Sistem Instruksional Pembelajaran

Sistem Instruksional Pembelajaran 
Dewasa ini perkembangan teori-teori tentang bagaimana siswa belajar, berkembang bermacam-macam paket atau media belajar, ditemukannya metode-metode belajar baru, telah mendorong para pendidik untuk mencari pendekatan baru dalam mengembangkan sistem dan disain instruksional. Pendekatan baru ini didasarkan atas kenyataan bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan suatu hal yang sangat kompleks, terdiri atas banyak komponen yang satu sama lain harus bekerja bersama secara baik untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Pengembangan perencanaan untuk tujuan tersebut yang sekarang mendapatkan perhatian besar adalah yang didasarkan atas konsep sistem. 

Konsep sistem ini menurut Kemp (1977, p. 6) "refers to the terhnleal integration of men and machine". Konsep pendekatan sistem (systems approach) tersebut membedakan mana-mana tugas yang kiranya lebih baik bila dikerjakan oleh manusia, dan mana yang paling baik bila dilakukan oleh mesin. Diterapkan kepada kegiatan pendidikan, konsep pendekatan sistem pada hakekatnya adalah proses untuk menemukan suatu cara untuk memecahkan problem pendidikan dan mencari altematif pemecahannya. Untuk memahami hal tersebut berbagai model pengembangan sistem instruksional telah dikembangkan dewasa ini, berikut akan diuraikan mengenai definisi, dasar-dasar dan model pengembangan sistem instruksional.

Pengertian Pengembangan Instruksional
Pengembangan Intruksional adalah cara yang sistematis dalam mengidentifikasi, mengembangkan, mengevaluasi seperangkat materi dan strategi yang di arahkan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan tertentu. 

Pengembangan sistem instruksional adalah suatu proses secara sistematis dan logis untuk mempelajari problem-problem pengajaran, agar mendapatkan pemecahan yang teruji validitas dan praktis bisa dilaksanakan. 

Menurut Hamzah B. Uno, bahwa komponen strategi instruksional ada 5 komponen, yaitu:
  1. Kegiatan pendahuluan. Kegiatan pendahuluan yang disampaikan dengan menarik akan dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. 
  2. Penyampaian Informasi. Dalam kegiatan ini, guru juga harus memahami dengan baik situasi dan kondisi yang dihadapinya. Dengan demikian, informasi yang disampaikan dapat diserap oleh peserta didik dengan baik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi adalah urutan ruang lingkup dan jenis materi.
  3. Partisipasi Peserta Didik. Berdasarkan prinsip student centered, peserta didik merupakan pusat dari suatu kegiatan belajar. Artinya bahwa proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan. 
  4. Tes. Serangkaian tes umum yang digunakan oleh guru untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran khusus telah tercapai atau belum, dan apakah pengetahuan, sikap dan keterampilan telah benar-benar dimiliki oleh peserta didik atau belum. Kegiatan ini biasanya dilakukan diakhir kegiatan pembelajaran.
  5. Kegiatan Lanjutan. Langkah ini dilakukan sebagi evaluasi atas proses instruksional yang telah berjalan. 
Prosedur pengembangan system intruksional menggambarkan pedoman proses belajar mengajar meliputi 5 bagian, yaitu:
  • Tujuan pelajaran yang hendak dicapai. Didalam kurikulum tujuan intruksioanal ada dua macam,yaitu :
  1. Tujuan Instruksional Umum (TIU). Tujuan instruksional umum ini merupakan tujuan dari kurikuler, ialah tujuan pendidikan secara umum menjadi tujuan khusus dan operasional, sebab pada dasarnya tujuan pendidikan hanya dapat mungkin di capai bila tujuan itu di rumuskan ke dalam rumusan yang khusus dan operasional. Dalam kurikulum SLTP 1975 bidang studi agama islam, dapat dilihat bahwa tujuan kurikuler bidang studi agama islam di SMP yang berjumlah empat belas itu di jabarkan sehingga menjadi delapan puluh tujuan instruksional umum (TIU).
  2. Tujuan instruksional khusus. Tujuan ini adalah langkah yang paling akhir dalam upaya membuat rumusan tujuan pendidikan yang paling khusus dan operasional.tujuan instruksional khusus (TIK) dapat di artikan sebagai rumusan tujuan yang berisi kualifikasi khusus yang di harapkan di miliki siswa setelah selesai mengikuti kegiatan belajar mengajar tertentu. Tujuan instruksional khusus adalah tujuan yang hendak di capai guru setiap kali mengajar. Maksud dari kedua tujuan instruksional ini adalah upaya untuk mengembangkan tujuan pendidikan secara universal yaitu tujuan pendidikan umum berfokuskan pada semua mata pelajaran yang ada disetiap sekolah dan madrasah, sedangkan tujuan instruksional khusus adalah tujuan pembelajaran yang terjadi pada saat pembelajaran berlangsung (proses pembelajaran), atau komponen-komponen yang akan dipaparkan untuk mengajar haruslah dikutip atau disajikan dalam berbentuk lembaran sebelum pelajaran itu berlangsung. Contohnya SAP ( Satuan Acara Perkuliahan) atau silabus perkuliahan yang disajikan oleh tenaga pengajar.
  • Bahan pelajaran yang sesuai dengan tujuan pelajaran. Bahan pelajaran bersumber dari pokok-pokok bahasan yang tercantum didalam kurikulum dan sebaiknya berantai.
  • Metode mengajar atau uraian kegiatan belajar mengajar. Disini terdapat faktor guru, murid, alat pelajaran atau media yang dipergunakan.
  • Fasilitas dan alat yang menunjang kegiatan belajar mengajar. Guru mempersiapkan kondisi yang memungkinkan belajar mengajar berlangsung dengan lancar.
  • Evaluasi hasil belajar. Setelah kegiatan belajar mengajar selesai pada satu satuan pelajaran maka diadakan evaluasi. Evaluasi ini menguji siswa pada satu mata pelajaran.Kemudian diadakan pra-tes pada tahap permulaan sekali. Setelah itu diadakan tes-formatif. Pada akhir semester diadakan tes akhir semester (tes-sumatif).
Didalam pengembangan sistem instruksional ada beberapa hal yang harus diperhatikan, anntara lain :
  1. Merumuskan tujuan pembelajaran khusus.
  2. Mengembangkan alat-alat evaluasi.
  3. Menetapkan kegiatan pembelajaran. 
  4. Merencanakan Program pembelajaran
  5. Melaksanakan program pembelajaran.
Sebagai bagian teknologi pendidikan, pengembangan sistem instruksional tentunya mempunyai prinsip dasar yang sama dengan teknologi pendidikan, yakni: 
  1. Berfokus pada siswa. Prinsip ini memandang bahwa, dalam rangka penerapan pengembangan sistem instruksional, siswa adalah sentral kegiatan pembelajaran. Prinsip ini juga memandang bahwa dalam setiap proses pembelajaran, siswa hendaknya bertindak sebagai pihak yang aktif dan dibuat aktif. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa guru adalah pihak yang pasif. Keduanya harus bertindak aktif.
  2. Pendekatan sistem. Prinsip ini memandang bahwa masalah belajar adalah suatu sistem. Maksudnya, penanganan terhadap satu komponen pembelajaran dalam rangka pelaksanaan pengembangan sistem instruksional harus pula mempertimbangkan integrasi komponen yang lain sehingga diperoleh efek yang sinergistik untuk memecahkan masalah-masalah belajar.
  3. Pemanfaatan sumber belajar secara maksimal. Prinsip ini memandang bahwa semua komponen sumber belajar baik pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar harus dimanfaatkan secara luas dan maksimal dalam rangka memecahkan masalah-masalah belajar sehingga tujuan pembelajaran.
Model – Model Pengembangan Sistem Instruksional
Ada beberapa model pengembangan intruksional, diantaranya:
1) Model Belah Banathy, Pengembangan instruksioanal model Banathy ini dapat diformasikan dalam enam langkah, sebagai berikut:
a) Merumuskan tujuan (Formulate objectives). Langkah ini merupakan suatu pernyataan yang menanyakan apa yang diharapkan dari siswa untuk dikerjakan, diketahui dan dirasakan sebagai hasil pengalaman belajarnya.
b) Mengembangkan tes (develop test). Langkah ini dikembangkan suatu tes yang didasarkan atas tujuan yang diinginkan dan digunakan untuk mengetahui kemampuan yang diharapkan tercapai hasil dari pengalaman belajarnya.
c) Menganalisis kegiatan belajar (analyze learning task). Langkah ini dirumuskan apa yang harus dipelajari sehingga dapat menunjukkan tingkah laku seperti yang digambarkan dalam tujuan yang telah dirumuskan. Dalam kegiatan ini, kemampuan awal mahasiswa harus juga dianalisis atau dinilai karena tidak perlu mempelajari apa yang telah mereka ketahui.
d) Mendesain sistim instruksional (design system). Setelah melalui langkah 1 sampai dengan 3, perlu dipertimbangkan alternatif-alternatif dan identifikasi apa yang harus dikerjakan untuk menjamin bahwa para peserta didik benar-benar menguasai kegiatan yang telah dianalisi pada langkah 1 sampai dengan 3. Juga ditentukan siapa yang tmempunyai potensi yang baik untuk mencapai fungsi tersebut dan kapan dan dimana fungsi-fungsi tersebut harus dilaksanakan.
e) Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil (implement and test output). Sistim yang telah didesain diuji vcoba dan dilaksanakan. Apa yang dapat dilaksanakan atau dikerjakan peserta didik sebagai hasil implementasi sistim, harus dinilai agar dapat diketahui seberapa jauh mereka telah menunjukkan tingkah laku seperti yang dimaksudkan dalam rumusan tujuan.
f) Mengadakan perbaikan (change to improve). Pada langkah ini, hasil yang diperoleh dari evaluasi kemudian merupakan umpan balik untuk keseluruhan sistim sehingga perubahan-perubahan (jika diperlukan) dapat dilakukan untuk memperbaiki sistim instruksional. 

2) Model Pengembangan Sistem Intruksional (MPSI)
PPSI ini adalah salah satu model pengembangan pengajaran yang mengadopsi dan menginovasi model Banathy. Terdahulu, hanya dalam PPSI lebih disederhanakan langkahnya menjadi 5 langkah yang terdiri 4 langkah pengembangan dan 1 langkah pelaksanaan. Langkah-langkahnya yaitu:
a) Perumusan tujuan.
b) Pengembangan alat dan evaluasi
c) Merumuskan kegiatan belajar dan materi
d) Pengembangan program kegiatan
e) Pelaksanaan

3) Model Briggs
Model Brigs ini berorientasi pada rancangan sistim dengan sasaran dosen atau guru yang akan bekerja sebagai perancang kegiatan instruksional maupun tim pengembangan instruksional yang susunan anggotanya meliputi: dosen, administrator, ahli bidang studi, ahli evaluasi, ahli media dan perancang instruksional 

Brigs berkeyakinan bahwa banyak pengetahuan tentang belajar mengajar dapat diterapkan untuk semua jajaran dalam bidang pendidikan dan latihan.Karena itu dia berpendapat bahwa model ini juga sesuai untuk pengembangan program latihan jabatan, tidak hanya terbatas pada program-program akademis saja. Langkah-langkah didalam model Brigs adalah:
a) Identifikasi kebutuhan atau penentuan tujuan.
b) Penyusunan garis besar kurikulum dan rincian tujuan
c) Penyusuan tujuan
d) Analisis tugas atau tujuan
e) Penyiapan evaluasi belajar

4) Model Kemp
a) Penentuan tujuan intruksioanal umum (TIU), yaitu tujuan yang ditetapkan menurut masing-masing pokok bahasan.
b) Menganalisis karakteristik siswa, yaitu dalam analisis ini memuat hal-hal yang berkenaan dengan latar belakang pendidikan siswa, sosial budaya yang memungkinkan dapat mengikuti program kegiatan belajar, serta langkah-langkah apa yang perlu ditetapkan.
c) Menentukan tujuan instruksional khusus (TIK); yakni tujuan yang ditetapkan secara operasional, spesifik dan dapat diukur. Dengan demikian siswa dapat mengetahui apa yang akan mereka lakukan, bagaimana melakukannya dan apa ukuran yang digunakan bahwa mereka dapat mencapai tujuan belajar tersebut.
d) Menentukan materi pelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus yang telah ditetapkan.
e) Mengadakan penjajakan awal (preassesment), langkah ini sama halnya dengan test awal yang fungsinya untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki siswa, apakah telah memenuhi syarat belajar yang ditentukan ataukah belum.
f) Menentukan strategi belajar dan mengajar yang relevan, sebagai patokan untuk memilih strategi yang dimaksud, Kemp menentukan 4 kriteria: Efisiensi, Keefektifas, Ekonomis, Kepraktisan.
g) Dalam memilih strategi belajar-mengajar tersebut harus melalui analisis alternative.
h) Mengkoordinasi sarana penunjang yang dibutuhkan, meliputi:Biaya, Fasilitas, Peralatan,Waktu dan Tenaga
i) Mengadakan evaluasi, hasil evaluasi tersebut digunakan untuk mengontrol dan mengkaji sejauh mana keberhasilan suatu program yang telah direncanakan mencapai sasaran yang diinginkan.

5) Model IDI
Pengembangan instruksional model IDI (Instruksional Development Institute) merupakan suatu hasil konsorsium antar perguruan tinggi di Amerika Serikat yang dikenal dengan University Consorsium Instructional Development and Technology (UCIDT).

Model IDI ini telah dikembangkan dan diuji-cobakan pada beberapa negara di Asia dan Eropa dan telah berhasil di 334 institusi pendidikan di Amerika. Sebagaimana halnya dengan model-model pengembangan instruksional lainnya. 

Model IDI menggunakan pendekatan sistim yang meliputi tiga tahapan, yakni:
a) Pembatasan (define),Identifikasi masalah, dimulai dengan analisis kebutuhan atau yang disebut need assesment. Pada dasarnya need assisment ini berusaha menemukan suatu perbedaanantara apa yang ada dan apa yang idealnya (yang diinginkan). Karena banyaknya kebutuhan pengajaran, maka perlu diadakan prioritas mana yang didahulukan dan mana yang dikemudian.
b) Pengembangan (develop, Identifikasi tujuan; tujuan instruksional yang hendak dicapai perlu diidentifikasikan terlebih dahulu, baik tujuan instruksional umum (TIU) dalam hal ini IDI menyebutkan dengan Terminal Objectives dan tujuan instruksional khusus (TIK) yang disebut Enabling Objectives. TIK adalah penjabaran yang lebih rinci dari TIU, maka TIK dianggap penting sekali dalam pengembangan instruksional.

c) Penilaian (evaluate)
1) Tes uji coba. Setelah prototipa program instruksional tersebut disusun, maka langkah berikutnya harus diadakan uji-coba.Uji-coba ini dapat dilakukan pada sampel audien untuk menentukan kelemahan dan kebaikan serta efesiensi dan keefektifan suatu program yang dikembangkan.

2) Analisis hasil
Blog, Updated at: 07.34

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts