Pengembangan Profesionalitas Guru

Pengembangan Profesionalitas Guru 
Peningkatan kompetensi kepribadian dan sosial dilakukan secara terpadu dengan kegiatan diklat, yakni melalui: 1) pelaksanaan pelatihan yang professional, dan (2) pembiasaan berperilaku sebagai guru yang memiliki kompetensi kepribadian dan sosial. Pelaksanaan pelatihan yang professional adalah pelatihan yang diselenggarakan dengan baik, misalnya materi disiapkan dengan baik, instruktur sesuai dengan keahliannya, tempat pelatihan nyaman, dan pelatihan dilaksanakan sesuai dengan jadwal. Sedangkan pembiasaan berperilaku sebagai guru yang memiliki kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dilakukan dengan cara peserta diklat selalu diingatkan secara lisan ataupun tulisan yang ditempel di tempat diklat bahwa mereka harus berpakaian rapi, berperilaku santun, dan mampu bekerjasama. Di samping itu, peserta diklat juga akan dinilai oleh teman sesama diklat mengenai kompetensi kepribadian dan kompetensi sosialnya.

Garis besar materi pelatihan tentang kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial, terdiri atas: 
  1. Profesionalisme guru, 
  2. Kompetensi kepribadian,
  3. Kompetensi sosial,
  4. Kedisiplinan (ketaatan mengikuti tata tertib),
  5. Penampilan (kerapian dan kewajaran), 
  6. Kesantunan berperilaku,
  7. Kemampuan bekerjasama, 
  8. Kemampuan berkomunikasi, 
  9. Komitmen,
  10. Keteladanan, 
  11. Semangat, 
  12. Empati, dan
  13. Tanggung jawab. 
Keseluruhan aspek-aspek tersebut tercakup dalam sajian dan pembahasan mengenai pendidikan karakter.

A. Profesionalisme Guru 
  • Guru professional memiliki beberapa ciri sebagai berikut. 
  • Selalu membuat perencanaan konkrit dan detail yang siap untuk dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. 
  • Berkehendak mengubah pola pikir lama menjadi pola pikir baru yang menempatkan peserta didik sebagai arsitek pembangun gagasan dan guru berfungsi untuk “melayani” dan berperan sebagai mitra peserta didik supaya peristiwa belajar bermakna dan berlangsung pada semua individu 
  • Bersikap kritis dan berani menolak kehendak yang kurang edukatif. 
  • Berkehendak mengubah pola tindak dalam menetapkan peran peserta didik, peran guru, dan gaya mengajar. Peran peserta didik digeser dari peran sebagai “konsumen” gagasan (seperti: menyalin, mendengar, menghafal) ke peran sebagai “produsen” gagasan (seperti: bertanya, meneliti, mengarang, menulis kisah sejarah). Peran guru harus berada pada fungsi sebagai “fasilitator” (pemberi kemudahan pada peristiwa belajar) dan bukan pada fungsi sebagai penghambat peristiwa belajar. Gaya mengajar lebih difokuskan pada “model pembelajaran “ dan “pengkondisian” daripada model “latihan” (drill) dan “pemaksaan” (indoktrinasi). 
  • Berani meyakinkan pada sekolah, orang tua, dan masyarakat agar dapat berpihak pada mereka terhadap beberapa inovasi pendidikan yang edukatif yang cenderung sulit diterima oleh awam dengan menggunakan argumentasi logis dan kritis. 
  • Bersikap kreatif dalam membangun dan menghasilkan karya pendidikan, seperti: pembuatan alat bantu mengajar, analisis materi pembelajaran, penyusunan alat penilaian yang beragam, perancangan beragam organisasi kelas, dan perancangan kebutuhan kegiatan pembelajaran lainnya. 
B. Kompetensi Guru
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan, pada pasal 2 ayat (5) dinyatakan bahwa Guru dalam jabatan yang tidak lulus penilaian portofolio dapat: 
  • Melakukan kegiatan-kegiatan untuk melengkapi dokumen portofolio agar mencapai nilai lulus; atau
  • Mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru yang diakhiri dengan ujian; sesuai persyaratan yang ditentukan oleh perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi. 
Selanjutnya, berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, pada pasal 1 ayat (1) disebutkan: Setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional. Ayat (2) Standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tanggal 4 Mei 2007, padaabagian B tentang Standar Kompetensi Guru dinyatakan bahwa Standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. Selanjutnya ditegaskan bahwa standar kompetensi guru mencakup kompetensi inti guru yang dikembangkan menjadi kompetensi guru PAUD/TK/RA, Guru Kelas SD/MI, dan guru mata pelajaran pada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK.

Dalam kajian ini, uraian tentang kompetensi guru dibatasi pada pengembangan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial sebagai berikut.

Kompetensi Kepribadian Guru TK/PAUD
No
KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI GURU TK/PAUD
1
Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia
1.1  Menghargai peserta didik tanpa membedakan keyakinan yang dianut, suku, adat-istiadat, daerah asal, dan gender
1.2 Bersikap sesuai dengan norma agama yang dianut, hukum dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat, serta kebudayaan nasional Indonesia yang beragam
2.
Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat
2.1 Berperilaku jujur, tegas, dan manusiawi
2.2 Berperilaku yang mencerminkan ketakwaan, dan akhlak mulia.
2.3 Berperilaku yang dapat diteladani oleh peserta didik dan anggota masyarakat di sekitarnya.
3.
Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
3.1 Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap dan stabil.
3.2 Menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, arif, dan berwibawa.
4.
Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri
4.1 Menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi.
4.2 Bangga menjadi guru dan percaya pada diri sendiri.
4.3 Bekerja mandiri secara profesional.
5.
Menjunjung tinggi kode etik profesi guru
5.1 Memahami kode etik profesi guru.
5.2 Menerapkan kode etik profesi guru.
5.3 Berperilaku sesuai dengan kode etik guru




Kompetensi  Sosial   Guru

TK/PAUD
No
KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI GURU TK/PAUD
6.
Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
6.1 Bersikap inklusif dan objektif terhadap peserta didik, teman sejawat dan lingkungan sekitar dalam melaksanakan pembelajaran.
6.2 Tidak bersikap diskriminatif terhadap peserta didik, teman sejawat, orang tua peserta didik dan lingkungan sekolah karena perbedaan agama, suku, jenis kelamin, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
7.
Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat
7.1 Berkomunikasi dengan teman sejawat dan komunitas ilmiah lainnya secara santun, empatik, dan efektif.
7.2 Berkomunikasi dengan orang tua peserta didik dan masyarakat secara santun, empatik, dan efektif tentang program pembelajaran dan kemajuan peserta didik.
7.3 Mengikutsertakan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam program pembelajaran dan dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik.
8.
Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya
8.1 Beradaptasi dengan lingkungan tempat bekerja dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik, termasuk memahami bahasa daerah setempat.
8.2 Melaksanakan berbagai program  dalam lingkungan kerja untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah yang bersangkutan
9.
Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.
9.1 Berkomunikasi dengan teman sejawat profesi ilmiah, dan komunitas ilmiah lainnya melalui berbagai media dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan
9.2 Mengkomunikasikan hasil-hasil inovasi pembelajaran kepada komunitas profesi sendiri secara lisan dan tulisan atau bentuk lain




Kompetensi Kepribadian
Guru Kelas SD/MI



No
KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI GURU KELAS SD/MI
1.
Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia
1.1  Menghargai peserta didik tanpa membedakan keyakinan yang dianut, suku, adat-istiadat, daerah asal, dan gender
1.2  Bersikap sesuai dengan norma agama yang dianut, hukum dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat, serta kebudayaan nasional Indonesia yang beragam

2.
Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
2.1 Berperilaku jujur, tegas, dan manusiawi
2.2 Berperilaku yang mencerminkan ketakwaan, dan akhlak mulia.
2.3 Berperilaku yang dapat diteladani oleh peserta didik dan anggota masyarakat di sekitarnya.
3.
Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
3.1 Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap dan stabil.
3.2 Menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, arif, dan berwibawa.
4.
Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri
4.1 Menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi.
4.2 Bangga menjadi guru dan percaya pada diri sendiri.
4.3 Bekerja mandiri secara profesional.
5.
Menjunjung tinggi kode etik profesi guru
5.1 Memahami kode etik profesi guru.
5.2 Menerapkan kode etik profesi guru.
5.3 Berperilaku sesuai dengan kode etik profesi guru




Kompetensi Sosial Guru
Kelas SD/MI



6.
Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
6.1 Bersikap inklusif dan objektif terhadap peserta didik, teman sejawat dan lingkungan sekitar dalam melaksanakan pembelajaran.
6.2 Tidak bersikap diskriminatif terhadap peserta didik, teman sejawat, orang tua peserta didik dan lingkungan sekolah karena perbedaan agama, suku, jenis kelamin, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
7.
Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga
7.1 Berkomunikasi dengan teman sejawat dan komunitas ilmiah lainnya secara santun, empatik, dan efektif.

kependidikan, orang tua, dan masyarakat
7.2 Berkomunikasi dengan orang tua peserta didik dan masyarakat secara santun, empatik, dan efektif tentang program pembelajaran dan kemajuan peserta didik.
7.3 Mengikutsertakan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam program pembelajaran dan dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik.

8.
Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya
8.1 Beradaptasi dengan lingkungan tempat bekerja dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik, termasuk memahami bahasa daerah setempat.
8.2 Melaksanakan berbagai program  dalam lingkungan kerja untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah yang bersangkutan.

9.
Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.
9.1 Berkomunikasi dengan teman sejawat profesi ilmiah, dan komunitas ilmiah lainnya melalui berbagai media dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan
9.2 Mengkomunikasikan hasil-hasil inovasi pembelajaran kepada komunitas profesi sendiri secara lisan dan tulisan atau bentuk lain




Kompetensi Kepribadian
Guru Mata Pelajaran



No
KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI GURU MATA PELAJARAN
1.
Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia
1.1 Menghargai peserta didik tanpa membedakan keyakinan yang dianut, suku, adat-istiadat, daerah asal, dan gender
1.2 Bersikap sesuai dengan norma agama yang dianut, hukum dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat, serta kebudayaan nasional Indonesia yang beragam
2.
Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat
2.1 Berperilaku jujur, tegas, dan manusiawi
2.2. Berperilaku yang mencerminkan ketakwaan  dan akhlak mulia
2.3 Berperilaku yang dapat diteladani oleh peserta didik dan anggota masyarakat di sekitarnya.
3.
Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
3.1 Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap dan stabil.
3.2 Menampilkan diri sebagai pribadi yang
      dewasa, arif, dan berwibawa
4.
Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan
rasa percaya diri
4.1 Menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi.
4.2 Bangga menjadi guru dan percaya pada diri.
      sendiri.
4.3 Bekerja mandiri secara profesional
5.
Menjunjung tinggi kode etik profesi guru
5.1 Memahami kode etik profesi guru.
5.2 Menerapkan kode etik profesi guru.
5.3 Berperilaku sesuai dengan kode etik profesi guru



Kompetensi Sosial Guru

Mata Pelajaran



No
KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI GURU MATA PELAJARAN
6.
Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
6.1 Bersikap inklusif dan objektif terhadap peserta didik, teman sejawat dan lingkungan sekitar dalam melaksanakan pembelajaran.
6.2 Tidak bersikap diskriminatif terhadap peserta didik, teman sejawat, orang tua peserta didik dan lingkungan sekolah karena perbedaan agama, suku, jenis kelamin, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
7.
Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat
7.1 Berkomunikasi dengan teman sejawat dan komunitas ilmiah lainnya secara santun, empatik, dan efektif.
7.2 Berkomunikasi dengan orang tua peserta didik dan masyarakat secara santun, empatik, dan efektif tentang program pembelajaran dan kemajuan peserta didik.
7.3 Mengikutsertakan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam program pembelajaran dan dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik.
8.
Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya
8.1 Beradaptasi dengan lingkungan tempat bekerja dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik, termasuk memahami bahasa daerah setempat.
8.2 Melaksanakan berbagai program  dalam lingkungan kerja untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah yang bersangkutan.
9.
Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.
9.1 Berkomunikasi dengan teman sejawat profesi ilmiah, dan komunitas ilmiah lainnya melalui berbagai media dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan
9.2 Mengkomunikasikan hasil-hasil inovasi pembelajaran kepada komunitas profesi sendiri secara lisan dan tulisan atau bentuk lain

Intisari dari kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial tersebut di atas berkaitan dengan aspek-aspek: 
  1. Kedisplinan (ketataatan mengikuti tata tertib), 
  2. Penampilan (kerapian dan kewajaran), 
  3. Kesantunan berperilaku, 
  4. Kemampuan bekerja sama, 
  5. Kemampuan berkomunikasi, 
  6. Komitmen, 
  7. Keteladanan, 
  8. Semangat, 
  9. Empati, dan 
  10. Tanggung jawab. 
Untuk menanamkan nilai-nilai tersebut di atas, perlu dilaksanakan pendidikan karakter di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Guru atau pendidik sebagai agen pembelajaran harus menjadi teladan atau contoh bagi peserta didik. Demikian juga halnya dalam pengembangan kompetensi kepribadian dan sosial bagi guru, dapat dilakukan melalui pendidikan karakter dengan pendekatan komprehensif.

Pengembangan Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Sosial melalui 
Pendidikan Karakter
A. Rasional
Sejak beberapa tahun terakhir ini, pelaksanaan pendidikan karakter yang komprehensif, yang mencakup pendidikan nilai-nilai atau pendidikan moral, telah meningkat tajam di seluruh penjuru dunia. Hal ini muncul sebagai persoalan menonjol dalam rangka melaksanakan pendidikan moral, pendidikan nilai-nilai, etika, atau pendidikan budi pekerti. Pendidikan karakter sebagai bagian dari pendidikan secara umum, merupakan persoalan penting yang harus dilakukan di sekolah-sekolah, keluarga-keluarga, dan masyarakat untuk membantu anak-anak muda supaya mereka mengerti, memahami, dan berperilaku atas landasan nilai-nilai etika yang luhur.

Pelaksanaan pendidikan karakter ini, dilandasi oleh tiga alasan penting sebagai berikut. Pertama, perlunya karakter yang baik untuk menjadi bagian yang utuh dalam diri manusia. Pendidik perlu memiliki pikiran yang kuat, hati dan kemauan yang berkualitas, seperti memiliki kejujuran, empati, perhatian, disiplin diri, ketekunan dan dorongan moral yang kuat untuk bisa bekerja dengan rasa cinta sebagai ciri kematangan hidup manusia. Alasan kedua, sekolah adalah merupakan tempat yang baik dan lebih kondusif untuk melaksanakan proses pembelajaran dan pendidikan nilai-nilai. Alasan ketiga, bahwa hal ini sangat esensial untuk membangun masyarakat bermoral. Hal ini sangat penting dan mendesak, karena hampir seluruh masyarakat di dunia sedang mengalami bermacam-macam masalah sosial dan masalah moral, seperti perpecahan dalam kehidupan keluarga, hubungan seksual di luar nikah, meningkatnya pemberontakan anak-anak remaja, tumbuhnya sifat-sifat materialistis, meningkatnya ketidakjujuran, kemerosotan kesopanan dalam kehidupan sehari-hari, penyalahgunaan obat bius dan alkohol, meningkatnya masalah hamil muda, kelahiran di luar perkawinan, kasus bunuh diri, penyebaran penyakit kelamin, ketidaksetiaan dalam perkawinan, dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan perilaku menyimpang.

Menurut Thomas Lickona (1992), paling sedikit terdapat sepuluh butir kecenderungan remaja yang nampak dalam perilakunya sehari-hari, antara lain (1) meningkatnya pemberontakan remaja; (2) meningkatnya ketidakjujuran, seperti suka ’nyontek’, bolos dari sekolah dan suka mencuri; (3) berkurangnya rasa hormat terhadap orang tua, guru, dan pemimpin; (4) meningkatnya kelompok teman sebaya yang kejam dan bengis; (5) munculnya kejahatan dan perampokan; (6) berbahasa tidak sopan; (7) merosotnya etika dan etos kerja; (8) meningkatnya sifat-sifat mementingkan diri sendiri dan kurangnya rasa tanggung jawab sebagai warganegara; (9) timbulnya gelombang perilaku yang menyimpang, seperti perilaku seksual prematur, penyalahgunaan obat terlarang dan parilaku bunuh diri; dan (10) tumbuhnya ketidaktahuan sopan-santun, termasuk mengabaikan pengetahuan moral sebagai dasar hidup, seperti suka memeras, tidak menghormati peraturan-peraturan, dan perilaku yang membahayakan terhadap diri sendiri dan orang lain.

Untuk merespon gejala kemerosotan moral tersebut, telah mendorong minat untuk melaksanakan pendidikan karakter di berbagai negara dan makin terorganisasi melalui organisasi seperti: ”The Character Education Partnership, The Character Counts Coalition, and the Communication Network” (Lickona, 1996: 94).

B. Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter
  • Untuk melaksanakan pendidikan karakter yang efektif, paling sedikit terdapat sebelas prinsip yang perlu diperhatikan. 
  • Pndidikan karakter hendaknya mengembangkan ”Core Ethical Values” sebagai basis dari karakter yang baik.Dasar pelaksanaan pendidikan karakter berawal dari prinsip-prinsip filosofi, yang secara obyektif menganggap bahwa nilai-nilai etika yang murni atau inti, seperti kepedulian, kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab, dan rasa hormat pada diri sendiri dan orang lain adalah sebagai basis daripada karakter yang baik. 
  • Karakter, harus didefinisikan secara komprehensif, termasuk pikiran, perasaan, dan perilaku. Dalam program pendidikan karakter yang umumnya menyentuh ranah afektif, karakter mengandung makna yang lebih luas, meliputi aspek-aspek kognitif, emosi, dan aspek perilaku dalam kehidupan moral. Karakter yang baik terdiri atas pemahaman, kepedulian tentang nilai-nilai etika dasar, dan tindakan atas dasar nilai-nilai etika yang inti. 
  • Pendidikan karakter yang efektif menuntut niat yang sungguh-sungguh, proaktif dan melakukan pendekatan komprehensif yang dapat memacu nilai-nilai inti pada semua tahap kehidupan sekolah. Sekolah-sekolah dalam melaksanakan pendidikan karakter, perhatikanlah karakter itu melalui lensa moral dan lihat bagaimana sebenarnya segala sesuatu yang berpengaruh terhadap nilai-nilai di sekoah dan karakter para peserta didik. 
  • Sekolah harus menjadi ”a caring community”. Sekolah itu sendiri harus menampakkan dirinya sebagai lembaga pendidikan yang memiliki karakter yang baik. Hal ini harus dipacu untuk maju menjadi sebuah mikrokosmos bagi rakyat banyak, menjadi masyarakat yang mantap dan peduli serta kreatif.Sekolah dapat berbuat demikian dengan menjadikan sekolah sebagai masyarakat bermoral yang bisa menolong para peserta didik untuk membina rasa kasih saying dan rasa hormat kepada orang tua, guru, dan orang lain. 
  • Untuk mengembangkan karakter, peserta didik memerlukan kesempatan untuk berprilaku moral. Dalam tata susila seperti pada kawasan intelektual, para peserta didik menjadi pelajar yang konstruktif, mereka belajar dengan baik sambil bekerja. Untuk mengembangkan karakter, mereka memerlukan banyak kesempatan yang bervariasi untuk mengaplikasikan nilai-nilai, seperti tanggung jawab dan kejujuran pada interaksi dan diskusi-diskusi setiap hari. 
  • Pendidikan karakter yang efektif harus melibatkan kurikulum akademik yang menantang dan bermakna, yang memperhatikan semua peserta didik dan membantunya untuk mencapai hasil belajar. Pendidikan karakter dan pengetahuan akademik harus disusun secara terintegrasi dan saling mendukung antara yang satu dengan yang lain. 
  • Pendidikan karakter hendaknya berupaya untuk mengembangkan motivasi instrinsik para peserta didik. Sebagai peserta didik yang sedang mengembangkan karakter yang baik, mereka harus membangkitkan kemauan kuat dari dalam batin sendiri untuk mengerjakan apa yang menurut pertimbangan moral mereka, adalah benar. Sekolah, khususnya dalam menggunakan pendekatan disiplin, harus berusaha untuk mengembangkan kemauan intrinsik terhadap nilai-nilai inti. 
  • Staf sekolah (kepala sekolah, guru-guru, dan pegawai) harus menjadi masyarakat belajar dan bermoral dalam mana semua bagian bertanggung jawab pada pendidikan karakter dan berusaha untuk mengikuti dengan setia nilai-nilai inti yang sama, yang dapat membimbing pendidikan pada para peserta didik. Dalam hubungan ini, ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, semua staf sekolah, guru-guru, administrator, konselor, pelatih, sekretaris, pekerja cafetaria, alat-alat permainan lapangan, semuanya harus dilibatkan dalam kegiatan belajar, diskusi-diskusi dan berbicara tentang usaha-usaha pendidikan karakter. Semua orang dewasa hendaknya menjadi model dari nilai-nilai inti dalam setiap perilakunya dan memberi manfaat pada kesempatan-kesempatan lain yang mereka miliki untuk mempengaruhi peserta didik, dengan siapa saja mereka bertemu. Kedua, nilai-nilai dan norma-norma yang sama yang membentuk kehidupan para peserta didik hendaknya terbentuk dalam kehidupan bersama dengan orang dewasa dalam masyarakat sekolah. Ketiga, sekolah hendaknya menemukan dan menjaga refleksi-refleksi staf pada masalah-masalah moral. Staf sekolah, melalui pertemuan-pertemuan atau rapat-rapat dengan dukungan kelompok-kelompok yang lebih kecil, harus secara reguler dilaksanakan. 
  • Pendidikan karakter meminta kepemimpinan moral dari staf dan para peserta didik. Dalam pendidikan karakter, untuk menemukan kriteria seperti itu, haruslah menjadi pemimpin (kepala sekolah, administrator lainnya, atau kordinator guru), yang berperan untuk memperjuangkan usaha-usaha dan pembentukan satu panitia pendidikan karakter (atau beberapa kelompok pendukung, yang masing-masing memperhatikan aspek-aspek khusus dari pendidikan karakter), yang bertanggung jawab pada perencanaan jangka panjang dan implementasi program-program yang telah disusun. Para peserta didik hendaknya juga dibawa kedalam peran-peran kepemimpinan moral melalui organisasi peserta didik, program-program penengahan terhadap konflik-konflik dalam kelompok teman sejawat, tutorial lintas usia dan lain-lain. 
  • Sekolah mesti melibatkan orang tua dan angota-anggota masyarakat sebagai partner penuh dalam upaya pembentukan dan pengembangan karakter.Misi suatu pendidikan karakter harus menyebutkan secara nyata apa yang benar. Dalam kaitan ini, orang tua adalah pendidik pertama dan terpenting bagi anak-anak mereka. Kemudian, sekolah harus berusaha pada setiap tahap untuk berkomunikasi dengan orang tua tentang tujuan-tujuan sekolah dan kegiatan-kegiatan dalam rangka pengembangan karakter, dan bagaimana keluarga dapat membantunya. Untuk membina kerjasama antara sekolah dan orang tua di rumah, sekolah hendaknya menjadi proaktif dalam melibatkan orang tua peserta didik dalam perencanaan dan pembuatan kebijakan. 
  • Penilaian pada pendidikan karakter hendaknya mengukur karakter sekolah, berfungsinya staf sekolah sebagai pendidik-pendidik karakter dan diperluas pada penampilan karakter yang baik pada para peserta didik. Pendidikan karakter yang efektif harus mengupayakan untuk mengukur pengaruh program-program sekolah terhadap perkembangan moral peserta didik. Dalam kaitan ini, ada tiga bentuk hal yang perlu diperhatikan. Pertama, karakter sekolah, seberapa inten sekolah telah berfungsi sebagai ”caring community”. Hal ini dapat diukur, misalnya dengan mengadakan survey, dengan meminta para peserta didik menunjukkan indikasi secara mendalam terhadap mana mereka menyetujui pernyataan-pernyataan seperti: ’Para peserta didik dalam kelas ini memiliki rasa hormat dan penuh perhatian antara yang satu dengan yang lainnya”, dan ”Kelas ini sebagai suatu keluarga”. Di samping itu, dapat juga dilakukan observasi sebagai alat yang berguna untuk mengukur karakter sekolah. Kedua, staf sekolah tumbuh sebagai pendidik karakter. Seberapa inten staf sekolah, guru-guru, administrator, dan pendukung personal lainnya telah mengembangkan pengertian-pengertian tentang apa yang mereka dapat kerjakan untuk memacu perkembangan karakter? Ketiga, karakter para peserta didik. Seberapa inten para peserta didik menampakkan pengertian, komitmen, dan tindakan-tindakan atas dasar nilai-nilai etika inti? Untuk hal ini dapat dilakukan melalui sekolah, misalnya kumpulkan data tentang berbagai karakter yang berhubungan dengan perilaku-perilaku sebagai berikut: pernahkah para peserta didik terlambat datang ke sekolah dan apakah suka membolos? Adakah perkelahian peserta didik menurun? Apakah vandalisme (suka merusak), cenderung menurun? Apakah insiden penyalahgunaan obat keras, telah berkurang? 
C. Pendekatan Komprehensif Pendidikan Karakter
Ada dua tujuan pendidikan karakter, yaitu kebijakan dan kebaikan. Pendidikan tentang kebaikan merupakan dasar demokrasi. Pendidikan karakter perlu diefektifkan karena adanya kecenderungan perilaku menyimpang dari peserta didik. Memperhatikan adanya gejala-gejala negatif tersebut, nilai-nilai apakah yang perlu diajarkan? Dua buah nilai moral utama adalah ”respect and responsibility” (rasa hormat dan tanggung jawab). Di samping itu ada sejumlah nilai yang diajarkan, antara lain: “honesty (kejujuran), fairness (keterkuaan), tolerance (toleransi), prudence (kehati-hatian), self-discipline (disiplin diri), helpfulness (membantu dengan tulus), compassion (rasa terharu), cooperation (bekerjasama), courage (keteguhan hati), and host of democratic values” (Lickona, 1991:43-45).

Apakah syarat-syarat karakter yang baik? Karakter, berkaitan dengan pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. Karakter yang baik terdiri atas pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan berbuat kebaikan, atau kebiasaan pikiran, kebiasaan perasaan dalam hati, dan kebiasaan berperilaku yang baik. Ketiga hal inilah yang menentukan kehidupan bermoral. 

Dalam komponen “moral knowing” (pengetahuan moral) terdapat enam aspek, yaitu (1) kesadaran moral (kesadaran hati nurani). (2) Knowing moral values (pengetahuan nilai-nilai moral), terdiri atas rasa hormat tentang kehidupan dan kebebasan, tanggung jawab terhadap orang lain, kejujuran, keterbukaan, toleransi, kesopanan, disiplin diri, integritas, kebaikan, perasaan kasihan, dan keteguhan hati. (3) Perspective- taking (kemampuan untuk memberi pandangan kepada orang lain, melihat situasi seperti apa adanya, membayangkan bagaimana dia seharusnya berpikir, bereaksi, dan merasakan). (4) Moral reasoning (pertimbangan moral) adalah pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan bermoral dan mengapa kita harus bermoral. (5) Decision-making (pengambilan keputusan) adalah kemampuan mengambil keputusan dalam menghadapi masalah-masalah moral. (6) Self-knowledge (kemampuan untuk mengenal atau memahami diri sendiri), dan hal ini paling sulit untuk dicapai, tetapi hal ini perlu untuk pengembangan moral.

Dalam komponen ”moral feeling” (perasaan moral), terdapat enam aspek penting, yaitu (1) conscience (kata hati atau hati nurani), yang memiliki dua sisi, yakni sisi kognitif (pengetahuan tentang apa yang benar) dan sisi emosi (perasaan wajib berbuat kebenaran). (2) Self-esteem (harga diri), dan jika kita mengukur harga diri sendiri berarti menilai diri sendiri; jika menilai diri sendiri berarti merasa hormat terhadap diri sendiri. (3) Empathy (kemampuan untuk mengidentifikasi diri dengan orang lain, atau seolah-olah mengalami sendiri apa yang dialami oleh orang lain dan dilakukan orang lain). (4) Loving the good (cinta pada kebaikan); ini merupakan bentuk tertinggi dari karakter, termasuk menjadi tertarik dengan kebaikan yang sejati. Jika orang cinta pada kebaikan, maka mereka akan berbuat baik dan memiliki moralitas. (5) Self-control (kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri), dan berfungsi untuk mengekang kesenangan diri sendiri. (6) Humility (kerendahan hati), yaitu kebaikan moral yang kadang-kadang dilupakan atau diabaikan, pada hal ini merupakan bagian penting dari karakter yang baik.

Dalam komponen ”moral action” (tindakan moral), terdapat tiga aspek penting, (1) competence (kompetensi moral), yaitu kemampuan untuk menggunakan pertimbangan-pertimbangan moral dalam berperilaku moral yang efektif; (2) will (kemauan), yakni pilihan yang benar dalam situasi moral tertentu, biasanya merupakan hal yang sulit; (3) habit (kebiasaan), yakni suatu kebiasaan untuk bertindak secara baik dan benar.

Dalam bagan di atas terkandung ide-ide yang komprehensif mengenai pendidikan karakter, sebagi berikut. 
Pada umumnya pendidikan karakter mempunyai dua tujuan utama, yaitu membantu peserta didik menjadi bijak (smart) dan membantu mereka menjadi orang yang baik. Baik, dalam arti nilai-nilai moral yang seimbang, yakni nilai-nilai yang dapat memperkokoh martabat manusia dan mengembangkan kebaikan individu dan masyarakat. Dua nilai-nilai moral universal yang merupakan nilai-nilai inti dalam masyarakat umum dan yang secara moral dapat diajarkan adalah rasa hormat dan tanggung jawab. 

Sekolah sebagai lembaga sosial diharapkan dapat membentuk karakter dengan menggunakan strategi pendekatan komprehensif, yang meliputi semua pendekatan terhadap pendidikan nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan sekolah untuk mencapai pengembangan karakter. Pendekatan tersebut meliputi 12 strategi di dalam kelas dan di luar kelas. Yang termasuk pendekatan komprehensif di dalam kelas adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan kegiatan pendidik (guru), antara lain sebagai berikut. 
  1. Aktivitas guru sebagai pemberi rasa hormat dan cinta, sebagai model dan sebagai mentor yang memeperlakukan peserta didik dengan cinta dan rasa hormat, menjadi contoh yang baik, menunjukkan perilaku yang prososial, dan berperilaku hati-hati dan cermat. 
  2. Menciptakan suatu masyarakat yang bermoral di dalam kelas, membantu peserta didik untuk saling mengenal satu sama lainnya, rasa hormat dan penuh perhatian antara yang satu dengan yang lainnya, dan merasakan nilai anggota di dalam kelompok.
  3. Praktikkan atau terapkan disiplin moral, ciptakan dan laksanakan aturan-aturan sebagai kesempatan untuk memacu pemikiran moral, laksanakan pengendalian diri, dan menggeneralisasi perhatian dan hormat kepada orang lain.
  4. Ciptakan lingkungan kelas yang demokratis, libatkan peserta didik dalam pengambilan keputusan dan berikan tanggung jawab untuk membuat kelas sebagai tempat yang baik untuk belajar.
  5. Ajarkan nilai-nilai melalui kurikulum, gunakan subjek akademik sebagai wahana untuk menguji isu-isu kesusilaan (etika)
  6. Gunakan cara belajar kooperatip untuk mengajar peserta didik tentang karakter dan keterampilan-keterampilan untuk saling membantu dan bekerjasama.
  7. Kembangkan kesadaran tentang keahlian keterampilan dengan memacu tanggung jawab akademik pada para peserta didik dan kembangkan rasa hormat mereka terhadap nilai dari belajar dan bekerja.
  8. Bangkitkan refleksi moral mereka melalui membaca, menulis, berdiskusi, latihan pengambilan keputusan, dan berdebat dalam diskusi.
  9. Ajarkan cara-cara pemecahan konflik, dengan demikian peserta didik akan memiliki kemampuan dan komitmen untuk memecahkan konflik-konflik secara terbuka dan jujur, dan tidak dengan kekerasan.
  10. Pendekatan komprehensif yang berkenaan dengan aktivitas-aktivitas sekolah harus diarahkan kepada kegiatan untuk belajar membaca lebih giat, pemeliharaan kondisi kelas dengan menggunakan model-model dan kesempatan-kesempatan bagi pelayanan sekolah dan masyarakat untuk membantu peserta didik untuk belajar memperhatikan serta memelihara suasana kelas.
  11. Ciptakan budaya moral positif di sekolah, kembangkan seluruh lingkungan sekolah (melalui kepemimpinan kepala sekolah), memperluas disiplin sekolah, memperluas rasa kemasyarakatan di sekolah, ciptakan organisasi yang demokratis, ciptakan suasana bermoral di antara kelompok orang dewasa, dan sediakan waktu untuk memperlihatkan perilaku moral.
  12. Ajaklah orang tua dan anggota masyarakat sebagai partner dalam pendidikan nilai-nilai, dukung orang tua sebagai pendidik moral pertama dan utama bagi anak-anaknya, doronglah orang tua untuk mendukung sekolah dalam melakuan usaha-usaha untuk memacu meningkatkan nilai-nilai yang baik, dan gunakan bantuan masyarakat (seperti pemuka-pemuka agama, kalangan pengusaha, media massa) dalam mengembangkan nilai-nilai yang akan diajarkan di sekolah.
Dalam hubungan dengan pendidikan karakter ini, William J. Bennett (Ed., 1997) dalam bukunya berjudul: ”The Book of Virtues: A Treasury of Great Moral Stories” mengemukakan bahwa dalam pendidikan moral, pendidik perlu mengajarkan tentang nilai-nilai moral seperti: rasa hormat kepada orang tua dan guru, jujur, terbuka, toleransi, adil, religius, bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negara, serta memiliki rasa kasih sayang dan cinta terhadap Tuhan, masyarakat, dan lingkungan. Dengan menggunakan ilustrasi ceritra-ceritra, Bennett mengungkapkan beberapa cara untuk mengembangkan karakter yang baik, antara lain sebagai berikut.
  1. Self-discipline (disiplin diri) perlu ditanamkan pada peserta didik, para pendidik/guru, para pelatih, pembimbing, dan pada semua komponen yang terkait dengan kegiatan proses pembelajaran.
  2. Compassion (rasa terharu) yang disertai rasa kasih. Di samping disiplin diri, kita sering menyaksikan adanya rasa keterharuan, yang kadang-kadang menutup hati atau kesadaran moral. Bagaimana caranya untuk meningkatkan rasa kasihan kepada orang lain pada peserta didik? Dalam hal ini, berikanlah merka ceritra-ceritra dan pribahasa yang bermanfaat sebanyak mungkin.
  3. Responsibility (tanggung jawab). Orang yang tidak bertanggung jawab adalah suatu ciri bahwa orang itu belum matang, sebliknya adanya rasa tanggung jawab adalah ciri kematangan seseorang. Jika kita berupaya untuk membantu peserta didik menjadi orang yang bertangung jawab, maka sesungguhnya kita membantu mereka menjadi matang.Tanggung jawab, dan supaya kita menjadi bertanggung jawab, harus menggunakan kekuatan yang ada pada setiap orang; dan setiap orang harus melakukannya teus-menerus.
  4. Friendship (pesahabatan). Ceritra-ceritra mengenai pershabatan yang baik merupakan paradigma moral bagi semua hubungan antar manusia.Pengertian persahabatan ini lebih luas daripada kenalan dan di dalamnya termasuk lebih luas dari afeksi.
  5. Work (pekerjaan), apa yang harus dikerjakan supaya kita meningkat? Ini pertanyaan yang menyangkut pekerjaan, dan sekaligus pertanyaan yang menyangkut kehidupan.
  6. Courage (keberanian dan keteguhan hati).Di samping bekerja, menghayati dan menikmati makna kerja bagi kehidupan manusia, perlu menanamkan keberanian dan keteguhan hati atau ketekunan dalam menghadapi perasaan takut, sifat ragu-ragu, gugup, bimbng, dan sifat-sifat lainnya yang sering mengganggu.
  7. Perseverance (ketekunan), perlu dibina terus. Bagaimana caranya mendorong peserta didik supaya tekun dan tetap melaksanakan usaha-usaha untuk meningkatkan keberanian dan ketekunannya sendiri? Dalam hal ini, peserta didik harus melaksanakan sendiri, dan orang tua/pendidik berada bersama-sama mereka, serta mengawasi dari belakang (Tut Wuri Handayani), dengan membimbing dan mengarahkan serta memberikan contoh-contoh yang positif.
  8. Honesty (kejujuran). Supaya bisa menjadi orang jujur, berbuatlah secara nyata, secara murni, dan bisa dipercaya. Kejujuran ini bisa diwujudkan atau diekspresikan dalam bentuk rasa hormat kepada diri sendiri dan pada orang alin. Hal ini perlu dilatih dan dipelajari sepanjang hidup supaya menjadi orang yang memiliki integritas dan kemauan yang mulia.
  9. Loyalty (loyalitas).Faktor kejujuran harus diiringi dengan prinsip loyalitas, sehingga persahabatan dan hubungan-hubungan antar manusia bisa diterima dengan baik. Loyalitas atau kesetiaan berkaitan dengan hubungan kekeluargaan, persahabatan, afiliasi keagamaan, kehidupan profesional dan lain-lain, yang kesemuanya itu dapat berubah atau berkembang.
  10. Faith (keyakinan/kepercayaan). Hal terkhir yang sangat penting bagi kehidupan manusia adalah keyakinan atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa/Ida Sang Hyang Widi Wasa. Hal ini merupakan dimensi yang sangat penting yang merupakan sumber moral manusia. 
D. Metode Pendidikan Karakter
Menurut Sommers (1993) dalam artikelnya yang berjudul: ”Teaching the Virtue, a Blueprint for Moral Education” , bahwa salah satu metode penting dalam pendidikan moral adalah metode ”values clarification” (klarifikasi nilai). Dengan menggunakan metode ini, pendidik/guru tidak secara langsung menyampaikan kepada peserta didik tentang ”benar” atau ”salah”, tetapi sebaliknya peserta didik harus diberikan kesempatan untuk menyatakan nilai-nilai dengan caranya sendiri. Lebih lanjut disarankan, bahwa (1) sekolah harus memiliki aturan-aturan tingkah laku yang menekankan pada kesopanan, kebaikan-kebaikan, disiplin diri, dan kejujuran; (2) pendidik/guru-guru jangan mengindoktrinasi peserta didik, jika mereka minta dengan tegas atas dasar kesopanan, kejujuran, dan keterbukaan; (3) peserta didik harus diberikan ceritra-ceritra yang menekankan pada prinsip-prinsip kebaikan, dan para peserta didik hendaknya gemar membaca, mempelajarai dan mendiskusikan tentang isu-isu moral. Dalam kaitan ini, para pendidik harus membantu peserta didik agar mengenal nilai-nilai moral yang diwariskan melalui literatur, internet, agama, dan filsafat. Hal ini penting karena hal-hal yang berkaitan dengan kebaikan dapat dipikirkan dan dipelajari melalui pendidikan moral.

Selanjutnya, Alfie Kohn (1991) dalam artikelnya yang berjudul: ”The Role of School”, antara lain menyebutkan bahwa untuk membantu peserta didik supaya bisa tumbuh menjadi dewasa, kepada mereka harus ditanamkan nilai-nilai disiplin sejak dini melalui proses interaksi antar peserta didik, dengan guru-guru, dan orang tua. Melalui interaksi dengan teman sejawat, dengan guru-guru, orang tua, pembuat kebijakan dan lain-lain, akan dapat ditumbuhkan nilai-nilai prososial. Dalam hubungan ini dapat digunakan diantara empat pendekatan untuk mengubah perilaku dan sikap, sebagai berikut: (1) funishing (menghukum), (2) bribing (menyogok/menyuap), (3) encouraging commitment to values (mendorong komitmen terhadap nilai). Penggunaan hukuman dengan kekerasan merupakan cara yang tidak efektif dan bahkan menyebabkan situasi menjadi lebih buruk, karena hukuman akan menimbulkan perlawanan dan kemarahan. Oleh karena itu, penggunaan hukuman ini harus benar-benar selektif dan tidak berupa hukuman fisik. Seperti yang diungkapkan oleh Gordon (1989), bahwa selama usaha kita untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan nilai-nilai yang baik, maka penggunaan hukuman kekerasan tidak diperkenankan. Selanjutnya, pendekatan dengan ’bribing’ atau menyogok/menyuap, yang merupakan reward (hadiah), memang belumdiketahui secara pasti efektivitasnya, mana lebih efektif antara hadiah dn hukuman. Hadiah ini hanya bersifat merangsang motivasi ekstrinsik, pada hal yang lebih penting adalah membangkitkan motivasi intrinsik.

Setelah mempertimbangkan keterbatasan dari hukuman dan hadiah, kini sampailah kepada pendekatan yang dipandang lebih baik, yakni pendekatan yang mendorong komitmen terhadap nilai-nilai. Tujuan guru/pendidik tidak hanya untuk membangkitkan perilaku yang baik, tetapi juga untuk membantu peserta didik untuk melihat diri mereka sendiri sebagai orang yang baik dan bertanggung jawab serta memiliki disiplin yang kuat. Bagaimana caranya untuk meningkatkan komitmen kelompok terhadap nilai-nilai? Dalam kaitan ini, bukan saja untuk bertujuan untuk menginternalisasi nilai-nilai yang baik di dalam masyarakat, tetapi juga untuk menginternalisasi nilai-nilai yang lainnya. Dengan demikain, sesungguhnya para pendidik menginginkan supaya dapat mengantarkan peserta didik menjadi orang yang baik, dapat menciptakan norma-norma secara bertanggung jawab terhadap apa yang mereka yakini, katakan, kerjakan, dan bagaimana caranya berhubungan dengan para peserta didik, dan bagaimana caranya mendorong peserta didik untuk saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain. 

Untuk memupuk ”selflessness’ atau ”mutualy” (rasa kebersamaan), yakni suatu kebutuhan untuk mengadakan pertalian interpersonal, sangat diperlukan adanya keterlibatan orang tua secara persuasif (Etzioni, 1983). Rasa kebersamaan akan terwujud, jika setiap orang memperhatikan perilakunya dalam konteks kelompok budaya yang lebih luas, dimana ia berfungsi. Hal yang sangat penting bagi pendidik adalah bahwa hal itu akan muncul jika dipelajari sejak masa kanak-kanak sebagai akibat dari proses interakasinya berkali-kali dengan orang tua mereka. Dalam hubungan ini,, perlakuan orang tua tidak boleh keras, tetapi harus sebagai model yang tidak agresif. Tujuan pendidik dan orang tua adalah mengantarkan anak-anak supaya menjadi disiplin. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi model yang bisa ditiru, dan juga masyarakat juga harus memberikan dorongan bagi munculnya perilaku disiplin pada anak-anak. Dalam kaitan dengan pembentukan disiplin diri, para pendidik/guru dapat melakukan hal-hal berikut: (1) para guru harus menggunakan teknik-teknik disiplin yang dapat mendorong tanggung jawab personal, (2) para guru sedapat mungkin harus menghindari penggunaan hukuman, (3) para guru harus menyadari kualitas perhatian terhadap peserta didik dan bekerja untuk menciptakan hubungan-hubungan yang baik dengan peserta didik, dan (4) para guru dan para administrator harus menciptakan hubungan yang kuat dengan orang tua peserta didik (Lisley, 1996:677). Dengan demikian jelaslah bahwa dalam pembinaan disiplin, tanggung jawab, dan rasa kebersamaan pada peserta didik, maka orang tua/pendidik harus menjadi model yang baik, dan masyarakat bertanggung jawabuntuk mendorong berkembangnya perilaku disiplin. Orang tua harus menekankan pada konsekuensi tindakannya sehingga harus menghindari penggunaan hukuman dengan kekerasan dan pendidikan pada anak-anak harus didasarkan pada tanggung jawab bersama. 

Demikianlah secara garis besar prinsip-prinsip umum dalam pelaksanaan pendidikan karakter yang perlu dipahami, dihayati, dan dilaksanakan oleh pendidik/guru, khususnya dalam rangka pengembangan profesionalime guru, termasuk pengembangan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Semua komponen dan aspek yang mendukung pembentukan karakter yang baik, perlu dimiliki oleh guru yang profesional, sebelum mengajarkan atau memberikan contoh tentang pikiran, perasaan, dan perilaku moral yang baik kepada peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA
  • Aronfreed, J.& Reber, A. (1965). Internalized Behavioral Supression and The Timing of Social Punishment. Journal of Personality and Social Psychology, 1, 3-16.
  • Bennett, William J. (Ed., 1997). The Book of Virtues for Young People: A Treasury of Great Moral Stories. New York: Simon & Schuster.
  • Brown, A.L. (1975). The Development of Memory: Knowing, Knowing about Knowing, and Knowing How to Know. In: H.W. Reese (Ed.). Advances in Child Development and Behavior. (Vol.10). New York: Academic Press.
  • Benninga, J. (1991). Moral Character and Civic Education in the Elementary School. Nership: Teachers College Press.
  • Dienstbier, R.A. 1984). The Role of Emotion in Moral Socializaion. In: Izard, J. Kagan & R.B. Zajonc (Ed.). Emotions, Cognitions, and Behavior. New York: Cambridge University Press.
  • Etzioni, Amitai. (1997).Children Learn What They Live. The Washington Post National Weekly. Edition January 13, 1997.
  • Gordon, Thomas. (1989). Teaching Children Self-Disciplin. New York:Times Books.
  • Heath, D. (1994). School of Hope: Developing Mind and Character in Today’s Youth. San Fransisco: Jossey-Bass.
  • Henry, R. (1983). The Psychodinamic: Foundation of Morality. New ork: Basel.
  • Huffman, H. (1994). Developing a Character Education Program. Alexandria: VA, Character Education Part.
  • Kieman, Louise. (1997). Teaching More than Book Smart. Chicago Tribune Magazine, Pebruay 18, 1997, p.5.
  • Koyan, I.W. (2000). Pendidikan Moral: Pendekatan Lintas Budaya. Jakarta: Proyek PGSM, Ditjen Dikti.
  • Koyan, I.W. (2004). Pendidikan Karakter: Suatu Pendekatan Komprehensip. Makalah.
  • Kohn, Alfie. (1991). Caring Kids: The Role of The School. California: Phi Delta Kappa.
  • Kilpatrick, W. (1992). Why Johnny Can’t Tell Right from Wrong. New York: Simon and Schuster.
  • Lickona, T. (1996). Eleven Principles of Effective Character Education. Journal of Moral Education.1, 1996, pp.93-94.
  • Loehrer, Michael C. (1998). How to Change a Rottern Attitude; A Manual for Building Virtue and Character in Middle and High School Students. California: Corwin Press. A Sage Publications Company.
  • Lasley, T.J. (1996). Teaching Selflessness in A Selfish Society. Ohio State University: Phi Delta Kappa.
  • Mosher, R.L. (1980). Moral Education: A First Generation of Research and Development. New York: Praeger Publishers.
  • Rest, J.R. (1994). Moral Development in Professions: Psychology and Applied Ethics. New Jersey: Lawrense Erlbaum Associates Publishers.
  • Rosen, Louis. (1997). School Discipline: Best Practice for Administrators. California: Corwin Press. A Sage Publications Company.
  • Rusnack, Timothy, (Ed). (1998). An Integrated Approach to Character Education. California: Corwin Press, Inc. A Sage Publications Company..
  • Sichel, B.A. (1988). Moral Education: Character, Community, and Ideals. Philadelphia: Temple University Press.
  • Sommers, Ch. H. (1993). Teaching Te Virtues: A Blueprint for Moral Education. Chicago Tribune Magazine, September 12, 1993.
Blog, Updated at: 03.47

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts