Pengaruh Pendidikan Budaya Terhadap Seseorang

Pengaruh Pendidikan Budaya Terhadap Seseorang 
Ada beragam pengetahuan yang diberikan oleh alam semesta ini. Salah satunya adalah pengetahuan budaya. Pengetahuan didefinisikan sebagai informasi yang diperoleh seseorang baik melalui pendidikan atau pengamatan akal yang berguna untuk mengarahkan tindakan. Sedangkan budaya adalah hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dari pengertian-pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan budaya adalah upaya manusia untuk mencari tahu apa yang ada dalam diri manusia baik sebagai mahluk sosial ataupun mahluk individu (Faridwajdi, 2010). Pengetahuan budaya dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap karakter, pola pandang dan rasa nasionalisme seseorang.

Setiap manusia memiliki sikap unik yang menjadi ciri orang tersebut, ini dikenal sebagai kepribadian atau karakter seseorang. (Harefa, 2009). Dalam novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis, terdapat banyak tokoh dengan karakter masing-masing. Namun yang akan diangkat sebagai contoh hanya karakter dari tokoh-tokoh utama yaitu Rapiah, Corrie dan Hanafi. Rapiah adalah bunga dari Timur. Walaupun ia sering mendapat perlakuan yang semena-mena dari suaminya tidak pernahlah ia membalas perlakuan itu. Ia selalu menganggap Hanafi lebih tinggi dari dirinya. “Suaminya itu sungguh-sungguh sudah dipandangnya sebagai junjungan.” (Moeis, 90, 2010). Bahkan ketika Hanafi telah menceraikannya, Rapiah tetap tidak menggantikan posisi Hanafi dihatinya dengan orang lain. 

Jelaslah karakter Rapiah yang mencolok adalah kesabaran. Ada juga Corrie, seorang bunga dari Barat. Ia seorang yang ceria, memahami benar kewajibannya sebagai seorang istri dan sangat menghargai suaminya. “Kepada suaminya tak sekali-kali tidak berkekurangan tentang adab dan tertib atau ramah-tamahnya…tak pernah membantah segala kehendaknya.” (Moeis, 193-194, 2010). Meski Hanafi menuduh Corrie berselingkuh, Corrie mengampuni kesalahan suaminya. Rapiah dan Corrie memiliki karakter yang serupa. Tapi coba bandingkan dengan karakter Hanafi, ia seorang yang keras kepala. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya, ia akan melampiaskannya kepada orang-orang terdekatnya. Mudah sekali Hanafi melontarkan tuduhan. 

Misalnya dia menuduh Rapiah sudah menghujah dan memfitnah dirinya kepada nyonya Assisten Residen hingga ia sampai kehilangan sahabatnya, atau ketika Hanafi menuduh Ibunya telah membuat hidupnya menjadi sengsara. “Ibu sendiri mencarikan istri yang serupa itu, yang meracun hatiku sepanjang hari. Yang sudah menceraikan aku dengan kawan-kawanku.” (Moeis, 104, 2010). Hanafi juga menuduh Corrie telah berselingkuh tanpa bukti yang cukup. Apa yang membuat karakter Hanafi sangat berbeda? Hanafi tidak memiliki pengetahuan budaya yang cukup. Sebagai orang Timur ia tidak cukup mengenal budaya negeri asalnya sendiri, karena sejak kecil ia dididik di lingkungan orang Barat, namun ia pun tidak memiliki pengetahuan yang lengkap tentang budaya Barat. “Terasalah oleh Hanafi bahwa pelajaran dan asuhan Baratnya itu seolah-olah hanya menjadi kulit yang tipis.” (Moeis, 304, 2010). Berdasarkan bukti ini, pengetahuan budaya berpengaruh terhadap karakter seseorang. 

Sejak kecil orang tua saya mengajar saya untuk menjadi orang yang sabar, ramah, menghargai orang lain, tidak melampiaskan kemarahan dan tidak melemparkan kesalahan kepada orang lain. Misalnya, ketika adik saya membuat saya kesal, reaksi pertama saya biasanya marah dan kami akan bertengkar mulut selama beberapa waktu. Namun setiap kali itu terjadi orang tua saya menegur kami untuk berhenti melampiaskan kemarahan dan saling berpanjang sabar terhadap yang lain, kami juga diingatkan untuk tidak saling menyalahkan atas peristiwa yang terjadi. Memang tidak mudah untuk menerapkan hal-hal itu. Namun setelah membaca novel Salah Asuhan, saya memahami mengapa orang tua saya mengajarkan hal-hal tersebut. 

Pengetahuan budaya juga berpengaruh terhadap pola pandang seseorang. Dalam novel ini Hanafi yang seorang Bumiputera asli telah melecehkan adat dan budayanya sendiri. “Segala hal-ikhwal yang berhubungan dengan orang Melayu, dicatat dan dicemoohkannya” (Moeis, 29, 2010). Ia bahkan dengan sengaja mengasingkan dirinya dari orang-orang sebangsanya. “…ia hidup tersisih benar dari pergaulan orang Melayu.” (Moeis, 29, 2010). Sikap Hanafi ini berlainan sekali dengan sikap Corrie. Putri dari Tuan du Bussee yang berasal dari Perancis, ibunya adalah seorang perempuan Bumiputera Solok. 

Walaupun Corrie mewarisi golongan bangsa Eropa dari ayahnya, namun ia tidak memandang rendah budaya yang lainnya. Ia sangat menghormati adat dan budaya Hanafi. “…engkau bujang, aku gadis, sesama manusia kita telah menetapkan pelbagai undang-undang yang tidak tersurat, tapi yang harus diturut oleh sekalian manusia dengan tertib, kalau ia hendak hidup aman di dalam pergaulan orang, yang memakai undang-undang itu.” (Moeis, 2, 2010) Seperti kata pepatah, “dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung”, Corrie telah menyesuaikan diri dengan tempat dimana ia tinggal. Apa yang membuat cara berpikir mereka berlawanan? Hanafi hanya sedikit mendapat pendidikan budaya asalnya. Ia lebih banyak mendapatkan pendidikan ala Eropa, walaupun Hanafi memiliki pergaulan yang luas namun ia membatasi pergaulannya hanya dengan orang-orang dari Barat karena baginya adat kebiasaan orang Indonesia tidak berkenan dihatinya. Misalnya sewaktu ia menikah dengan Rapiah, ia menolak untuk memakai pakaian tradisional Minangkabau yang disebutnya pakaian anak komidi stambul, ia menyebut demikian karena bentuk pakaian itu yang tidak sama dengan pakaian Eropa, padahal pastilah pakaian tradisional tersebut memiliki arti tertentu. Pengetahuan Hanafi yang hanya sedikit telah membuatnya merendahkan bangsanya sendiri.

Keluarga saya bukanlah keturunan asli Indonesia, kami termasuk warga negara Indonesia keturunan Cina. Hal ini sangat menguntungkan, karena saya mendapat pengetahuan tentang budaya Indonesia dan Cina. Di rumah saya lebih sering menggunakan budaya dan tradisi Cina, namun saya sangat menghargai budaya Indonesia karena saya juga diajar tentang budaya Indonesia, seperti memberi dan menerima sesuatu harus dengan tangan kanan atau tidak memanggil orang yang lebih tua dengan namanya. Pengetahuan ini membuat saya melihat bahwa Indonesia adalah bangsa yang sopan, dan ini membuat saya bersyukur menjadi orang Indonesia. 

Rasa nasionalisme banyak diartikan sebagai rasa cinta terhadap tanah air. Rasa nasionalisme ini dapat tumbuh dan berkembang dalam diri seseorang jika orang itu sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang budaya bangsanya. Hanafi tidak mempunyai sikap seperti ini, bagaimana ia bisa mencintai tanah airnya sendiri jika ia kurang mengenal budaya bangsanya. Sikap Hanafi bukan hanya terlihat dari kata-katanya yang sering merendahkan bangsa dan kaumnya sendiri, tapi juga terlihat dari tindakannya saat ia mengajukan permohonan persamaan hak dengan bangsa Eropa. “Dengan besluit Pemerintah telah diaku sama hak Hanafi, ‘Commies’ pada Department B.B. dengan hak bangsa Eropa, dengan memakai nama turunan ‘Han,’ dan diizinkan ia buat seterusnya memakai nama ‘Christiaan Han’.” (Moeis, 168, 2010) Dengan mendapat persamaan hak bangsa Eropa, Hanafi berarti tidak lagi menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Tindakan Hanafi ini menunjukkan bahwa ia tidak mencintai bangsanya sendiri, tidak ada rasa nasionalisme di dalam dirinya.

Rasa nasionalisme perlu diperlihatkan jika kita menjadi bagian dari satu bangsa. Sebagai bangsa Indonesia saya perlu memperlihatkan kecintaan saya terhadap Indonesia. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperlihatkan sikap ini, beberapa diantaranya adalah mencintai dan melestarikan budaya Indonesia. Sejak kecil saya belajar beberapa budaya tradisional Indonesia, yaitu tari Bali, beberapa lagu daerah dan mengenakan pakaian adat saat peringatan hari Kartini. Ini membuat saya menyukai budaya tradisional tersebut.

Pengetahuan budaya memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap karakter, pola pandang dan rasa nasionalisme seseorang. Karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh pendidikan budaya yang ia miliki sejak kecil. Pola pandang seseorang terhadap suatu budaya sangat bergantung kepada seberapa banyak pengetahuan yang dimilikinya tentang budaya tersebut. Rasa nasionalisme dapat terlihat dari seberapa besar kecintaan seseorang terhadap budaya bangsa sendiri. Penting sekali memiliki pengetahuan budaya agar dapat menjadi pribadi yang berkarakter luhur dengan cara pandang yang benar terhadap bangsanya sehingga dapat turut mengharumkan bangsanya.

Daftar Pustaka
  • “Kedewasaan karakter, tahap perkembangan karakter yang pasti!” WAPANNURI.COM. 2008. 12 September 2011. <http://wapannuri.com/a.karakter/dewasa.html>
  • Moeis, Abdoel. Salah Asuhan. Jakarta: PT. Balai Puskata (Persero), 2010.
  • Muhhammad Faridwajdi. “Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya.” M.Farid Blog. 10 Nopember 2010. 14 September 2011. <http://muhammadfaridwajdi.blogdetik.com/2010/11/10/teori-kebudayaan-dan-ilmu-pengetahuan-budaya/> 
  • Andrias Harefa. “Pengertian Karakter”. Contoh Pidato. 14 Mei 2009. 16 September 2011. <http://kabarmu.blogspot.com/2009/05/pengertian-karakter.html>
  • Nugroho, Wahyu. 1500 Peribahasa Indonesia dan Inggris. Surabaya: INDAH, Mei 2004.
Blog, Updated at: 21.41

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts