Relevansi Prinsip-prinsip Pendidikan Akhlak dengan Pembinaan Generasi Muda

Relevansi Prinsip-prinsip Pendidikan Akhlak dengan Pembinaan Generasi Muda 
Setelah dikemukakan mengenai prinsi-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut pemikiran Said Nursi, berikut ini adalah bagian analisis terhadap prinsip-prinsip tersebut di atas. Pada bagian ini penulis mencoba untuk menganalisis relevansi prinsip-prinsip pendidikan akhlak tersebut dengan pembinaan generasi muda secara deskriptif-komperatif untuk melihat aspek akidah, pandangan hidup, tujuan hidup, ibadah, tingkah laku, lingkungan dan tahap perkembangan kepribadian generasi muda.

Relevansi dengan Akidah Generasi Muda
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa generasi muda yang dimaksud pada penelitian ini adalah generasi yang berumur 15-40 tahun yang beragama Islam. Walau bagaimana pun, secara fakta aspek akidah generasi belum dapat dipastikan. Apakah aspek keimanan yang mereka pegang benar-benar sesuai dengan hakikat yang diajarkan Islam, sebab banyak di antara mereka yang dapat disebut “Islam Phobia" atau "Islam KTP”. Artinya mereka beragama Islam dan mengaku beriman, namun masih ada yang tidak mau shalat, puasa Ramadhan bahkan zakat masih ditinggalkan. Fenomena seperti ini masih sangat nampak di tengah-tengah masyarakat. 

Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima generasi muda dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.

Hasil penelitian Allport, Gillesphy, dan Young menunjukkan bahwa 85 % generasi muda Katolik Romawi tetap taat menganut ajaran agamanya dan 40 % generasi muda Protestan tetap taat terhadap ajaran agamanya (Jalaluddin 2002, hlm. 74). Dari hasil ini dinyatakan selanjutnya, bahwa agama yang ajarannya bersifat lebih konservatif lebih banyak berpengaruh bagi para generasi muda untuk tetap taat pada ajaran agamanya.

Sebaliknya agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang pengembangan pikiran dan mental para generasi muda sehingga mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pikiran dan mental generasi muda mempengaruhi sikap keagamaan mereka. Karena itu, pemahaman dengan menguatkan keimanan harus senantiasa dilakukan untuk menuju kesempurnaan.

Walau sulit mengukur tingkat keimanan bagi generasi muda, namun kekuatan iman akan sangat nampak dari tingkah laku dan peribadahan yang dilakukan. Namun, Said Nursi sangat menekankan keimanan bagi generasi muda. Tujuan ciptaan yang paling murni dan fitrah manusia yang paling tinggi ialah iman kepada Allah. Jika ditinjau dari aspek pengamalan agama, tawaran-tawaran Said Nursi adalah penguatan keimanan melalui ruh ketauhidan masuk dalam kehidupan manusia sampai ke relung batin. Tauhid adalah dasar utama dalam menyatakan keimanan secara sempurna. Hakekat keimanan secara menyeluruh dapat dipahami melalui rukun iman yaitu ; Rukun iman terdiri dari iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-­Nya, hari kiamat, dan qadha dan qadhar. 

Menurut Said Nursi hakekat keimanan terdapat dalam kalimat La Ilaha Illah yang merupakan mengakui secara totalitas kekuasaan Allah dan untuk membuktikan keimanan mereka dapat dilihat amal dan ibadah mereka sehari-hari. Artinya, sesungguhnya generasi muda yang beragama Islam tentu tergolong kepada generasi muda yang beriman, walaupun tidak dapat diketahui secara pasti bagaimana tingkat keimanan mereka, sebab keimanan tidak bisa dilihat dan menyangkut soal hati. Keimanan generasi muda jika didasarkan dengan prinsip ajaran Islam adalah tidak cukup dengan pembenaran hati dan pengakuan dengan kata-kata, tetapi diikuti oleh amal perbuatan. 

Pembentukan nilai keimanan inilah yang diusahakan oleh Nabi Muhammad Saw, yang selama 13 tahun di kota Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Iman yang tidak pernah dipisahkan dari pasangannya, yaitu amal shalih (ibadah, mu'amalah, mu'asyarah dan akhlaq). Berkenaan dengan iman, sebagaimana firman Allah SWT dalam (QS.Ibrahim/14:24-25) : Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang kelangit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musimdengaseizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (Alquran dan Terjemahannya 1990, hlm. 383-384).

Dalam Alquran dan Terjemahannya yang diterbitkan oleh Kerajaan Arab Saudi dinjelaskan bahwa, yang dimaksud dengan kalimat yang baik adalah kalimat tauhid (kalimat iman), yaitu segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemunkaran serta berbuat yang baik. Yang dimaksud kalimat tauhid adalah kalimat "Laa ilaa ha ill-Allah" (Alquran dan Terjemahannya 1990, hlm. 383-384). Buah dari sebatang pohon yang akarnya kuat adalah perumpamaan terhadap akhlak mulia. Akhlak adalah sebagai buah atau hasil dari suatu proses pendidikan yang didasari oleh penanaman nilai keimanan. Keimananlah yang menjadi fondasi dasar terwujudnya akhlaq al-karimah. Akhlak mulia membentuk generasi yang kuat iman dan menjadi insane saleh sampai bertemu dengan Allah Swt.

Insan shaleh adalah manusia yang mendekati kesempurnaan. Yang dimaksud pembentukan insan yang shaleh dan beriman kepada Allah tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah kepada-Ku (Q.S.51:56) manusia yang penuh keimanan dan takwa, berhubung dengan Allah memelihara dan menghadap keada-Nya dalam segala perbuatan yang dikerjakan dan segalah tingkah laku yang dilakukannya, segala pikiran yang tergores dihatinya dan segala perasaan yang berdetak dijantungnya ia adalah manusia yang mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad Saw dalam pikiran dan perbuatannya.

Insan shaleh beriman dengan mendalam bahwa ia adalah khalifah di bumi (Q.S.2:30). Ia mempunyai risalah ketuhanan yang harus dilaksanakannya, oleh sebab itu selalu menuju kesempurnaan akhlak yang mulia, sebab Rasulullah SAW. diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Di antara akhlak insan yang shaleh dalam Islam adalah harga diri, prikemanusiaan, kesucian, kasih sayang, kecintaan, kekuatan jasmani dan rohani, menguasai diri, dinamisme dan tanggung jawab. Ia memerintahkan yang makruf dan melarang yang munkar. Ia juga bersifat benar, jujur ikhlas memiliki rasa keindahan dan memiliki keseimbangan dan berperilaku seperti Nabi Muhammad Saw. 

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip keimanan yang ditanamkan Said Nursi dalam dirinya dan murid-muridnya sangat relevan untuk selalu direalisasikan oleh generasi muda yang beriman, walaupun tidak diketahui secara tepat tingkat keimanan generasi muda tersebut. Namun, diyakini bahwa dengan senantiasa menguatkan keimanan akan tercapai keinginan menjadi insane shaleh.

Relevansi dengan Pandangan Hidup Generasi Muda
Kemunduran dan kelemahan umat Islam dalam bidang ekonomi dan politik, khususnya ketika berada di bawah kekuasaan kolonial Barat pada abad ke-18, telah merangsang para elite politik Muslim untuk menyuarakan pentingnya perubahan-perubahan internal dalam upaya memperkecil jurang pemisah antara umat Islam dan orang-oraug Barat. Perkembangan dunia modern Barat telah menyumbangkan banyak sekali landasan yang menjadi dasar pendidikan. Khususnya terjadi perubahan besar dalam pandangan dan pemahaman keagamaan umat yang semakin lama semakin bingung dan lemah. (Wan Daud, 2003 hlm. 7). Dalam konteks umat secara luas, generasi muda berada di tengah-tengah arus perubahan tersebut yang tidak dapat dibantah keberadaan. 

Untuk ukuran generasi muda dari 15-40 tahun sudah dalam mengenal apa itu pandangan hidup. Generasi muda memiliki pandangan hidup yang jauh dari nilai-nilai keagamaan, bahkan prinsip-prinsip mulia ditinggalkan. Pengaruh arus globalisasi dan maraknya pandangan dunia yang mampu merubah perilaku generasi muda patut menjadi perhatian bersama. Pandangan hidup dalam konteks ini adalah pandangan Barat yang merusak generasi muda muslim. Dalam kajian filsafat di antara pandangan hidup tersebut adalah sekulerisme, materialisme, komunisme dan ateisme. Said Nursi secara nyata-nyata menentang semua pandangan dunia yang membawa generasi muda berada di posisi yang tidak jelas menentukan arah hidup

Pertama, Pandangan Sekulerisme. Dalam berbagai perdebatan persoalan sekulerisme senantiasa menjadi topik penting dalam diskusi dunia saat ini. Menurut Mulyadi sekuler adalah lawan dari sakral. Kata sekuler dari bahasa Latin "sculum" berarti “bersifat duniawi (worldly)” sebagai lawan dari "spiritual" atau "relegius". Sekuler yakni pandangan yang hanya mementingkan kehidupan duniawi dan mengabaikan yang ukhrawi dan dari sudut ontologis mementingkan yang bersifat materiil, mengabaikan yang spiritual. (Mulyadhi 2004, hlm. 120). 

Kedua, Materialisme. Pandangan materialisme klasik sampai perkembangan pengetahuan di abad ke-18 menurut Sadulloh mengutip Power (1982) terdapat implikasi pendidikan positivisme behaviorisme yang bersumber pada filsafat materalialisme yang mengarahkan pandangan ini kepada tujuan pendidikan yakni "perubahan perilaku, mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya, untuk bertanggung jawab hidup sosial dan pribadi yang kompleks" (Sadulloh, 2003, hlm. 118). Pendapat ini berarti bahwa titik tekan pandangan ini berada pada manusia dengan kapasitas pribadinya yang kompleks yang dapat merubah sikap dan penlaku seseorang.

Ketiga, Komunisme dan Ateisme. Hasil dari pandangan sekulerisme dan matenalisme berimplikasi kepada pandangan hidup yang mengarah komunisme dan ateisme. Kata Komunisme secara historis sering digunakan untuk menggambarkan sistem ­sistem sosial di mana barang-barang dimiliki secara bersama-sama dan didistribusikan untuk kepentingan bersama sesuai dengan kebutuhan masing-unasing anggota masyarakat. Produksi dan konsumsi bersama berdasarkan kapasitas ini merupakan hal pokok dalam mendefinisikan paham komunis, sesuai dengan motto mereka : from each according to his abilities to each according to his needs (dari setiap orang sesuai dengan kemampuan, untuk setiap orang sesuai dengan kebutuhan).

Pandangan dasar manusia sebagai makhluk yang berkerja menjiwa dalam masyarakat komunis (Adelbert Snijders 2004, h1m. 77). Dalam aplikasinya sistem perekonomian komunis didasarkan atas "sistem perintah", di mana segala sesuatunya serba dikomandoi. Harus diakui bahwa komunisme adalah bentuk paling ekstrem dari sosialisme. Begitu juga karena dalam sistem komunisme negara merupakan penguasa mutlak, perekonomian komunis sering juga, disebut sebagai "sistem ekonomi totaliter" atau "sistem sosialis ekstrem", menunjuk pada suatu kondisi sosial di mana pemerintah main paksa dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya, meskipun dipercayakan pads asosiasi-asosiasi dalam sistem sosial kemasyarakatan yang ada. Sistem ekonomi totaliter dalam praktiknya berubah menjadi sistem otoriter, dimana sumber-­sumber ekonomi dikuasai oleh segelintir elite yang disebut sebagai polit biro yang terdiri dari elite-elite penguasa partai komunis. Sampai disini kekuatan komunisme berada pada asosiasi-asosiasi dan lembaga-lembaga yang dipercaya, namun disini justru letak pangkal paradoks ekonomi komunisme. Pada titik yang lain masyarakat komunis berubah menjadi ateis, sehingga hakekat makhluk hidup dimaknai kebebasan yang sebebas-bebasnya untuk bekerja dan bekerja.

Harus diakui bahwa pandangan sekulerisme ini sangat bertentangan dengan prinsip Islam yang senantiasa menyeimbangkan antara urusan dunia dan urusan akherat. Sebagai makhluk duniawi, Said Nursi mengajak generasi muda mengesakan Allah Swt. Namun sebaliknya pandangan sekuler Barat yang bercorak rasionalistik-positivistik indrawi menempatkan manusia hanya sebagai makhluk fisik-kimia yang tidak peduli nilai-nilai spiritual. Pandangan ini menyingkirkan Tuhan sebagai Pencipta. Seluruh proses alam dipandang “hanya kebetulan, tak ada campur tangan Tuhan”. Dalam bangunan filsafatnya, Decrates menekankan akal itu sebagai sumber ilmu pengetahuan dan menjadikannya sebagai tujuan akhir. Segala hal yang bersifat abstrak dan tidak dapat dipikirkan secara logika bukanlah ilmu pengetahuan.

Dari penjelasan di atas dapat diambil pemahaman bahwa yang dijadikan landasan bagi dunia pendidikan modern adalah filsafat yang mengarahkan kepada pandangan materialisme. Kecenderungan ini menipakan akibat dari mengagungkan akal sebagai landasan berpikir.

Dapatlah ditegaskan bahwa keempat aliran pemikiran filsafat dan landasan di atas yang berkembang menjadi pemikiran ekonomi ini berangkat dari kepentingan (internst) dan mengabaikan etika, itulah kuncinya. Baik sekulerisme, materialisme, komunisme maupun ateisme pada titik kebutuhan hakiki manusia sebenarnyalah dapat dikatakan "gagal" karena tidak mencapai tujuan hakiki perlunya manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Kegagalan keempat aliran sebagai landasan pendidikan dan kehidupan tersebut terbukti dari manusia modem yang mengalami dilema hidup yang sangat memprihatinkan. Marxisme yang telah mencengkram Uni Sovyet kemudian hancur berantakan. Bukan hanya teori perjuangan kelasnya yang gagal, tetapi komunisme yang antiagama itu telah menyebabkan sebagian besar rakyatnya tidak bahagia.

Sedangkan cita-cita dari pandangan hidup Said Nursi dalam konteks pendidikan akhlak adalah manusia ideal dalam sebagaimana Risale-i Nur adalah manusia yang dekat dengan Allah dan berperilaku seperti Nabi Muhammad. Tentu saja memiliki pandangan hidup yang jelas yakni mengesakan Allah, melalui asma' al-husna. Asma’ al-Husna yang terbuka di semesta alam ini adalah bukti nyata kebesaran Allah Swt. Kunci keluar dari dunia yang semakian materialistik ini adalah dengan cara iman dan mengamati asma Allah yang terbentang di alam semesta ini, dan lebih khusus lagi menanamkan keimanan kepada hari akhir. Atau istilah yang sering digunakan Said Nursi adalah “Hizmetul iman wa al-Quran”, menurutnya sekarang ini adalah akhir zaman dan menyadarkan umat dari paham duniawi ke ukhrawi. 

Prinsip menguatkan keimanan diperlukan bagi generasi muda untuk melawan pandangan-pandangan hidup yang dapat merusak akidah generasi muda. Said Nursi meyakinkan generasi muda dengan mengatakan : "Zat yang menggenggam kendali semua unsur di alam ini pastilah juga memegang kendali semua unsurnya" (Said Nursi 2003a, hlm. 635). Generasi muda harus yakin bahwa kendali dalam kehidupan ini diciptakan Sang Pencipta yaitu Allah Swt dan sekaligus memegang secara penuh kendali kehidupan ini. 

Relevansi dengan Tujuan Hidup Generasi Muda
Salah satu ciri generasi muda adalah perubahan sikap serta sifat mengarah kedewasaan (Sudarsono 1993, hlm. 12-13). Generasi muda seperti ini mengalami perubahan dalam berusaha memahami kehidupan, terutama tujuan kehidupan. Jika dikaji dalam konteks kekinian, maka saat ini adalah masa di mana manusia telah memasuki era global atau milenium ketiga. Suatu zaman yang ditandai oleh era informasi yang merupakan revolusi teknologi yang menimbulkan revolusi ekonomi, gaya hidup, pola pikir dan sistem rujukan. Pengalaman sekarang menunjukkan bahwa arus informasi global hampir seluruhnya tidak seimbang. Lebih banyak informasi yang datang dari budaya Barat ke dalam budaya Islam daripada sebaliknya. Keadaan ini menimbulkan dominasi kultural yang tidak seimbang (Nata 2001, hlm.144-145) dan berdampak buruk bagi nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan dalam Islam. Generasi muda pun sudah ikut-ikutan mengadopsi pola kehidupan yang datang dari Barat tersebut.

Kehadiran milenium ketiga yang ciri-cirinya disebutkan di atas, pada akhirnya akan menjadi tantangan yang serius bagi dunia pendidikan khusunya pendidikan akhlak. Tantangan tersebut antara lain, mampukah pendidikan akhlak menjadi pemeran utamanya tidak hanya memberikan pengetahuan agama yang hanya memenuhi aspek kognitif belaka, tetapi juga dalam aspek afektif yang mampu menanamkan nilai-nilai keimanan kedalam hati peserta didik yang pada akhirnya dalam aspek psikomotorik yang dapat diaktualisasikan kedalam bentuk amal-amal shalih dan akhlak yang mulia?. Mengapa tidak mungkin, Nabi Muhammad Saw dalam waktu hanya 23 tahun, atas pertolongan Allah telah dapat merubah seluruh tatanan kehidupan bangsa Arab Jahiliyah menjadi Bangsa yang beriman dan berakhlak mulia.

Ternyata di tengah situasi sebagaimana di atas, prinsip pentingnya memahami hakekat hidup ini sangat berperan bagi generasi yang sedang menuju kedewasaan. Said Nursi mengarahkan tujuan seorang manusia itu kepada terciptanya manusia yang beriman dan memahami makna kehidupan yang seimbang. Seirama dengan itu tujuan yang mendasar dari pendidikan Islam mulai dari turunnya Islam itu sendiri hingga saat ini bahkan sampai akhir zaman tetap tidak berubah, yakni untuk menjadikan manusia seorang yang berakhlak mulia. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw pernah bersabda yang mafhumnya: "Sesungguhnya aku ini diutus hanya untuk menjadikan manusia berakhlak mulia" (HR. Al-Bazzaar).

Pada saat ini bangsa kita telah mengalami kemerosotan dan kemunduran dalam segala aspek kehidupan. Untuk meyelesaikan persoalan tersebut adalah upaya bagaimana untuk menanamkan keimanan dan ketaatan yang sempurna kepada Allah Swt. Upaya untuk menanamkan hakikat keimanan dan memang teguh al-Qur'an serta memahami hakekat penciptaan manusia.

Relevansi dengan Ibadah Generasi Muda
Menurut Halem Lubis, dkk., generasi muda memiliki ciri-ciri yaitu di samping mengalami keadaan yang tidak menentu di masa generasi muda, memasuki usia dewasa ia sudah dapat bertanggung jawab dalam segala tindakan dan perbuatannya (Halem 2001, hlm. 149-150). Berdasarkan pendapat ini secara agama orang yang sudah dapat bertanggung jawab dalam segala tindaknya berarti sudah balig, kebutuhan nilai spiritual juga meningkat. 

Menurut Thomas sebagaimana dikutip Jalaluddin dan Ramayulis bahwa kebutuhan terhadap agama dimungkinkan karena adanya empat kebutuhan manusia, yaitu : adanya keinginan untuk mendapatkan perlindungan (security), keinginan untuk mendapatkan pengalam baru, (new experience), keinginan untuk mendapatkan tanggapan (respons) dan keinginan untuk dikenal (recognation). Melalui pengalaman-pengalaman yang diterimanya dari lingkungan itu kemudian terbentuklah rasa keagamaan (Jalaluddin dan Ramanulis 1998, hlm. 32-33).

Baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat generasi muda muslim diharuskan untuk senantiasa menjaga hubungan yang baik dengan Allah Swt. Hubungan yang baik menjadi kunci utama bagi pembentukan kepribadian muslim di tengah-tengah menjalankan ibdah kepada Allah. Nilai-nilai Islam yang diterapkan dalam hubungan itu mencakup:
  1. Senantiasa beriman kepada Allah;
  2. Bertaqwa kepada-Nya;
  3. Menyatakan syukur atas segala nikmat Allah;
  4. Tak berputus asa dalam mengharap rahmat-Nya;
  5. Berdoa kepada Allah, menyucikan diri;
  6. Mengagungkan-Nya serta senantiasa mengingat-Nya;
  7. Menggantungkan niat atas segala perbuatan kepada-Nya (Jalaluddin dan Ramanulis 1998, hlm. 187).
Pada intinya ketujuh point di atas ingin menegaskan bahwa sejalan dengan prinsip keimanan, berpegang teguh pada al-Qur'an, memahami hakekat penciptaan manusia dengan senantiasa meneladani Nabi Muhammad Saw. Pembentukan kepribadian muslim sebagai individu, keluarga, masyarakat, maupun masyarakat pada hakikatnya berjalan seiring dan menuju ke tujuan yang sama. Tujuan utamanya adalah guna merealisasikan diri, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Relevansi dengan Lingkungan Generasi Muda 
Kepribadian secara utuh hanya mungkin dibentuk melalui pengaruh lingkungan, khususnya pendidikan. Adapun sasaran yang dituju dalam pembentukan kepribadian ini adalah kepribadian yang memiliki akhlak mulia. Tingkat kemuliaan akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan. Pencapaian tingkat akhlak yang mulia merupakan tujuan pembentukan kepribadian muslim.

Lebih jauh Robert H. Thouless mengklasifikasikan faktor-faktor yang dapat membentuk sikap keagamaan menjadi empat faktor utama, yaitu : pengaruh-pengaruh sosial, berbagai pengalaman, kebutuhan, dan proses pemikiran (Robert 1972, hlm. 43). Pengaruh sosial atau dapat disebut faktor sosial mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap keagamaan di antaranya pendidikan dari orang tua, tradisi-tradisi sosial, dan tekanan-tekanan lingkungan sosial untuk menyesuaikan diri dengan berbagai pendapat dan sikap yang disepakati oleh lingkungan itu.

Faktor pengalaman merupakan suatu faktor yang diakui dapat membantu tumbuhnya sikap keagamaan, baik pengalaman yang berkaitan dengan tatanan alami atau moral maupun pengalaman batin emosional. Pengalaman alami atau moral misalnya mengenai keindahan, keselarasan, dan kebaikan dari faktor alam, dan konflik moral. Sementara pengalaman emosional berhubungan dengan pengalaman mistik emosional keagamaan atau faktor afektif.

Ekologi diartikan sebagai lingkungan yakni sebagai segala sesuatu yang ads di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan maupun bends tak bemyawa. Terkait dengan lingkungan Islam melarang tegas umat manusia melakukan kerusakan di bumf, baik kerusakan lingkungan maupun kerusakan diri sendiri (Ali Anwar dkk 2005, h1m. 128). Akan tetapi seperti yang pernah disinggung bahwa pembentukan kepribadian jugs terkait dengan lingkungan pendidikan, yang berarti tidak dapat dilakukan secara sendiri tetapi hares bersama atas dasar saling tolong menolong. Karena itu, kondisi sedemikian ini akan tercipta situasi saling mencintai. Dimana setiap pribadi merasakan bahwa kesempurnaan diri akan terwujud karena kesempurnaan yang lainnya. Jika tidak maka tidak tedadl kesempumaan dalam diri seseorang. Setiap individu menempati posisi sebagai salah sate anggota dari seluruh anggota badan.

Faktor lingkungan ini mencakup tiga aspek penting yang tarot pula mempengaruhi terbentuknya akhlak mulia. Pertama, aspek hubungan keluarga. Lingkungan pendidikan Yang biasanya dikenal adalah lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Said Nursi memang tidak secara khusus membicarakan ini, namun pada prinsipnya aspek ini termasuk dalam prinsipnya dalam membina diri meneladani Nabi Muhammad.

Kedua, aspek hubungan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial bahwa manusia di alam ini memerlukan kondisi yang balk dari luar dirinya. Sebaik-baiknya orang adalah orang yang berbuat baik dari saudara atau anak, kerabat, keturunan, rekanan, tetangga dan teman. Salah satu tabiat manusia adalah memelihara diri sendiri.

Ketiga, aspek hubungan formal. Hubungan ini sebenarnya memiliki juga pengaruh yang cukup kuat dalam pembentukan akhlak. Karena diakui atau tidak kondisi yang berada di masyarakat sangat dipengaruhi kebijakan politik pemerintah, artinya kondisi yang baik dapat didukung oleh pengambil kebijakan politik negara tersebut. Artinya bahwa situasi lingkungan akan dapat tercipta bilamana situasi politik pemerintah mengizinkan.

Tetapi, ketiga aspek uraian di atas setidak dapat memberikan gambaran bahwa Said Nursi cenderung secara lebih khusus membicarakan lingkungan pendidikan di dershane. Ini pun dianggap sebagai peninggalan yang bersifat tradisional. Kalau lingkungan keluarga dibahas tentu perlu pertimbangan ciri khas yang berkaitan tentang lingkungan tersebut. Keluarga perdesaan dan perkotaan pun sudah berbeda dari cars dan pola kehidupannya. Keluarga orang kaya dengan orang miskin, keluarga yang beranggota sedikit dengan yang banyak dan sebagainya.

Kemudian lingkungan sekolah, tidak disebutkan tapi, penjelasan mengenai hubungan pendidik dan peserta didik sebagai mana di atas setidaknya telah cukup membenkan gambaran untuk itu. Ungkungan masyarakat dikaji oleh Said Nursi secara lugs karena proses politik dan lingkungan social semasa penuligan Risale-i Nur dan berbagai persidangan mendeskripsikan tersendiri dari situasi lingkungan masyarakat.

Secara umum dapat dipahami bahwa lingkungan pendidikan akhlak Said Nursi sangat luas. Said Nursi tidak membatasi tanggung jawab pendidikan akhlak hanya tanggung jawab orang tua dan guru. Kondisi lingkungan terdekat sampai kondisi lingkungan yang paling jauh di dalam strata sosial masyarakat yang menekankan prinsip ketelandanan.

Relevansi dengan Situasi Kejiwaan Generasi Muda
Menurut Kartini Kartono, secara kejiwaan pemuda memiliki ciri-ciri khas, yaitu: belajar berdiri sendiri dalam suasana kebebasan, berusaha melepaskan ikatan-ikatan afektif lama dengan orang tua dan objek-objek cintanya, berusaha membangun hubungan perasaan/afektif yang baru, dan menemukan indentifikasi dengan obyek-obyek baru yang dianggap lebih bernilai atau lebih berarti daripada obyek yang lama. Generasi muda yang terdiri dari golongan orang dewasa yang lazimnya ia telah mencapai umur 21 tahun, dianggap sanggup berdiri sendiri, dan bisa bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas hidupnya (Kartono 1990, hlm.33 dan hlm.184).

Bagi Said Nursi pemuda adalah sebagai penerus generasi di masa depan. Menurut pendapatnya Mahmud Yunus seperti yang dikutip Zainuddin dkk. mengemukakan bahwa :

Tugas yang utama dan terutama yang terpikul atas pundak alim ulama’, guru agama, dan pemimpin Islam adalah mendidik anak-anak, pemuda-pemuda, putra-putri, orang-orang dan masyarakat umumnya supaya semuanya itu berakhlak mulia dan berbudi pekerti yang halus, karena hidup bermasyarakat adalah tolong menolong, berlaku jujur dan peramah, berlaku adil dalam segala hal, berkasih sayang antara satu dengan lainnya…(Zainuddin 2001, hlm. 54)

Kutipan menjelaskan bahwa tugas orang tua, guru agama dan masyarakat dan pendidik lainnya adalah sangat berat karena ditangan merekalah akhlak anak akan dibentuk. Ajaran Islam selalu membimbing dan mengarahkan umat manusia untuk berakhlak mulia karena dengan itulah mereka akan hidup selamat di dunia dan di akhirat. Untuk itu sifat ikhlas, takwa dan sadakah harus terbangun dalam jiwa anak muda. Maka, melalui pembinaan yang mengetahui tingkat kejiwaan bagi generasi muda perlu dilakukan. Karenanya, generasi muda harus aktif di dalam pembentukan akhlaknya.

Menurut Sudarsono, suatu ciri kehidupan generasi muda pada masa awalnya mengalami ketidakstabilan perasaan dan emosi, terutama dalam bersikap dan menentukan masa depan mereka. Berikutnya dalam proses menuju kedewasaan mereka dapat mengatasi masalahnya dengan baik (Sudarsono 1993, hlm. 15). Karena itu, prinsip-prinsip pendidikan akhlak misalnya menguatkan keimanan dan keyakinan terhadap hari kiamat bias merubah situasi kejiwaan yang tidak stabil dan emosional dalam menentukan jalan hidup dan mencapai cita-cita hidup.

Prinsip meneladani nabi Muhammada Saw juga bagian integral yang tidak dapat dipisah-pisah misalnya ; melatih cara makan dan minum yang dapat menyehatkan tubuh, bukan untuk kenikmatan, tetapi tidak terlalu kenyang dan juga tidak terlalu lapar, agak lapar justru akan lebih baik. Cara lain bagi generasi muda tidak membiasakan diri makan dan minum yang memabukkan. Demikian juga dalam hal cara berpakaian juga sangat penting diperhatikan.

Kemudian, para generasi muda diharapkan tidak sombong dan bermegah-megah terhadap kawan­kawannya dengan harus yang dimiliki orang tuanya. Pembicaraan yang kotor supaya dihindarkan. Suka berkata benar, jujur, dan hormat pada orang lain juga ditekankan. Gerak tubuh seperti berjalan, berkendaraan, suka berkata benar, dan lainnya perlu diperhatikan. Diharapkan seorang pemuda dapat menjadi orang yang suci, walau pada masa muda, tidak hanya suci menjelang ajal.

Said Nursi memberikan perhatian utama kepada situasi kejiwaan generasi muda dengan nilai-nilai akidah dan iman bertujuan untuk menyiapkan generasi muda sejak dini ketangguhan mereka untuk memperlemah sumber penyakit jiwa, misalnya marah, takut mati dan kesedihan. Sehingga, ketika pada masanya para generasi muda itu sudah benar-benar siap dalam menghadapai kehidupan yang luas ini.

Relevansi dengan Tahapan Perkembangan Kepribadian Generasi Muda
Dalam tahapan ini generasi muda dirumuskan dalam 2 (dua) tahapan yaitu tahap perkembangan dan tahap pembentukan. Hal ini merujuk dari berbagai perasaan telah berkembang pada masa muda. Perasaan sosial, etis dan estesis mendorong generasi muda untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat kearah hidup yang religius pula. Sebaliknya bagi muda yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual. Masa muda merupakan masa kematangan seksual. Didorong oleh perasaan ingin tahu dan perasaan super, muda lebih mudah terperosok ke arah tindakan seksual negatif.

Pertama, tahap perkembangan sosial. Dalam tahap perkembangan pribadiannya ini generasi muda tergantung dengan situasi sosialnya. Paham keagamaan generasi muda akan ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Generasi muda sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para generasi muda lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis. Hasil penyelidikan Ernest Harms terhadap 1789 generasi muda Amerika antara usia 18 – 29 tahun menunjukkan bahwa 70 % pemikiran generasi muda ditujukan bagi kepentingan: keuangan, kesejahteraan, kebahagiaan, kehormatan diri dan masalah kesenangan pribadi lainnya. Sedangkan masalah akhirat dan keagamaan hanya sekitar 3,6 %, masalah sosial 5,8 %(Jalaluddin 2002, hlm. 75).

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka dalam perkembangan sosial generasi mudah untuk tetap berpegang teguh pada al-Qur'an dan berprinsip menguatkan iman serta meyakini diri akan hari kiamat yang diaplikasikan lewat sikap, tindakan dan perilaku. Sehingga, perkembangan jiwa dalam konteks sosial tidak berpandangan materialis dan asosial tapi justru mendapat dorongan yang mulia untuk mengembangkan jiwa-jiwa sosial dan dapat menjalankan ibadah dengan tenang.

Kedua, tahap perkembangan moral, perkembangan moral para generasi muda bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada para generasi muda juga mencakupi : self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi, Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik, Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama, Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral, dan Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyarakat (Jalaluddin 2002, hlm. 76).

Dalam tahapan-tahapan perkembangan diri manusia, munculnya rasa keagamaan dimulai dari sejak lahir. Masa yang rentan dan pertumbuhan yang kuat dalam hal ini hingga mencapai umur 12 tahun (masa anak-anak). Dalam rentang usia ini keingintahuan anak terhadap agama sangat tinggi. Pertanyaan tentang Tuhan dan hal-hal yang ghaib sangat menarik bagi si anak. Penanaman pengetahuan dan pemahaman tentang agama pada masa ini memegang peranan penting bagi pertumbuhan rasa keagamaannya pada jiwa manusia. Sebaliknya, kegagalan penanaman rasa keagamaan akan membuat kelabilan jiwa dan menumbuhkan sikap yang anti agama.

Pada masa generasi muda berkisar antara umu 13-18 tahun, kebiasaannya berpikir berdasarkan pengalaman-pengalamannya, maka dikhawatirkan pengalaman yang pernah dialaminya bukan bersumber dari sekolahnya, tetapi justeru berasal dari teman-temannya yang rusak akhlaknya. Karena itu, pengawasan pendidikannya tidak hanya sebatas ketika anak berada di sekitarnya, tetapi ia harus tanggap dan teliti terhadap pergaulan anak didiknya ketika bermain dengan temannya di luar jam pelajaran.

Dan perlu diketahui pada masa ini, generasi muda sudah memiliki kamatangan seksual yang bisa saja disalahgunakan bila pendidik kurang teliti mengawasinya. Karena anak tersebut punya cenderungan ingin bebas dari pengawasan pendidiknya. Bahkan lebih aneh lagi, karena sifat keterbukaannya kepada temannya lebih banyak daripada kepada pendidiknya. Padahal kalau ia mendapatkan kesulitan, pendidiklah yang lebih dahulu mengatasinya, bukan orang lain.

Maka perlu mencari cara-cara yang lebih tepat digunakan untuk mendidika anak tersebut, antara lain:
  • Harus mendidiknya agar selalu tekun menjalankan perintah agama
  • Menanamkan kebiasaan yang selalu ingin berbuat baik kepada orang tua, guru, teman-temannya, dan bahkan terhadap makhluk-makhluk lainnya. 
  • Selalu mengawasi pergaulan dengan anak yang buruk akhlaknya, dan mengarahkannya agar bergaul dengan anak yang baik
  • Selalu menasehati bila ia hendak keluar rumah dan mengingatkannya agar selalu berhatihati ketika ia berbuat dan bergaul dengan teman-temannya.
  • Selalu menjaganya agar tidak membaca buku-buku porno dan film-film cabul.
Masa dewasa, dimaksudkan adalah umur 19 tahun ke atas, dimana ia sudah memasuki jenjang pendidikan tinggi. Berarti pada masa ini, anak sudah dapat menghayati pengalaman-pengalaman hidup yang pernah dialaminya sejak kecil hingga dewasa, kemudian ia menemukan arti dan nilai-nilai tertentu yang bermanfaat terhadap pembentukan sikap dan perilaku yang baik baginya.

Sebenarnya mendidik akhlak anak yang sudah dewasa, tidak sulit asalkan jiwanya sudah terisi nilai-nilai keagamaan dan kesusilaan. Hanya yang sulit jika ia tidak pernah tersentuh oleh akhlak sejak ia masih kecil sampai terjerumus ke dalam lembah kerusakan moral.

Cara-cara yang harus dilakukan dalam pendidikan akhlak anak tersebut, antara lain:
  • Pendidik harus memberi keterangan kepadanya tentang tujuan akhlak baik dan kemudhoratan akhlak buruk
  • Harus selalu mengontrol segala tingkah lakunya dan menasehatinya bila ternyata ia melakukan penyelewengan agama atau norma-norma sosial.
  • Pendidik harus mendesak untuk menerapkan pendidikan akhlak (etika) yang pernah di dapatkannya di sekolah maupun di tempat lain. 
Perkembangan sikap keagamaan pada manusia dipengaruhi tiga faktor utama, yaitu faktor hereditas, faktor pembawaan, dan faktor lingkungan (Zakiah 1996, hlm. 35-37) Pertama, faktor hereditas yang berkaitan erat dengan kedua orang tua (ibu-bapak). Karena sifat-sifat atau ciri-ciri yang terdapat pada anak dikatakan keturunan jika hal tersebut diwariskan atau diterima dengan sel benih dari generasi lain (Purwanto, 1997, hlm. 64). Adapun yang diwariskan orang tua kepada anak berbentuk sifat-sifat atau ciri-ciri tertentu pada bentuk fisik, bentuk wajah, gerakan-gerakan tertentu dari bagian tubuh dan juga sebagian kecil sifat emosi. Keemua diterima anak dari sel benih kedua orang tuanya.

Selanjutnya faktor pembawaan adalah seluruh potensi yang terdapat pada individu dan pada masa perkembangannya benar-benar dapat diwujudkan (Mudjakir dan Sutrisno 1997, hlm. 92). Potensi tersebut misalnya, kemampuan berjalan, berbicara, dan lain-lain yang nanti potensi ini memang benar-benar terbukti meskipun tetap tergantung pada pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri. Potensi-potensi di atas merupakan pembawaan bagi setiap anak yang dilahirkan.

Lebih jauh dapat dijelaskan bahwa bagi pendidikan Islam prinsip utama dalam pengembangan sumber daya manusia, pertama peserta didik harus dihadapi secara totalitas unsur-unsurnya. Al-Qur’an tidak memisahkan unsur jasmani dan rohani, tetapi pembinaan jiwa dan pembinaan akal sekaligus tanpa mengabaikan unsur jasmaninya. Karena itu, seringkali ditemukan uraian-uraian yang disajikan dengan argumentasi logis, disertai sentuhan-sentuhan kepada kalbu. Kedua memahami nilai-nilai masyarakat sekitar. Kualitas kreativitas seseorang dalam masyarakat tidak saja tergantung pada hasil pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan tetapi juga oleh nilai-nilai yang dimiliki oleh masyarakatnya (peradaban, Hasan Langgulung red). Jika nilai-nilai tersebut mendukung pengembangan sumber daya manusia, maka kualitasnya akan sangat baik demikian juga sebaliknya (Rohmalina, 2002, hlm.115).

Diharapkan dengan melaksanakan prinsip atau konsep ini, bukan hanya kesucian jiwa yang diperoleh tetapi juga pengetahuan yang merangsang daya cipta, karena daya ini dapat lahir dari penyajian materi secara rasional serta rangsangan pertanyaan melalui diskusi. Dengan demikian peningkatan sumber daya manusia berarti peningkatan pendidikan dan pengetahuan.

Ketiga, tahap pembentukan kepribadian muslim, dengan menanamkan nilai-nilai Islam dalam keluarga dilakukan dengan cara melaksanakan pendidikan akhlak di lingkungan rumah tangga. Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut: Memberikan bimbingan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, memelihara anak dengan kasih saying, memberi tuntunan akhlak kepada keluarga, membiasakan untuk menghargai peraturan-peraturan dalam rumah tangga, membiasakan untuk memenuhi dan kewajiban antara sesama kerabat (Rohmalina, 2002, hlm.115) 

Jadi yang harus ditanamkan di dalam lingkungan keluarga selaku unsur terkecil dari masyarakat adalah dasar-dasar aqidah yang benar dan akhlak mulia. Menanamkan dasar-dasar nilai tersebut dimulai sejak, sehingga ketika dewasa anak menjadi terbiasa. 

Baik sebagai individu maupun sebagi ummah, kaum muslimin diharuskan untuk senantiasa menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT. Hubungan yang baik menjadi kunci utama bagi pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah. Nilai-nilai Islam yang diterapkan dalam hubungan itu mencakup:
  • Senantiasa beriman kepada Allah
  • Bertaqwa kepada-Nya
  1. Menyatakan syukur atas segala nikmat Allah dan tak berputus asa dalam mengharap rahmat-Nya
  2. Berdoa kepada Allah, menyucikan diri, mengagungkan-Nya serta senantiasa mengingat-Nya.
  3. Menggantungkan niat atas segala perbuatan kepada-Nya.
Pembentukan kepribadian muslim sebagai individu, keluarga, masyarakat, mupun ummah pada hakikatnya berjalan seiring dan menuju ke tujuan yang sama. Tujuan utamanya adalah guna merealisasikan diri, baik sebagai individu maupun sebagai ummah untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Pembentukan kepribadian pada dasarnya merupakan upaya untuk mengubah sikap kearah kecenderungan kepada nilai-nilai keislaman. Perubahan sikap, tentunya tidak terjadi secara spontan. Semuanya berjalan dalam proses yang panjang dan berkesimanbungan. Cerminan dari ciri-ciri kepribadian muslim seperti yang dikemukankan tersebut, pada garis besarnya merupakan unsur-unsur yang terkandung dalam komponen pembentukan akhlak yang mulia dari sumber ajaran al-Quran. Berakhlak mulia, memuat pengertian mampu menjalani hubungan yang baik antara hamba dengan Allah (hablumminallah), dan hubungan baik antara sesama manusia (hablumminannas), maupun denga makhluk Tuhan (hablimminal `alam). Hubungan baik inilah merupakan dasar utama bagi pembentukan kepribadian muslim secara individu. Dalam Islam juga mengajarkan faktor genetika (keturunan) ikut berfungsi dalam pembentukan kepribadian muslim. 

Menurut Jalaluddin dan Usman Said bahwa akhlak terhadap Allah meliputi:
  1. Mengabdi kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya
  2. Tunduk dan patuh hanya kepada Allah Swt
  3. Berserah diri kepada ketentuan Allah Swt
  4. Bersyukur hanya kepada Allah Swt
  5. Ikhlas menerima keputusan Allah Swt
  6. Penuh harap kepada Allah Swt
  7. Takut kehilangan rasa patuh kepada Allah Swt
  8. Takut akan siksa Allah Swt
  9. Takut akan kehilangan rahmat Allah Swt
  10. Mohon pertolongan kepada Allah Swt
  11. Cinta dan penuh harap kepada Allah Swt (Jalaluddin dan Usman 1996, hlm. 61-61).
Selanjutnya Jalaluddin dan Usman Said, menambahkan bahwa akhlak kepada sesama manusia, secara garis besarnya meliputi sikap yang baik seperti: Menghormati dan menghargai perasaan kemanusiaan, Memenuhi janji dan pandai berterima kasih, Saling menghargai, dan menghargai status manusia sebagai makhluk Allah yang paling mulia (Jalaluddin dan Usman 1996, hlm. 82). Begitu juga akhlak terhadap lingkungan sekitar kita (alam). Islam mengajarkan kepada setiap muslim untuk menunjukkan sikap yang serasi terhadap lingkungan sekitar. Sikap tersebut meliputi: (1) Memperlakukan binatang dengan baik dan (2) Menjaga dan memelihara kelestarian alam (Jalaluddin dan Usman 1996, hlm.84-85).

Jadi pada dasarnya pembentukan kepribadian muslim merupakan suatu pembentukan kebiasaan yang baik dan serasi dengan nilai-nilai akhlakul karimah. Untuk itu setiap muslim dianjurkan untuk belajar seumur hidup, sejak lahir hingga akhir hayat. Pembentukan kepribadian melalui pendidikan tanpa henti (long life education), sebagai suatu rangkaian upaya menuntut ilmu dan nilai-nilai keislaman, sejak dari buayan hingga ke liang lahat. Pembentukan kepribadian muslim merupakan pembentukan kepribadian yang utuh, menyeluruh, terarah, dan berimbang.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dengan mudah diidentifikasi prinsip yang ada yakni ikhlas, takwa dan sedekah. Dan senantiasa menjalankan sunah Nabi Muhammad dalam rangka membentuk kepribadian muslim yang diharapkan.
Blog, Updated at: 04.04

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts