Model Kompotensi Komunikatif Di Dalam Kelas

Model Kompotensi Komunikatif Di Dalam Kelas 
A. PENDAHULUAN
Langkah awal yang dipandang paling signifikan bagi pembicaraan kompetensi komnikatif adalah dengan meriviu kembali konsep awal kompetensi komunikatif yang ditemukan dalam berbagai sumber atau pustaka. Salah satu pandangan yang banyak mendapat respon dari kalangan ahli pengajaran bahasa adalah pandangan yang dikemukakan oleh Canale dan Swain (1980). Konsep kompetensi komunikatif dari Canale dan Swain itu bukanlah hasil pemeikiran sesaat, melainkan suatu konsep yang lahir dari suatu pengamatan melalui survei ekstensif tentang kompetensi ini. Salah satu kesimpulan hasil survei itu ialah bahwa kompetensi komunikatif merupakan landasan teoretis pendekatan komunikatif 

Tujuan yang dikembangkan dalam pengajaran bahasa berdasarkan pendekatan komunikatif itu adalah untuk mengembangkan kerangka teoretis bagi rancangan dan evaluasi kurukulum berikutnya dalam program L2. Kerangka yang diajukan dan diperbaiki selanjutnya oleh Canale dan Swaim pantas mendapat perhatian karena kerangka kerja tersebut membawa bersama berbagai pandangan kemampuan komunikasi yang kita pertimbangkan dan menempatkan kemampuan linguistik, atau kemampuan tata-bahasa level kalimat, ke dalam perspektif yang tepat dalam konsepsi kemampuan komunikasi yang lebih besar. Empat komponen kemampuan komunikasi yang diidentifikasi dalam kerangka ini adalah kemampuan tata-bahasa (grammar competence), kemampuan sosiolinguistik (sociolinguistic competence), kemampuan wacana (discourse competence), dan kemampuan strategi (strategic competence). Seluruh bagian ini menguraikan mengenai sifat dari tiap-tiap komponen ini dengan contoh-contoh dari pembelajaran dan pengajaran bahasa. Keempat komponen ini menunjukkan kemampuan komunikasi sebagai basis bagi rancangan kurikulum dan praktek ruang kelas.

A. PEMBAHASAN
1. Kemampuan Tata Bahasa (Gramatical Competence)
Kemampuan tata-bahasa adalah kemampuan linguistik, dalam pengertian terbatas dari istilah tersebut seperti yang digunakan oleh Chomsky dan kebanyakan ahli linguistik lainnya. Kemampuan tata-bahasa merupakan bagian dari penampilan tata-bahasa yang tidak familiar bagi kita, yakni, pembentukan tata-bahasa yang memberi fokus studi L2 selama berabad-abad. Deskripsi tata-bahasa yang telah diikuti adalah berbeda. Tata-bahasa tradisional, yang memberi aturan penggunaan yang tepat bagi bahasa tulisan, memiliki fondasinya dalam kelas kata atau kategori makna yang terbentuk untuk bahasa Yunani dan Latin. Tata-bahasa struktural berfokus pada bahasa lisan dan memberi analisis bentuk-bentuk permukaan yang bisa diobservasi dari pola-pola distribusinya. Tata-bahasa generatif transisional berkaitan dengan hubungan antara penafsiran tata-bahasa terhadap kalimat dan struktur permukaan sebagai cara menemukan kategori universal tata-bahasa dan sifat proses kognitif manusiawi pada umumnya. Meskipun definisi-definisi berbeda-beda, tujuan dalam setiap kasus adalah deskripsi tepat mengenai karakteristik formal bahasa pada level kalimat. Tata-bahasa khusus menunjukkan upaya untuk menggambarkan bagaimana elemen-elemen bahasa bergabung secara sistematis. Dalam memutuskan apakah struktur tertentu muncul ataukah tidak atau mungkin didasarkan pada frekuensi kejadian dari struktur ini dalam ujaran dan tulisan dari pembicara asli degan praktek lama dalam penggunaan bahasa. Data dan pertimbangan ini memberi ahli linguistik suatu basis untuk menyatakan suatu aturan. Tidak ada tata-bahasa yang lengkap karena prilaku bahasa bersifat komplek dan dewasa ini menghindari sistematisasi yang memuaskan.

Hubungan antara setiap tata-bahasa dengan pembelajaran bahasa masih merupakan masalah. Para pengguna bahasa yang berpengalaman bisa memberi data kepada para ahli linguistik yang dibutuhkannya untuk merumuskan aturan-aturan linguistik. Namun para pembicara asli yang sama tidak akan mampu merumuskan aturan-aturan sendirian. Tidak satu pun dari para pembicara asli menggunakan bahasa melalui pembelajaran pertama aturan-aturan tersebut. Kenyataanya, aturan-aturan tersebut sangat kompleks sehingga para ahli linguistik yang merumuskannya tidak bisa mengingat semuanya. Para ahli linguistik berada di antara para pengkritk yang terang-terangan terhadap upaya-upaya menerapkan diskripsi linguistik pada pengajaran bahasa kedua. Komentar-komentar yang dibuat oleh Chomsky pada Komprensi Timurlaut tahun 1966 mengenai pemngajaran bahasa asing bersifat legendaris.

Saya ingin menjelaskan sejak permulaan bahwa saya berpartisipasi dalam komprensi ini bukan sebagai seorang ahli mengenai tiap aspek pengajaran bahasa, malah sebagai seseorang yang perhatian utamanya adalah dengan struktur bahasa dan sifat proses kognitif. Selanjutnya, sejujurnya saya agak skeptis mengenai signifikansi bagi pengajaran bahasa dengan pandangan dan pemahaman seperti itui seperti yang diperoleh dalam linguistik dan psikologi. Tentu saja, guru bahasa akan tetyap terimpormasikan mengenai kemajuan dan bahasan dalam bidang ini dan upaya-upaya ahli linguistik dan psikologi untuk mendekati masalah pengajaran bahasa dari pandangan berprinsip. Masih sulit dipercaya bahwa linguistik atau pun psikologi mencapai level pemahaman teoretis yang bisa memungkinkannya untuk mendukung “teknologi” pengajaran bahasa. (Chomsky 1966:43).

Kemampuan tata-bahasa adalah penguasaan kode linguistik, kemampuan untuk mengenali karakteristik leksikal, morfologis, sintaksis, dan psikologis pada sebuah bahasa dan memanipulasi karakteristik-karakteristik ini untuk membentuk kata dan kalimat. Kemampuan tata-bahasa tidak terkait dengan giap teori tata-bahasa tunggal, dan tidak mengasumsikan kemampuan untuk mengeksplisitkan aturan-aturan penggunaan. Seseorang menunjukkan kemampuan tata-bahasa dengan menggunakan sebuah aturan, bukan dengan menyatakan sebuah aturan. 

2. Kemampuan Sosiolonguistik (Sosiolinguistics Competentence)
Kemampuan tata-bahasa merupakan domain penelitian linguistik yang tepat, kemampuan sosiolinguitik merupakan bidang penelitian antar-disiplin yang harus dilakukan dengan aturan-aturan sosial penggunaan bahasa. Kemampuan sosiolinguistik memerlukan pemahaman kandungan sosial di mana bahasa digunakan: peran-peran para peserta, informasi yang mereka miliki bersama, dan fungsi interaksi. Hanya dalam konteks ini bisa dibuat pertimbangan mengenai ketetapan ucapan tertentu dalam istilah-istilah yang diperluas oleh Hymes. Meskipun kita harus merumusklan deskripsi memuaskan tentang kode bahasa, namun kita jauh dari deskripsi yang tepat mengenai aturan-aturan ketetapan sosiolinguistik. Namun pembicara asli mengetahui aturan-aturan ini dan menggunakannya untuk berkomunikasi dengan berhasil dalam situasi yang berbeda. Salah satu tujuan analisis antar-budaya adalah mengekspisitkan aturan-aturan sebuah budaya dan hal ini akan membantu orang-orang non-asli untuk memahami dan menyesuaikan lebih mudah terhadap pola-pola yang mereka tidak kenal.

Pertimbangan ketetapan meliputi lebih dari sekedar mengetahui apa yang akan dikatakan dalam suatu situasi dan bagaimana mengatakannya. Pertimbangan ketetapan melibatkan kegiatan mengetahui ketika tetap diam. Atau ketika tampak tidak tampak (incompetent). Wanita dari tiap generasi mungkin ingat saat diperingati oleh ibunya agar tidak berbicara terlalu banyak dalam kelas, tidak “pamer” kepada anak laki-laki, dan menasehatkan untuk “bertindak diam” pada suatu kesempatan untuk memberi pria dalam kehidupan mereka suatu perasaaan keunggulan. Kemunculan ketidakmampuan dalam hal ini dianggap tepat. Yakni, sebuah tanda kemampuan sosiolinguistik. Demikian pula, Saville-Troike (1982) mengutip contoh-contoh dari beberapa komunitas bahasa di mana bercakap dengan cara yang canggung dan ragu-ragu adalah tepat apabila seseorang yang bercakap dengan orang-orang dengan kedudukan yang lebih tinggi. Ia selanjutnya menunjukkan bahwa pembicara bahasa kedua mungkin ternasehati dengan baik dalam beberapa hal agar tidak bersuara terlalu mirip pembicara asli karena ketakutan akan tampak menggangu (intrusive) atau sebaliknya, tidak loyal (disloyal) dari perspektif komunitas L1 milik pembicara tersebut. Berlawanan dengan itu, terdapat kemampuan sosial-buadaya tertentu yang dibuktikan oleh pembicara L2 yang mempertahankan secara bijaksana daftar resmi atau gaya berbicara akademik dalam beberapa situasi di mana daftar yang familiar atau tidak resmi mungkin tapat bagi pembicara asli. Pembicara L2 ini menyadari bahwa bahasa yang “tepat” atau “buku sekolah” sesuai dengan peran “orang asing” atau “orang luar negeri” yang dilekatkan pada mereka oleh pembicara asli dan lebih mungkin memajukan komunikasi yang berhasil.

Observasi serupa bisa dilakukan untuk perbedaan-perbedaan dalam dialek. Kejadian taman bermain sekolah yang diceritakan oleh anak perempuan saya yang berumur sepuluh tahun (yakni Julie) merupakan sebuah kasus yang dibahas. Kelasnya sedang mempelajari sebuah teks kesenian bahasa yang menggambarkan penggunaan ungkapan populer (slang) dan memberikan contoh-contoh ungkapan populer Amerika – menyenangkan (groovy), naungan (shades), banyak mengetahui (hep-cat), segarkan pikiranku (blow my mind), pria mengagumkan (cool man). Julie merupakan peniru mahir dan suka bermain peran. Selama istirahat, ia menghibur temannya dengan ‘jivin/akting’nya, menggunakan kata-kata yang telah ia pelajari dengan semua mimik dan gerakan tubuh yang tepat. Teman kelasnya yang berkulit hitam bereaksi dengan tegas: “Anda semua jangan bertindak seperti itu. Orang Amerika berbicara seperti itu. Anda semua menjadi tetangga kami yang berbicara seperti itu, anda semua ingin mati!”

Di antara orang dewasa, pesan seperti itu lebih halus. Pelewatan batas-batas sosial atau linguistik bisa bertemu dari sesuatu dari sebuah senyuman sampai penghindaran selanjutnya. Pengguna L2 yang berhasil memiliki pengertian mengenai jarak yang tepat untuk dipertahankan dan cara-cara di mana jarak itu diberi tanda. Pemahaman ini sangat penting pada teori kemampuan sosiolinguistik. 

3. Kemampuan Wacana (Discurse Competence)
Kemampuan wacana (discourse competence) tidak dilakukan dengan penafsiran kalimat secara terpisah tetapi dengan serangkaian kalimat atau ujaran untuk membentuk makna secara keseluruhan. Seperti halnya kemampuan sosiolinguistik, kemampuan wacana merupakan subjek dari penelitian antar-disiplin. Teori dan analisis wacana menggabungkan banyak disiplin – misalnya, linguistik, kritik kesusastraan, psikologi, sosiologi, filsafat, antropologi, media cetak dan siaran.

Pengenalan tema atau topik dari sebuah paragraf, bab, atau buku, mendapat intisari percakapan telepon, puisi, iklan televisi, memo kantor, resep, atau dokumen hukum memerlukan kemampuan wacana. Tampak dari contoh-contoh sebelumnya bahwa pola pengaturan wacana berbeda-beda, tergantung pada sifat teks dan konteks yang tampak. Akan tetapi, pola-pola benar-benar ada dan berperan penting dalam penafsiran dan pernyataan makna, makna global yang selalu lebih besar daripada jumlah kalimat atau ujaran individual yang menyusun sebuah teks. Deskripsi berbagai struktur yang mendasari wacana kadang-kadang disebut sebagai tata-bahasa wacana (discourse grammar) (Morgan 1981). 

Hubungan yang muncul antara kalimat-kalimat sering tidak eksplisit. Yakni, mungkin tidak ada pernyataan jelas mengenai keterkaitan antara satu dalil dengan dalil lainnya. Berdasarkan pengetahuan umum tentang dunia nyata, serta pengenalan dengan konteks tertentu, pembaca/pendengar menyimpulkan makna. Makna sebuah teks tergantung pada nilai, maksud, tujuan dari pembaca/pendengar, serta nilai, maksud, tujuan dari penulis/pembicara. 

Contoh-contoh berikut ini mengilustrasikan peran kesimpulan dalam penafsiran wacana:
1. Chico tiba-tiba berbalik dan berlari karena ia melihat polisi datang ke jalan itu.
2. Chico melihat polisi datang ke jalan itu. Tiba-tiba ia berbalik dan berlari.

Dalam kalimat contoh (1), hubungan antara kedua proposisi, yakni Chico tiba-tiba berbalik dan berlari dan ia melihat polisi adalah eksplisit. Pengetahuan kita mengenai tata-bahasa dan makna konvensional dari kata karena memungkinkan kita menghubungkan dua bagian kalimat tersebut. Dalam wacana contoh (2), kemampuan tata-bahasa sendiri tidak akan memberi makna. Penafsiran memerlukan kemampuan untuk membuat kesimpulan logis dari situasi. Kita bisa menafsirkan dengan baik wacana untuk memaknai Chico berbalik dan berlari karena ia melihat polisi datang ke jalan itu. Tetapi hal demikian mengharuskan kita membuat asumsi-asumsi tertentu mengenai Chico, polisi, jalan itu, dan lain-lain. Yakni, kita menciptakan skenario dalam kepala kita. Penafsiran kita bisa dengan mudah tidak tidak berlaku oleh faktor-faktor kontekstual yang tidak kita sadari. Untuk ilustrasi, kejadian yang melibatkan Chico dan polisi mungkin disimpulkan sebagai berikut:

Chico melihat datang ke jalan itu. Tiba-tiba ia berbalik dan berlari. Bis jalanan kelima baru saja melewatinya dan ia akan terlambat ke sekolah lagi! Tidak ada waktu untuk bertanya mengenai Pedro. Mungkin besok.

Keterpaduan/koherensi teks adalah hubungan dari semua kalimat atau ujaran dalam sebuah teks pada proposisi global tunggal. Pembentukan makna global atau topik untuk bagian bacaan, percakapan, buku secara keseluruhan, dan lain-lain merupakan bagian integral dari pernyataan maupun penafsiran dan memungkinkan pemahaman kalimat atau ujaran individual yang termasuk dalam sebuah teks. Hubungan lokal atau kaitan struktural antara kalimat-kalimat individual memberi apa yang disebut sebagai kohesi/perpaduan (cohesion), suatu jenis perpaduan tertentu. Beberapa contoh mengenai alat-alat kepaduan resmi yang digunakan untuk menghubungkan bahasa dengan dirinya adalah kata ganti, kata hubung, sinonim, elipsis/tanda pengganti, perbandingan, dan struktur pararel. Identifikasi oleh Halliday dan Hasan (1976) mengenai berbagai alat perpaduan yang digunakan dalam bahasa Inggris dikenal baik, dan mulai memiliki pengaruh pada analisis teks serta pengajaran dan bahan pengujian untuk Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua [English as a second language (ESL)].

Penelitian Kaplan (1966) mengenai retorika perbedaan merupakan sebuah contoh analisis wacana yang diterapkan pada pengaturan paragraf dalam konteks ESL. Diagramnya yang terkenal mengilustrasikan apa yang ia anggap merupakan pola dominan wacana tulisan resmi dalam kelompok bahasa utama. Diagram-diagram ini berupaya menggambarkan bagaimana pola-pola pemikiran dibentuk dalam gaya tulisan resmi. Maksudnya adalah untk menandai perbedaan-perbedaan dalam gaya pengaturan dan untuk membantu pebelajar dalam penafsiran dan pembentukan teks L2. Agar meyakinkan, model-model yang diajukan mungkin mencerminkan bias budaya sama banyaknya dengan poembentukan paragraf dalam bahasa Inggris disajikan sebagai garis lurus di mana pola-pola lain tampak menyimpang. 

Untuk ringkasnya, kemampuan wacana merupakan kemampuan untuk menafsirkan serangkaian kalimat atau ujaran agar membentuk keseluruhan bermakna dan untuk mencapai teks terpadu yang relevan dengan konteks tertentu. Keberhasilan dalam kedua kasus tersebut tergantung pada pengetahuan bersama oleh penulis/pembicara dan pembaca/pendengar - pengetahuan mengenai dunia nyata, pengetahuan mengenai kode linguistik, pengetahuan mengenai struktur wacana, dan pengetahuan mengenai lingkungan sosial.

4. Kemampuan Strategi (Strategies Competence)
Tidak ada seseorang sebagai pembicara/pendengar ideal suatu bahasa, seseorang yang mengetahui bahasa secara sempurna dan menggunakannya secara tepat dalam interaksi-interaksi sosial. Tidak satu pun dari kita akan mengetahui semua bahasa Prancis atau Jepang atau Spanyol atau Inggris. Kita membuat penggunaan terbaik mengenai apa yang kita ketahui, konteks yang kita alami, untuk menyalurkan pesan kita. Kemampuan strategi bersifat relatif, apakah dalam bahasa asli ataukah bahasa kedua. Strategi-strategi yang kita gunakan untuk mengimbangi pengetahuan tidak sempurna mengenai aturan-aturan – atau faktor-faktor pembatas dalam aplikasinya seperti kelelahan, kebingungan, dan ketiadaan perhatian – bisa ditandai sebagai kemampuan strategi komponen keempat dari kemampuan komunikasi dalam kerangka Canale. Kemampun strategi adalah analog dengan kebutuhan akan strategi penyalinan (coping) atau bertahan hidup (survival) yang diidentifikasi dalam Savignon (1972b). Apa yang anda lakukan ketika anda tidak berpikir mengenai sebuah kata? Apakah cara-cara dalam mempertahankan saluran komunikasi agar tetap terbuka pada saat anda berhenti sementara untuk mengumpulkan pemikiran-pemikiran anda? Bagaimana anda membiarkan teman anda berbicara ketika anda mengetahui ia tidak memahami kata tertentu? Atau ia berbicara terlalu cepat? Bagaimana anda menyesuaikan diri ketika pesan anda salah-dipahami? Para pembicara dewasa mengatasi secara rutin berbagai faktor yang bisa menghasilkan kegagalan komunikasi. Strategi-strategi yang kita gunakan untuk mempertahankan komunikasi meliputi parafrase (pengungkapan dengan kata-kata sendiri), circumlocution (pemakaian kata-kata yang terlalu banyak), pengulangan, keragu-raguan, penghindaran, dan penerkaan, serta pergeseran dalam daftar (register) dan gaya. Dialog-dialog di bawah ini mengilustasikan pentingnya kemampuan strategi. Contoh (1), (2), dan (3) adalah dialog-dialog di mana saya merupakan peserta tidak langsung. Contoh (4a) dan (4b) dikutip dari transkrip sebuah ujian kecakapan bahasa lisan, wawancara lisan Foreign Service Institut (FSI) (Hinofotis, Lowe, dan Clifford 1981).

1. Operator telepon: saya mempunyai kumpulan panggilan dari Sandra. Maukah anda menerima isinya? 
Catherine: Maaf, ia tidak ada di sini sekarang.

Operator telepon: (menyesuaikan dengan suara anak pada jalur itu). Ini dari Sandra. Maukah anda menerimanya?

Catherine: oh ..... ya.

3. Suami dan istri sedang kembali dari perjalanan belanja, dan ketika mereka masuk ke garasi, mereka melewati sekelompok anak-anak tetangga yang sedang bermain di halaman rumput. Memperhatikan satu anak yang ia tidak berbicara dengannya sesaat, si istri bertanya kepada suaminya, “saya ingin tahu berapa umur Davie sekarang?” Suaminya menjawab, “Saya tidak tahu. Saya akan menanyakannya”.

Suami : (berteriak dari garasi). Berapa umurmu Davie?
Davie : baik (fine).
Suami : Lima (five)?
Davie : baik (fine).
Suami : Berapa umurmu?
Davie : Enam.

4. Suasananya adalah toko makanan New York yang ramai. Seorang pengunjung Prancis baru saja memesan sebuah roti lapis (sandwich) keju Swiss.

Pelayan : Jenis roti apa yang anda inginkan untuk sandwich anda, gandum putih (white) seluruhnya,atau gandum hitam (rye)?
Orang Prancis : (Wh)ye?.
Pelayan : Putih (White)?
Orang Porancis : (Wh)ye.
Pelayan : Putih (White)?
Orang Prancis : Gandum putih seluruhnya.

5. Kutipan (a) dan (b) berikut ini berasal dari wawancara FSI.
a) Penguji pembicara asli (NSE) : apakah yang dimaksud leher hitam (redneck)?
Subyek bukan-asli (NNS) : um hm.
NSE 1 : Apa yang anda katakan? Pernahkah anda mendengar ungkapan ini?
NNS : Tidak.
NSE 1 : Baiklah.
NNS : Um hm.
NSE 1 : Bagaimana, um ... Saya akan coba pertanyaan lain.
Penguji Pembicara Asli 2 : apakah yang dimaksud ...
NNS : baiklah! Saya ingin apakah ... (Ketawa umum).
NSE 1 : Oh, (ketawa) baiklah.
NSE 2 : Oh, (ketawa) baiklah, ah ...
NNS : Maukah anda menjelaskannya kepada saya?
NSE2 : Redneck adalah ... konservatif, ah biasanya anda mendapatkan ... ah, orang yang tinggal di wilayah Selatan sangat sering.
NNS : Um hm.
NSE 2 : Um, dari wilayah pedesaan ...
NSE 1 : Khususnya tidak toleran dengan ide-ide yang berbeda ...
Mm, mhm.
NSE 1 : Jadi anda merujuk kepada seseorang sebagai redneck, dan itu sangat menghina . Itu istilah yang menghina.
NNS : Um hm. Ah, apakah itu berhubungan dengan birokrasi (red tape)? 
NSE 1 : Tidak.
NNS : Tidak.
NSE 1 : Itu sangat menarik.
NNS : Mhm.
NSE 1 : Ah.
NNS : Oh, oh. Semuanya merah. (Ketawa umum).

b) Penguji Pembicara Asli : Apakah redneck itu?
Subyek Pembicara Asli : Oh wah, saya mendengar banyak mengenai kata itu. (Ketawa) Um, um, Saya tidak tahu apa artinya. Itu adalah orang yang tidak ... Bagaimana anda menggambarkannnya? ....orang yang bukan seorang pembohong, bagaimanapun kata itu memiliki konotasi negatif. Saya tidak pernah menggunakan kata itu.

Dalam contoh-contoh di atas, pembicara asli dan bukan-asli sama-sama menggunakan strategi-strategi untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan dalam pengetahuan mereka atau pembatasan-pembatasan dalam penggunaan pengetahuan tersebut dalam keadaan tertentu. Kemampuan untuk berkomunikasi dalam keterbatasan meliputi kemampuan untuk menyesuaikan strategi-strategi komunikasi kita dengan berbagai kondisi antar-pribadi yang berubah dan sering tak diharapkan. Pengungkapan ulang dengan kata-kata sendiri, pengulangan, penekanan, mencari klarifikasi, pemakaian kata-kata yang terlalu banyak, penghindaran (kata, struktur, topik), dan bahkan modifikasi pesan (misalnya, keputusan orang Prancis untuk memesan sandwich keju Swiss atas gandum putih keseluruhan ketimbang gandum hitam!) merupakan strategi-strategi yang kita gunakan untuk memenuhi tuntunan komunikasi yang berkelanjutan.

Dalam penggunaan L1 dan L2, penyesuaian ini mengharuskan kitamengambil perspektif peserta lain dalam sebuah transaksi, berempati dengan perpektif orang lain. Chambers Twentieth Century Dictionary mendefinisikan empati sebagai “kekuatan masuk ke dalam kepribadian orang lain dan mengalami pengalamannya secara imajinatif (penekanan ditambahkan)”. Horwitz dan Horwitz (1977:110) menggambarkan relevansi jenis imajinasi ini untuk pembelajaran bahasa: “Empati adalah perlu bagi kemampuan komunikasi ... Bila diberikan daftar ‘lengkap’dari semua keahlian linguistik dan sosiolinguistik yang tepat, maka seseorang tampa empati tidak akan mampu mendefinisikan dari pespektif bersama (perspektif orang lain dan perspektifnya sendiri) mengenai konteks antar-pribadi tertentu dan jenis bahasa yang diperlukan”. Ringkasnya, penggunaan efektif dari strategi penyalinan adalah penting bagi kemampuan komunikasi dalam semua konteks dan membedakan komunikator yang sangat mampu dari orang-orang yang kurang mampu. Kemampuan strategi merupakan komponen penting dalam kerangka deskriptif untuk kemampuan komunikasi. 

C. KESIMPULAN
Tujuan pendekatan komunikasi terhadap pengajaran bahasa adalah untuk mengembangkan kerangka teoretis bagi rancangan dan evaluasi kurikulum berikutnya dalam program L2. Ada empat komponen kemampuan komunikasi yang diidentifikasi dalam kerangka ini, yaitu kemampuan tata-bahasa, kemampuan sosiolinguistik, kemampuan wacana, dan kemampuan strategi. Keempat kemampuan tersebut menunjukkan kemampuan komunikasi sebagai basis rancangan kurikulum dan praktek ruang kelas.

Sumber Acuan:
Savignon, Sandra J. 1983. Communicative Competence: Theory and Practice. London: Addison Wesley Publishing Company inc.
Blog, Updated at: 06.50

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts