Teknik Penyusunan Soal Bentuk Uraian Dan Jawaban Singkat

Teknik Penyusunan Soal Bentuk Uraian Dan Jawaban Singkat 
Banyak alat atau instrument yang dapat digunakan dalam kegiatan evaluasi, salah satunya adalah tes. Istilah tes tidak hanya populer di lingkungan persekolahan, tetapi juga diluar sekolah bahkan masyarakat umum. Disekolah, tes ini sering juga disebut dengan tes prestasi belajar. Tes ini banyak digunakan untuk mengukur prestasi belajar peserta didik dalam bidang kognitif seperti pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.

Dari berbagai jenis tes, dalam makalah ini kelompok kami akan membahas mengenai tes bentuk uraian (Essay), dalam tes bentuk uraian (Essay) peserta didik dituntut untuk menguraikan, mengorganisasikan dan menyatakan jawaban dengan kata-katanya sendiri dalam bentuk, teknik dan gaya yang berbeda satu dengan lainnya. Dilihat dari luas sempitnya materi yang ditanyakan, tes bentuk uraian dibagi menjadi dua yaitu uraian terbatas dan uraian bebas. Sedangkan, dilihat dari pendekatan atau cara pemberian skor. Betuk uraian dibagi menjadi bentuk uraian objektif dan bentuk uraian non objektif.

Dalam menyusun soal bentuk uraian (Essay) sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan bentuk soal uraian (Essay), selain itu diperlukan adanya teknik-teknik dalam menjawab soal uraian (Essay) agar menjadi lebih mudah dan dalam pengoreksian bentuk soal uraian terdapat beberapa metode pengoreksian soal, diantaranya metode per nomor, metode per lembar, metode bersilang, analytical method, sorting method, point method dan rating method, dalam tes bentuk uraian juga terdapat beberapa kelebihan dan kekurangannya.

Selain bentuk soal urain dalam makalah ini juga membahas mengenai soal jawaban singkat. Soal jawaban singkat merupakan soal yang menuntut peserta tes untuk memberikan jawaban singkat berupa kata, frase, nama, tempat, nama tokoh, lambang, atau kalimat yang sudah pasti.

Pengembangan Tes Bentuk Uraian (Essay)
Istilah tes berasal dari bahasa Prancis, yaitu “ testum “, berarti piring yang digunakan untuk memilih logam mulia dari benda-benda lain, seperti pasir, batu, tanah, dan sebagainya. Tes merupakan suatu cara yang digunakan dalam rangka melaksanakan kegiatan pengukuran, pernyataan atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh peserta didik untuk mengukur aspek perilaku peserta didik. Dalam rumusan ini terdapat beberapa unsur penting. Pertama, tes digunakan dalam rangka kegiatan pengukuran. Kedua, di dalam tes terdapat berbagai pertanyaan uraian atau pernyataan atau serangkaian tugas yang harus dijawab dan dikerjakan oleh peserta didik. Ketiga, tes digunakan untuk mengukur suatu aspek perilaku peserta didik. Keempat, hasil tes peserta didik perlu diberi skor dan nilai.

Bentuk uraian (Essay) dapat digunakan untuk mengukur kegiatan-kegiatan belajar yang sulit diukur oleh bentuk objektif. Disebut bentuk uraian, karena menuntut peserta didik untuk menguraikan, mengorganisasikan dan menyatakan jawaban dengan kata-katanya sendiri dalam bentuk, teknik dan gaya yang berbeda satu dengan yang lainnya. Jadi, bentuk uraian (Essay) adalah segala bentuk ujian dimana kita harus menjawab pertanyaan dengan menggunakan bahasa kita sendiri.

Bentuk uraian disebut juga bentuk subjektif karena dalam pelaksanaannya sering dipengaruhi oleh faktor subjektivitas guru. Dilihat dari luas sempitnya materi yang ditanyakan, maka tes bentuk uraian ini dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu uraian terbatas dan uraian bebas.

1. Uraian terbatas
Dalam menjawab soal bentuk uraian terbatas ini, peserta didik harus mengemukakan hal-hal tertentu sebagai batas-batasnya. Walaupun kalimat jawaban peserta didik itu beraneka ragam, tetap harus ada pokok-pokok penting yang terdapat dalam sistematika jawabannya sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan dan dikehendaki dalam soalnya.

2. Uraian bebas
Dalam bentuk ini peserta didik bebas untuk menjawab soal dengan cara dan sistematika sendiri. Peserta didik bebas mengemukakan pendapat sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena itu, setiap peserta didik mempunyai cara dan sistematika yang berbeda-beda. Namun, guru tetap harus mempunyai acuan atau patokan dalam mengoreksi jawaban peserta didik nanti.

Berdasarkan pada pendekatan atau cara pemberian skor bentuk uraian dibagi menjadi dua, yaitu bentuk uraian objektif dan bentuk uraian non objektif.

1) Bentuk uraian objektif
Bentuk uraian seperti ini memiliki sehimpunan jawaban dengan rumusan yang relatif lebih pasti sehingga dapat dilakukan penskoran secara objektif. Anthony J. Nitko ( 1996 ) menjelaskan bentuk uraian terbatas dapat digunakan untuk menilai hasil belajar yang kompleks, yaitu berupa kemampuan-kemampuan, menjelaskan hubungan sebab-akibat, melukiskan pengaplikasian prinsip-prinsip, mengajukan argumentasi-argumentasi yang relevan, merumuskan hipotesis dengan tepat, merumuskan asumsi yang tepat, melukiskan keterbatasan data, merumuskan kesimpulan secara tepat, menjelaskan metode dan prosedur, dan hal-hal sejenis yang menuntut kemampuan peserta didik untuk melengkapi jawabannya.

Dalam penskoran bentuk soal uraian objektif, skor hanya dimungkinkan menggunakan dua kategori, yaitu benar atau salah. Untuk setiap kata kunci yang benar diberi skor 1 (satu) dan untuk kata kunci yang dijawab salah atau tidak di jawab diberi skor 0 (nol). Dalam satu rumusan jawaban dapat mengandung lebih dari satu kata kunci sehingga skor maksimum jawaban dapat lebih dari satu. Kata kunci tersebut dapat berupa kalimat, kata, bilangan, symbol, gambar, grafik, ide, gagasan atau pernyataan. Diharapkan dengan pembagian yang tegas seperti ini, unsure subjektivitas dapat dihindari atau dikurangi. 

Adapun langkah-langkah pemberian skor soal bentuk uraian objektif adalah :
  1. Tuliskan semua kata kunci atau kemungkinan jawaban secara jelas untuk setiap soal.
  2. Setiap kata kunci yang dijawab benar diberi skor 1. Tidak ada skor setengah untuk jawaban yang kurang sempurna. Jawaban yang diberi skor 1 adalah jawaban sempurna, jawaban lainnya adalah 0.
  3. Jika satu pertanyaan memiliki beberapa sub-pertanyaan, perincilah kata kunci dari jawaban soal tersebut menjadi beberapa kata kunci subjawaban dan buatkan skornya.
  4. Jumlah skor dari semua kata kunci yang telah ditetapkan pada soal tersebut. Jumlah skor ini disebut skor maksimum.
2) Bentuk Uraian Non-Objektif ( BUNO )
Bentuk soal seperti ini memiliki rumusan jawaban yang sama dengan rumusan jawaban bebas, yaitu menuntut peserta didik untuk mengingat dan mengorganisasikan (menguraikan dan memadukan) gagasan-gagasan pribadi atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis sehingga dalam penskorannya sangat memungkinkan adanya unsure subjektivitas. Bentuk uraian bebas dapat digunakan untuk menilai hasil belajar yang bersifat kompleks, seperti kemampuan menghasilkan, menyusun dan menyatakan ide-ide, memadukan berbagai hasil belajar dari berbagai bidang studi, merekayasa bentuk-bentuk orisinal ( seperti mendesain sebuah eksperimen ), dan menilai arti atau makna suatu ide.

Dalam penskoran soal bentuk uraian nonobjektif, skor dijabarkan dalam rentang. Besarnya rentang skor ditetapkan oleh kompleksitas jawaban, seperti 0 – 2, 0 – 4, 0 – 6, 0 – 8, 0 – 10 dan lain – lain. Skor minimal harus 0, karena peserta didik yang tidak menjawab pun akan memperoleh skor maksimum ditentukan oleh penyusun soal dan keadaan jawaban yang dituntut dalam soal tersebut. 

Cara Menyusun Soal-Soal Uraian ( Essay )
Untuk menyusun soal – soal essay yang lebih efektif, perlu kiranya guru atau pembuat tes memperhatikan saran – saran seperti berikut:
  1. Sebelum memulai menulis soal yang dimaksud, hendaknya jelas dalam pikiran kita proses mental manakah yang kita harapkan dari murid untuk menjawab soal tersebut.
  2. Gunakanlah bahan – bahan atau himpunan bahan – bahan dalam menyusun soal-soal essay tersebut.
  3. Mulailah pertanyaan atau soal essay itu dengan kata – kata seperti : “bandingkan”, berilah alasan, berilah contoh – contoh yang sesuai, terangkan bagaimana, jelaskan apa yang akan terjadi jika...dan jelaskan bagaimana pendapat anda.
  4. Tulislah pertanyaan atau soal essay itu sedemikian rupa sehingga tugas apa yang harus dilakukan siswa jelas dan tidak mempunyai arti ganda bagi setiap murid.
  5. Soal essay berhubungan dengan hal – hal yang merupakan “ controversial issue “ dalam masyarakat.
  6. Usahakan agar soal essay yang kita susun itu benar – benar dapat menimbulkan perilaku yang kita kehendaki untuk dilakukan oleh siswa.
  7. Sesuaikan panjang pendeknya dan kompleksitas jawaban dengan tingkat kematangan siswa.
Beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam penulisan soal bentuk uraian adalah materi, konstruksi, dan bahasa. Secara rinci kaidah tersebut diuraikan di bawah ini:

1) Materi. 
  • Soal harus sesuai dengan indikator. Artinya soal arus mananyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan indikator.
  • Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan (ruang lingkup) harus jelas.
  • Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran.
  • Isi materi yang ditanyakan sudah sesuai dengan jenjang, jenis sekolah, dan tingkat kelas.
2) Konstruksi
  • Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai, seperti: mengapa uraikan, jelaskan, bandingkan, hubungkan, tafsirkan, buktikan, hitunglah. Jangan menggunakan kata tanya yang tidak menuntut uraian, misalnya: siapa, di mana, kapan. Demikian juga kalimat tanya yang hanya menuntut jawaban “ya” atau “tidak”. 
  • Buatlah petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.
  • Buatlah pedoman penyekoran segera setelah soalnya ditulis dengan cara menguraikan komponen yang akan dinilai atau kriteria penyekoranya, besarnya skor bagi setiap komponen, serta rentangan skor yang dapat diperoleh untuk soal yang bersangkutan.
  • Hal – hal lain yang menyertai soal seperti tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya, harus disajikan dengan jelas dan terbaca sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.
3) Bahasa
  • Rumusan kalimat soal harus komunikatif, yaitu menggunakan bahasa yang sederhana dan menggunakan kata-kata yang sudah dikenal siswa.
  • Butir soal menngunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  • Rumusan soal tidak menggunakan kata-kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian.
  • Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan untuk tingkat daerah atau nasional.
  • Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang menyinggung perasaan siswa.
Teknik Dalam Menjawab Bentuk Soal Uraian Atau Essay Agar Mendapatkan Hasil Yang Memuaskan.
1. Perencanaan waktu. 
Pertama kali yang harus kita perhatikan adalah merencanakan waktu yang akan kita habiskan untuk setiap pertanyaan. Jika kita tidak berhati – hati merencanakan waktu, kita bisa menghabiskan waktu terlalu banyak pada satu soal yang agak sulit dan membuang waktu untuk soal yang lebih mudah. Guru yang baik seringkali membantu mahasiswa / pelajar dengan menuliskan alokasi waktu yang dibutuhkan pada setiap soal. Hal ini tentu sangat membantu murid. Namun demikian, kita harus merencanakan penyelesaian ujian ini sesuai dengan kemampuan kita. Alokasi yang ditetapkan biasa saja tidak sesuai dengan alokasi yang kita buat. Kecuali tentunya pada test psikologi dimana kita tidak dibenarkan menggunakan waktu lebih dari yang dialokasikan.

2. Mengikuti petunjuk
Ujian essay sangat ditentukan oleh petunjuk dan instruksi pada pertanyaan yang diberikan. Perhatikanlah kata-kata penting yang digunakan dalam petunjuk umum maupun petunjuk khusus. Misalnya petunjuk sebutkan berbeda dengan jelaskan. Juga kata-kata bandingkan dengan ulaslah.

Jika anda diminta untuk menyebutkan anda tidak perlu memberikan penjelasan terinci untuk masing-masing item yang anda sebutkan, kecuali memang diminta (sebutkan dan jelaskan). Sebab, hal ini akan membuang waktu anda, sedangkan pemerikasa tidak akan memberikan nilai tambahan untuk ini. Sebaliknya, jika anda diminta menjelaskan, berikan penjelasan yang mudah dimengerti, jangan berbelit-belit dan gunakan bahasa yang baik.

Beberapa perintah atau petunjuk ujian essay perlu di mengerti benar apa maksudnya. Berikut ini disajikan beberapa kata kunci yang sering digunakan dalam ujian beserta sedikit penjelasannya. 

Sebutkan. Disini anda cukup menyebutkan istilah atau kalimat tertentu saja. Sebaiknya anda memberikan nomor atau huruf untuk memudahkan perhitungan.

Berikan definisi. Disini anda diminta untuk memberikan pengertian suatu istilah dengan singkat dan jelas. Jangan memberikan penjelasan terinci, tetapi juga harus dapat membedakan dengan istilah lain yang hampir bersamaan.

Jelaskan. Instruksi ini menuntut lebih banyak pengertian kita terhadap materi yang ditanyakan dan kemampuan kita mengekspresikan pengertian kita. Berikanlah penilaian anda secara jelas, bagaimana hal tersebut terjadi dan berikan alasan – alasan yang diperlukan.

Bandingkan. Disini biasanya kita diminta membandingkan dua keadaan. Dalam hal ini terangkan sifat – sifat dan kualitas keadaan / sesuatu yang diminta. Tunjukkan persamaan dan perbedaan satu dengan yang lainnya.

Gambarkan. Berikan gambar, diagram atau struktur dari sesuatu yang diminta. Jangan lupa memberikan label / petunjuk tertentu agar pemeriksa mengetahui bahwa kita mengerti akan apa yang kita gambarkan. Pada beberapa kasus diperlukan penjelasan singkat.

Buktikan. Dalam ujian matematika atau ilmu pasti lainnya perintah ini seringkali keluar. Disitu kita harus membuktikan secara sistematika matematika atau teori yang telah dikenal sebelumnya. Dalam bidang ilmu sosial, kita juga bias memberikan bukti dengan mengutip fakta – fakta dan alasan – alasan logis yang membuktikan kebenaran hal yang ditanyakan.

3. Tulisan dan bahasa
Ingatlah bahwa dalam ujian essay, kita harus menjelaskan atau menunjukkan kemampuan kita melalui tulisan tidak ada kesempatan untuk mengoreksi atau membenarkan apa yang kurang jelas ( seperti pada ujian lisan ) oleh karenanya, syarat utama untuk sukses dalam ujian ini adalah tulisan kita harus mudah dibaca. Selain tulisan yang mudah dibaca, tentu saja anda harus menjawab pertanyaan dengan tata bahasa yang baik.

4. Menyudahi ujian 
Seperti juga dalam menyelasaikan ujian pada umumnya, sebelum kita serahkan, periksalah sekali lagi ( jika anda masih punya waktu ). Dalam ujian essay ini, anda juga mungkin akan memberikan koreksi terhadap jawaban anda, anda mungkin ingin menambahkan satu kata kalimat untuk memperjelas jawaban anda.

Metode Pengoreksian Soal Bentuk Uraian
Untuk mengoreksi soal bentuk uraian dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu metode per nomor (whole method), metode per lembar (separated method), dan metode bersilang (cross metode).
  • Metode per nomor : Disini guru mengoreksi hasil jawaban peserta didik untuk setiap nomor. Misalnya, guru mengoreksi nomor satu untuk seluruh peserta didik, kemudian nomor dua untuk seluruh peserta didik, dan seterusnya. Kebaikannya adalah pemberian skor yang berbeda atas dua jawaban yang kualitasnya sama hampir tidak akan terjadi, karena jawaban peserta didik yang satu selalu dibandingkan dengan jawaban peserta didik yang lain, sedangkan kelemahannya adalah pelaksanaannya terlalu berat dan memakan waktu banyak.
  • Metode per lembar. Disini guru mengoreksi setiap lembar jawaban peserta didik mulai dari nomor satu sampai dengan nomor terakhir. Kebaikannya adalah relatif lebih murah dan tidak memakan waktu banyak, sedangkan kelemahannya adalah guru sering member skor yang berbeda atas dua jawaban yang sama kualitasnya atau sebaliknya.
  • Metode bersilang. Guru mengoreksi jawaban peserta didik dengan jalan menukarkan hasil koreksi dari seorang korektor kepada korektor yang lain. Dengan kata lain, jika telah selesai dikoreksi oleh seorang korektor, lalu dikoreksi kembali oleh korektor yang lain. Kelebihannya adalah faktor subjektif dapat dikurangi, sedangkan kelemahannya adalah membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak.
Disamping metode-metode diatas, ada juga metode lain untuk mengoreksi jawaban soal bentuk uraian, yaitu :
  • Analytical method, yaitu suatu cara untuk mengoreksi jawaban peserta didik dan guru sudah menyiapkan sebuah model jawaban, kemudian di analisis menjadi beberapa langkah atau unsur yang terpisah, dan pada setiap langkah disediakan skor – skor tertentu.
  • Sorting method, yaitu metode memilih yang dipergunakan untuk memberi skor terhadap jawaban jawaban yang tidak dibagi-bagi menjadi unsure-unsur. Jawaban-jawaban peserta didik harus dibaca secara keseluruhan.
Selanjutnya, guru juga dapat menggunakan metode lain untuk pemberian skor soal bentuk uraian, yaitu :
  • Point method, yaitu setiap jawaban dibandingkan dengan jawaban ideal yang telah ditetapkan dalam kunci jawaban dan skor yang diberikan untuk setiap jawaban akan bergantung pada derajat kepadanannya dengan kunci jawaban. Metode ini sangat cocok digunakan untuk bentuk uraian terbatas, karena setiap jawaban sudah dibatasi dengan kriteria tertentu.
  • Rating method, yaitu setiap jawaban peserta didik ditetapkan dalam salah satu kelompok yang sudah dipilah-pilah berdasarkan kualitasnya selagi jawaban tersebut dibaca.
Kelebihan dan Kekurangan Bentuk Tes Uraian
1. Kelebihan tes bentuk uraian antara lain :
  1. Menyusunnya relatif mudah
  2. Guru dapat menilai peserta didik mengenai kreativitas, menganlisis dan mengsintesis suatu soal.
  3. Guru dapat memperoleh data-data mengenai kepribadian peserta didik
  4. Peserta didik tidak dapat menerka – nerka 
  5. Derajat ketepatan dan kebenaran peserta didik dapat dilihat dari ungkapan kalimat – kalimatnya.
  6. Sangat cocok untuk mengukur dan menilai hasil belajar yang kompleks, yang sukar diukur dengan mempergunakan bentuk objektif.
2. Kekurangan tes bentuk uraian antara lain :
  • Sukar sekali menilai jawaban peserta didik secara tepat dan komprehensif.
  • Ada kecenderungan guru untuk memberikan nilai seperti biasanya.
  • Menghendaki respons-respons yang relatif panjang
  • Untuk mengoreksi jawaban diperlukan waktu yang lama 
  • Guru sering terkecoh dalam memberikan nilai, karena keindahan kalimat dan tulisan, bahkan juga oleh lembar jawaban
  • Hanya terbatas pada guru-guru yang menguasai materi yang dapat mengoreksi jawaban peserta didik sehingga kurang praktis bila jumlah peserta didik cukup banyak.
Soal Jawaban Singkat
Soal jawaban singkat adalah soal yang menuntut peserta tes untuk memberikan jawaban singkat berupa kata, frase, nama, tempat, nama tokoh, lambang, atau kalimat yang sudah pasti. Bentuk soal jawaban singkat sangat tepat digunakan untuk mengukur kemampuan peserta tes yang sangat sederhana. Kemampuan yang dikur dengan jawaban singkat adalah kemampuan menyebutkan istilah, kemampuan menyebutkan fakta, kemampuan menyebutkan prinsip, kemampuan menyebutkan metode atau prosedur, kemampuan menginterpretasi data sederhana, kemampuan memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan anak dan kemampuan melengkapi persamaan.

1. Jenis Soal
Dari segi rumusan kalimatnya, soal jawaban singkat dapat berupa kalimat perintah, kalimat tanya, dan kalimat yang tidak lengkap.

Soal jawaban singkat dengan kalimat perintah, misalnya: 
  • Tuliskan ibu kota propinsi Sulawesi Tenggara
  • Sebutkan alat indera untuk melihat
  • Sebutkan warna bunga mawar.
Soal jawaban singkat dengan kalimat tanya misalnya:
  • Apa nama ibukota Negara Indonesia?
  • Dengan cara apa korupsi diberantas?
  • Dimanakah terjadinya gempa sunami?
Soal jawaban singkat dengan kalimat yang tidak lengkap misalnya:
  • Alat ini dinamakan….
  • Peta disamping menunjukkan Negara ….
  • Gambar ini menunjukkan permainan....
2. Unsur – unsur penyusunan soal jawaban singkat
Dalam menulis soal bentuk jawaban singkat, penulis soal harus mengetahui konsep dasar bentuk jawaban singkat. Bentuk ini merupakan salah satu bentuk soal objektif yang jawabannya menuntut siswa untuk menjawab soal dengan singkat yaitu jawabannya dapat berupa satu kata, kelompok kata/frasa, simbol matematika, atau angka.

Adapun wujud soal bentuk jawaban singkat adalah terdiri dan 5 unsur, yaitu: 
  1. dasar pertanyaan (stimulus) bila diperlukan,
  2. pertanyaan, 
  3. tempat jawaban,
  4. kunci jawaban, 
  5. pedoman penskoran.
a. Materi
  1. Soal harus sesuai dengan indikator.
  2. Materi yang diukur sesuai dengan tuntutan jawaban singkat.
b. Konstruksi
  1. Pernyataan disusun dengan bentuk pertanyaan langsung agar siswa lebih mudah merumuskan jawaban singkat.
  2. Pernyataan disusun dengan bentuk pertanyaan yang menuntut jawaban singkat pendek yang berupa sebuah kata, angka, simbol, atau kelompok kata.
  3. Tempat jawaban hendaknya berupa garis lurus (bukan titik-titik). Tanda titik-titik dapat mengaburkan pengertian pemeriksanya. Misal karena ada tanda titik dapat mengaburkan pandangan pemeriksa, sehingga dikira huruf “I” atau lainnya.
  4. Hindarilah pernyataan yang menggunakan kata-kata yang langsung mengutip dan uraian materi buku pelajaran.
  5. Pertanyaan hanya ada satu jawaban yang benar. Hal inl perlu diperhatikan karena seringkali siswa memberikan interpretasi pertanyaan yang sama sekali tidak diduga dan dimaksudkan oleh penulis soal. Cara mengatasinya semua kemungkinan jawaban harus didaftar dicantumkan dalam kunci pemeriksaan.
  6. Tempat jawaban yang dikosongkan harus sama panjangnya dan ditempatkan setelah pertanyaan.
  7. Jika jawaban yang dikehendaki adalah menuntut satuan urutan, maka ungkapkanlah secara rinci di dalam pertanyaan.
c. Bahasa/budaya 
  1. Gunakanlah pertanyaan yang menuntut jawaban singkat, misalnya menggunakan kata tanya siapa, kapan, berapa, di mana.
  2. Bahasa soal harus komunikatif dan disesuaikan dengan jenjang pendidikan siswa.
  3. Gunakan bahasa Indonesia baku.
  4. Soal tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu.
Blog, Updated at: 07.43

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts