Nasionalisme Pendidikan Dalam Lintasan Sejarah

Nasionalisme Pendidikan Dalam Lintasan Sejarah
1. Pengertian Nasionalisme
Asal kata nasionalisme adalah nation yang berarti bangsa. Dalam pengertian antropologis dan sosiologis, bangsa adalah suatu persekutuan hidup yang berdiri sendiri dan masing-masing anggota persekutuan hidup tersebut merasa satu kesatuan ras, bahasa, agama, sejarah dan adat-istiadat. 

Sedangkan dalam pengertian politik adalah masyarakat dalam suatu daerah yang sama, dan mereka tunduk pada kedaulatan negaranya sebagai suatu kekuasaan tertinggi ke luar dan ke dalam.

Sedangkan mengenai nasionalisme sendiri banyak rumusan, diantaranya:

a. Hans Kohn
“Nasionalisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan”.

b. Lothrop Stoddard
“Nasionalisme adalah suatu keadaan jiwa, suatu kepercayaan yang dianut oleh sejumlah besar manusia sehingga mereka membentuk suatu kebangsaan dalam bentuk kebersamaan”.

c. Nazaruddin Sjamsuddin
“Nasionalisme adalah suatu konsep yang berpendapat bahwa kesetiaan individu diserahkan sepenuhnya kepada negara”.

d. Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia
Nasionalisme adalah paham kebangsaan yang tumbuh karena adanya persamaan nasib dan sejarah serta kepentingan untuk hidup bersama sebagai suatu bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, demokratis dan maju dalam satu kesatuan bangsa dan negara serta cita-cita bersama guna mencapai, memelihara dan mengabdi identitas, persatuan, kemakmuran, dan kekuatan atau kekuasaan negara bangsa yang bersangkutan. 

Sementara menurut Sartono Kartodirjo, bahwa nasionalisme memuattentang kesatuan (unity), kebebasan (liberty), kesamaan (quality), demokrasi, kepribadian nasional serta prestasi kolektif. Jadi nasionalisme ialah suatu paham kesadaran untuk hidup bersama sebagai suatu bangsa karena adanya kebersamaan kepentingan, rasa senasib sepenanggungan dalam menghadapi masa lalu dan masa kini serta kesamaan pandangan, harapan dan tujuan dalam merumuskan cita-cita masa depan bangsa. Untuk mewujudkan kesadaran tersebut dibutuhkan semangat patriot dan perikemanusiaan yang tinggi, serta demokratisasi dan kebebasan berfikir sehingga akan mampu menumbuhkan semangat persatuan dalam masyarakat yang pluralis.

Sebagai paham kebangsaan, nasionalisme mengandung prinsip dan nilai-nilai pendidikan sebagai berikut:

a. Persatuan
Cinta tanah air berimplikasi pada setiap orang berkewajiban menjaga dan memelihara semua yang ada di atas tanah airnya, sehingga muncul kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Persatuan inilah yang menurut Bung Hatta sebagai prinsip nasionalisme yang pertama. Kemudian prinsip ini pula yang memotivasi bangsa Indonesia untuk bersatu padu dan berlomba-lomba memajukan Indonesia melalui nilai-nilai pendidikan.

b. Pembebasan
Nasionalisme merupakan pengakuan kemerdekaan perseorangan dari kekuasaan atau pembebasan manusia dari penindasan perbudakan. Nasionalisme dalam konteks inilah yang akan membangun segenap keadaan realitas manusia tertindas menuju manusia yang utuh.

Ketertindasan yang berawal dari rendahnya daya pikir dan wawasan yang bermuara pada rendahnya kualitas pendidikan, hingga mudah dipecundangi oleh bangsa asing.

c. Patriotisme
Patriotisme ialah semangat cinta tanah air; sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya. Sehingga nasionalisme meliputi patriotisme.

Watak nasionalisme adalah “watak pemerdekaan, pembebasan, pertolongan dan mengangkat kaum kecil dan miskin ke harkat-martabat kemanusiaan yang adil dan beradab”. Dengan sendirinya posisi nasionalisme sangat strategis, yaitu sebagai pendorong dalam rangka membebaskan dari segala belenggu penindasan dan membangkitkan kasih yang senasib dan seperjuangan, menumbuhkan keberanian dan perasaan ingin melindungi terhadap sesama serta mampu memelihara persatuan dan kesatuan bangsa.

Bangsa dan negara merupakan kesatuan komunitas masyarakat pluralis yang di dalamnya terdapat berbagai macam unsur yang saling melengkapi yang diatur dalam sebuah sistem dalam rangka mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Nasionalisme tidak dibatasi oleh suku, bahasa, agama, daerah dan strata sosial. Nasionalisme memberi tempat segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup. Kemajemukan masyarakat bukanlah penghalang untuk mewujudkan suatu tujuan dan cita-cita dalam hidup bernegara ketika nasionalisme dijadikan sebagai landasan dalam kehidupan yang pluralis. Dengan nasionalismelah masyarakat yang serba pluralis dapat bersatu padu dalam bingkai persamaan hak dan demokratisasi. 

Atau dalam bahasanya Ruslan Abdul Gani adalah Nasionalisme yang berKetuhanan Yang Maha Esa, ber-Perikemanusiaan yang berorientasi Internasionalisme, ber-Persatuan Indonesia yang patriotik, ber-Kerakyatan atau Demokrasi serta berkeadilan sosial untuk seluruh rakyat. 

2. Latar Belakang Munculnya Nasionalisme
Nasionalisme muncul dan berkembang menjadi sebuah paham (isme) yang dijadikan sebagai landasan hidup bernegara, bermasyarakat dan berbudaya dipengaruhi oleh kondisi histori dan dinamika sosio kultural yang ada di masing-masing negara.

Pada mulanya unsur-unsur pokok nasionalisme itu terdiri atas persamaan-persamaan darah (keturunan), suku bangsa, daerah tempat tinggal, kepercayaan agama, bahasa dan kebudayaan. Nasionalisme akan muncul ketika suatu kelompok suku yang hidup di suatu wilayah tertentu dan masih bersifat primordial berhadapan dengan manusia-manusia yang berasal dari luar wilayah kehidupan mereka. Lambat laun ada unsur tambahan, yaitu dengan adanya persamaan hak bagi setiap orang untuk memegang peranan dalam kelompok atau masyarakat (demokrasi politik dan demokrasi sosial) serta adanya persamaan kepentingan ekonomi. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah nasionalisme modern. Dilihat dari sejarah perkembangannya, nasionalisme mula-mula muncul menjadi kekuatan penggerak di Eropa Barat dan Amerika Latin pada abad ke-18. Di Amerika Utara misalnya, bahwa nasionalisme lahir karena perluasan dibidang perdagangan kira-kira pada 1000. Ada pula yang berpendapat bahwa manifestasi nasionalisme muncul pertama kali di Inggris pada abad ke-17, ketika terjadi revolusi Puritan.

Namun dari beberapa pendapat tersebut dapat dijadikan asumsi bahwa munculnya nasionalisme berawal dari Barat (yang diistilahkan oleh Soekarno sebagai nasionalisme Barat) yang kemudian menyebar ke daerah-daerah jajahan. Dengan kalimat lain bahwa, “As a historical symptom, nationalism emerged as the response to a political, economic, social, and cultural context, particularly the one brought on by colonialism”. Yaitu sebagai gejala historis, munculnya nasionalisme merupakan respon terhadap suasana politik, ekonomi, sosial dan budaya, terutama respon terhadap penjajahan.

Di Indonesia, gerakan nasionalisme mulai bangkit pada tahun 1908 yang ditandai dengan berdirinya organisasi “Boedi Oetomo”. Hal ini serupa dengan yang ditulis oleh Charles Wolf. Jr., yaitu: The formal nationalist movement in the Indies began in Java in 1908 with the organization of the Boedi Oetomo… Namun bentuk nasionalisme yang berkembang pada saat itu kebanyakan masih bersifat kedaerahan kelompok, belum pada tataran kenegaraan.

Seperti halnya Indonesia yang merupakan negara bekas jajahan wilayah Timur menurut pandangan Partha Chatterjee bahwa dalam hal pemikiran maupun gagasan kaum nasionalis tetap mengadopsi pemikiran Barat dalam usaha menemukan ideologi pasca kemerdekaan, yaitu nasionalisme yang bersifat antikolonialisme. Nasionalisme antikolonialisme memisahkan dunia materi dan dunia spirit yang membentuk institusi dan praktik sosial masyarakat pascakolonial. Dunia materi adalah "dunia luar" meliputi ekonomi, tata negara, serta sains dan teknologi. Dalam domain ini superioritas Barat harus diakui dan mau tidak mau harus dipelajari dan direplikasi oleh Timur. Dunia spirit, pada sisi lain, adalah sebuah "dunia dalam" yang membawa tanda esensial dari identitas budaya. Semakin besar kemampuan Timur mengimitasi kemampuan Barat dalam dunia materi, semakin besar pula keharusan melestarikan perbedaan budaya spiritnya. Di domain spiritual inilah nasionalisme masyarakat pascakolonial mengklaim kedaulatan sepenuhnya terhadap pengaruh-pengaruh dari Barat.
 
Kendati demikian, Chatterjee menambahkan bahwa dunia spirit tidaklah statis, melainkan terus mengalami transformasi karena lewat media ini masyarakat pascakolonial dengan kreatif menghasilkan imajinasi tentang diri mereka yang berbeda dengan apa yang telah dibentuk oleh modernitas terhadap masyarakat Barat. Hasil dari pendaulatan dunia spiritual ini membentuk sebuah kombinasi unik antara spiritualitas Timur dengan materialitas Barat yang mendorong masyarakat pascakolonial memproklamasikan budaya "modern" mereka yang berbeda dari Barat.

Dikotomi antara dunia spirit dan dunia material seperti yang dijelaskan Chatterjee pada satu sisi mengikuti paradigma Cartesian tentang terpisahnyaraga dan jiwa. Namun, di sisi lain ia menunjukkan bahwa penekanan dunia spirit dalam masyarakat pascakolonial adalah bentuk respons mereka terhadap penganaktirian dunia spirit oleh peradaban Barat. Karena itu, masyarakat pascakolonial mencoba mengambil peluang tersebut untuk membangun sebuah jati diri yang autentik dan berakar pada apa yang telah mereka miliki jauh sebelumnya. Hasilnya berupa bangunan materi modernitas yang dibungkus oleh semangat spiritualitas Timur. Implikasi strategi ini dalam bangunan nasionalisme pascakolonial dapat dilihat dari upaya-upaya kaum elite nasionalis membangun sebuah ideologi nasionalisme yang memiliki kandungan spiritual yang tinggi sebagai representasi kekayaan budaya yang tidak dimiliki oleh peradaban Barat.

Orientasi spiritualitas Timur mengilhami lahirnya konsep Pancasila yang dilontarkan oleh Soekarno kali pertama dalam rapat BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Dalam pidatonya, Soekarno mengklaim bahwa Pancasila bukan hasil kreasi dirinya, melainkan sebuah konsep yang berakar pada budaya masyarakat Indonesia yang terkubur selama 350 tahun masa penjajahan. Bagi Soekarno, tugasnya hanya menggali Pancasila dari bumi pertiwi dan mempersembahkannya untuk masyarakat Indonesia. Argumen tersebut menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia sebagai sebuah model nasionalisme masyarakat pascakolonial jauh lebih kompleks dan ambivalen baik dari kategorisasi. Artinya, domain spiritual dalam nasionalisme Indonesia bagaimanapun diisi oleh elemen-elemen yang melekat erat pada dan lahir dari proses dialektis dengan kolonialisme. Mengklaim bahwa nasionalisme Indonesia berakar secara "alami" pada budaya lokal masih belum sepenuhnya tepat memiliki landasan historis.

Selain itu, menurut kacamata keagamaan, Indonesia yang merupoakan Negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam memiliki cara pandang tersendiri. Sebagaimana kaum nasionalis muslim yang bergerak dan bersatu dalam ruang organisasi keislaman berupa Sarekat Islam yang dipimpin oleh Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto. Pada dasarnya, pemikiran maupun pergerakan mereka adalah mencoba mengapilkasikan pemikiran yang bersumber pada Islam yaitu Alquran dan Hadits yang notabene menyeru pada persatuan dan anti bercerai berai antar umat manusia. Dalam Islam, kebangsaan atau cinta tanah air adalah merupakan sebagian dari Iman, sebagaimana doktrin hubbul wathan minal iman (cinta tanah air merupakan bagian dari iman). Sebagai kepercayaan, Islam menentang semangat memusuhi bangsa lain, dan sikap yang demikian ini merupakan ciri nasionalisme. Bukan tanpa alasan mengapa Tjokroaminoto maupun nasionalis muslim lain berkeyakinan dan berprinsip demikian, karena jauh sebelum nasionalisme menggapai bumi Indonesia, di beberapa negara Islam nasionalisme sudah terlebih dulu diterapkan.

Di beberapa negara Islam, gerakan nasionalisme terjadi pada penghujung abad ke – 19, dimana sebagian besar wilayah Islam sudah di bawah kekuasaan Barat Kristen, baik di bidang ekonomi, militer maupun politik yang mengakibatkan runtuhnya susunan politik Islam yang tradisional yang kemudian terjadilah perlawanan untuk menentang intervensi Kolonialis tersebut. Diantaranya adalah munculnya para tokoh gerakan Islam seperti Jamaluddin al-Afghani, dengan seruanya menentang imperialisme dan mengusahakan kebebasan, meningkatkan kesadaran intelektual yang berakar pada sikap kembali kepada Islam . Dalam perkembangannya, nasionalisme yang muncul di berbagai negara tersebut secara tidak langsung mengilhami bentuk-bentuk ideologi sekaligus dijadikan sebagai falsafah kenegaraan.

Sehingga cinta tanah air tidak hanya sebatas merebut dan mempertahankan 
kemerdekaan melainkan juga mempunyai banyak nilai-nilai luhur yang bernilai pendidikan. Dengan adanya akar nasionalisme sebagai rasa cinta tanah air, maka disitu pula akan tumbuh sikap patriotisme, rasa kebersamaan, kebebasan, kemanusiaan dan sebagainya. Karena nasionalisme dibangun oleh kesadaran sejarah, cinta tanah air, dan cita-cita politik. Nasionalisme menjadi faktor penentu yang mengikat semangat serta loyalitas untuk mewujudkan cita-cita setiap negara.

3. Nasionalisme Pendidikan
Tumbuh dan berkembangnya nasionalisme telah melahirkan banyak negara dan bangsa merdeka di seluruh dunia. Hal ini antara lain, disebabkan  karena nasionalisme telah memainkan peranan yang sangat penting dan positif didalam menopang tumbuhnya persatuan dan kesatuan, serta nilai-nilai demokrasi, yang oleh karena itu negara bangsa yang bersangkutan dapat melaksanakan pembangunan nasional sebagai upaya peningkatan kemakmuran dan peningkatan kualitas pendidikan rakyat. 

Menyinggung masalah pendidikan, bahwa kualitas pendidikan sangatlah berpengaruh pada proses hidup dan kehidupan manusia. Seperti ungkapan pepatah bahwa sepanjang hidup adalah pendidikan ( life long education). Maka kehidupan manusia adalah persoalan pendidikan untuk menjadi manusia seutuhnya.

Sampai detik ini, masalah pendidikan tetap menjadi persoalan manusia dan bangsa manapun. Jika pendidikan sedang mengalami krisis, berarti semua orang atau bangsa di dunia ini juga mengalami krisis kependidikan yang nantinya berimbas pada terjadinya krisis multidimensi. Secara filosofis, jika ada seseorang yang menderita kemiskinan, sementara manusia lainnya mengalami kemakmuran, maka dapat dipastikan bahwa pihak pertama merupakan akibat dan pihak kedua berposisi sebagai penyebab. Padahal pada dasarnya manusia adalah mahluk yang dibekali dengan kecerdasan spiritual, intelektual maupun moral hingga berpotensi untuk menjadi mahluk yang sempurna. Sehingga harus ada keseimbanagan antar manusia yang tersusun dalam satu rangkaian system fungsional yang organic mekanistik.

Oleh karena itu, diperlukan pendidikan dan pembelajaran penanaman nilai – nilai luhur untuk mencapai kesempurnaan hidup. Hal itu dilakukan secara kesinambungan demi mengembangkan kecerdasan manusia sebagai suatu potensi mutlak dalam rangka mencapai keseimbangan hidup secara individual, bermasyarakat maupun yang bersifat ketuhanan. Pertanyaan selanjutnya adalah, bentuk atau wujud-wujud pendidikan ( pembelajaran hidup) seperti apa yang layak untuk diketahui, dipahami hingga akhirnya diimplementasikan dalam kehidupan nyata. 

Dalam arti luas, pendidikan dapat didentifikasikan karakteristiknya sebagai berikut:
  • Pendidikan berlangsung sepanjang jaman ( life long education), artinya pendidikan berlangsung dari generasi ke generasi dan berlangsun tanpa henti.
  • Pendidikan berlangsung di setiap bidang kehidupan manusia, artinya pendidikan berproses disamping pada bidang pendidikan sendiri juga di bidang ekonomi, politik, hukum, keamanan, teknologi, perindustrian dan sebagainya. Di setiap bidang kehidupan pasti terkandung pendidikan, terlepas apakah persoalan itu sengaja diciptakan atau memang terjadi secara alami.
  • Pendidikan berlangsung di segala tempat, segala waktu, artinya pendidikan berproses di setiap kegiatan kehidupan manusia.
  • Obyek utama pendidikan adalah pembudayaan manusia dalam memanusiakan diri dan kehidupannya.
Dengan demikain, karena pendidikan berlangsung pada seluruh aspek kehidupan manusia, baik disengaja ataupun alami, pendidikan selalu berlangsung apapun yang menjadi tujuan hidup manusia adalah tujuan pendidikan itu sendiri. Hal tersebut menasbihkan suatu ketetapan bahwa antara kehidupan manusia dan pendidikan adalah bereksistensi layaknya roh dan tubuh manusia. Bagi kehidupan manusia, pendidikan adalah mutlak perlu. Menurut Francis Wahono, pendidikan di Indonesia semestinya harus mendasarkan keseimbanmgan hidup manusia sebagai subyek utama dalam tiap langkah penyelenggaraannya. Adapun kriteria pendidikan yang ideal menurut Wahono adalah yang mengandung prinsip – prinsip sebagai berikut:
  • Pendidikan harus humanis populis yaitu berorientasi pada pembebasan manusia untuk memperoleh kemerdekaan secara menyeluruh dalam seluruh bidang kehidupan.
  • Pendidikan demokratis. Sementara menurut Mansoer Fakih, pendidikan sebagai proses yang dilakukan oleh suatu masyarakat dalam menyiapkan generasi penerusnya agar dapat bersosialisasi dan beradaptasi dalam budaya yang mereka anut, sesungguhnya merupakan salah satu tradisi umat manusia yang hamper setua sia manusia.
Pada tataran konsep maupun praksisnya, pendidikan memang muncul dalam berbagai bentuk dan paham. Pendidikan banyak dipahami sebagai wahana untuk menyalurkan ilmu pengetahuan, alat pembentukan watak, alat pelatihan ketrampilan, alat mengasah otak, serta media meningkatkan ketrampilan kerja. Sementara bagi paham lain, pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atauwahana untuk menananmkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan, alat pembentukan kesadaran bangsa, alat meningkatkan taraf ekonomi, alat mengurangi kemiskinan, alat mengangkat status social, alat menguasai teknologi serta media untuk menguak rahasia alam raya dan manusia. Namun tak sedikit pula para praktisi dan pemikir pendidikan yang menempatkan pendidikan justru sebagai wahana untuk menciptakan keadilan sosial, wahana untuk memanusiakan manusia serta wahana untuk pembebasan manusia. 

Sementara bagi kaum nasionalis, yang mendasarkan prinsip cinta tanah air berdasar pada rasa cinta sesama manusia seperti halnya Jamaluddin Al Afghani di Mesir dengan gerakan Pan Islamismenya. Misalnya juga Mahatma Ghandi, tokoh spiritual dan nasionalis India. Kemudian dalam konteks Indonesia sendiri terdapat RA. Kartini, Ki Hajar Dewantara dan Soekarno selain tokoh pendidikan nasionalis lain.

Jamaluddin Al Afghani yang terkenal dengan seruanya menentang imperialisme dan mengusahakan kebebasan, meningkatkan kesadaran intelektual yaitu membangkitkan kualitas pengetahuan ( pendidikan) umat islam yang tertinggal, yang berakar pada sikap kembali kepada Islam. Sengan usahanya yang telah membangunkan dan menjunjung rakyat Islam di seluruih benua asia dari kegelapan dan kemunduran. Al Afghani menanam benih nasionalisme, hingga menjadi bapak nasionalisme Mesir dalam segenap bagian- bagiannya.

Dengan prinsip rasa cinta sesama manusia, mahatma ghandi berupaya membangkitkan semangat kemerdekaan bagsa India dari keterkungkungan inggris dan koloninya. Dengan pemikiran-pemikiran bijaknya, Gandhi mencoba mengetengahkan kondisi bangsa India yang jelata, terbelenggu kemerdekaan raga dan fikirannya, takut berjuang, terlebih karena di India terdapat banyak kepercayaan. Dengan semangat perjuangan yang diprovokasikan Gandhi berdasar prinsip cinta sesama tersebut, akhirnya secara perlahan India bisa memperoleh kemerdekaannya.

Dalam konteks keIndonesiaan terdapat beberapa tokoh yang mengilhami terbentuknya UUD 1945 yang mengedepankan kualitas bangsa. seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yaitu bahwa tujuan adanya negara-bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Melalui paradigma populis demokratis humanis sebagaimana juga sesuai dengan kebijakan pendidikan pada Kabinet Indonesia Bersatu yakni pemerataan pendidikan dan peningkatan kualitas pendidikan.

Selain itu, seperti yang tersirat dalam lima sila Pancasila yang mengandung prinsip pendidikan nasionalisme. Prinsip-prinsip tersebut antara lain toleransi berbangsa dalam beragama Indonesia yang memiliki lima agama dan banyak kepercayaan adat, hal ini tersurat pada sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Prinsip kedua pada sila kedua Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab adalah adanya kesetaraan hak dan kewajiban seluruh bangsa Indonesia sebagai manusia yang sama dimata Tuhan dan dunia. Sila ketiga Persatuan Indonesia mengandung esensi persatuan dan kesatuan seluruh bangsa yang plural terdiri dari beragam suku, agama, ras maupun bahasa. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaa ( dalam permusyawaratan perwakilan, sila ini mengandung makna demokrasi dalam tiap penyelenggaraan pemerintahan dengan musyawarah sebagai proses pelaksanaannya. Sila terakhir adalah keadilan sosial bagi seluruih rakyat Indonesia, sila ini ingin menegaskan bahwa setiap warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama di mata hukum. Prinsip-prinsip yang terkandung dalam tiap sila pancasila merupakan representasi dari prinsip-prinsip nasionalisme yang digaungkan Soekarno.

Jauh sebelum prinsip Nasionalisme lahir, telah terbit beberapa tokoh yang mengilhami, menginspirasi maupun penggerak perubahan kualitas pendiikan Indonesia, yang kesemuanya mendasarkan paa prinsip cinta tanah air, cinta sesama dan bangsa ( nasionalisme).

a. RA. Kartini
Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 april 1879.33 Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita, tokoh pendidikan yang berlatar cinta tanah air dan sesama. Pada zaman kartini belum lahir, kedudukan kaum wanita Indonesia masih sangat terbelakang. Keadaan semacam ini disebabkan oleh adanya susunan dan pandangan masyarakat yang masih kolot. Menurut susunan dan pandangan masyarakat, kaum wanita di Indonesia hanya mempunyai kewajiban dan tanpa hak apapun .

Setiap hari mereka hanya bekerja untuk rumah tangga dan mengasuh anak-anaknya. Selain itu, yang mereka tahu hanya bagaimana harus berbakti dan taat pada suaminya. Para wanita Indonesia tidak diperkenankan melakukan kegiatan lain selain yang sudah ditentukan oleh suami maupun adat. Dan realitanya, para wanita menerima semua itu dengan legawa karena menganggap semua itu sudah ketentuan tradisi dari nenek moyangnya. Sehingga para wanita Indonesia cenderung kurang berpendidikan bahkan buta huruf karena mereka tidak diberi hak untuk bersekolah. Kenyataan inilah yang menjadi titik awal motivasi perjuangan kartini. Berprinsip pada cinta sesama, sesama bangsa terlebih sesama kauma wanita, Kartini melakukan beragam pemikiran dan pergerakan.

Dalam hal pendidikan di sekolah, Kartini menganjurkan agar anak- anak diberi pendidikan modern. Hal ini bukan bermaksud mem-belandakan atau men-eropa-kan orang Indonesia. Namun, berpendidikan modern dengan tetap sebagai orang Indonesia yang cinta pada tanah airnya dan berjiwa Indonesia. Dalam hal ini, Kartini bermaksud melakukan asimilasi, yakni segi-segi pendidikan dari luar diambil kemudian dipadukan dengan segi-segi pendidikan Indonesia pula. Diharapkan dari percampuran itu, niscaya akan tercipta sesuatu yang lebih baik. Cita-cita dan pemikiran Kartini tersebut ditulis dalam suratnya yang tertanggal 12 Juni 1902. Dalam hal peradaban, Kartini juga sangat menganjurkan pendidikan budi pekerti, hal ini dimaksudkan sebagai penyaring peradaban barat yang dianggap kurang sesuai dengan jiwa ketimuran Indonesia. Tidak hanya sebatas itu, pemikiran hebat Kartini juga menyoal pendidikan yang diadakan oleh kolonial Belanda yang dirasa masih banyak kekurangan hingga belum mampu mencerdaskan bangsa Indonesia. Para murid hanya diajari membaca, menulis, bahasa daerah dan berhitung. Kartini menginginkan adanya kesempurnaan pendidikan dengan pengadaan pelajaran bahasa Indonesia, bahasa melayu dan bahasa Belanda. Karena menurutnya, bahasa-bahasa tersaebut akan memudahkan murid untuk mempelajari ilmu-ilmu yang berbahasa asing supaya pengetahuan lebih luas. Sementara bagi Belanda, hal tersebut dikhawatirkan menjadi boomerang yang siap menghancurkan kolonialisme. Kartini menuntut supaya pemerintah Hindia Belanda segera mengubah politiknya dan mengadakan pembaharuan-pembaharuan yang berguna bagi rakyat. Untuk itu, Kartini juga berusaha mendirikan sekolah sendiri dan bertanggungjawab sebagai guru. Tujuan Kartini waktu itu hanya satu, yaitu memperbaiki keadaan pendidikan. Sekolah yang didirikan Kartini dikhususkan untuk perempuan dengan memebri nama sekolahnya "Sekolah Gadis" . Perjuangan Kartini berakhir seiring dengan wafatnya pada 17 septemer 1904.

b. Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara lahir pada tahun 1928 di Yogyakarta. Dia dikenal 
luas sebagai seorang pendidik, budayawan maupun nasionalis pendidikan yang hebat. Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai pejuang untuk memberi jawaban atas pertanyaan" pendidikan apakah yang paling cocok untuk anak-anak Indonesia. Jawaban yang paling tepat adalah pendidikan nasional.

Usaha mewujudkan pendidikan nasional tersebut dimulai pada 3 juli 1922 dengan mendirikan perguruan kebangsaan Taman Siswa yang pertama di Yogyakarta. Pada waktu itu nama yang dipakai adalah National Onderwijs Instituut Taman Siswa ( Lembaga Pendidikan Sekolah Taman Siswa). 

Melalui perguruan taman siswa, Ki Hajar Dewantara mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk kepentingan nusa dan bangsa. Taman siswa melaksanakan kerja duta dan kerja membantu. Tugas yang pertama dimaksudkan untuk mendidik rakyat agar berjiwa kebangsaan dan berjiwa merdeka, untuk menjadi kader-kader yang mampu mengangkat derajat nusa dan bangsanya hingga bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang merdeka. Tugas yang kedua, kerja membantu dimaksudkan untuk membantu perluasan pendidikan dan pengajaran yang pada saat itu sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak, sedang sekolah yang disediakan oleh pemerintah Belanda sangatlah terbatas.

Dalam penyelenggaraanya, Taman Siswa berjalan dengan kekuatan sendiri, tidak menerima subsidi dari pemerintah kolonial. Sebagai konsekuensinya, maka pejuang-pejuang Taman Siswa harus berani hidup sederhana penuh pengabdian. Selain itu. Di Taman Siswa tidak hanya menghendaki pembentukan intelek, tetapi juga dan terutama pendidikan dalam arti pemeliharaan dan latihan susila dengan menggunakan cara kekeluargaan. Dalam praksisnya, seorang guru atau pamong tidak hanya sekedar mengajar melainkan juga mendidik.

Dalam melaksanakan tugasnya, mengajar dan mendidik, pamong harus memberi tuntunan dan menyokong pada anak-anak agar dapat tumbuh dan berkembang berdasarkan kekuatan sendiri( bersifat kemandirian). Metode ini disebut metode Among dengan semboyan yang digunakan adalah Tut Wuri Handayani yang artinya mendorong anak didik untuk membiasakan diri mencari dan belajar sendiri. Sementara fungsi pamong dalam hal ini hanyalah mengikuti di belakang bertugas mengamati dengan segala perhatian, pertolongan diberikan hanya jika diperlukan. 

c. Soekarno
Memasuki abad 20, tepatnya pada tanggal 6 juni 1901, telah lahir tokoh berpengaruh, nasionalis, budayawan dan pemikir pendidikan Indonesia yang berwajah modern. Secara universal yang bernama Soekarno. Sejak muda sampai terpilih menjadi presiden pertama Indonesia, Soekarno dengan radikal telah menunjukkan kedalaman berpikirnya dalam dunia pendidikan selain politik dan budaya.

Dalam pemikirannya, soekarno sedikit banyak telah mengadopsi pola pendidikan kolonial Belanda yang dianggap terbuka, egaliter, dan menanamkan kedalaman berpikir dengan cara membiasakan seseorang mempelajari berbagai pemikiran dari sumbernya. Meski hal tersebut hanya berlaku bagi kalangan pelajar tertentu saja. Berangkat dari kenyataan bangsa Indonesia yang masih jauh tertinggal dalam hal kualitas pendidikan dari negara-negara barat, soekarno termotivasi untuk melakukan perbaikan dan pembaharuan. Bagi soekarno, kualitas pendidikan sangatlah punya andil dalam pembentukan karakter suatu bangsa hingga dimana hal tersebut akan bermuara pada peradaban dan kesejahteraan bangsa yang tinggi. Soekarno ingin menegaskan bahwa hanya dengan pendidikan sajalah yang akan menjadi proses untuk meningkatkan daya gerak bangsa menuju kemajuan, yang salah satu prasyarat materiil kemajuan adalah tenaga produktif yang bernama IPTEK (Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi).37Tanpa itu, Indonesia selamanya akan menjadi kuli dan hanya bergantung pada IPTEK negara lain.

Sejak muda, soekarno dengan gagah beraninya melakukan gerakan-gerakan radikal yang menggemparkan dunia terjajah, Indonesia. Dalam upaya memerdekakan bangsanya yang tertindas, Soekarno senantiasa membuka mata, telinga, pikiran dan indra keenamnya( naluri) untuk dengan sigap melakukan manuver-manuver. Berasas pada cinta sesama sebagai suatu bangsa yang menghirup udara dan meneguk air yang sama di bumi Indonesia, Soekarno gemar melakukan propaganda baik malaui media tulis (surat kabar), pidato maupun tulisan-tulisan lain sebagai karya fenomenalnya yang kemudian dibukukan. Satu hal yang ingin ditegaskan oleh Soekarno pada tiap pemikiran dan pergerakannya adalah ahwa bangsa Indonesia harus bangun dari kemapanan dan keterbuaian kolonial yang dianggap mematikan. Menurut Soekarno, kondisi bangsa sudah sangatlah memprihatinkan. Kapitalisme dan imperialisme yang dikukuhkan penjajah semakin membuat anggota marhaen ( kaum jelata) kian hari kian bertambah. Hal mendasar yang disoroti Soekarno sebagai faktor terjeratnya bangsa Indonesia kondisi tersebut adalah karena begitu tertinggalnya bangsa Indonesia dalam hal pendidikan, pengetahuan yang bersumber pada mandegnya nilai- nilai mencari kebenaran baru. Hal ini menjadikan bangsa Indonesia mudah dibodohi dan diadu domba. Semua itu tidak lepas dari adanya doktrin-doktrin agama yang semakin menyudutkan bangsa pada level kemunduran. Sehingga menurut Soekarno, sudah saatnya bangsa Indonesia bangun dan mengejar ketertinggalan, bahkan jika untuk itu harus berani mengadopsi ilmu dan pengetahuan dari barat yang notabene dalam pergaulan dan nasionalismenya sangat ditentang oleh Soekarno.
Blog, Updated at: 23.14

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts