Nasionalisme Siswa Dengan Model Pembeljaran Living History

Nasionalisme Siswa Dengan Model Pembeljaran Living History 
Konsep Nasionalisme
a. Definisi Nasionalisme
Nasionalisme tidak hanya diwujudkan dengan semangat kesatuan dan rasa bangga warga Negara terhadap negaranya, tetapi juga diwujudkan dengan sikap bela negara yang tinggi dari ancaman dari dalam maupun dari luar baik berupa tekanan langsung maupun tekanan yang bersifat tidak langsung. Kecintaan terhadap bangsa dan tanah air adalah sesuatu yang tidak dapat dipaksakan, sehingga tidak dapat dipungkiri masyarakat di Indonesiayang baru tergerak rasa nasionalisme ketika bangsa Indonesia mendapat serangan maupun ancaman dari luar.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1997:648), Nasionalisme didefinisikan sebagai kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu, yakni semangat kebangsaan. Nasionalisme dapat dirumuskan sebagai satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah Negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu identitas yang dimiliki sebagai ikatan barsama dalam satu kelompok.

Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah Negara (nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Substansi nasionalisme Indonesia mempunyai dua unsure. Pertama; kesadaran mengenai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri atas banyak suku, etnik dan agama. Kedua; kesadaran bersama bangsa Indonesia dalam menghapuskan segala bentuk penjajahan dan penindasan dari bumi Indonesia (Susanto, 2014:2).

Kohn (1984:11) Nasionalisme merupakan suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan pada negara kebangsaan.Perasaan yang sangat mendalam akan suatu ikatan yangerat dengan tanah tumpah darahnya, dengan tradisisetempat dan penguasa-penguasa resmi di daerahnya selalu aja disepanjang arah dengan kekuatan yang berbeda. Nasionalisme secara fundamental timbul dari adanya National Counciousness. Dengan perkataan lain nasionalisme adalah formalisasi (bentuk) danrasionalisasi dari kesadaran nasional berbangsa dan bernegara sendiri. Kesadaran nasional inilah yangmembentuk nation dalam politik yaitu Negara nasional.

Jadi pengertian nasionalisme yaitu sikap cinta terhadap tanah air dan bangsa yang dimiliki oleh setiap individu dalam mempertahankan tanah air dan bangsadari berbagai serangan luar yang mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang didasari dengan semangat rela berkorban serta mengesampingkan segala bentuk perbedaan yang ada diantaranya perbedaan agama, suku, ras, golongan/adat istiadat/budaya, dan perbedaan bangsa. Hal ini berpedoman pada semboyan bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda beda tetapi tetap satu jua.

Di dalam buku Hamengku Bowono X (2007: 87), menurut Ernest Renan menyatakan bahwa nasionalisme adalah jiwa dan prinsip spiritual yang menjadi ikatan bersama, baik dalam pengorbanan (sacrifice) maupun dalam 

kebersamaan (solidarity). Dalam hubungannya dengan kehidupan berbangsa, Anderson (2001:8) menjelaskan; bangsa adalah suatu yang terbayang karena para anggota bangsa terkecil sekalipun tidak bakal tahu dan takkan kenal sebagian besar anggota lain, bahkan mungkin tidak pula mendengar tentang mereka. Namun, dibenak setiap orang yang menjadi anggota bangsa itu hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka.

Bayangan tentang kebersamaan inilah yang kemudian mewujudkan semangat Nasionalisme. Nasionalisme merupakan salah satu unsur dalam pembinaan kebangsaan atau nation-building. Dalam proses pembinaan kebangsaan semua anggota masyarakat bangsa dibentuk agar berwawasan kebangsaan serta berpola tatalaku secara khas yang mencerminkan budaya maupun ideologi.

b. Teori Naionalisme (Soekarno)
Soekarno lebih kita kenal sebagai tokoh nasionalis Indonesia. Meskipun ia menyerap pemikiran banyak tokoh dari beragam ideologi seperti Marxis, Sosial Demokrasi (Sosdem), Islamis hingga Liberalis. Soekarno juga pernah mengklaim diri sebagai seorang nasionalis, marxis dan juga muslimin. Namun, di mata banyak orang, Bung Karno tetap saja ditempatkan di golongan kaum nasionalis.

Soekarno telah merumuskan suatu gagasan mengenai nasionalisme yang layak diterapkan di Indonesia sejak ia muda. Gagasan beliau dikenal dengan istilah sosio-nasionalisme. Inti dari sosio-nasionalisme yang ia rumuskan,yakni(http://www.berdikarionline.com/opini/20120416/nasionalisme-ala-soekarno.html);

“Nasionalisme kita haruslah nasionalisme yang tidak mencari gebyarnya atau kilaunya negeri keluar saja, tetapi haruslah mencari selamatnya manusia.. Nasionalisme kita haruslah lahir daripada „menselijkheid‟. Nasionalismeku adalah nasionalisme kemanusiaan, begitulah Gandhi berkata, Nasionalisme kita, oleh karenanya, haruslah nasionalisme yang dengan perkataan baru yang kami sebut: sosio-nasionalisme. Dan demokrasi yang harus kita cita-citakan haruslah demokrasi yang kami sebutkan: sosio-demokrasi”.

Dalam uraian tersebut, jelaslah bahwasanya inti dari paham sosio-nasionalisme atau nasionalisme Indonesia yang digagas Soekarno haruslah nasionalisme yang bertujuan mencapai kebahagiaan umat manusia dan bukannya nasionalisme yang mengagung-agungkan negeri ini di kancah internasional saja. Maka dari itu, Soekarno menginginkan yang menjadi landasan nasionalisme Indonesia adalah kemanusiaan. Tampak adanya kesesuaian sosio-nasionalisme dengan paham humanism.

Soekarno meneguhkan kembali landasan nilai yang menjadi inti dari nasionalisme Indonesia, yakni kemanusiaan, dalam pernyataan berikut ini: 

“Nasionalis yang sejati, yang cintanya pada tanah air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi-dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka. Nasionalis yang bukan chauvinis, tidak boleh tidak, haruslah menolak segala paham pengecualian yang sempit budi itu. Nasionalis yang sejati yang nasionalismenya itu bukan semata-mata suatu copy atau tiruan dari nasionalisme Barat, akan tetapi timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan, nasionalis yang menerima rasa nasionalismenya itu sebagai suatu wahyu dan melaksanakan rasa itu sebagai suatu bakti. Baginya, maka rasa cinta bangsa itu adalah lebar dan luas, dengan memberi tempat pada segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup.” (Soekarno, 1964, http://www.berdikarionline.com/opini/20120416/nasionalisme-ala-soekarno.html.)

Soekarno menegaskan bahwasanya nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme yang berkarakter chauvinis, yakni sikap patriotisme yang berlebihan dan keyakinan berperang di superioritas nasional dan hanya mementingkan kemuliaan diri sendiri di kancah Internasional saja.

c. Makna Nasionalisme
Selama abad terakhir istilah nasionalisme digunakan dalam rentang arti yang kita gunakan sekarang. Diantara penggunaan–penggunaan itu, yang paling penting adalah suatu proses pembentukan, atau pertumbuhan bangsa- bangsa. Suatu sentimen atau kesadaran memiliki bangsa bersangkutan. Suatu bahasa dan simbolisme bangsa. Suatu gerakan sosial dan politik demi bangsa bersangkutan. Suatu doktrin dan/atau ideologi bangsa, baik yang umum maupun yang khusus (Smith, 2003:7 ). 

Proses pembentukan bangsa-bangsa itu sangat umum. Proses ini sendiri mencakup serangkaian proses yang lebih khusus dan acapkali membentuk objek nasionalisme dalam pengertian lain yang lebih sempit.

Kesadaran atau sentimen nasional, perlu dibedakan dengan seksama dari ketiga penggunaan lainnya. Padaawal abad keenam belas agar bangsa italia bersatu melawan bangsa Barhar.

Makna dari nasionalisme merupakan manifestasi kesadaran nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu bangsa, baik untuk merebutke merdekaan atau mengenyahkan penjajahan maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya maupun lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya.

Kita sebagai warga negara Indonesia, sudah tentu merasa bangga dan mencintai bangsa dan Negara Indonesia. Kebanggaan dan kecintaan kita terhadap bangsa dan negara tidak berarti kita merasa lebih hebat dan lebih unggul daripada bangsa dan negara lain. Kita tidak boleh memiliki semangat nasionalisme yang berlebihan (chauvinisme) tetapi kita harusmengembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain.

Nasionalisme memiliki tiga peranan yaitu nasionalisme sebagai identitas atau pembeda, nasionalisme sebagai ideologi contohnya nazi Jerman yang memberantas penduduk bukan asli Jerman atas dasar ideologinya, dan yang terakhir nasionalisme sebagai pergerakan contohnya titik awal pergerakan nasional Indonesia dengan adanya sumpah pemuda.

d. Bentuk-Bentuk Nasionalisme
Nasionalisme dapat menonjolkan dirinya sebagai bagian paham Negara atau gerakan (bukan negara) yang populer berdasarkan pendapat warga Negara etnis, budaya, keagamaan dan ideologi (Martono dan Suroso dalam Merianti 2014:11). Kategori tersebut lazimnya berkaitan dan kebanyakan teori nasionalisme mencampuradukkan sebagian atau semua elemen tersebut.

Nasionalisme dapat dikelompokkan menjadi 5 (enam) bentuk. Lisyarti (2007:28) ada beberapa macam dari nasionalisme diantaranya adalah Pertama Nasionalisme kewarganegaraan (nasionalisme sipil) adalah sejenis nasionalisme dimana Negara memperoleh kebenaran politik dari penyertaan (partisipasi) aktif rakyatnya.

Kedua Nasionalisme etnis adalah sejenis nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnissebuah masyarakat.

Ketiga Nasionalisme Budaya adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan tidak bersifat turun temurun seperti warna kulit, ras ataupun bahasa.

Keempat Nasionalisme kenegaraan ialah variasi nasionalisme kewarganegaraan, selalu digabungkan dengan nasionalisme etnis. Perasaan nasionalistik adalah kuat sehingga diberi lebih keutamaan mengatasi hak universal dan kebebasan. Kejayaan suatu negeri itu selalu kontras dan berkonflik dengan prinsip masyarakat demokrasi. Penyelenggaraan sebuah 'national state' adalah suatu argumen yang ulung, seolah-olah membentuk kerajaan yang lebih baik dengan tersendiri. Contoh biasa ialah Nazisme, Facisme, serta nasionalisme Turki kontemporer,dan sebagainya.

Kelima Nasionalisme agama ialah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama.

Berdasarkan pendapat dari Lisyarti (2007:28), bahwa nasionalisme itu dapat diwujudkan berdasarkan klasifikasi macam nasionalisme. Tujuan dari macam nasionalisme itu agar rakyat mendapat semangat serta dorongan untuk mempertahankan negaranya berdasarkan pandangan dari macam-macam nasionalisme, tetapi tidak terlepas dari ideologi suatu Negara.

e. Penanaman Sikap Nasionalisme pada Peserta Didik.
Nasionalisme merupakan suatu konsep penting yang harus tetap dipertahankan untuk menjaga agar suatu bangsa tetap berdiri dengan kokoh dalam kerangka sejarah pendahulunya, dengan semangat nasinonalisme yang tinggi maka, eksistensi suatu negara akan selalu terjaga dari segala ancaman, baik ancaman secara internal, maupun ancaman secara eksternal. Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk menanamkan rasa nasionalisme pada peserta didik yaitu melalui mata pelajaran IPS (Sejarah) didukung dengan model pembelajaran Living History dan berbagai kegiatan lain yang menunjang sikap nasionalisme siswa.

Penanaman nasionalisme akan mengembangkan kreativitas peserta didik untuk melakukan kajian-kajian berbagai peristiwa untuk kemudian dipahami dan diintegrasikan kepada masing-masing individu sehingga melahirkan contoh untuk bersikap dan bertindak yang berpijak pada pendidikan karakter yang ada di sekolah-sekolah.

Disimpulkan bahwa penanaman nilai nasionalisme pada peserta didik dapat melalui mata pelajaran IPS (Sejarah) didukung dengan model pembelajaran Living History dan kegiatan sekolah lain yang menunjang sikap nasionalisme siswa.

f. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nasionalisme
Nasionalisme merupakan tali pengikat yang kuat, yakni paham yang menyatakan bahwa kesetiaan individu harus diserahkan kepada Negara kebangsaan, sebagai ikatan yang erat terhadap tumpah darahnya. Keinginan untuk bersatu, persamaan nasib akan melahirkan rasa nasionalitas yang berdampak pada munculnya kepercayaan diri, rasa yang amat diperlukan untuk mempertahankan dari dalam perjuangan menempuh suatu keadaan yang lebih baik.

Dua faktor penyebab munculnya nasionalisme, yaitu factor intern dari dalam diri siswa dan ekstern dari luar diri siswa (lingkungan). Faktor pertama sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap penjajah yang menimbulkan perlawanan rakyat dalam bentuk pemberontakan atau peperangan. Sedang factor kedua sebagai renaissance yang dianggap simbol kepercayaan atas kemampuan diri sendiri (Perdanayudha.wordpress.com/2010/05/27/sikap-nasionalisme-bagi manusia/)

g. Indikator Sikap Nasionalisme yang Ingin Dicapai dan Ditingkatkan.
Ada beberapa contoh sikap Nasionalisme yang hendak ditingkatkan dan dicapai juga mampu dilaksanakan oleh siswa, yakni:
  1. Menjaga Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
  2. Menghargai jasa para pahlawan. 
  3. Mempertahankan Pancasila sebagai Ideologi bangsa.
  4. Mengesampingkan perbedaan suku, adat/budaya, dan agama.
  5. Patuh pada peraturan.
Blog, Updated at: 22.46

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts