Pandangan Filosofis Sebagai Bingkai Sastra Jawa

Pandangan Filosofis Sebagai Bingkai Sastra Jawa 
Di atas telah disinggung bahwa karya sastra (Jawa) sedikit atau banyak akan terikat oleh konvensi yang ada pada masing-masing jenis sastra yang bersangkutan. Konvensi yang ada dalam setiap jenis sastra Jawa, tentu saja tidak akan bertentangan dengan idealisme filosofis yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Memang tidak mudah menangkap idealisme filosofis Jawa yang mana yang tercermin dalam tiap-tiap jenis sastra, bahkan tiap-tiap teks sastra. Namun demikian, setidak-tidaknya dinamika kebudayaan Jawa secara luas mestinya tetap diacu dalam penciptaan teks-teks sastra baru maupun dalam pemaknaannya.

Dengan pandangan di atas, setidak-tidaknya harus ditekankan pengertian adanya pengaruh dari kebudayaan-kebudayaan besar yang telah masuk dalam eksistensi kebudayaan Jawa dari waktu ke waktu. Adanya budaya animisme-dinamisme sebagai dasar kehidupan budaya nenek moyang, pengaruh budaya Hindu-Budha yang saat ini masih tercermin dalam berbagai cerita wayang purwa, pengaruh budaya Islam yang kemudian tercermin dalam sastra suluk, sastra tuntunan, wayang menak, dsb., serta pengaruh budaya Barat yang kemudian tampak pada kehidupan sastra Jawa modern, hingga pengaruh kompleksitas nasionalisme yang kemudian memunculkan sastra-sastra Jawa bervisi Indonesia, adalah contoh-contoh yang harus dicermati. Demikian pula pengaruh globalisasi yang pada akhirnya membawa dampak pada berbagai kehidupan berkesenian, termasuk bersastra Jawa. 

Menurut A. Teeuw (1984: 101), sastra dan seni selalu berada dalam ketegangan antara aturan dan kebebasan, antara konvensi dan inovasi. Dengan demikian, kehidupan sastra Jawa akan selalu menjadi anak bangsa (Jawa) sekaligus juga menjadi anak jamannya. Artinya, nilai-nilai budaya Jawa yang merupakan hasil perenungan dan pengendapan dari berbagai benturan budaya asli dan asing, akan selalu mendasari penciptaan karya sastra Jawa, sekaligus juga terjadi tawar-menawar dengan berbagai budaya yang berlaku secara up to date di Jawa. Tidak mustahil bila beberapa waktu yang lalu muncul ketoprak dengan bahasa Indonesia, tetapi secara substantif tetap berisi budaya Jawa secara kental. Sebaliknya, karya-karya yang berbau postmodernisme hingga dekonstruksi juga mewarnai karya-karya sastra Jawa, seperti tampak pada berbagai sastra cerkak, ketoprak plesetan, dsb. 

Sastra dan Bahasa Jawa
Pembicaraan mengenai sastra Jawa, pada dasarnya membicarakan karya sastra yang berbahasa Jawa, baik bahasa Jawa Kuna, Jawa Pertengahan, maupun bahasa Jawa baru, dengan latar belakang pengaruh kebudayaan tertentu dan dalam jenis sastra dan bentuk sastra tertentu. 

Telah disinggung pada bab sebelumnya bahwa secara historis atau secara vertikal sastra Jawa menggunakan media bahasa Jawa yang meliputi bahasa Jawa Kuna, Jawa Pertengahan dan Bahasa Jawa Baru. Sedang secara horizontal, terdapat bahasa standar atau baku dan bahasa dialek tertentu. Dewasa ini setidak-tidaknya terdapat bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta yang dianggap sebagai bahasa standar, bahasa dialek Banyumasan dan bahasa dialek Jawa Timuran. Dalam rangka karang-mengarang, pada umumnya menggunakan bahasa standar, namun juga tidak tertutup kemungkinan penggunaan dialek tertentu sebagai warna lokal (local colour) yang memunculkan efek suasana cerita menjadi semakin hidup. Bahkan karya sastra Jawa dengan pengantar dialek tertentu akan memperkaya khasanah sastra Jawa.

Bahasa Jawa Kuna dalam arti luas, dapat dibedakan dalam dua istilah, yakni bahasa Jawa Kuna dan bahasa Jawa Pertengahan dengan ciri-cirinya masing-masing. Bahasa Jawa Kuna, di samping dipakai dalam beberapa bentuk prosa, dipakai dalam bentuk puisi kakawin. Sedang bahasa Jawa Pertengahan, di samping dipakai dalam beberapa bentuk prosa, juga dipakai dalam bentuk puisi kidung. 

Menurut Poerbatjaraka (1964: 68), penggunaan bahasa Jawa Kuna dalam kehidupan sehari-hari hanya sampai pada waktu sebelum berdirinya kerajaan Singasari. Setelah itu, orang sudah menggunakan bahasa Jawa Pertengahan. Pada jaman Majapahit, bahasa Jawa Pertengahan sudah menjadi bahasa sehari-hari dan bahasa umum. Namun demikian dalam bahasa sastra, para pujangga Majapahit masih menggunakan bahasa Jawa Kuna, seperti dalam Nagarakretagama, Arjunawijaya, dan sebagainya, bahkan tradisi penulisan sastra dengan bahasa Jawa Kuna masih dapat ditemukan di Bali pada jaman modern ini. 

Adapun menurut Zoetmulder (1983: 29-37), istilah bahasa Jawa Kuna dan bahasa Jawa Pertengahan bukanlah semata-mata pembagian secara kronologis, bahwa Jawa Pertengahan berawal dari bahasa Jawa Kuna. Bahasa Jawa Pertengahan tidak menjembatani bahasa Jawa Kuna dengan bahasa Jawa Modern. Pembagian kronologis berdasarkan bahasa sering merupakan landasan yang rapuh, yang harus dipertimbangkan lebih jauh berdasarkan bukti-bukti lain.

Zoetmulder mengetengahkan fakta kerapuhan bukti linguistis atau evidensi intern itu antara lain sebagai berikut. 
  1. Kitab Siwaratrikalpa (Lubdhaka) yang semula ditafsirkan sebagai hasil dari bagian pertama abad ke-13 atau awal Singasari, tetapi penelitian terakhir membuktikan bahwa kitab itu berasal dari bagian kedua abad ke-15 atau akhir Majapahit. Jadi terpaut dua setengah abad. 
  2. Bukti yang lain bahkan di Bali beberapa kakawin merupakan hasil penulisan abad ke-19. 
  3. Dalam sastra kidung pun cara penulisan raja pelindung pada bagian introduksi atau bagian epilog yang sering ada dalam tradisi penulisan kakawin, tidak terjadi pada jenis kidung, sehingga kepastian umurnya sangat lemah. Disamping itu sastra kidung tampak bukan meneruskan tradisi Jawa Kuna. 
  4. Terdapat bukti pada sejumlah piagam dari periode Majapahit paling tua, bagian kedua abad ke-14, yang berbahasa Jawa Pertengahan dan mendekati bahasa Jawa Modern. 
  5. Terdapat bukti dua karya tentang agama Islam yang berbahasa Jawa Modern yang dibawa oleh pelayaran Belanda dan dihadiahkan ke perpustakaan Universitas Leiden pada tahun 1597. Dua karya yang berbahasa Jawa Modern itu tentu saja ditulis sebelum tahun 1597, yakni pada abad ke-16. 
Dengan demikian pada abad ke-16 sebenarnya sudah terdapat tiga jenis bahasa sekaligus, yakni Jawa Kuna, Jawa Pertengahan dan Jawa Modern. Namun demikian hingga kini belum jelas pemetaannya, di daerah bagian mana atau situasi seperti apa berlaku bahasa Jawa Kuna, berlaku bahasa Jawa Pertengahan atau bahasa Jawa Baru. 

Secara umum dapat dikatakan bahwa daerah tertentu memiliki latar belakang budaya tertentu yang sering berbeda dengan daerah lain. Dalam bahasa Jawa hal itu tercermin dalam konsep desa mawa cara negara mawa tata, yang berarti ‘desa mempunyai tata caranya sendiri-sendiri dan negara juga mempunyai aturan masing-masing’. Bila memungkinkan untuk diketahui bahwa suatu karya sastra berasal dari daerah tertentu dan pada waktu tertentu, maka berbagai hal di dalamnya akan lebih memungkinkan untuk dikaji dalam hubungannya dengan latar belakang budaya daerah yang bersangkutan.

Masing-masing dari ketiga jenis bahasa Jawa di atas, juga memiliki karakteristik yang khas, yang berhubungan dengan karakteristik sosial tertentu dan estetikanya masing-masing. Sebagai misal, bahasa Jawa Kuna, dalam banyak kasus menekankan aspek keindahan (kalangwan) dalam hubungannya antara penyair dan karya sastranya dengan raja, dewa dan lingkungan alam, baik alam dalam pola pikir di India maupun di Jawa. Bahasa Jawa Pertengahan, pada beberapa hasil sastra kidung tampak menekankan aspek historis dan penokohan pahlawan-pahlawan tertentu, serta kondisi lingkungan sosial di Jawa terutama dari Kerajaan Majapahit. Sedang pada bahasa Jawa Baru, sebagiannya merupakan penulisan kembali karya-karya sastra lama, sebagiannya lagi merupakan karya baru yang bernuansa Islami atau lingkungan sosial pada jaman Pesisiran, atau karya-karya jaman Mataram. Sebagian lagi merupakan karya modern yang telah mendapat pengaruh Barat dengan menekankan kehidupan keseharian. 

Yang perlu juga dicatat adalah bahwa dalam bahasa Jawa Baru ditekankan adanya undha-usuk, yakni tataran kebahasaan dalam hubungannya dengan status pembicara terhadap orang yang diajak berbicara. Dalam konteks sosial, penggunaan bahasa jawa Baru telah membantu pengkajian sastra untuk merekonstruksi struktur sosial yang ada dalam karya sastra dalam hubungannya dengan struktur sosial yang sesungguhnya dalam realita kehidupan orang Jawa. 

Di samping hal-hal di atas, dalam hubungannya dengan jenis karya sastra Jawa, sering kali dijumpai jenis-jenis sastra Jawa tertentu yang banyak menekankan penggunaan bahasa Jawa tertentu pula. Dalam sastra wayang, misalnya, meskipun muncul dengan bahasa Jawa Baru pada dekade belakangan, namun penggunaan bahasa Jawa Kuna dan bahasa Jawa Pertengahan masih relatif dominan. Dalam sastra suluk atau wirid dan sastra Islami lainnya, termasuk sastra Pesisiran, tentu saja penggunaan bahasa dengan pengaruh bahasa Arab akan tampak dominan. Sedang dalam sastra Jawa yang berjenis novel, novelet cerpen (cerkak), geguritan, dan sandiwara modern, penggunaan bahasa Jawa Baru sehari-hari tampak paling dominan. 

Dalam hubungannya dengan bentuk puisi tembang, di sana-sini banyak menggunakan kosa kata yang disesuaikan dengan kepentingan kaidah tembang yang bersangkutan, sehingga pada umumnya banyak menggunakan kosa kata bahasa yang khas untuk tembang. Sebagai contoh kata Mataram sering diganti dengan kata Mentawis atau Matarum atau Ngeksiganda demi mendapatkan bunyi vokal akhir baris (guru lagu) atau jumlah suku kata pada baris tertentu (guru wilangan) yang sesuai. Demikian pula baris Anoman sampun malumpat dapat saja dibalik menjadi Anoman malumpat sampun, juga demi ketentuan guru lagu, dsb.

Dalam hubungannya dengan pengkajian dan pemaknaan sastra, khususnya sastra Jawa, tentu saja hal-hal di atas tidak boleh diabaikan, mengingat makna karya sastra tidak terlepas dari latar belakang sejarah karya sastra yang bersangkutan, termasuk sistem kebahasaan masing-masing. Meskipun demikian, pengungkapan tentang latar belakang sejarah karya sastra bukanlah hal yang sederhana dan menjadi persoalan tersendiri dalam sejarah sastra Jawa, karena berbagai kendala yang melekat pada karakteristik jenis-jenis sastra Jawa tertentu.

Tradisi Alih Bahasa dan Menyalin Teks
Dalam kehidupan khasanah sastra Jawa, masalah penciptaan sastra juga diwarnai oleh tradisi alih bahasa dan tradisi menyalin teks. Tradisi alih bahasa adalah tradisi menterjemahkan teks, yakni terjadi khususnya pada penerjemahan teks-teks sastra berbahasa Sansekerta ke dalam bahasa Jawa Kuna, Jawa Kuna ke bahasa Jawa Baru, bahasa Melayu ke bahasa Jawa Baru, dsb. Tradisi menyalin teks bisa terjadi dari huruf Jawa ke huruf Jawa, dari huruf Arab ke huruf Jawa, dari huruf Arab ke huruf Latin, dari huruf Jawa ke huruf Latin, atau sebaliknya dari huruf Latin ke huruf Jawa.

Yang menjadi catatan dalam rangka teori sastra Jawa adalah bahwa dalam kedua tradisi tersebut di atas sering terjadi empat macam hasil, sebagai berikut. Pertama, penerjemah atau penyalin sangat mampu dan setia menerjemahkan atau menyalin, sehingga hasilnya sama dengan teks induknya. Kedua, penerjemah atau penyalin mampu dan setia menerjemahkan atau menyalin, tetapi oleh karena faktor manusiawi, terjadi kesalahan dan hasilnya berbeda dengan teks induknya. Ketiga, penerjemah atau penyalin memang sengaja membuat terjemahan atau salinannya berbeda dengan teks induknya, oleh karena tujuan tertentu. Keempat, penerjermah atau penyalin kurang atau tidak mampu melaksanakan tugasnya, sehingga hasilnya berbeda dengan teks induknya.

Dengan kejadian tersebut, menjadikan teks-teks sastra Jawa sebagai ladang luas dan subur bagi pengkajian filologi.. Hasil dari pengkajian tersebut, di samping mendapatkan teks aslinya, mendapatkan teks edisi kritis, juga menghasilkan pengetahuan tentang visi dan misi penerjemah atau penyalin. Dalam rangka pemaknaan karya sastra, sangat mungkin didapatkan makna-makna yang baru dari teks terjemahannya atau teks salinannya, yang berbeda dengan makna dari teks aslinya. Dalam hubungannya dengan hal di atas, Teeuw (1984: 216) mencatat bahwa dalam sastra Jawa proses saduran atau penjarwaan, khususnya di Surakarta dan Yogyakarta, perlu mendapatkan perhatian yang serius, yakni dalam rangka resepsi sastra, karena akan memberi sumbangan yang sangat penting terhadap sejarah sastra dan lebih luas pada pengetahuan mengenai konteks sosio-budaya tertentu. 

Tradisi Lisan dan Tulisan
Dalam tradisi sastra Jawa, seperti juga tradisi-tradisi yang lain, di samping dalam tradisi tulis, juga diwarnai tradisi penyebaran sastra melalui tradisi lisan. Tradisi lisan merupakan tradisi yang ditularkan dari mulut ke mulut secara turun temurun. 

Dalam tradisi sastra Jawa, antara tradisi lisan dan tulisan berjalan bersama, sehingga sering sekali terjadi saling mempengaruhi. Sebagai contoh, tradisi wayang purwa dan seni kethoprak, yang semula lebih berkembang dalam tradisi lisan, akhirnya juga berkembang dalam tradisi tulis. Namun demikian sebagian hasil sastra tulis kemudian juga berkembang dalam tradisi lisan, seperti tradisi wayang purwa dan kesenian kethoprak tersebut.

Tradisi lisan memiliki karakteristik luwes, sangat mampu menyesuaikan situasi dan kondisi di mana ia berkembang. Oleh karena itu perubahan demi perubahan bisa terjadi begitu saja dengan cepatnya. Hal ini berbeda dengan tradisi tulisan yang mencatat segala yang ada dengan lebih statis, bisa dibaca dalam kondisi yang relatif sama dalam jangka waktu yang lama. Dengan kata lain tradisi tulis telah membakukan eksistensi teksnya. Apabila suatu tradisi lisan berkembang dalam bentuk tulisan maka pada saat pertama penulisan itu, berbagai perubahan yang telah terjadi dalam tradisi lisan sebelumnya, menjadi tertulis dan cenderung menjadi baku. Dengan demikian dalam tradisi tulis semacam ini dapat menjadi semacam titik-titik stasioner perubahan.

Dalam sastra Jawa hal tersebut mungkin juga terjadi pada persebaran teks-teks sastra tertentu, khususnya pada lakon-lakon wayang purwa dan dongeng-dongeng atau legenda-legenda tertentu. Dengan demikian perlu dicermati lebih jauh, pemaknaan karya sastra Jawa dalam hubungannya dengan persebaran melaui tradisi lisan dan tulisan yang telah saling mempengaruhi.

Sang Kawi, Pujangga atau Pengarang Sastra Jawa
Penamaan pujangga atau pengarang pada dasarnya dibedakan dalam kemampuannya, masa hidupnya, dan popularitasnya. Pujangga hidup pada jaman kekuasaan para raja Jawa. Khususnya dalam sastra Jawa Kuna, penyair biasa disebut Sang Kawya atau Ra Kawi atau Sang Kawi, sedang lembaganya sering disebut Para Kawi yang mungkin bisa disejajarkan dengan ‘Jawatan Kebudayaan dan Kesusasteraan’. Istilah kawi sendiri bisa berarti ‘seorang penyair’ tetapi juga bisa berarti lebih luas, yakni ‘seseorang yang mahir atau mempelajari buku-buku’ atau ‘seseorang yang mahir dalam kitab-kitab suci’ (Zoetmulder, 1983: 184-186). 

Dalam istilah Jawa, pujangga juga sering disebut kawitana, kawiwara, atau kawiswara. Menurut Padmosoekotjo (tt, jld I: 13) dan Padmawarsita (dalam Serat Ranggawarsita, Cod. Or. 6467: 12), pujangga harus memiliki delapan macam kemampuan, yakni sebagai berikut.
  1. Paramengsastra, yakni ahli dalam bidang sastra dan bahasa, menguasai tentang bunyi, rasa dan makna bahasa sastra.
  2. Paramengkawi, yakni ahli mencipta sastra atau mengarang, terutama dalam penggunaan bahasa Kawi (Bahasa Jawa Kuna dan bahasa yang sering dipakai oleh para Pujangga yang sering disebut Kawi Miring).
  3. Awicarita, yakni pandai mendongeng atau bercerita dengan menarik dan dapat menjadi pedoman hidup manusia.
  4. Mardawa lagu, yakni pandai dan halus dalam hal membuat tembang dan gendhing.
  5. Mardawa basa, atau mardi basa yakni pandai menggunakan bahasa yang menyenangkan, yang menyentuh perasaan, membangkitkan rasa kasih, dan sebagainya. 
  6. Mandraguna, yakni ahli dalam cipta sastra dan dalam hubungannya dengan hal kesaktian dan supranatural.
  7. Nawung kridha, yakni halus budi dan perasaannya hingga mampu membaca perasaan orang lain.
  8. Sambeguna, yakni bijaksana atau baik budi.
Dalam hal kata pujangga, ada kemungkinan berasal dari kata empu janggan yang berarti ‘tuan guru’ seperti yang terdapat dalam kitab Pararaton yang antara lain menyebutkan Empu Janggan ing Sagenggeng yang berarti ‘tuan guru di Sagenggeng’ (Asia Padmopuspito, tt: 18). Namun dimungkinkan juga berasal dari bahasa Sansekerta, yakni kata bhujangga yang berarti ‘ular’ atau ‘naga’. Tidak mengherankan bahwa tanda tangan R. Ng. Ranggawarsita pada beberapa naskah asli karyanya, berupa gambar seekor naga atau menyerupai naga. Ranggawarsita sendiri memang menyebut dirinya sebagai pujangga. Hal ini antara lain disebut dalam karyanya Serat kalatidha pada bait I pupuh Sinom, sebagai berikut.

Wahyaning harda rubeda / Ki Pujangga amengeti / mesu cipta mati raga / mudhar warananing gaib / ananira sakalir / ruweding sarwa pekewuh / wiwaling kang warana / dadi badhaling Hyang Widdi / amedharken paribawaning bawana.

Oleh karena kraton, khususnya Istana Kasunanan Surakarta tidak mewisuda pujangga lagi setelah Ranggawarsita, konon pada umumnya kalangan pengamat sastra Jawa juga menyebutkan bahwa pujangga terakhir adalah R.Ng. Ranggawarsita, dan setelah itu orang sering hanya menamakan sebagai pengarang saja. Adapun, saat ini kata pengarang sering dibubuhkan untuk menyebutkan nama pengarang sastra Jawa Modern atau sastra Jawa gagrag anyar. 

Penghargaan terhadap pujangga, tentu saja berpengaruh terhadap resepsi masyarakat pada makna dan nilai karya sastra. Pada sebagian masyarakat yang memegang keyakinan akan keunggulan kemampuan pujangga dan hasil karya sastranya, akan cenderung menilai karya sastra Jawa modern, yakni karya pengarang yang bukan pujangga, nilainya tidak akan melebihi makna karya sastra lama yang merupakan karya para pujangga. Hal ini tentu harus dicermati secara hati-hati dengan mendasarkan pada kekhasan karya sastra masing-masing dan kekhasan bidang kajian masing-masing. Misalnya saja dalam rangka pendekatan pragmatik, tentu harus mengingat filosofi nut jaman kelakone, empan papan, dsb, sehingga parameter penilaiannya akan berbeda-beda.

Di depan nama para penyair Jawa Kuna sering digunakan sebutan empu. Dalam sejarah sastra Jawa Kuna antara lain dikenal pujangga yang bernama Empu Kanwa (menulis Arjunawiwaha), Empu Sedah dan Empu Panuluh (bersama-sama menulis Bharatayuddha), Empu Panuluh (sendiri menulis Hariwangsa, Gatotkacasraya), Empu Triguna (menulis Kresnayana), Empu Monaguna (menulis Sumanasantaka), Empu Tantular (menulis Arjunawijaya dan Sutasoma), Empu Tanakung (menulis Lubdhaka atau Siwaratrikalpa), Empu Prapanca (menulis Nagarakertagama), dan Empu Dharmaja (menulis Smaradahana).

Pada sastra Jawa Kuna, khususnya dalam kakawin, penyebutan nama penyairnya sering terdapat dalam bagian manggala yakni bagian introduksi atau prolog, atau kemungkinan lain terdapat di bagian epilog, yang biasanya juga untuk menyebut-nyebutkan nama raja pelindungnya serta dewa yang dipujanya. Dalam sastra Jawa Pertengahan tradisi yang demikian itu tidak terjadi. Nama penulis kidung (Jawa Pertengahan) harus dicari pada bagian lain. Sering kali baik dalam kakawin maupun dalam kidung, nama penyairnya harus ditentukan dengan membandingkan pada karya-karya yang lain atau dari bukti-bukti lain. 

Dalam satra Jawa Baru, penyebutan empu tidak lagi lazim. Pada jaman Islam (Jaman Demak dan Pajang), antara lain tersebut nama Sunan Bonang dalam Suluk Wujil, Sunan Panggung sebagai penulis Suluk Malang Sumirang, dan Pangeran Karanggayam sebagai penulis Nitisruti, dsb. 

Pada jaman Mataram diantaranya dikenal para pencipta sastra sebagai berikut. Raja Sultan Agung menulis Nitipraja dan Sastragendhing. Pangeran Adilangu menulis Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Pajang, dan Babad Mataram. Carik Bajra menulis Serat Damarwulan dan Babad Kartasura. Ranggadjanur menulis Pranacitra dan Dewi Rengganis. Sunan Pakubuwana IV menulis Wulang Reh dan Wulang Sunu. 

Sunan Pakubuwana V menulis Serat Centhini. R.Ng. Yasadipura I (Yasadipura Tus Pajang) menulis Cebolek, Babad Pakepung, Babad Giyanti, Serat Rama, Serat Dewaruci, Ambiya, Tajusalatin, Serat Menak, Joharmanik, Nawawi, Bustam, Serat Sewaka, Serat Panitisastra, dan Serat Lokapala. R.Ng. Yasadipura II (R.T. Sastranagara) menulis Sasanasunu dan Wicarakeras. Ng. Sindusastra menulis Arjunasasrabau, Partayagnya (lakon Partakrama), Srikandhi Maguru Manah dan Sumbadra Larung. K.G. Mangkunegara IV menulis Wedhatama, Buratwangi, Sendhon Langenswara, Panembrama, Tripama, Salokatama, Wirawiyata, dan Rerepen. 

R. Ng. Ranggawarsita menulis Jayengbaya, Widyapradana, Hidayatjati, Jayabaya, Purwakaning Serat Pawukon, Pustakaraja Purwa, Rerepen sekar Tengahan, Sejarah Pari Sawuli, Uran-uran Sekar Gambuh Warni Pitu, Panitisastra, Bratayuda Jarwa Sekar Macapat, Cakrawati, Sidawakya, Pawarsakan, Darmasarana, Yudayana, Budayana, Pustakaraja Madya, Ajipamasa, Witaradya, Ajidarma, Pambeganing Nata Binathara, Kalatidha, Sariwahana, Purusangkara, Wedhayatmaka, Wedharaga, Cemporet, Wirid, Paramayoga, Jakalodhang, Sabdatama, dan Sabdajati. 

P. Kusumadilaga menulis Serat Bale Si Gala-gala, Jagal Bilawa, Kartapiyoga (Endhang Werdiningsih), Jaladara Rabi, Kurupati rabi, Serat sastramiruda, dan Serat Partadewa 

Setelah abad XX, antara lain tercatat para penulis sebagai berikut. Ki Padmasusastra menulis Tatacara, Pathibasa, Paramabasa, Warnabasa, Urabsari, Durcaraharja, Rangsang Tuban, Kandhabumi, Kabar Angin, dan Prabangkara.

M. Ng. Mangunwijaya menulis Purwakanthi, Trilaksita, Jiwandana, Asmaralaya, Lambangpraja, dan Wuryalocita. R Ng. Sidupranata menulis Sawursari. Ng. Sastrakusuma menulis Dongeng Kuna

R. T. Tandhanagara menulis Pepiling dan Baruklinthing. M. Suryasuparta (K.G. Mangkunegara VII) menulis Kekesahan saking Tanah Jawi dhateng Negari Walandi, dan Serat Pakem Pedhalangan Ringgit Purwa. R.M. Sulardi menulis Serat Riyanta. Bratakesawa menulis Candrasangkala. Wiradad menulis Calonarang. M. Sukir menulis Abimanyu Kerem. Sastrasutarna menulis Bancak Dhoyok Mbarang Jantur. Mas Sumasentika menulis Buta Locaya. (Padmosoekotjo, t.t, jld. II: 152-153). Mengenai para pengarang dan hasil karya sastra Jawa modern, agar lebih lengkap dapat dilihat juga dalam J.J. Ras, (1979: 1-30).

Khususnya pada karya sastra Jawa Kuna, Pertengahan dan beberapa karya sastra Jawa Baru yang termasuk tua (hingga karya Jaman Mataram), ditemukan naskah-naskah sastra yang tidak diketahui siapa pengarangnya. Hal ini sebagiannya mungkin merupakan kesengajaan pengarang yang memang tidak mau menyebutkan atau mencantumkan namanya pada karya sastranya itu. Namun demikian sebagiannya mungkin pada bagian-bagian yang biasanya untuk menyebutkan nama pengarangnya, telah rusak dan tak terbaca lagi. 

Dalam tradisi kepenulisan karya sastra Jawa, disamping pujangga dan pengarang, seperti telah disinggung di atas, masih ada lagi yakni penulis, penyalin atau penurun atau penerjemah, karena terdapat tradisi penyalinan teks dan terdapat tradisi penulis sebagai suruhan raja atasannya. Dalam sejarah sastra Jawa banyak sekali hasil karya sastra yang merupakan salinan atau turunan atau saduran atau terjemahan (jarwa) dari teks-teks sastra yang sudah ada sebelumnya. Namun ada juga yang mengarang atau menyalin dalam rangka suruhan pihak lain. Dalam hal menyalin, sebagian penyalin bersikap sangat setia dalam mempertahankan keaslian teks sehingga perbedaan teks asli dengan salinannya sedikit. Namun demikian sebagian yang lain bersikap kritis dengan menghapus, merubah atau mengganti sebagian teks yang disalinnya, sebagai tanggapan terhadap teks yang disalinnya.

Dalam tradisi sastra lisan Jawa yang ditularkan dari mulut ke mulut, hampir semua karya sastra lisan akhirnya tidak diketahui siapa pengarangnya (anonim). Dalam hal ini terdapat dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, karya tersebut menjadi milik bersama masyarakat Jawa tetentu atau masyarakat Jawa pada umumnya. Kemungkinan kedua, muncul sebagai cerita lisan dari mulut-ke mulut bahwa suatu hasil sastra adalah karya tokoh masyarakat tertentu. Sebagai contoh, hingga sekarang jenis-jenis Tembang Macapat tidak diketahui secara pasti siapa penciptanya, namun telah menjadi legenda bahwa beberapa jenis Tembang Macapat merupakan hasil ciptaan para wali atau raja tertentu. Tradisi untuk tidak menyebutkan nama pengarang bahkan lalu menjadi ciri khas sastra lisan, khususnya sastra lisan Jawa.

Berbeda dengan hal itu, dalam sastra tulis banyak yang dengan sengaja menuliskan namanya, yang dalam tradisi Jawa disebut sastra miji, atau milik pribadi tertentu. 

Dalam hal nama pengarang, ada nama asli dan bukan. Sejumlah pengarang mencoba mengabadikan namanya justru melalui nama samaran. Nama samaran, pada karya sastra Jawa Modern yang berbentuk prosa, pada umumnya dituliskan secara jelas, meskipun itu bukan nama sebenarnya. 

Teknik pemilihan nama samaran sangatlah beragam. Namun demikian sebagiannya masih memungkinkan dikaitkan dengan nama aslinya. Ada yang memilih nama samaran dari suku-suku kata awal dari nama aslinya, misalnya Suhawi, nama aslinya Suwanda Hadi Wijana (penulis Rumpakan Suruping Srengenge, dan Barabudur). Ada yang memilih kata terakhirnya, misalnya Srini, nama aslinya Kusrini (penulis Larasati Modern). Any Asmara adalah bernama asli Ahmad Ngubaeni Ranusastraasmara (penulis produktif novel Jawa) . Jayadinama, nama aslinya Jayadiguna. Liasmi bernama asli Ismail (penulis cerpen Jawa Anak Kuwalon). Nama M.W Asmawinangun, banyak yang menerka itu sebagai nama samaran dari M. Ng. Mangun Wijaya (kata asmawinangun berarti ‘nama samaran’). St. Iesmaniasita, nama lengkapnya Sulistyautami Iesmaniasita (penulis geguritan dan cerpenis Jawa). Kamajaya, nama aslinya Karkana Partakusuma. Poerwadhie Atmodihardjo menggunakan banyak nama samaran, seperti Hardja Lawu, Ki Dhalang Dhengklung, Laharjingga, Prabasari, Habramarkata, Sri Ningsih, Sri Djuwarisah, Abang Istar, Kenthus, dsb. Soebagio Ilham Notodidjojo sering menggunakan nama samaran SIN atau Pak SIN, Satrio Wibowo, Anggajali, Damayanti dan Endang Murdiningsih. Soenarno Sisworahardjo menggunakan nama samaran Soesi, S.S., S. Sisworahardjo. Dan sebagainya.

Suatu tradisi dalam bentuk puisi, khususnya dalam bentuk tembang, sering kali pengarang mencantumkan nama aslinya maupun nama samarannya, melalui cara penulisan yang disandikan, yakni dengan cara yang dikenal dengan sebutan sandi asma. Kata sandi atau sandya semula berarti ‘sambung’. Kata sandyakala berarti ‘penyambung waktu, yakni antara siang dengan malam’. Namun demikian pada akhirnya kata sandi juga berarti ‘samar’ atau ‘tersamar’ atau ‘rahasia’. Kata asma berarti ‘nama’. Jadi sandiasma maksudnya nama yang tersamar (Padmosoekotjo, tt, jld II: 128). Cara-cara penulisan sandi asma, antara lain sebagai berikut. 

1). Setiap suku kata dari nama pengarang dituliskan secara urut, pada suku kata-suku kata yang mengawali setiap pupuh tembang. Yang dimaksud pupuh adalah kesatuan bait-bait tembang yang sama jenisnya. Satu judul karya sastra dapat berisi satu pupuh saja, misalnya pupuh Dhandhanggula saja, namun juga dapat berisi banyak pupuh. Satu pupuh dapat terdiri atas satu bait (pada) saja, tetapi pada umumnya terdiri atas banyak bait tembang. Contohnya dalam Serat Ajipamasa, berbunyi Rahadyan 
Ngabei Ronggawarsita, sebagai berikut. 
Rasikaning sarkara kaesthi (pupuh Dhandhanggula)
Hasasmita wadyanira (pupuh Sinom)
Dyan cepu kinon ningali (pupuh Asmaradana)
Ngawu-awu ing pamuwus nguwus-uwus (pupuh Pucung)
Bela tampaning wardaya (pupuh Pangkur)
Iyeg tyas sabiyantu (pupuh Gambuh)
Rong prakara pilihen salah setunggal (pupuh Durma)
Gagat bangun angun-angun ing praja gung (pupuh Megatruh)
Warnanen tanah ing Sabrang (pupuh Pangkur)
Sira Sang Prabu kalihnya (pupuh Girisa)
Talitining wong abecik (pupuh Asmaradana).

2). Setiap suku kata dari nama pengarang dituliskan secara urut, pada suku kata-suku kata yang mengawali setiap bait, dalam beberapa bait tembang, pada pupuh tertentu. Contohnya dalam Serat Sabdatama, pada pupuh Gambuh, tertulis Raden Ngabei Ronggawarsita ing Kedhungkol Surakarta Adiningrat, sebagai berikut.
Rasaning tyas kayungyun (bait ke-1)
Den samya amituhu (bait ke-2)
Ngajapa tyas rahayu (bait ke-3)
Beda kang ngaji pupung (bait ke-4)
Ilang budayanipun (bait ke-5)
Rong asta wus katekuk (bait ke-6)
Galap gangsuling tembung (bait ke-7)
Wartaning para jamhur (bait ke-8)
Sidining kalabendu (bait ke-9)
Tatanane tumruntun (bait ke-10)
Ing antara sapangu (bait ke-11)
Kemat isarat luhur (bait ke-12)
Dhungkari gunung-gunung (bait ke-13)
Kolonganing kaluwung (bait ke-14)
Supaya padha emut (bait ke-15)
Rasane wong karasuk (bait ke-16)
Karkating tyas katuju (bait ke-17)
Tatune kabeh tumurun (bait ke-18) 
Amung padha tinumpuk (bait ke-19)
Diraning durta katut (bait ke-20)
Ninggal pakarti dudu (bait ke-21)
Ngratani saprajagung (bait ke-22) 

3). Setiap suku kata dari nama pengarang dituliskan secara urut, pada suku kata-suku kata yang mengawali setiap baris dalam bait-bait tembang tertentu. Contohnya dalam Serat Tapabrata Marioneng, pada bait tembang Kinanthi, tertulis Ki Martasuwita, sebagai berikut.

Kinanthi sujanma idhup / Mardi mardaweng palupi / tama tumanem mrih bisa / susulange janma nguni / winuruk ing tapa brata / tatane wirid puniki //

4). Setiap suku kata dari nama pengarang dituliskan secara urut, pada suku kata-suku kata yang mengawali baris-baris dan mengawali kata di tengah baris-baris tembang. Contohnya dalam Serat Sandiasma, bait tembang Sinom, berbunyi Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara, sebagai berikut.

Kang kocap Jeng Sri Narendra / Gusti titikaning nagri / patih ngengeras pandriya / rancakan angereh budi / dining para wargaji / tinata arja tan ayun / yayah manggung sulaya / kulina nala tan yukti / gagasira rarasan kang tanpa karya //

5). Setiap suku kata dari nama pengarang dituliskan secara urut, pada suku kata-suku kata yang tersebar di tengah baris-baris pada bait tembang tertentu, baik dalam hubungannya dengan letak jeda pengambilan napas (pedhotan) tembang maupun tidak, terutama pada awal-awal kata atau akhir-akhir kata. Contohnya dalam Serat Wedhayatmaka, bait tembang Dhandhanggula, berbunyi Radyan Ngabehi Ronggawarsita, sebagai berikut.

Tan pantara ngesthi tyas artati / lir winidyan saroseng parasdya / ringa-ringa pangriptane / tan darbe labdeng kawruh / mung ngruruhi wenganing budi / kang mirong ngaruhara / jaga angkara gung / minta luwaring duhkita / haywa kongsi kewran lukiteng kinteki / kang kata ginupita //

6). Setiap suku kata dari nama pengarang dituliskan secara urut, pada suku kata-suku kata yang terdapat dalam satu baris pada tembang tertentu. Misalnya terdapat dalam Serat Kalatidha, pada baris terakhir suatu bait tembang Sinom, berbunyi Ronggawarsita, sebagai berikut.

………… / borong angga suwarga mesi martaya //

7). Nama-nama pengarang di atas dipenggal penulisannya menurut suku kata- suku katanya. Hal ini dikarenakan budaya penulisan yang masih umum pada saat itu adalah dengan huruf Jawa. Huruf Jawa pada dasarnya bersifat sylabic yakni satu huruf pada umumnya melambangkan satu suku kata. Jadi wajar bila sandiasma yang ada dengan cara mengurai tiap-tiap suku katanya. Pada perkembangannya ketika budaya menulis dengan huruf Latin sudah sangat memasyarakat, penggalan nama pengarang dalam sandiasma, sebagian berdasarkan huruf-huruf Latin (satu huruf untuk satu fonem). Contoh sandiasma yang berdasarkan huruf Latin berbunyi Sutrisna murid SGB ing Purworejo, dalam empat bait tembang Pangkur, sebagai berikut (Padmosoekotjo, tt, jld. II: 133).

Sasat mungkur basa Jawa / Umumira pra mudha jaman mangkin / Tan tumanggah ing panggregut / Ras-arasen nggegulang / Ing ajune basa Jawa mamrih luhur / Sedene duk kuna-kuna / Ngumala lir kala nguni // 

Apan mangke wus karasa / Mundurira kasusastran Jawi / Upamane trus kabanjur / Rusak budaya Jawa / Ing besuke sapa kang kelangan iku / Datan liya wong Jawa pyambak / Sayekti keduwung wuri // 

Glagate wus kawistara / Bakal rusak kasusasteran Jawi / Iba getune ing besuk / Nanging yen para mudha / Gelem age nggagahi gumregah nggregut / Padha glis gelem nggegulang / Umum sami mardi yekti // 

Rahayu budaya Jawa / Wus tartamtu terus lulus lestari / Ora mundur mandar luhur / Rusak kena cinegah / Enggih mangga enggal rumagang yen saguh / Jak-ajak ajeg jumaga / Onjone budaya Jawi // 

8). Masih banyak lagi cara penempatan sandiasma, baik yang pemenggalannya berdasarkan suku katanya dalam huruf Jawa maupun berdasarkan huruf Latin. 

Dalam hubungannya dengan pemaknaan karya sastra, tentu saja pengetahuan siapa pengarangnya menjadi sangat penting, khususnya dalam hubungannya dengan sejarah sastra, sosiologi sastra melalui pengarangnya (termasuk pendekatan struktural genetik), dan dari segi pragmatik. 

Genre Sastra Jawa
Dalam sastra Jawa, telah tercatat sejarah yang panjang mengenai penulisan bentuk prosa, yang dimulai dari bahasa Jawa Kuna yakni semenjak adanya sastra Jawa Kuna prosa. Dalam bahasa Jawa Baru tercatat berbagai bentuk gancaran dalam berbagai ragam isi cerita, mulai dari karya-karya historis faktual termasuk laporan kisah perjalanan, historis tradisional (karya-karya babad), hingga karya fiksi murni yang disebut dongeng.

Dalam hal puisi Jawa, juga dimulai dari bahasa Jawa Kuna. Sudah disinggung di atas, bahwa dalam sejarah sastra Jawa dikenal puisi dalam bahasa Jawa Kuna yang disebut kakawin dan dalam bahasa Jawa Pertengahan yang disebut kidung. Adapun yang berbahasa Jawa Baru, terdapat kategori puisi tradisional yang berbentuk tembang dan puisi modern yang disebut geguritan. 

Sedang dalam bentuk drama, jenis drama ini tidak banyak ditulis atau dikupas oleh pakar-pakar sastra Jawa Kuna bahkan juga Sastra Jawa Modern. Agaknya jenis drama yakni teks tertulis atau teks lakon, yang dimaksudkan sebagai pedoman pentas seni drama di panggung, penulisannya belum ditekankan dalam bahasa Jawa Kuna. 

Dalam bahasa Jawa Baru, khususnya drama tradisional seperti wayang, dikenal bentuk pakem (pedoman untuk pementasan), baik pakem jangkep (pedoman pertunjukan lengkap) maupun pakem balungan (petunjuk pembabakan atau pengadegannya saja). Adapun dalam drama Jawa modern sering disebut dengan istilah sandiwara, terutama sandiwara untuk siaran di radio. Tentu saja penulisan bentuk drama radio berbeda dengan drama untuk pentas.

Agaknya tiga jenis inilah (prosa, puisi dan drama) yang secara sederhana dapat dikenali dan tampak berbeda antar masing-masing jenis dalam karya sastra itu. Namun demikian dalam kenyataannya, khususnya dalam sastra Jawa, batasan yang diberikan Luxemburg, dkk. tersebut harus diberi catatan khusus karena adanya bentuk-bentuk yang dasar klasifikasinya ambigu. Misalnya, dalam puisi Jawa tradisional tembang terdapat bentuk-bentuk yang menekankan narasi (puisi naratif), yang merupakan kisah sejarah atau rentetan peristiwa sejarah, yakni misalnya jenis yang dikenal sebagai sastra babad yang, di samping bersifat naratif, kebanyakan ditulis dalam bentuk puisi tradisional tembang, sehingga menjadi ambigu apakah mau diklasifikasikan sebagai puisi atau prosa. Di samping itu, dalam sastra Jawa juga ditemukan bentuk-bentuk puisi tradisional tembang yang di dalamnya menekankan pembagian pembabakan-pembabakan seperti halnya dalam bentuk lakon (drama).

Dalam sastra Jawa Kuna terdapat bentuk prosa, baik yang berbahasa Jawa Kuna maupun bahasa Jawa Pertengahan. Disamping itu juga terdapat dua bentuk puisi, yakni kakawin dan kidung. Kakawin berbahasa Jawa Kuna dengan metrum hasil pengaruh dari metrum-metrum di India, sedangkan kidung bermetrum asli Jawa dan berbahasa Jawa Pertengahan. 

Dalam sastra Jawa Modern tampak pembagian tersebut (prosa, puisi dan drama) banyak diikuti oleh para pengarang. Tidak mengherankan bila banyak bermunculan buku-buku antologi sastra Jawa yang berisi masing-masing jenis tersebut secara terpisah satu dengan jenis lainnya. Misalnya dalam sastra Jawa bermunculan antologi puisi Jawa modern (geguritan), yakni antara lain, Kristal Emas (1994), Mantra Katresnan (2000), Kabar Saka Bendulmrisi (2001), Pagelaran (2003), dsb. Yang berjenis prosa antara lain bermunculan antologi cerkak (cerita pendek Jawa), yakni antara lain Kalimput ing Pedut (1976), Niskala (1993), Bandha Pusaka (2001), dsb. Sedang yang berjenis drama muncul antologi seperti Gapit (1998), Gong (2002), dsb.

Dari segi kebahasaannya, seperti telah disinggung di atas, sastra Jawa dapat dibagi menjadi tiga, yakni sastra Jawa Kuna (kakawin dan prosa Jawa Kuna), sastra Jawa Pertengahan (kidung dan prosa Jawa Pertengahan), dan Sastra Jawa Modern (prosa Jawa modern, dan puisi tembang, geguritan, dsb), serta drama Jawa modern.

Dari segi sarana penuangan idenya atau sarana sosialisasinya, di samping sastra tulis, sastra Jawa juga mengenal bentuk sastra lisan. Pada perkembangannya, banyak sastra tulis yang kemudian berkembang dalam bentuk sastra lisan. Hal ini misalnya, dalam sastra pedalangan yang pada mulanya menggunakan sumber tertulis Mahabharata dan Ramayana, atau buku-buku pakem pedalangan, kemudian dilisankan dalam bentuk pergelaran oleh dalang. Sebaliknya, juga banyak sastra lisan yang kemudian berkembang dalam bentuk sastra tulis. Hal ini misalnya juga terjadi dalam sastra pedalangan yang bermula dari pergelaran wayang lalu ditulis dalam bentuk pakem (tuntunan) atau bentuk yang lain. 

Berdasarkan tema atau isi permasalahannya, sastra Jawa mengenal beberapa jenis, antara lain sastra babad, sastra niti, sastra suluk, sastra wayang, primbon, Menak, Panji, dan sebagainya. Hal ini akan diuraikan lebih lanjut pada bab berikutnya. 

Pendekatan terhadap Karya sastra Jawa
Dri segi latar belakang munculnya karya sastra, suatu karya sastra berhubungan dengan tradisi atau budaya masyarakat yang melatar belakanginya. Dalam hubungannya dengan sejarah kebudayaan, sastra Jawa telah mendapatkan pengaruh dari berbagai kebudayaan asing, yakni kebudayaan Hindu dan Budha, kebudayaan Islam, pengaruh kebudayaan bangsa Barat, hingga jaman kemerdekaan. 

Dalam perkembangannya, sastra Jawa telah melalui kurun waktu yang panjang, yakni setidak-tidaknya, kurun waktu berlakunya bahasa Jawa Kuna, penggunaan bahasa Jawa Pertengahan (Jawa Tengahan), hingga berlakunya bahasa Jawa baru sekarang ini. Oleh karena itu, periodisasi sastra Jawa, secara garis besar dimulai dari sastra Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, yang banyak diwarnai oleh kebudayaan Hindu dan Budha; sastra Jawa jaman Islam yang juga diwarnai oleh kebudayaan Islam; dan sastra Jawa Modern yang diwarnai oleh kebudayaan modern. Tentu saja berbagai pengaruh ini masih dapat ditemukan jejaknya sehingga menjadi ciri khas yang melekat pada jenis-jenis sastra Jawa dan dengan berbagai bentuknya masing-masing. Oleh karena itu keilmuan sejarah sastra, khususnya sejarah sastra Jawa, sangat diharapkan menyumbangkan kontribusinya secara memadahi. 

Dalam hubungannya dengan karya sastra itu sendiri, karya sastra harus dipandang sebagai suatu struktur yang bermakna. Dalam hal ini, meskipun penekanannya pada struktur karya sastra yang cenderung otonom, namun seperti halnya pada pembicaraan teori-teori pada keilmuan lain, ciri-ciri khas yang melekat pada jenis karya sastra Jawa, perlu mendapatkan perhatian tersendiri dalam rangka pembicaraan mengenai unsur-unsur sastra Jawa, baik unsur intrinsik maupun ekstrinsik karya sastra yang bersangkutan. 

Struktur sastra Jawa Kuna kakawin pada umumnya, tentu berbeda eksistensinya dengan struktur sastra Jawa Pertengahan kidung, dan juga berbeda lagi dengan struktur karya sastra Jawa modern geguritan; meskipun ketiganya itu dapat dikategorikan sebagai kelompok puisi. Struktur sastra Jawa Kuna dan Pertengahan yang berkonteks Hinduisme tentu berbeda dengan struktur sastra Jawa Baru Pesisiran yang berkonteks Islami, struktur sastra suluk yang banyak bernuansa Islam-kejawen dan tentu juga berbeda dengan struktur sastra pada jenis-jenis sastra Jawa modern yang telah mengadopsi pengaruh kebudayaan Barat. Dengan demikian kompleksitas keilmuan tentang struktur karya sastra Jawa juga harus dipahami dalam kerangka pemetaan secara menyeluruh, khususnya eksistensi masing-masing karya sastra itu sendiri dan dalam hubungannya dengan pemaknaan struktur yang lebih luas, yakni dalam hubungannya dengan kebudayaan Jawa. 

Dalam hubungannya dengan pengarang dan proses penciptaan karya sastra, berbagai pandangan hidup hingga tata cara kehidupan keseharian pengarang berpengaruh terhadap terciptanya karya sastra, baik disadari atau pun tidak. Pandangan hidup pengarang dianggap sebagai dasar yang menentukan makna karya sastra. Proses penciptaan karya sastra didasari oleh sejarah kehidupan serta visi dan misi pengarang. Hal seperti inilah yang sering memunculkan pandangan bahwa pemaknaan karya sastra dianggap salah karena tidak sesuai dengan apa yang menjadi maksud pengarang. Tentu saja hal seperti ini harus dikaji secara lebih jauh lagi, mengingat kehidupan yang dilalui oleh pengarang yang sering kali sangat dinamis, bahkan jauh berbeda dari waktu ke waktu. Kehidupan pengarang dengan segala pandangan hidupnya yang berlaku pada para kawi tentu sangat berbeda dengan pandangan hidup para pujangga pada masa Kerajaan Islam di Jawa, berbeda lagi dengan pandangan hidup para sastrawan Islami di Pesisiran, apalagi dengan pandangan hidup para pengarang dan sastrawan Jawa modern yang tercermin pada jenis novel Jawa modern, geguritan atau jenis-jenis sastra Jawa gagrag anyar lainnya. Bahkan sesama pengarang sastra Jawa modern, juga harus diperhatikan latar belakang masing-masing. 

Pendekatan dari segi pengarang ini juga mendapat sandungan permasalahan dalam momen-momen kehidupan sastra Jawa. Dalam hal ini, antara lain dengan adanya sejumlah besar karya sastra Jawa yang belum atau tidak akan pernah diketahui lagi siapa pengarangnya, baik dalam sastra tulis, apa lagi dalam bentuk sastra lisan. Kendala dan sandungan lainnya, misalnya ditemukan dalam bentuk tradisi menulis karya sastra yang didasari oleh perintah raja atau pesanan dari pihak-pihak tertentu, yang boleh jadi bersifat menafikan pandangan hidup pengarang. Tekanan politik penguasa tertentu, mungkin akan menyamarkan atau bahkan menghilangkan semua ciri kebanggaan pengarang-pengarang tertentu. 

Namun demikian juga tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan mengungkapkan pandangan hidup pengarang akan sangat menyumbangkan kontribusinya yang berupa berbagai pemikiran yang mendasari pemaknaan karya sastra khususnya, dan pada gilirannya akan menyumbangkan kontribusinya pada keilmuan teori sastra Jawa secara umum. 

Dalam hubungannya dengan sidang pembaca, makna karya sastra dianggap menjadi hak pembaca untuk menafsirkannya. Dalam hal ini pembaca dapat berdiri sebagai pribadi seorang pembaca, namun sekaligus latar belakang sosial budaya kehidupan pembaca dapat berpengaruh terhadap pemaknaan karya sastra. Dengan demikian berbagai pemaknaan karya sastra dapat dianggap sah dan benar adanya, meskipun dari waktu ke waktu pemaknaan itu cenderung berubah-ubah. 

Pada kenyataannya, berbagai nuansa pemaknaan yang berbeda-beda justru akan menambah kemungkinan-kemungkinan obyektifitas dan generalitas nilai-nilai yang terkandung pada suatu karya sastra. 

Pandangan-pandanga kritikus postmodernisme, poststrukturalisme, dekonstruksi dan sebagainya, telah mewarnai wacana-wacana pemaknaan karya sastra secara berbeda, namun sekaligus memperkaya kesadaran adanya nilai-nilai lain dalam suatu karya sastra. Dalam sastra Jawa tradisional, misalnya pada karya sastra fiksi-historis, seperti cerita Pembayun dan Mangir Wanabaya, cerita Minak Jingga dan Kencana Wungu, cerita Rara Mendut dan Tumenggung Wiraguna, dsb. Pernah mendapatkan sorotan yang berbeda dari pemerhati-pemerhati yang dekonstruktif. Mangir Wanabaya yang secara tradisi sering disudutkan keberadaannya sekali waktu mendapat perhatian khusus tentang keberanian dengan kebenaranya. Minak Jingga yang secara tradisi disudutkan sebagai pihak pemberontak, sekali waktu muncul sebagai protagonis yang benar dan berani menagih janji dari Ratu Kencana Wungu. Tumenggung Wiraguna yang secara tradisi disudutkan sebagai tokoh yang bengis, dapat ditampilkan sebagai sosok yang kebapakan dan sekedar mempertahankan prestise dan prestasinya, dsb. Semuanya itu justru dapat menjadi acuan-acuan baru dalam membuka nuansa-nuansa makna karya sastra dari pendekatan pembaca.

Namun demikian dalam hubungannya dengan teori sastra Jawa tentu saja hal itu haruslah dilalui dengan filter-filter obyektif dan mengeliminir pandangan-pandangan subyektif demi mendapatkan teori yang lebih universal, sekaligus menorehkan catatan-catatan spesifik pada karya-karya sastra tertentu, yang pada gilirannya juga dapat menawarkan makna-makna manusiawi dari karya sastra.

Teori sastra Jawa, setidak-tidaknya harus menyangkut keempat ranah teori tersebut di atas, sehingga dapat dikembangkan menuju konsep-konsep yang lebih dalam, lebih spesifik pada klasifikasi tertentu, mulai dari struktur bleger karya sastra hingga pada ranah filosofi sastra. Pada kenyataannya keluasan materi teori sastra Jawa itu menuntut pengalaman jiwa setiap pemerhati sastra Jawa sehingga mampu menjangkau setidaknya teori yang bersifat mendasar dan sekaligus menyeluruh.
Blog, Updated at: 04.37

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts