Sosok Karya Sastra Esai Tentang Kodrat Dan Kondisi Keberadaan Karya Sastra

Sosok Karya Sastra Esai Tentang Kodrat Dan Kondisi Keberadaan Karya Sastra 
Menurut Hardiana dan Abrams, karya sastra lahir sejak 2500 tahun yang lalu. Kesimpulan ini ditarik dari sumber tertulis yang berhasil didapat. Setelah itu, Plato beranggapan bahwa seni adalah tiruan dari dunia penampakan, dan dunia penampakan itu merupakan tiruan dari dunia hakiki. Dengan demikian, menurut Plato, seni memiliki status yang lebih rendah dari pada duni penampakan yang ditirunya.

Usaha pemahaman terhadap karya sastra terus berlangsung dan berkembang. Perkembangan mengenai karya sastra sebenarnya telah membuahkan berbagai macam teori dan praktek kritik sastra. Menurut Abrams, perkembangan pemahaman kritik sastra berkisar pada empat elemen yaitu karya sastra (work), seniman (artist), semesta (universe), dan pembaca (audience).

Dalam perkembangan selanjutnya, kemunculan teori-teori sastra berikutnya menganggap bahwa teori-teori terdahulu sebagai teori-teori yang tidak konsisten, kacau, dan produk mimpi belaka. Keberagaman teori ini sebenarnya dapat memperkeya dunia kesusastraan. Hal ini menujukkan bahwa teori sastra mampu berkembang ke arah usaha pemahaman yang sebaik-baiknya dan setepat-tepatnya mengenai karya sastra.

Perdebatan mengenai karya sastra di Indonesia yang semula diselenggarakan dalam sebuah diskusi formal yang kemudian berkembang menjadi polemi tersebut pada akhirnya tidak membuahkan hasil berupa kesepakatan. Setelah itu barulah muncul perdebatan yang bersifat kontekstual pada tahun 1984 yang tercantum dalam Perdebatan Sastra Kontekstual. Meskipun perdebatan ini tidak lagi bersumber pada masalah teori dan metode ilmu pengetahuan, perdebatan ini mengarah pada perbedaan faham. 

Keberagaman faham dan teori mampu mengajak akademisi sastra Indonesia untuk dapat melihat dan memperhatikan kembali hakikat keberadaan sastra. Pemahaman dalam hal ini penting karena melalui pemahaman ini dapat ditemukan jawaban mengnai keanekaragaman faham dan teori mengenai karya sastra.

Ilmu dan Ilmuwan
Dalam ragam ilmu pengtahuan, terdapat berbagai perbedaan sesuai dengan koderat dan hakikat objek pengetahuan masing-masing. Menurut Suriasumantri, ilmu merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang membdakannya dari pengetahuan-engetahuan yang lain. kekhasan ini meliputi ontologis dan epistemologis.

Objek ilmu merupakan seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji dengan panca indera manusia. Objek ilmu harus bersifat material dan harus mempunyai ciri-ciri tertentu yang lain seperti memiliki keserupaan satu sama lain, relatif tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu, mempunyai pola-pola tertentu yang tegap dengan urutan-urutan kejadian yang sama.

Usaha pemahaman objek ilmu harus dilakukan dengan metode empirik, yaitu dengan cara mendapatkan pengetahuan dengan dasar pengalaman indrawi. Metode empirik bukanlah cara yang sepenhnya memenuhi syarat bagi pencapaian pengetahuan ilmiah. Objek ilmu tidak pernah sederhana, melainkan rumit dan mengandung beratus aspek, segi, dan pertalian-pertalian. Dalam membuat sekumpulan fakta menjadi bertautan secara koheren dan logis, rasio tidak dapat dibuat secara sembarangan. Rasio harus diuji secara empirik sehingga kebenaran dapat dipastikan.

Hal itu merupakan ciri-ciri yang umum dari ilmu. Ciri-ciri khusus berlaku pada ilmu-ilmu tertentu baik ilmu alamn, sosial, dan humaniora. Dilthey membedakan dunia yang menjadi objek ilmu menjadi dua, yaitu alam, dan dunia manusia. Sedangkan Harbernas, menambahkan tindakan sebagai salah satu objek ilmu pada pembagian yang dilakukan Dilthey. Pendapat-pendapat itu menunjukkan bahwa objek ilmu dapat berupa sesuatu yang fisik dan dapat berupa yang non fisik. Kesimpulan ini tampaknya menyimpang dari ciri ilmu pada umumnya.

Objek fisik tidak memiliki aspek nonfisik sehingga keberadaannya bersifat dari fisik ke fisik, dari unsur fisik yang satu ke unsur fisik yang lain. dalam teori ilmu pengtahuan, pengertian objek kadang-kadang dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu objek forma dan objek materia. Objek materia merupakan lapangan penyelidikan sedangkan objek forma merupakan sudut yang diambil dalam usaha pemahaman objek materia itu.

Perbedaan objek forma dari masing-masing ilmu itu menurut cara atau metode untuk mendapatkan pengetahuan mengenai hal tersebut. Metode ilmu yang berusaha untuk memahami hubungan antara aspek luar dengan aspek dalam dari fakta manusiawi oleh Dilthey disebut metode verstehen/interpretation. Memahami berarti berusaha mengetahui ekspresi-ekspresi dari dari perspektif pikiran subjek yang dipikirannya yang kemudian diwujudkan dalam ekspresi-ekspresi itu.

Sesuai dengan objeknya, ilmu dapat diperoleh dengan cara empirik dan rasional. Ilmuan merupakan subjek dari pengetahuan, sehingga harus mempu menempuh kedua cara itu. kemampuan ini dapat dimiliki apabila ilmuan mempunyai panca indera dan rasio yang normal. Setiap objek menuntut kemampaun indera yang berbeda-beda. Kasdang yang dituntut hanya indra yang biasa saja, tetapi kadang yang dituntut adalah kemampuan indra yang lebih khusus misalnya tidak buta warna. Objek ilmu sastra setidaknya menurut indra pendengaran dan penglihatan untuk indra yang dibutuhkan oleh objek yang berupa sastra lisan, sedangkan yang kedua untuk sastra tertulis.

Kondisi Keberadaan Karya Sastra
Mengenai kondisi keberadaan karya sastra sebagai fakta kemanusiaan yang bersifa semiotik sangat perlu untuk diperhatikan karena sebagai fakta kemanusiaan, karya sastra merupakan ekspresi dari kebutuhan tertentu manuisa sedangkan fakta semiotik karya mempunyai suatu ciri yang khas dan perlu untuk diketahui.

Karya sastra sebagai fakta semiotik, mempunyai eksistensi ganda, yaitu sekaligus berada dalam dunia inderawi dan dunia kesadaran. Aspek keberadaannya yang pertama dapat ditangkap oleh indera manusia, sedangkan keberadaannya yang kedua tidak dapat dialami oleh indera. Aspek empirik karya sastra melihat karya sastra didengar lewat aspek tulisan atau bunyi. Tulisan atau bunyi itu tidak berubah dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat diuji oleh orang lain pada kesempatan tertentu yang lain. aspek tersebut memiliki pola tertentu yang relatif dapat diramalkan dan di klasifikasika. 

Aspek non empirik karya sastra adalah makna. Pada umumnya, yang dipandang sebagai fokus makna adalah kesdaran manusia. Meskipun demikian, karena tidak dapat atau sukar didekati, terdapat berbagai macam pendapat mengenai sifat kesadaran itu. ada yang menganggapnya terletak dalam kesadaran individu pengarang, dan ada pula yang menganggapnya terletak dalam kesadaran kolektif.

Kecenderungan yang menempatkan makna pada kesadaran individual merupakan kecenderungan yang tidak terelakkan sebab hanya individu pengarang erhubungan langsung dengan karyanya. Sedangkan menurut kesadaran kolektif, makna terletak pada pikiran objektif yang merupakan suatu sistem lewatnya anggota-anggota masyarakat yang saling berinteraksi. Pikiran objektif ini mengandung unsur-unsur yang cukup banyak seperti bahasa, asat istiadat, kebiasaan, dan gaya hidup dalam masyarakat tertentu dan pada waktu tertentu termasuk ke dalam pikiran objektif itu. 

Menurut kesdaran kolektif kebahasaan, makna tetap memegang peranan yang penting sebagai dasar untuk menentukan varian dan invarian. Dalam tingkat kalimat, bahasa mengenal sistem urutan yang menentukan komunikatif atau tidaknya sebuah tuturan. Akan tetapi tidak hanya ditentukan oleh aspek bunyi yang menjadi aspek empirisnya.

Dalam hal kesdaran kolektif kebudayaan, sistem semiotik dianggap sebagai suatu sistem yang yang diluar sistem bahasa dan sastra. Hal ini dapat berkaitan dengan pola perilaku tertentu dan sebagai sebuah sistem semiotik, kebudayaan dipandang mempunyai aspek ekspresi yang fisik dan yang makna.

Dalam kesadaran kolektif kesusastraan, Barthes (1975) tidak hanya mengakui eksistensi kesadaran kolektif kebudayaan, melainkan juga kesusastraan. Kode-kode Narthes yang dapat dimasukkan ke dalam kesadaran kolektif kesusastraan adalah kode hermeneutik dan simbolik. Yang pertama berkaitan dengan pembentukan masalah/pertanyaan, perumusan, dan pemecahan masalahnya. Seluruh tahap-tahap itu akan membentuk makna-maknanya sendiri pada karya sastra yang bersngakutan. Yang kedua berkaitan dengan masalah kesatuan dalam kompleksitas. Pada kesdaran itu, bertempat multivalensi dan revelsebilitas makna yang dibentuk oleh berbagai sudut pandang.

Eksistensi kesadaran kesusastraan juga juga diakui oleh Hirsch (1979). Genre intrinsik merupakan sistem harapan-harapan yang sama, konsepsi generik yang terbagi, yang membentuk makna dan pemahaman karya sastra. Genre intrinsik dianggap sebagai suatu yang terbagi antara pengarang dan pembaca, yang merupakan suatu tipe makna. Uraian diatas menunjukkan bahwa karya sastra mempunyai aspek material/empirik dan noempirik. Aspek nonempirik hanya sastra itu terdiri dari kesadaran individual dan kesadaran kolektif. Kesadaran kolektif itu sendiri dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu kesadaran kebahasaan, kebudayaan, dan kesusastraan. 

Aspek empirik memiliki tingkat generalitas yang tinggi sebab bersifat objektif sehingga dapat diuji oleh semua orang tanpa mempedulikan latar belakang sosial, budaya, dan pengetahuannya. Dibawah aspek empirik itu, tersusun secara berturut-turut bahasa, budaya dan sastra. Aspek itu mempunyai generalitas yang lebih rendah sebab bersifat intersubjektif.

Tingkat generalitas bahasa dinanggap lebih tinggi dari tingkat generalitas sebab hal itu mempunyai tingkat kelembagaan yang tinggi. Bahasa dipelajari oleh manusia sejak usia yang amat muda, dan dipergunakan dalam hampir segala kesempatan. Budaya dianggap lebih tinggi dari pada sastra karena budaya dipelajari lebih dini dan dipergunakan lebih sering dari pda sastra. Budaya juga mempunyai tingkat penyebaran yang labih tinggi dari pada sastra.

Di dalam kenyataan pikiran manusia unsur-unsur kesadaran manusia diatas tidak merupakan kategori yang berdiri sendiri dan saling terpisah, melainkan saling berhubungan dan saling berbaursatu sama lain. Unsur-unsur ini mungkin bersifat kategorial, artinya dapat berupa satuan-satuan yang berdiri sedniri-sendiri. Akan tetapi, sebagai fakta mental, unsur-unsur itu mungkin pula berhubungan satu sama lain secara subversif ataupun ekspansif Unsur yang satu menembus ke dalam unsur yang lain sehigga merusak unsur yang ditembusi tersebut. Kecenderungan tersebut tampak dengan jelas dalam berbagai karya sastra.

Karena unsur-unsur kesadaran merupakan fakta mental, fakta empirik, sukar ditentukan unsur mana yang sesungguhnya dapat melakukan ekspansi ke dalam unsur bahasa itu. dari beberapa kasus tertentu yang agak dapat ditentukan adalah ekspansi unsur kultural, hal itu dapat dilihat misalnya dari kecenderungan beberapa karya sastra Indonesia yang mempertahankan kosakata-kosakata derrah tertentu. 

Karya sastra sebagai fakta kemanusiaan, karya sastra dipandang sebagaimana bahasa yang diciptakan bukan demi karya sastra itu sendiri, bukan untuk membangun makna itu sendiri, bahasa, misalnya dalam kenyataan yang konkret untuk berbagai tujuan. Karena sifat karya sastra yang selalu berhubungan dengan pengarangnya, karya sastra tidak dapat dilepaskan dari subjek penciptanya. Menurut Goldman, karya sastra yang benar merupakan ekspresi tentang citra manusia dan semesta yang global. 

Seung (1982) mengungkapkan bahwa penafsiran makna sebuah teks sastra hanya dengan operasi semantik akan tetap membuat makna itu tidak pasti. Prinsip pragmatik yang universal adalah kecocokan antara yang dikaitkan dengan cara mengatakan dan sebagainya. Masalah kecocokan itu hanya dapat diukur atau ditentukan dalam konteks pragmatik. Norma dan fungsi pragmatik itu sendiri secara historis dapat diberikan dan ditentukan.

Sebuah karya yang memnuhi norma-norma kebahasaan tidak dapat dikatakan memenuhi prinsip kecocokan jika norma-norma kesastraan yang ada justru menuntut penyimpangan dari norma kebahasaan. Hal itu jelas menujukkan bahwa subjek karya sastra bukan individu, melainkan kelompok. Intenso-intensi pengarang adalah intensi-intensi yang dibangun oleh kelompok oleh norma dan fungsi pragmatik yang berlaku pada ruang, waktu dan kebudayaan tertentu.

Kodrat Keberadaan Karya sastra
Dalam hal perbedaan objek dari fakta-fakta semiotik dan kemanusiaan lainya. Adanya aspek empirik dan nonempirik juga juga ditemukan dalam fakta semiotik dan kemanusiaan lain seperit seni lukis, seni patung, wacana ilmiah, wacana, hukum dan lainnya. Menurut Pierce hubungan antara penanda, objek, dan dasar berada dalam tiga jenis struktur triadik yang terhadapnya hal atau unsur yang ketiga melakukan persepsi. 

Struktur triasik yang pertama adalah perbandingan atau kemungkinan logis yang didsarkan pada jenis tanda. Hubungan triadik semacam ini adalah qualisign yaitu sebuah kualitas yang bertindak sebagai penanda pada saat kualitas itu diwujudkan sebagai suatu kenyataan aktual atau peristiowa yang secara sederhana dan tunggal bertindak sebagai penanda.

Struktur triasik kedua adalah penampilabn. Hubungan ini melibatkan sutan aktual dalam dunia nyata yang didasarkan pada grund. Yang termasuk dalam jenis ini adalh icon yaitu suatu yang berfungsi sebagi penanda atas dasar ciri-ciri internalnya sendiri yang menyamai penanda, indeks yaitu suatu yang berfungsi sebagai penanda atas dasar hubungan faktualnya dengan penanda. Struktur triasik yang ketiga adalah pikiran yang didasarkan pada jenis objek. Yang termasuk didalamya adalah rheme, interpretant dan dicent. 

Teori Pierce tersebut menunjukkan bahwa sistem tanda atau fakta semiotik itu bermaam-macamn. Setiap jenis tanda mempunyai cara kerja dan prosedurnya sendiri. Ooleh karena itu pembicaraan karya sastra mengenai fakta semiotik harus mempertimbangkan jenis tenda mana karya sastra itu, apa yang membedakan karya sastra itu dengan jenis tanda yantg lain dengan fakta semiotik yang sejenis.

Karya sastra tidak hanya dipandang sebagi simbol, melainkan indeks dan ikon atau bahkan jenis tanda yang lainya. Barthes dan Culler memandang segala hubungan pertanda dan penanda sebagai suatu yang hanya didapat lewat [pengetahuan atau proses belajar. Hal ini menujukkan bhwa karya sastra pada hakikatnya adalah jenis simbol yang kompleks.

Pembicaraan antara wacana karya sastar dengan wacana lain dapat daimulai dari Jakobson (1972) yang meneliti lebih dahulu faktor-faktor yang membangun setiap peristiwa komunikasi verbal. Faktor pertama adalah pengirim tanda verbal, kedua adalah penerima tanda verbal. Agar dapat operatif, tanda verbal itu menutut faktor keempat, yaitu konteks atau refren . komunikasi verbal tidak mungkin akan terbangun tanpa adanya sluran fisik ataupun psikologis yang menghubungankan pengirim dan penerima. Saluran itu merupakan faktor keenam yang disebut kontak. 

Sesungguhnya tidak hanya perbedaan umum antara wacana sastra dengan wacana yang lain, selain itu dibedakan juga dengan wacana ilmu. Wacana atau yeks ilmiah disebut anambious dan berorientasi pada hukum umum dan gagasan abstrak. Sebaliknya teks sastra baik detailnya maupun keseluruhannya masuk ke dalam berbagai sistem hubungan sehingga menghasilkan secara simultan lebih dari satu makna. 

Menurut Pratt (1977), sastra merupakan konteks tutur. Sebagaimana tuturan lainya, cara masyarakat memahami dan memproduksi karya sastra tergantung pada pengetahuan tentang hukum-hukum, konvensi dan harapan yang tak terucapkan. Untuk dapat membedakan karya sastra dengan masyarakat, perlu digunakan pendekatan kontekstual, yaitu dengan berusaha mengidentifikasi situasi tutur sastra. 

Faktor pertama, pembaca harus bersedia menjadi partisipan pasif dalam pembicaraaan meskipun statusnya tidak di bawah pengarang. Faktoer kedua bersangkutan dengan situasi yang ada di dalamnya. Penciptaan karya sastra harus melalui seleksi dan persiapan tertentu. Faktor ketiga bersangkutan dengan keharusan agar yang disajikan layak diceritakan dan daat dinikmati sebagai permainan.

Fakta kemanusiaan termasuk ke dalam fakta semiotik. Pengertian fakta kemanusiaan dibatasi pada fakta kemanusiaan non semiotik. Perbedaan karya sastra dengan fakta kemanusiaan yang lain dapat dilakukan dengan membedakan aktivitas verbal. Meskipun perbedaan antara kedua fakta itu belum tampak jelas, banyak peristiwa yang justru mengaburkannya, baik peristiwa fisik, sosial, politis, maupun ekonomis. Dalam karya sastra terkandung ilusi peristiwa-peristiwa fisik yang sama dengan peristiwa fisik yang telah dijelaskan. 

Kekaburan yang terjadi dapat diatasi dengan pembedaan antara peristiwa konstruksi mental manusia dengan peristiwa hasil hukum alam. Untuk kekaburan ada kasus berikutnya dapat diatasi dengan cara yang sama. Akan tetapi yang harus menjadi fokus perhatiannya adalah sifat konstruktifnya. Karya sastra harus dipandang sebagi hasil konstruksi mental manusia, demikian pula dnegan peristiwa fisik yang terkandung didalamnya.
Blog, Updated at: 06.16

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts