Aliran Mu’tazilah Dalam Lintasan Sejarah Pemikiran Islam

Aliran Mu’tazilah Dalam Lintasan Sejarah Pemikiran Islam
Dalam sejarah pemikiran Islam, telah tumbuh dan berkembang berbagai mazhab atau aliran keagamaan, baik di bidang politik, hukum maupun akidah/kalam. Di bidang yang terakhir ini, tercatat dalam sejarah adanya aliran-aliran seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah Salafiyah dan Wahabiyah. Aliran-aliran tersebut masih tetap berkembang hingga sekarang, kecuali aliran Mu’tazilah yang sudah tidak berkembang lagi. Aliran Mu’tazilah dikenal sebagai aliran yang mengagungkan kemampuan akal, sehingga pemikiran Kalam/teologi yang mereka kembangkan bercorak rasional dan liberal.

Tulisan ini tidak bermaksud mengungkapkan pemikiran dan ajaran Mu’tazilah tersebut, melainkan ingin melihat keberadaan sebuah aliran yang pernah berkembang dan meraih kemajuan di zaman klasik, namun akhirnya mengalami kemunduran dan hilang dari permukaan bumi. Karenanya uraian lebih difokuskan pada tinjauan historisnya.

Lahirnya Aliran Mu’tazilah
Persoalan teologis yang cukup hangat diperbincangkan oleh para ulama pada penghujung abad I hijrah ialah tentang status orang mukmin yang melakukan dosa besar, apakah ia tetap mukmin atau menjadi kafir. Persoalan tersebut kemudian muncul pula di majelis taklim yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri ( 21-110 H/642-728 M) di masjid Bashrah.

Masalah status mukmin yang berdosa besar tersebut muncul di forum ketika dipertanyakan oleh seorang peserta kepada Hasan al-Bashri di pengajiannya. Disaat Hasan al-Bashri masih berfikir untuk menjawab, secara spontan salah seorang peserta pengajian yang bernama Washil ibn Atha (80-131 H/699-749 M) memberikan jawaban. Menurut pendapat saya katanya, orang mukmin yang berbuat dosa besar maka statusnya tidak lagi mukmin sempurna namun juga tidak kafir sempurna. Dia berada di antara dua posisi yang disebutnya al-Manzilah bayn al-Manzilatain (tempat di antara dua tempat). Sesudah mengemukakan pendapat tersebut, Washil ibn Atha langsung meninggalkan forum pengajian Hasan al-Bashri dan diikuti oleh temannya yang bernama ‘Amr ibn Ubaid. Mereka langsung menuju salah satu tempat lain di dalam masjid tersebut.

Melihat tindakan Washil dan temannya itu, Hasan al-Bashri pun berkomentar dengan kata : I’tazala ‘Anna Washil, (Washil telah memisahkan diri dari kita). Semenjak itulah Washil dan kawannya-kawannya dinamai dengan sebutan Mu’tazilah.1 Peristiwa yang diceritakan di atas dinilai oleh banyak ahli sejarah sebagai faktor utama penyebab lahirnya aliran Mu’tazilah.

Ada pula versi lain sebagaimana dijelaskan oleh al-Baghdadi bahwa Washil dan temannya ‘Amr ibn ‘Ubaid diusir oleh Hasan al-Basri dari majelisnya karena adanya perbedaan pendapat antara mereka tentang masalah qadar dan orang mukmin yang berdosa besar. Keduanya kemudian menjauhkan diri dari Hasan al-Bashri dan mereka pun disebut dengan kaum Mu’tazilah karena pendapat mereka memisahkan diri dari pendapat umat Islam pada umumnya tentang mukmin yang berdosa besar. 2

Istilah Mu’tazilah sebenarnya sudah pernah muncul satu abad sebelum munculnya Mu’tazilah yang dipelopori oleh Washil ibn Atha. Sebutan Mu’tazilah ketika itu merupakan julukan bagi kelompok yang tidak mau terlibat dengan urusan politik, dan hanya menekuni kegiatan dakwah dan ibadah semata.3 Secara khusus sebutan Mu’tazilah itu ditujukan kepada mereka yang tidak mau ikut peperangan, baik perang Jamal antara pasukan Saidina Ali ibn Abi Thalib dengan pasukan Siti Aisyah, maupun perang Siffin antara pasukan Saidina Ali ibn Abi Thalib melawan pasukan Mu’awiyah. Kedua peperangan ini terjadi karena persoalan politik.4

Jika Mu’tazilah pertama muncul berkaitan dengan masalah politik, maka Mu’tazilah yang kedua, yang muncul satu abad kemudian, lebih disebabkan karena persoalan agama semata. Mu’tazilah inilah yang kemudian menjadi salah satu aliran Kalam dalam pemikiran Islam.

Sekitar Penamaan Mu’tazilah
Siapakah atau pihak manakah yang memberikan nama Mu’tazilah itu. Apakah diberikan oleh orang luar ataukah oleh kaum Mu’tazilah sendiri. Persoalan ini tampaknya ada kejelasan, karena terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli sejarah. Ada yang berpendapat bahwa nama Mu’tazilah diberikan oleh pihak luar, dan ada pula yang mengatakan diberikan oleh mereka sendiri.

Pendapat yang mengatakan bahwa nama Mu’tazilah itu diberikan oleh pihak luar, biasanya bersumber dari peristiwa keluarnya Washil dari pengajian Hasan al-Bashri, di mana dari Hasan Bashri muncul ucapan “I’tazala ‘Anna” . Dari kata-kata tersebut muncullah kemudian sebutan Mu’tazilah bagi Washil dan para pengikutnya. Ini berarti bahwa nama Mu’tazilah bukan berasal dari Washil sendiri melainkan dari pihak luar.

Tasy Kubra Zadah menceritakan bahwa pada suatu hari Qatadah ibn Da’amah as Sadusy (w.117/118 H) masuk ke masjid Bashrah dan menggabungkan diri dengan majelis Amr ibn Ubaid yang dia sangka majelis Hasan al-Bashri. Tetapi setelah ia sadar bahwa itu bukan kelompoknya Hasan al-Bashri, ia pun bergegas meninggalkannya sambil berkata “ini kaum Mu’tazilah”. Semenjak itu, kata Tasy Kubra Zadah, kelompok mereka dinamakan kaum Mu’tazilah.5

Pihak luar, selain memberi nama Mu’tazilah, juga memberikan nama-nama lain. Kaum Ahlussunnah Waljamaah menamakan mereka dengan kaum Mu’attilah yakni golongan yang menafikan sifat Tuhan. Mereka berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat-sifat yang berdiri sendiri pada zat.6 Selain itu, ada pula yang menjuluki dengan istilah kaum al-Qadariyah, karena mereka menganut paham bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan kemampuan berbuat. Selain itu ada pula yang menamakan dengan al-Wa’idiyah, karena mereka mengajarkan paham bahwa ancaman Tuhan terhadap orang-orang yang tidak taat pasti berlaku.7

Kaum Mu’tazilah sendiri sebenarnya menamakan golongan mereka dengan sebutan “Ahlu al-‘adli wa al-tauhid, yakni golongan yang mempertahankan keadilan dan keesaan Tuhan. Sebutan ini lebih mereka sukai karena bersumber dari dua ajaran pokok yaitu al’Adlu dan al-Tauhid.

Kendati demikian, kalau kita perhatikan ucapan-ucapan kaum Mu’tazilah sendiri, akan dijumpai bahwa mereka tidak menolak disebut Mu’tazilah.8 Menurut Harun Nasution, walaupun lebih senang disebut Ahl al-‘adl wa al-tauhid, namun mereka tidak menolak disebut Mu’tazilah itu. Bahkan dari ucapan-ucapan pemuka Mu’tazilah dapat disimpulkan bahwa mereka sendirilah yang menimbulkan nama itu. Al-Qadhi Abd al-Jabbar misalnya mengatakan bahwa dalam al-Quran terdapat kata I’tazala yang mengandung arti menjauhi yang salah atau tidak benar, dan dengan demikian Mu’tazilah mengandung arti pujian. Ia juga menambahkan adanya hadits nabi yang menerangkan bahwa umat akan terpecah menjadi 73 golongan dan yang paling patuh dan terbaik di antaranya adalah golongan Mu’tazilah.9

Sementara itu, Ahmad Hanafi mengatakan bahwa nama Mu’tazilah itu tidak mereka senangi karena bisa disalahtafsirkan oleh lawan-lawan mereka untuk maksud-maksud ejekan. Tapi karena sebutan itu telah melekat dan tidak ada jalan lain untuk menghindarinya, maka mereka pun membuat alasan-alasan kebaikan dari sebutan itu. Ahmad ibn al-Murtadha (w.850 M) mengatakan bahwa kaum Mu’tazilah itu sendiri yang memberikan nama tersebut dan mereka tidak menyalahi kesepakatan, bahkan memakai apa yang telah disepakati pada masa awal Islam. Kalau mereka menyalahi sesuatu, maka pendapat-pendapat yang baru dan bid’ah-bid’ah itulah yang mereka jauhi (I’tazaluha).10 Dengan demikian, sebutan Mu’tazilah dalam pandangan mereka tidak mengandung ejekan dan kejelekan karena itu mereka tidak menolak nama tersebut.

Keterangan di atas menunjukkan adanya dua pendapat tentang penamaan Mu’tazilah. Satu pendapat mengatakan penamaan berasal dari pihak luar, dan satu pendapat mengatakan penamaan dari kaum Mu’tazilah sendiri, atau sekurang-kurangnya mereka tidak menolak dengan nama tersebut. Tapi jika mengacu pada awal munculnya nama tersebut, maka pemberian nama itu berasal dari pihak luar, yaitu berasal dari ucapan Hasan al-Bashri, bukan dari kaum Mu’tazilah sendiri.

Sebab-Sebab dinamakan Mu’tazilah
Mengenai sebab-sebab dinamakan Mu’tazilah, Ahmad Amin mengemukakan tiga pendapat yaitu :
  1. Dinamakan Mu’tazilah karena Washil ibn Atha dan Amr ibn Ubaid memisahkan diri dari majelis taklim yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri di masjid Bashrah. Washil ibn Atha memisahkan diri secara fisik (I’tazala ) dari pengajian Hasan al-Bashri. Orang yang memisahkan diri dinamakan Mu’tazilah.
  2. Dinamakan Mu’tazilah karena pendapat mereka menjauhi pendapat lain yang berkembang waktu itu. Pendapat Washil ibn Atha bahwa pelaku dosa besar tidak lagi mukmin dan juga tidak kafir (al-manzilatu bayn al-manzilatain ) telah menjauhi atau memisahkan dengan pendapat golongan-golongan lainnya. Jumhur ulama mengatakan tetap mukmin, Khawarij mengatakan kafir, dan Hasan al-Bashri berpendapat tetap mukmin namun fasik.
  3. Dinamakan Mu’tazilah adalah karena pelaku dosa besar berada antara mukmin dan kafir, sama halnya memisahkan diri atau menjauhkan diri dari orang mukmin yang sempurna.
Ketiga pendapat di atas mengacu kepada sebuah peristiwa yang melibatkan Washil ibn Atha dan Hasan al-Bashri dalam pengajian di masjid Basrah. Peristiwa tersebut menurut Ahmad Amin semata-mata bertema agama, bukan bertema politik.11

Tokoh-tokok Pendukung Aliran Mu’tazilah
Dalam perkembangannya, aliran Mu’tazilah tidak hanya berpusat di kota Basrah sebagai kota kelahirannya, tetapi juga berpusat di kota Bagdad, yang merupakan ibu kota pemerintahan. Karena itu, jika berbicara tentang tokoh pendukungnya maka kita harus melihatnya dari kedua kota tersebut.

Tokoh-tokoh yang ada di Bashrah :
  1. Washil ibn Atha (80-131 H). Ia dilahirkan di Madinah dan kemudian menetap di Bashrah. Ia merupakan tokoh pertama yang melahirkan aliran Mu’tazilah. Karenanya, ia diberi gelar kehormatan dengan sebutan Syaikh al-Mu’tazilah wa Qadimuha, yang berarti pimpinan sekaligus orang tertua dalam Mu’tazilah 12
  2. Abu Huzail Muhammad ibn Huzail ibn Ubaidillah ibn Makhul al-Allaf. Ia lahir di Bashrah tahun 135 dan wafat tahun 235 H. Ia lebih populer dengan panggilan al-Allaf karena rumahnya dekat dengan tempat penjualan makanan ternak. Gurunya bernama Usman al-Tawil salah seorang murid Washil ibn Atha.13
  3. Ibrahim ibn Sayyar ibn Hani al-Nazham. Tahun kelahirannya tidak diketahui, dan wafat tahun 231 H . Ia lebih populer dengan sebutan Al-Nazhzham.
  4. Abu Ali Muhammad ibn Ali al-Jubba’i. Dilahirkan di Jubba sebuah kota kecil di propinsi Chuzestan Iran tahun 135 H dan wafat tahun 267 H. Panggilan akrabnya ialah Al-Jubba’i dinisbahkan kepada daerah kelahirannya di Jubba. Ia adalah ayah tiri dan juga guru dari pemuka Ahlussunnah Waljamaah Imam Abu Hasan al-Asy’ari.
Itulah empat tokoh besar Mu’tazilah di Bashrah. Selanjutnya tokoh-tokoh yang berdomisili di Bagdad adalah :
  1. Bisyir ibn al-Mu’tamir (wafat 226 H/840 M). Ia merupakan pendiri Mu’tazilah di Bagdad.
  2. Abu al-Husain al-Khayyat (wafat 300 H/912 M). Ia pemuka yang mengarang buku Al-Intishar yang berisi pembelaan terhadap serangan ibn Al-Rawandy.
  3. Jarullah Abul Qasim Muhammad ibn Umar (467-538 H/1075-1144 M). Ia lebih dikenal dengan panggilan al-Zamakhsyari. Ia lahir di Khawarazm (sebelah selatan lautan Qazwen), Iran. Ia tokoh yang telah menelorkan karya tulis yang monumental yaitu Tafsir Al-Kasysyaf.
  4. Abul Hasan Abdul Jabbar ibn Ahmad ibn Abdullah al-Hamazani al-Asadi. (325-425 H). Ia lahir di Hamazan Khurasan dan wafat di Ray Teheran. Ia lebih dikenal dengan sebutan Al-Qadi Abdul Jabbar. Ia hidup pada masa kemunduran Mu’tazilah. Kendati demikian ia tetap berusaha mengembangkan dan menghidupkan paham-paham Mu’tazilah melalui karya tulisnya yang sangat banyak. Di antaranya yang cukup populer dan berpengaruh adalah Syarah Ushul al-Khamsah dan Al-Mughni fi Ahwali Wa al-Tauhid..
Menurut analisis Yoesoef Sou’yb, antara kedua daerah tersebut terdapat beberapa perbedaan karakteristik, yaitu :
  1. Pemuka Mu’tazilah di Basrah cenderung menghindari jabatan birokrasi di pemerintahan maupun di pengadilan. Dengan demikian mereka dapat lebih fokus pada bidang agama dan keilmuan dan dapat mengemukakan pemikiran secara leluasa tanpa terikat dengan kepentingan pemerintah atau pihak lainnya. Sedangkan di Bagdad, mereka menggunakan kesempatan untuk menduduki jabatan-jabatan dengan tujuan untuk mendapat dukungan sekaligus perlindungan.
  2. Pemuka di Basrah menyebarkan paham tanpa pemaksaan dan kekerasan, melainkan lebih banyak menanti kesadaran umat untuk mengikutinya. Sedangkan di Bagdad, terkadang berusaha secara sungguh-sungguh dan melakukan kekerasan agar masyarakat mengikuti aliran Mu’tazilah.14
  3. Pemuka di Basrah tidak begitu dipengaruhi oleh filsafat. Sedangkan pemuka di Bagdad lebih banyak dipengaruhi filsafat, sehingga mempengaruhi pola pikir mereka ke arah rasional dan liberal. 15
Walaupun terdapat perbedaan karakteristik antara kedua daerah tersebut, namun secara umum teologi Mu’tazilah telah memperlihatkan corak rasional dan liberal. Hal ini tidak terlepas dari metode pemikiran yang mereka gunakan dalam memahami serta memecahkan masalah-masalah teologi.

Metode Pemikiran Kalam/teologi
Menurut Abu Zahrah, dalam menetapkan akidah, Mu’tazilah berpegang pada premis-premis logika, kecuali dalm masalah-masalah yang tidak dapat dijngkau akal. Mereka mempercayai kemampuan dan kekuatan akal. Setiap masalah yang timbul mereka hadapkan kepada akal. Yang dapat diterima akal, mereka terima, dan yang tidak dapat diterima akal mereka tolak.16

Mu’tazilah banyak dipengaruhi oleh pemikiran filsafat Yunani dan logika dalam menemukan landasan-landasan paham mereka. Penyebabnya ada dua yaitu :
  1. Mereka menemukan di dalam filsafat Yunani keserasian dengan kecenderungan pikiran mereka. Kemudian mereka jadikan sebagai metode berpikir yang membuat mereka lebih lancar dan kuat dalam berargumentasi.
  2. Ketika para filosof dan pihak lain berusaha meruntuhkan dasar-dasar ajaran Islam dengan argumentasi-argumentasi logis, Mu’tazilah dengan gigih menolak mereka dengan menggunakan metode diskusi dan debat mereka.Kaum Mu’tazilah memang banyak mempelajari filsafat untuk dijadikan senjata mengalahkan serangan para filosof dan pihak lainnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kaum Mu’tazilah adalah filosof-filosof Islam.17 Dalam menemukan pemikiran akidahnya, Mu’tazilah menggunakan metode logika murni dengan tetap berusaha agar tidak menyimpang dari nas-nas al-Quran. Jika kelihatan adanya pertentangan antara paham mereka dan nash al-Qur’an yang mereka baca, maka nas itu mereka takwilkan sehingga tidak bertentangan dengan paham mereka sekaligus tidak bertentangan dengan makna al-Qur’an.18 Di dalam sejarah pemikiran Islam, kaum Mu’tazilah merupakan golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis dibanding aliran-aliran teologi lainnya. Hal ini sebagaimana dikatakan di atas karena mereka banyak dipengaruhi filsafat dan logika. Dalam membahas dan memecahkan masalah-masalah teologi mereka lebih banyak menggunkan kemampuan akal.. Karenanya maka teologi yang mereka kembangkan lebih bercorak rasional dan liberal. Mereka pun dinamakan juga dengan sebutan “kaum rasionalis Islam”19. Lima Doktrin Pokok (al-Ushul al-Khamsah) Kaum Mu’tazilah mempunyai lima doktrin pokok yang populer dengan sebutan al-Ushul al-Khamsah. Kelima doktrin itu adalah al-Tauhid, al-Adl, al-Wa’d wa al-Wa’id, al-Manzilah bain al-Manzilatain, dan al-Amr bi al-ma’ruf wa al-Nahyu ‘an al-Munkar.
  3. Al-Tauhid, yaitu mengesakan Tuhan. Dalam mengesakan Tuhan, kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat-sifat yang berdiri sendiri di luar zat, karena akan berakibat banyaknya yang qadim. Mereka juga menolak sifat-sifat jasmaniyah (antropomorfisme) bagi Tuhan karena akan membawa tajsim dan tasybih.
  4. Al’Adlu, yaitu keadilan Tuhan. Keadilan Tuhan menurut amu’tazilah mengandung arti bahwa Tuhan wajib berbuat baik dan terbaik bagi hamba-Nya (al-shalah wal ashlah), Tuhan wajib menepati janji Tuhan wajib berbuat sesuai norma dan aturan yang ditetapkan-Nya, dan Tuhan tidak akan member beban dluar kemampan hamba.
  5. Al-Wa’d wa al-Wa’id, yaitu janji dan ancaman. Kaum Mu’tazilah meyakini bahwa janji dan ancaman Tuhan untuk membalas perbuatan hamba-Nya pasti akan terlaksana. Ini bagian dari keadilan Tuhan.
  6. Al-Manzilah bain al-Manzilatain, yaitu tempat di antara dua tempat. Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa orang mukmin yang berdosa besar, statusnya tidak lagi mukmin dan juga tidak kafir, ia berada di antara keduanya. Doktrin inilah yang kemudian melahirkan aliran Mu’tazilah yang digagas oleh Washil ibn Atha.
  7. Al-Amr bi al-ma’ruf wa al-Nahyu ‘an al-munkar., yaitu perintah melaksanakan perbuatan baik dan larangan perbuatan munkar. Ini merupakan kewajiban dakwah bagi setiap orang Mu’tazilah. Menurut salah seorang pemuka Mu’tazilah, Abu al-Husain al-Khayyat, seseorang belum bisa diakui sebagai anggota Mu’tazilah kecuali jika sudah menganut kelima doktrin tersebut.20
Perkembangan Aliran Mu’tazilah
Pada awalnya Mu’tazilah merupakan aliran teologi yang hanya dianut oleh masyarakat biasa. Tapi kemudian teologi yang bercorak rasional dan liberal ini menarik perhatian kalangan intelektual dan juga lingkungan pemerintah kerajaan Abbasiyah. Melihat hal demikian, khalifah Al-Makmun (813-833 M) putera Harun al-Rasyid (766-809 M), pada tahun 827 M menjadikan teologi Mu’tazilah sebagai mazhab resmi Negara.21 Sejak itu resmilah aliran Mu’tazilah menjadi satu-satunya aliran teologi yang boleh dianut oleh umat Islam dalam wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah.

Dengan mendapat pengakuan resmi dari pemerintah, maka otomatis aliran ini mendapat dukungan sekaligus perlindungan dari penguasa waktu itu. Selanjutnya aliran ini pun dengan leluasa dan berani menyebarkan paham-pahamnya secara terbuka kepada public. Penyebaran tersebut mereka lakukan mulai cara lemah lembut sampai pemaksaan dan kekerasan. Puncak kekerasan dan pemaksaan itu berkenaan dengan paham “Al-Quran makhluk”. Masalah ini sampai menimbulkan peristiwa al-Mihnah yaitu pemeriksaan terhadap para ulama ahli Hadits dan ahli fikih oleh Khalifah Al-Makmun pada Dinasti Abbasiyah.

Mula-mula Khalifah Al-Makmun mengirimkan surat kepada Ishaq ibn Ibrahim (gubernur Bagdad) agar memerintahkan kepada para pejabat untuk mengakui paham bahwa Al-Qur’an makhluk. Ada tiga langkah yang harus diambil, pertama memberhentikan pejabat-pejabat yang tidak mau mengakui kemakhlukan Al-Quran. Kedua memerintahkan untuk melakukan pemeriksaan terhadap para ulama ahli fikih dan ahli Hadits serta yang terkait dengan urusan fatwa tentang makhluk tidaknya Al-Quran. Bila upaya kedua ini tidak membawa hasil (mereka tawaqquf), maka perlu dilakukan langkah ketiga yaitu mereka harus disiksa bahkan diancam hukuman mati.22

Dalam peristiwa al-Mihnah, Ishaq telah memeriksa sekitar 30 orang hakim, ulama ahli hadis dan ahli fikih, mereka sepakat mengakui kemakhlukan Al-Quran. Namun ada empat orang ulama yang tawaqquf yaitu Ahmad ibn Hanbal, Sajjadah, al-Qawariri dan Muhammad ibn Nuh.23Karena itu, keempat ulama tadi dimasukkan ke dalam tahanan dalam keadaan diborgol. Keesokan harinya Sajjadah mau mengakui dan ia pun dibebaskan. Pada hari-hari berikutnya ketiga ulama yang masih ditahan tadi terus dipaksa dan diancam agar mau mengakui kemakhlukan Al-Quran, hingga akhirnya al-Qawariri mengakuinya dan iapun dibebaskan. Sementara dua lainnya dikirim kepada khalifah Al-Makmun di Thurus. Muhammad ibn Nuh meninggal dunia dalam perjalanan. Di tengah perjalanan tersiar kabar bahwa Al-Makmun meninggal dunia, namun sebelumnya ia sempat berwasiat kepada penggantinya yaitu al-Mu’tashim agar melanjutkan kebijakannya itu.24 Atas wasiat tersebut, Al-Mu’tashim pun melanjutkan al-Mihnah terhadap mereka yang belum mengakui kemakhlukan Al-Quran termasuk yang masih tawaqquf. Ahmad ibn Hanbal karena tetap tawaqquf, iapun dipenjarakan dan disiksa sampai beberapa tahun baru ia dibebaskan.25

Setelah al-Mu’tashim meninggal, kekhalifahan diganti oleh al-Wasiq (842-847 M). Kebijakan melakukan al-Mihnah tampaknya tidak dihentikan, namun tidak lagi terlalu keras seperti pendahulunya. Namun demikian, ada informasi bahwa khalifah terakhir ini telah memancung seorang ulama terkenal Ahmad ibn Naser al-Khuza’i karena tidak mengakui kemakhlukan Al-Qur’an.26 Setelah Al-Wasiq meninggal, kekhalifahan digantikan oleh Al-Mutawakkil ( 232-247 H). Berbeda dengan khalifah-khalifah sebelumnya, Al-Mutawakkil tidak menudukung aliran Mu’tazilah, sehingga masalah al Mihnah tidak lagi ia teruskan. Sejak itu al-Mihnah pun terhenti, ia bahkan berusaha meredam ketegangan situasi dan membebaskan semua ulama yang ditahan sebelumnya.27

Kalau semula aliran Mu’tazilah mengalami kemajuan dan dapat meraih zaman keemasan karena mendapat dukungan penguasa dan ajarannya disenangi kaum intelektual, namun setelah mereka melancarkan kekerasan dan penyiksaan , terlebih lagi pemenjaraan terhadap para ulama, maka sejak itu kaum muslimin mulai membenci aliran Mu’tazilah. Merekapun mulai meninggalkan aliran tersebut. Kebencian mereka itu seakan didukung oleh sikap khalifah Al-Mutawakkil yang juga tidak senang dengan aliran Mu’tazilah. Aliran ini perlahan-lahan mulai mengalami kemunduran dan kehilangan kekuatannya. Lebih-lebih setelah Muhammad al-Ghazwani, seorang pengikut mazhab Sunny dan Syafi’i berkuasa sampai ke wilayah Irak tahun 395 H mengeluarkan pengumuman larangan terhadap aliran Mu’tazilah di wilayahnya, buku-bukunya banyak yang dibakar dan ajaran-ajarannya tak boleh lagi dianut.28 Akhirnya Al-Mutawakkil pun membatalkan aliran Mu’tazilah sebagai mazhab resmi Negara pada tahun 848 M.29

Umat Islam yang telah lama merasa tertekan akibat pemaksaan dan kekerasan yang dilancarkan kaum Mu’tazilah, begitu mengetahui khalifah telah membatalkan aliran Mu’tazilah sebagai mazhab resmi negara, maka kaum muslimin pun mulai berani angkat bicara, mendiskusikan, mengkritisi bahkan membantah paham-paham Mu’tazilah dengan berbagai argumentasi. Situasi ini juga didukung oleh mulai berkembangnya aliran Asy’ariyah yang telah digagas oleh seorang ulama besar, tokoh sentral kaum Ahlusunnah Waljamaah yaitu Abu al-Hasan al-Asy’ari (260-324 H). Dengan kharisma Al-Asy’ari dan ditambah dengan ajaran-ajaran yang dibawanya agak moderat dan tradisional serta merupakan jalan tengah antara dua pemikiran yang ekstrim, akhirnya semakin mendapat simpati dan dukungan masyarakat luas bahkan juga pihak penguasa, semakin membuat aliran Mu’tazilah tidak berdaya lagi sampai datangnya pasukan Mongolia yang meluluhlantakkan kota Baghdad dan kota-kota lainnya tahun 1258 M, aliran inipun lenyap.30

Kalau kita perhatikan masa perkembangan aliran ini yaitu dimulai sekitar awal abad kedua Hijrah bertepatan dengan awal abad ke-8 Masehi, kemudian mengalami kemajuan dan kejayaan hingga masa khalifah Al-Mutawakkil pada abad ke-3 Hijrah. Setelah itu mengalami kemunduran sekitar abad ke-5 Hijrah bertepatan dengan abad ke-11 M. Aliran rasional ini akhirnya lenyap sama sekali seiring dengan hancurnya kota Bagdad dan kota lainnya akibat serangan tentara Mongolia pada abad ke-7 Hijrah atau 13 Masehi.

Berbagai Komentar dan Apresiasi Terhadap Mu’tazilah
Dengan lenyapnya mazhab Mu’tazilah yang bercorak rasional dan liberal ini, maka aliran Ahlussunnah yang bercorak tradisional pun semakin berkembang. Berbagai komentar dan apresiasi banyak dilontarkan seiring dengan lenyapnya aliran tersebut. Ahmad. Hanafi umpamanya mengatakan bahwa lenyapnya aliran ini memang dirasakan sebagai suatu kerugian bagi dunia Islam, karena dengan itu terjadilah kejumudan dan kemunduran. Dunia pikir Islam berada di bawah golongan konservatif kurang lebih 1000 tahun lamanya.31

Al-Ghuraby mengatakan seandainya Mu’tazilah itu tidak dibangkitkan Tuhan, niscaya Ilmu Kalam dengan kekayaannya yang besar tidak akan muncul dan tidak mampu membela Islam dari serangan-serangan luar. Karenanya kita patut bersyukur atas usaha kaum Mu’tazilah itu disertai do’a semoga kesalahan mereka diampuni Allah.32 Selain itu, Abu Zahrah juga memberikan penilaian terhadap Mu’tazilah. Jika Mutazilah kata Abu Zahrah punya pendirian bahwa Al-Quran itu makhluk, dan mereka melakukan tindakan kekerasan, berarti mereka berada pada posisi ghirah keislaman dan motivasinya adalah keimanan yang benar.33 Kalau para fuqaha dan muhaddisin kata Abu Zahrah selanjutnya, sangat berhati-hati dalam masalah agama, maka kaum Mu’tazilah juga demikian. Oleh karena itu sebaiknya masalah al-Mihnah yang dilakukan Mu’tazilah di masa Bani Abbasiyah itu tidak perlu diperdebatkan sebagaimana juga yang dikehendaki oleh Ahmad ibn Hanbal sendiri dan kawan-kawannya.34

Menurut Ahmad Amin, sebelum terjadinya al-Mihnah, Mu’tazilah banyak berjasa dalam memadukan filsafat Yunani dengan ajaran Islam, bahkan memanfaatkannya untuk membela teori-teori mereka. Mereka telah menciptakan Ilmu Kalam sebagai upaya membela ajaran Islam.35 Tuhan sajalah yang tahu sekiranya Mu’tazilah tidak muncul membela umat Islam dari serangan-serangan musuh Islam36.

Ahmad Amin memandang bahwa Mu’tazilah merupakan golongan Islam pertama yang membela Islam dengan menggunakan senjata lawan dari serangan pihak luar seperti Yahudi, Nasrani dan Majusi dan Materislistis.37 Oleh karena itu adalah suatu malapetaka besar manakala Mu’tazilah hilang dari dunia Islam.38

Walaupun Mu’tazilah dalam wujud sebuah aliran sudah tidak berkembang lagi, namun ada fenomena atau indikasi bahwa di abad modern ini pemikiran atau paham-pahamnya mulai muncul kembali. Ajaran-ajaran Mu’tazilah sebagiannya masih hidup sampai sekarang terutama di kalangan Syi’ah Zaidiyah.

Selain itu, Harun Nasution berpendapat bahwa paham Mu’tazilah masih dipandang sesat oleh sebagian umat Islam, terutama di Indonesia. Pandangan demikian timbul karena kaum Mu’tazilah dianggap tidak percaya kepada wahyu dan hanya mengakui kebenaran yang diperoleh melalui rasio. Padahal mereka tidak hanya memakai argument rasio tetapi juga memakai ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits nabi untuk mempertahankan pendirian mereka.39 Kesalahpahaman ini timbul karena buku-buku mereka tidak dibaca dan dipelajari di perguruan-perguran Islam, kecuali mulai abad XX Masehi dan itu pun hanya diperguruan-perguruan tertentu. Yang banyak dipelajari selama ini hanyalah buku-buku yang dikarang oleh kaum Asy’ariyah dan Maturidiyah, Sebagai lawan dari Mu’tazilah, tulisan-tulisan mereka tentang Mu’tazilah tidak selamanya bersifat objektif, bahkan ada yang memvonis sesat bahkan ada yang mengkafirkan.40

Berkaitan dengan pemikiran Mu’tazilah, Harun Nasution melihat bahwa dizaman modern sekarang ini, pemikiran atau paham-paham Mu’tazilah yang bercorak rasional itu telah mulai timbul kembali di kalangan umat Islam, terutama kaum intelektual. Secara tak disadari mereka telah menganut paham-paham yang sama atau dekat dengan paham Mu’tazilah. Menganut paham-paham yang demikian, tidaklah membuat mereka keluar dari Islam.41 Dengan masuknya kembali rasionalisme ke dunia Islam melalui kebudayaan barat modern, maka paham-paham Mu’tazilah mulai timbul kembali, terutama di kalangan kaum intelektual muslim yang berpendidikan barat. Istilah “neo Mu’tazilah” mulai timbul dalam tulisan-tulisan mengenai Islam.42 Bahkan Harun Nasution mengatakan bahwa semua aliran teologi tidaklah keluar dari lingkup Islam, mereka tetap berada dalam Islam. Hal ini memberikan kebebasan bagi setiap individu untuk memilih paham dan aliran teologi mana yang sesuai dengan pemikiran dan pembawaannya. Inilah hikmah ucapan nabi “Perbedaan pendapat di kalangan umatku membawa rahmat” Rahmat besarlah yang dirasakan apabila kaum terpelajar menjumpai dalam Islam aliran-aliran yang sesuai dengan jiwa dan pikirannya, dan kaum awam menemukan paham atau aliran yang dapat mengisi kebutuhan ruhaninya. 43

DAFTAR PUSTAKA
  • Abu Zahrah, Tarikh al-Mazahib al-Islamiyah, (Cairo Mesir: Dar al-Fikr al-‘Araby, t.th)
  • Abdul Qahir al-Baghdadi, Al-Farqu Bain l-Firaq,(Cairo Mesir: Maktabah Ali Sabih).
  • Ahmad Amin, Dhuha al-Islam III,(Cairo Mesir, al-Nahdhah al-Mishriyah, 1966).
  • ----------------, Zhuhr al-Islam IV, (Cairo Mesir,: Maktabah al-Nahdhah, 1975).
  • ----------------, Fajr al-Islam, (Beirut Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Araby, 1969).
  • Ahmad Hanafi, Pengantar Theology Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1980)
  • ----------------, Theology Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, cet.I, 1974)
  • Ali Sami al-Nasysyar, Nasy’ah al-Fikr al-Falsafi fil Islam I,( Cairo: Darul Ma’arif, 1966)
  • Ali Musthafa al-Ghuraby, Tarikh al-Firaq al-Islamiyah Wa Nasy’ah al-‘Ilmi al-Kalam ‘Indal muslimin, (Mesir Cairo: Mathba’h Muhammad Ali Sabih wa Awladih, 1958)
  • Al-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, (Cairo Mesir: Musthafa al-babi al-Halabi, 1961).
  • Harun Nasution, Teologi Islam,Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: UI Press, 1986).
  • Umar Hasyim, Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlussunnah Waljamaah, (Surabaya: Bina Ilmu, 1987)
  • Joesoef Sou’yb, Peranan Aliran Iktizal dalam Perkembangan Pikiran Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1982).
  • Yunan Yusuf, Alam Pikiran Islam : Pemikiran Kalam, (Jakarta: Perkasa, 1990).
CATATAN KAKI ARTIKEL DI ATAS
  • 1 Al-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal , (Cairo Mesir : Mushthafa al Baby al-Halaby , 1961), h.48.
  • 2 Al-Baghdadi, al-Farq bayn al-Firaq, ( Cairo : Maktabah Ali Sabih), h. 20.
  • 3 Ahmad Amin, Zhuhr al-Islam IV, (Cairo Mesir: Maktabah al-Nahdah, 1975), h.7.
  • 4 Ahmad Amin, Fajr al-Islam, (Beirut Lebanon: Dar al-Kutub al-Araby, 1969), h.290.
  • 5 Amin, Fajr al-Islam, h. 42.
  • 6 A. Hanafi, Pengantar Theology Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1980), cet.II, h.69.
  • 7 Yunan Yusuf, Alam Pikiran Islam, Pemikiran Kalam, (Jakarta: Perkasa, 1990) cet.I, h.37.
  • 8 Harun Nasution, Teologi Islam, Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: UI Press, 1986), h. 42.
  • 9 Ali Sami al-Nasysyar, Nasy’ah al-Fikr al-Falsafi fil Islam I,( Cairo: Darul Ma’arif, 1966), h. 431.
  • 10 A. Hanafi, Pengantar Theology Islam, h. 68.
  • 11 Ahmad Amin, Fajrul Islam, h. 288-289.
  • 12 Ali Mushthafa al-Ghuraby, Tarikh al-Firaq al-Islamiyah wa Nasy’atu al-Ilmi al-Kalam ‘Inda al-Muslimin. (Cairo Mesir: Mathba’ah Muhammad Ali Shabih wa Auladi, 1958), h.74-76.
  • 13 Ali Mushthafa al-Ghuraby, Tarikh al-Firaq al-Islamiyah, h.148.
  • 14 Joesoef Sou’yb, Peranan Aliran Iktizal dalam Perkembangan Pikiran Islam, (Jakarta: PustakaAl-Husna, 1982), cet.I, h.265.
  • 15 A. Hanafi, Pengantar Theology Islam, h.70.
  • 16 Abu Zahrah, Tarikh Mazahib al-Islamiyah ( Cairo Mesir: Dar al-Fikr al-Araby, t.th), h. 144.
  • 17 Abu Zahrah, Tarikh Mazahib al-Islamiyah, h. 145.
  • 18 Abu Zahrah, Tarikh Mazahib al-Islamiyah, h. 149
  • 19 Harun Nasution, Teologi Islam, h. 38.
  • 20 Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, juz III, (Cairo Al-Nahdhah al-Mishriyah, 1966), h.22.
  • 21 Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, h. 8.
  • 22 Abu Zahrah, Tarikh Mazahib al-Islamiyah, h.180-181.
  • 23 Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, , h. 176.
  • 24 Abu Zahrah, Tarikh Mazahib al-Islamiyah, h.182.
  • 25 Abu Zahrah, Tarikh Mazahib al-Islamiyah, h.183.
  • 26 Umar Hasyim, Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlussunnah Waljamaah? (Surabaya: Bina Ilmu, 1987).h. 44.
  • 27 Umar Hasyim, Apakah Anda Termasuk, h.44.
  • 28 A. Hanafi, Pengantar Theology Islam, h.102.
  • 29 Harun Nasution, Teologi Islam, h. 60.
  • 30 A. Hanafi, Pengantar Theology Islam, h.103.
  • 31 A. Hanafi, Pengantar Theology Islam, h.103.
  • 32 Harun Nasution, Teologi Islam, h. 59.
  • 33 Abu Zahrah, Tarikh Mazahib al-Islamiyah, h.188.
  • 34 Abu Zahrah, Tarikh Mazahib al-Islamiyah, h.188.
  • 35 Ahmad Amin, Fajr al-Islam, h. h.299
  • 36 Ahmad Amin, Fajr al-Islam, h. 289-290.
  • 37 Ahmad Amin, Fajr al-Islam, h. 299-300
  • 38 Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, h. 207.
  • 39 Harun Nasution, Teologi Islam, h.56.
  • 40 Harun Nasution, Teologi Islam, h. 57.
  • 41 Abu Zahrah, Tarikh Mazahib al-Islamiyah, h.179.
  • 42 Harun Nasution, Teologi Islam, h.10.
  • 43 Harun Nasution, Teologi Islam, h. 152.
Blog, Updated at: 01.12

1 komentar :

  1. SAYA SEKELUARGA INGIN MENGUCAPKAN BANYAK TERIMAH KASIH KEPADA AKI NAWE BERKAT BANTUANNNYA SEMUA HUTANG HUTANG SAYA SUDAH PADA LUNAS SEMUA BAHKAN SEKARAN SAYA SUDAH BISA BUKA TOKO SENDIRI,ITU SEMUA ATAS BANTUAN AKI YG TELAH MEMBERIKAN ANKA JITUNYA KEPADA SAYA DAN ALHAMDULILLAH ITU BENER2 TERBUKTI TEMBUS..BAGI ANDA YG INGIN SEPERTI SAYA DAN YANG SANGAT MEMERLUKAN ANGKA RITUAL 2D 3D 4D YANG DIJAMIN 100% TEMBUS SILAHKAN HUBUNGI AKI NAWE DI 085-218-379-259 ATAU KLIK SITUS KAMI PESUGIHAN TAMPA TUMBAL NYATA

    BalasHapus

Popular Posts