Pemanfaatan Model Evaluasi

Pemanfaatan Model Evaluasi 
Dalam khazanah pembelajaran terdapat bermacam-macam model desain pembelajaran, misalnya model yang dikembangkan oleh Winarno Surakhmad, Winkel, Hisyam Zaini dkk., Briggs dan Wager, Gerlach dan Ely, dan Kemp. Dari model-model desain tersebut komponen dan pola antara yang satu dengan lainnya terdapat perbedaan. Meskipun demikian, dari berbagai desain pembelajaran tersebut terdapat komponen-komponen yang termasuk komponen pokok, yaitu tujuan, materi, strategi, media, dan evaluasi. Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai, materi adalah bahan yang dipelajari siswa atau diajarkan guru kepada siswa; strategi adalah langkah-langkah yang ditempuh siswa dan/atau guru dalam mempelajari (guru=mengajarkan) materi pelajaran untuk mencapai tujuan; media adalah sarana untuk memudahkan pencapaian tujuan; dan evaluasi adalah proses untuk mengetahui pencapaian hasil dan efektivitas pembelajaran. Dengan demikian, evaluasi merupakan salah satu komponen pokok yang selalu ada dalam pembelajaran. Dengan kata lain, sebuah pembelajaran tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan evaluasi. 

Secara umum, evaluasi memiliki dua fungsi utama yaitu untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa dan hasil mengajar guru. Pengetahuan tentang hasil belajar siswa terkait dengan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi-kompetensi yang telah ditetapkan. Hasil mengajar guru terkait dengan sejauh mana guru sebagai manajer belajar siswa4 dalam hal merencanakan, mengelola, memimpin, dan mengevaluasi. Realitas menunjukkan bahwa masih banyak yang mereduksi evaluasi sebagai kegiatan tes. Hal ini dibuktikan dengan kegiatan evaluasi yang menonjol di lembaga, dan satuan pendidikan. Kegiatan tersebut adalah pelaksanaan tes yang dilaksanakan setelah penyelesaikan pokok bahasan tertentu (kompetensi dasar tertentu) sebagai tes formatif dan tes akhir semester yang dikenal dengan tes sumatif serta tes yang diselenggarakan di akhir jenjang pendidikan tertentu dalam bentuk ujian akhir sekolah dan ujian nasional. Dari tes formatif, sumatif, hingga ujian akhir sekolah dan ujian nasional, sebagian besar dalam bentuk tes. Tes tersebut sebagian besar dalam bentuk tes tertulis. Padahal, tes tertulis hanyalah salah satu bentuk tes (di samping tes lisan dan tindakan), dan tes hanyalah salah satu dari teknik evaluasi (di samping teknik nontes/alternative test). Menggunakan teknik tes tertulis untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik yang mencakup berbagai domain/anah ( kognitif, afektif, dan psikomotor), tentunya tidak dapat memberikan informasi yang valid, reliabel, serta tidak selaras dengan prinsip kontinuitas, objektivitas, keseimbangan, dan komprehensivitas sebuah evaluasi.

Tes akan tepat dipakai untuk mengukur pencapaian domain kognitif, tetapi tidak tepat untuk mengukur pencapaian ranah afektif. Padahal, cakupan tujuan pendidikan, baik pada tingkat nasional, tingkat jenjang pendidikan, satuan pendidikan, bahkan hingga tujuan mata pelajaran (standar kompetensi mata pelajaran) memuat domain kognitif, afektif, dan psikomotor sehingga ironis jika proses pembelajaran yang panjang (3 sampai dengan 6 tahun), terkadang ditentukan oleh hasil tes tertulis yang dilaksanakan beberapa jam pada mata pelajaran tertentu. Dalam tulisan ini akan mendeskripsikan secara ringkas perkembangan studi tentang evaluasi yang telah melahirkan berbagai model evaluasi. Dengan mengetahui ragam model evaluasi diharapkan akan menambah khazanah informasi kepada para pelaku pendidikan, khususnya tenaga pengajar. Oleh karena itu, untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa dan efektivitas proses pembelajaran dapat dilakukan dengan memilih salah satu model evaluasi atau menggabungkan dua model evaluasi atau lebih.

Model-Model Evaluasi
Dalam beberapa literatur evaluasi terdapat berbagai model evaluasi. Di antara literatur yang penulis temukan, yang menjadi referensi utama tulisan ini, yakni tulisan dari Hasan, Said Hamid (1988), Issac, Stephen, dan William B. Michael (1984), Mehren, William M., dan Irvin J. Lehman (1973),10 Sudjana, Nana, dan Ibrahim (2001),11 Tayibnapis, Farida Yusuf (2000), Worthen, Blaine R., dan James R. Sanders (1987), yang selengkapnya dapat dilihat pada daftar pustaka. Dengan acuan referensi di atas, penulis mengklasifikasi model evaluasi menjadi model pengukuran (measurement model), model kesesuaian (congruence model), model sistem (system model), dan model illuminatif (illuminative model).

1) Measurement Model14. Measurement Model merupakan model yang tertua dibanding model-model evaluasi yang lain, tokoh-tokoh pengembang model ini antara lain R. Thorndike dan R. L. Ebel. R. Thorndike, misalnya, berkeyakinan: if anything exists, it exists in quantity, and if it exists in quantity it can be measured. Menurut model ini, penilaian pendidikan adalah “pengukuran” terhadap berbagai aspek tingkah laku dengan tujuan untuk melihat perbedaan-perbedaan individu atau kelompok, yang hasilnya diperlukan dalam rangka seleksi, bimbingan, dan perencanaan pendidikan bagi para siswa di sekolah. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini adalah tingkah laku, terutama tingkah laku siswa, yang mencakup kemampuan hasil belajar, kemampuan pembawaan (intelegensi dan bakat), minat, sikap, dan juga aspek-aspek kepribadian siswa. Dengan kata lain, objek penilaian mencakup aspek kognitif maupun afektif dari tingkah laku siswa. Alat penilaian yang lazim digunakan dalam model ini adalah tes tertulis atau paper and pencil test. Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang setepat mungkin ada kecenderungan untuk mengembangkan alat-alat penilaian (tes) yang baku atau standardized. Tes yang belum dibakukan dipandang kurang dapat mencapai tujuan dari pengukuran. Diperlukan uji coba berkali-kali terhadap instrument yang dikembangkan. Setelah suatu tes diujicobakan kepada sampel yang cukup besar, kemudian berdasarkan data yang diperoleh, dilakukan analisis untuk mengetahui validitas dan reliabilitas tes secara keseluruhan maupun setiap soal (analisis butir tes)16 yang terdapat di dalamnya. Untuk mengungkapkan hasil yang telah dicapai kelompok maupun masing-masing individu di dalam penilaian mengenai suatu bidang pelajaran tertentu, dikembangkan suatu norma kelompok berdasarkan angka-angka nyata yang diperoleh siswa di dalam tes yang telah dilaksanakan. Atas dasar norma kelompok inilah, nilai untuk masing-masing siswa ditentukan. Oleh karena itu, nilai yang dicapai siswa lebih menggambarkan “kedudukan” siswa tersebut di dalam kelompoknya disebut (relative

norm) Penilaian Acuan Norma (PAN). Pendekatan lainnya dalam model ini adalah membandingkan hasil belajar antara dua atau lebih kelompok, yang menggunakan cara pengajaran yang berbeda sebagai variabel bebas. Analisis perbedaan nilai dilakukan dengan menggunakan cara-cara statistik tertentu untuk dapat menyimpulkan cara pengajaran mana yang lebih efektif di antara cara-cara yang dinilai.

a) Keterbatasan Measurement Model . Keterbatasan dari model ini terletak pada penekanannya yang berlebihan pada aspek pengukuran dalam kegiatan penilaian pendidikan. Konsekuensinya, penilaian cenderung dibatasi pada dimensi tertentu dari sistem pendidikan yang “dapat diukur”, dalam hal ini adalah hasil belajar yang bersifat kognitif. Yang menjadi persoalan adalah hasil belajar yang bersifat kognitif tersebut bukan merupakan satu-satunya indikator bagi keberhasilan kurikulum. Kurikulum sebagai suatu “alat” untuk mencapai tujuan pendidikan diharapkan dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada pada diri siswa, tidak terbatas hanya pada potensi kognitif saja. Adanya beberapa ketidakserasian dengan peranan penilaian dalam proses pengembangan kurikulum/sistem pendidikan berikut ini. 1) Dalam pengembangan alat penilaian, model ini banyak dipengaruhi oleh prosedur yang ditempuh dalam pengembangan tes psikologis, antara lain tes intelegensi dan tes bakat. Untuk mengembangkan tes tersebut berlaku ketentuan bahwa soal tes yang memiliki daya pembeda rendah perlu direvisi atau diganti dengan tes lain, yang mempunyai daya pembeda tinggi. Prosedur semacam ini kurang cocok untuk diterapkan dalam penilaian hasil belajar. Hal itu dalam rangka/pengembangan pendidikan karena dalam penilaian pendidikan yang penting adalah butir soal tes yang dibuat betul-betul konsisten dengan tujuan pendidikan yang ingin dinilai pencapaiannya. 2) Dalam pengolahan hasil tes, model ini dipengaruhi oleh prosedur pengolahan hasil tes psikologis, dan nilai yang dicapai oleh masing-masing siswa lebih mencerminkan “kedudukannya” dalam kelompok. Dalam proses pengembangan pendidikan, nilai semacam ini kurang mempunyai arti karena sifatnya relatif. Yang lebih berarti dalam proses pengembangan pendidikan adalah nilai-nilai yang menunjukkan sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan telah dicapai oleh siswa, secara individual maupun kelompok, bukan nilai relatif yang mencerminkan posisi siswa dalam kelompoknya. 3). Informasi yang disajikan menurut model ini lebih berbentuk nilai keseluruhan (total score) yang dicapai setiap siswa, yang dilengkapi dengan data mengenai nilai rata-rata dan standar deviasi yang dicapai kelompok. Informasi semacam ini kurang relevan dengan kebutuhan yang dirasakan dalam proses pengembangan pendidikan karena nilai keseluruhan lebih banyak “menyembunyikan” daripada mengungkapkan informasi yang diperlukan untuk kepentingan penyempurnaan sistem. Yang lebih diperlukan dalam proses pengembangan pendidikan adalah bentuk penyajian hasil tes yang dapat memberikan petunjuk tentang bagian-bagian mana dari sistem pendidikan yang masih lemah, dan karenanya memerlukan perbaikan.

b) Keunggulan Measurement Model Keunggulan dari model ini adalah sumbangannya yang sangat berarti dalam hal penekannya terhadap pentingnya objektivitas proses penilaian. Aspek objektivitas yang ditekankan oleh model ini perlu dijadikan landasan yang terus-menerus dalam rangka mengembangkan sistem penilaian pendidikan. Di samping itu, evaluasi dalam model ini memungkinkan untuk melakukan analisis intrumen dan hasil evaluasi secara statistik.

2) Congruence Model
Model ini dapat dipandang sebagai reaksi terhadap model yang pertama, sekalipun dalam beberapa hal masih menunjukkan adanya persamaan dengan model yang pertama. Tokoh model ini Raph W. Tyler, John B. Carrol, dan Lee J. Cronbach Menurut Tyler, proses pendidikan berisi tiga komponen yang saling terkait, yaitu tujuan pendidikan, pengalaman belajar, dan penilaian hasil belajar. Penilaian merupakan kegiatan untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan dapat dicapai oleh siswa dalam bentuk hasil belajar yang mereka perlihatkan pada akhir kegiatan pendidikan.

Hal itu mengingat tujuan-tujuan pendidikan mencerminkan perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan pada peserta didik, maka yang penting dalam proses penilaian adalah memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan tersebut telah dicapai peserta didik. Tindak lanjut dari penilaian ini adalah sebagai bahan bimbingan lebih lanjut kepada peserta didik serta memberikan informasi kepada pihak luar yang terkait dengan hasil belajar peserta didik.

Penilaian adalah usaha untuk memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan, dan hasil belajar yang telah dicapai. Oleh karena tujuan pendidikan menyangkut tentang perubahan perilaku yang diinginkan pada peserta didik, maka penilaian dimaksudkan untuk memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan yang diinginkan tersebut telah dicapai. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini adalah memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan dan hasil belajar, maka yang dijadikan objek penilaian adalah tingkah laku siswa. Secara lebih khusus, yang dinilai adalah perubahan tingkah laku yang diinginkan (intended behavior) yang diperlihatkan oleh siswa pada akhir kegiatan pendidikan. Ruang lingkup perilaku meliputi; pengetahuan, keterampilan, dan nilai/sikap.

Congruence model tidak membatasi alat penilaian pada tes tertulis atau paper and pencil test saja. Carrol, misalnya, menyebutkan perlunya digunakan alat-alat penilaian lain seperti tes perbuatan dan observasi.18 Ringkasnya, dalam menilai hasil belajar yang mencakup berbagai jenis (pengetahuan, keterampilan, dan nilai/sikap) berbagai kemungkinan alat penilaian perlu digunakan. Penilaian dipergunakan sebagai alat ukur pencapaian hasil belajar setelah menempuh proses pendidikan, maka diperlukan prosedur pre
and post test.

Model ini tidak menyarankan dilaksanakannya penilaian perbandingan untuk melihat sejauh mana kurikulum yang baru lebih efektif dari kurikulum yang ada. Tyler dan Cronbach lebih mengarahkan peranan penilaian pada tujuan untuk memperbaiki kurikulum atau sistem pendidikan. Langkah-langkah penilaiannya adalah sebagai berikut:
  • Merumuskan atau mempertegas tujuan.
  • Menetapkan test situation yang diperlukan.
  • Menyusun alat penilaian.
  • Menggunakan hasil penilaian.
Berhubung setiap sistem pendidikan memiliki berbagai tujuan yang ingin dicapainya, akan lebih tepat bila hasil penilaian tidak dinyatakan dalam bentuk hasil keseluruhan tes, melainkan dalam bentuk hasil bagian demi bagian dari tes yang bersangkutan. Dengan demikian, terlihat jelas bagian-bagian dari sistem pendidikan yang masih perlu disempurnakan berhubung belum berhasil mencapai tujuannya.

3) Kontribusi Congruence Model
Sumbangan yang cukup berarti dari congruence model adalah sebagai berikut. 
a) Menghubungkan hasil belajar dengan tujuan pendidikan sebagai kriteria perbandingan.
b) Memperkenalkan sistem pengolahan hasil penilaian secara bagian demi bagian, yang ternyata lebih relevan dengan kebutuhan pengembangan sistem.

Keterbatasan Kontribusi Congruence Model, tidak menjadikan input dan proses pelaksanaan sebagai objek penilaian secara langsung. Dengan model pre da post test informasi yang dihasilkan hanya dapat menjawab pertanyaan tentang tujuantujuan mana yang telah dan belum dicapai. Pertanyaannya, mengapa tujuan-tujuan tertentu belum dapat dicapai belum dapat dijawab. Pendekatan ini membantu pengembang kurikulum dalam menentukan bagian-bagian dari sistem yang masih lemah, tetapi kurang membantu di dalam mencari jawaban tentang segi-segi yang masih lemah dan kemungkinan mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut.

4) Kontribusi Congruence Model
Hakikat evaluasi menurut sistem model adalah untuk membandingkan performance dari berbagai dimensi sistem yang sedang dikembangkan dengan sejumlah kriteria tertentu, akhirnya sampai pada suatu deskripsi dan judgment mengenai sistem yang dinilai tersebut. Prinsip-prinsip model ini adalah sebagai berikut:
a) Menekankan pentingnya sistem sebagai suatu keseluruhan yang dijadikan objek penilaian, tanpa membatasi pada aspek hasil yang dicapai saja. Dikatakan Gene V. Class bahwa the complete
and detailed description of what constitutes the educational program is a concern of the educational sistem evaluation model.
b) Perbandingan antara performance dan criteria merupakan salah satu inti yang penting. Menurut Daniel L. Stufflebeam salah satu kelemahan dari penilaian yang ada sekarang adalah kurang jelasnya kriteria yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian tersebut. 
c) Kegiatan penilaian tidak hanya berakhir pada suatu deskripsi tentang keadaan dari sistem yang telah dinilainya, melainkan harus sampai pada suatu judgment mengenai baik-buruknya dan efektif tidaknya sistem pendidikan tersebut. 
d) Informasi yang diperoleh dari hasil penilaian berfungsi sebagai bahan atau input bagi pengambilan keputusan mengenai sistem yang bersangkutan dalam rangka: a). penyempurnaan sistem selama sistem tersebut masih dalam tahap pengembangan; dan b). penyimpulan mengenai kebaikan (merit, worth) dari sistem pendidikan yang bersangkutan dibandingkan dengan sistem yang lain.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat evaluasi menurut sistem model adalah sebagai berikut: a).Penilaian ditujukan kepada berbagai dimensi sistem. b).Perbandingan antara performance dan criteria. c).Tidak hanya berakhir dengan deskripsi, tetapi juga judgment sebagai kesimpulan dari penilaian. d). Hasil penilaian digunakan sebagai bahan atau input bagi pengampilan keputusan, dalam rangka penyempurnaan sistem maupun penyimpulan mengenai kebaikan sistem yang bersangkutan secara menyeluruh.

Ruang lingkup evaluasi menurut model ini berdasarkan pendapat tokohnya adalah sebagai berikut.
a) Stake membagi objek penilaian atas tiga kategori:antecendent, transactions, dan outcomes.
b) Stufflebeam menggolongkan sistem pendidikan atas empat dimensi, yaitu context, input,
process, dan product (CIPP).
c) Scriven mencakup: sarana/bahan, proses, dan hasil yang dicapai.
d) Provus mencakup empat dimensi, yaitu design, operation program, interim products, dan terminal product.

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup evaluasi dalam model ini adalah sebagai berikut: Pertama,objek sekurang-kurangnya terdiri dari peralatan/sarana, proses, dan hasil yang dicapai. Kedua, mencakup data objektif maupun data subjektif.

Keunggulan Sistem Model ini penilaian dilakukan terhadap berbagai dimensi sistem, tidak hanya hasil yang dicapai saja, melainkan juga input dan proses yang dilakukan tahap demi tahap. Hal ini agar penyempurnaan sistem dapat dilakukan pada setiap tahap sehingga kelemahan yang masih terlihat pada suatu tahap tertentu tidak dibawa ke tahap berikutnya.

5) Illuminative Model
Nama Illuminatif, oleh pengembangnya didasarkan atas alasan bahwa penggunaan berbagai cara evaluasi di dalam model ini bila dikombinasikan akan help illuminative problems, issues, and significant program features. Model ini dikembangkan terutama di Inggris dan banyak dikaitkan dengan pendekatan di bidang antropologi. Salah satu tokoh yang paling menonjol dalam pengembangan model ini adalah Malcolm Parlett.

Tujuan penilaian menurut model ini adalah mengadakan studi yang cermat terhadap sistem yang bersangkutan. Studi difokuskan pada permasalahan bagaimana implementasi suatu sistem dipengaruhi oleh situasi sekolah, tempat sistem tersebut dikembangkan, keunggulan, kelemahan, serta pengaruhnya terhadap proses belajar siswa. Hasil evaluasi ditekankan pada deskripsi dan interpretasi, bukan pengukuran dan prediksi sebagaimana model sebelumnya. Dalam pelaksanaan evaluasi, model ini lebih menekankan penggunaan judgment, selaras dengan semboyannya the judgment is the evaluation. 

Objek evaluasi yang diajukan dalam model ini mencakup; latar belakang dan perkembangan yang dialami oleh sistem yang bersangkutan, proses implementasi (pelaksanaan) sistem, hasil belajar yang diperlihatkan oleh siswa, serta kesukaran-kesukaran yang dialami dari tahap perencanaan hingga implementasinya di lapangan. Di samping itu, dampak yang ditimbulkan dari suatu sistem seperti; kebosanan yang terlihat pada siswa dan guru, ketergantungan secara intelektual, hambatan terhadap perkembangan sikap sosial, dan sebagainya. Ringkasnya, objek evaluasi dalam model ini meliputi kurikulum yang terlihat maupun tersembunyi (hidden curriculum).

Tahapan evaluasi dalam Illuminatif model terdiri dari tiga fase sebagai berikut. 1) Tahap pertama observe. Pada tahap ini, evaluator mengunjungi sekolah atau lembaga yang sedang mengembangkan sistem tertentu. Evaluator mendengarkan dan melihat berbagai peristiwa, persoalan, serta reaksi dari guru maupun siswa terhadap pelaksanaan sistem tersebut. 2) Tahap kedua Inquiry further. Pada tahap ini, berbagai persoalan yang terlihat atau terdengar dalam tahap pertama diseleksi untuk mendapatkan perhatian dan penelitian lebih lanjut. 3) Tahap ketiga Seek to explain. Pada tahap ini, evaluator mulai meneliti sebab akibat dari masingmasing persoalan. Pada tahap ini, faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya persoalan dicoba untuk ditelusuri. Data semula terpisah satu dengan lainnya mulai disusun dan dihubungkan dalam kesatuan situasi. Langkah selanjutnya dilakukan interpretasi data yang diharapkan dapat dijadikan bahan dalam pengambilan keputusan.

Dari langkah-langkah tersebut, faktor penting dalam evaluasi model ini adalah perlunya kontak langsung antara evaluator dengan pihak yang dievaluasi. Hal ini disebabkan model ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menekankan pentingnya menjalin kedekatan dengan orang dan situasi yang sedang dievaluasi agar dapat memahami secara personal realitas dan hal-hal rinci tentang program atau sistem yang sedang dikembangkan. Di samping itu, faktor lainnya adalah pandangannya yang holistik dalam evaluasi, yang berasumsi bahwa keseluruhan adalah lebih besar daripada sejumlah bagianbagian.

Keunggulan Illuminative Model, menekankan pentingnya dilakukan penilaian yang kontinu selama proses pelaksanaan pendidikan sedang berlangsung. Jarak antara pengumpulan data dan laporan hasil penilaian cukup pendek sehingga informasi yang dihasilkan dapat digunakan pada waktunya.

Keterbatasan Illuminative Model, kelemahan terutama terletak pada segi teknis pelaksanaannya yang meliputi: 1)Kegiatan penilaian tidak didahului oleh adanya perumusan kriteria secara eksplisit. 2)Objektivitas penilaian yang dilakukan perlu dipersoalkan. 3)Adanya kecenderungan untuk menggunakan alat penilaian yang “terbuka” dalam arti kurang spesifik dan berstruktur. 4) Tidak menekankan pentingnya penilaian terhadap program bahan-bahan kurikulum selama bahan-bahan tersebut disusun dalam tahap perencanaan.

Kontribusi Illuminative Model, sumbangan terbesar Illuminatif Model adalah kritikannya terhadap penggunaan model scientific experiment dalam penilaian pendidikan yang dirasakan kurang tepat. Pendidikan sebagai upaya“memanusiakan manusia” tidak dapat dideskripsikan secara matematis. Aspek-aspek kemanusiaan tidak semuanya dapat dilakukan pengukuran secara mudah dan tepat, seperti perasaan, sikap, motivasi, semangat, dan sebagainya.
Blog, Updated at: 07.26

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts