Pemikiran IBN Khaldun Tentang Pengajaran

Pemikiran IBN Khaldun Tentang Pengajaran 
A. Fitrah Sebagai Potensialitas
Fitrah berasal dari bahasa Arab yang secara lugawi bermaksud: "Sifat segala wujud pada awal kejadiannya" atau "sifat dasar". Dalam terminologi Arab, terdapat pula istilah gharizah yang hampir semakna dengan fitrah. Gharizah bermakna "dorongan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan nalurinya". Keduanya merupakan sifat dasar manusia yang berbentuk potensi-potensi. Gharizah lebih bersifat instinktif biologis, terdapat pada hewan dan manusia, sedangkan fitrah bersifat psikofisis, hanya terdapat pada manusia.

Ibnu Khaldun memaknai fitrah sebagai potensi-potensi yang akan menjadi aktual setelah berinteraksi dengan alam lingkungan. Dikatakannya, jiwa apabila berada dalam fitrahnya, ia siap memperoleh kebaikan dan kejahatan yang datang merekat padanya. Ibnu Khaldun mendasarkan pendapatnya pada hadis yang bermakna: "setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi".

Hadis di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah potensi baik. Sebab pengertian menjadikan Yahudi, Nasrani, dan Majusi bermakna menyesatkannya. Artinya ibu bapak (milieu) yang menjadikan perkembangannya menyimpang dari sifat dasar yang baik itu; perkembangan fitrah yang dibawa lahir itu sangat besar disebabkan oleh interaksinya dengan lingkungan. 

Selanjutnya Ibnu Khaldun menegaskan:
… Kalau yang satu telah lebih dahulu (datang) menempel padanya, sifat yang lain akan jauh darinya, sehingga menjadi sukar baginya untuk memperoleh sifat yang telah menjauh itu. Orang yang memiliki sifat kebaikan itu telah terlebih dahulu mempengaruhi dirinya, sehingga telah menjadi sifat yang tertanam dalam jiwanya, ia akan terjauh dari kejahatan, dan sukar baginya untuk melakukan kejahatan itu. Demikian pula keadaannya dengan orang yang memiliki sifat kejahatan, apabila kebiasaan-kebiasaan yang jahat itu lebih dahulu sampai kepadanya, maka akan menjauh dari sifat kebaikan.

Dalam kutipan tersebut, Ibnu Khaldun percaya bahwa manusia pada dasarnya adalah baik, pengaruh-pengaruh yang datang kemudianlah yang akan menentukan apakah jiwa manusia tetap baik, atau menyimpang menjadi jahat. Jika pengaruh baik yang lebih dahulu datang, maka jiwa itu akan menjadi baik. Demikian pula sebaliknya. Ibnu Khaldun juga menegaskan, bahwa sifat kebaikan dan kejahatan itu telah tertanam sedemikian rupa, sehingga telah menjadi malakah-nya. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan malakah ialah sifat yang terbentuk yang telah mendarah-daging. Dengan demikian, dapat dikatakan kebiasaan yang dilakukan sehari-hari itulah yang menentukan siapa manusia itu.

Bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan dan apa yang biasa dilakukannya, bukan ditentukan oleh sifat atau watak dasarnya itu. Apa yang biasa dilakukannya dalam keadaan sehari-hari, sehingga telah menjadi prilaku (khuluq), sifat bentukan (malakah) dan kebiasaan ('adat). Hal itu menempati sifat dasar (tabi'at) dan watak asli (jibillah).

Ibnu Khaldun memperkuat teorinya dengan contoh empiris, bahwa mereka yang terbiasa hidup dikotori oleh berbagai macam hal tercela (mazmumah) dan kejahatan. Jalan menuju kebaikan sudah menjauh dari mereka sesuai dengan kejahatan yang mengotori jiwa. Mereka telah kehilangan kemampuan untuk menahan diri dari hawa nafsu. Kebiasaan buruk yang mengakar akan menjadi sulit menerima kebaikan dan nasehat.

Berdasarkan keterangan tersebut dapat diketahui bahwa manusia secara fitrah adalah baik. Menjadi jahat disebabkan faktor luar dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya.. Manusia adalah produk (anak) dari kebiasaan-kebiasaan dan segala sesuatu yang diciptakannya. Dia bukan produk dari tabiat dan temperamen dasarnya. 

Konsep fitrah menuntut pendidikan menanamkan tingkah laku yang baik-baik. Pendidikan harus "menghindari kebiasaan kebiasaan yang tidak baik"

Ibnu Khaldun memperkuat teorinya dengan membandingkan antara masyarakat pengembara (badui) dengan masyarakat metropolitan pada masa itu. Ia menjelaskan:
وأهل الحضر لكثرة ما يعانون من فنون الملاذ وعوائد الترف والإقبال على الدنيا والعكوف على شهواتهم منها وقد تلونت أنفسهم بكثير من مذمومات الخلق والشر وبعدت عليهم طرق الخير ومسالكه بقدر ما حصل لهم من ذلك حتى لقد ذهبت عنهم مذاهب الحشمة في أحوالهم فتجد الكثير منهم يقذعون في أقوال الفحشاء في مجالسهم وبين كبرائهم وأهل محارمهم لا يصدهم عنه وازع الحشمة لما أخذتهم به عوائد السوء في التظاهر بالفواحش قولا وعملا وأهل البدو وإن كانوا مقبلين على الدنيا مثلهم إلا أنهم في المقدار الضروري لا في الترف ولا في شيء من أسباب الشهوات واللذات ودواعيها فعوائدهم في معاملاتهم على نسبتها وما يحصل فيهم من مذاهب السوء ومذمومات الخلق بالنسبة إلى أهل الحضر أقل بكثير فهم أقرب إلى الفطرة الأولى وأبعد عما ينطبع في النفس من سوء الملكات بكثرة العوائد المذمومة وقبحها فيسهل علاجهم من علاج الحضر
Warga metropolitan umumnya bergelimang dalam kemewahan, mencari kesenangan keduniaan. Demikian biasanya mengikuti hawa nafsu, sehingga jiwanya telah dikotori oleh berbagai akhlak tercela dan kejahatan, jauh daripada jalan kebaikan. Mereka telah kehilangan kemampuan untuk menghindarinya. Sedangkan orang-orang pengembara, meskipun juga bergelimang dengan dunia, namun masih dalam batas kebutuhan, bukan dalam kemewahan, atau salah satu sebab timbulnya hawa nafsu dan kesenangan. Dibandingkan dengan warga metropolitan, jalan kejahatan dan sifat tercela yang nampak dalam tingkah lakunya jauh lebih sedikit. Mereka lebih dekat kepada fitrahnya semula. Mereka lebih mudah disembuhkan dari pada orang metropolitan.

Perbandingan yang dicermati Ibnu Khaldun tersebut, memperlihatkan bahwa manusia sangat ditentukan oleh apa yang biasa dilakukannya sehari-hari. Manusia diberi kemungkinan mendidik diri dan orang lain. Di sini tercermin pula, bahwa dia memiliki kemauan bebas (free will) untuk menentukan dirinya sendiri melalui ikhtiarnya. 

Ibnu Khaldun mengakui manusia mempunyai kesiapan menerima kebaikan dan keburukan sekaligus. Senada dengan Ibnu Khaldun, al-Ghazali berpandangan, bahwa setiap anak yang dilahirkan itu normal, dapat menerima yang baik dan yang buruk.

Baik al-Ghazali maupun Ibnu Khaldun keduanya jelas mengambil sikap yang sejalan dengan penegasan al-Qur'an tentang fitrah manusia. Allah SWT berfirman: "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia dengan fitrah itu…" (al-Rum: 30).

Tentang kebutuhan manusia terhadap pengajaran, Ibnu Khaldun menyatakan: "science education are natural to civilization". Ibnu Khaldun berasumsi, bahwa "jiwa rasional bertahan (dalam bentuknya semula) pada manusia hanya secara potensialitas". Transformasinya dari potensialitas ke aktualitas disebabkan dua hal. Pertama, disebabkan oleh celupan ilmu dan persepsi baru yang muncul lewat sensibilia. Kedua, oleh pencapaian terakhir ilmu melalui kekuatan spekulatif, hingga benar-benar menjadi persepsi aktual dan intelek murni, maka iapun menjadi essensi spiritual dan essensinya lalu mencapai kesempurnaan.

Bertolak dari asumsi tersebut Ibnu Khaldun mengatakan, bahwa pengajaran merupakan upaya tranformatif potensialitas manusia. Karenanya maka pengajaran memegang peranan penting dalam peradaban manusia. Ibnu Khaldun menjelaskan :

Manusia sebagaimana makhluk hewani lainnya juga mempunyai sifat-sifat hayawaniyah-nya seperti al-hiss (rasa), al-harakah (gerak), butuh al-qiza (makanan) dan tempat tinggal (al-kanni). Manusia berbeda dengan makhluk lain ialah manusia mempunyai potensi berfikir. Dengan potensi itu manusia dapat mencari keperluan hidup. Dengan potensinya, manusia dapat berinteraksi dengan sesamanya untuk tujuan-tujuan kesejahteraan hidup bersama. Juga dengan potensinya, manusia dapat menerima ajaran-ajaran dari Allah yang disampaikan oleh para Nabi kepadanya.

B. Teori Belajar 
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menguraikan gagasan-gagasan mengenai belajar. Sejumlah proposisi yang ditampilkannya berbentuk teori-teori tentang belajar. Semua konsep yang dikemukakannya, dibangun melalui konsep-konsep yang dikembangkan ahli psikologi skolastik.

Berdasarkan asumsi-asumsi psikologis sebagaimana telah diuraikan pada bagian terdahulu, maka dapat dirangkum beberapa teori belajar sebagai berikut:

1. Malakah
Malakah sesuai dengan asal katanya mengandung makna: "Menjadikan sesuatu untuk dimiliki atau dikuasai; suatu sifat yang mengakar pada jiwa" Ibnu Khaldun mendefinisikan malakah: "sifat yang berurat berakar, sebagai hasil belajar atau mengerjakan sesuatu berulang kali, sehingga hasilnya dan bentuk pekerjaan itu dengan kokoh tertanam dalam jiwa". Malakah dalam proses belajar adalah suatu tingkat pencapaian (achievement) dari penguasaan suatu materi keilmuan, ketrampilan dan sikap tertentu akibat dari suatu proses belajar secara intens, bersungguh-sungguh dan sistematis.

Ibnu Khaldun memaknai malakah berbeda dengan al-fahmu dan al-wa'yu. Pemahaman dimaksudkan sebagai kemampuan menangkap makna, seperti dapat menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri sesuatu yang dibaca dan didengarnya, atau dapat memberi contoh lain dari yang dicontohkan, atau dapat menggunakan petunjuk penerapan pada kasus lain. Sedangkan hafalan (al-wa'yu) menurut Taxonomi Bloom merupakan daya simpan berbagai pengetahuan, informasi dan simbol-simbol. Berbeda dengan pemahaman, hafalan lebih rendah jenjangnya. Meskipun dalam berbagai hal, hafalan merupakan kemampuan prasyarat untuk memperoleh kemampuan yang lebih tinggi.

Seseorang bisa memperoleh pemahaman dan hafalan, sama baiknya antara mereka yang benar-benar mendalami disiplin ilmu itu, atau sarjana yang pandai dengan pelajar baru atau orang awam. Sedangkan malakah secara eksklusif dimiliki orang-orang yang sungguh-sungguh mendalami disiplin ilmu tertentu. Malakah seluruhnya bersifat psikofisik (jismaniah, copereal), baik yang ada pada tubuh materi (al-badan) ataupun yang ada pada otak (al-dimagh, brain) hasil kemampuan berfikir, seperti aritmatika, dan lain-lain seperti rasa. Semua yang bersifat jasmaniah adalah sensibilia (mahsusah). Karena itu ia membutuhkan pengajaran.

Ibnu Khaldun menegaskan jiwa rasional terdapat pada manusia hanya secara potensial. Transformasinya dari potensialitas ke aktualitas, pertama-tama disebabkan oleh ilmu dan persepsi baru dari sensibilia (al-mahsusat). Kemudian oleh capaian terakhir pengetahuan melalui kekuatan spekulatif, hingga benar-benar menjadi persepsi aktual dan intelek murni, dan iapun menjadi essensi spiritual, maka eksistensi manusia lalu menjadi sempurna. Karena itu penting, bahwa tiap-tiap jenis pengalaman belajar (pengetahuan) dan penalaran menambah manfaat bagi jiwa rasional (dengan intelegensi tambahan). Di samping itu ketrampilan dan kebiasaannya selalu membawa pada perolehan hukum-hukum ilmiah yang berasal dari kebiasaan itu. Atas dasar karakteristik jiwa rasional yang bersifat dinamis dan progresif, maka pengalaman mendatangkan tambahan pada intelegensi. Kebiasaan-kebiasaan suatu ketrampilan mendatangkan tambahan intelegensi. Budaya hidup menetap yang mapan serta interaksi dengan orang lain menimbulkan tambahan lagi bagi intelegensi.

Ibnu Khaldun mengangkat contoh empirik yang paling dekat adalah karang mengarang. Dia berkaitan dengan kepentingan teoretik dan keilmuan. Kemampuan karang mengarang mencakup form-form yang berbentuk ungkapan verbal dan konsep yang berada di dalam jiwa. Dia selalu berangkat dari suatu simbol ke simbol yang lain. Karena itu, jiwa menjadi terbiasa mengulangi proses itu secara bertahap dan tetap. Dengan begitu, jiwa pun membutuhkan kebiasaan, berangkat dari mengulangi simbol-simbol kepada hal-hal yang dimaksudkan. Inilah apa yang disebut intellect speculation, awal pengetahuan tentang ilmu. Sebagai akibat dengan proses ini, orang mencapai kebiasaan intelek, pencerapan, pelekatan pencerahan kepada otak dan pemilikan secara utuh. Inilah yang diistilahkan dengan taraf pencapaian malakah bagi murid itu. Ia merupakan tambahan di dalam intelegensi. Kecuali itu, juga memberi tambahan wawasan ke dalam memahami persoalan dan pengertian yang ada dalam persoalan itu.

Ibnu Khaldun berasumsi, bahwa pengajaran adalah suatu sina'ah (teknologik, Franz Rosenthal menerjemahkan sina'ah dengan craft). Sebab, sina'ah dalam suatu sains, pengetahuan tentang aspek-aspek yang beragam, serta penguasaannya, merupakan akibat (hasil) dari malakah yang memberi kemungkinan bagi murid untuk menguasai semua pmnsip dasar dan kaedah-kaedahnya. Di sampling ita, juga untuk memahami problemnya dan menguasai detil-detilnya yang bersifat mendasar. Sejauh malakah tidak dicapai, maka keahlian dalam suatu disiplin tidak mungkin diporoleh.

Pemaknaan Ibnu Khaldun terhadap malakah menurut kutipan di atas, tidak sekedar insight yang mempunyai kecenderungan kognitif semata-mata, tetapi sekaligus kognitif, afektif dan pstkomotorik. Jadi belajar adalah upaya pencapaian malakah sekaligus dalam tiga domain tersebut.

a. Latihan al-Muhawarah dan al-Munazarah 
Metode yang paling mudah untuk mem peroleh malakah ialah melalui latihan. Ibnu Khaldun berargumentasi dengan mengangkat contoh konkrit tentang latihan dalam diskusi ilmiah, yaitu bagaimana mengungkapkan fikiran-fikiran dengan jelas dalam diskusi dan debat ilmiah. Anda dapatkan sejumlah murid yang rajin menghadiri pertemuan ilmiah secara tekun dan berperan aktif di dalamnya akan mendapatkan malakah yang sempurna. Sebaliknya, bagi yang pasif dan kurang perannya (umumnya diam dan tidak bicara) serta tidak terbat sepenuhnya, meskipun rajin menghadirinya, lebih banyak menaruh perhatian pada hafalan daripada yang dibutuhkan, tidak akan memperoleh malakah secara optimal. Mereka mengira, dengan cara belajar demikian, telah memperoleh malakah dalam satu bidang ilmu pengetahuan. Namun setelah berperan dalam suatu debat ilmiah atau diskusi tertentu, atau ketika ditugaskan memberi pelajaran, ternyata malakah ilmiah yang mereka dapati tidaklah seberapa. Mereka baru merasakan keterbatasan begini setelah mengalami kemacetan dalam pengajaran dan keterputusan tradisi keilmuan. Pengetahuan yang mereka hafal lebih banyak dari sarjana-sarjana lain, karena memang perhatian mereka terhadap hafalan begitu besarnya. Mereka mengira malakah ilmiah identik dengan pengetahuan hafalan.

b. Kontinuitas (ittisal) 
Untuk melengkapi pandangannya tentang teori malakah dalam belajar, Ibnu Khaldun mengutarakan prinsip kesinambungan merupakan unsur terpenting dalam belajar, yang dapat memperkuat malakah. Kesinambungan antara materi dalam pelajaran akan mengikat satu sama lain dan membantu terlaksananya proses belajar dalam waktu yang relatif singkat. Dengan metode yang pal­ing tepat dan menghasilkan hasil yang paling utama. Ibnu Khaldun menasehatkan, agar tidak memutuskan pelajaran dalam tenggang waktu yang lama. Pemutusan ini dapat menyebabkan ilmu atau ketrampilan yang sedang dipelajari tidak bulat dan utuh, serta mengakibatkan mudah lupa. Penting pula diperhatikan, agar tidak terlalu lama melantur pada satu masalah dan satu buku tertentu, sehingga dapat mengganggu jadwal belajar yang semestinya. Ini akan mengakibatkan timbulnya sifat pelupa pada murid, sehingga menceraiberaikan dan membuat terputus-putusnya berbagai bagian ilmu yang dipelajari. Hal itu, akan mempersulit mendapatkan malakah dalam ilmu yang dipelajarinya. Sebab apabila seluruh isi permasalahan, sejak permulaan sampai akhir, tercerap dan tercamkan dalam pikiran, maka berbagai keahlian akan mudah dicapai dan lebih mantap, karena diperolehnya melalui pengulangan-pengulangan tindakan dan kajian lanjutan. Karena itu bila tindakan itu dilupakan, maka keahlian yang dihasilkan juga akan dilupakan.

Disamping itu belajar yang tidak sistematis dan campur baur akan menimbulkan melemahnya pencapaian malakah. Akal menjadi kacau dan tidak terbentuk malakah yang bersih dari segala pembauran yang disebabkan oleh terbentuknya malakah-malakah lain dalam satu waktu. Dengan demikian terjadilah intervensi antar malakah, sehingga pembentukannya tidak sempurna. Apabila murid telah mencapai suatu malakah dalam satu disiplin ilmu tertentu, maka ia akan mempunyai kesiapan untuk menerima berbagai keahlian dalam disiplin ilmu yang lain. Motivasi belajar terbentuk lebih tinggi, giat menuntut yang lebih tinggi dari itu.

2. Tadri>j
Secara lugawi, tadrij adalah madar dari fi'il madi (kata kerja lampau), tadarraja artinya naik/maju/meningkat secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit. Ibnu Khaldun memaknai tadrij, tidak hanya maju atau meningkat secara kuantitas, tetapi juga disertai kualitas. Frans Rosenthal menerjemahkan tadrij itu dengan gradual.

Menurut teori ini, belajar yang efektif adalah dilakukan secara berangsur-angsur, setahap demi setahap dan secara terus menerus. Teori ini dibangun berlandaskan asumsi, bahwa kemampuan manusia adalah terbatas. Kerja akal berjalan secara bertahap. Karena itu proses belajar berlangsung sesuai dengan kebertahapan kerja akal manusia.

Pada bagian berdahulu telah diuraikan, bahwa kemampuan intelek manusia berproses dalam tiga tahapan. Mulai tamyizi, seterusnya tajribi dan nazari. Atas dasar itu dilihat dari sudut perkembangan manusia, belajar harus berjalan bertahap dan kontinu sejak dini. Di sisi lain, dilihat dari segi kemampuan akal dan proses potensi psikologik yang tumbuh tidak serempak, maka proses belajar dalam suatu waktu harus berjalan bertahap. Akal mulai mengerti masalah-masalah yang paling sederhana dan mudah, kemudian meningkat perlahan mengerti dan menguasai hal-hal yang agak kompleks, kemudian lebih kompleks, sangat kompleks dan demikian seterusnya.

Pada bagian lain, dalam uraiannya tentang ketrampilan motorik manusia, dia mengatakan keahlian adalah sifat dan corak jiwa yang tidak tumbuh serempak. Berdasarkan sifat jiwa tersebut, maka pencapaian malakah ketrampilan motorik tertentu baru akan sempurna melalui latihan tadrij (bertahap) dan ittisal (berkesinambungan).

Argumentasi lain untuk menguatkan teori ini, Ibnu Khaldun mengemukakan, bahwa salah satu karakteristik akal manusia adalah belajar sesuai dengan kaedah logika yang teratur, yaitu bertahap mulai dari yang mudah dan sederhana kepada yang sulit, dalam menyingkap dan mendalami hakikat.

Teori tadrij ini mempunyai implikasi pengajaran, bahwa metode pengajaran dituntut berlangsung dalam tahap-tahap yang dipersiapkan. Untuk mendukung teori malakah dan tadrij tersebut, Ibnu Khaldun mengutarakan hukum-hukum yang menyertainya.

3. Pengulangan (takraf) dan kebiasaan (‘adati)
Sesuai dengan teori tadrij, maka diperlukan pula penstrukturan logis setiap tahapan belajar. Setiap tahap belajar memerlukan pengulangan untuk mencapai kebiasaan. Belajar akan efektif dengan pengulangan dan pembiasaan. Akan tetapi pengulangan (takraf) setiap materi dilakukan dalam tiga kali ulang. Dalam beberapa hal, ulangan yang berkali-kali itu memang diperlukan. Akan tetapi tergantung pada pokok bahasan atau skill tingkat kemampuan dan kecerdasan murid. Argumentasinya ialah karena ketrampilan dan penguasaan aspek-aspek yang beragam dalam suatu disiplin ilmu atau skill tertentu merupakan akibat dari kebiasaan. Pengulangan dan kebiasaan memberikan kemungkinan pada murid untuk memahami prinsip-prinsip dan kaedah-kaedahnya.

Ibnu Khaldun mendasarkan teorinya pada pengamatan terhadap beberapa fen'omena, antara lain ketrampilan teknik yang berkembang dalam masyarakat. Teknik industri yang berakar dalam masyarakat tertentu, juga disebabkan antara lain oleh kebiasaan yang dipraktekkan berulang kali. Dia menegaskan teknik industri (al-sina'ah) merupakan kebiasaan dan warna peradaban ('awa'id li al-'umran). Sina'ah akan berurat berakar dalam masa yang lama melalui pengulangan dan pembiasaan. Pewarnaannya akan benar-benar terbentuk, berurat berakar dari generasi ke generasi. Sekali pewarnaan semacam itu terbentuk secara kokoh, ia sukar diubah.

Teknik kitabah (menulis) misalnya, mutu malakah-nya sangat dipengaruhi oleh latihan dan pembiasaan. Transformasi kemampuan kitabah dari potensialitas ke aktualitas melalui pengajaran dan latihan. Di samping murid belajar berlatih kaedah-kaedah dan hukum-hukum penulisan, mereka juga lebih didekatkan kepada praktek, sehingga antara tingkatan ilmu dan rasa (feeling) benar-benar mengakar, maka malakah pun muncul dalam bentuk yang lebih sempurna.

Harus diakui bahwa lupa merupakan sesuatu yang tercela dalam proses belajar. Setiap orang dapat lupa, karena sifat umum manusia. Dalam proses waktu, semakin lama sesuatu yang sudah dikuasai terpendam dalam ingatan, semakin banyak pula yang dilupakan, meskipun mungkin tidak lupa secara keseluruhan. Karena itu lupa merupakan gejala psikologis yang harus diatasi.

Bertolak dari itu, maka untuk mengatasi kelupaan, diperlukan ulangan, yaitu mengulang-ulang suatu fakta atau ketrampilan motorik yang sudah dikuasai. Dengan peng­ulangan, kemampuan malakahnya akan semakin bertambah. Bahkan mengingat kembali akan lebih kokoh. Hanya perlu ditegaskan, bahwa kegiatan mengulang harus disertai (konsentrasi) fikiran dan bertujuan. Ulangan tanpa (konsentrasi) fikiran bahkan akan sia-sia. Mengulang itu juga tidak sampai menimbulkan kejenuhan. Karena itu harus dipadukan dengan faktor-faktor psikologis yang lain.

C. Teori Pembelajaran
Sesuai dengan teori-teori belajar dan hukum-hukumnya, Ibnu Khaldun menampilkan pokok-pokok pemikiran tentang metodologi pengajaran. Metode yang lazim dipakai pada saat itu adalah drill dan penghafalan (tahfiz), sehingga timbul gejala verbalistik dan membeo. Reaksi Ibn Khaldun terhadap realitas ini berupa gagasan pengajaran tiga tahap. Dimulai dari global (al-ijmal), kemudian tahap pengembangan (al-syarh wa al-bayan), lalu penyimpulan (takhallus).

1. Penyajian Global 
Pertama-tama, guru menyajikan kepada murid hal-hal pokok, problem-problem prinsipil dari setiap materi pembahasan dalam bab-bab, dari suatu disiplin/aspek ketrampilan. Keterangan-keterangan diberikan secara global (ijmal) dengan memperhatikan potensi intelek dan kesiapan (isti'dad) murid untuk menangkap apa yang diajarkan kepadanya. Apabila dengan jalan itu seluruh pembahasan pokok telah dikuasai, maka dia telah memperoleh suatu malakah dalam cabang ilmu yang dipelajarinya, meskipun barulah sebagai malakah yang belum lengkap, masih bersifat parsial. Hasil keseluruhannya ialah bahwa malakahnya itu telah menjadi bekal awal (entry behavior) untuk menyiapkan dia agar memahami pembahasan pokok itu secara keseluruhan dengan segala seluk beluknya. Ibnu Khaldun menyebut langkah ini sebagai tahap penyajian global (ijmal).

2. Pengembangan 
Guru menyajikan dan melatihkan kembali pengetahuan atau ketrampilan dalam pokok bahasan itu kepada murid dalam taraf yang lebih tinggi. Kali ini guru tidak boleh puas hanya dengan cara global (ijmal) saja, tetapi dia harus menyertakan ulasan tentang berbagai aspek yang menjadi kontradiksi di dalamnya. Disertakan pula ragam pandangan (teori) yang terdapat pada materi tersebut. Pada tahap ini pembahasan keseluruhannya sekali lagi diliput hingga malakah murid menjadi lebih disempurnakan.

Tahap ini dapat disebut dengan tahap pengembangan (al-syarh wa al-bayan) sebab di sini materi pelajaran lebih dikonkritkan pula dengan berbagai contoh (termasuk peragaan) dan perbandingan-perbandingan seperlunya.

3. Penyimpulan 
Guru menyajikan (sekali lagi) pokok bahasan itu, namun kali terakhir ini secara lebih mendalam dan rinci dalam konteks yang menyeluruh, sambil memperdalam aspek-aspeknya dan menajamkan pemahamannya. Semua masalah yang dipandang urgen dan sulit serta kabur harus dituntaskan. Pada tahap pemungkasan ini memungkinkan pencapaian malakah murid akan lebih sempurna.

Proses belajar berakhir setelah tiga tahap penstrukturan. Dalam beberapa hal ulangan yang berkali-kali itu tidak dibutuhkan. Sebagian pelajar yang cerdas, kadangkala hanya memerlukan dua langkah saja di dalam proses pengajaran. Inipun tergantung pada keahlian sang guru..

Ibnu Khaldun mengemukakan teori penstrukturan pengajaran tiga tahap ini setelah hasil analisis observasi terhadap metodologi pengajaran yang diterapkan pada masa itu. Ibnu Khaldun mengemukakan pengalaman-pengalaman yang sedang berlangsung pada masanya.

Kita menyaksikan banyak guru saat ini yang tidak tahu sama sekali tentang metode-metode mengajar. Akibatnya, sejak dari permulaan, mereka memberikan kepada murid masalah-masalah yang sukar dari ilmu pengetahuan yang dipelajari, dan menuntut kepada mereka supaya memeras otak untuk memecahkan masalah. Mereka mengira, bahwa cara yang demikian itu merupakan latihan dalam ilmu, dan karenanya memaksa supaya pelajar itu mesti memahami persoalan-persoalan itu. Para guru membimbing murid dengan mengajarkan kepada mereka pada permulaan pelajaran bagian-bagian paling lanjut dari ilmu yang dipelajari, sebelum pelajar-pelajar mempunyai kesiapan untuk memahami bagian-bagian itu.

Melalui kutipan tersebut dapat diketahui pula, bahwa Ibnu Khaldun sangat mementingkan kesiapan dalam belajar. Dalam hal ini ia lebih lanjut berargumentasi, bahwa kesiapan dan kesanggupan untuk memahami sesuatu ilmu/ketrampilan hanyalah berkembang sedikit demi sedikit. Pada permulaannya murid itu belum sanggup menyerap pengertian-pengertian secara komplit, kecuali sedikit. Umumnya hal-hal yang diberikan terserap secara global saja dengan bantuan contoh-contoh yang mudah dipahami dan jelas. Kemudian kesiapan (isti'dad) itu tumbuh berkembang setahap demi setahap melalui pengulangan terhadap ilmu/ketrampilan yang dipelajari, sehingga mereka kemudian menjadi lebih siap dan sanggup memahami pokok-pokok persoalan ilmu tersebut. Tetapi jika terus saja diterjunkan ke dalam masalah-masalah yang membingungkan dan sukar, selagi mereka belum terlatih dan belum sanggup memahami, maka otaknya akan jemu dengan masalah-masalah itu; dan ia akan menganggap ilmu itu sendiri sukar. Dengan demikian, usahanya untuk memahami akan kendur, serta menjauhkan diri sekalipun sebenarnya kesulitan itu timbul dari cara mengajar yang tidak benar.

Prinsip kesiapan (isti'dad) merupakan aspek penting dalam pemikiran metodologis pengajaran ini. Sebab tujuan belajar yang utama ialah bahwa apa yang dipelajari itu berguna di kemudian hari, yaitu membantu murid untuk dapat belajar terus dengan cara yang semakin praktis. Dalam teori belajar modern disebut dengan trans­fer belajar. Apa yang dipelajari murid dalam saat tertentu memungkinkannya untuk dapat memahami hal-hal lain. Selanjutnya Ibnu Khaldun menegaskan:

Adalah suatu hal yang penting, agar tidak mencampuradukkan antara masalah yang diberikan dalam buku (pelajaran) dengan masalah lain, hingga murid menguasai benar buku (pelajaran) itu. Tindakan ini membuat murid memperoleh malakah yang bisa dipergunakan untuk memahami masalah-masalah lain. Sebab seorang murid yang telah memperoleh satu malakah dalam satu cabang ilmu pengetahuan akan menjadi siap mempergunakan malakahnya itu untuk disiplin ilmu pengetahuan yang lain. Terutama dia akan mengembangkan (motivasi) keinginan belajar lebih serius dan meningkat lebih tinggi lagi hingga menguasai benar ilmu pengetahuan tersebut secara keseluruhan. Tetapi bila banyak masalah sekaligus dihadapkan kepadanya, dia tidak akan sanggup memahami itu semuanya, dia akan merasa jenuh dan tak sanggup bekerja, bahkan dia putus asa, dan akhirnya akan meninggalkan pelajarannya (drop out).

Ibnu Khaldun berpendirian demikian, disebabkan tujuan pelajaran bukan hanya penguasaan prinsip-prinsip dasar (ijmal) yang fundamental, melainkan juga mengembangkan sikap positif dalam diri murid agar dapat belajar secara terus menerus (continuing learning).

Di samping itu Ibnu Khaldun mengemukakan pula akan pentingnya ittisal dalam penstrukturan pengajaran. Ia menegaskan :

Adalah suatu hal yang penting juga, agar tidak terlalu lama melantur dalam satu masalah dan satu buku, dengan mengganggu waktu belajar yang tak semestinya. Sebab ini akan membawa sifat pelupa kepada murid, sehingga menceraiberaikan dan membuat terputus-putusnya berbagai bagian ilmu yang dipelajarinya, yang membuat lebih sukar lagi perolehan malakah dalam ilmu yang bersangkutan. Sebab apabila seluruh isi permasalahan, sejak permulaan sampai akhir, tercerap dalam pikiran dan tidak lupa, maka berbagai malakah lain akan lebih mudah dicapai dan lebih mantap, karena diperoleh melalui pengulangan-pengulangan dan kajian lanjutan. Karena itu bila tindakan itu dilupakan, maka malakah yang dihasilkan juga akan dilupakan.
Blog, Updated at: 05.45

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts