Belajar Dan Pembelajaran, Apakah Itu?

Belajar Dan Pembelajaran, Apakah Itu? 
1. Pengertian Belajar 
Menurut Winkel, belajar adalah semua aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman. Menurut Ernest R.Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata, 1984:252) belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya.

Pengertian Belajar menurut Robert M. Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning(1977), belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah. Belajar juga diartikan sebagai “A natural process that leads to changes in what we know, what we can do, and how we bahave” (p.1). Belajar juga dipandang sebagai proses alami yang dapat membawa perubahan pada pengetahuan, tindakan dan perilaku seseorang. Sedangkan menurut Robert Heinich dalam Beny A. Pribadi (2009), belajar diartikan sebagai “...development of new knowledge, skills or attitudes as individual interact with learning resources” (p.6). Belajar merupakan sebuah proses pengembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang terjadi manakala seseorang melakukan interaksi secara intensif dengan sumber-sumber belajar. Meyer (1882) dalam Smith dan Ragan (1993, p.2) mengemukakan pengertian belajar sebagai “....perubahan yang relatif permanen dalam pengetahuan dan perilaku seseorang yang diakibakan oleh pengalaman.”. Pengalaman yang sengaja didesain untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap seseorang akan menyebabkan berlangsungnya proses belajar. Crow & crow dalam buku Educational Psycology (1958) menyatakan "Learnig is acquisition of habits, knowledge, and attitude", belajar adalah memeproleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Belajar dalam pandangan mereka menunjuk adanya perubahan yang progresif dari tingkah laku. Pengertian ini menyangkut pada proses yang mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Any change in any object or organism, particularly a behavioral or psychological change. (proses adalah suatu perubahan yang progresif menyangkut tingkah laku atau kejiwaan).

Dari beberapa pengertian belajar di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan semua aktivitas mental atau psikis yang dilakukan oleh seseorang sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang berbeda antara sesudah belajar dan sebelum belajar. Dengan perkataan lain belajar merupakan sebuah proses perubahan didalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman keterampilan, daya pikir dan kemampuan-kemampuan yang lain.

2. Pengertian Pembelajaran
Gagne (1985) mendefinisikan istilah pembelajaran sebagai “a set of events embedded in purposeful activities that facilitate learning” (p.1). Pembelajaran merupakan serangkaian aktivitas yang sengaja diciptakan dengan maksud untuk memudahkan terjadinya proses belajar. Definisi lain tentang pembelajaran dikemukakan oleh Patricia L. Smith dan Tilman J. Ragan (1993) yang mengemukakan bahwa pembelajaran adalah pengembangan dan penyampaian informasi dan kegiatan yang diciptakan untuk memfasilitasi pencapaian tujuan yang spesifik (p.12). Walter Dick dan Lou Carey (2005, p.205) mendefinisikan pembelajaran sebagai rangkaian peristiwa atau kegiatan yang disampai secara terstruktur dan terencana dengan menggunakan sebuah atau beberapa media. Proses pembelajaran mempunyai tujuan agar Peserta didik dapat mencapai kompetensi seperti yang diharapkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, proses pembelajaran perlu dirancang secara sistematik dan sistemik. Proses merancang aktivita pembelajaran disebut dengan istilah desain sistem pembelajaran.

Dalam mempelajari desain sistem pembelajaran, konsep-konsep tentang pembelajaran sangat penting untuk diketahui. Pembelajaran seperti yang dikemukakan sebelumnya adalah sebuah proses yang sengaja dirancang untuk menciptakan terjadinya aktivitas belajar dalam diri individu. Aktivitas pembelajaran akan memudahkan terjadinya proses belajar apabila mampu mendukung peristiwa internal yang terkait dengan pemrosesan informasi. Gagne (1985) mengemukakan konsep events of instruction yang terkait dengan pemrosesan informasi yang dapat mengarahkan kepada terjadinya proses belajar yang efektif dan efisien. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka para guru perlu memahami dan secara kreatif menggunakan berbagai bentuk ragam model, metode, keterampilan, serta strategi pembelajaran. 

Penilaian
Daryanto dalam bukunya tentang Evaluasi Pendidikan (2010), dan Ngalim Purwanto dalam bukunya tentang Evaluasi Pengajaran (2002) menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan pengertian penilaian, prinsip-prinsip penilaian, acuan penilaian, ranah, bentuk serta alat penilaian sebagai berikut.

1. Pengertian
Penilaian adalah proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk pemberian nilai terhadap hasil belajar peserta didik berdasarkan tahapan kemajuan belajarnya sehingga guru memperoleh gambaran/profil kemampuan peserta didik sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai peserta didik sebagaimana telah ditetapkan dalam Kurikulum. 

Tujuan penilaian adalah memberikan gambaran tentang posisi peserta didik dalam alur proses pembelajaran, menyangkut: apa yang telah dikuasainya dan apa yang masih harus diupayakan untuk dikuasainya. Pegangan penilaian adalah indikator dan hasil penilaian (kekuatan dan kelemahan peserta didik) digunakan guru untuk melakukan perbaikan terhadap proses belajar mengajar secara keseluruhan. 

2. Prinsip Umum Penilaian 
a. Keabsyahan: relevan terhadap kompetensi yang diukurnya.
b. Handal: jumlah bukti penilaian perlu memadai.
c. Obyektif: penilaian dipengaruhi oleh pilihan tugas atau oleh penilai.
d. Terintegrasi ke dalam proses belajar mengajar: penilaian tidak hanya dilakukan pada akhir proses belajar mengajar, tetapi sepanjang proses belajar mengajar.
e. Bervariasi dalam gaya dan metodenya: penilaian akan menarik dan menumbuhkan motivasi bila memakai metode yang bervariasi.
f. Adil bagi semua peserta didik: peserta didik harus diberitahu tentang kriterium penilaian.
g. Penilaian dipergunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar: Peserta didik harus mengetahui hasil penilaian, agar bisa memperbaiki proses belajar mengajarnya.
h. Peserta didik menilai diri dan teman: peserta didik diberi kesempatan untuk menilai teman-temannya dan diri sendiri.
i. Cocok bagi apa yang dinilainya: kriteria dan alat penilaian harus cocok dengan yang dinilai.

3. Acuan Penilaian
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam melakukan penilaian hasil belajar, yaitu penilaian yang mengacu kepada norma (Penilaian Acuan Norma atau norm-referenced assessment) dan penilaian yang mengacu kepada kriteria (Penilaian Acuan Kriteria atau criterion referenced assessment). 

Perbedaan kedua pendekatan tersebut terletak pada acuan yang dipakai. Pada penilaian yang mengacu kepada norma, interpretasi hasil penilaian peserta didik dikaitkan dengan hasil penilaian seluruh peserta didik yang dinilai dengan alat penilaian yang sama. Jadi hasil seluruh peserta didik digunakan sebagai acuan. Sedangkan, penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan, interpretasi hasil penilaian bergantung pada apakah atau sejauh mana seorang peserta didik mencapai atau menguasai kriteria atau patokan yang telah ditentukan. Kriteria atau patokan itu dirumuskan dalam kompetensi atau hasil belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi. 

Dalam Pendidikan Agama Katolik, pendekatan penilaian yang digunakan adalah Penilaian Acuan Kriteria (PAK). PAK merupakan penilaian pencapaian kompetensi yang didasarkan pada kriteria ketuntasan minimal (KKM). KKM merupakan kriteria ketuntasan belajar minimal yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan karakteristik Kompetensi Dasar yang akan dicapai, daya dukung, dan karakteristik peserta didik 

4. Ranah Yang Dinilai
Penilaian yang digunakan meliputi ranah ranah afektif, kognitif dan ranah psikomotorik. 

a. Ranah Afektif/Sikap
Kompetensi afektif: kemampuan memberi respon, apresiasi, penilaian, dan internalisasi. Sikap/minat peserta didik terhadap mata pelajaran: kemampuan memiliki minat, motivasi, ketekunan belajar, dan sikap positif terhadap mata pelajaran. 

b. Ranah Kognitif/Pengetahuan
Kompetensi dalam ranah kognitif meliputi kemampuan menghafal, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi.

c. Ranah Psikomotorik/Keterampilan
Ranah ini meliputi tingkatan gerakan awal (kemampuan menggerakkan sebagian anggota badan, e.g. tangan), semi rutin (kemampuan menggerakkan seluruh anggota badan), gerakan rutin (kemampuan menggerakkan seluruh anggota badan secara sempurna, bahkan sampai taraf otomatis).

5. Bentuk dan Alat Penilaian
a. Bentuk Penilaian
  1. Kuis: Digunakan untuk menanyakan hal-hal yang prinsip dari pelajaran yang lalu secara singkat, dan dilaksanakan sebelum pelajaran. 
  2. Pertanyaan lisan: Digunakan untuk mengetahui penguasaan peserta didik tentang konsep, prinsip dan teori.
  3. Ulangan harian; Digunakan untuk mengetahui penguasaan pemahaman, sampai evaluasi, atau untuk mengetahui penguasaan pemakaian alat atau proaedur tertentu.
  4. Tugas individu: Digunakan untuk mengetahui kemampuan aplikasi sampai evaluasi, atau untuk mengetahui penguasaan hasil latihan dalam menggunakan alat atau prosedur tertentu.
  5. Tugas kelompok: Digunakan untuk mengetahui kemampuan kerja kelompok dalam memecahkan suatu masalah.
  6. Ulangan semesteran: Digunakan untuk menilai ketuntasan penguasaan komptensi pada akhir program semester.
  7. Ulangan kenaikan: Digunakan untuk menilai ketuntasan penguasan kompetensi dalam satu tahun ajaran..
  8. Laporan kerja praktek/praktikum: Digunakan untuk pelajaran yang mengharuskan praktek, seperti kimia, biologi, bahasa.
  9. Responsi atau ujian praktek: Digunakan untuk mengetahui penguasaan aspek kognitif maupun psikomotorik untuk mata pelajaran yang memiliki praktikum.
b. Alat Penilaian
1) Penilaian Tertulis
Diadakan pada kurun waktu tertentu dan kondisi yang terbatas.
- Test Obyektif (contoh; pilihan benar/salah, pilihan ganda, isian singkat) dsb. Alat penilaian yang menilai kemampuan berpikir rendah: sebatas mengingat. 
- Test Subyektif (contoh, pengerjaan soal, latihan, esai, dsb). Alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat, memahami, dan mengorganisasikan gagasan atau hal-hal yang sudah dipelajari dengan cara mengemukakan dan mengekspresikan gagasan tersebut dengan kata-kata sendiri.
2) Penilaian lisan; Dilaksanakan secara lisan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara lisan kepada peserta didik.
3) Penilaian unjuk kerja (performance); Penilaian yang dilaksanakan pada waktu peserta didik melakukan kegiatan, baik secara informal 
4) Penilaian produk; Penilaian terhadap hasil kerja. Biasanya dilakukan terhadap mata pelajaran kesenian dan kerajinan.
5) Penilaian Portofolio; Portofolio adalah kumpulan hasil kerja atau karya seorang peserta didik dalam kurun waktu tertentu yang telah dipilih dan disusun secara sistematis untuk mengetahui perkembangan kemajuan belajar peserta didik dalam mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

Berdasarkan uraian tentang penilaian di atas maka diasumsikan bahwa guru sebagai tenaga pendidikan profesional memiliki kompetensi dalam mengelola penilaian dalam rangka menguji kompetensi peserta didik setelah proses pembelajaran. Karena itu guru harus sungguh memahami bahwa kurikulum memerlukan pola penilaian pendidikan yang variatif, untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.

Daftar Pustaka
  • Dahlan (penyunting). 1990. Model-model Mengajar. Bandung: C.V. Diponegoro. 
  • Daryanto. 2010. Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Adi Mahastya 
  • Drost, J.I.G.M.,S.J. 1998. Sekolah: Mengajar atau Mendidik? Yogyakarta: Kanisius. 
  • Dick, W. Carey, L. & Carey, J.O. 2006. The Systematic Design of Instruction. New York: Pearson
  • Dokumen-dokumen paper pengembangan Kurikulum 2013 
  • Gagne, R.M, dkk.2005. Priciples of Instructional Design. New York: Wadsworth Publisihing Co
  • Komisi Kateketik KWI . 2004. Modul Pelatihan Kurikulum Pendidikan Agama Katolik Berbasis Kompetensi. Jakarta: Komkat KWI
  • Komisi Kateketik KWI. 1993. Katekese Sosial. Jakarta: Obor
  • Komisi Kateketik KWI (tim). 2010. Naskah Akademik Penguatan Kurikulum Pendididikan Agama Katolik (tidak dipublikasikan). Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan, Republik Indonesia.
  • Ngalim Purwanto.2002. Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya 
  • Oemar Hamalik. 1993. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Mandar Maju
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 65 tahun 2013 tentang Standar Proses
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian
  • Pribdi, Beny A. 2009. Model desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Dian Rakyat
  • Puslitbang-Puskurbuk-Kemendikbud, Naskah Akademik Kurikulum 2013 (paper). 
  • Richey.R.C. (ed). 2000. The Legacy of Robert M. Gagne. New York: Syracuse University.
  • Seaman Don & Fellenz Robert. 1989. Effective Strategies for Teaching Adults Columbus, Ohio: Merrill
  • Smith.P.L. & Ragan. T.L. 2003. Instructional Design. Upper Saddle River, NJ. Merril Prentice Hall, Inc
  • Suryabrata, S. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo 
  • Winkel, W. S. 2004. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia
Blog, Updated at: 01.50

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts