidupan. Lebih lanjut Unger menjelaskan, permasalahan yang digarap sastra antara lain (1) masalah nasib, yakni hubungan antara kebabasan dan keterpaksaan, semangat manusia dan alam, (2) masalah keagamaan, (3) masalah mitos dan ilmu gaib, (4) masalah yang menyangkut konsepsi manusia, hubungan manusia dengan kematian dan konsep cinta, dan (5) masalah masyarakat dan keluarga.

Masih terkait dengan pembicaraan di atas, Damono (1984:1), mengatakan dalam karya sastra tersirat gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri meru­pakan kenyataan sosial. Dalam hal ini kehidupan mencakup (1) hubungan antar­ma­syarakat, (2) antarmanusia, (3) antarmasyarakat dengan orang-seorang, dan (5) pantulan hubungan orang dengan orang lain atau dengan masyarakat.

Merujuk seluruh uraian di atas dapat disimpulkan bahwa persoalan zaman dan kemasyarakatan dari kurun waktu tertentu berpengaruh pada pemilihan tema-tema yang diungkapkan para sastrawan dalam karya-karyanya. Pergeseran per­so­alan zaman dan kemasyarakan akan menyebabkan pergeseran pemilihan tema. Demikian pula halnya dengan persoalan zaman dan kemasyarakatan saat ini, terutama menyangkut modernisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi. Per­so­alan tersebut juga tak luput dari pencermatan para sastrawan yang pada akhirnya menjadi aspek tema yang ditu­angkan dalam karya sastra.

Kenyataan membuktikan bahwa kehidupan modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi telah banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Manusia semakin lama semakin terikat dengan teknologi. Teknologi tidak lagi berhadapan dengan manusia tetapi sudah terintegrasi dengan manusia. Dalam kondisi demikian itulah manusia akan menjadi terkukung oleh kemajuan itu sendiri.

Kemajuan teknologi pada awalnya membuat efisiensi dalam kehidupan manusia. Perkembangan selanjutnya teknologi justru menenggelamkan manusia dalam suatu rutinitas dan otomatisasi kerja yang diciptakan. Keadaan itulah yang menjadi salah satu penyebab manusia terpisah dari sesama atau dunia luar dan akhirnya mengalami keterasingan (alienasi). Manusia tidak lagi hidup secara bebas dengan lingkungannya tetapi secara berangsur-angsur telah dikelilingi oleh teknik, organisasi, dan sistem yang diciptakan sendiri. Manusia mulai terkuasai oleh kekuatan-kekuatan tersebut sehingga menjadi tergantung dan lemah. Dalam keadaan ini manusia tidak lagi menjadi subjek yang mandiri tetapi telah mengalami detotalisasi dan dehumanisasi (Erich Form, via Poespowardojo, 1988:83).

Kondisi yang digambarkan tersebut merupakan gejala sosial yang umum terjadi pada masyarakat modern. Budi Darma (1995:134) menyebut keterasingan (alienasi) pada awalnya merupakan gejala sosial dalam masyarakat modern. Keterasingan itu sendiri merupakan salah satu tema yang ada dalam telaah filsafat eksistensialisme. Selain tema keterasingan dalam eksistensialisme dibahas pula tentang (1) subjektivitas, (2) kebebasan, (3) kegagalan, dan (4) kematian (Koes­wara, 1987:9; Hasan, 1992:7).

Manusia dengan segala keterasingannya itulah yang ditampilkan dalam novel-novel Putu Wijaya. Kuntowijoyo (1984:131) menyebut karya Putu Wijaya merupakan wujud dari karya sastra eksistensialis. Sastra eksistensialis yang bermula dari filsafat eksistensialisme, menghadapkan individu dengan masya­rakatnya dalam sebuah pertarungan eksistensial. Dalam hal ini individu telah disudutkan oleh masyarakatnya dan ia menjadi bagian yang dengan sia-sia menegakkan eksistensinya dengan segala macam cara.

Ditegaskan oleh Kuntowijoyo, orang-orang (tokoh) dalam sastra demikian merupakan wakil dari ide keterasingan. Tokoh-tokoh tidak mempunyai watak dan hanya mempunyai perilaku. Tokoh-tokoh yang ditampilkan tidak terasa sebagai tokoh konkret yang mudah diamati secara empiris. Tokoh-tokoh yang ditampilkan tampak jelas sebagai wujud dari ide. Oleh karena perilaku mereka lahir dari ide dan bukan dari psike, perbuatan-perbuatan mereka semata-mata hanya dapat ditangkap dalam hubungannya dengan ide.

Tokoh dalam novel Putu Wijaya digambarkan sebagai tokoh yang mencoba mencari jawab setiap persoalan yang dialami walaupun ia sendiri sadar bahwa jawaban ter­sebut tidak akan ditemukan. Sebagaimana tokoh pada sastra eksis­tensialisme, tokoh-tokoh dibiarkan secara bebas me­ngem­bara melalui pikiran dan ide-idenya. Pengembaraan terebut dila­kukan dengan kebebasan yang “luar biasa” sebagai bagian dari upaya mengatasi keterasingan yang dialami. Tokoh seringkali tidak bernama, tidak berbangsa, tidak punya ideologi bahkan ada yang tidak punya wujud. 

Berdasarkan uraian di atas, menarik untuk dikaji bagaimana upaya Putu Wijaya memotret realitas manusia modern dengan segala permasalahan yang ada. Salah satunya yakni permasalahan yang menyangkut identitas kedirian manusia baik sebagai individu maupun bagian dari lingkungan sosial. 

1) Konsep Dasar Eksistensialisme
Secara etimologis, eksistensialisme berasal dari kata “ex” yang berarti keluar dan “sistere” yang berarti berdiri (Lennhouwer, dalam Dagun, 1990:19). Konsep ini menekankan bahwa sesuatu tidak ada. Sementara itu, Drijarkara (1995:55) menjelaskan bahwa eksistensialisme berasal dari kata “eks” yang artinya keluar dan “sistensia” yang artinya menempatkan diri. Dengan eksistensi berarti manusia berdiri sendiri dengan keluar dari diri sendiri.

Menurut Marcel (dalam Dagun, 1990:91) kata eksistensialisme tidak diartikan sebagai cara berada manusia tetapi lebih ditekankan pada ada secara nyata. Pernyataan bahwa “aku berada” berarti manusia (aku) sadar bahwa manu­sia (aku) ada. Akan tetapi, manusia tidak hidup sendirian, kenyataannya ia hidup bersama orang lain. Meskipun manusia terikat dengan orang lain, ia tetap memiliki otonomi diri yang menyebabkan ia dapat mentransendensikan diri sendiri. Manusia dapat mengadakan pilihan alternatif untuk mengatakan ya atau tidak.

Dalam pandangan Kierkegard (Hammersma, 1990:75), eksistensi manusia harus bertolak dari manusia individual dan konkret. Yang ada itu hanya orang-orang konkret, yang semua berbeda, semua penting, dan semua berdiri di hadapan Tuhan. Manusia bereksistensi oleh Kierkegaard diartikan merealisasikan diri, mengikat diri dengan bebas dan mempraktikan keyakinan serta mengisi kebe­basannya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa eksistensialisme merupa­kan aliran filsafat yang memandang segala-galanya dengan berpangkal kepada eksistensi, yaitu cara berada manusia di dunia ini. Hal itu ditentukan oleh adanya keutuhan jasmani dan rohani manusia yang menjadikan dirinya sebagai subjek yang bebas dan bertanggung jawab. 

Permasalahan utama yang menjadi perhatian para pemikir eksitensialis berkaitan dengan keberadaan manusia. Meskipun terdapat beberapa perbedaan pandangan mengenai konsep dasar eksistensialisme, pada umumnya pokok-pokok pikiran yang diperbincangkan mempunyai kesamaan. Pokok-pokok pembicaraan tersebut diwadahi dalam bingkai tema-tema eksistensialisme. Terdapat lima tema utama dalam filsafat eksistensialisme, yaitu (1) subyektivitas, (2) kebebasan, (3) kegagalan, (4) alienasi (keterasingan), dan (5) kematian.

Subyektivitas mengandung pengertian manusia harus bertanggung jawab sepenuhnya atas diri sendiri, menentukan kepribadiannya, dan harus menjadi apa yang dikehendaki. Subyektivitas berarti kemampuan manusia mengada-ada, menampakkan diri, mengalami dirinya sebagai subyek, aktif, dan ber­pro­ses (Koeswara, 1987:9). Keberadaan manusia dimaknai sebagaimana ia menjadi­kan diri sendiri. Dalam hal ini manusia mempunyai martabat yang lebih tinggi daripada benda-benda. Oleh karena itu, hanya manusialah yang ber­eksistensi.

Tema kedua dari eksistensialisme yaitu kebebasan. Para eksistensialis menekankan kebebasan sebagai ciri yang esensial dari manusia. Mereka melihat kebebasan selalu berkaitan dengan tanggung jawab dalam membuat keputusan-keputusan. Manusia memiliki kebebasan sekaligus bertanggung jawab untuk membuat keputusan atau tindakan dalam kerangka membentuk kehidupan atau keberadaan dirinya. Menurut Sartre (dalam Slytto, 1988:22) manusia adalah kebebasan, manusia pribadi identik dengan kebebasan itu sendiri. Dengan demikian, kehadiran sesama manusia sebagai kebebasan sekaligus juga harus menjadi pembebasan itu sendiri. Kebebasan bersifat mutlak dan tidak terbatas. Konsekeunsi dari kebebasan yang tidak terbatas adalah tanggung jawab yang tidak terbatas pula (Hasan, 1992:144). Kekebasan pada akhirnya bermuara pada kebebasan manusia dalam memilih sejumlah alternatif hidup di dunia ini.

Selanjutnya, kegagalan dalam perspektif eksistensialisme berarti kegagal­an manusia dalam usaha mengada, menjadi dirinya secara utuh. Kegagalan merupakan bagian dari kehidupan manusia, karena manusia selalu berhadapan dengan keterbatasan-keterbatasan, baik yang berada pada diri sendiri maupun di luar dirinya. Eksistensi gagal muncul jika dalam usaha untuk menjadi pribadi yang utuh tidak tercapai. Apabila dikaitkan dengan kebebasan, eksistensi kegagalan semakin jelas terlihat karena kebebasan itu pada akhirnya harus berhenti di suatu titik.

Berkaitan dengan tema alienasi, para eksistensialis memandang bahwa manusia modern adalah manusia yang hidup dalam keterasingan. Dalam keterasinganya, segala pikiran, sikap, ataupun tindakan akan diikuti oleh kesepian, kekosongan jiwa, maupun kecemasan. Hal itu terjadi karena individu mengalami keterputusan dengan dirinya sendiri, sesamanya, maupun dengan dunia luar. Apabila manusia tidak dapat mengatasi kekuatan-kekuatan di luar dirinya, ia akan menemukan dirinya tidak berdaya, tidak berharga, ataupun kehilangan gairah hidup (Koeswara, 1987:16). 

Sementara itu, kematian dalam pandangan eksistensialisme merupakan misteri abadi yang tidak dapat tertembus dengan jalan apapun. Kematian merupakan peristiwa yang tidak bisa dihindari yang dipandang sebagai refleksi dari keterbatasan manusia. Kematian manusia berasal dari ketiadaan mengakhiri keberadaannya dan kembali kepada ketiadaan mutlak.

2) Alienasi dalam Kehidupan Manusia
Dalam pandangan para pemikir eksistensialis, manusia modrn semakin jauh meninggalkan hakikat manusia itu sendiri. Setiap orang hanya mengejar kemajuan, menikmati segala fasilitas teknologi. Akan tetapi, lambat laun manusia menjadi terbelenggu oleh kemajuan itu sendiri sehingga tidak mengenal lagi hal-hal yang bersifat manusiawi (Dagun, 1990:109). Lunturnya nilai-nilai manusiawi telah menggiring manusia pada suatu kondisi keterasingan. Secara filosofis, keterasingan manusia menunjukkan adanya pikiran, sikap, ataupun tindakan yang menjurus pada goyahnya eksistensi manusia.

Sartre (dalam van der Weij, 1991:154) mengatakan bahwa keterasingan merupakan akibat dari adanya konflik yang ditimbulkan oleh relasi-relasi antarmanusia. Pada sisi lain, Sartre juga menyebutkan bahwa keterasingan manusia adalah keterasingan bagi tubuhnya sendiri yang ditemui pada orang lain. Artinya, seolah-olah orang lain merampas tubuh kita kemudian menyusun dunianya sendiri dengan menyertakan ketubuhan kita sebagai bagian dari dunianya. Keterasingan antara diri kita dengan tubuh sendiri membuat kehilangan penguasaan terhadap tubuh. Hal itu dapat ditemui pada gerak-gerik tertentu yang terobyektifkan.

Menurut Binswanger (dalam Koeswara, 1987:24) keterasingan identik dengan isitilah keterlemparan diri sendiri. Binswanger menggunakan isitilah keterlemparan untuk menunjuk pada kondisi keterasingan, yakni kondisi individu yang merasa asing dengan diri sendiri dan tunduk atau menyerah pada kekuatan-kekuatan di luar dirnya. Manusia tidak selamanya dapat berhasil dan bebas merealisasikan kemungkinan-kemungkinan. Dengan demikian, manusia tidak selalu dapat mencapai keinginan-keinginan dirinya. Hal itu disebabkan oleh adanya situasi batas yang tidak dapat dilampauinya. Eksistensi manusia selalu berhadapan dengan situasi batas yang sulit dihindari tetapi dirasakan oleh kesadaran, yaitu adanya kematian, kegagalan, penderitaan, kesalahan, nasib, dan sebagainya.

Dari berbagai pandangan tentang pengertian alienasi atau keterasingan yang diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa keterasingan merupakan keterputusan manusia dengan dirinya sendiri maupun dunia luar. Keterasingan tampak pada pola pikir, sikap, dan tindakan dalam menghadapi persoalan hidup. Dalam kondisi demikian, manusia akan menemukan dirinya tidak berdaya, tidak berharga, dan kehilangan gairah hidup. Yang dimaksud dengan keterputusan manusia dengan dirinya sendiri, adalah manusia kehilangan kontak dengan dirinya sendiri karena persoalan yang berasal dari diri sendiri. Sementara itu, keterputusannya dengan dunia luar, yakni manusia telah kehilangan kontak dengan dunia luar atau sesamanya.

3) Karya Sastra sebagai Dokumen Sosial
Sebagai hasil kreativitas pengarang, karya sastra tidak akan terlepas dari masyarakat, sebagaimana pengarang yang menjadi bagian dari masyarakat. Dalam kegiatan penelaahan sastra dan masyarakat, pendekatan yang umum digunakan adalah mempelajari sastra sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan. Sebagai dokumen sosial, sastra digunakan untuk menguraikan ikhtisar sejarah sosial (Wellek dan Warren, 1989:112). 

Karya sastra bukan hanya sekedar permainan imajinasi, tetapi merupakan rekaman tata cara masyarakat sezamannya sebagai perwujudan dari niat tertentu. Novel adalah cermin yang bisa dibawa ke manapun dan paling cocok untuk memantulkan segala aspek kehidupan dan alam. Sebagai gambaran struktur sosial, yang terdapat dalam novel adalah gambaran masalah masyarakat secara umum ditilik dari sudut lingkungan tertentu, yang akhirnya mengarah pada sifat yang universal (Damono, 1984:19).

Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang mampu menciptakan kembali rasa kehidupan, bobot dan suasananya mampu menciptakan kembali keseluruhan kehidupan yang dihayati sendiri. Sastra yang baik mampu menciptakan kemendasaran makna kehidupan manusia. 

Dari hasil rekaan pengarang, dunia kenyataan dapat direkam dengan kreasi dan imajinasi. Kedudukan karya sastra sebagai dokumen sosial dikaitkan dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada saat karya sastra tersebut diciptakan. Situasi dam kondisi masyarakat akan ikut mempengaruhi konsep pemikiran pengarang. Agar karya sastra tidak terjebak pada kondisi sebagai catatan sejarah semata-mata, pada saat penciptaanya pengarang tidak begitu saja menjiplak realita kehidupan.

Latar belakang sejarah dan zaman serta latar belakang kemasyarakatan punya pengaruh yang besar dalam proses penciptaan, juga dalam penulisan novel. Pengaruh tersebut tidak hanya terbatas pada tema-tema yang diungkapkan akan tetapi juga terhadap struktur karya sastra (Esten, 1982:40). 

Persoalan-persoalan zaman dan kemasyarakatan dari suatu kurun waktu tertentu berpengaruh dan amat menentukan pemilihan tema-tema yang diungkapkan para sastrawan dalam karya sastra yang dihasilkannya. Pergeseran dan perubahan persoalan kema­syarakatan akan menyebabkan pula pergeseran-pergeseran pemilihian tema. Awal abad ke dua puluh adalah masa di mana bangsa Indonesia mulai mengenal kebudayaan Barat, suatu bentuk kebudayaan baru. Pengenalan ini menyebabkan tumbuhnya kesadaran akan diri sendiri, kesadaran akan keterbelakangan sebagai bangsa. Hal itulah yang melatarbelakangi lahirnya pergerakan-pergerakan kebangsaan yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Persoalan-persoalan tersebut tidak luput pula menjadi tema-tema utama dalam karya sastra, khususnya novel yang dihasilkan pada masa itu.

Apabila kita merunut perkembangan hasil karya sastra Indonesia, dapat dikemukakan bahwa pada awal-awal perkembangan novel-novel Indonesia banyak menampilkan tema kemasyarakatan yang lebih bersifat kolektif. Hal itu tampak pada karya-karya masa Balai Pustaka. Selanjutnya pada masa Pujangga Baru tema berkembang ke arah yang lebih luas dan sifat kolektif semakin renggang. Secara ringkas dapat digambarkan perkembangan tema dalam novel Indonesia yaitu bergerak dari tema-tema yang bersifat kolektif dengan ikatan sosial yang kuat menuju kepada persoalan-persoalan yang lebih bersifat individual dengan ikatan sosial yang longgar dan bahkan tanpa adanya ikatan sosial (Esten, 1982:43). 

Salah satu tema yang dituangkan dalam karya sastra adalah tema eksistensialisme, khususnya menyangkut keterasingan manusia. Tema keter­asingan menjadi perhatian pengarang sesuai dengan realitas yang terjadi saat ini. Pengarang sebagai bagian dari masyarakat mencoba merefleksikan kondisi realiatas tersebut dalam karya-karyanya. Manusia modern yang ditandai oleh kemajuan teknologi telah mengalami krisis kemanusiaan. Teknologi yang pada awalnya sangat bermanfaat bagi kehidupan ternyata akhirnya dapat membelenggu manusia. Teknologi yang awalnya dijadikan sarana bagi kehidupan telah berubah menjadi tujuan hidup manusia. Akibatnya, teknologi telah memisahkan manusia dari tujuan karyanya sehingga menimnbulkan keterasingan dan ketergantungan yang berlebihan. manusia tidak lagi hidup secara bebas dengan lingkungannya, tetapi berangsur-angsur telah dikelilingi oleh teknik, organisasi, dan sistem yang diciptakan sendiri. 

4) Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Pengarang
Sesuai dengan konsep dasar teori dan pendekatan strukturalisme genetik, keberadaan karya sastra dipandang sebagai ekspresi pandangan dunia kelompok sosial pengarang dalam merespon kondisi sosial historis yang terjadi dalam masyarakat. Struktur karya sastra, seperti novel yang terdiri dari tokoh, latar, alur, juga tema yang sifatnya imajinatif dianggap sebagai dunia imajiner untuk mengekspresikan pandangan dunia kelompok sosial pengarang. Apa yang diceritakan oleh Mangunwijaya dalam novel Burung-burung Rantau misalnya, mengekpresikan pandangan dunia kaum cendekiawan dalam merespon kondisi sosial historis Indonesia abad XX. Pandangan dunia tersebut mengharapkan adanya keseimbangan antara penghayatan terhadap iptek dengan etika dan moral sehingga melahirkan batas nasionalnya, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan perhatian terhadap mereka yang lemah dan miskin. Generasi muda dalam novel tersebut, dibangun oleh Mangunwijaya sebagai generasi pascana­sional.

Dalam kerangka strukturalisme genetik, karena karya sastra merupakan ekspresi dari pandangan dunia, maka pandangan dunia menentukan struktur karya sastra. Pan­dangan dunia, sebagai totalistas dari cara berpikir, merasa, dan bertindak dari suatu kelompok sosial tertentu ketika berhadapan dengan persoalan sosial historis tertentu yang terjadi dalam realitas. Karena karya tersebutlah yang mampu mengekepresikan kondisi manusia yang universal dan dasar (Goldmann, 1973:311). Oleh karena itu, kebesaran suatu karya sastra sebenarnya menjadi syarat bagi karya sastra yang sesuai untuk dikaji dengan pendekatan strukturaliem genetik. Kebesaran karya sastra menurut Goldmann (1973:312) berkaitan dengan fakta estetis. Fakta estetis tersebut dilihat dari (a) hubungan antara pandangan dunia sebagai kenyataan yang dialami dan alam ciptaan pengarang, dan (b) hubungan antara alam ciptaan pengarang tersebut dengan alat-alat kesastraan tertentu seperti sintaksis, gaya, dan citraan yang digunakan pengarang untuk mengekpresikannya.

Pustaka
  • Bertens, K. 1987. Fenomenologis Eksistensialis. Jakarta: Penerbit Gramedia
  • Dagun, Save M. 1990. Filsafat Eksistensialisme. Jakarta: Rineka Cipta
  • Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosilogi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta:Depdikbud.
  • Danarto. 1987. Berhala.. Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus
  • Drama, Budi. 1995. Harmonium. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar
  • Drijarkara. 1989. Percikan Filsafat. Jakarta: PT Pembangunan
  • Eneste, Pamusuk (ed.). 1983. Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang. Jakarta: PT Gramedia.
  • Esten, Mursal. 1987. Kesusastraan, Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung: Penerbit Angkasa
  • Hammersma, Harry. 1990. Tokoh-tokoh Filsafat Modern. Jakarta: Gramedia
  • Hasan, Fuad. 1992. Berkenalan dengan Eksistensialisme. Jakarta: Pustaka Jaya.
  • Joseph, L Frans Sinuer. 1986. Manusia Modern Mencari dan Menemukan Identitas Diri. Bandung: Serva Minora.
  • Koeswara, E. 1987. Psikologi Eksistensialis: Sauatu Pengantar. Bandung: Penerbit Eresco.
  • Kuntowijoyo. 1984. Penokohan dan Perwatakan dalam Sastra Indonesia. Dalam Budaya Sastra. Andy Zoeltom (Ed.) Jakarta: Penerbit Radjawali.
  • Prihatmi, Sri Rahayu.1997. Teknik “Stream of Consciousness” dalam Novel Telegam Karya Putu Wijaya. Dalam Lembaran Sastra No. 22/1997. FASA Undip.
  • Sastraprateja, M. 1982. Manusia Multi-Dimensional. Bandung: Angkasa
  • Slytto, frans Syuni. 1988. Arti dan Prototipe Sesama Menurut Gabriel Marcel. Jakarta: BPK Gunung Mulia
  • Sudjiman, Panuti. 1991. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
  • Suyitno. 1996. Sastra Tata Nilai dan Eksegesis. Yogyakarta: Penerbit Hanindita.
Blog, Updated at: 19.44

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts