Meningkatkan Ketrampilan Baca Al Qur’an Dengan Metode Iqro’

Meningkatkan Ketrampilan Baca Al Qur’an Dengan Metode Iqro’ 
Dunia Islam dewasa ini tidak bisa mengelak dari sumbangan pemikiran konsep pembelajaran masyarakat Barat, baik berasal dari daratan Eropa maupun Amerika. Konsep mereka sudah cukup tua, bahkan jauh sebelum Islam lahir, seperti dikemukakan oleh para Filpsof Yunani seperti Plato dan dilanjutkan oleh para pemikir abad pertengahan oleh filosof Islam seperti Ibnu Sina yang kesemuanya menaruh pentingnya belajar sebagai pekerjaan utama dalam hidup.

Memasuki abad 20, perkembangan teori pembelajaran mengalami kemajuan dengan adanya berbagai temuan penlitian bagaimana melakukan pembelajaran yang efektif bagi seorang guru/dosen. Konsep pembelajaran yang digunakan dalam dunia pendidikan sekarang umumnya hasil temuan para ahli Barat. Menurut mereka ada dua pandangan konsep pembelajaran. Pertama, Pandangan tradisional (lama) bahwa guru menganggap siswa adalah orang yang tidak tahu sama sekali materi yang akan diajarkan sehingga guru perlu mengajar (teaching) atau memberitahu siswa. Pandangan ini memposisikan guru adalah orang yang memiliki penguasaan materi yang baik dan luas dan ia paling aktif dalam kelas. Metode pembelajaran selalu mengutamakan ceramah sebagai sarana transfer of knowledge kepada siswa sebab guru lebih banyak menuangkan sesuatu materi ke dalam otak peserta didik (otak sebgai bank data atau penampung informasi). Pola ini siswa bersifat pasif dan tidak memiliki peluang yang besar untuk memberi input kepada guru. Bahkan guru atau sekolah kurang memperhatikan masalah perbedaan individual siswa, dan umumnya pelaksanaan pembel;ajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai indivisu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan dan pengetahuan semua hampir sama. Implikasi pembelajaran berpusat pada guru melahirkan output siswa pendiam, kurang percaya diri, takut mengungkapkan pendapat dan tidak memiliki ketrampilan berbicara dengan orang lain secara lancer dan tangkas

Pembelajaran merupakan roh dari pendidikan. Pembelajaran juga menjadi esensi pendidikan dalam semua kegiatan pendidikan mulai dalam kandungan sampai liang lahat atau mulai dari pra sekolah sampai perguruaun tinggi. Pembelajaran menjadi penentu warna pendidikan, semakin jelas arah, proses dan tujuan pembelajaran maka semakin jelas pula arah, proses dan tujuan endidikan. Pembelajaran dan pendidikan ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Keduanya terus berpadu dalam satu arah, proses dan tujuan yang sama. 

Kedua, konsep pembelajaran modern menempatkan guru sebagai fasilitator (sumber inspirator) dalam membelajarkan siswa. Pandangan ini berasumsi bahwa yang belajar adalah siswa, atau siswa sebagai “primus motor” (motor utama) dalam kegiata pembelajaran, maka guru berperan sebagai orang yang membelajarkan (instructional) siswa melalui materi yang disiapkan guru sesuai tema yang diprogramkan bersama siswa atau program sekolah, bahkan bahan belajar pun harus menantang siswa untuk berpikir secara maksimal dan bebas. 

Pandangan ini sejalan dengan pandangan liberal masyarakat Barat dimana siswa diberi kebebasan yang luas untuk ikut menentukan materi yang dipelajarinya. Berbagai modul dan strategi pembelajaran memberikan kebebasan individu siswa untuk ikut menentukan berbagai kegiatan pembelajaran, seperti; topik yang akan dibahas, mata pelajaran yang menunjang keahlian dan ketrampilanmereka sesuai kebutuhan untuk menghadapi masa depan mereka sendiri. Inti utama pandangan pembelajaran modern adalah menjadika diri siswa sebagai pebelajar (becoming learner) yaitu orang yang memiliki kesadaran belajar dan memiliki semanat mencari ilmu. Pandangan ini memposisikan guru adalah orang yang lebih menguasai metodologi daripada materi sehingga guru lebih banyak pasif dan yang aktif adalah siswa. Metode pembelajaran lebih variatif sesuai tema dibahas seperti metode Iqro’. Implikasi pembelajaran ini berpusat pada siswa yang melahirkan output pendidikan siswa yang kreatif, inovatif, mandiri dan mampu berkomunikasi dengan orang lain.

Berdasar dua pandangan pembelajaran mengemuka dalam teori dan praktek pendidikan, termasuk pendidikan Islam, para tokoh pendidikan Islam kurang memiliki konsep berkaitan pembelajaran. Mereka umumnya berkutat pada konsep pendidikan, seperti Imam al-Gazali, Ibnu Sahnun Muhhammad Nuqib al-Atas, At-Toumy as-Syaibani dan lain-lain. Meskipun perbendaharaan ilmu pembelajaran dalam Islam belum dihasilkan para pemikir Islam, bukan berarti dalam al-Qur’an tidak mengandung konsep pembelajaranm namun belum menggalinya secara serius. Karena itu, terhadap dua pandangan pembelajaran di atas, para pemikir Islam belum mampu memberikan jawaban tegas apakah kedua atau salah satu pandangan pembelajaran yang sudah ada sekarang, sudah sesuai dengan prinsip-prinsip dalam al-Qur’an atau justru sebaliknya. Menurut hemat peneliti bahwa konsep pembelajaran dalam al-Qur’an cukup banyak ayat-ayat yang menunjukkan adanya proses pembelajaran yang sangat variatif dan konkrit baik terkait dengan sumber belajar (seperti; guru dan alam) maupun media pembelajaran. 

Ada tiga model pembelajaran yang bisa diambil pelajaran oleh umat manusia dalam al-Qur’an yaitu; 
  1. Pembelajaran dilakukan Allah dengan Nabi Adam ketika mengajarkan nama-nama benda secara konkrit.. 
  2. Pembelajaran dilakukan burung gagak kepada Qabil, di mana burung gagak menggaruk-garuk tanah seraya memasukkan sesuatu dalam tanah. 
  3. Pembelajaran dilakukan Nabi Khidir dengan Nabi Musa melalui proses aksi di lapangan (pembunuhan anak kecil, pelobangan perahu dan perbaikan dinding rumah. 
Beberapa ayat berkaitan dengan proses pembelajaran dalam al-Qur’an dapat ditelusuri melalui penjelasannya berbagai hadits Rasulullah, pendapat para mufassir berbagai kitab tafsir klasik dan kontemporer. 

Sementara itu dalam lembaga pendidikan, Islam terus mengadopsi dan memberlakukan konsep pembelajaran tradisional dan modern dari pemikiran Barat, padahal dalam al-Qur’an banyak ditemukan petunjuk untuk dijadikan konsep pembelajaran dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam. 

Pembelajaran mengandung permasalahan cukup luas, sebab pembelajaran bisa terkait dengan pembelajaran di kalangan keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan (sekolah atau perguruan tinggi). Disamping itu, pembelajaran dapat ditinjau dari sisi filosofis, ekonomi, politik, ideologi, kesehatan dan sosiologi. Banyaknya permasalahan bidang pembelajaran menimbulkan berbagai macam yang terjadi dalam bidang pendidikan, baik menyangkut teoritis maupun praktis. Oleh karena itu, dalam konteks lembaga pendidikan Islam, muncul persoalan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan Islam tidak sesuai dengan berbagai pernyataan dalam al-Qur’an sebagai kitab rujukan umat Islam. Sehubungan dengan persoalan pembelajaran mengandung penafsiran yang beragam dan meluas pada hal-hal yang sifatnya furu’iyah menjadi tambah kabur, maka perlu dibatasi konsep pembelajaran yang hendak dikaji dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang dilakukan oleh berbagai pernyataan berbagai ayat dalam al-Qur’an. Peneliti akan terfokus pada pembahasan ayat demi ayat yang berindikasi mengandung proses pembelajaran antara seorang guru dengan murid dalam konteks yang lebih luas. Artinya proses pebelajaran tidak terpaku pada term ta’lim (pembelajaran) tetapi juga dalam term lain yang mengandung proses pembelajaran sekalipun bukan manusia yang melakukannya (burung). Oleh karena itu, secara khusus, peneliti menfokuskan masalah yang akan diteliti dalam tulisan ini adalah bentuk-bentuk konsep pembelajaran dalam berbagai ayat al-Qur’an”. Sehingga, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana upaya mempercepat penguasaan baca tulis al-Quran melalui metode Iqro’. 

SDN 7 Genteng merupakan sekolah yang berdiri di sekitar banyak pondok pesantren sebagai basis pendidikan Islam. Oleh karenanya, pendidikan mata pelajaran Agama Islam dalam materi baca tulis al Qur’an banyak mengambil model pembelajaran salafi yang dipadu oleh model pembelajaran kekinian. Iqro’ dipilih sebagai model yang praktis dan banyak memberikan bantuan kepada siswa untuk mahir baca tulis al Qur’an. Berdasarkan latar belakang masalah, maka artikel ini akan membahas seberapa jauh peranan metode Iqro’ dalam memberikan kemudahan kepada siswa kelas V SDN 7 Genteng dalam belajar baca tulis al Qur’an.

METODE PENELITIAN
Jenis penelitan yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dipadu dengan penelitian kepustakaan (library research), karena sumber data yang dikaji adalah sumber-sumber data tertulis (ayat-ayat al-Qur’an), baik yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan materi yang diteliti. Data dalam penelitian ini dikumpulan dengan metode observasi, tes, wawancara, dokumentasi dan angket. Observasi digunakan untuk melihat pelaksanaan PTK apakah sudah berjalan sesuai dengan langkah yang telah dipersiapkan pada tahap perancanaan atau belum. Dengan dibantu lembar obsevasi, metode ini juga digunakan untuk melihat data tentang partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Tes digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar setelah proses tindakan pada setiap siklus. Wawancara digunakan untuk mengungkap data tentang tanggapan siswa tentang penggunaan metode Iqro’ yang diterapkan dalam proses pembelajaran dan digunakan ketika mendiskusikan dengan guru tentang pelaksanaan PTK dan refleksi kejadian waktu penelitian. Selanjutnya dokumentasi digunakan untuk melihat hasil belajar siswa sebelum diterapkan metode Iqro’. Angket digunakan untuk melihat respon siswa tentang pelaksanaan PTk yang dilakukan oleh guru.

Data kualitatif yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan angket dikelompokkan untuk dianalisis dengan teknik persentase. Teknik persentase ini juga digunakan untuk menganalis perbedaan hasil belajar sebelum PTK, hasil belajar pada siklus satu dan hasil belajar pada siklus dua.

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dikenakan pada semua siswa kelas V SDN 7 Genteng. Model PTK yang digunakan dalam peneltian adalah model dari Kemmis dan Taggat dalam Tantra (1998) dengan siklus mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiaatan dan observasi, refleksi dan perbaikan perencanaan. Tahap perencanaan pada dasarnya merupakan langkah-langkah prosedural yang akan dilaksanakan sehubungan dengan penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan. Termasuk didalamnya adalah persiapan yang meliputi konsultasi dengan guru bidang studi, mempersiapkan instrumen, memberikan tes awal dan koordinasi dengan guru bidang studi. Pada tahap pelaksanaan peneliti melakukan proses pembelajaran dengan memberikan latihan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah direncanakan. Dalam tahap ini pula peneliti juga melakukan observasi terhadap beberapa aspek yang relevan, yakni aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dan aktivitas guru saat melaksanakan pembelajaran dengan metode Iqro’ untuk mengembangkan kemampuan baca tulis al Qur’an. Tahap refleksi dilakukan dengan mendiskusikan dengan guru bidang studi tentang jalannya pembelajaran, dampak yang timbul dari proses pembelajaran baik yang dipredeksi maupun yang tidak diprediksi sebelumnya, dan rencana untuk perbaikan rencana pada siklus selanjutnya. 

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pokok-pokok pendidikan dan pembelajaran al-Quran baik dalam baca ataupun tulis memuat; 
  1. Pengertian pendidikan mengutip tiga istilah yaitu ta’lim, tarbiyah dan ta’dib. Sebagai hasil kesepakatan konferensi pendidikan di Mekkah tahun 1977, Al-Attas lebih condong gunakan istilah ta’dib untuk makna pendidikan Islam karena bermakna pengenalan dan pengakuan akan hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur scara hirarkis sesuai tingkatannya dan tempat seseorang sesuai kapasitas potensi jasmani, intelektual dan rohaninya ta’lim terlalu sempit karena hanya menunjukkan makna pengajaran, sedang istilah tarbiyah terlalu luas sebab mencakup pendidikan untuk hewan.. Karena itu, Al-Attas mendefinisikan pendidikan Islam sebagai pengenalan dan pengakuan secara berangsur ditanamkan pada manusia ke tempat yang tepat dalam tatanan wujud ini sehingga wujudnya akan diarahkan pada pengakuan ke tempat Tuhan. Sementara Marimba mendefinisikan ;pendidikan Islam lebih operasional yaitu bimbingan jasmani dan rohani berdasar hukumIslam menuju terbentuknya kepribadian menurut Islam. Kepribadian yang Islam adalah orang yang selalu belajar sebagaimana perintah dala al-Qur'an (QS. Az-Zumar: 9, al-Fathir : 28, al-Mulk:10).
  2. Dasar pendidikan dalam al-Qur’an ada enam ayat dan satu hadits; (a) Surat Azumar ayat 9, surat al-Fathir ayat 28, surat al An-Kabut ayat 43, surat at-Tahrim ayat 6, surat al Imran ayat 104 dan surat al Alaq ayat 1-5, serta sebuah hadits berbunyi Äku tinggal-kan dua perkara, dan tidak akan sesat selama-lamanya jika kamu berpegang teguh kepada keduanya yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. 
  3. Peranan Rasulullah dalam pendidikan dalam al-Qur’an, mencakup; anak dididik untuk mencintai Rasulullah sebab dengan mencintai Rasul sama dengan mencintai Allah. 
  4. Ahli pendidikan berorirntasi al-Qur’an ada lima yaitu; Ibnu Sahnun, Al Qabisi, Ikhwan al Shafa, Imam Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, 
Konsep pendidikan baik dalam baca dan tulis al Quran, menguraikan beberapa hal yakni, 
  1. Pengertian konsep pendidikan, diambil dua kata yaitu tarbiyah dan kata ta’dib. Secara faktual, al-Qur'an menggunakan istilah Rabb (Tuhan) dan kata tarbiyah secara teksikografik berasal dari kata yang sama, yang berarti Tuhan. Dalam kata Rabb, oleh para ahli diyakini terkandung pengertian pendidikan dan pemeliharaan. Kemudian kata ta’dib dijumpai dalam hadits yang artinya “ Tuhanku telah mendidikku, maka ia sempurnakan pendidikanku. Tujuan pendidikan adalah mengabdi kepada Allah. Materi pendidikan dalam al-Qur’an adalah tauhid, shalat, kepribadian, akhlak dalam rumah, akhlak bermasyarakat Sistem penyampaian materi menggunakan cara keteladanan, nasehat, kisah dan kebiasaan. Evaluasi pendidikan mengutip Allah bertanya kepada Adam dan malaikat. 
  2. Konsep pendidik dalam al-Qur'an meliputi; sifat ikhlas, sifat taqwa, memiliki ilmu pengetahuan, bersifat hanif, dan berbuat adil kepada semua peserta didik 
  3. Konsep pendidikan ibadah dibagi dua ibadah shalat dan puasa, 
  4. Konsep pendidikan anak mengutip kisah Lukman kepada anak anaknya perintah ibu menyusui anak sampai dua tahun serta anjuran Rasulullah menyuruh anak shalat dan pukullah mereka jika berumur sepuluh tahun melalaikannya dan pisahkan tempat tidur mereka. 
  5. Ketauladanan seorang pendidik dalam al-Qur'an, yaitu menjadi contoh, berakhlak mulia, dan senantiasa shalat tahajud, berzikir dan berdoa agar Allah 
  6. Pendidikan nasehat mengutip kisah Lukman dengan anaknya, mewaspadai manusia memelihara diri dan keluarga dari api neraka serta nasehat para nabi kepada anak-anaknya. 
Baca tulis al Quran sungguh menjadi hal paling utama bagi umat Islam. Dewasa ini telah banyak metode baca tulis yang dianggap sesuai dengan minat dan keinginan masyarakat Islam. Ada metode Iqro, metode Qiro’ati dan metode drill. Kesemuanya memang secara praktis lahir sebagai respon atas kebutuhan pendidikan akan al Quran. Baca tulis al Quran bukanlah satu penggalan dalam pendidikan al Quran, melainkan sebagai titik awal memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai keislaman pada diri umat Islam.

Metode Iqro’ telah diberlakukan sejak awal pembelajaran mata pelajaranm Agama Islam pada pokok bahasan bacxa tulis al Qur’an. Ada sejumlah siswa yang diberi perlakuan dengan metode ini. 

Dari tabel di atas, kemampuan baca siswa dikatagorikan sedang dan memerlukan peningkatan. Sedangkan kemampuan tulis siswa terbilang masih kurang. Observasi pada siklus I dalam PTK ini memberikan kesan bahwa perlu diberikan perlakuan dengan memakai metode Iqro’ pada siklus II. Setelah diberi perlakuan dengan metode Iqro’, kemampuan baca tulis siswa mengalami peningkatan dan tidak sampai harus melakukan penambahan metode pada siklus III. Data di atas sangat menunjukkan bahwa pemberian metode Iqro’ sangat signifikan dalam meningkatkan kemampuan baca tulis siswa. Oleh karenanya, metode Iqro’ layak dikembangkan sebagai metode yang cukup berguna dalam peningkatan kemampuan baca tulis al Qur’an.

DAFTAR PUSTAKA
  • Abu al Qasim al Husai Ibnu Muhammad al Raghib al Ashfany, al-Mufrad ‘fi Gharib al-Qurán dan Mu’jam Mufradat al Fazh al-Qurán
  • Abu al Hasan Ali Ibnu Ahmad al Wahidy al Naisabury, Asbab al Nuzul
  • Andul Karim Bakar, Haula at-Tarbiyah wa at-Ta’lim, Damsyiq: Dar al-Qalam, t.t.
  • Armen Mukhtar, Konsep Pendidikan dalam al-Qur’an, (Disertasi Tidak diterbutkan), Jakarta: Pascasarjana UIN Jalarta, 1997. 
  • Departemen AgamaRI, Tafsir dan Terjemahnya, Jakarta: Penerbit J-Art, 2005
  • Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2006.
  • Muhammad Fuad Abd Baqy, Mu’jam al Mufahras li al Fazh al-Qurán al Karim
Blog, Updated at: 04.39

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts